Kelabu


Jam menunjukkan tepat pukul dua belas malam, Eren terjaga ketika haus melanda apalagi ia harus mengecek kondisi Levi. Suhu tubuh Levi sudah menurun menjelang petang tadi walau pria itu hanya makan dua sendok bubur sebagai pengganjal perut, ah obat dari Apotik Rico benar-benar manjur. Pemuda mantan napi keluar dari kamar tidurnya, melangkah menuju dapur dengan cahaya yang temaram. Iris kehijuan memastikan bahwa keadaan aman, setidaknya menyiasati jika ada pencuri. Armin –teman barunya- mengatakan bahwa belakangan ini aksi pencurian hewan ternak sedang marak terjadi. Kakek Armin kehilangan salah satu sapi perah terbaik yang dimiliki oleh peternakan nyaris bangkrut keluarga Arlert.

Menuangkan air putih dari teko cantik ke gelas yang diambilnya secara acak dari rak, menyenderkan pinggangnya pada piggir bak pencuci piring didapur kebangaan Kuchel. Semodern apapun jaman ini, Shiganshina seolah hidup dalam dunia kuno yang menakjubkan. Rumah-rumah masih berdiri dengan sederhana, didominasi oleh kayu-kayu kuat dengan permukaan halus. Masih banyak perempuan yang mengenakan pakaian tradisional, menonjolkan sisi feminim yang mungkin tidak akan dimiliki perempuan modis khas ibu kota. Shiganshina adalah tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali, seakan ini adalah tempat impian Eren yang selalu ia ceritakan pada banci tua sembari memakan beberapa butir kismis.

Melepaskan rasa dahaga, Eren kembali ke tujuan awal. Melangkah pelan menuju lantai dua, jangan sampai menimbulkan suara berisik yang bisa menganggu tidur nyenyak Kuchel apalagi Levi. Lantai dua memuat dua ruang kamar, salah satunya milik Levi dan satunya dibiarkan kosong. Awal pernikahan Kuchel dan suaminya merencanakan memiliki dua momongan, sayangnya tak lama setelah Levi lahir suami Kuchel gugur dalam medan perang yang ganas. Kuchel adalah wanita yang sangat tangguh dimata Eren.

Memutar kenop pintu kamar Levi yang terasa dingin, Eren membuka sedikit pintu. Gerakannya tertahan ketika melihat punggung sempit seorang wanita berambut panjang sepinggang dan mengenakan gaun tidur berwarna putih bersih, itu adalah Kuchel. Kamar Levi hanya diterangi cahaya lampu redup yang berdiri kokoh diatas nakas sebelah tempat tidur pria itu. Kuchel duduk disisi ranjang Levi, mengenggam tangan putranya dengan hangat suara isak tangisnya terdengar tertahan seakan tidak mengizinkan siapapun untuk mendengarnya.


Tittle : Call Your Name

Pairing : Levi Ackerman x Eren Jaeger

Genre : Shounen-ai, Slice of life, Hurt/comfort, Tragedy

Rating : T+

Author : Himawariyuzu

Desclaimer : Karakter dalam fanfiksi ini milik Hajime Isayama, sementara fanfiksi ini murni milik saya.

Warning : mengandung muatan Boyslove didalamnya, jika tidak berkenan silahkan tinggalkan page ini.

Summary : Levi kehilangan pengelihatan dan dua sahabatnya, tenggelam dalam kedukaan yang berlarut. Kemudian seorang bocah datang dalam hidupnya, Eren Jaeger. Orang yang akan merawatnya. Shounen-ai, RivaEre, Riren.


"Apa yang harus ibu lakukan, Levi?" ucapan Kuchel teredam dalam isak tangis, tapi telinga Eren cukup mampu mendengarkan. Oh, Eren memang bajingan cilik setelah memukul pelacur ia kini menjadi tukang ingin tahu urusan oranglain. "Apapun akan ibu lakukan, untukmu. Tapi ibu mohon bangkitlah. Isabel dan Farlan akan ikut bersedih jika kau seperti ini."

