SASUKE nyaris lupa caranya bernafas. Wajahnya suram luar biasa.

"Breath, Uchiha Sasuke!" Uchiha Itachi yang ada disamping Sasuke mencoba menepuk bahunya.

Sasuke menoleh. Ingin meninju wajah 'keriputan' Itachi detik itu juga. "Pulang sana, Chi. Sebelum aku membantingmu."

Itachi ingin tertawa. Sejak kapan adiknya —Sasuke si ayam imut itu bisa membantingnya? "Dek, kusarankan kau klarifikasi lagi apa hubunganmu dengan Naruto. Kau benar pacarnya?" Itachi mencolek-colek dagu Sasuke.

Brak!

Tiba tiba saja tubuh kekar itachi yang terbalut suit and tie itu tersungkur dari sofa yang ia duduki.

Tangan kiri Sasuke memelintir tangan kanan Itachi dibelakang tubuh. Sedang tangan kananya ia gunakan untuk menekan tengkuk Itachi agar tetap berhadapan dengan lantai. Persetan dengan citra Itachi sebagai wakil Presiden grup Uchiha yang akan ternoda. Sasuke tidak mau peduli pada perhatian yang mulai terpusat pada aktivitasnya dari orang-orang yang lalu lalang di lobby kantor grup Namikaze.

Mood Sasuke sedang seperti telur orek. Dan kakak pemuda ketua OSIS Konoha itu malah cari mati.

"Kuperingatkan padamu, kak. Jangan ganggu aku sekarang!" Wajah putih porselen Sasuke terlihat merah padam. Naruto itu kekasihnya! Miliknya! Mereka—Sasuke— sudah melalui banyak hal sulit untuk bersama dan menyatukan perasaan. Jadi jika Itachi masih meragukannya, Sasuke merasa dirinya harus memasukkan kakak cerewetnya itu ke dalam karung dan membuangnya ke laut!

Mata Itachi berkedip beberapa kali dan setelahnya tanpa sadar dia menelan ludah cepat. "Oke oke, dek. Nyerah." Itachi merasa dia harus mengalah. Adiknya itu terlihat seperti ingin memutilasinya.

Sasuke mengumpat keras saat melepaskan Itachi. Hatinya sekarang sedang sakit. Kenapa Naruto sampai sekarang masih hobi saja menyiksa batinnya? Kuatkan hati Sasuke, ya Tuhan!

"Dobe!" Masih dalam geraman pelan, Sasuke berharap Naruto akan menyadari keberadaannya dan akan bersujud meminta maaf karena untuk kesekian kalinya selalu bermain dengan laki-laki lain.

Tapi sayangnya, Naruto masih disana. Tidak menyadari keberadaan Sasuke.

.

.


Cerita ini hanya fiktif.

Chapter update! jumlah word 2x lipat dari biasanya euy.

Dimanapun kamu berada, saya berharap kamu bisa menikmati apa yang saya tulis. Just enjoy. Selamat membaca!


"Ya Tuhan, dobe. Berhentilah membuat masalah."

Naruto memincingkan mata menatap Sasuke yang berdiri pongah di depannya. "Siapa yang membuat masalah sih, teme?" Seperti biasa, Naruto merasa di setiap kata yang diucapkan Sasuke merupakan bunyi bel di ring tinju.

"Kau, dobe." Suara baritone itu terdengar menusuk.

Berkacak pinggang, "Apa?! Aku tidak melakukan apapun, bastard! Aku bahkan hanya duduk dan mengobrol dengan Shikamaru. Bagian mana yang kau sebut membuat masalah, hah?" Beberapa saat lalu, Naruto yang sedang main di kantor ayahnya, menemukan Nara Shikamaru duduk santai bersama Nara senior di lobby.

Dengan semangat yang berlebihan, Naruto menubruk Shikamaru. Menuntut si pemuda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Ayah Shikamaru mengatakan ada janji bertemu dengan ayah Naruto, jadi tinggal Naruto dan Shikamaru yang duduk santai. Naruto hanya tetap menginterogasi Shikamaru. Juga menceritakan bagaimana gadis blond ini mengira si pemuda berambut nanas mungkin sedang sakit parah dan harus berobat di luar negeri sampai harus homeschooling tiba-tiba.

