Chapter 3
.
.
Mamori menuliskan nama di papan tulis. Dia menuliskan nama calon kapten baru. Ada nama Yamato, Jumanji, dan Satoshi. Ketiga nama itu sudah jelas bukan dari keinginan mereka sendiri, tapi Mamori pilih dari karakter, semangat, dan pola permainan mereka.
Para pemain hanya terdiam melihat Mamori sambil menunggunya berbicara.
"Okee," ujarnya. "Apa perlu kita adakan pemungutan suara?"
"Kurasa tidak perlu, Anezaki-san," jawab Akaba. "Bagaimana kalau kita tanya dari ketiga nama itu siapa yang mau menjadi kapten?"
Semua mata langsung menuju ke arah tiga orang itu. Namun ketiganya tidak ada yang mau mengajukan diri.
"Aku tidak bisa Senpai. Kau tahu aku sibuk di klub Amerika. Pasti akan sulit," ujar Yamato.
"Aku juga tidak bisa!" lanjut Satoshi. "Aku tidak sanggup jiika harus menggantikan Kapten Hiruma dua posisi sekaligus."
Mamori melihat ke Jumonji yang tidak berkata apa-apa. Dia masih dengan ekspresi tenangnya. Mamori melihat ke Akaba dan saling berpandangan. Akaba mengangguk mengkonformasi.
"Baiklah," sahut Mamori. "Jumonji-kun? Kamu siap menggantikan Youichi sebagai Kapten?"
Jumonji menggaruk kepalanya bingung. "Yahh... Aku tidak tahu sanggup atau tidak. Tapi karena tidak ada yang bisa, aku siap."
Mamori tersenyum. "Bagus," ujarnya. "Sekarang penyerahan ban kapten. Akaba-san, kamu bisa menyerahkannya mewakili Youichi."
"Oke." Akaba lalu maju dan memakaikan ban kapten di lengan Jumonji sebagai simbolis pergantian kapten. Setelah terpasang, semua anggota tim bertepuk tangan. Mereka bersorak menyelamati Jumonji.
"Jumonji-kun, kamu kapten kita yang baru dan Satoshi-kun wakil kaptennya," Mamori.
"Oke."
.
.
Para pemain sudah mulai berlatih di lapangan. Mamori memakai jaketnya untuk segera pulang ke apartemennya. Dia mengambil tas bersamaan dengan bunyi ponsel berdering di dalamnya.
Mamori mengambil ponselnya dan melihat nama di layar. Nomor tidak dikenal. Dengan ragu Mamori menjawabnya.
"Halo," sapanya.
"apa ini dengan Anezaki Mamori-san?" tanya suara laki-laki di seberang telepon.
"Ya... Saya sendiri."
"Saya Wasaki dari Tokyo Storm. Apa Anezaki-san bisa datang ke gedung utama? Ini terkait dengan kontrak Hiruma-san?"
Mamori mendengarnya dengan bingung. "Tapi saya-,"
"Saya paham situasinya. Tapi bisa tolong kesini segera? Saya akan jelaskan nanti. Saya akan kirimkan alamatnya."
Mamori menutup teleponnya sambil berpikir bingung. Sudah enam bulan Hiruma bergabung dengan Tokyo Storm, tapi tidak pernah ada sangkut pautnya dengan Mamori. Dia sudah tahu kalau Hiruma memintanya jadi asisten, tapi dia tidak tahu kalau harus mengurus masalah kontrak Hiruma.
.
.
Setelah pamit dengan para pemain, Mamori lalu naik bus menuju Gedung utama Tokyo Storm. Perjalanan memakan waktu Satu setengah jam. Mamori akhirnya sampai di halte terdekat. Dia jalan kaki menuju gedung yang berjarak lima menit dari halte. Mamori sibuk memikirkan hal yang mendadak seperti ini. Kemana dia akan pergi, ke bagian mana dan bertemu siapa. Dia tidak tahu menahu dengan semua ini.
Langit sudah mulai gelap. Mamori melihat ke jam tangannya yang menunjukkan jam enam. Akhirnya Mamori tiba di gerbang Gedung Tokyo Storm. Halaman yang luas dengan tempat parkir yang luas pula. Tempat parkir kosong dan hanya ada satu bus Tokyo Storm disana.
Gedung sudah sepi karena para karyawan sudah pulang. Mamori bisa melihat seseorang berdiri disana. Dia mondar-mandir terlihat gelisah. Orang itu menyadari kehadiran Mamori dan berlari ke arahnya.
"Anezaki-san?" ujar Lelaki itu saat dia mendekat. "Saya Sawaki."
Mamori mengangguk dengan ragu.
"Maaf memanggilmu. Para pemain sedang di Aichi. Saya tidak sempat bertemu Hiruma-san."
Mamori menunggu Sawaki melanjutkan bicaranya yang tergesa-gesa.
