Warning ! out of Character Hiruma!
.
.
Chapter 6
.
.
Perjalan ke Osaka memakan waktu lima jam. Hari hampir sore saat mereka sampai. Mamori mengikuti para pemain dan asisten yang lainnya ke dalan hotel. Dia membawa satu koper, satu tas sedang yang di taruh di atasnya, dan tas gendong kecil di punggungnya.
"Apa tidak berat Anezaki-san?" tanya Soma, pria yang juga menjadi asisten dari kakaknya yang seorang atlet.
"Tidak apa-apa Soma-san. Ini tidak seberat kelihatannya," jawab Mamori tersenyum.
Mereka semua berkumpul di lobi hotel. Asisten tim tengah memberikan kunci kamar kepada para pemain. Mamori tidak begitu memikirkannya, karena dia juga pasti akan sekamar dengan asisten lain, yang tentunya perempuan.
"Berikan aku satu kamar dengan asisten sialanku."
Mamori mendengar Hiruma berkata pada asisten tim.
Sang Asisten tersedak mendengar ucapan Hiruma. "Hiruma-san... Dia asistenmu, bukan istrimu."
"Pakaianku jadi satu dengan kopernya. Jadi dia harus bersamaku," balas Hiruma.
"Tapi asistenmu pasti akan tidak nyaman."
"Sudah berikan saja, bodoh. Dia sudah biasa tidur denganku," jengkel Hiruma.
Daisuke, mantan kapten Saikyoudai menepuk pundak Mamori. "Hiruma... Jangan buat orang lain salah paham. Kau membuat Anezaki malu."
Hiruma menoleh ke Mamori yang memalingkan tubuhnya. Dia lalu segera mengambil kunci itu. Atlet dan asisten yang lain pun sudah pergi ke menuju kamar masing. Hiruma lalu menghampiri Mamori dan menarik kopernya.
"Ayo," ajak Hiruma.
Mamori mengikuti Hiruma dengan enggan. Mereka naik ke lift menuju lantai enam. Mamori berdiri di belakang Hiruma, yang membuat Hiruma bertanya-tanya mengapa Mamori diam saja.
Hiruma masuk ke dalam kamar diikuti dengan Mamori. Pintu tertutup dan Hiruma langsung berbalik berdiri di depan Mamori. Mamori menghentikan langkahnya dan mendongak ke Hiruma.
"Ada apa?" tanya Mamori, masih berdiam di posisinya dan menatap Hiruma.
"Kenapa kau diam saja, heh?"
Mamori mengerutkan dahinya. "Kamu mau aku teriak-teriak?" balasnya, dengan mudah Mamori menyingkirkan tubuh Hiruma dan berjalan melewatinya.
Beberapa langkah ke depan Mamori terhenti lagi. Dia hanya menatap sesuatu di depannya dan menghela napas. "Kenapa kamu ambil kamar yang cuma ada satu ranjang?" protes Mamori.
"Kenapa kau marah-marah? Aku hanya asal ambil kunci," balas Hiruma.
"Makanya berpikirlah sebelum bertindak!" kesal Mamori, yang bisa membuat Hiruma berhenti melawan.
"Kau ini... Begini saja jadi masalah. Kasur ini cukup besar. Kau bicara seperti tidak pernah tidur bersama saja."
Mamori melotot dan menatap kesal ke Hiruma. "Apa kamu bisa sedikit lebih serius? Apa kamu tidak bisa peka sedikit saja terhadapku? Apa kamu tidak pernah berpikir apa yang orang lain pikirkan dengan kata-katamu di lobi tadi?"
Hiruma hanya terdiam kaku mendengar lontaran kemarahan Mamori. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Mamori akan meledak seperti ini.
"Asal kamu tahu Youichi. Aku berat untuk jadi asistenmu terus menerus," lanjut Mamori lagi. "Aku ingin punya kehidupanku sendiri. Terlepas dari amefuto dan darimu. Teman-temanku bilang jika aku terus bersamamu aku tidak akan punya pacar. Tapi kamu tetap memaksaku untuk terus bersamamu. Kalau seperti ini terus, aku tidak akan bisa menikah. Apa kamu sadar itu!?"
Lagi-lagi Hiruma dibuat tidak bisa berkata-kata. Selama ini dia hanya melihat Mamori yang selalu bicara mewakili orang lain. Tapi kali ini, Mamori berbicara untuk dirinya sendiri.
"Kamu sering ganti baju seenaknya, kamu memintaku untuk menginap. Kamu bahkan sering kali memelukku. Apa kamu sadar kalau aku ini perempuan? Apa kamu anggap aku ini teman lelakimu dan kamu bisa seenaknya?"
Diburu pertanyaan seperti itu hanya membuat Hiruma makin pusing dan bingung untuk menjawab "Kupikir kamu butuh untuk menenangkan pikiranmu. Aku akan keluar sebentar," sahut Hiruma, menyadari kalau dia tidak punya kata-kata untuk menanggapi kemarahan Mamori.
