Saya gak pengen pisah sama kamu! Jadi saya lanjutin cerita ini ^^. Juga saya minta maaf yang banyak! Setelah saya ujian semester, pas liburan, saya sebenernya berencana posting. Tapi karena saya selalu kena 'Internet Positif', jadi gagal terus. Bisanya cuma read dan review aja. Kamu iya nggak? Nggak ya? Oh yaudah. Big Sorry ya.

.

.

"Naruto!" Sebuah teriakan membuat Naruto menghentikan langkahnya dan berbalik. Saphirenya menemukan seorang yang ia kenal bernama Tobi, berlari cepat kearahnya. Tobi, siswa Kirigakure yang memakai topeng ke sekolah.

"Tobi!" Naruto dalam balutan seragam Konoha berjingkrak-jingkrak ditempat. Tangannya melambai keatas dengan semangat.

Saat jarak mereka cukup dekat, Tobi baru akan memeluk Naruto saat tiba-tiba seorang pria dengan setelan hitam rapi berdiri tepat didepan Naruto dan menghadangnya. Secara spontan, Tobi mengerem kakinya. Sayangnya dia kurang cepat. Dan pria didepannya punya solusi efektif untuk menghentikan Tobi menubruknya. Pria itu menarik Naruto dan bergeser ke kanan satu langkah. Tidak puas, pria itu menjegal kaki jenjang Tobi sampai pemuda bertopeng itu jatuh dan terguling diaspal.

"Tobi!" Naruto memekik khawatir dalam rengkuhan pria di sampingnya.

Tobi yang tidak bergerak sama sekali, membuat Naruto memaki pria yang dengan santai memeluknya. Dengan gerakan yang mengagumkan, Naruto meloloskan diri dan meninju rahang kiri diikuti menendang sekuat tenaga pada perut si pria asing.

"Duh!" Si pria terhuyung kebelakang. Pikirannya terbagi antara malu dan rasa sakit. Di pinggir jalan ini, banyak yang berlalu lalang. Apa yang akan dipikirkan orang-orang ketika melihat ini?. Di sisi lain, dia merutuki rasa sakitnya. Yang memukulnya hanya seorang gadis. Tapi, ya Tuhan, ini benar-benar menyakitkan!

Naruto berjongkok dan membalik tubuh Tobi. "Tobi, kau tidak apa-apa?"

"Naruto~ hu hu. Sakit~" Naruto tidak tahu bagaimana ekspresi Tobi saat ini, tapi mendengar suara dan keadaan baju Tobi, Naruto pikir temannya itu dalam keadaan baik. Tidak ada robek di seragam Tobi. Hanya kotor dimana-mana. Topeng Tobi yang kelihatannya terbuat dari kayu itu juga masih terpasang pada tempatnya.

"Bangun, Tobi." Dengan yakin, Naruto berpikir bahwa hanya otak kekanakan pemuda itu yang agak sakit. Si bungsu Namikaze Uzumaki kembali memasang mode waspada pada pria asing berkacamata hitam yang terlihat kesakitan tidak jauh darinya. Pria dengan balutan suit and tie itu berambut raven panjang dan memiliki tanda lahir disekitar hidungnya. Naruto mendadak tahu sesuatu. Tanda lahir itu, di dunia ini siapa lagi yang punya selain... "Uchiha Itachi!" ...si sulung Uchiha.

Si pria menghentikan erangan alay-nya. Dengan gaya keren, membuka kacamata hitam mahal miliknya. "Ya. Ini aku, adik ipar." Sedetik menatap tajam, kemudian detik selanjutnya senyum tampan menghiasi wajah bertanda lahir unik itu.

Senyum Naruto mengembang. "Ya Tuhan, kak!" si Aphrodite manis menubruk Itachi. "Lama tidak bertemu denganmu."

Itachi tentu saja membalas pelukan Naruto. "Aku merindukanmu, cantik." Tapi beberapa saat kemudian, Itachi mendorong bahu Naruto lembut. "Hari ini tidak ada yang mengantarmu?"

