BAB 1 : Green
Dusun Shiganshina, sebuah pedesaan yang terletak jauh dari peradaban modern Ibu Kota Mitras. Jalan-jalan tanpa aspal yang berkelok dengan ilalang disisi kanan-kiri, danau jernih memantulkan kehidupan damai didalamnya, domba berbulu tebal memakan rumput yang tumbuh subur, udara masih bersih tanpa adanya campuran asap pabrik yang menyiksa.
Gerobak kayu yang mengangkut beberapa karung gandum ditarik seekor kuda gagah berbulu cokelat mencolok, suara roda besar beradu dengan kerikil kecil menyebabkan guncangan dalam gerobak kayu. Langit berwarna biru jernih bagai lautan diatas sana, burung meliuk terbang memamerkan sayap yang bebas.
Angin berhembus kecil, menerbangkan helaian cokelat bak lelehan caramel. Iris hijau terang memandang sekelilingnya, bibir tipis sewarna kuncup bunga mawar dimusim semi melengkungkan senyum tipis. Senang dengan apa yang dilihatnya.
Tempat tujuannya adalah sebuah rumah sederhana yang ditinggali janda beranak satu, Kuchel Ackerman. Kala menyebut namanya, seluruh penduduk Shiganshina akan tahu, wanita berambut hitam panjang dangan perigai halus seperti seorang bangsawan, suaminya adalah komandan satuan militer yang gugur ketika menjalankan tugas. Kuchel membesarkan puteranya seorang diri.
Kereta perlahan mulai berhenti, tepat didepan sebuah rumah bercat putih dengan pekarangan ditumbuhi bunga yang bermekaran. Sekumpulan kupu-kupu dengan sayap warna warni berterbangan. Papan bertuliskan 'Ackerman' membuat pemuda itu sadar bahwa ia telah sampai ditempat tujuannya.
"Ini adalah rumah Kuchel Ackerman." Pria tua yang mengendarai gerobak kokoh membuka mulut.
"Terima kasih, paman." Melompat turun dari gerobak, sepatu putihnya beradu dengan jalanan penuh debu. Ia melambaikan tangan pada pria tua baik hati yang memberinya tumpangan, suara derap langkah kaki kuda mulai menjauh.
Menenteng koper cokelat yang terasa berat, alis tebal mengerut sedikit. Melangkah menuju pintu cokelat yang terbuat dari kayu mahal pilihan, mengetuk pintu beberapa kali.
"Siapa?" tidak berlebihan jika orang menyebut Kuchel adalah wanita berparas cantik. Kuchel secara harfiah memang cantik. Rambut hitam diikat membentuk sanggul rapi, mengenakan gaun tradisional yang mulai dilupakan dari peradaban, kulit seputih susu dengan sepasang iris kelam, bibir tipis kemerahan, hidung bangir, dan pipi yang bersemu. Siapapun tidak akan mengira jika usia Kuchel sudah lebih dari setengah abad.
"Aku Eren Jaeger, berasal dari perusahaan milik Mr. Dot Pixis, Ma'am."
Senyum melengkung dibibir tipis Kuchel. "Silahkan masuk."
Tittle : Call Your Name
Pairing : Levi Ackerman x Eren Jaeger
Genre : Shounen-ai, Slice of life, Hurt/comfort, Tragedy
Rating : T+
Author : Himawariyuzu
Desclaimer : Karakter dalam fanfiksi ini milik Hajime Isayama, sementara fanfiksi ini murni milik saya.
Warning : mengandung muatan Boyslove didalamnya, jika tidak berkenan silahkan tinggalkan page ini.
Summary : Eren gelandangan dan mantan napi. Levi pria buta yang tidak bisa menerima kondisinya. Shounen-ai, RivaEre, Riren, bxb.
Eren memasuki rumah yang menguarkan aroma bak hutan pinus, melemaskan ototnya yang kaku karena perjalanan jauh. Kuchel menyuruhnya duduk diatas sofa cokelat bersih, sementara wanita itu pamit untuk membuatkan Eren minum. Iris kehijauan bergulir, memandang ruang tamu Keluarga Ackerman. Beberapa foto yang tidak lekang dimakan usia menjadi suguhan untuknya. Foto pernikahan Kuchel, sejak muda wanita itu sangat cantik. Foto bayi mungil berbalut selimut biru muda. Kemudian foto pemuda berwajah malas.
