Chapter 5
.
.
Akhir pekan telah tiba. Pagi ini dia tengah menyiapkan sarapan untuk seseorang yang terus rewel memintanya dibuatkan makanan. Jadi sekarang lah waktu yang tepat. Mamori akan pergi ke asrama Hiruma.
Mamori mengambil dan memasukkan kartu id ke dalam tas. Dia bersiap berangkat menuju asrama.
Sesampainya disana Mamori melihat para atlet masih berlatih di lapangan. Mamori masuk dan duduk di kursi penonton. Dia tersenyum ke Hiruma saat mendapati Hiruma melihat ke arahnya.
Hiruma lalu berlari ke arah Mamori. Setelah tiba di depannya, tangan Hiruma melingkari pinggang Mamori dan menariknya ke dalam pelukannya. Hiruma menyandarkan dagunya di atas kepala Mamori dan bersantai disana.
Mamori hanya bisa terpaku dengan perlakuan Hiruma. Memang bukan satu dua kali Hiruma memeluknya. Hiruma biasa bersandar padanya saat dia lelah atau pun cedera. Tapi kali ini berbeda. Hiruma tiba-tiba saja memeluknya. Dia melakukannya dengan wajar. Dan semua itu membuat jantung Mamori berdetak kacau.
"Ada apa?" tanya Mamori berusaha menghilangkan kekakuan di dirinya. "Apa yang terjadi?"
"Entahlah," jawab Hiruma. "Melihatmu rasanya semua staminaku menghilang."
"Kalau begitu jangan melihatku. Sana kembali ke lapangan," ujarnya dan melepaskan diri dari pelukan Hiruma.
"Tunggu di kamarku saja. Disini panas," ujar Hiruma.
Mamori menyadari ke sekeliling kalau pagi ini memang begitu terik. "Aku tunggu disini saja."
Hiruma menggandeng tangan Mamori dan membawanya ke pintu keluar lapangan. "Apa susahnya mendengar omonganku sekali saja, heh?" protes Hiruma. "Tunggu di sana," ulangnya.
"Ya yaa..." sahut Mamori pasrah.
Hiruma lalu kembali ke lapangan dan Mamori berjalan menuju gedung B.
Setelah sampai di kamar Hiruma, Mamori lalu meletakkan bekal makanan di atas meja depan sofa karena memang tidak ada meja makan disana.
Mata Mamori kemudian tertuju pada laptop Hiruma dan tumpukan kertas di sebelahnya. Dia lalu meraih kertas itu dan melihatnya. Semuanya tentang rencana kegiatan Hiruma selama satu musim.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Hiruma masuk ke dalam. Seolah tidak terganggu dengan kehadiran Hiruma, Mamori masih asik membacanya, sementara Hiruma masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.
Lima menit berselang. Mamori meletakkan kertas-kertas itu kembali saat Hiruma sudah duduk di sebelahnya dan membuka kotak bekal.
"Apa semua ini yang mau dimasukkan ke website?" tanya Mamori.
Hiruma mengangguk sambil menyantap makanannya.
Mamori membuka laptop dan menyalakannya. Dia lalu membuka websitenya. Sambil mempelajari website tersebut dan kertas-kertas ditangannya. "Jadi ini harus disesuaikan dengan jadwal klub dan jadwal pribadi?"
Hiruma mengangguk lagi.
Mamori memandangi ke Hiruma dan mengamatinya beberapa saat. Hiruma yang tidak menyadari itu, masih terus melanjutkan makannya. Mamori lalu menempelkan telapak tangannya ke kening Hiruma.
"Sudah kuduga," sahut Mamori. "Kenapa tadi kamu mandi?"
"Gerah," jawab Hiruma.
"Dari kapan seperti ini?"
Hiruma hanya mengangkat bahu.
"Sekarang sedang pergantian musim. Jagalah kesehatanmu," ujarnya. "Selesai makan kamu harus minum obat. Aku akan minta ke klinik asrama."
Mamori lalu bangkit dari duduknya. Dia ingat saat masuk wilayah asrama ini, dia sempat melihat bangunan bertuliskan klinik. Jadi pasti itu adalah klinik khusus atlet Tokyo Storm. Mamori berjalan sendiri kesana, karena dia yakin Hiruma tidak mau pergi kesana hanya karena terkena demam.
Setelah mendapatkan obat dari apotek Mamori lalu segera kembali ke asrama. Dia membuka pintu dan mendapati Hiruma duduk di sofa dan sedang berkutat dengan laptopnya.
"Aku kan sudah bilang untuk istirahat," keluh Mamori.
"Kerjaanku banyak, bodoh."
