Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.
H : Hinamatsuri
"Ini untuk apa, Tou-san?" Minoru yang kini berusia 6 tahun itu dengan polosnya memegangi boneka-boneka yang tengah dipajang dengan hati-hati oleh Minato di teras rumah mereka. Mata sebiru lautan miliknya dengan seksama mengamati boneka-boneka berpakaian Kimono yang nampak tertata rapi diletakkan pada Dankazari beralaskan kain sutra berwarna merah
"Ini untuk merayakan Hinamatsuri, Minoru!" Sang Hokage keempat itu tersenyum, mengacak surai pirang milik sang putra, "Hinamatsuri?" mata milik Minoru terpejam dan terbuka kemudian terlihat berpikir sejenak dengan kata yang baru diucapkan sang ayah yang membuat Minato mau tak mau tertawa dengan ekspresi yang di pasang sang putra dengan lucunya.
Sang pemilik Yellow flesh itu kemudian mendudukkan dirinya agar sejajar dengan putranya yang baru berusia 6 tahun itu, "Kau lihat buah dan bunga persik itu?" Minato menunjuk sekelilingnya, bunga persik sedang mekar dengan indahnya juga berbuah, memandang sosok mungil Minoru yang mengikuti arah telunjuknya, ia tertawa geli. Ternyata membesarkan seorang anak itu sungguh luar biasa, ia benar-benar merasa bersalah pada Naruto karena tak sanggup memberikan putra pertamanya itu kehidupan yang layak, keluarga yang melindunginya dan cinta.
"Apa hubungannya dengan boneka-boneka ini, Tou-san?" tanyanya Minoru polos. Tangan mungilnya memeluk leher sang ayah dan merajuk. Mirip sekali dengan sang ibu.
"Boneka ini dinamakan Hina Ningyo." Minato menunjuk undakan Dankazari yang diletakkan boneka Obina, Mebina, Sannin-kanjou, Gonin-bayashi, Zuishiin, Ukon no tachibana juga pohon persik dan beberapa pernik Hinamatsuri lainnya seperti Tsurushi Bina di sisi lain dekat Dankazari.
Sepertinya Minato benar-benar menjalankan tugasnya sebagai ayah dengan baik, nampak kepuasan yang terpancar dari raut yang terlihat bertambah bahagia sejak kelahiran putrinya bersama Ino satu tahun yang lalu.
Festival pertamanya sebagai ayah dan ia harus menjalankannya dengan baik, Minato menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya, mengacak rambut jabrik putranya lagi dan lagi, "Jangan membuatku bingung, Tou-san! Dan berhenti mengacak rambutku!" keluh Minoru dengan memasang wajah sebal, bibir tipis bocah itu mengerucut sempurna membuat sang ayah gemas memandangi replika mini dirinya itu.
"Besok dirayakan untuk memohon dan mendoakan agar Mikomi-chan selalu bahagia, sehat dan sejahtera kelak jika dia telah menginjak dewasa."
"Huh? Perayaan khusus hanya untuk Mikomi-chan?" tanya Minoru sebal. Mengapa adiknya memiliki perayaan sendiri sedangkan dirinya tidak diberikan perayaan oleh sang ayah?
Benar-benar kali ini Minato ingin sekali tertawa dan mencubit kedua pipi gembil putranya itu, "Minoru …" Minato menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan sang putra yang kelewat polos itu, "Semua keluarga yang mempunyai anak perempuan di dalam rumah mereka pasti akan merayakan festival ini."
"Jadi Paman tanpa alis dan bibi berdahi lebar juga merayakannya untuk gadis aneh itu?"
Entah apa yang akan dilakukan Gaara dan Sakura jika mendengar pernyataan Minoru yang satu ini, Minato menghela napas panjang, "Gadis itu? dia mempunyai nama Minoru! Lagipula apa yang aneh dari Saki-chan? dia gadis yang cantik bukan?"
"Dia aneh! Rambutnya aneh, bagaimana bisa ia memiliki warna rambut merah dan merah muda seperti itu? itu 'kan aneh, Tou-san, dia juga galak dan sering sekali mencubit kedua pipiku. Aku membencinya." Ucap Minoru sebal.
Kelakuan Ino dan Sakura di masa lalu menurun pada putra dan putri mereka, bedanya bahwa Minoru menjadi sosok yang lebih mengalah meskipun bisa saja ia melawan gadis kecil yang suka mencubitnya itu. tentu saja Minato, Ino dan Naruto tak pernah mengajarkannya untuk menyakiti perempuan, bukan?
