Chapter 4
.
.
Tengah malam Hiruma terbangun. Dia bangun terduduk. Hiruma melihat ke sekeliling yang gelap. Dia menoleh dan melihat Mamori tidur nyenyak di sofa. Hiruma lalu menyalakan lampu tidurnya. Sekarang dia bisa melihat wajah tidur Mamori yang sangat damai.
Hiruma lalu bangun dan menghampiri Mamori. Dia mengangkat dengan mudahnya tubuh Mamori ke atas tempat tidur dan membaringkannya disana. Mamori memosisikan dirinya dengan nyaman dan berkemul di selimutnya. Hiruma lalu mematikan lampunya. Dia berjalan ke sisi tempat tidur yang lain dan kembali melanjutkan tidurnya.
.
.
Setelah menyerahkan surat kontrak Hiruma, Mamori berjalan menuju ke lapangan latihan. Dari pinggir lapangan kursi penonton, Mamori bisa lihat para atlet Tokyo storm sedang berlatih. Mamori ingat Hiruma dari jam tujuh pagi sudah meninggalkan kamar untuk latihan.
Mamori melihat dua atlet yang sudah tidak asing wajahnya. Dia adalah dua senior mereka di Syaikyodai. Salah satunya melambaikan tangan ke arah Mamori. Mamori lalu bangun dari kursi dan membungkukkan tubuhnya kemudian tersenyum.
Mamori tidak begitu dekat dengan mereka arena dia senior tingkat empat saat Mamori baru masuk ke Saikyodai. Dan satu orang senior lagi adalah mantan kapten the wizards sebelum Hiruma. Yang saat ini tengah berbincang dengan Hiruma.
"Kau membawa Anezaki?" tanya sang mantan kapten yang melihat Mamori dari kejauhan.
"Ya.. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain lagi," jawab Hiruma.
Sang mantan kapten tertawa. "Kau memang tidak bisa lepas darinya, kan? Anezaki pintar, cantik lagi. Kenapa tidak kau jadikan pacarmu?"
"Kau bercanda, heh ? Dia itu tukang marah-marah. Memikirkannya saja aku sudah merinding."
"Tapi dia begitu perhatian padamu," balasnya.
"Dia begitu ke semua orang."
Sang mantan kapten mengernyitkan dahi bingung. "Memang kau tidak tahu? Anggotamu di saikyodai pada cemburu dulu karena dia terlalu mengurusimu. Kata mereka, Anezaki itu lebih cocok jadi asistenmu dibanding manajer klub."
"Mereka itu memang cuma bisa mengeluh saja."
Mamori masih asik melihat para atlet berlatih. Dia lalu merasakan ponselnya bergetar dan melihat satu pesan masuk disana.
dari : Sachiko
Kamu bisa datang latihan sore ini, Senpai? Aku tidak mengerti lembar strategi pertandingan yang diberikan pelatih. Apa kamu bisa membantuku?
Mamori membaca pesan tersebut dan melihat foto yang dikirim Sachiko. Dia lalu mengetik dan membalas pesan Sachiko.
Oke. Aku akan mengartikannya untukmu nanti malam.
Mamori lalu memasukkan ponselnya kembali dan melihat ke lapangan tepat ke arah Hiruma yang tengah menangkap bola dan langsung di kerubung tiga orang linemen. Mamori hanya bisa meringis ngeri melihat Hiruma yang jatuh tertumpuk dengan tiga orang di atasnya. Sebenarnya itu hal yang biasa, tapi Mamori masih saja kaget melihatnya.
Beberapa menit kemudian, para pemain berkumpul. Mereka mendengarkan arahan pelatih. Latihan pagi pun selesai. Mamori lalu turun ke lapangan menghampiri Hiruma yang sedang meneguk air minumnya. Dia membantu Hiruma dengan membereskan barang dan memasukkannya ke tas. Hiruma lalu membawa tas itu di pundaknya.
Mamori berjalan mengikuti Hiruma di sebelahnya. Mamori memperhatikan lengan Hiruma yang tergores.
"Kau mau pulang, heh ?" tanya Hiruma menoleh menatap Mamori.
Mamori yang sedari tadi terus melihat ke lengan Hiruma, tersadar. "Hm.. Ya," jawabnya.
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu," jawab Mamori. "Kamu pasti lelah."
"Apa tidak bisa kau terima saja tawaranku. Kenapa selalu kau tolak, heh ?"
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu."
Tanpa Mamori sadari, mereka telah tiba di tempat parkir.