Naruto tersenyum lima jari. "Aku ingin jalan pagi." Melirik jam tangannya sebentar, "Oh God! 10 menit lagi bel!" Gadis blond itu baru saja akan berlari saat tangan putih kekar milik Itachi menahan lengannya.

"Ayo kuantar."

Menunjukkan ibu jari tangannya, Naruto Namikaze baru ingat eksistensi Tobi yang berdiri diam dibelakangnya. "Tobi. Aku berangkat duluan, ya. Aku bisa terlambat jika 10 menit lagi belum sampai disekolah. Tobi tidak ingin aku terlambat dan dihukum, 'kan?"

"Ya, tidak apa-apa. Terus supaya Naruto tidak dihukum mau bagaimana? Tobi bisa bantu?" Pemuda bertopeng itu menggenggam erat tali ranselnya.

"Jangan khawatir. Aku naik mobil temanku saja."

"Kakek itu teman Naruto?"

Naruto mengangguk pada Tobi yang 5 cm lebih tinggi darinya.

"Naruto yakin mau bareng kakek itu? Dia jahatin Tobi loh barusan," si pemuda melirik Itachi sebentar. "Tuh tuh. Lihat! Matanya melotot-melotot!"

"Tidak masalah, Tobi. Sudah ya, aku harus cepat berangkat." Naruto yang digiring Itachi hanya menurut. Tobi masih mengekor.

"Yah Tobi kasihan juga sih pada si kakek. Si kakek tidak punya jantung." Dengan kompak, Naruto dan Itachi menatap Tobi yang sedang melompati genangan air dengan gaya anak Kindergarten.

"Tobi bilang apa?" Naruto menarik si pemuda TK yang masih sibuk melompat-lompat itu kearahnya sebelum Tobi menabrak papan iklan.

Tobi menggandeng tangan Naruto dan mulai menerangkan. "Kakek itu jahat. Orang jahat itu tidak punya hati. Dan hati itu jantung. Yang disini. Iya, 'kan, Naruto cantik?" Tobi mengelus dadanya sendiri.

Itachi melongo. Pemuda yang ia kira akan mengganggu Naruto ini ternyata hanya anak TK yang cosplay jadi anak SMA.

"Loh masa'?" Naruto bertanya ingin tahu. Sesekali dia melirik dada Itachi. Jadi Uchiha Itachi tidak punya jantung? Gila! Jika Itachi saja tidak punya jantung apalagi Sasuke si diktator itu? Gila! Gila!

Ya Tuhan! Itachi baru membuktikan omongan Sasuke. Adiknya yang imut seperti anak ayam itu ternyat tidak bohong saat mengatakan bahwa pacar tidak lebih dari seorang Aphrodite bodoh.

Tobi mengangguk sok tahu. "Nah Tobi 'kan anak paling baik, jadi Tobi punya 2 jantung, Naruto."

Naruto mengangguk-angguk. Itachi ngomel-ngomel dalam hati.

"Mungkin sebaiknya Tobi menyumbangkan 1 jantung Tobi buat kakek itu." Bisik Tobi pada Naruto.

Naruto tersenyum lebar. "Tobi memang anak baik!" Kemudian tangan bertautan kedua anan itu terayun kedepan kebelakang. Uh anak Kindergarten.

Itachi memakai kembali kacamata hitamnya. Shit! Disampingnya ada anak-anak butuk perhatian. Jika perhatian untuk Naruto, Itachi akan dengn senang hati memberinya. Tapi jika untuk pemuda aneh bertopeng disamping Naruto, Itachi juga akan dengan senang hati...memasukkan si anak aneh kedalam kardus dan meninggalkannya didepan pintu panti asuhan. Duh.

"Ayo masuk, Naruto. kau benar-benar akan terlambat." Itachi Uchiha dengan gaya maskulin membukakan pintu penumpang untuk lady Naruto.

