Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
C : Cinta
"Aku dengar bahwa Minato-sama menikahi Ino-sama karena terpaksa, kau tau sendiri bukan?" bisik seorang wanita yang berperawakan lebih kurus dari wanita di sampingnya.
Wanita bertubuh tambun itu mengangguk, "Aku yakin benar bahwa Ino-sama dulu menggoda Minato-sama kemudian ia hamil dan lahirlah Minoru-kun! ahhh tapi bukankah Minoru-kun benar-benar tampan?"
"Tapi, kasihan sekali Ino-sama! Minato-sama tak pernah benar-benar mencintainya, cinta Minato-sama 'kan hanya untuk Kushina-sama."
Brughhhhh!
Minoru membanting tas miliknya kesal, dasar penduduk desa bodoh! Tau apa mereka tentang ayah dan ibunya? Seenaknya saja mereka membicarakan orangtuanya seperti itu.
Air muka bocah 12 tahun itu menjadi merah padam karena menahan amarahnya hingga tak menyadari bahwa sang ayah kini menatapnya dengan senyum geli khas mantan Hokage keempat itu, "Apa Tou-san pernah mengajarimu untuk lengah?"
"Tou-san!" pekiknya terkejut dan membalik tubuhnya, bocah laki-laki pirang itu mendelik tajam tak pernah menyangka bahwa sang ayah kini berada di belakangnya, sejak kapan ia berdiri di situ dan parahnya ia tak menyadari chakra milik ayahnya sendiri?
Bibir tipisnya ia kerucutkan, ia benar-benar kesal! Mengapa di saat seperti ini ayahnya masih mempermainkannya? Apakah ia hanya sekedar bahan candaan untuk pria itu? mungkinkah ….
Minato segera menyadari perubahan ekspresi sang putra, wajah jahilnya kini berganti dengan wajah perhatian khas seorang ayah pada anak-anaknya, "Apa yang sedang kau pikirkan, Minoru?"
Bayang-bayang perlakuan ayahnya pada Naruto-nii benar-benar berbeda dengan perlakuan padanya, apakah benar bahwa pria di hadapannya ini memang lebih mencintai bibi berambut merah yang gambarnya tergantung indah di ruang kerja sang ayah? Bahwa pria yang sangat ia cintai ini lebih menyayangi kakak laki-lakinya daripada dirinya dan adik perempuannya?
Mata sebiru warna langit keduannya berpandangan seakan menyelami satu sama lain, "Kau tidak apa-apa 'kan? Apa kau sakit Minoru? Mengapa kau menangis?" demi apapun juga kali ini Minato terlihat sangat khawatir dengan keadaan putranya yang tiba-tiba meneteskan air mata seperti itu.
Minoru tak menjawab. Alih-alih menjawab pertanyaan sang ayah, bocah yang menjadi kesayangan Naruto itu memungut tas yang baru saja ia banting dan segera berlari pergi meninggalkan ayahnya yang kebingungan.
"Minoru Namikaze, berhenti sekarang!" Minato meninggikan suaranya.
Tak pernah dalam 12 tahun kehidupannya Minoru mendengar ayahnya berteriak seperti ini, ia mematung pada tempatnya tak berani untuk mengambil langkah sekecil apapun itu.
Dia benar-benar dalam masalah kali ini!
"Berbalik dan duduk!" perintah Minato yang kini berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk mengamati sang putra yang tak bergeming dari tempatnya berdiri, "Minoru, apa kau mendengar apa yang Tou-san perintahkan?"
Minoru menghela napas panjang, bocah itu menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berjalan menuju sofa, tubuh kecilnya ia dudukkan di samping sang ayah, "Tou-san tak pernah mencintai kami!" ujarnya lirih namun mampu tertangkap oleh indera pendengaran sang ayah.
Minato mengernyitkan dahi, "Lebih kencang!"
"Aku tidak berbicara apa-apa!" ujar bocah itu polos dan hanya menundukkan kepala tak ingin menatap sang ayah.
"Kau marah pada Tou-san? Apa Tou-san mempunyai salah padamu?"
"Apa Tou-san mencintai Kaa-san, aku dan Mikomi?"
Pertanyaan macam apa yang sedang dipertanyakan oleh putranya ini, Minato memilih diam dan membiarkan Minoru menyelesaikan perkataannya.
"Kata orang-orang itu Tou-san menikahi Kaa-san hanya terpaksa, ayah mencintai bibi berambut merah yang gambarnya di pajang di ruang kerja Tou-san, perlakuan Tou-san padaku berbeda dengan perlakuan Tou-san pada Naruto-nii." Minoru menekuk mukanya, ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya, menunggu jawaban dari sang ayah.
Sedangkan Minato sendiri tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia hanya memandangi putra tampannya, wajah tampan yang sama sepertinya, mata yang sama sepertinya, ia adalah versi mini dirinya kecuali warna rambut pirang platina yang ia warisi dari Ino.
"Siapa yang mengatakannya?"
"Jawablah Tou-san!" gumamnya.
Anak ini benar-benar!
Lagi-lagi ia dibuat berpikir keras dengan tingkah Minoru yang kadang terlewat polos dan kadang cukup sulit untuk menjawabnya.
"Apa yang kau ketahui tentang cinta? Usiamu baru menginjak 12 tahun, Minoru!"
"Belum saatnya kau mengetahui hal semacam ini." ujar Minoru dan Minato bersamaan, "Aku tahu Tou-san akan menjawab seperti itu. aku sudah cukup dewasa untuk mengerti semua itu Tou-san!" keluh Minoru.
"Jadi itu yang kau pikirkan tentang Tou-san? Bagaimana bisa lahir dirimu jika Tou-san tidak mencintai Kaa-san?" Minato beranjak dari tempatnya duduk, "Tou-san juga tak pernah membedakan perasaan cinta Tou-san pada Kaa-san dan Kushina Oba-chan, pada Naruto-nii maupun dirimu dan Mikomi-chan!" Minato tersenyum simpul, tangan besarnya mengacak lembut rambut jabrik milik sang putra, "Jangan pernah meragukan cinta Tou-san pada kalian, kalian adalah keajaiban untuk Tou-san setelah mendapatkan kesempatan kedua! Kau mengerti Minoru?"
Sang Namikaze dewasa kemudian berjalan menjauh dari anak pertamanya dari Ino, meninggalkan bocah itu dengan segala pikiran-pikirannya sendiri, tak lama setelah Minato pergi bocah itu mengangguk dan menyunggingkan senyuman khas sang ibu yang menurun padanya sembari menghapus air mata dengan tangannya puas dengan jawaban sang ayah.
"Jadi itu yang kau pikirkan tentang Tou-san? Bagaimana bisa lahir dirimu jika Tou-san tidak mencintai Kaa-san?"
Pernyataan sang ayah terngiang di kepalanya, hn~ jadi hanya perlu cinta untuk melahirkan seorang bayi?
.
.
.
.
See You Next Chapter …^^
Wkwkwkwk~ Kenapa Minoru polos seperti itu :D.
Kenapa MinaIno bisa bersatu? Nunggu huruf yang cocok untuk menjabarkannya ya :D. terimakasih banyak untuk review-nya dan siapapun reader yang telah menyambangi fiksi ini .
ENJOY ^^
#VALE