"Naiklah," ujar Hiruma membuka pintu mobil sambil masuk ke dalam.
Mamori dengan ragu menurut dan membuka pintu mobil. Dia lalu duduk dan menutup pintunya.
"Pakai sabuk pengamanmu," ujarnya sambil meletakkan tas ke kursi belakang dan memakai sabuk pengaman.
.
.
Tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di apartemen Mamori. Dan memarkirkan mobilnya di basemant.
Tanpa bicara Hiruma keluar dari mobil dan mengikuti Mamori. Mereka naik ke lantai enam. Mamori membuka pintu apartemennya dan menyalakan lampu.
"Aku pinjam kamar mandimu," ujar Hiruma.
Mamori mengangguk tanpa menoleh. Karena tahu Hiruma akan mandi, Mamori lalu mulai memasak nasi. Dia belum sarapan dari pagi. Entah dengan Hiruma. Jadi Mamori akan membuat sarapan cepat saji, yaitu omelet dengan sayur dan daging ayam.
Hiruma keluar dari kamar mandi dengan jaket dan jeans panjangnya. Dia melihat Mamori sedang sibuk memasak. Hiruma lalu duduk di sofa dan menyalakan televisinya.
Mamori selesai menyuci beras dan sayuran. Kemudian dia memasak nasi. Dia masih harus menunggu tiga puluh menit lagi untuk nasi tanak. Mamori lalu mengambil kotak obatnya di laci bawah televisi dan duduk di samping Hiruma.
Hiruma menoleh ke Mamori. "Kalau kau melihat luka sedikit saja langsung mau kau obati, maka kau harus mengobati seluruh tubuhku."
"Cepat buka jaketmu," perintah Mamori tidak peduli.
"Aku hanya pakai jaket, bodoh."
"Lalu apa masalahnya? Seperti aku tidak pernah melihat tubuhmu saja," balas Mamori.
Hiruma lalu membuka jaket dan mengeluarkan tangan kanannya. Mamori menahan napas melihat tubuh Hiruma. Seolah darah naik ke kepala Mamori, wajahnya kini terasa panas saat melihat Hiruma yang bertelanjang dada. Walau sudah berkali-kali melihat Hirum seperti ini, tetap membuat Mamori kehilangan konsentrasi. Mamori pun berusaha kembali fokus ke luka Hiruma.
"Apa kamu tidak bawa baju ganti?" tanya Mamori berusaha menenangkan pikirannya.
"Kalau aku bawa aku sudah memakainya," balas Hiruma.
Mamori lalu bergerak mendekat ke lengan Hiruma dan mengoleskan obat ke lukanya. Hiruma hanya terdiam memerhatikan wajah Mamori yang begitu dekat dengannya.
"Apa kau melakukan hal begini ke semua anggota, heh?"
"Tentu saja," jawab Mamori tanpa menoleh, masih sibuk dengan luka Hiruma.
"Sedekat ini?" balas Hiruma lagi.
Kali ini Mamori menengok ke Hiruma. Dia menahan napas karena mendapati wajah Hiruma yang begitu dekat dan matanya yang menatap lurus ke arahnya. Mamori lalu memundurkan kepalanya.
"Pertanyaanmu aneh," sahut Mamori. Dia lalu mengambil plester dari dalam kotak obat.
"Ada yang bilang padaku kalau selama ini kau lebih sering mengurusiku daripada mengurusi klub. Apa benar begitu?"
Mamori mengangkat bahu. "Entahlah... Bukannya mengurusmu sama saja dengan mengurusi klub?"
Hiruma mengerutkan keningnya. "Aku seperti bicara dengan orang bodoh."
Mamori menatap Hiruma. "Kamu yang bodoh. Dari tadi pertanyaanmu aneh-aneh. Kamu lapar atau mengantuk?"
"Dua-duanya," jawab Hiruma.
Mamori lalu menempelkan plester ke lengan Hiruma. "Kalau begitu tidurlah. Akan kubangunkan kalau sarapan sudah siap."
.
.
Sementara sarapan sudah siap, Mamori menyempatkan dirinya untuk mandi. Dia tidak tega membangunkan Hiruma yang sudah tertidur pulas di sofa. Jadi dia menunggu lima belas menit lagi untuk membangunkannya.
Setelah semuanya rapih, mereka lalu sarapan bersama. Tiga puluh menit berlalu dan mereka selesai sarapan. Hiruma berjalan menuju beranda dan berdiri disana melihat pemandangan. Sementara Mamori membuatkan kopi untuk Hiruma dan cokelat hangat untuk dirinya.