Kuchel mengecup punggung tangan Levi, airmata yang berderai membasahi tangan kurus putranya. Memandang nanar Levi melalui iris kelam yang diliputi kesedihan mendalam, perkataan Eld Jinn masih diingatnya dengan jelas. Kondisi Levi yang mengkhawatirkan dan kejiwaan pria itu, jika Levi masih seperti ini Dokter Eld Jinn tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya.

Eren terenyuh diambang pintu, ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya disayangi sedemikian dalamnya. Ibu panti mungkin menyayanginya, tapi wanita itu memiliki puluhan anak asuh dan tidak mungkin rasa sayangnya dicurahkan untuk Eren seluruhnya. Banci tua yang menjadi kawannya dalam menghadapi dunia jalanan yang kejam juga menyayanginya, tapi tetap saja semuanya terasa berbeda.

Dengan berani Eren membuka pintu kamar Levi lebih lebar, masuk kedalam dan meraih bahu kokoh Kuchel. Bisa Eren rasakan jika wanita itu terkejut, ia menoleh matanya masih berkaca-kaca.

"Eren."

"Saya akan membantu Mrs Ackerman, saya janji akan membuat Tuan Levi sembuh dan tersenyum lagi! Bahkan tertawa. Meski saya mantan napi, tapi Mr Dot Pixis memuji saya sebagai calon perawat terbaik dimasa depan!" ucapnya dengan menggebu-gebu, Eren yang sejak bayi tidak diinginkan kehadirannya tidak pernah tahu definisi dari menyayangi. Ia tidak bisa melakukannya, karena yang dipikirkan olehnya adalah bagaimana cara bertahan hidup keesokan harinya.

Kuchel memandang lurus Eren, tepat pada sepasang iris hijau jernih yang dimiliki pemuda itu. Sejak awal bagi Kuchel, Eren berbeda. Tidak perduli seperti apa masalalu Eren dimata Kuchel sosok itu adalah bocah yang membutuhkan kasih sayang. Kuchel juga tidak ragu menerima Eren ketika Dot Pixis –kawan lamanya- merekomendasikan Eren untuk merawat Levi. Segala keyakinan yang ia miliki sejak awal terjawab sudah.

"Terima kasih Eren, mohon bantuannya." Kuchel bangkit, merengkuh Eren seolah bocah ingusan itu adalah putra yang sudah lama tak dilihatnya. Eren membeku, tidak tahu harus berbuat apa. Jantungnya berpacu dengan kencang, Eren bahagia. Pelukan Kuchel terasa sangat hangat, seperti sekaleng teh panas yang diminumnya saat salju turun. Hangat dan nyaman. Eren tidak pernah dipeluk seperti ini, Eren selalu berpikir bahwa ia memang tidak diinginkan didunia ini.

"Terima kasih, Mrs." Eren selalu mengejek banci tua yang gampang menangis. Melihat seekor kucing kelaparan dan sekarat diselokan banci itu menangis, tapi Eren saat ini sedang menangis. Entahlah, ia hanya ingin melakukannya.

Menangis dalam pelukan wanita tangguh bernama Kuchel Ackerman.

.

.

Eren mengganti kompres Levi, ia terjaga sepanjang malam setelah menyuruh Kuchel untuk beristirahat. Eren memandang lekat wajah Levi, pria itu benar-benar pucat dan kurus. Levi seolah menolak bertahan didunia yang kejam ini. Memikirkan ulang apa yang dikatakannya pada Kuchel, bagaimana caranya agar membuat Levi tersenyum? Bagaimana caranya agar Levi bisa menemukan alasan lagi untuk hidup setelah kehilangan segalanya?

Menghela napas, jam menunjukkan pukul empat. Ayam peliharaan Kuchel mulai berkokok, kehidupan Shiganshina dimulai. Warna kejingaan mulai menghiasi angkasa, aroma embun yang khas mulai tercium. Eren menguap, menepuk kedua pipinya dan mencoba agar tetap sadar.

Perlahan mata Levi mulai terbuka, Eren terkesiap bahkan menahan napasnya selama beberapa saat.

"Bocah."

"Y-ya Tuan Levi?"