Merepotkan, pikir Shikamaru. Oh dan sungguh Shikamaru saat itu juga hendak mengajak Naruto kencan saat tiba-tiba Uchiha fuckin' Sasuke muncul entah darimana sambil melotot.

"Bagian itulah masalahnya." Kata Sasuke.

Naruto mengerang detik itu juga. "For God sake, teme! Seriously! Kenapa kau labil begini sih. Dia Shikamaru. Teman sekelas kita yang tiba-tiba tidak masuk sekolah."

Meski begitu, Sasuke menolak mengalah. "Tapi kau pacarku, dobe."

"TE—"

"Yo, Uchiha!" Shikamaru menyela. Tersenyum tampan. Membuat kedua remaja yang sedang bersitegang di depannya semakin ingin meledak atas alasan yang berbeda.

Tatapan Sasuke datar. "Nara Shikamaru." Suara baritonenya terdengar khas remaja pertumbuhan.

"Apa yang kau lakukan di kantor Namikaze, Sasuke?" Itu juga yang ingin ditanyakan Naruto. Kenapa Naruto merasa jika Sasuke seakan selalu mencari cara agar bisa menempel padanya. Ini hari minggu, setidaknya harusnya hari ini dia tidak akan bertemu bungsu Uchiha itu.

"Apa yang kau lakukan di kantor Namikaze, Nara?" Dan Sasuke punya cara yang aneh untuk menjawab pertanyaan. Pikir Naruto.

Shikamaru menguap sebentar. "Menurutmu apalagi selain bertemu Naruto?"

"Sepertinya kau lupa sesuatu," Sasuke menatap tajam Shikamaru seolah mengingatkan.

Sudah tahu kalimat ini akan diucapkan oleh Sasuke, Shikamaru menahan senyum. "Itu sudah tidak bekerja lagi, asal kau tahu." Shikamaru ingat foto merokoknya yang dulu pernah dijadikan Sasuke untuk mengancamnya agar menjauhi Naruto. Tapi sekarang itu sudah tidak lagi menakutinya, tidak lagi karena dia sudah menyelesaikan masalah itu tanpa sepengetahuan Sasuke.

Sasuke terdiam.

"Oke, boys. Aku rasa sudah cukup percakapan ngawur kalian yang sama sekali tidak kumengerti ini." Kata Naruto dengan nada bosan. Anak laki-laki selalu saja membicarakan hal garing.

Naruto memutar bola mata dan mendengus. Sasuke dan Shikamaru malah pelotot-pelototan.

"Naruto, dengar," Shikamaru menguap sebentar sebelum melanjutkan. Masa bodoh dengan tatapan berlaser milik Sasuke. "Aku dengar sekarang kau pacaran dengan Sasuke. Tapi aku tidak peduli. Katakan, aku akan memberi apapun yang kau mau, apapun, kalau kau putus dengan Sasuke sekarang dan jadi pacarku. Kuberi apapun, apapun. Jadi pacarku, oke?"

What!

Sasuke menggeram. Berani sekali menembak pacar orang di depan mata pacarnya sendiri seperti ini. Minta dihajar nih bocah!

Shikamaru melanjutkan sebuah naskah yang sudah dipikirkan oleh otak jeniusnya, "Aku tahu kau pasti muak juga terus-terusan diperalat dan dijadikan obsesi berlebihan oleh Sasuke. Aku mengerti kau berjiwa bebas, jika aku jadi pacarmu, aku janji tidak akan membatasimu dalam apapun."

Gila! Apa ini sebuah kampanye pemilihan walikota? Tidak! Definitely no!

Sasuke tidak akan membiarkan omong kosong cowok jelek berambut aneh macam Shikamaru meneruskan bisikan setannya. "Hn. Kau bahkan tidak lebih baik dariku, kau tahu, Nara Shikamaru. Naruto tidak butuh apapun yang kau tawarkan. Aku juga bisa memberikan apapun yang dia mau!"