Kuchel kembali tak lama kemudian, membawa nampan berisi dua cangkir cantik beraroma teh melati. Duduk dengan anggun dihadapan Eren Jaeger, bocah bau kencur berusia sembilan belas tahun yang menjadi mantan napi karena memukul seorang pelacur. Dot Pixis menawarkan pekerjaan untuknya, menjadi perawat bagi orang sakit atau lansia. Eren yang lahir dan besar dijalanan yang kejam berpikir bahwa dirinya tidak akan berhasil, namun Dot Pixis mematahkan anggapannya. Eren selalu ketakutan dengan masalalu yang membelenggunya. Mantan napi, gelandangan, dan tidak tahu cara bersikap sopan. Siapa yang sudi memperkerjakannya?
Namun sebuah keluarga kaya mempercayai Eren merawat seorang nenek renta yang bahkan lupa namanya sendiri. Eren melakukan pekerjaan pertama dengan sangat baik, menemani nenek renta menemui ajal diatas ranjangnya yang empuk. Tanpa anak, cucu, ataupun cicitnya. Hanya Eren, bocah asing perawatnya dan mantan napi. Keluarganya terlalu apatis.
"Jadi… Eren." Panggil Kuchel dengan suara tenang sehalus sutera. Iris kelam dan iris kehijauan bertemu. Mata Eren mengingatkan Kuchel pada kalung batu giok yang diberikan suaminya sebelum meninggal, tersimpan dalam kotak kayu berpahat rumit tertutup rapat.
"Ya, Mrs Ackerman."
"Ceritakan tentang dirimu."
Eren menegakkan punggung. "Namaku Eren Jaeger, aku tidak tahu siapa orangtuaku. Kabur dari panti asuhan sejak usia sepuluh tahun. Mantan napi karena memukul seorang pelacur ketika usiaku genap tujuh belas."
Bias keterkejutan tampak dimata Kuchel, namun hanya sementara. Kemudian kembali menjadi tatapan hangat. Eren tidak mau berbohong dengan latar belakangnya, jika Kuchel tidak menginginkannya bekerja karena ia mantan napi. Eren akan pergi.
"Baiklah, Eren."
"Anda tidak mempermasalahkan status saya?" Eren bertanya dengan alis tertekuk dalam. Senyum Kuchel kembali muncul.
"Itu hanya masalalu, nak. Kau sudah berubah, itu poin pentingnya." Eren tidak mengerti perasaan apa yang kini merasuki dadanya. Hangat dan manis, seperti lelehan madu panas yang baru sekali dicobanya. Iris kehijauan berbinar, selama ini orang-orang menganggapnya bocah biadab karena masuk bui diusia semua itu. Tapi Kuchel dengan suara lembut meyakinkan, bahwa itu hanyalah bagian dari masalalu Eren.
"Terima kasih!"
"Sama-sama. Eren kau akan merawat putraku, dia buta setelah kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Kehilangan teman dan pengelihatan membuatnya sangat terpukul, dia tidak mau didekati bahkan olehku sekalipun. Mungkin ini akan menjadi pekerjaan yang berat bagimu, putraku biasa berbicara kasar. Jadi apa kau sanggup, Eren?"
Tersenyum lebar. "Saya sanggup, Mrs Ackerman!"
Kuchel mengangguk, mempersilahkan Eren meminum teh hangat buatannya.
.
.
Setelah menyimpan koper berisi pakaian dikamar yang akan ia tinggali, Eren langsung melakukan tugasnya meski Kuchel memintanya beristirahat. Putra Kuchel bernama Levi Ackerman, usianya tiga puluh lima tahun. Selama ini tinggal di Mitras dan bekerja disebuah perusahaan ternama, kembali ke Shiganshina setelah kegelapan merenggut total kehidupannya.
Eren mengetuk pintu bercat cokelat, tidak ada jawaban sama sekali. Menghela napas.
"Mr Ackerman, aku Eren Jaeger. Akan menjadi perawatmu mulai hari ini." Tetap tidak ada sahutan, meringis pelan. Ucapan Kuchel bukan hanya isapan jempol belaka, Eren menduga bahwa pria itu akan lebih sulit ditangani dibanding nenek pikun.
Eren membuka pintu kamar itu, menutupnya perlahan. Tercekat melihat seisi kamar. Cahaya matahari menebus tipis gorden cokelat yang tertutup rapat menghalangi jedela, piring kotor berisi makanan basi tersebar diatas lantai, pakaian-pakaian kotor, juga seorang pria yang memandang kosong langit-langit kusam. Mungkin matanya memandang kesana, namun Eren tidak bisa melupakan fakta bahwa pria itu buta.
Eren mengerutkan hidungnya, aroma tidak sedap menusuk rongga pernapasannya. Tapi Eren harus menahannya, ia bahkan terbiasa mengganti popok dewasa bau pesing milik nenek pikun. Berjalan mendekat ke ranjang, memperhatikan lekat pria dewasa itu. Dagu mulai ditumbuhi rambut halus, rambut kusut lengket memanjang, tubuh kurus, dan kulit pucat tidak sehat karena tak pernah bersinggungan dengan cahaya matahari.