Mamori lalu menghampiri Hiruma dan meletakkan kopinya di meja beranda. Mamori lalu duduk di kursi sambil menikmati cokelat panasnya.
"Kamu masih tidak mau jadi asistenku, heh?" tanya Hiruma berdiri menghadap Mamori.
Mamori mendongak. "Bukan aku tidak mau. Tapi aku tidak bisa. Carilah orang lain."
"Bukan aku tidak mau, tapi aku tidak bisa," balas Hiruma.
Mamori mengerutkan keningnya frustasi mendengar Hiruma menjawab dengan kata-katanya.
"Harus kau yang melakukannya," lanjut Hiruma.
Mamori menaruh cokelatnya di meja. Dia lalu berdiri melihat ke pemandangan. "Aku hanya ingin menjalani hidup yang kuinginkan, Youichi."
Hiruma menoleh dan memandang Mamori. "Jadi selama ini kau menjalani hidup karena terpaksa?"
Mamori balas menoleh ke Hiruma. "Bukan begitu," sahut Mamori. Dia lalu menghela napas. "Waktu itu kamu setuju dengan pilihanku. Kenapa sekarang jadi memaksa lagi?"
"Aku tidak bisa mengandalkan orang lain lagi."
"Kenapa kamu jadi sangat bergantung padaku?" keluh Mamori mengerutkan keningnya. "Jangan seperti anak kecil."
"Kau tahu seperti apa pekerjaanku."
"Kalau begitu aku akan carikan orang lain untuk jadi asistenmu. Yang cekatan, pintar, CAN-TIK," tekannya pada kata terakhir. "Dan yang tidak takut padamu."
"Keh... Carilah. Kalau memang ada."
.
.
Hiruma sedang melajukan kembali mobilnya menuju asrama. Hari sudah hampir menunjukkan pukul dua siang. Dia mendapat telepon dari Kurita yang tengah menunggunya di asrama.
Hiruma lalu memarkirkan mobil dan menuju ke gedung asrama. Kurita menyapa di dari ruang tunggu lobi saat melihat Hiruma masuk melewati pintu.
"Ada apa, heh ? Tumben sekali," sahut Hiruma.
"Kita kan sudah lama tidak bertemu Hiruma," balas Kurita. "Sambil minum kopi saja bagaimana?" tunjuknya ke kafe di seberang gedung.
"Keh."
Mereka lalu berjalan ke kafe disana. Kurita lalu memesan minuman sementara Hiruma duduk di dekat jendela dan menunggunya.
Tidak lama Kurita datang dengan minuman di kedua tangannya. Dia lalu memberikannya satu kepada Hiruma.
"Langsung saja katakan apa urusanmu," ujar Hiruma.
Kurita melihat ke Hiruma dan menelan kopi yang diteguknya. "Oke begini," jawabnya. "Aku ingin kamu jadi model di tokoku."
"Kau pikir aku model, sialan!"
"Cuma mengambil beberapa foto. Sekali-kali bantulah sahabatmu," keluh Kurita. Sekarang dia mempunyai usaha toko pakaian dan sepatu segala jenis olahraga.
"Memang kau sudah minta izin orang dalam?"
"Sudah," jawab Kurita. "Katanya, asal kau memakai barang yang jadi sponsor klub, tidak masalah."
"Ah sial! Aku tidak mau!" tolak Hiruma.
"Tolonglah Hiruma. Cuma kau yang bisa aku andalkan. Aku akan berikan apapun. Asal bukan yang aneh-aneh."
"Aku tidak butuh bayaran darimu."
"Aku tahu," sahutnya tersenyum. "Karena itu, apa yang kamu mau?"
Hiruma menatap Kurita sambil berpikir. Dia ingin meminta Kurita untuk membujuk Mamori. Tapi si bodoh yang satu ini pasti akan menanyainya macam-macam, pikir Hiruma. Sesaat dia lalu teringat suatu hal. "Apa kau... pernah merasa harus terus bersama seseorang dan tidak mau berpisah darinya?"
Kurita menyerup kopinya lagi. "Hm.. Pernah. Kenapa memang?"
"Apa yang kau lakukan terhadap orang itu?"
"Aku akan menikahinya tentu saja. Dia pacarku," bangga Kurita.
Hiruma menghela napas. Tentu saja Hiruma seharusnya bisa menduga jawaban Kurita. Tapi tetap saja dia bertanya.
