WARNING! Naruto dan segala macam tokoh disini adalah karya Masashi Kishimoto. Didalam fict ini anda akan menemukan bashing chara. Just blame me if you want. Atau jangan terusin baca kalo bener-bener gak tahan. Saya menerima apapun pikiran anda. SELAMAT MEMBACA ^^

.

.

"Kib! Pesankan aku sekalian! Yang biasa! Pake pedes!" teriak Naruto mengangkat tangan kanannya tinggi. Padahal yang sedang ia teriaki masih terpaut jarak 2 meter.

"Gak mau! Pesan sendiri!" seorang pemuda dengan rambut coklat spike dan memiliki sepasang tato unik di pipinya itu berlari kancil menjauh. Tubuhnya gesit menghindari murid-murid lain yang lalu lalang dikantin.

Naruto berdiri dari duduk dan melemparkan sneaker kuningnya. Kemudian tersenyum bangga. Seorang Naruto memang mempunyai headshoot yang awesome. Sepatu itu melambung membentuk garis parabola lalu sukses mencapai tujuan —kepala coklat Kiba.

Setelah terhuyung dan menabrak punggung besar seorang siswa, Kiba mengumpat tanpa berbalik. Sudah tahu siapa yang melemparinya dan sudah tidak mau lagi cari gara-gara. Dia harus menuruti keinginan perempuan rubah tanpa protes. Point.

"Sepatumu, dobe." Sasuke berdiri dari duduknya dan menyempatkan diri menoyor kepala kuning Naruto.

Naruto hanya mengibaskan rambut blonde semi panjangnya kemudian kembali duduk.

Setelah memungut sepatu Naruto yang untungnya tidak terbawa arus manusia, Sasuke memaksa suara baritonenya memanggil nama Naruto dengan sedikit berteriak mengalahkan suara bising kantin yang penuh manusia sosial agar terdengar. "Aku mau beli minum. Kau pesan apa?" Sasuke menunjuk mesin minuman dengan jempolnya saat Naruto menoleh padanya.

"Aku cola teme!"

Sasuke mengangguk.

Naruto sedang menggerakkan jarinya pada screen smartphone kuningnya saat Sasuke meletakkan satu botol minuman soda dingin di depannya. Ditangan Sasuke sendiri ada satu botol teh hijau. "Teme, apa kau menyukaiku?" saphire Naruto tidak beranjak dari smartphonenya.

Sasuke mendudukkan diri ditempatnya tadi duduk —diseberang Naruto terpisah meja single kantin yang berwarna merah mencolok. "Apa yang kau lakukan, Dobe?" apa yang sedang dilakukan manusia kuning itu dengan phonecellnya sampai mengajukan pertanyaan ridiculous semacam itu.

"Tidak ada kok. Aku hanya membaca pesan spam di e-mail ku. 'Apa orang disekitarmu menyukaimu? Bagaimana cara mereka menyukaimu? Temukan jawabannya dengan mengunjungi link dibawah ini!'. Bagaimana?" Naruto kemudian meletakkan smartphonenya ke meja dan mengambil minumannya.

Melihat Naruto kesusahan membuka botolnya, Sasuke merebut botol itu dan membukanya dengan mudah. Naruto menerima botolnya kembali dengan tak acuh. "Ya. Aku menyukaimu. Kalau tidak, mana mungkin aku mau-mau saja kau siksa dan kau jadikan pembantu setiap hari." Sasuke menumpu tubuhnya di tangan yang dilipat di meja. Memperhatikan Naruto yang terlihat menikmati meminum sodanya.

"Oh~ lalu bagaimana caramu menyukaiku?"

"Hn. Kau benar-benar ingin tahu?"

"Hanya ingin tahu saja. Tidak benar-benar." Naruto memutar bola mataya. "Ayo cepat katakan."

"Hn. Kalau begitu, kau tidak akan siap dengan jawabanku, Dobe." Sasuke menegakkan tubuhnya kembali.

"Heh? Apaan sih Teme."

"Jawabanku punya efek samping." Bisik Sasuke mendramatisir keadaan.

Lagi, Naruto memutar bola matanya. "Dasar alay. Oke-oke aku tanggung efeknya. Ayok katakan." Naruto memainkan phonecellnya asal dengan tangan kanan.

Sasuke berdehem sebentar dan merapikan dasi hitam seragam sekolahnya. Naruto mengalihkan perhatiannya. Tertarik mendengarkan jawaban Sasuke. "I found myself dreaming in silver and gold. Like a scene from a movie that every broken heart knows. We —you and me— were walking on moonlight. And you pulled me close. Split second, and you disappeared! and then I was all alone. Woke up—not really 'cause I am still in my dream— in tears with you by my side. Breath of relief and I realized we're not promised tomorrow."¹ Onyx itu sama sekali tidak beralih pada apapun selain saphire cerah didepannya. Tidak begitu peduli pada keadaan disekitarnya yang ramai dan juga banyak pasang mata yang mengamati hot couple Konoha High School yang terlihat sedang lovey dovey itu. Sasuke berhenti untuk jeda yang ia anggap inilah waktunya untuk Naruto benar-benar mempersiapkan diri. Keh. "So I'm gonna love you. Like I'm gonna lose you. I'm gonna hold you. Like I'm saying goodbye. Wherever we're standing, I won't take you for granted because we'll never know when we'll run of time."¹ Tangan putih alabaster itu menggenggam tangan kiri tan karamel yang bertengger menggenggam botol soda. Baritone rendah itu entah kenapa sekarang membuat samar rona merah di pipi bergaris kucing Naruto. "So I'm gonna love like I'm gonna lose you."¹

Alis Naruto menukik tajam. Ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Membuatnya ingin tertawa tapi dia tahu ini bukan waktu yang pas.