"Saya Eren."
"Pergi." Ucapan dingin bak bongkahan es abadi. Eren menghela napas, ia tidak akan gentar. Kata-kata pria ini tidak sebanding dengan ucapan kasar yang diterimanya sepanjang hidupnya.
"Anda harus mandi." Eren berjalan menuju jendela, sesekali melompat menghindari piring beraroma busuk. Membuka tirai dan jendela, angin yang masuk menyingkirkan aroma tak sedap.
Levi merasakan hangat menyentuh ujung kakinya yang dingin. Sesuatu yang terasa asing baginya, apa ini? Cahaya matahari? Persetan, ia buta dan tidak bisa melihat. Semalam ibunya mengatakan bahwa ia akan mendatangkan perawat untuknya, Levi hanya berkata dingin bahwa ibunya tidak perlu memberikan perhatian pada orang buta sepertinya. Ia sudah tidak bisa melakukan apapun selain berbaring diatas ranjang empuk.
"Kau dipecat bocah, sikap kurang ajarmu menggaguku." Jika Kuchel mendengar Levi berkata lebih dari satu atau dua kata setelah sepuluh bulan tragedy itu, Kuchel akan bahagia.
"Tidak, anda tidak punya hak untuk itu. Saya bekerja untuk Mrs Ackerman. Secara mutlak beliau yang berhak memecat saya."
Mendengus. "Kau banyak omong, babi."
Sesuai yang Kuchel katakan, omongan Levi kasar dan tajam. Jika orang tidak terbiasa maka ia akan sakit hati, sayangnya tandingan Levi saat ini adalah Eren. Mantan napi dan gelandangan. Sel penjara mengajarkan Eren lebih dalam tentang kejamnya dunia.
"Jadi tugas pertamaku adalah membereskan kamar anda!" Eren menepuk tangan, Levi menggeram. Seumur hidup ia tidak pernah suka seseorang mengusik ruang pribadinya, rasanya ia ingin menghajar sosok kurang ajar itu tapi ia hanyalah pria buta, tidak bisa apa-apa. Dimana pemuda itupun Levi tidak tahu, hanya suara piring-piring dibereskan yang menyesaki rongga telinganya.
"Hoi berhenti bocah, jangan coba-coba menyentuh apapun dikamar ini!" suara kursi bergeser.
"Menjadikan tempat ini kandang penyakit? Tidak. Maaf saja tuan." Kali ini suara kaleng-kaleng minuman dimasukkan kedalam plastik. Iris kelam bergulir, mencoba mencari keberadaan bocah kurang ajar. Sayangnya, hanya kegelapan total yang Levi lihat. Kedua tangan terkepal, emosi bercampur menjadi satu. Kesal karena seseorang memasuki kamarnya juga kesal pada kenyataan bahwa ia buta. Sesuatu yang tidak bisa Levi terima. Bangun diatas ranjang ruangan beraroma obat, tidak bisa melihat, menerima dua kabar sekaligus : Isabel dan Farlan tewas sementara dirinya buta. Levi bukan orang yang religius, ia tidak bisa menerima ini sebagai cobaan dari Tuhan.
Menit berlalu secara elastis, Levi hanya diam. Tidak menanggapi bocah itu berceloteh, mengajaknya bicara. Meniadakan eksistensi bocah itu adalah keputusan tepat yang diambil olehnya, biar saja. Jika dia lelah, dia akan pergi dengan sendirinya.
"Nah sudah selesai." Eren lega, ia melirik Levi sekilas. Membawa keluar piring-piring kotor dan kantung plastik yang terisi penuh, meletakkan piring di bak pencucian dan membuang kantong plastik ke tempat pembuangan dibelakang rumah.
Bocah berambut cokelat berpapasan dengan Kuchel yang baru selesai menyiram tanaman.
"Bagaimana, Eren?"
Cengiran lebar menghias wajah bulat Eren, pipi sebesar bakpao terlihat bulat. "Saya sudah membersihkan kamarnya, Tuan Levi sepertinya marah."
Kuchel tersenyum maklum. "Dia memang seperti itu."
"Saya akan memandikan Tuan Levi setelah ini."
Kuche tersentak kaget. "Tunggu… Eren, kau yakin?" tanya Kuchel ragu.
Eren mengangguk cepat. "Jika hari ini tidak bisa, maka saya akan mencobanya besok!"
