Chapter 2

.

.

Latihan sore ini berlangsung dengan semangat. Para junior harus bisa terbiasa berlatih tanpa senior mereka. Dan memang seperti itu faktanya. Semua pemain tingkat empat tidak ada di lapangan.

"Oh Anezaki Senpai, kamu datang?" sapa perempuan berambut hitam berponi itu.

Mamori balas tersenyum kepada Sachiko, manajer baru klub. Tidak bisa dibilang baru, karena dia sudah mulai bergabung setahun belakangan. Satu angkatan dengan Satoshi.

"Apa mereka tidak kenal namanya istirahat?" tanya Sachiko, yang membuat Mamori menoleh ke arahnya. "Kita baru saja memenangkan Rice Bowl. Kupikir setidaknya mereka akan bersantai selama seminggu."

Anezaki tertawa. "Motto kita itu, pemenang tidak pernah istirahat. Jadi jangan heran, karena tim kita berisi orang-orang yang tidak mau kalah."

Sachiko mengangguk. "Padahal tidak ada kapten. Tapi mereka tetap semangat seperti ini."

"Mereka harus terbiasa tanpa Youichi. Walau sepertinya dia masih akan bertahan setahun lagi di kampus ini."

Sachiko memandang heran menunggu kelanjutan cerita Mamori.

"Dia belum mengerjakan tugas akhir," lanjut Mamori, tertawa.

Mamori melihat seseorang dari kejauhan yang melambai ke arahnya dari ujung lapangan. Orang itu kemudian berlari ke arah mereka.

"Hai Anezaki Senpai," sapa Yamato.

"Hai Yamato-kun. Kamu sudah kembali?" ujar Mamori.

"Ya. Aku sudah bilang ke pelatih disana kalau aku akan ikut UL Cup Februari nanti," balas Yamato tersenyum.

"Jangan percaya ucapannya, Senpai," ujar Honjo yang sedang menerima lemparan bola di belakang Yamato. "Sebelum rice bowl dia juga bilang seperti itu, dan kau lihat sendiri kenyataan."

"Jangan ungkit itu," balas Yamato. "Kau tidak tahu bagaimana perjuanganku memohon-mohon pada manajer klub disana agar aku bisa pulang saat semifinal kemarin itu."

"Dan kita bisa tetap menang tanpamu," lanjut Honjo.

Mamori tersenyum mendengar debatan mereka.

"Oh ya... Apa jadwal draw turnamenUL Cup sudah keluar, Sachiko-san?" tanya Yamato.

"Belum ada informasi," jawab Sachiko menggelengkan kepala.

"Kamu sudah bicara ke pelatih tentang kapten baru Sachiko-san?" tanya Mamori.

Sachiko mengangguk. "Sudah. Pelatih bilang, dia menyerahkan semua kepada senpai sebelum kamu keluar dari kampus ini."

"Baiklah kalau begitu. Aku akan mencatat jadwal pemilihan untuk kapten baru di papan tulis," ujar Mamori. "Aku ke ruang klub dulu."

Mamori berjalan menuju ruang klub. Dia membuka pintunya. Tidak ada orang di dalam. Mamori lalu menuju ke papan tulis yang biasa dipakai untuk membuat pengumuman.

PEMILIHAN KAPTEN BARU. Rabu xx Januari 20xx. Jam 3 Sore. PS. TIDAK BOLEH TELAT.

"Aku masih belum keluar dari sini, dan kau sudah mau menggantiku, heh ? "

Mamori menoleh ke Hiruma yang berdiri diambang pintu. "Kamu mau lihat pemilihannya besok?"

Hiruma mengangkat bahu.

"Kenapa kesini?" tanya Mamori. "Kupikir kamu sudah ke asrama."

"Karena aku tahu kau ada disini," jawab Hiruma.

"Ada apa lagi?" balas Mamori curiga.

"Ikut aku."

Mamori dengan ragu mengikuti Hiruma yang sudah lebih dulu jalan di depannya. Mamori menyamakan langkah mereka. Mamori menoleh ke Sachiko yang melihatnya dari balik pagar dalam lapangan. Mamori lalu tersenyum. "Sampai besok," ujarnya kepada Sachiko.

Mamori lalu kembali ke Hiruma. "Kita sebenarnya mau kemana Youchi?"

.

.

"Mau dibawa kemana lagi Anezaki Senpai itu?" ujar Honjo yang berdiri di sebelah Sachiko.

"Dimana ada Anezaki Senpai, disitu pasti ada kapten," balas Sachiko. "Kadang aku kasihan, sudah mengurusi pekerjaan klub, senpai juga harus ikut kapten Hiruma kemana-mana."