"Begini... Ini ada kontrak kerja. Tolong diperbanyak empat rangkap, setelah itu ditandatangani," jelasnya lagi. "Ada beberapa halaman yang harus ditandangani Hiruma, jangan sampai terlewat. Lalu halaman terakhir ada tanda tangan Direktur, Bendahara, dan Pengacara Klub. Pastikan itu juga harus ditandanangani."
Mamori masih mendengarnya. Walaupun dia mengerti dengan instruksi itu, namun tetap saja membuat Mamori bingung.
"Karena ini kontrak resmi pertama Hiruma-san, jadi dia harus membacanya baik-baik. Setelah itu serahkan kembali padaku besok paling lambat jam sepuluh. Ada pertanyaan?"
Mamori dengan ragu mengeluarkan suaranya. "Apa tidak ada orang lain yang bisa dititipkan?"
"Sudah tidak ada orang lagi di dalam. Dan lagi ini bersifat pribadi jadi tidak boleh sembarang orang," jawab Sawaki. "Saya tahu kalau kamu 'asisten tapi bukan asisten'. Tapi karena kontrak kerja ini baru selesai dan terlambat dikerjakan, saya tidak sempat memberikannya ke Hiruma-san. Semua kontrak ini diurus oleh para asisten atau pengacara pribadi para pemain. Jadi mau tidak mau saya menghubungimu. Ada pertanyaan lagi?"
Mamori menggeleng dengan tidak pasti.
Sawaki melihat ke jam tangannya. "Maaf Anezaki-san. Saya harus buru-buru kalau tidak saya ketinggalan kereta terakhir." Sawaki pamit kepada Mamori.
Mamori melihat Sawaki pergi. Dan sekarang Mamori dilanda kebingungan entah apa yang harus dilakukannya dengan map di tangannya ini. Mamori lalu membuka dan melihat kontrak kerja tersebut yang hampir dua puluh halaman.
Mamori mengambil ponselnya dan mencari nomor Hiruma.
"Youichi."
"Ada apa?" jawab Hiruma di seberang.
"Aku ada di Gedung Tokyo Storm," jawab Mamori. "Dan aku memegang kontrak kerjamu."
Hiruma memahami situasi Mamori. "Kalau begitu tunggu aku."
"Jam berapa kamu sampai?"
"Kurang lebih tiga puluh menit lagi."
Mamori melihat ke jam tangannya. "Apa aku pulang saja? Sekarang sudah malam," ujarnya sambil melihat ke sekeliling.
"Kau bawa kartu id-mu?"
Mamori merogoh tas dan menemukan kartu id-nya. "Ya."
"Kalau begitu kau keluar gedung. Belok kanan dan jalan saja lurus. Tidak jauh dari situ kamu bisa lihat asrama atlet. Kamu masuk ke dalam melewati lapangan dan ada gedung B. Kamu gunakan kartu itu untuk masuk ke dalam. Kamar nomor 303."
"Baiklah. Mamori menutup teleponnya.
.
.
Mamori berjalan lagi sesuai dengan instruksi Hiruma. Setelah tiba di asrama atlet yang berjarak kurang lebih seratus meter, Mamori melewati pos penjaga. Dia lalu memperlihatkan kartu id-nya. Penjaga itu mempersilahkan Mamori lewat.
Setelah itu Mamori berjalan melewati lapangan. Terdapat dua lapangan disana, jadi mau tidak mau Mamori berjalan sejauh satu putaran lapangan. Setelah sampai ujungnya, Mamori melihat gedung di depannya yang bertuliskan huruf A. Dia melihat ke gedung di sebelahnya yang bertuliskan huruf B, dan berjalan ke arahnya.
Mamori menempelkan kartu id itu dan pintu asrama langsung terbuka. Dia menuju lift. Dia menunggu lift terbuka bersama dengan perempuan lain di sebelah. Mamori menoleh dan melihat kartu id yang di kalungkan di lehernya.
Wanita itu menoleh ke Mamori dan tersenyum. "Asisten?" tanyanya.
Mamori balas tersenyum dan mengangguk. "Ya," ujarnya sambil memperlihatkan kartu id-nya. "Anezaki Mamori."
"Sanada Karina, asisten Sanada Akira," ujarnya. "Aku baru pertama kali melihatmu."
Mereka memasuki lift. Mamori menekan tombol tiga dan Karina menekan tombol dua.
"Asisten siapa?"
"Aku baru pertama kali kesini. Asisten Hiruma Youichi," jawabnya.
Karina mengangguk-angguk takjub. "Aku pikir dia tidak butuh asisten."
Mamori tertawa canggung.
Wanita itu melihat ke Mamori lagi sambil berpikir. "Anezaki Mamori... Sepertinya aku pernah mendengar namamu."
Lift tiba di lantai tiga. "Aku duluan. Sampai nanti," ujarnya menganggukan kepala dan keluar dari lift.