Bibir Kuchel terkatup, ia hanya mengangguk sekilas ketika Eren pamit kembali ke kamar Levi. Memperhatikan punggung sempit Eren yang mulai menghilang kala bocah itu menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua.
.
.
"Bocah bedebah!"
Eren menyentuh rusuknya yang terasa nyeri, alis tebal bertaut. Wajahnya memerah menahan sakit yang menyerang tubuhnya. Disana Levi tampak marah setelah berhasil menendang tulang rusuknya, semua ini berawal dari Eren yang hendak memandikan pria itu. Levi jelas menolak, matanya buta namun refleksnya masih sangat bagus. Ia menendang Eren kencang, tepat mengenai tulang rusuk bocah ingusan itu.
"Anda harus mandi!"
"Persetan soal itu! Kau tidak punya hak untuk memaksaku!" suara Levi sangat rendah, menandakan bahwa ia sangat marah kali ini.
Eren menghela napas, menyerah. Jika ia tetap memaksa maka Levi mungkin akan menendangnya hingga ia terlempar dari lantai dua, tenaga pria itu sangat luar biasa. Mirip kekuatan seratus kuda liar.
Semburat orange melingkupi langit Shiganshina, hari beranjak senja. Petani mulai kembali dari sawah dengan tubuh penuh lumpur, tapi Eren masih disini. Dikamar pria dewasa yang menyebalkan.
"Anda harus makan, Tuan."
"Enyahlah jika kau tidak ingin kutendang. Kuperingatkan, jangan memaksaku lagi atau aku akan mengahajarmu." Ancam Levi serius, membuat Eren sedikit bergidik. Mengingatkannya pada paman gempal pemilik toko yang tidak sudi emperan tokonya menjadi tempat Eren beristirahat, menendangnya kuat hingga menghantam tiang listrik dengan betis penuh lemak.
Eren menyerah kali ini, mood Levi benar-benar tidak dalam keadaan yang bagus.
"Baiklah, saya akan minta Mrs Ackerman mengantarkan makanan untuk anda. Saya permisi." Kembali memandang Levi, lantas berjalan keluar dari kamar luas itu.
.
.
Eren bangun pagi, Kuchel menyediakan bubur jagung dan segelas susu murni untuknya. Eren menganga, tidak percaya. Ini adalah pertama kalinya Eren makan disediakan oleh oranglain, senyum Kuchel masih hangat. Berterima kasih pada Eren karena sudah membersihkan kamar Levi.
Sup jagung buatan Kuchel sangat lezat, Eren memakannya hingga habis tanpa sisa. Meneguk susu murni yang dibeli dari peternakan secara langsung, kemudian berpamitan untuk mengurus Levi.
Tiba dikamar Levi, pria itu masih terlelap. Begitu damai dengan hembusan napas tenang, Levi tidak terlihat berbahaya. Berbeda jika Levi membuka matanya. Eren membersihkan kamar Levi, kata Kuchel dulunya Levi adalah orang yang sangat menyukai kebersihan. Namun sejak kecelakaan Levi tidak perduli pada apapun lagi.
Eren memandang keluar jendela, Dusun Shiganshina adalah tempat yang sangat tentram. Berbeda dengan Mitras yang padat, uh bukankah Levi dulunya tinggal di Mitras? Mungkin saja membicarakan tentang kota itu bisa membuat Levi sedikit terbuka padanya.
Eren berbalik, menemukan Levi sudah membuka matanya. Senyumnya berkembang, meski Levi jelas tidak akan melihat hal itu.
"Selamat pagi, Tuan Levi." Helaan napas berat terdengar.
"Kau tidak juga menyerah, bocah tolol?" bisakah ia menemukan pagi tenangnya seperti dulu? Tanpa ada bocah penganggu yang ingin dihajarnya seandainya ia bisa melihat?
Kekehan pelan terdengar. "Tidak akan. Aku orang yang sangat gigih!"
"Simpan idealisme mu itu, aku tidak mau mendengarnya." Ujar Levi tajam.
"Tuan Levi ayo sarapan, Mrs Ackerman membuat bubur jagung yang sangat lezat!"
Bubur jagung, ingatan Levi diputar kemasa lampau. Masa kanak-kanak yang ceria, dekapan hangat Kuchel sebelum ia tidur dan semangkuk sup jagung sebagai sarapan. Sudah lama ia tidak merasakannya, sejak kedewasaan merengkuhnya. Membuatnya berada dalam jarak tak kasat mata dengan ibunya.
"Aku tidak lapar."
Tapi perut mengkhianatinya, suara keras dari dalam perut bergema. Levi mendesis, pasti kini Eren sedang menyeringai mengejeknya sebagai pria buta tukang bohong.