"Aku dengar semuanya." Alis tebal Eren nyaris menyatu mendengar omongan pria berusia tiga puluh lima tahun itu. Dengar? Mendengar apa? Eren kebingungan, iris kelam kebiruan milik Levi bergerak sedikit meski pada kenyataannya Levi tidak melihat apapun. "Pembicaraan ibuku denganmu, aku tidak tidur."

Mulut Eren terbuka lebar, tidak menyangka sama sekali. Seharusnya Levi menjadi seorang aktor karena aktingnya sangat luar biasa. "T-tuan."

"Kau terlalu percaya diri bocah tolol." Levi berkata tajam dengan suara rendah dan berat miliknya, sejenis suara yang membuat orang-orang tenang mendengarnya.

"Saya pasti bisa mewujudkan hal itu, suatu saat nanti." Eren berkata dengan yakin, sejak awal pertemuannya dengan Levi mereka sudah memiliki keinginan untuk mengalahkan satu sama lain.

"Sebelum hari itu terjadi, aku akan menendang bokongmu terlebih dahulu dari rumah ini." Levi menggerakan tangannya, menyentuh dahi dan melepas handuk lembab untuk mengompres dirinya sejak kemarin.

"Anda akan menyesal setelah mendepak saya dari rumah ini, Tuan."

Keheningan menyelimuti kemudian, Eren membereskan obat-obatan Levi dan baskom berisi air hangat.

"Siapkan air hangat."

Gerakan tangan cekatan milik Eren terhenti, ia menoleh kearah Levi. memandang pria itu seolah Levi adalah alien berkepala kotak yang muncul tiba-tiba di Shiganshina.

"Apa?"

"Ibuku bilang kau perawat yang hebat, tapi kau tidak lebih dari bocah dungu yang tuli." Mendengus kasar, Eren tidak mau sakit hati dulu. "Aku mau mandi, bodoh. Setelah itu berjemur tidak ada salahnya, aku melakukan ini demi ibuku. Kau jangan sombong dulu."

Senyum merekah dengan sangat lebar dibibir tipis Eren, rasanya bahagia dan sangat lega karena akhirnya Levi mau keluar dari kamarnya yang sempit ini. Kuchel akan sangat bahagia jika mendengarnya! Kekesalan dan kecemasan Eren pada Levi sejak kemarin hilang entah kemana, seolah disedot oleh lubang hitam tanpa ujung.

"Baik Tuan! Saya akan siapkan segalanya!" Eren keluar dari dalam kamar Levi dengan punggung tegap, mirip seekor Gorila Punggung Perak yang gagah berani. Eren segera menyiapkan sabun, sikat gigi, pasta gigi, dan shampoo yang disimpan dalam lemari kayu didekat dapur. Kuchel bilang jika Eren kehabisan alat mandi, ia bisa mengambilnya dengan bebas disana. Eren tidak lupa mengambil pisau cukur juga selembar handuk beraroma pewangi bunga lavender kesukaan Kuchel.

Eren mencari Kuchel, tidak sabar menceritakan hal menakjubkan ini pada wanita itu tidak perduli saat ini dirinya kualahan membawa banyak alat mandi sekaligus ditangannya.

"Eren, kenapa membawa semua itu?" Kuchel muncul dari arah pintu depan tampaknya ia baru saja selesai menyapu halaman dari guguran daun. Seperti biasa, Kuchel selalu anggun dengan Dirndl miliknya.

"Tuan Levi akan mandi Mrs! Dia bilang ingin keluar untuk berjemur juga, bukankah ini luar biasa?" Eren menceritakan dengan semangat, mata Kuchel membola tidak percaya dengan apa yang baru didengar olehnya. Setelah sekian lama akhirnya Levi menunjukkan suatu perubahan, airmatanya sudah tidak dapat dibendung lagi hatinya dibanjiri oleh perasaan bahagia.

"Syukurlah." Gumam wanita itu.

"Saya akan memandikan Tuan Levi."

"Baiklah, aku akan memasak sarapan yang enak untuknya." Kuchel melesat menuju dapur, kapan terakhir kali ia merasa semangat seperti ini? Kuchel bahkan sudah agak lupa. Ini adalah pagi terbaik dikediaman Ackerman.