"Kenapa kau bertanya itu Hiruma? Apa kau sudah bertemu seorang wanita?" tanya Kurita penasaran.
"Bukan urusanmu," balas Hiruma malas sambil melihat jam tangannya. "Sebentar lagi aku latihan. Ada yang mau kau bicarakan lagi?"
Kurita menggeleng. "Tapi kau mau ya?"
Hiruma berjalan meninggalkan Kurita. Kurita lalu cepat-cepat mengikutinya. "Hiruma!"
"Tidak mau," balas Hiruma.
.
.
Latihan pagi telah usai. Setelah membersihkan dirinya, Hiruma sekarang tengah bersantai di kafe asrama. Dengan laptop di atas meja, dia sedang menonton pertandingan Amefuto luar negeri yang ditayangkan semalam.
Hiruma lalu mem-pause video dan melihat ke jam tangannya. Hiruma lalu mengambil headset dan melakukan video call dengan seseorang dengan laptopnya.
Dua kali nada sambung kemudian video langsung tersambung dan muncul Mamori disana.
"Ada apa?" tanya Mamori melihat layar ponselnya disandarkan di tumpukan buku di meja kantor guru.
"Tidak ada apa-apa," jawab Hiruma.
Mamori tidak bereaksi dan melanjutkan makan siangnya.
Hiruma hanya terdiam memandangi Mamori yang sedang menikmati makannya.
"Kamu serius meneleponku hanya untuk melihatku makan, hm?" protes Mamori.
"Tidak usah bawel," balas Hiruma.
"Dasar aneh," sahutnya. Mamori lalu melihat Hiruma menyerup kopi. "Sarapan apa tadi?"
"Roti."
"Kenapa roti lagi? Makanlah yang benar."
"Cuma ada roti disini," balas Hiruma.
"Bukannya ada sarapan yang sudah disediakan?"
"Aku sudah bilang aku ingin masakanmu."
"Sudah kubilang juga kalau aku tidak sempat," pelototnya ke layar ponsel. "Sudah kumatikan dulu. Aku mau makan. Sebentar lagi bel."
Mamori memutuskan video call-nya dan kembali melanjutkan makan.
"Anezaki Sensei," panggil seseorang di depan meja Mamori.
Mamori menoleh sedikit dan tersenyum kepada Miya di depannya. "Ada apa?" tanyanya.
"Kalau aku boleh tahu, sudah berapa lama hubungan kalian?"
Mamori mengerutkan keningnya dan berpikir. "Hubungan apa?"
"Kamu dengan pacarmu itu," jawab Miya. "Sepertinya kalian sudah pacaran lama."
"Apa?" kaget Mamori. "Dia bukan pacarku," bantahnya.
Miya menatap tidak percaya. "Tapi kenapa dia selalu video call setiap jam istirahat?"
"Dia cuma kurang kerjaan," balas Mamori. Mamori melihat ponselnya berdering lagi. Dan tentu saja Hiruma yang menghubunginya. "Maaf Miya Sensei."
Miya balas mengangguk.
"Apa apa lagi?" ketus Mamori.
"Kenapa kau matikan, bodoh?"
"Aku sedang makan," kesalnya.
"Kalau begitu makan saja."
Mamori menghela napas.
"Sensei," panggil Miya lagi. Dia lalu menunjukkan kertas kepada Mamori yang tertulis bacaan.
Dia pasti sangat menyukaimu
"Tidak mungkin!" balas Mamori dan Miya tertawa.
"Apa yang tidak mungkin?" tanya Hiruma.
"Bukan apa-apa," balas Mamori cepat.
"Kau sedang bicara dengan siapa, heh?"
"Kalau kamu banyak tanya aku tutup?"
"Keh..." Hiruma lalu tidak berkata-kata lagi.
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Haai... Maaf guys, saya lupa update awal April kemarin. Tadinya mau update jumat kemarin, tapi lupa lagi. Akhirnya jadi update hari ini XD
Di chapter sebelumnya saya menulis sekitar 1500 kata. Tapi chapter ini saya menulis sampai 2000! Okee.. Memang lebih enak menulis chapter yang panjang dari pada pendek XD
Teman curhat Hiruma kali ini adalah Kurita! Biasanya saya selalu pakai Musashi. Tapi sekali-kali pakai Kurita juga cocok XD
Oke... Tidak mau panjang lebar. Yang penting review dari kalian jangan sampai lupa. Semoga kalian suka chapter ini.
Salam : De