"Biar aku yang kerjakan." Mamori menarik laptop dari pangkuan Hiruma dan meletakkannya di meja. Dia lalu mengambil segelas air kemudian duduk di sebelah Hiruma.
Hiruma hanya bisa menurut dan meminum obatnya. Mamori membawa gelas itu kembali ke dapur. Setelah itu, dia duduk di lantai depan meja dengan bersandar di kaki sofa.
"Aku akan kerjakan ini. Kamu tidur dan istirahat di kasur," ujar Mamori.
Hiruma tidak menurut dan ikut duduk di lantai sambil memperhatikan Mamori mengerjakan pekerjaannya. Dia mengambil bantal lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Mamori.
"Jangan pergi saat aku tidur."
.
.
Hiruma tidak tertidur lama. Satu jam kemudian dia membuka matanya. Hiruma mendongak dan tidak melihat Mamori di sebelahnya. Laptop masih menyala dan dia melihat Mamori di lorong dapur. Hiruma lalu menghela napasnya lega.
Mamori kembali dengan botol minum yang diambil dari rak lemari. Mamori duduk seraya mengecek dahi Hiruma dengan telapak tangannya.
"Lumayan," ujarnya.
"Jadilah asistenku," pinta Hiruma tiba-tiba.
Mamori menoleh sesaat lalu meneguk air botolnya.
"Kalau tidak jadilah pacarku," tambah Hiruma lagi.
Mamori terbatuk dan tersedak air minumnya sendiri.
"Oh Tuhan. Kau masih demam ternyata," sahut Mamori.
"Aku sehat dan masih bisa berpikir." balas Hiruma.
Mamori memutar tubuhnya dan sekarang dia menghadap Hiruma. "Begini Youichi. Yang kamu butuhkan itu asisten. Bukan pacar. Jangan sembarangan minta orang jadi pacarmu."
"Tapi yang kubutuhkan itu kau, bodoh. Aku tidak butuh asisten lain."
"Kenapa kamu jadi begini," keluh Mamori.
"Seumur hidup aku tidak pernah membutuhkan apapun, tapi kau membuatku membutuhkanmu," ujar Hiruma. "Dan kau, sialan, harus bertanggungjawab."
Wajah Mamori memerah. Dia lalu berdeham dan memalingkan wajahnya. Mamori mencoba kembali fokus ke layar laptop. "Kenapa jadi salahku?"
"Karena kau yang membuatku begini," balas Hiruma.
Mamori melirik tajam. "Kamu ini. Kamu bicara seperti sedang melamar seseorang. Apa kamu tidak sadar?"
"Aku hanya minta kau jadi asistenku," polosnya. "Jadi kamu mau jadi asistenku, heh?"
Mamori menoleh dengan wajah frustasinya. "Ya," jawabnya dengan nada kesal.
"Serius?"
"Iya."
"Kau akan kesini setiap hari?"
Mamori mengangkat bahu.
"Kau akan berhenti dari pekerjaanmu?" tanya Hiruma lagi.
"...," diamnya sesaat. "Akan kupikirkan."
"Kau tahu tugasku banyak. Belum lagi tugas akhirku."
"Aku tahu," balas Mamori.
"Dan kau yang akan mengerjakannya."
Mamori menghela napas. "Aku bilang aku tahu, Youichi. Kamu ini cerewet sekali."
Hiruma menopang kepalanya dengan tangan di atas meja. Dia terdiam memandangi Mamori sejenak.
Mamori melirik melihat Hiruma yang tengah memperhatikannya. "Kalau kamu begini terus, aku tidak bisa bekerja," keluhnya.
"Aku melihatmu justru agar kau bekerja dengan benar," balas Hiruma.
"Aku bisa melakukannya dengan benar. Kamu tidurlah atau cari kegiatan lain. Jangan mengangguku."
"Keh..." Hiruma bangun dan tiduran di sofa. Dia mulai menyalakan televisi.
.
.
"Maaf Anezaki Sensei. Kamu boleh berhenti, tapi sampai ada yang menggantikanmu. Karena kita tidak mungkin membiarkan kelas tidak ada guru," jelas Kepala Sekolah.
"Saya mengerti Pak Kepala," jawab Mamori. "Saya tetap mengajar sampai ada pengganti. Kalau begitu saya permisi." Mamori lalu membungkukkan tubuhnya dan keluar ruangan.
Mamori kembali ke mejanya dan mulai menyiapkan bahan ajarnya.
"Ada apa kamu ke ruangan Pak Kepala, Sensei?" tanya Miya di seberang meja.
"Aku ingin mengajukan surat berhenti," jawab Mamori.
"Berhenti? Kenapa? Apa kamu tidak betah?"