Mamori lalu menuju ke kamar 303. Dia melihat ke kunci di pintunya lalu menggesek kartu id. Pintu itu pun terbuka. Mamori lalu masuk ke dalam dan menyalakan lampu. Kamar Hiruma cukup nyaman. Dalam satu ruang terdapat meja makan dengan dua kursi, satu sofa panjang, satu tempat tidur, lemari, dan televisi. Mamori membuka pintu kamar mandi. Cukup rapih untuk ukuran tempat tinggal Hiruma. Karena sudah pasti dia tidak akan punya waktu untuk membuatnya berantakan. Sama halnya dengan apartemennya.
Mamori meletakkan tasnya di sofa dan duduk disana. Dia melihat ke lembaran kontrak kerja Hiruma dan mulai membacanya. Mamori senang membaca, jadi tidak ada keluhan untuk membaca sesuatu sekalipun itu hal yang rumit dan membosankan. Seperti yang Sawaki bilang, Hiruma harus membacanya baik-baik. Jadi untuk mewakili Hiruma, Mamori juga harus memahami kontrak kerjanya.
Halaman pertama sudah pasti tentang tata tertib klub. Mulai dari jam latihan, hari libur, segala macam larangan dan sanksinya. Tata tertib itu berisi tiga puluh lima poin. Tidak terlalu sulit pikir Mamori. Karena dia tahu, Hiruma sudah pasti akan mematuhinya. Lalu di halaman lain ada tentang surat perjanjian dengan klub. Disana tertulis kalau Hiruma akan di kontrak selama tiga musim. Jika salah satu pihak ada yang melanggar kontrak maka akan terkena denda. Lalu halaman lain membahas soal bayaran Hiruma per tahun. Mamori terperanga melihatnya. Dia kaget melihat jumlah yang akan diterima Hiruma. Mamori sudah menduga Hiruma pasti akan menerima bayaran yang cukup besar, tapi tetap saja membuatnya kaget. Ditambah bonus-bonus yang diterimanya jika klub bisa memenangkan setiap pertandingan.
Mamori mendengar suara pintu terbuka dan Hiruma muncul disana.
"Sudah sampai?" sapa Mamori, memperhatikan gerakan kaki Hiruma yang berjalan ke arahnya dan duduk di sofa.
Mamori meletakkan lembaran kontrak itu di atas meja. Hiruma menengadahkan kepala serta menjulurkan kaki dan tangannya lelah. Mamori lalu berlutut di depan Hiruma dan menggulung celananya. Hiruma membuka mata dan melihat ke Mamori.
"Tidak apa, bodoh," ujar Hiruma.
"Kau punya perban dan lainnya?" tanya Mamori sambil melihat betis Hiruma yang terluka.
"Ada di lemari," jawab Hiruma.
Mamori lalu beranjak ke lemari dan mengambil kotak p3k disana. Dia kemudian membasahi handuk. Setelah itu Mamori kembali ke depan Hiruma dan mengobatinya.
"Istirahatlah," ujar Mamori.
Dia lalu mengembalikan kotak p3k ke dalam lemari. Hiruma melepas jaket dan sepatunya. Setelah itu ke kamar mandi untuk mengganti celananya. Hiruma keluar dan melihat Mamori sedang memakai jaketnya dan bersiap untuk pulang. Mamori lalu melewati Hiruma yang berdiri di depan kamar mandi.
"Aku pulang dulu."
Hiruma menahan Mamori di pergelangan tangannya. "Tidur saja disini."
"Aku tidak bawa baju ganti," balas Mamori menghela napas.
"Kau bisa tidur pakai bajuku. Tidak akan ada yang sadar kalau besok kau pakai baju yang sama," balas Hiruma. "Besok aku ada latihan pagi. Aku tidak bisa mengurus semuanya sendiri."
"Tenang saja. Aku akan mengurusnya besok."
"Kau hanya buang-buang waktu dan tenaga, bodoh."
Hiruma menarik tangan Mamori dan mereka kembali ke dalam. Dia lalu membuka lemari dan mengambil bajunya.
"Pakailah dan jangan membantahku," ujarnya.
Mamori menghela napas lagi dan mengambil baju itu. "Aku tidur di sofa saja," ujarnya sebelum dia masuk ke kamar kamar mandi.
"Keh... Tidak masalah."
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Maaf ya baru update... Saya lupa kalau jumat kemarin itu sudah masuk Maret XD
Okee... Buat yang bertanya 'kok pendek banget?' ini dia jawabannya...
Jadi begini, fic ini memang sengaja dibuat pendek. Fic saya yang biasanya per chap 2000 kata, tapi kalau SOY ini cuma 1500 kata. Tidak ada alasan khusus. Saya memang mau buat fic yang pendek saja, biar tidak puyeng XD
Ga papa ya? Yang penting dinikmati saja..
Oke.. Review jangan lupa~~
Salam : De