.

.

"Jadi… ugh."

Eren diserang tremor, menelan ludahnya gugup. Rasanya memandikan wanita tua penuh keriput disana-sini berbeda dengan memandikan Levi, pria dewasa menyadari batasan dirinya hingga ia mengiyakan dengan malas ucapan Eren yang hendak memandikannya.

Uap panas mengelilingi kamar mandi Levi, pria Ackerman telanjang bulat. Tubuh putih Levi yang jarang tersentuh cahaya matahari, Eren bisa melihat tulang rusuk yang menojol menandakan betapa kurusnya Levi, lalu… pinggang sempit yang entah mengapa terlihat cocok ditubuh pria itu.

"Bocah keparat, kau akan membiarkanku mati hipotermia?" Eren seakan ditarik dari alam bawah sadarnya. Menelan ludah gugup, menyugesti dalam hati bahwa ia harus tenang.

"M-maaf, pertama saya akan mencukur kumis anda terlebih dahulu. Anda tidak keberatan kan?" Eren sudah siap dengan alat cukur ditangan, Levi hanya berdehem singkat menyetujui hal itu, menghembuskan napas. Eren sedikit membungkukkan badannya. "Permisi." Menyentuh dagu Levi dengan tangannya yang terasa dingin, panas merambat. Eren tidak tahu apakah ini karena uap atau karena suhu tubuh Levi, tapi seingatnya Levi sudah sembuh meski masih agak pucat. Dengan hati-hati Eren mencukur kumis tipis yang menghiasi wajah Levi, matanya berusaha fokus pada satu titik.

Menit bergulir sangat elastis bagi Eren, deru napas dua laki-laki berbeda usia mengisi keheningan kamar mandi. Eren harus akui Levi memiliki bentuk bibir yang bagus, tipis dan berwarna merah jambu pucat. Jika dilihat dengan lekat, Levi memiliki pahatan wajah yang indah. Eren tidak tahu harus membandingakannya dengan apa. Eren selesai, tersenyum puas karena hasil cukurannya sangat bagus.

Meletakkan alat cukur didekat kaca, Eren membasuh tubuh Levi dengan air hangat. Pria buta memejamkan mata, merasakan nikmat luar biasa ketika kulitnya bersinggungan langsung dengan air hangat. Ototnya terasa rileks, rasa dingin yang melingkupi tubuhnya lenyap begitu saja.

"Saya dengar Tuan Levi dulunya tinggal di Mitras, saya juga berasal dari Mitras." Eren menuangkan cairan sabun ditangannya, menggosoknya dengan perlahan ditubuh Levi. Aroma perpaduan lemon dan pohon teh membuat pikiran menjadi tenang, perpaduan yang sempurna dan pas.

"Ya." Seperti biasa, Levi sangat irit bicara tapi Eren tidak menyerah. Busa sabun mengalir menyapu kulit Levi, setelah seluruh bagian terjangkau kini Eren berurusan dengan rambut Levi yang lepek juga muai memanjang.

"Anda juga sepertinya harus memangkas rambut, um seperti gaya rambut anda difoto." Memijat lembut kepala Levi dengan shampoo beraroma teh hijau bercampur mint, Eren benar-benar kagum dengan cara Kuchel memilih perlatan mandi untuk rumahnya. Tidak seperti Eren yang asal mengambil sabun batang beraroma kembang tujuh rupa yang akhirnya habis dimakan tikus keesokan harinya.

"Hm."

"Saya akan membasuh tubuh anda, bisa pejamkan mata?" Levi menutup matanya membiarkan Eren membasuh tubuhnya dengan air hangat, Levi merasa benar-benar segar. Pijatan lembut Eren pada kepalanya menambah poin plus pada rasa rileks ditubuhnya, ya bocah ingusan itu ternyata cukup ahli.

"Aku akan gosok gigi sendiri, kau siapkan pakaianku. Setelah aku selesai, aku akan memanggilmu." Eren patuh, meraih sikat gigi yang direndamnya dalam air panas menambahkan pasta gigi diatasnya dan menyerahkannya pada Levi, sementara menunggu pria itu menggosok gigi Eren membuka lemari yang terletak disudut ruangan. Levi memiliki koleksi pakaian yang bagus dan bermerk, mengambil pakaian santai berwarna putih.