"Yah memang seperti itu... Karena Hiruma Senpai lebih mempercayainya dibanding yang lain."

"Bahkan dengan wakil kapten Akaba?"

"Ya," jawab Honjo. "Anezaki Senpai itu ibarat tangan kanannya."

"Bukan sekedar tangan kanannya," sahut Jumonji. "Mamori Senpai itu lebih mirip kekasihnya."

Jumonji melihat Sachiko dan Honjo yang penasaran dengan ceritanya.

"Dia mengurusi apartemen Hiruma Senpai, kasih makan cerberus, me-laundry pakaiannya, dan tahu password apartemennya!"

"Itu sih bukan kekasih, tapi pembantunya," sahut Honjo.

"Mana ada pembantu yang diantar pulang dan diajak makan bersama?" balas Jumonji. "Hiruma Senpai bahkan rela menunggunya setelah selesai latihan."

"Benar juga..." Kali ini Sachiko bersuara. "Saat kalian semua pulang, aku dan Anezaki Senpai beres-beres ruangan. Disana masih ada Kapten."

"Itu karena dia suka berlama-lama disana," balas Honjo.

"Tapi setelah itu dia ikut pulang," lirih Sachiko.

.

.

Mamori dengan malas mengikuti Hiruma melihat-lihat sepatu. Dia hanya diam dan tidak mengeluhkan apapun. Karena sesering apapun Mamori mengeluh dan protes, dia tetap tidak akan didengar. Hiruma tidak akan menggubrisnya dan tidak peduli. Jadi mau dibawa kemana pun Mamori, dia hanya bisa pasrah.

"Jangan yang itu," sahut Mamori. "Kamu sudah punya yang warna hijau."

"Sudah rusak. Makanya aku beli baru."

Mamori menghela napas. "Tapi tetap saja jangan yang hijau. Aku bosan melihatnya."

Hiruma melirik ke Mamori. "Yang pakai aku kenapa kau yang bosan, bodoh."

Mamori lalu mengambil sepatu itu dari tangan Hiruma.

"Maaf permisi," panggil Mamori ke pelayan toko. "Apa ada warna lain untuk sepatu ini? Ukuran dua delapan."

"Baik sebentar. Saya lihat dulu."

Lima menit kemudian pelayan toko itu datang dengan sepatu warna lain di tangannya. "Kami punya warna orange."

"Terima kasih," balas Mamori. "Coba dulu," sahutnya kepada Hiruma dan menariknya untuk duduk di bangku.

Hiruma mencoba sepatu tersebut. Dia berdiri sambil menyamankan kakinya di sepatu itu.

"Bagaimana? Nyaman?" tanya Mamori.

"Hm," jawab Hiruma singkat.

"Saya beli yang ini," ujarnya ke pelayan toko.

Setelah membayar di kasir, mereka lalu keluar dari toko.

"Kau lapar, heh?" tanya Hiruma.

Mamori belum sempat menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi dari dalam tas. "Sebentar." Mamori melihat ke layar ponsel dan tertera nama Sara disana.

"Halo, Sara?" sapa Mamori.

"Kau dimana Mamori?"

"Aku sedang pergi ke Shibuya?"

"Shibuya? Sendiri?"

"Tidak. Bersama Youchi menemaninya membeli sesuatu," jawab Mamori.

"Hmm... Kalau begitu besok saja."

"Ada apa memang?" tanya Mamori.

"Begini... Aku mau tanya tentang penulisan tugas akhir."

"Kalau begitu nanti malam saja."

"Baiklah. Sampai nanti Mamori."

Mamori memasukkan kembali teleponnya. Mamori lalu baru menyadari dimana mereka sekarang setelah tadi menelepon sambil berjalan. Mereka kini sedang mengantri di restoran cepat saji.

"Aku mau sandwich dan cola," ujar Hiruma.

"Dua sandwich, satu kentang goreng ukuran besar, satu cola, dan satu ice mocca," ujar Mamori setelah mereka sampai di depan kasir.

"900 yen,' ujar kasir itu.

Hiruma lalu memberikan uangnya setelah itu Hiruma pergi untuk mencari tempat duduk. Tidak sampai lima menit makanan mereka sudah tiba dan Mamori membawanya ke meja yang sudah ditempati Hiruma.

Dia meletakkannya di depan meja dan duduk di depan Hiruma. Mereka menikmati makannya tanpa berbicara. Walaupun orang lain yang mengalaminya pasti merasa canggung dengan situasi seperti ini. Namun tidak dengan Mamori. Hanya diam berdua saja dengan Hiruma seperti ini tidak membuatnya canggung. Dalam situasi apapun Mamori sudah merasa nyaman dengan Hiruma. Baik itu diam ataupun berbicara.

