HOLAAA!

I AM HERE! Keknya udah lama bat gak update ini.

Gue berterimakasih kalo masih ada yang nungguin dan masih setia baca sampai chap ini, I really do appreciate that. Salam kangen buat pembaca setia dan selamat datang buat pembaca baru!

.

2018

.

.

.

.

.

.

"Teme, katakan padaku darimana kau dapat ini?" Naruto mencoba mengontrol suaranya agar tidak kelihatan seperti dia benar-benar ingin tahu, tapi mungkin dia tidak berhasil. Sasuke meliriknya dengan lirikan maut.

"Seorang gadis, berambut pink."

"Namanya Sakura, ya aku tahu itu. Tapi bagaimana bisa ini ada di tanganku sekarang?"Tahan, Naruto. Kau pasti tidak ingin menerbangkan ayam ini dengan kecemburuanmu. Dan... kau tidak cemburu, Naruto, ingat baik-baik itu!

"Kau merampasnya sewaktu aku akan memasukkan itu ke tasku, dobe. Jangan belaga pikun kau."

Bibir Naruto kedutan, ingin sekali menyumpah jika tidak ingat bahwa dia harus stay calm untuk harga dirinya. "Oke, ingatkan aku kenapa kau seakan tidak keberatan memasukkan ini ke tasmu, teme."

"Aku belum mengatakan apapun padamu. Kau keburu bertanya darimana aku dapat itu. Dan apa salahnya menyimpan itu?" Sasuke menunduk dan menarik ritsleting tasnya yang memang dari tadi tersampir di satu sisi bahunya dan terbuka lebar.

Naruto menarik nafasnya lamat-lamat. Jantungnya sudah berasa mau copot karena terlalu terbawa adrenalin, tapi untung saja otak pas-pasannya masih mampu mengontrol diri. "Kau pikir tidak salah menerima ajakan kencan cewek lain ketika kau sudah punya pacar eh?"

Naruto masih menahan suaranya untuk kelihatan tenang, tapi kelihtannya hal itu sudah betul-betul gagal sejak awal. Apalagi sekarang Sasuke malah mendongak pada Naruto dengan wajah berseri-seri.

Sasuke merasa seperti hari ini adalah hari yang tidak biasa. Naruto tidak biasanya peduli padanya seperti ini.

Disisi lain, Naruto juga merasa situasi semacam ini tidak biasa. Tidak biasanya Sasuke setenang ini menghadapinya. Seperti Sasuke sedang niat sekali mengerjainya.

Dan dugaan Naruto benar ketika Sasuke berucap, "Kau cemburu, dobe." Bahkan cowok mantan ketua OSIS yang punya ketampanan diatas rata-rata itu juga menyempatkan diri melempar kerlingan membahana pada pacarnya yang sedang mengepalkan tinju.

"Aku tidak sedang cemburu. Aku sedang berpikir."

"Tentang?"

"Tentang kenapa otakmu bebal sekali, teme. Aku juga sedang berharap aku bisa makan eskrim dingin yang kucelupkan ke ramen...aku butuh mendinginkan diri, sumpah."

Sasuke mengernyit dan melirik sekitar, berharap tidak ada yang sedang mendengarkan obrolannya bersama sang Aphrodite. Tapi kenyataannya malah banyak yang terang-terangan menguping. Bahkan juga cewek berambut pink yang awalnya sedang mereka bicarakan, dia berdiri di bawah tangga tidak jauh darinya.

Yaaah, apalagi yang bisa diharapkan dari lorong loker ketika jam pulang sekolah. Tentu saja tidak mungkin ada ketenangan dan suasana sepi.

"Naruto, kau ngelantur dan otakmu mungkin hanya sebesar otak hamster. Jangan pikirkan tentang otakku dan jangan juga membayangkan makanan anehmu. Oke? Anggukkan kepalamu jika kau mengerti." Sasuke membisik ke Naruto dan dibalas serudukan ajaib dari kepala kuning itu.

Kepala Sasuke pening seketika. Seperti ter-reset pernah memikirkan otak hamster Naruto.

"Kuharap otakku sebesar itu, idiot!" Naruto menjauhkan kepala kerasnya yang baru saja menjeduk tenggkorak si upil yang sialnya adalah pacarnya. Dan sebenarnya patut diketahui bahwa dia kini rasanya punya banyak julukan untuk Sasuke yang super menjengkelkan sejagad raya. "Puas kau?!" Seru Naruto tidak main-main kerasnya.

Semua pasang mata di lorong itu menatap mereka tanpa terkecuali. Tapi Naruto tidak peduli. Yang dia lakukan adalah menjejalkan selembar tiket nonton filem yang sedari ada di tangannya ke saku kemeja seragam Sasuke.

Sebenarnya bukan ingin Naruto untuk menyerah begitu saja sebelum membalas, tapi moodnya beradu mulut dengan Sasuke mulai hilang hari demi hari. Entah karena apa, mungkin Naruto perlu berpikir ulang apakah worth it menukarkan gelar Sasuke sebagai teman adu debat sebagai pacarnya.

Naruto juga tidak akan mengakui dengan mulutnya bahwa dia cemburu karena Sasuke mengiyakan ajakan nonton Sakura, cewek cantik dari kelas sebelah yang kabarnya sudah suka Sasuke sejak dulu.

Pokoknya Naruto malas dan tambah malas jika harus main hati dengan Sasuke. Sasuke kan banyak yang suka. Termasuk Naruto sih. Tapi dia tidak punya cukup hati untuk dibuat mainan oleh cowok itu. Jadi, Naruto rasanya sudah kagok jika sekali saja dia membaca sebuah tanda Sasuke mulai memperhatikan cewek lain, apalagi cewek yang juga suka padanya. Itu membahayakan hati rapuh Naruto.