Levi memanggil namanya tidak lama kemudian, Eren melesat menuju kamar mandi.

.

.

Kuchel tidak berhenti tersenyum senang, memperhatikan Levi yang turun dituntun oleh Eren menuju lantai satu. Kapan terakhir kali ia sarapan dengan Levi? Rasanya sudah lama sekali. Dimatanya Levi terlihat jauh lebih segar dan tampan, bisakah Kuchel berharap bahwa ini adalah salah satu tanda bahwa putranya akan kembali seperti dulu?

"Kemari, aku menyiapkan sup daging spesial!" Levi duduk dikursi yang berhadapan langsung dengan ibunya, ia bisa mencium aroma rempah sup yang sangat kuat membuat perutnya lapar seketika.

Levi boleh saja dikatakan kejam dan tidak memiliki hati. Namun Levi sangat menyayangi Kuchel. Dunia Levi adalah ibunya. Wanita tangguh yang merawatnya seorang diri setelah kematian ayahnya. Watak kerasnya hanya bisa sedikit lembut jika berhadapan dengan Kuchel, ucapan dan tangisan Kuchel semalam menyentil ego Levi. Sampai kapan ia akan seperti ini, disini yang menderita dan terpuruk bukan hanya dirinya namun juga ibunya. Kuchel tidak pernah menangis, jadi Levi berpikir bahwa ibunya baik-baik saja selama ini.

"Secangkir teh hitam untuk Levi dan segelas susu murni untuk Eren!" senyum Kuchel berlipat kali lebih lebar, Eren mengucapkan terima kasih.

Eren membantu Levi menyiapkan alat makannya, sesekali memberitahu pria itu apa yang harus disendok olehnya. Rasanya sedikit canggung bagi Levi dan sedikit sulit, cara makannya masih sangat berantakan. Kuchel memperhatikannya dengan sedih, namun ekspresi itu hanya bertahan sesaat. Ia tahu membuat Levi terbiasa dan bisa menerima kondisinya membutuhkan waktu yang tidak singkat.

"Um apa Mrs Ackerman tahu soal Armin Arlert?" Eren tiba-tiba teringat pada kawan barunya, Armin yang ternyata seorang laki-laki dan memang memiliki fisik yang tidak terlalu sehat. Mikasa bilang ia tidak mengenal Armin karena pemuda itu lebih sering berada di Trost, Armin suka membaca sementara perpustakaan di Shiganshina tidak besar dan memuat buku seadanya. Jadi Armin mengambil resiko menjadi korban perisakan pemuda Trost.

"Um Armin…" mencoba mengingat-ingat. "Ah, cucu Mr Arlert, memiliki peternakan tapi tidak berjalan baik karena orangtua Armin lebih memilih pergi ke kota. Kau mengenalnya Eren? Dia adalah anak yang baik dan pintar."

"Ya, saya mengenalnya setelah melihatnya menjadi korban perundungan saat membeli obat di Trost." Jelas Eren sembari menyodorkan teh hitam pada Levi.

Wajah Kuchel terlihat sedih. "Kasihan sekali, kau bisa berteman dengannya Eren."

"Saya juga berpikir seperti itu."

Kuchel mengangguk. "Bagaimana Levi, sudah merasa lebih baik?"

"Lumayan." Jawab Levi seadanya.

"Syukurlah, sebenarnya ibu ingin menemanimu berjemur tapi ibu harus pergi membeli bahan makanan dipasar." Kuchel sedikit menyesal, Levi tidak mengatakan apapun. Eren tersenyum senang memandang mangkuk Levi, hanya tersisa sedikit makanan. Eren menjadi sangat optimis untuk perkembangan Levi selanjutnya.

Sarapan telah usai, Kuchel berangkat ke pasar sementara Eren berjemur bersama Levi. Beberapa penduduk berlalu lalang, menyapa Levi dengan ekspresi aneh mungkin saja mereka bertanya-tanya kenapa Levi menjadi seperti itu.