"Kau besok ada acara?" tanya Hiruma.

Mamori tidak langsung menjawab. Dia mencerna pertanyaan Hiruma tersebut. "Entahlah," jawabnya.

Mamori tidak mau memberi kepastian dengan pertanyaan Hiruma itu. Karena kalau tidak terlalu penting, Hiruma tidak perlu bertanya untuk memastikan. Dia pasti akan datang menemui Mamori langsung seperti ini. Jadi kalau Hiruma sudah bertanya, pasti ada suatu hal yang penting.

"Pagi.. Siang.. Atau sore?" tanya Mamori ragu.

Hiruma mengangkat bahunya.

Mamori hanya bisa memandang kesal. Dia rasanya ingin membanting ice mocca di tangannya ini. Tapi yahh... Bukan sekali dua kali Hiruma tidak menanggapinya seperti ini.

.

.

Mamori mengamati dengan seksama laptop di atas meja bersama Sara. Sudah dua puluh menit Mamori memeriksanya. Mulai dari format penulisan dan tata bahasa. Sembari memeriksa, Sara juga memintanya untuk memperbaikinya.

"Bukan begini kanjinya," ujar Mamori. Dia menghapus beberapa kanji, lalu menuliskan kembali huruf kanji yang benar. Setelah itu kembali membacanya sampai halaman terakhir.

"Oke tidak ada masalah," ucap Mamori lagi.

Sara bernapas lega. "Kuharap proposal penulisan ini disetujui."

"Kapan kamu mau mengajukannya?"

"Besok pagi," jawabnya. "Aku gugup sekali. Menurutmu apa akan disetujui?"

"Kalau tidak ada judul yang sama pasti akan disetujui. Lagipula judulmu menarik. Dosen pasti tidak akan menyulitkanmu," jawab Mamori menenangkan.

"Terima kasih," ujar Sara. "Aku akan mentraktirmu nanti."

Mamori tersenyum. "Sungguh? Aku tunggu ya. Jangan lupa."

Sara tertawa. "Oh ya. Kapan kamu mulai bekerja?"

"Senin besok."

"Di daerah Chiba. Berarti kamu akan naik kereta?"

Mamori jawab mengangguk.

"Apa tidak sebaiknya kamu menyewa apartemen disana? Daripada kamu menyewa di Tokyo. Pasti akan melelahkan."

"Yahh... Aku memang sempat memikirkannya. Tapi aku sudah nyaman disini," jawabnya. "Dan lagi aku masih ingin menengok latihan di klub. Aku masih tidak tega meninggalkan mereka."

Sara tersenyum mendengarkannya. "Oh ya.. Ngomong-ngomong, kamu masih sering pergi dengan Hiruma-san?"

"Ya. Tidak terlalu sering juga," jawab Mamori ragu sambil melihat raut wajah Sara yang terlihat cemas.

"Begini Mamori. Ini hanya pendapatku," ujarnya sambil menepuk pundak Mamori. "Kalau kamu sering jalan dengan Hiruma-san, kapan kamu bisa punya pacar?"

Mamori mendengarkan Sara dengan bingung.

"Orang yang melihatnya pasti akan mengira dia pacar kamu. Lelaki pasti tidak akan berani mendekatimu. Terlebih itu Hiruma-san," lanjutnya.

"Kurasa tidak ada yang berpikir seperti itu," ujar Mamori.

Sara menghela napas. "Kamu hanya tidak tahu. Kamu tidak melihat ke sekelilingmu kalau kamu sedang berjalan bersama Hiruma-san di kampus. Mereka semua membicarakanmu!"

Mamori tertawa mendengarnya. "Tenang saja Sara. Aku sudah lulus. Akan jarang ke kampus. Lagipula Youchi juga sibuk dengan Tokyo Storm. Pasti tidak akan sering bertemu. Dan tidak akan ada membicarakannya lagi."

Sara masih memasang wajah cemasnya.

"Aku pasti akan bertemu laki-laki di luar sana. Mungkin guru di sekolahku? Atau di satu kereta?" Mamori lalu tersenyum menenangkan.

"Yahh... Semoga saja."

.

.

Side Note :

Hey... It's Friday! Siapa yang sudah nunggu-nunggu? Hampir saja lupa buat update tadi.

Gimana? Gimana? Sudah kebaca belum jalannya ceritanya?. Yah, nebak-nebak boleh, tapi spoiler jangan. Biar penasaran XD

Jangan lupa review nya ya... Review dua kalimat cukup kok.

Salam : De