"Anda lapar, saya ambilkan makan dulu!" Eren berjalan keluar dari kamar Levi, menemui Kuchel yang sibuk berkutat dengan adonan pie lemon.
"Ah Eren, Levi sudah bangun?" tanyanya seraya menuang perasan lemon dalam adonan.
"Sudah, saya akan mengambilkannya makan." Eren menuang sup jagung kedalam mangkuk, mengambil segelas air mineral dan berjalan tergesa kembali ke kamar Levi. Kuchel diam, memandang punggung Eren. Semoga saja bocah itu bisa membawa perubahan positif pada putranya.
Aroma sup jagung yang khas menyadarkan Levi bahwa Eren sudah datang. Suara langkah kaki Eren terdengar terburu.
"Ayo sarapan!" Levi tersentak ketika tangan hangat menyentuh punggungnya, meneggakkan punggungnya. Terjebak dalam kekagetan yang parah, tidak menyangka Eren mengabaikan ancamannya kemarin. "Sekarang makan." Benda hangat menyentuh bibirnya yang terkatup rapat, Eren menunggu dengan sabar Levi akan membuka mulutnya.
Prangg
Semua berbeda dengan harapan Eren. Semangkuk sup jagung tumpah diatas lantai, isinya berceceran. Iris hijau memandang kaget sup jagung yang sia-sia karena Levi menjatuhkannya, menyentakknya dengan kasar. Deru napas Levi memburu, berusaha menekan emosinya. Eren sudah berjalan terlalu jauh, melewati garis yang sudah ia tentukan.
Hening menyergap, Levi pikir Eren akan memakinya sebagai pria buta tak tahu diuntung. Tapi makian itu tak terdengar, Levi tidak bisa melihat ekspresi Eren saat ini. Marahkah? Perduli setan!
Suara mangkuk diletakkan diatas meja terdengar disusul suara kain mengelap lantai. Kemudian langkah kaki yang menjauh dan pintu kamarnya yang tertutup. Bocah itu pergi? Apa dia sudah menyerah? Baguslah, sejak awal Levi memang tidak mengharapkan Eren ada disini. Jika bocah itu angkat kaki, ia akan bahagia.
.
Eren kembali ke dapur dengan alis menyatu, rahangnya mengeras. Kuchel sudah pergi, baguslah wanita itu tak perlu melihat wajah berantakannya ini. Pemuda mantan napi meletakkan dengan kasar mangkuk kedalam bak pencuci piring, menghidupkan keran dan membasuh wajahnya dengan kasar. Menjerit tertahan, meluapkan kekesalan yang bercokol dalam hatinya. Maaf saja, Eren bukan malaikat yang baik hati akan diam saja diperlakukan buruk seperti itu. Eren marah, kesal sekali pada Levi tapi dia tidak menunjukannya. Jika Levi melihat dirinya meledak-ledak karena amarah, pria itu akan berpikir bahwa dirinya sudah menang. Ini adalah pertarungan.
Kepalanya berdenyut sakit, Levi benar-benar pria yang kurang ajar!
Suara debaman keras terdengar, membuat Eren kaget. Sumber suara itu dari lantai dua, Eren tanpa dikomando menaiki tangga menuju lantai dua. Membuka pintu kamar Levi, berdiri diambang pintu.
Levi terjembab jatuh, ringisan sakit meluncur dari celah bibir tipis yang biasa membentuk garis lurus. Tangan Levi menggapai sekeliling, entah apa yang ia cari. Eren hanya memeperhatikan dalam diam. Terselip rasa puas melihat Levi seperti itu, jadi daripada menolongnya. Eren lebih memilih untuk diam, menikmati penderitaan Levi.
Tangan Levi menggapai udara kosong, berdecak kesal karena tidak menemukan tumpuan. Ia hendak membuang air kecil, namun seperti biasa dirinya harus jatuh berulangkali karena tidak bisa melihat. Levi hanya bisa menertawakan ketidak berdayaannya dalam hati.
Sementara itu Eren menghembuskan napasnya kecil, ia mungkin bahagia melihat Levi seperti itu namun sisi kemanusiaannya berkata lain. Levi memang pria brengsek kurang ajar, namun Levi hanya tidak ingin dikasihani karena kondisinya. Levi menganggap dirinya adalah beban dan Levi masih terjebak dalam rasa frustasinya.
Eren berjalan mendekat, meraih kedua lengan Levi.
"Setelah ini anda ingin menendang saya juga tidak apa-apa, kemana anda ingin pergi? Agar saya bantu."
"Aku tidak butuh bantuanmu, bocah."