Otak Shikamaru sudah memprediksi tentang perlawanan Sasuke, jadi dia akan memaparkan lagi balasan untuk itu. Dia dulu sempat mundur dari pertarungan untuk Naruto bukan hanya karena foto lawas merokok itu, tapi juga untuk mempersiapkan amunisi untuk menembak mati Sasuke agar tidak berkutik lagi. Sasuke tidak akan bisa menghalanginya bersama Naruto. Shikamaru sudah siap tempur sekarang! "Aku mem―"

"Tunggu," Akhirnya Naruto bersuara, memotong ucapan diplomasi Shikamaru. "tunggu, jadi kau suka padaku, Shika?"

"Sekrup otakmu baru bekerja, dobe." Cibiran Sasuke membuat Naruto menggeretakkan gigi.

Sasuke si apatis tidak sadar situasi!

"Lihat! kau bisa menilai sendiri bagaimana sikap menyebalkan Sasuke. Aku jelas tidak seperti itu, Naruto. Dan ya, aku suka kau." Ini dia yang sudah ditunggu-tunggu Shikamaru. Sedikit lagi menunjukkan kejelekan Sasuke, dan Naruto akan sadar siapa yang lebih baik dijadikan pacar.

Naruto menjitak Sasuke yang sudah setengah jalan mau meninju Shikamaru. "Diam, teme! Jangan ikut campur! Ini momen penting tahu!"

Sasuke tertohok. Respon Naruto bagai panah yang menusuk jantung kehidupan Sasuke. "Apa…" …apa ini artinya kita putus?

Secepat ini?

Sedangkal itukah hubungan kita?

Naruto…

Please,

Aku tidak mau ini!

~Let'sBurnThisGirl~

Shikamaru hampir tidak percaya semua ini. Semuanya terjadi begitu cepat. Secepat angin panas di padang pasir berhembus. Semuanya terjadi seperti perkiraannya.

Naruto notice perasaan Shikamaru. Dia bilang itu momen penting. Dan Sasuke disentak agar diam tidak diperbolehkan mengganggu.

Lalu keadaan Sasuke? Well, Shikamaru sempat kaget.

Shikamaru pikir Sasuke mungkin dalam keadaan batin yang labil setelah mendengar ucapan Naruto. Sasuke segera lari dengan linglung entah kemana (mungkin, berharap Naruto ngejar dia)

Tapi…Naruto malah kelihatan illfeel dengan Sasuke. Dan berusaha menyembunyikannya dengan tersenyum manis pada Shikamaru. Yang Shikamaru bersumpah itu manis dan adem banget di hati. "So, Shika,"

Shikamaru anehnya lupa dengan kebiasaab menguapnya. "Ya, Naruto."

"Well, perasaan sukamu itu suci banget. Sesuci kitab suci, I mean, perasaan suka pada lawan jenis itu anugrah dari Tuhan." Senyum Naruto terlihat makin angelic.

Shikamaru serasa terbang dengan sayap pujian Naruto.

"Tapi…"

Omegod! Apa-apaan 'tapi' itu. Jangan bilang…

"Aku sudah punya pacar. Dan kalau kita pacaran, ini bakal jadi terlarang. Dan perasaanmu tidak akan suci lagi." Ucap Naruto.

What!

Shikamaru melotot diluar kebiasaan. "MASA BODOH DENGAN SUCI ATAU TIDAK SUCI! Pokoknya aku suka padamu dan kau harus jadi pacarku!"

Naruto masih tersenyum kalem. Ini bukan kali pertama cowok yang ia tolak tidak terima. Ambil contoh saja Sasuke. Dulu sudah ditolak tapi tetap ngeyel, Naruto kan jadi… senang hati membullynya, wkwk. Intinya… Naruto berharap Shikamaru akan beda dan mengerti, karena jika Shikamaru tetap ngeyel, Naruto tidak akan tega membully manusia jenius macam Nara Shikamaru.