"Bukan itu," jawabnya. "Ada hal lain yang harus kukerjakan. Aku tidak bisa mengerjakan keduanya sekaligus."
"Padahal kukira kita bisa jadi teman dekat," kecewanya.
Mamori tersenyum mendengarnya. "Aku masih disini sampai ada yang menggantikanku. Lagipula kita masih bisa berhubungan kan Miya Sensei?"
"Jangan sampai kamu lupa mengundangku saat menikah dengan pacarmu nanti," balas Miya tersenyum.
"Dia bukan pacarku, Sensei," bantah Mamori.
Miya tertawa. "Apa tadi aku menyebut nama orang? Aku cuma bilang pacarmu. Karena kamu pasti akan menikah dengan pacarmu. Siapapun itu orangnya."
Mamori ikut tersenyum mendengar candaan Miya.
"Tapi kuharap kamu berjodoh dengannya," ujar Miya.
Mamori memandang bingung. "Kenapa memang?"
"Entahlah... Yang kutahu dia itu begitu mencintaimu."
Mamori hanya diam mendengarkan. Sampai Miya melanjutkan bicaranya lagi.
"Bagiku Sensei, cinta yang sebenarnya itu... Memandang dalam diam, memperhatikan dari kejauhan, dan mencari di tengah keramaian," jelasnya dan Miya tersenyum. "Dan dia sudah termasuk salah satunya."
Mamori ikut tersenyum. "Tapi kurasa dia tidak menyukaiku Sensei. Dia tidak tertarik dengan wanita."
"Maksudmu... Dia tertarik dengan laki-laki?"
Mamori tertawa mendengarnya. "Bukan begitu... Dia itu terlalu fokus dengan pekerjaannya. Dia tidak tertarik dengan yang lainnya, termasuk wanita."
"Berarti cuma kamu wanita yang ada di dekatnya?"
Mamori mengangguk sambil berpikir. "Bisa dibilang begitu."
Miya tersenyum lagi. "Itu artinya dia merasa nyaman bersamamu."
Mamori menatap bingung dan ingin bertanya lagi, namun Miya menyelanya.
"Ngomong-ngomong... Apa kamu tega meninggalkan murid-muridmu? Mereka pasti sedih."
"Yah... Aku juga sedih. Tapi aku harus membuat keputusan."
Miya mengangguk. "Ya. Semoga keputusan yang kau ambil itu yang terbaik."
.
.
Tidak perlu menunggu lama. Satu minggu kemudian pengganti Mamori telah datang. Dia lalu berpamitan dengan guru-guru di sekolahnya. Sekarang Mamori bisa fokus ke pekerjaan barunya. Yaitu sebagai asisten Hiruma.
Tidak bedanya dengan menjadi manager Saikyoudai dulu, menjadi asisten pribadi Hiruma juga sama lelahnya. Sudah tiga hari Mamori memulai pekerjaannya. Dia jadi paham, betapa Hiruma memang sangat membutuhkannya. Karena Hiruma yang tidak bisa mengurus kebutuhnnya sendiri, membuat Mamori lebih seperti pembantu di asramanya, dibanding mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan klub.
Mamori berjalan memasuki kafe asrama untuk membelikan kopi Hiruma. Dia melihat seorang yang tidak asing tersenyum menyapanya. Karina duduk di kafe bersama dengan seorang atlet yang Mamori duga adalah Sadana Akira.
Mamori memesan dua buah minuman dan beberapa camilan. Sambil menunggu, Mamori duduk di meja sebelah meja pasangan Sanada tersebut.
"Apa kabar Anezaki-san. Apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku membeli kopi untuk Youichi," jawab Mamori.
Akira menyadari nama kecil yang digunakan Mamori untuk memanggil Hiruma. "Kamu sudah lama mengenalnya?" tanya Akira.
Mamori mengangguk. "Sudah dari SMA. Aku manager di klubnya dulu."
Karina membuka mulutnya teringat sesuatu. "Aaah.. Aku ingat. Aku pernah membaca namamu di koran. Kamu disebut-sebut akan ikut Hiruma-san sebagai asisten. Ternyata benar."
"Aku kira Hiruma tipe mandiri. Tapi dia sampai membawa mantan managernya kesini."
Karina melirik sang suami. "Tidak ada bedanya denganmu. Kau juga sampai membawa istrimu sendiri jadi asistenmu." Karina lalu kembali ke Mamori. "Ngomong-ngomong. Apa kamu ikut ke pelatihan besok?"
Mamori berpikir mengingat jadwal Hiruma yang memang ada pelatihan di Osaka besok. "Entahlah. Youichi tidak bilang apa-apa."
"Tapi yang pasti kamu harus ikut. Karena para atlet akan sibuk latihan."