Tetap keras kepala. "Tuan sekali saja jangan keras kepala seperti ini."
"Kamar mandi." Suara Levi sangat pelan, seakan ia tidak ingin mengatakannya. Eren mengerutkan dahi.
"Maaf?"
"Kamar mandi, bocah. Kau tuli?" geram Levi, Eren mengangguk membantu Levi bangkit dan memapahnya berjalan menuju kamar mandi disudut ruang tidur Levi. Mempersilahkan pria itu menyelesaikan kebutuhan personalnya sementara Eren berjaga diluar.
Suara ketukan dari dalam pintu kamar mandi menyadarkan Eren bahwa Levi sudah selesai. Eren meraih lengan Levi, menuntunnya menuju ranjang.
"Apa anda tetap tidak mau makan?"
"Keluarlah." Enggan memancing perdebatan, Eren keluar dari dalam kamar Levi.
.
.
Sembari menunggu jam makan siang Levi, Kuchel mengizinkan Eren beristirahat sejenak. Istirahat bagi Eren adalah membantu Kuchel memunguti telur ayam peliharaan Kuchel, wanita itu hanya sendiri. Ayam tidak terurus, telur-telur ayam berserakan diatas rumput empuk bagian belakang rumah. Eren gembira melakukannya, setidaknya mengurus ayam peliharaan Kuchel jauh lebih mudah dibanding mengurus putranya yang keras kepala.
Eren kembali membawa sekeranjang penuh telur.
"Hebat Eren, jika kau suka kau bisa mengurus ayam-ayam itu juga."
"Terima kasih Mrs." Eren meletakkan keranjang diatas meja.
"Apa Levi masih keras kepala?" tanya Kuchel.
"Begitulah." Eren tidak enak menceritakan kelakuan Levi pada Kuchel, melihat raut wajah Eren wanita itu tahu bahwa semua tidak berjalan dengan lancar. Sejak dulu Levi memang sulit sekali didekati, omongannya begitu tajam seperti sebuah pedang. Hanya orang tertentu yang bisa berteman dan dekat dengan putranya.
Wajar jika Eren merasa kesal pada Levi. Lebih mengherankan lagi jika Eren tidak kesal dengan perilaku putranya.
"Levi memang seperti itu, dia suka berkata tajam. Tapi jika kau bertahan, maka dia akan lunak dengan sendirinya." Kuchel seakan bisa membaca situasi, Eren mengangguk menerima masukan dari Kuchel. Meski sulit, Eren harus melakukannya. Bertahan dan merima segala omongan kasar Levi, berharap pria itu mau menerimanya suatu saat nanti.
"Eren apa kau suka pie lemon?" tanya Kuchel, membuka lemari penyimpanan makanan. Menarik seloyang pie lemon yang menggoda, Eren menelan ludah. Ia hanya pernah sekali memakannya, itupun ketika dirinya di Mitras. Mengambil sepotong pie lemon dari dalam tong sampah bau.
Eren mengangguk cepat. "Saya suka Mrs!"
Kuchel mengajak Eren duduk di meja makan, menghidangkan pie lemon dan dimakan dengan cepat oleh Eren. Rasanya lezat, jauh berbeda dengan pie lemon yang dipungutnya dari tong sampah dulu. Mata Eren memburam akan airmata, Eren bocah malang tanpa adanya orangtua yang mendekapnya hangat sejak ia terlahir didunia. Tumbuh dipanti asuhan dengan sedikit kasih sayang pemilik panti, kemudian hidup dijalanan yang keras. Eren tidak pernah tahu figure seorang ibu, tapi Kuchel memberikannya. Wanita anggun yang memperlakukannya dengan begitu baik.
Sementara Kuchel tersenyum kecil melihat Eren, pemuda ini meski baru dikenalnya Kuchel menganggap Eren bagian dari keluarganya. Eren tumbuh tanpa orangtua seperti yang Eren ceritakan, ia tidak ingin menganggap Eren sebagai perawat putranya saja. Sisi keibuan Kuchel ditunjukkan secara gamblang.
"Ini enak Mrs! Terima kasih!" Eren mengusap airmata yang membasahi pipi bulatnya, mengungkapkan rasa syukurnya.
"Makanlah hingga kenyang, Eren."
.
.
Eren memulai aktifitas paginya seperti biasa, menemui Levi sembari membawa nampan berisi semangkuk sup jagung dan air mineral. Kuchel mengatakan sejak kemarin Levi belum makan apapun. Mengetuk pintu, tidak ada sahutan sama sekali. Eren menghela napas, membuka pintu dengan perlahan.