Hiruma lalu keluar kamar dan meninggalkan Mamori sendirian.
.
.
Hiruma melihat Mamori sedang menyantap makan malamnya di restoran hotel. Seumur hidupnya baru kali ini Hiruma merasa ngeri terhadap seseorang. Entah ini yang dibilang takut atau bukan, tapi saat ini Hiruma tidak berani mendekati Mamori atau pun bertemu mata dengannya.
Hiruma akhirnya duduk di meja panjang bersama atlet yang lain. Mereka berbincang banyak hal. Bukan hal mengenai klub tentu saja. Hiruma hanya sekedar mendengarkan rekan-rekannya berbincang mengenai acara televisi, artis-artis, bahkan lelucon tidak penting sekalipun.
Sesekali Hiruma melirik ke Mamori yang sedang berbincang dengan rekan asistennya sambil tersenyum. Entah apa senyuman itu masih tetap ada jika Hiruma menyapanya. Tapi Hiruma lebih memilih memandangi senyuman itu dari jauh daripada harus mendekatinya dan mendapati muka masam.
Hiruma tersentak saat dirinya kedapatan sedang memandangi Mamori. Mamori hanya menatap sekilas kemudian kembali tidak peduli lagi. Hiruma pun menghela napas frustasi.
"Kau sudah minta maaf?" tanya Daisuke yang duduk di sebelah Hiruma.
Hiruma menoleh dan mengerutkan dahinya bingung.
"Begini Hiruma... Karena sepertinya kau tidak menyadari kesalahanmu, aku akan bilang kalau kau sudah melakukan kesalahan."
"Aku tahu," balas Hiruma.
"Aku sarankan kepadamu, kalau kau sangat tidak ingin berpisah dari Anezaki, jadikan dia pacarmu. Kalau perlu istrimu."
Hiruma kembali lagi mengerutkan keningnya. Mendengar nasihat dari mantan seniornya di Saikyoudai ini hanya membuat Hiruma pusing kepala.
"Apa kau tidak punya saran lain, heh?" keluh Hiruma.
"Saran lain?" balas Daisuke. "Kalau begitu berhentilah bersikap protektif. Kau bertingkah seolah-olah dia pacarmu. Kalau kau begitu terus, bisa-bisa Anezaki tidak akan pernah menikah. Apa kau mau bertanggung jawab?" lanjutnya berterus terang.
"Kalau begitu aku akan menikahinya," balas Hiruma.
"Oh Tuhan, Hiruma... Apa kau bisa berpikir serius?"
Kekesalan seolah sudah menanjak naik ke kepala Hiruma. Dia pun menggebrak mejanya. "Dia memintaku untuk serius," kesalnya sambil menunjuk ke Mamori. "kau juga sama. Kau pikir aku selalu main-main, sialan!"
Dengan kesal Hiruma meninggalkan mejanya dan keluar dari restoran. Mamori yang sama kagetnya dengan yang lain melihat Hiruma yang berjalan keluar. Mamori mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang terjadi. Tanpa berpikir dua kali, Mamori lalu bangun dari duduknya dan keluar menyusul Hiruma.
.
.
Dengan kesal Hiruma meninggalkan mejanya dan keluar dari restoran. Mamori yang sama kagetnya dengan yang lain melihat Hiruma yang berjalan keluar. Mamori mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang terjadi. Tanpa berpikir dua kali, Mamori lalu bangun dari duduknya dan keluar menyusul Hiruma.
Mamori berhasil menyusul Hiruma sampai ke luar hotel. Mamori mengatur napasnya yang tersengal. Sementara Hiruma menengadahkan kepala mencoba mendinginkan dirinya.
Hiruma berbalik dan kini menghadap ke Mamori.
"Aku tanya padamu," ujar Hiruma. "Apa kau pernah lihat aku tidak serius, sialan?"
Mamori hanya terdiam tidak bisa berkata-kata.
"Aku serius saat aku bilang aku butuh kamu. Aku juga serius saat aku memintamu jadi pacarku," lanjutnya.
"Tenang Youichi..." balas Mamori.
"Kaulah orang yang selalu menganggapku main-main."
Mamori mendekat dan berhasil merengkuh Hiruma ke dalam pelukannya. Dia mengelus kepala Hiruma, berusaha untuk menenangkannya.
"Aku bukan menganggapmu main-main," sahut Mamori. "Tapi apa kamu sudah memikirkan baik-baik apa yang kamu katakan."
Hiruma memejamkan matanya dan balas memeluk Mamori erat.
"Aku tanya... Kalau kamu memintaku jadi pacarmu, apa kamu mencintaiku?"
"Persetan dengan cinta. Aku tidak peduli," balas Hiruma.
Mamori melepaskan pelukannya dengan lengan Hiruma yang masih melingkari pinggangnya. "Kalau begitu kenapa memintaku untuk jadi pacarmu?"
