Saya sudah tidak menjabat lagi sebagai wakil ketua kelas. Hwahaha. Tapi satu masalah besar menerpa kelas saya. Benar-benar besar. Yang bisa saya lakukan cuma berdoa dan berusaha tetap membuat teman-teman saya kuat hati dan pikiran untuk menyelesaikan ujian Tuhan ini.

.

.

"Uchiha shit Sasuke. Berhenti menendang kursiku!" Naruto mengerang keras tapi tetap fokus pada buku di mejanya. Jemari lentik tan-nya menggenggam pensil yang ketuk-ketukkan ringan pada pelipisnya sendiri.

Sasuke yang duduk di deret bangku belakang Naruto hanya menendang semakin keras.

Malas menanggapi si raven, si blond tetap pada kegiatannya. Menelaah soal Matematika nomer 2 yang ada di buku penunjangnya. Kegiatan yang ia lakukan sejak kurang lebih 10 menit terakhir.

"Dobe!" Sasuke menghentikan aksi menendangnya dan beralih mendorong mejanya hingga bertubrukan dengan kursi Naruto.

Naruto berbalik dan menyalak keras. "APA SIH MAUMU, TEME!?" Hilang sudah niatannya untuk mengerjakan soal. Well, sebenarnya Naruto hanya melampiaskan kekesalannya karena tetap tidak mengerti dengan cara menyelesaikan soal tadi. Masa bodoh dengan teman-teman sekelasnya yang terganggu dengan teriakan Naruto. Jika ada yang menegurnya, Naruto sudah bersiap menuding Sasuke untuk dipersalahkan. Tapi karena yang membuat rusuh adalah Naruto, para gadis hanya menatapnya maklum. Sudah terbiasa dengan si bungsu Namikaze yang selalu badas. Sedangkan para pemuda berusaha menatap tajam si Uchiha. Yang tentu saja tanpa berefek apapun pada Uchiha Sasuke.

Sasuke menurunkan tangannya dari meja dan menatap Naruto maklum.

Naruto menggeram pelan. "Apa maumu, Teme?"

"Apa yang kamu lakukan, sayang?" Setelah Sasuke menyelesaikan kalimatnya, beberapa pasang mata yang mendengar suara datar si diktator hanya melirik diam.

Naruto memutar bola mata saphirenya. Dengan beringas, dia mencoret-coret buku penunjang Sasuke yang terbuka lebar didepannya. "Sekali lagi kau memanggilku seperti itu, pensilku akan menyentuh wajahmu."

Sasuke mendecak. "Terus saja, dobe. Ancam terus pacar tampanmu ini!" Ada tambahan beberapa pasang mata yang melirik.

"Kamu ngajakin berantem, teme!?"

"No, sweetheart. No, I won't."

"Shucks! I am warning you, boy. You better flee!" Naruto menendang meja Sasuke sampai membentur tulang rusuk si Uchiha.

"Dasar dobe! Sakit, bodoh." Sasuke menekan rusuk kanannya yang nyeri.

Naruto mendecih dan membuang muka. "Your fault." Katanya pelan.

Menghela nafas, si Uchiha bungsu membenarkan letak mejanya. "Oke. Anggap saja salahku." Sasuke meraih helai pirang Naruto yang mulai memanjang. "Sekarang katakan padaku apa yang kamu lakukan tadi." Dan beberapa pasang mata yang sejak tadi melirik hanya memalingkan wajah. Merasa bahwa pasangan baru itu benar-benar manis. Sampai mereka malu sendiri untuk melihatnya. Ya Tuhan.

"Mengerjakan tugas dari guru Kakashi, tentu saja." Naruto membiarkan tangan putih susu Sasuke mengelus rambutnya yang terurai.

"Benar? Tapi aku tidak melihat pensilmu bergerak mengerjakan tuh."

Ulu hati Naruto yang tidak ingin dikalahkan oleh Sasuke tergerak. "Aku mengerjakan kok!"

"Yakin?"

Naruto membuka mulutnya untuk berbicara, tapi tidak ada yang keluar.

Sasuke mengeluarkan smartphone hitamnya dari saku kemeja. "Lihat." Dan menunjukkan lock screen yang baru ia pasang. Sebuah foto gadis pirang yang memunggunginya. Duduk dengan punggung tegang dan sebuah pensil yang digenggam tangan kanannya, diangkat sebatas pelipis.

Naruto membuka mulutnya lebih lebar untuk berbicara, tapi sekali lagi tidak ada yang keluar. Uchiha damn Sasuke memang sesuatu. Naruto bingung untuk menyangkal lagi dan bingung untuk bereaksi.

"Ada yang ingin kamu katakan, dobe?" Sasuke tersenyum angkuh.

Dan lagi-lagi untuk kesekian kalinya, Naruto merasa bahwa tatapan Sasuke seolah sedang menantangnya. "Aku mengerjakan, teme! Nih buktinya." Naruto meletakkan buku tulisnya ke meja Sasuke, kemudian tersenyum angkuh, meniru gaya si ketua diktator.

Sasuke meneliti pekerjaan pacarnya. "Oke. Kau mengerjakan. 1 soal."

"Jangan mengatakannya dengan keras, teme! Ingin merendahkanku ya!?"

Sasuke mendecak kemudian menyentil buku tulis Naruto kearah si pemilik. "Pekerjaanmu masih salah, dobe."

"Salah?" Naruto menyambar bukunya.

"Ayo sini. Kuajari."

Si bungsu Namikaze menatap mencemooh pada bungsu Uchiha. "Halah jangan sok, teme. Punyamu pasti juga belum selesai. Sana selesaikan saja milikmu sendiri."

"Aku sudah selesai, dobe."

"Serius!?"

Sasuke menunjukkan buku tulisnya.

"Gah gila! Kamu menyelesaikan 20 soal dalam 25 menit!?" Naruto berseru heboh.

"20 menit, tepatnya."

"Oh shit!" Sekarang Naruto memaki heboh.

Sasuke meraih pena. "Kamu ingin kuajari atau tetap ingin mengagumi kekerenanku, dobe? 5 menit lagi dikumpulkan loh."

"What!?" Sekarang Naruto menyambar buku tulis Sasuke dan mulai menulis di meja Sasuke. "Kamu bisa mengajariku nanti, teme. Sekarang aku menyalin punyamu dulu saja. Akan kubalas kebaikanmu."

Sasuke menumpu kepalanya pada tangan kiri sementara jemari kanannya memilin rambut Naruto. Manik matanya berusaha menangkap setiap ekspresi yang dibuat wajah manis itu. "1 soal 1 ciuman."

"Dasar Uchiha pervert Sasuke."

"Love you too, dobe."

.

.

Thanks for reading, guys. Kurang lebih ini adalah pengalaman pribadi, anyway /apasih/. Oh iya, ada yang pengen temenan sama saya? Kirimi saya PM, nanti saya kasih ID Line/WeChat saya. Ayo berteman!

Together we stand. I'll be by your side. I'll take your hand. Keep holding on!