"Selamat pagi, Tuan Levi." Sapanya berusaha ramah seperti biasa. Levi masih terlelap diatas ranjangnya yang luas, Eren meletakkan nampan diatas nakas. Berjalan mendekati Levi, bermaksud untuk membangunkannya.
Tapi gerakan Eren terhenti, Levi terlihat sangat pucat. Bibir tipisnya terbuka sebesar kelingking, Eren menyentuh kening Levi. Hawa panas menyapa telapak tangannya, pemuda ingusan melompat sedikit kebelakang. Levi demam.
Tanpa pikir panjang Eren berlari menuruni anak tangga, berusaha mencari Kuchel. Setelah berkeliling, Eren menemukan Kuchel sedang menyiram tanaman sembari berbincang dengan gadis berambut hitam sebahu.
"Mrs Ackerman! Tuan Levi demam!" ujarnya tanpa basa-basi.
Mata Kuchel melebar. "Mikasa, tolong panggilkan dokter Eld."
Gadis berambut hitam dengan syal merah yang melilit lehernya mengangguk, berjalan cepat meninggalkan pekarangan rumah Kuchel. Sementara itu Eren mengikuti Kuchel yang tampak panik berjalan menuju kamar Levi.
"Levi!" menepuk pelan pipi tirus Levi, erangan lemah keluar dari mulut pria itu. Eren memang kesal setengah mati pada Levi, namun melihat pria itu jatuh sakit dan lemah seperti ini Eren merasa kasihan. "Dia jarang sakit, kalau sampai sakit akan parah. Eren, tolong ambilkan kompres untuk Levi."
Bergerak cepat seperti kijang yang hendak ditembak pantatnya, Eren menyiapkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil berwarna putih menempelkan handuk basah dikening Levi. Memandang wajah Levi lekat, jika mungkin Levi mengurus dirinya dengan baik pria itu pasti sangat tampan seperti fotonya dimasa muda. Sayangnya kini hanya ada Levi yang berkulit putih pucat tidak sehat juga tubuh kurus seperti tengkorak hidup.
"Mrs Ackerman." Kamar Levi dibuka, pria tinggi berambut pirang memasuki kamar putra Kuchel Ackerman diikuti oleh Mikasa.
"Dokter Eld."
Kuchel mempersilahkan dokter satu-satunya Dusun Shiganshina untuk memeriksa putranya, beberapa menit kemudian Eld Jinn melepas stetoskop.
"Maag, insomnia, stress, dan pengaruh cuaca. Ini bukan kondisi yang baik, kuharap Levi bisa mengatur pola makannya." Eld Jinn menulis sesuatu disebuah kertas. "Resep obat untuk Levi, kalian bisa menebusnya di apotik kota. Em, Mrs Ackerman bisa kita bicara sebentar?" Kuchel menerima resep obat dari Eld Jinn, mengangguk paham dan mengikuti dokter muda keluar dari kamar Levi. Menyiasakan Eren, Mikasa, dan Levi yang masih terlelap.
Hanya keheningan yang mengisi kamar luas itu, Eren masih sibuk mengompres dahi Levi.
"Kau perawat Levi?"
Eren menoleh, bertemu tatap dengan iris kelam Mikasa. Sangat mirip dengan milik Kuchel, sementara mata Levi perpaduan warna hitam dan biru. Mengingatkan Eren pada dalamnya samudera.
"Ya, Eren Jaeger." Ucapnya memperkenalkan diri, tersenyum tipis. Mikasa agak tersentak, ia menyembunyikan pipi putih kemerahannya dibalik syal miliknya.
"Aku Mikasa Ackerman, sepupu Levi." Gadis itu cukup dingin, mungkin usianya sama dengan Eren. Ia memiliki wajah yang cantik, hampir mirip dengan Kuchel.
Mikasa mengenakan gaun tradisional seperti Kuchel –Dirndl- apakah keluarga Ackerman memang masih menjunjung tinggi kebudayaan? Tapi wajah Mikasa juga mengingatkannya pada wanita asia. Darah campuran?
"Senang bertemu denganmu, Mikasa."
"Aku juga, Eren."
.
.
Menggantikan Kuchel untuk menebus resep obat Levi diapotik kota, Eren berangkat bersama dengan Mikasa. Mengendarai sepeda tua peninggalan Mr Ackerman, jarak antara kota dan Dusun Shiganshina memakan waktu selama tiga puluh menit. Kota Trost memang tidak sebesar dan semegah Ibu Kota Mitras tapi disini sedikit lebih maju dari Shiganshina.