"Naruto, kau memelototiku dari tadi. Katakan saja apa maumu, seperti biasa." Sasuke berucap dan suaranya mampu menyadarkan Naruto dari transnya yang secara tidak sengaja juga diikuti kelakuan memandangi Sasuke penuh makna terlalu lama.

Naruto membuang muka dan berbalik. Mungkin hari ini dia harus pulang sendiri. Tukang ojeknya mau pergi kencan dengan cewek lain.

"Tunggu!" Sasuke menahan lengan Naruto dan berusaha membalik cewek itu. Tapi Naruto adalah Naruto yang punya skill pro di bidang olah raga, yang juga merangkap sebagai cewek paling badass, jadi dia tidak mudah dibalikkan begitu saja, sekalipun oleh Sasuke. "Kita selesaikan disini. Oke, kau tidak cemburu, dobe. Katakan saja apa maumu. Kau mau aku tidak pergi dengan cewek itu, begitukah?"

Naruto berbalik dengan wajah tenang, namun Sasuke masih sempat melihat wajah cemburu pacarnya yang manis itu. Sasuke harap Naruto memang benar-benar cemburu. Bukan inginnya membuat Naruto sakit hati, tapi dia ingin Naruto merasakan apa yang ia rasakan selama ini, ketika cewek cantik itu didekati cowok lain dengan santainya sementara Sasuke hanya bisa terbakar tanpa bisa protes.

"Tentu saja aku tidak ingin kau pergi dengannya, teme! Idiot kau ini! Tapi seperti katamu, apa salahnya?! Jadi pergilah! Aku akan memanggil tukang ojek lain." Begitu kata Naruto dengan lantang.

Dan kelantangan suara serta dagu terangkatnya meluntur seketika ketika dia baru benar-benar sadar apa yang sudah ia ucapkan. Yang idiot mungkin bukan Sasuke... tapi Naruto sendiri.

Sudah kubilang kendalikan dirimu, baka-Naru!

Naruto betul-betul meurutuki dirinya sendiri. Dia semakin risih ketika Sasuke menatapnya serius. Sekarang apalagi mau, Sasuke? Bukankah seharusnya dia senang melihat Naruto mengakui sendiri bahwa ia cemburu. Tapi kenapa wajahnya malah menekuk-nekuk penuh perhitungan.

"Apa, kau?! Sekarang kau malah gentian memelototiku, Mau ngajak berantem nih?!" Naruto maju selangkah dan mencoba mengintimidasi Sasuke. Plus dia juga menunjuk-nunjuk dada Sasuke supaya lebih total.

Naruto pikir Sasuke akan balas marah, tapi dia malah melengkungkan bibirnya keatas dengan indah.

Naruto tidak mengerti yang sedang terjadi. Apa Sasuke memang sedang tersenyum dengan tampannya kepadanya atau mungkin dia sudah dimantrai dan gila seketika karena melihat senyum itu. Ada yang salah dengan Sasuke yang kelihatan berseri-seri lagi itu. Rasa-rasanya tidak mungkin jika Sasuke terlambat mencerna ucapan Naruto yang menyatakan dengan gamblang bahwa akhirnya dia cemburu.

Sasuke terlalu mustahil untuk jadi lola. Tapi... yang jadi masalah sekarang adalah, jantung Naruto menggelepar di rongga dada sekarang. Bisa malu sampai mati dia jika Sasuke sampai tahu hal ini. Apalagi ini hanya karena dilempari senyuman oleh si ayam tukang guna-guna.

"Teme.." Naruto menelan ludahnya dengan gugup dan mencoba mengangkat dagunya lagi. "Pergilah, pergilah dengan Sakura. Aku tidak keberatan, sumpah. Asal kau berangkat saat ini juga." ...karena aku sialan malu sekali jika harus menatap tampangmu yang seperti penuh bunga itu.

"Aku yang keberatan. Dan bagaimana denganmu jika kutinggal? Kau tidak akan menangis setelah ini?" Sasuke menatap langsung pada mata biru indah Naruto... tadinya, tapi sekarang onyx Sasuke bergulir ke bibir Naruto ketika cewek itu menjilat bibirnya dengan gerakan lambat di mata Sasuke. Ohhhh-

"Kau tidak ingat siapa yang pulang nangis hanya karena kusentak dihadapan Shikamaru tempo hari? Lagian aku bisa cari tukang ojek lain. Banyak yang sukarela mengantar jemputku selain kau, banyak juga yang mau membantu PR-ku selain kau, dan banyak juga yang mau menraktirku ramen selain kau, teme. Pergilah, sekarang juga, teme."

"Tidak, terimakasih tawarannya, tapi tidak. Aku cuma mau kau, dobe."

Jika membayangkan ini adalah adegan melo dengan iringan lagu balad, maka hentikan itu.

Karena baik Naruto dan Sasuke, mereka berdua sama sekali tidak cocok dengan situasi macam itu. Yang perlu dilakukan adalah memperhatikan dengan baik-baik bahwa wajah Naruto memerah dengan Sasuke yang masih tersenyum tampan. Dan mereka, sejujurnya, lebih cocok dengan lagu...

...'Pengantin Baru'.

.

.

.

.

-END-

-OR TBC-

Kek biasaaa, ini semua tergantung lo, gengs. Mau lanjut mah bakal gue lanjut posting, kalo gak mau lanjut yaaaa... gue tetep writing sih, Cuma gak bakal gue post wkwk

Jadi, gue tungguin komen kalian yang selalu gue anggep mood boster ituh!

EH iya, cek profil gue, buat yg belum tahu, gue post transfic SasuNaru loh, bakal gue update chap 2 nya besok. Sampe ketemu disana!