Naruto masuk kedalam mobil itachi. "Hati-hati, Tobi."

Tobi melambai sebelum pintu benar-benar ditutup oleh Itachi. "Hati-hati, Aphrodite."

"Hei, bocah." Itachi berkata tanpa melihat lawan bicranya. "Namikaze Naruto sudah resmi jadi pacar Uchiha Sasuke mulai kemarin. Jadi jngan. Dekat. Dekat." Itachi kembali melangkah.

"Apa!?" Tobi jatuh berjongkok. "Aphrodite tidak mungkin jadian dengan Uchiha ayam diktator itu~!"

520!

Naruto Uzumaki Namikaze berjalan cepat memasuki area sekolah lewat gerbang. Baru satu langkah masuk, tangannya sudah dicekal Sasuke Uchiha yang berseragam rapi dilengkapi headband hitam di lengan kiri atasnya —tanda pengurus OSIS.

"Kenapa kalian bersama?" Aura kalem tapi ngancem milik Sasuke berhamburan. Rolex di pergelangan tangan kirinya menunjukkan 1 menit sebelum jam penutupan gerbang yang ia jaga bersama pengurus OSIS lainnya.

"Dek, dek." Semua siswa-siswi pengurus OSIS yang sedang ikut berjaga melempar pandangan pada pria tampan dan keren, Itachi, yang berada dalam radius 'dekat' dengan si ketua. Tatapan para pengurus OSIS menilai Itachi dari atas sampai bawah. Kakak Uchiha Sasuke adalah seorang laki-laki dewasa yang tampan dan keren!. "Lihat deh! Rahangku biru gara-gara ditinju pacarmu. Perutku juga tadi di tendang. Naruto benar-benar adik Kurama. Sadis~" Itachi merangkul bahu Sasuke yang lebih pendek beberapa senti darinya. Pacar? Sasuke dan Naruto sudah pacaran!?.

Sasuke sama sekali tidak peduli pada tatapan anak buahnya yang menyiratkan keeingin-tahuan. "Tutup gerbangnya!" Suara baritone Sasuke terdengar mutlak dan penuh perintah.

"Oke, ketua." Kiba Inuzuka bergerak melaksanakan perintah.

Dan dengan satu gerakan cepat, Sasuke mendorong Itachi keluar zona dalam gerbang. "Aku tidak peduli, Chi. Kerja sana." Sasuke beserta wajah datarnya melenggang pergi. Setelah kemudian kembali untuk menggiring pacar barunya. Haha pacar baru!

"Thanks ya, kak Itachi. Sorry juga soal itu. Daah."

"Daah. Selamat belajar ya!" Selanjutnya, Itachi si pekerja kantoran yang tampan dan keren dan kaya itu hanya tetap berdiri di luar gerbang bersama gerombolan anak-anak SMA Konoha yang terlambat dan sedang dipelototi oleh pengurus OSIS yang masih berjaga.

520!

"JADI APHRODITE DAN KETUA SUDAH PACARAN!?" Kiba meraung keras. "Sejak kapan~!?"

Pengurus OSIS lain yang masih istirahat di ruang OSIS pasca tugas pagi di gerbang hanya duduk lemas tanpa daya. Fansclub pangeran tampan unlimited dan fansclub Aphrodite harus mengadakan kumpul akbar.

Dan ketika waktu istirahat berlangsung, penjaga-penjaga stand kantin harus menoleh kiri-kanan bingung. Di kantin elite dan luar biasa luar milik SMA Konoha, ada 2 kubu besar di sisi kanan dan kiri kantin. Di sisi kanan ada kubu laki-laki yang sedang bersitegang antar anggotanya. Begitu juga dengan sisi kiri yang diisi para perempuan. Menentukan kelanjutan club mereka. Juga kelanjutan hati mereka.

520!

Thank you for reading, guys.

Dan sorry tadi ada troubleshoot. Chap 9 udah saya post tapi harus saya hapus lagi.

Oke see ya!