Bangunan-bangunan dengan aksen kuno entah mengapa malah menambah nilai plus dari Trost, beberapa penjual buah sibuk memamerkan dagangan yang dijamin masih segar, beberapa remaja yang baru pulang sekolah membentuk kelompok saling melempar canda dan tawa. Bagi Eren yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan, rasa iri membanjiri hatinya. Eren hanya tahu caranya membaca dan matematika sederhana, diajari oleh Ibu pemilik panti yang kadang memukul tangannya karena Eren malas belajar. Menghitung uang diajarkan oleh banci tua yang menganggapnya anak sendiri, setidaknya ketika hidup dijalanan Eren masih memiliki orang yang memperhatikannya.
"Ini apotiknya." Mikasa menunjuk bangunan dengan cat putih agak kusam, plang bertuliskan Apotik Rico terpampang diatas pintu. Eren dan Mikasa masuk, aroma obat menyengat. Etalase-etalase dijejali obat berbagai merek, hiasan dinding berupa tata cara pertolongan pertama dan manfaat asi turut memeriahkan apotik kecil itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" wanita berparas ketus dengan rambut silver bertanya, kacamata tebal yang dikenakan berkilat tertimpa cahaya lampu. Name tag Rico Brzenska menempel disisi kanan kemeja cokelat.
Eren nyaris jantungan, wanita itu muncul tiba-tiba dari balik etalase. "Um, aku ingin meneubus obat." Eren menyerahkan secarik kertas resep pemberian Eld Jinn pada Rico, wanita itu membetulkan kacamatanya.
"Baiklah, silahkan tunggu sebentar." Rico menghilang dibalik ruangan, Eren membaca lamat-lamat nama obat dalam etalase. Beberapa vitamin, obat maag, lalu.. um apa lagi?
"Kau asli dari Shiganshina?" Mikasa memecah keheningan.
"Tidak, aku berasal dari Mitras." Entahlah, bisa saja ia bukan asli Mitras. Eren hanya tahu bahwa sejak bayi dirinya dibuang dibawah pohon maple, ditemukan seorang biarawati tua. Biarawati dengan senyum teduh sering menjenguk Eren, sampai usia Eren 5 tahun biarawati itu meninggal dunia karena sakit.
Rico kembali tepat saat Mikasa ingin membuka mulut untuk bertanya, menyerahkan beberapa buah obat pada Eren. Menyebutkan kapan obat itu harus diminum juga manfaatnya, Eren mengangguk paham. Menyerahkan beberapa lembar uang pada Rico.
"Terima kasih, Miss!" ucapnya.
Rico tersenyum. "Sama-sama." Rupanya Rico tak seketus wajahnya. Eren keluar bersama Mikasa, berjalan menuju tempat dimana sepeda mereka diparkirkan. Namun suara ganduh membuat Eren berhenti.
"Eren. Ada apa?" tanya Mikasa kebingungan, Eren mengintip dibalik tembok. Alisnya memincing melihat sekumpulan remaja tengah merisak sosok berambut pirang, gaya rambutnya mengingatkan Eren pada jamur yang tumbuh didekat kandang ayam Kuchel. Bocah pirang berjongkok, menutupi wajah dengan tangan. Mungkin sedang menangis.
"Hah, dia tidak seru!"
"Dasar banci, enyah kau dari sini!" pemuda-pemuda itu pergi setelah merampas roti milik Si Pirang. Mikasa berdiri dibelakang Eren, menunggu apa yang akan Eren lakukan.
"Kenapa kau diam saja?" Eren membuka mulut, tingkah sosok itu mengingatkan Eren pada gelandangan tua yang diam saja ketika uang hasil mengemisnya dirampas oleh anak nakal.
Bocah jamur mendongak, iris biru bak langit cerah terlihat getir. Tunggu, dia laki-laki atau perempuan?
"Setidaknya aku tak menjadi pengecut karena lari." Bibir tipis bergetar, kemudian tersenyum tipis pada Eren dan Mikasa.
"Siapa namamu? Dimana kau tinggal?"
"Namaku Armin. Aku tinggal di Shiganshina."
Iris hijau dan iris biru bertemu.
Tbc
Eren dan Levi dalam fanfiksi ini tidak sempurna, Eren yang gelandangan dan mantan napi. Levi yang buta dan tidak bisa menerima kondisinya.
Fanfik ini akan mengemas perjalanan Eren selama merawat Levi juga bumbu romance didalamnya. Jangan harap kalian bertemu Levi yang CEO super tampan, Eren pemuda manis yang unyu overload. Tidak akan kalian temukan. Ketidak sempurnaan Eren dan Levi adalah senjata utama fanfiksi ini.
Acuan pembuatan fanfiksi adalah dari novel Morning Glory karya Lavyrle Spencer. Juga dari light novel Violet Evergarden.