"Anda tahu Tuan, ketika anda tidak bisa melihat. Indera pendengaran anda menjadi lebih sensitif." Eren mengingat kembali perbincangan sepasang mahasiswi ketika ia menyemir sepatu dulu, dihalte Kota Mitras lima tahun yang lalu. Wow, Eren agak bangga karena bisa mengingat hal itu.

"Seperti kelinci."

Mata Eren mengerjab. "He? Kelinci?"

"Kau tidak tahu? Selain memiliki telinga panjang kelinci juga memiliki pendengaran yang tajam, mereka bisa mendengar suara bahkan jika jaraknya mencapai tiga kilometer." Levi menjelaskan dengan tenang dan Eren tertarik, ia pikir kelinci hanya bisa melompat dengan pantat bulatnya.

"Lalu apa lagi?"

"Makanan kelinci menurutmu apa?"

"Wortel!" jawab Eren cepat.

Levi mendengus. "Selain wortel kelinci juga makan jerami dan rumput, bisa juga kangkung tapi jika terlalu banyak makan kangkung maka pencernaan kelinci bisa terganggu."

"Kenapa bisa begitu?" tanya Eren penasaran, sudah ia duga bahwa Levi adalah orang yang cerdas. Pengetahuan pria itu luas.

"Sederhananya kangkung sulit diserap oleh usus kelinci."

Eren mengangguk paham, ternyata seperti itu. Dunia ini sangat luas dan penuh dengan pengetahuan baru.

"Kelinci itu hewan yang sangat menggemaskan." Eren berbicara apa adanya, ia akhirnya mengetahui banyak fakta soal kelinci dan itu berkat Levi.

"Kau harus banyak membaca, bocah."

Eren tertawa canggung. "Sebetulnya saya masih agak terbata-bata untuk membaca, saya bisa tapi untuk kalimat panjang saya akan kesulitan."

"Hm? Jadi benar dugaanku kau-"

"Bocah dungu." Eren dan Levi berucap bersamaan, wajah Eren menjadi kuyu seperti anak anjing yang tersiram air hujan sepanjang malam tanpa ada tempat berteduh.

"Baguslah jika kau sadar."

"Itu memang benar, saya malas sekali belajar ibu panti sering memarahi saya karena hal itu. Tuan Levi saya tidak tahu siapa orangtua saya, saya dibuang dibawah pohon maple dan ditemukan seorang biarawati tua. Saya tinggal dipanti asuhan, ibu panti sering marah pada saya karena saya nakal. Dia bilang, dia tidak bisa hanya terus mengurus saya seorang karena ada puluhan anak panti yang harus diperhatikan jadi ketika usia saya sepuluh tahun saya kabur karena menganggap diri saya beban." Eren memandang bunga mawar kuning milik Kuchel yang mulai mekar.

"Kau sedang menjual cerita sedih padaku?" Ya, memang apa yang ia harapkan dari pria menyebalkan semacam Levi? Kalimat motivasi? Tidak mungkin. Tapi ketika Levi menanggapi ceritanya seperti ini Eren merasa lega, tandanya Levi mendengarkan ceritanya meski responnya terlampau dingin.

"Selamat pagi Eren! Tuan Levi." Eren menoleh kesumber suara sementara Levi masih memandang lurus kedepan, ketempat matahari terbit.

Armin berdiri kikuk dipekarangan rumah Ackerman, mengenggam satu kantung entah apa itu ditangan kirinya. Tersenyum kecil pada Eren.

"Ah, Armin!" Eren menyambut.

"Um, ini… kau bilang kau suka kismis, kakek memberikannya padamu setelah aku bercerita kemarin." Armin menyerahkan kantung itu pada Eren, pemuda beriris hijau menerimanya wajahnya terlihat sangat sumringah senang dengan pemberian Armin.

"Terima kasih! Salamkan untuk kakekmu juga!"

Armin mengangguk, melirik takut-takut kearah Levi. Ingin menyapa tapi dirinya merasa canggung dan tidak mengenal Levi, hanya tahu nama dan kisah tragis yang Levi alami satu tahun yang lalu.