Kalau manusia (ayam) jenius macam Uchiha Sasuke, itu bedaaaaa. Dia adalah sasaran empuk untuk dibully. Hahah.

"Aku yakin banyak yang lebih dariku diluaran sana. Kau pantas mendapatkannya." Oke, terdengar seperti alasan pasaran. "Aku menyukai seseorang, dan orang itu bukan dirimu." Fix ini seperti drama. "Aku minta maaf." Lalala~

Kemudian Naruto melunturkan senyumnya dan menatap illfeel pada Shikamaru yang sekarang berlari meninggalkannya… seperti gaya alay Sasuke tadi.

Drektitude!

.

.

.


YEAH! TBC or End?

Eh jangan buru-buru balik! Dibawah masih saya kasih bonus wkwk.

Thanks for everyone. Semua yang langsung baca begitu ini update, wkwk, glad about it.

This story hits 27. 586 views. Itu DUA PULUH TUJUH RIBUUUUU. (bow)

Matur nuhun. Cerita ini berjalan sampai sejauh ini karena kalian ^^

Review kalian, saya garis bawahi, adalah nyawa dari cerita ini.

Thanks~ 27.000~


"Tem― Sasuke, Aku tahu kau di dalam. Jawab dan buka pintunya." Naruto mengetuk pintu bercat hitam di depannya sambil melirik hati-hati Itachi, juga Mikoto dan Fugaku, masing-masing adalah ibu dan ayah Uchiha Sasuke.

Mampus!

Naruto harus hati-hati bersikap di depan orang tua Sasuke. Dia tidak mau dicap sebagai perempuan tidak punya sopan santun. Kan kasihan orang tuanya nanti yang akan malu.

Menahan diri untuk tidak menggedor dan meneriaki Sasuke, Naruto mewanti-wanti dirinya agar berpikir (kalau perlu tidak Cuma dua kali, tiga kali juga ayok) sebelum bertindak.

Pintu hitam (yang baru diketahui Naruto) kamar Sasuke masih bergeming. Tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak sedikitpun.

Naruto memutuskan untuk mengetuk untuk kedua kalinya. "T―Sasuke, ini aku, Naruto." Selanjutnya, aku harus menyuruh Sasuke keluar kamar dengan lembut, dengan lembut, Naruto mengepalkan tangannya dalam imajiner. "Jangan melakukan hal bo―"

Belum selesai ucapan Naruto, pintu yang ditunggui 4 orang itu akhirnya terbuka sejengkal.

Fugaku dan Mikoto melongo melihat hanya kepala Sasuke yang menyembul, terlebih wajah pucat bengkak putra bungsunya. "Sasuke…" Pertama, mereka kaget mengetahui Sasuke ngamuk pada pot di depan rumah sejam yang lalu, jadi Fugaku menelfon Itachi karena awalnya Sasuke dan Itachi berangkat bersama. Lalu, mereka heran pada anak perempuan cantik bin manis yang dibawa pulang Itachi, mereka pikir itu pacar Itachi, eh malahan Itachi berbisik jika itu pacar Sasuke. Sasuke punya pacar?! Ketiga, yang terakhir, Sasuke, Uchiha Sasuke pasti habis menangis didalam kamar karena wajahnya jadi mirip ikan kembung.

Berbeda dengan keheranan orang tuanya, Itachi memilih diam-diam mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa gambar adiknya yang seperti habis menangis seminggu penuh. Otaknya memikirkan beberapa scenario untuk fiction. Itachi sedang dapat fanservice tahu!

Naruto mengulum bibir bawahnya menahan tawa. Demi Tuhan! Sasuke yang sekarang sedang unyu sekalee~ plus menggemaskan sampai Naruto ingin menampar dirinya sendiri. "Seriously, Sas?" Hanya itu yang mampu Naruto ungkapkan.

Itachi berdehem dan memposisikan kamera ponselnya dengan epic, siapa tahu nanti Sasuke menoleh padanya. "Otouto… jadi kau tadi pulang duluan dan ayah bilang kau membanting pot didepan rumah untuk….menangis?"

