IT'S BEEN A WHILE
Terakhir gue up adalah JULY 2017 (Udah hampir setahun, mampus)
I thank u whoever u are. U who read and wait. Thank u so much.
-His Aphrodite, ABSOLUTE-
Hariini hari senin. Naruto punya kebiasaan yang pasti dimiliki teman seumurannya, yaitu malas berangkat sekolah.
Rasanya akhir pekan kurang panjang.
Ditambah kelakuan menjengkelkan Sasuke kemarin membuat Naruto lebih malas lagi bangun. Tapi apa mau dikata, ibunya sekarang sedang di ujung ranjangnya dengan rambut merah berkibar dan ekspresi paling garang sejagat raya. Jelas tidak mungkin diabaikan, bahkan oleh manusia paling tidak peka semacam Naruto Uzumaki Namikaze sekalipun.
"Aku butuh lima menit lagi. Tidak lebih." Naruto mencoba menutup mata lagi.
"Naruto..."
"Please, mom."
Naruto tahu ibunya tidak bergerak seinci pun, namun Naruto tidak bisa membiarkan pertahanan dirinya kendur. Jadi matanya tetap terbuka dengan was-was karena ibunya masih ada di ruangan yang sama dengannya.
"Naruto... kau bangun detik ini juga atau kupatahkan tulangmu?"
Naruto meringis dan tidak bisa tidak bangun saat itu juga. Ibunya tidak main-main. Salah etika, detik itu juga Naruto mati ditangan sang ibu. "Oke, oke." Naruto mengangkat tangan tinggi, menyerah dan meloncat ke luar kamar.
Saat di lorong menuju kamar mandi, Naruto mengintip kamar kakaknya yang juga di koridor itu. Disanalah Naruto menemukan makhluk super konyol. Dengan dandanan rapi tapi sedang nemplok tanpa nyawa di dinding.
"Mom! Kurama tidur lagi!" Teriak Naruto sambil membanting pintu kamar kakaknya yang tadi terbuka sedikit.
Saat Naruto mendengar suara gedebukan mendekat di tangga dan kakaknya yang kini tersentak dan mengejarnya, Naruto berlari masuk ke kamar mandi.
"Kampret, Nar- Mom, tidak, aku sudah bangun! Aku sudah-doh!!"
Begitulah...
-LINE BREAK-
"Mau jadi pemalas sampai kapan kau?" Kushina Uzumaki Namikaze mengomel setelah menyeruput jus paginya.
Kurama Namikaze yang sejak tadi jadi bahan omelan ibunya hanya diam. Memilih menyuap nasi sayurnya jika tidak mau lebih di omeli ketika memilih menjawab.
"Kau juga Naruto, mau buat onar sampai kapan kau?"
Naruto yang sedang menelan lauknya terserang gumpalan lauk di tenggorokan begitu namanya disebut oleh sang ratu satan. "Uhuok!" Gadis berambut pirang emas itu meraba mejanya dan tidak menemukan air putih. "Uhuk huk!"
Kurama yang duduk di samping Naruto, menepuk punggung adiknya. Itulah keberuntungan Naruto, karena Kurama bernafsu menghajarnya dengan tepukan-tepukan yang nyaris disebut tinjuan.
"Enough! Cukup, you fuckin' Kurama." Naruto berusaha menghindar namun Kurama menahan lengannya.
"Naruto, language. Kurama, stop." Minato Namikaze mematikan tabletnya dan mendesah pasrah dengan suasana makan pagi yang tidak pernah damai. Sedari tadi ia berusaha diam. Siapa tahu, anak istrinya peka pada kehadirannya dan berakhir sungkan. Namun, itu jelas hanya angan. Sama sekali tidak ada kedamaian di rumah Namikaze-Uzumaki. "Makan sarapan kalian dengan tenang."
Naruto mengusap mulutnya yang berleleran liur saat kakaknya sudah melepaskannya. "Apa masalahmu?!" Sungut Naruto, menatap Kurama dengan lemparan kunai imajiner di mata.
"Kau yang punya masalah. Lihat pipiku biru, buktinya." Sahut Kurama. Berusaha menahan intonasi tinggi agar tidak semakin di omeli.
Naruto menyuap nasinya sebentar dan mendengus. "Itu salahmu sendiri! Kau yang tidur lagi, kenapa aku yang disalahkan."
"Ka-"
"Cukup." Kushina menggetok sendoknya ke piring dengan pelan, namun mampu membungkam Kurama dan Naruto. "Berhenti membuat onar, kau gadis muda."
Naruto yang ditunjuk melotot tidak percaya. "Aku tidak buat onar, mom! Aku kan mengingatkan Kurama supaya tidak jadi pemalas seperti yang kau bilang."
"Tukang ngadu tidak akan bertahan lama di hidup ini, adikku." Sindir Kurama disela acara makannya yang dibalas pelototan mata sapphire bening Naruto.
"Kura-"
"Aku sudah selesai. Aku berangkat duluan." Menghindari kena omelan untuk kesekian kalinya, Kurama memilih pergi duluan.
"Kak, mom belum selesai! Jangan kabur kau!"
Naruto pikir kakaknya yang sekarang mungkin sudah di depan, akan mengutuknya dari jauh, tapi ternyata Kurama malah gentian teriak.
"Pangeran berkudamu sudah datang, lil sis!"
Sialan, Kurama!
Naruto deg-degan saat itu juga.
Bisa rempong jika ayah dan ibunya tahu soal Sasuke.
Siapa lagi yang biasa menjemputnya selain Uchiha Sasuke.
"Diam kau!" Teriak Naruto setengah kaku.
"Pangeran?" Tanya ibunya.
Naruto bersin tidak normal saat itu juga. "Bukan pangeran."
"Kau punya pacar, Naruto sayang?" Kali ini ayahnya yang membombardir.
Bersin tidak normal Naruto sekarang mulai diiringi batuk aneh.
Naruto segera menyuap sendok terakhirnya dan merapikan seragam tanpa berani mendongak. "Itu... aku berangkat duluan, mom, dad!"
Ketika sudah akan meloncat dari kursinya, Minato berseru, "Naruto!"
"Ap-apa?"
"Kau punya pacar? Katakan!"
"Ap- Duh, kenapa dad berteriak, coba! Yang di depan itu tukang ojek! Puas? Aku berangkat!"
Naruto tidak berani menoleh kebelakang, dan segera masuk mobil Sasuke.
"Dobe..."
Sasuke menyambutnya dengan senyuman bling-bling yang sebenarnya mampu membuat Naruto ikut tersenyum, namun Naruto malah menampar wajah ganteng itu. "Jalan detik ini juga atau kupatahkan tulangmu, teme!"
-TBC OR END(?)-
IT IS UP TO U
THANKS TO:
Pedofilgila
firdaus minato
Hyull
vira-hime
mytakaza
Guest(k)
Guest(mmm)
Guest(Kaname)
Guest(Dewi)
Guest(D)
AySNfc3
nusantaraadip
dinda94
Guest(yuma)
Miftahur Rahmah