"Efeknya adalah kau pasti sekarang merasa ingin menciumku. Kau sekarang juga menyukaiku. Aku tahu, Dobe. Makanya tadi aku mengatakan kau pasti tidak akan siap mendengarnya. Aku tahu kau pasti belum siap menikah denganku sekarang meskipun kau benar-benar ingin." Sasuke menggenggam semakin erat tangan kiri Naruto.

Naruto kehabisan kata-kata.

"Maaf, Dobe. Tapi aku janji akan menikahimu nanti. Janji. Dan sekarang kau harus fokus du—"

"Stop it!" Naruto menampik tangan Sasuke. "Otakmu mulai konslet, Sas. Sumpah. Hell, aku sama sekali tidak merasa ingin menciummu, ewww! Apalagi menikah denganmu. Anganmu terlalu tinggi. Hati-hati pas jatuh nanti ya." Naruto geleng-geleng.

Sasuke menatap datar. Sedatar kepekaan Naruto pada suasana hati Sasuke.

Nampan warna merah pekat dan mangkuk dengan asap mengepul diletakkan Kiba di depan Naruto. "Nar, saranku kau cepat baikan deh dengan diktator di depanmu itu. Aku sebentar lagi ada rapat OSIS dengannya. Sayang pada temanmu ini lah. Aku tidak mau dia mendampratku padahal aku tidak salah. Sudah keseringan dia menyalah gunakan jabatannya untuk mencari pelampiasan pas musuhan denganmu. Oke? Kau temanku yang paling cantik, Aphrodite! Bye!" Setelah berbisik, Kiba berlari menjauh tidak mau berurusan lebih lanjut dengan ketua OSIS yang setiap hari PMS. Uhuok.

Naruto melirik pada Sasuke sebentar. Mengalihkan pandangannya dari ramen menggoda di depannya dan menjilat bibirnya canggung.

Wajah si Teme itu terlihat seperti ingin menelannya saja dan dia juga berpikir bagaimana cara menyelamatkan Kiba yang sudah susah payah membelikannya ramen. Padahal tadi ia cuma ingin mengerjai pecinta anjing itu.

Membeli ramen di kantin ini butuh teknik khusus. Karena mayoritas murid yang membeli ramen adalah murid laki-laki kekar yang ternyata juga menyukai makanan surga dunia itu—opini Naruto. Tapi sebenarnya dia tidak mengalami kesulitan berarti. Para murid laki-laki itu biasanya akan langsung memberinya jalan.

Sebentar, dia sekarang harus benar-benar memikirkan cara untuk membalas kebaikan Kiba yang terancam dapat masalah dari Sasuke.

"Sorry, Teme. Tapi benar loh aku sama sekali tidak tersentuh pada rayuanmu. Aku malahan merasa ada yang menggelitik perutku. Rasanya ada kupu-kupu didalam sini. Ingin sekali tertawa." Naruto mengelus perutnya yang dibalut kemeja putih seragam.

Sasuke ingin sekali tersenyum dan itu memang yang ia lakukan. Tersenyum lebar. Naruto yang baru mendongak saja sampai pangling. Apa di depannya ini benar Uchiha Sasuke?. "Dasar idiot!" Sasuke masih tersenyum gila-gilaan. "Itu artinya kau suka padaku, Aphrodite. Oh Tuhan~" Mata Sasuke terlihat seperti akan terbalik. Membayangkan sesuatu yang melampui imajinasinya sendiri. Tidak kuat dengan kenyataan yang begitu memuaskan otaknya.

Orang yang begitu dia sukai juga menyukainya.

Wajah Naruto berubah menjadi jijik. "Dasar gila!" Naruto mulai menyantap ramennya. "Aku lebih suka ramen! Aku akan menikah saja dengan ramen!"

"Kalau begitu akan kumusnahkan seluruh ramen dan sejenisnya dari muka bumi!" Sasuke tertawa nista.

"Dengan begitu akan kumusnahkan juga kau dan sejenismu dari muka bumi!" Naruto ikut tertawa nista.

Dasar pasangan gila!

.

.

¹ Adalah potongan lirik lagu Like I'm Gonna Lose You—Megan Trainor dan John Legend.

Saya suka sama lagu itu karena mengingatkan saya pada ibu saya. /uhuk. Anak ibu lagi ngomong/

Naruto dan Sasuke itu pasangan gila. Dan saya juga gila! Uhuk, enggak-enggak. Saya nggak gila. Becanda \/

Jujur, saya suka senyum-senyum sendiri pas baca reviewmu. Kayak ada yang terus ngebisikin saya buat langsung nyalain Sam —laptop saya— dan buat cerita yang bisa bikin kamu tambah suka.

Quote dari saya; LOSER CAN BE WINNER! Please guys kalau kamu lagi desperate kayak saya, kamu jangan berhenti disini aja. Ada banyak hal yang harus kita lihat dan pelajari di dunia ini. Segalanya mungkin. Hal-hal yang kelihatannya tidak mungkin, hanya membutuhkan kuasa Tuhan. Kalian percaya Tuhan 'kan?

Titik terendah adalah titik dimana kita tidak bisa dihancurkan lagi.

ULTIMATE. NARUTO. 520!