"Armin kau mau ikut duduk?" Eren menawarkan, Armin menggeleng kencang.

"T-tidak, maksudku aku harus membantu kakek mengurus peternakan kalau begitu aku permisi!" Armin kabur, Eren melongo. Ekspresi Armin mencerminkan seakan ia baru saja dikejar sekumpulan singa lapar. Menggendikan bahu, entahlah mungkin Armin cemas memikirkan hewan ternaknya.

"Tuan Levi, ingin masuk sekarang?"

"Hm."

.

.

.

"Telur hari ini, seperti biasa sangat banyak." Eren meletakkan satu keranjang berisi telur diatas meja, Kuchel terlihat sibuk memotong sayuran.

"Benarkah? Ayamku bahagia sepertinya." Canda Kuchel, Eren tertawa. Keadaan jauh lebih baik belakangan ini, minus sifat menyebalkan Levi. Eren sudah mulai terbiasa, rambut Levi dipangkas menjadi pendek. Kulit Levi juga tidak sepucat dulu, Eren senang melihatnya.

"Um, Mrs kau ingin membuat apa?"

"Sesuatu yang lezat, nanti kau akan tahu." Kuchel menghentikan aktifitasnya. "Eren?"

"Ya, Mrs Ackerman?"

Menghela napas. "Sebenarnya, aku memiliki rencana untuk mengoperasi mata Levi agar ia bisa melihat lagi. Dokter dulu pernah mengatakan bahwa kemungkinan Levi bisa melihat lagi masih ada, sayangnya Levi tentu tidak mau melakukan hal itu."

"Kenapa?"

"Mungkin Levi berpikir jika operasinya gagal maka ia akan kembali merasa hancur. Semua tidak mudah bagi Levi, ia buta dan kedua sahabatnya meninggal. Levi berada diposisi yang sulit."

Eren membenarkan, untuk menerima kondisinya saja Levi masih kesulitan bagaimana jika akhirnya Levi sudah membangun harapan setinggi langit dan harapan itu tidak sesuai? Untuk kali ini Eren tidak tahu apa jawabannya dan apa yang bisa ia lakukan.

"Pelan-pelan saja, kita akan membicarakannya dengan Tuan Levi."

Kuchel tersenyum. "Tentu saja."

.

Hujan turun dengan deras diluar sana, Levi tidak bisa melihatnya namun ia bisa mendengar suara air hujan yang jatuh juga merasakan hawa dingin yang menusuk kulit. Setelah kepayahan berjalan menuju jendela, Levi menemukannya. Kali ini ia ingin melakukannya sendiri tanpa bantuan Eren.

Levi belum dan mungkin tidak bisa menerima kondisinya, kehilangan pengelihatan secara tiba-tiba bagai bom atom yang dijatuhkan diatas kepalanya. Andai malam itu ia bisa mencegah Farlan yang mabuk untuk tidak mengendarai mobil, andai hari itu ia dengan tegas menolak ajakan minum dari Isabel, dan andai ia cukup waras untuk menendang bokong Farlan untuk duduk tenang dijok belakang semua tidak akan terjadi. Farlan adalah sahabatnya sejak ia menempuh pendidikan di Universitas Mitras sementara Isabel adalah gadis paling bodoh yang pernah ia temui. Isabel tidak pandai dalam matematika tapi dia memiliki iris hijau yang luar biasa, mengingatkan Levi pada tenangnya Shiganshina kampung halamannya.

Rasa sakit masih bercokol dalam dadanya, menyebarkan rasa perih dan merenggut sebagian kewarasannya. Sejak kecil Levi sudah dihadapkan pada kenyataan bahwa ayahnya meninggal dengan terhormat, saat dewasa ia kehilangan dua sahabatnya. Mungkin saat kecil dulu Levi bisa tenang karena ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun saat ini Levi seakan belum merasa siap. Kematian terkadang bisa begitu menyeramkan, entah bagi orang yang akan mati atau orang yang ditinggalkan.

"Tuan Levi." Eren memasuki kamar, terkejut ketika melihat Levi berada didepan jendela kamar. Eren mendekat, wajahnya mulai tenang.