Sasuke yang dari awal memang hanya menatap Naruto, beralih menatap melas pada ibu dan ayahnya yang berdiri bak patung mengawasi keadaan. Jangan sampai dia di hukum gara-gara pot bodoh yang menghalanginya masuk rumah lewat jendela.

Sasuke Cuma cari jalan pintas karena malu ketahuan pulang kerumah sambil nangis, please.

Mikoto yang keibuan membuka suara, "Tidak masalah, sayang. Asal kau menjelaskan kenapa wajahmu jadi seperti itu."

"Aku tidak nangis!" Sentak Sasuke.

Naruto tiba-tiba tertawa keras, melepas tawa tertahannya yang menggelitik. "Siapa yang bilang kau nangis, coba! HAHAHA, silly Sasuke," tawa Naruto menggelegar dan mengundang bermacam-macam ekspresi. "uluh uluh…" Naruto mengdorong pintu kamar Sasuke lebih lebar, untungnya Sasuke tidak menolak, jadi Naruto tidak perlu menendang pintunya. Dengan pelan, Naruto maju dan memeluk leher Sasuke. "Kau sedih gara-gara tadi, ya?"

Sasuke balas merangkul pinggang Naruto dengan erat dan menundukkan tubuhnya agar Naruto tidak perlu berjinjit. Sasuke mulai menangis lagi dan menyembunyikan tangisannya di leher Naruto yang terasa hangat dan nyaman sekali.

Naruto disini dan memeluknya. Sasuke tidak bisa berpikir dan menduga hal-hal buruk lagi seperti tadi saat di kamar. Yang ada hanya: Hubungan mereka masih bertahan! Naruto masih pacarnya sekarang!

Iya, 'kan?

"Aku tidak paham bagaimana caramu berpikir, jenius darimananya. Tadi itu memang momen penting." Naruto mengelus rambut Sasuke dan melanjutkan, "Confess our feeling is not like you can disturb it. Sasuke, sebelum Shikamaru mengatakan perasaan sukanya padaku, pasti dia butuh menyiapkan segala sesuatunya, termasuk mental yang kuat. Jadi aku tidak ingin kau menginterupsi keberanian Shikamaru, well, walaupun kupikir mentalnya lebih keras dari apapun karena berani menembakku didepanmu."

"Ohhh~" Itu kor, paduan suara dari Itachi, Mikoto dan (mengagumkannya) Fugaku juga. Mereka mengangguk, kini paham keadaan yang terjadi.

"Nahh memang apa yang kau pikirkan! Aku masih ingat jika kau pacarku― jangan bilang… setelah mendengar omonganku, kau pikir aku akan selingkuh didepanmu?!" Naruto baru menyadari itu! Dia nggak bitchy kale! Naruto tidak terima! Tidak terima!

Sasuke merapatkan tubuh mereka sampai tidak bercela dan mengeratkan pelukannya saat Naruto mencoba melepas pelukan.

"Oh diammu berarti benar! Shit! Kau pikir aku cewek apaan, TEME!" Naruto sudah sepenuhnya lupa pada tekad bersikap sopan di depan para orang tua.

Kemudian… Fugaku dan Mikoto saling menatap penuh arti, tersenyum, manggut-manggut dan memilih meninggalkan putera bungsunya dengan calon menantu.

Sip! Naruto sudah dapat restu meski dengan sikap bar-barnya.

Sedangkan Itachi memilih bersembunyi didekat pilar dekat kamar Sasuke dan memenuhi asupan imajinasinya.

Sasuke tidak peduli sekitar. Meluapkan kebutuhannya akan Naruto dengan tetap memeluk gadis blonde itu adalah segalanya. Sasuke tahu, walau sekarang Naruto mengatainya brengsek karena berpikiran aneh, Naruto pasti akan tetap di sisi Sasuke dan memeluknya.

Sasuke butuh Naruto.

Dan sebenarnya, Naruto tidak merasa lengkap jika tanpa Sasuke.