Dahi Minoru berkerut heran karena melihat sang ayah yang hanya tertawa terbahak dengan keluhannya itu kemudian berdiri dari posisi duduknya tadi, "Masuklah ke dalam! Lihat apa yang Kaa-san siapkan untuk makan malam kita, mungkin hari ini ia telah memasak masakan lezat bersama Hinata-nee!"
"Jangan mengacak rambutku!" sergah Minoru yang kali ini hapal apa yang akan dilakukan sang ayah padanya, ahhhh! Tidak ayah, ibu, nenek maupun kakaknya hobi sekali mengacak surai pirangnya ini.
"Hahaha, dasar bocah!" ungkap Naruto yang baru saja keluar rumah membawa Mikomi di dalam gendongannya, "Lihat Minoru-nii, Mikomi-chan!" perintah Naruto pada bayi berusia 1 tahun yang hanya memandangi malas ketiga 'makhluk' pirang di hadapannya, mata sebiru lautan milik bayi mungil itu malah memandang semangat pada boneka-boneka yang ditaruh ayahnya, "Tou … Tou, Tou!" ocehnya, meminta untuk digendong sang ayah.
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku baru saja menggendongmu, Mikomi-chan!" protes Naruto.
"Niiii niiiii niiiii niiiiii!" jerit bocah itu meninggi. Mirip sekali dengan Ino.
Minoru menggelengkan kepalanya heran, selalu saja seperti ini. Haaah~ tapi ia benar-benar bahagia dikelilingi keluarga pirangnya ini meskipun diantara mereka berlima hanya ayahnya saja yang nampak bisa tenang dan tidak berisik.
"Kalian berisik." Keluh Minoru, "Aku akan ikut Kaa-san dan Hinata-nee saja di dapur." Keluh Minoru yang hanya dihadiahi acakan di surai rambut pirang jabriknya dari Naruto, sedangkan Mikomi kini sudah berada di gendongan sang ayah.
"Kau juga tak kalah berisik! Hahaha … benarkan Mikomi-chan?" goda Naruto pada Minoru dengan membawa-bawa Mikomi yang tak ditanggapi bocah berusia 6 tahun itu yang langsung saja masuk ke dalam rumah.
Mikomi tertawa terbahak seolah mengerti apa yang dilakukan kakak tertuanya pada kakak keduanya itu, "Huh~ nampaknya kau akan mewarisi kejahilan Naruto-nii!" sindir Minato dan mengangkat tubuh mungil Mikomi lebih tinggi membuat bayi mungil cantik itu tertawa riang.
"Ku kira Tou-san juga memiliki kejahilan yang tak ku ketahui pada Ino-chan! hahaha~"
Geez~ Naruto, Minato menurunkan tubuh mungil Mikomi kembali ke dekapannya, rasanya ia tak perlu menjawab pertanyaan sang putra, ia kini malah membawa Mikomi mendekat pada tatanan boneka yang baru saja selesai ia kerjakan, "Kau senang?" tanyanya pada putri kecilnya yang sedang asyik memegangi Tsurushi Bina dengan jemari mungil yang sejak tadi mengusik indera penglihatannya. Gadis kecil pirang dengan panjang rambut sebahu itu tersenyum riang, memandang bergantian benda yang terbuat dari kain sutera itu dan ayahnya yang tersenyum lembut menatapnya.
"Semoga kau bahagia, sehat dan sukses nantinya, Mikomi-chan!"
Naruto tersenyum lembut menatap kebersamaan ayah dan adiknya itu, rasanya ia ingin cepat-cepat menikahi Hinata dan mempunyai keluarga mereka sendiri.
Gambaran kebahagiaan Ayahnya, Minoru, Mikomi dan Ino nyatanya mampu membuatnya iri. Ahhh~ mungkin akan semakin lengkap jika ibunya sendiri ada di sini. Namun, itu pemikiran yang sangat bodoh, mana mungkin ia akan menempatkan ayahnya pada posisi sulit lagi? Lagipula, gulungan jutsu itu sudah ia bakar.
Tak ada lagi alasan untuknya memikirkan hal itu lagi. Ia sungguhh telah bahagia dengan keluarga ini sekarang, Ayahnya, Ino, adik sepolos dan seunik Minoru, juga si cantik yang ia yakini bahwa beberapa tahun lagi itu akan menjadi sosok yang akan mampu mematahkan banyak hati para pemuda, Mikomi, adik perempuannya yang sangat ia sayangi.
.
.
.
.