"Hn, seperti yang kau katakan bocah. Aku harus mulai mengasah kemampuan mendengarkan suara disekelilingku, aku tidak mau menjadi orang buta tak tahu diuntung." Eren berdiri disamping Levi.

"Baguslah, saya lega mendengarnya."

"Tentu kau lega, kau tidak perlu kerepotan mengurusku kan?"

Eren meringis mendengar ucapan Levi. "Sama sekali tidak benar."

"Hoo, benarkah?"

Eren berdecih. "Hum, Saya jarang melihat lebah. Anda tahu Tuan? Saat saya di panti, saya pernah disengat lebah. Rasanya sakit sekali."

"CCD."

"Huh?"

"Coloni Collaps Disorder."

"Apa itu?"

"Sudah kuduga kau tidak akan tahu." Desis Levi, Eren melayangkan tawa canggung. "Zat kimia neonicotinoids merusak komunikasi antar para lebah. Membuat hewan malang itu mengalami penurunan dalam mencari makan bahkan mereka sulit untuk pulang ke sarang, aktivitas terbang ikut menurun dan kekacuan pada sistem imun. Mereka bisa mati dengan sangat mudah, itu sebabnya jumlah mereka mengalami penurunan yang sangat drastis."

Hening.

"Hoi bocah tolol, kau paham?"

"Mmm, sedikit."

"Astaga apa yang kuharapkan dari bocah sepertimu."

"Anda sangat menyukai hewan. Anda banyak tahu soal mereka." Eren mengalihkan topik pembicaraan.

"Yeah aku bersyukur karena belajar dengan benar dan lancar membaca." Sindir Levi tepat sasaran.

"Saya jadi menyesal karena malas belajar."

"Kebodohan adalah sumber kepunahan manusia."

"Wow terdengar seperti kutipan di perpustakaan." Eren pernah sekali masuk ke perpustakaan, hanya beberapa menit karena Eren tidak tahan dengan suasana tenang perpustakaan. Hujan mulai berhenti hanya menyisakan rintik-rintik, beberapa burung mulai kembali berterbangan dialam bebas.

Pintu kamar Levi diketuk, Eren menoleh dan menemukan Mikasa berdiri diambang pintu. Tersenyum singkat pada Eren.

"Levi, aku datang untuk menjengukmu."

"Untuk apa bocah yang uang saku masih diberikan oleh orangtuanya menjengukku?" Levi membalikkan badan, namun ia menghadap kearah lemari bukannya pada pintu.

"Kau salah arah, cebol." Eren terkesiap ketika Mikasa memanggil Levi dengan sebutan seperti itu, gadis berwajah oriental melangkah masuk. Meraih lengan Levi.

"Tutup mulutmu, tch."

Pasti saat ini Levi sedang malu.

"Lihat, apa yang dilakukan pria buta ini."

"M-mikasa…" Eren panik.

"Lebih baik kau urusi celana dalam bekas ompolmu, bocah."

"Lebih baik kau urusi arahmu yang salah, cebol." Balas Mikasa sarkastik, menarik Levi dengan cara jauh dari kata lembut membuat Eren cemas.

"Saya akan bantu Mrs Ackerman siapkan makan malam, permisi." Eren pergi, enggan mendengar perdebatan sepasang sepupu itu atau kepalanya akan pusing. Tiba-tiba Eren teringat banci tua kawannya, apa kabarnya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah masih sering meratapi bahwa dirinya berada digender yang salah? Eren punya ponsel ketinggalan zaman pemberian Mr Dot Pixis, tapi seorang gelandangan akan terasa aneh memiliki ponsel. Eren tidak bisa menghubungi banci tua itu.

Mungkin nanti ia bisa meminta izin sebentar untuk pulang ke Mitras dan mengunjungi banci tua. Semoga saja, Kuchel mengizinkannya.

TBC

Levi emang dingin, tapi dia bener-bener sayang sama Kuchel. Salah satu alasan kenapa dia mau bangkit lagi ya karena Kuchel dan –uhuk- menjawab tantangan bocah napi.