"Aku akan tanyakan padanya nanti," ujar Mamori.
Pesanan Mamori sudah dipanggil. Dia lalu permisi untuk mengambil pesanan dan kembali ke asrama.
.
.
Mamori membuka pintu kamar dan mendapati Hiruma bersantai dengan bersandar di rak meja di lorong dapur.
"Lama sekali," sahut Hiruma.
"Lama apanya," balas Mamori. Dia melepas sepatu dan meletakkan kopi di sebelah Hiruma.
Hiruma lalu mengambil menyerup kopi tersebut. "Apa kau senggang siang ini?" tanya Hiruma.
"Kalau pun aku punya acara, kamu pun pasti sudah tahu," jawab Mamori, sudah berdiri di depan Hiruma.
Mamori mengambil piring di laci meja tepat di atas kepala Hiruma. Dia lalu berjinjit di depan Hiruma sambil berpegangan di bahunya. Sementara dengan spontan Hiruma melingkari pinggang Mamori agar tidak terjatuh. Hiruma lalu menyerup kopinya lagi dengan tangannya yang bebas.
Mamori berhasil meraih piring tersebut dan meletakkannya di dekat kopi. Sekarang Mamori menyadari posisi mereka dan menunduk menatap Hiruma. Hiruma dengan wajah polosnya hanya mendongak ke Mamori dan memandangi wajahnya. Wajah mereka begitu dekat sampai Mamori bisa mencium aroma sampo yang begitu jelas dari rambut Hiruma.
Dengan sadarnya, Hiruma mendekatkan bibir mereka dan mencium Mamori. Beberapa detik kemudian Mamori melepaskan ciumannya dan menatap mata Hiruma.
"Mulutmu rasa kopi," sahutnya dengan wajar dan melepaskan diri dari Hiruma. Mamori lalu membawa makanan dan piring ke dalam.
Hiruma hanya terdiam menunduk dan menggarukkan kepala, heran dengan apa yang telah dilakukannya.
.
.
"Aku bertemu Hiruma di gedung fakultas tadi. Dan bisa menduga kalau kamu juga ada di sini Anezaki-san," sahut Akaba, ikut duduk di bangku samping lapangan.
Mamori menoleh sesaat dan tersenyum kepada Akaba. "Hai Akaba-san."
Akaba balas tersenyum. "Kudengar kamu sudah jadi asistennya. Apa benar?"
"Yah... Begitulah. Dia terus memaksa."
"Dan kamu pun tidak tega meninggalkannya."
Mamori menyilangkan kakinya dan bersandar dengan santai. "Apa menurutmu dia sangat bergantung padaku?"
"Oh jelas," jawab Akaba langsung. "Dia itu orang pertama yang selalu bertanya dimana kamu setiap kamu menghilang dari pandangannya."
Mamori tertawa. "Kamu berlebihan."
"Yah... Mungkin aku berlebihan. Tapi dia tidak pernah bertanya apa pun kepadaku kecuali saat dia mencarimu," ceritanya. "Aku heran kenapa kalian tidak pacaran saja."
"Dia pernah memintaku," jawab Mamori tanpa sadar.
Akaba menoleh kaget dan melihat Mamori juga sama kagetnya dengan jawabannya sendiri. "Dia pernah memintamu jadi pacarnya?"
"Bukan... Maksudku bukan itu. Dia cuma bercanda dan melantur saja," bantahnya panik. Mamori melihat Hiruma berjalan memasuki lapangan. "Sudah jangan membicarakannya lagi."
"Ayo pulang," ajak Hiruma.
Mamori bangun dari duduknya. "Sampai nanti Akaba-san."
Akaba tersenyum membalasnya. "Sampai nanti Anezaki-san."
Mamori lalu berjalan mengikuti Hiruma di belakangnya. Mereka masuk ke dalam mobil. Hiruma mulai menyalakan mesinnya. "Kau tahu besok akan ada pelatihan?"
Mamori mengangguk.
"Besok bawa baju ganti untuk tiga hari. Datanglah lebih awal karena aku belum berkemas," ujar Hiruma.
Mamori mengerutkan keningnya kesal. Dia heran kenapa Hiruma tidak menyuruhnya berkemas sedari tadi. "Oke," balas Mamori menyerah.
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Holaa... Untung tidak lupa update jumat ini. Semoga kalian suka walau hubungan mereka belum ada perkembangan.
Oke... Seandainya respon kalian banyak, saya akan update 2 minggu lagi. Tapi kalau sedikit yang review, saya akan update bulan depan XD jadi ditunggu feedback dari kalian. Minimal 15 review. Terima kasih.
So.. Jangan lupa review.
Salam : De