Kini beberapa hidangan seperti Chirashi Sushi, Temari Sushi, Inari Sushi, Chirashi Sushi Cake, Sakura Mochi, Strawberry Daifuki Mochi dan Kue Dango yang dipesan Ino langsung dari Anko-sensei sudah tersedia di meja makan mereka.
Naruto memasang wajah sebal karena Minoru yang lebih memilih duduk di antara dirinya dan Hinata, sedangkan wajah tampan adiknya itu menyunggingkan senyum penuh kemenangan, akhirnya misinya untuk menjahili sang kakak berhasil. Minoru menyeringai jahil dan melahap Sakura Mochi yang baru diberikan Ino untuknya.
Minato sang kepala keluarga tengah mendekap tubuh mungil Mikomi di pangkuannya, gadis kecil itu dengan semangat melahap bubur yang di suapkan Minato padanya.
"Festival ini akan lebih meriah jika Mikomi-chan sudah besar nanti, ahhh! Aku membayangkan akan memakaikan Kimono dan menata rambut panjangnya." Ungkap Ino ceria dan mengambil tempat duduk di dekat suaminya, "Bukan begitu, Minato-kun?"
Minato mengangguk dan tersenyum pada sang istri dan memandang putrinya yang benar-benar tak memiliki ciri apapun dari Ino, garis wajah, warna mata dan rambutnya saja menuruni kepunyaannya, ternyata gen miliknya benar-benar dominan huh~.
"Kaaaa Kaaaa Kaaaa!" Mikomi yang dipakaikan baju berwarna biru tua itu tersenyum riang mengangkat kedua tanganya ke udara ketika sang ibu menggelitiki tubuh mungilnya dan membuat seluruh keluarga Namikaze tak terkecuali Hinata yang akan menyandang nama Uzumaki itu tersenyum hangat.
"Kau bahagia huh~, Kau bahagia?"
"Kaaaaaa …. Chaaaaaa ….. nnn!"
"Tumbuhlah dengan sehat, Mikomi-chan! berbahagialah dan semoga hidupmu sejahtera hingga kau dewasa nanti." Ino tersenyum dan menciumi pipi gembil sang putri.
Rasanya baru kemarin ia mengandung buah hati keduanya dengan Minato ini namun, tak terasa bayinya itu kini sudah menginjak usia 1tahun dan tumbuh menjadi bayi yang cantik meskipun tak memiliki kemiripan sedikitpun dengan dirinya.
"Selamat merayakan Hinamatsuri untukmu, Mikomi-chan! Kami menyayangimu . . ." Hinata tersenyum cerah dan mengambil gambar calon adik iparnya itu dengan kamera yang ia bawa. Mikomi memandang ceria pada Hinata seolah tahu bahwa gadis indigo itu akan mengambil gambar dirinya.
"Awww~ kau cantik sekali, Mikomi-chan."
"Tentu saja dia cantik, Hinata-nee! Dia 'kan adikku!" ucap Minoru bangga, membuat mau tak mau Naruto dan Minato tertawa geli dan bersiap untuk mengacak rambutnya.
Dan ….
Sebelum Minoru berhasil untuk kabur, kedua pria dewasa itu telah berhasil mengacak-acak surai pirang jabrik milik anak laki-laki termuda diantara mereka, membuat Hinata dan Ino tertawa karena melihat ekspresi kesal Minoru.
Ahhhhhhh! Menyebalkan!
.
.
.
.
THE END (See Ya In I Series) ^^
Author's Corner :
Well, senang sekali memiliki reviewer tetap untuk Fiksi abal ini. terimakasih banyak bagi teman-teman yang sudi mampir dan meninggalkan jejak di review box, favorit maupun follow fiksi ga jelas ini .
Meski saya terkesan cuek dengan tidak mereply lewat Inbox review kalian tapi saya benar-benar mengapresiasinya, benar-benar terharu untuk fiksi abal semacam fiksi-fiksi buatanku mampu meraih favorit dan follow sebanyak ini. *mungkin ga sebanyak author lain, tapi menurutku ini benar-benar banyak untukku .*
Proook prokkk prokkk *tepuk tengan untuk kalian* :D
Uhm~ maaf banget kalau suasana Hinamatsuri-nya ga kerasa, atau jadi aneh , aku sampai jungkir balik bingung gambarinnya xD (?), but thanks for Google jadi sedikit lebih tahu tentang budaya ini .
Well terimakasih banyak sekali lagi untuk kalian, Ada ususlan untuk I series?
ENJOY ^^
#VALE