Hiruma mengangkat bahunya. "Si gendut yang bilang begitu."
"Kurita-kun?"
"Yah..."
Mamori lalu melepaskan diri dari Hiruma. "Okee... Aku tidak paham lagi dengan apa yang kamu pikirkan. Tapi satu hal yang aku mau, jangan pernah bicarakan soal pacaran lagi. Mengerti?"
"Kenapa?" tanya Hiruma, benar-benar polos, menarik Mamori dan merangkul pinggangnya lagi.
"Karena itu tidak wajar. Kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu ingin aku jadi pacarmu?"
Hiruma terdiam. Menatap dalam-dalam mata Mamori sambil berpikir.
"Oke... Kurasa kau memang tidak paham, bodoh," sahut Hiruma. "Kau tadi sore bilang kau takut tidak bisa menikah jika terus bersamaku. Benar, heh?"
Mamori mengangguk.
"Aku sudah tahu itu," lanjut Hiruma.
"Lalu?"
"Aku akan menikahimu. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi sebelum itu, kau harus jadi pacarku dulu."
Mamori memegangi kepalanya pusing. Dia tidak habis pikir dengan Hiruma. "Kamu sungguh tidak masuk akal," keluh Mamori.
"Itu adalah hal paling masuk akal yang pernah aku pikirkan." balas Hiruma.
"Aku... Tidak... Mau," balas Mamori dan berhasil melepaskan dirinya lagi. Dia lalu berbalik badan dan berjalan meninggalkan Hiruma.
Hiruma mengikuti Mamori di belakang. "Kenapa, heh?"
"Kalau alasanmu ingin menikah denganku karena kasihan. Tidak, terima kasih."
"Lalu kau mau aku bagaimana?" balas Hiruma lagi.
Mamori hanya balas mengangkat bahu.
"Keh... Kalau kau ingin aku mencintaimu. Aku akan melakukannya."
Mamori sontak berbalik badan dan mengerutkan keningnya frustasi. "Bagaimana kamu bisa mencintaiku, Youichi? Kamu jelas tidak paham tentang cinta. Ditambah aku tidak mencintaimu, jadi yahh... Lupakan soal pernikahan." Mamori lalu melanjutkan jalannya lagi.
Hiruma lalu meraih tangan Mamori dan berjalan beriringan bersamanya. "Aku akan membuatmu mencintaiku."
"Aku bilang lupakan."
"Aku bisa."
"Lupakan."
.
.
Sudah dari pagi Hiruma meninggalkan kamar hotel menuju tempat latihan. Latihan gabungan Hiruma berlangsung selama empat jam. Setelah itu jadwal mereka untuk makan siang setelah beristirahat untuk pertandingan uji coba nanti malam.
Hiruma melihat Mamori di dalam kamar hotel duduk di atas tempat tidur sambil menonton televisi. Dia lalu menghampirinya dan ikut duduk di sebelahnya. Hiruma duduk sambil membelenggu Mamori dan bergelayut di punggungnya.
"Mandi dulu.. Kau bau," sahut Mamori.
Hiruma yang mendengarkan Mamori namun tidak menghiraukan ucapannya, masih tetap menempel padanya dan menyandarkan kepala di pundaknya.
"Bajumu basah. Nanti aku ikut bau!" kesal Mamori.
"Keh...," sahut Hiruma, lalu dengan cepat mengecup pipi Mamori.
Mamori terbelalak dengan wajah merahnya. Sangat keheranan dengan tingkah Hiruma.
Lima belas menit Hiruma mandi. Dia lalu keluar kamar mandi dengan kaos oblong putih dan celana panjangnya. Hiruma berjalan kembali ke tempat tidur dan memosisikan diri dengan bersandar disana. Mamori menoleh ke belakang dengan tatapan curiga, kalau-kalau Hiruma berbuat hal-hal yang aneh lagi padanya.
Tepat seperti dugaannya. Setelah Mamori berpaling ke televisi kembali, Hiruma menarik dan memeluknya dengan nyaman dari belakang. Hiruma membawa Mamori ikut bersandar padanya.
Mamori berusaha menahan debaran jantungnya. Dia berharap Hiruma tidak bisa mendengarnya. "Kenapa kamu begini, Youichi."
"Aku baca di internet, salah satu cara membuat wanita jatuh cinta adalah dengan membuatnya merasa nyaman."
"Aku sudah cukup nyaman bersamamu. Jadi berhenti melakukan hal-hal yang aneh."
"Sst..." cegah Hiruma. "Aku lelah berdebat."
Mamori hanya menghela napas pasrah. "Sampai kapan mau begini?"
"Selamanya."
Mamori mendadak menoleh ke Hiruma karena mendapati jawaban yang asal darinya. Kini Mamori duduk memutar dan berhadapan dengan Hiruma. Dia lalu memangku tangan di dadanya.
"Begini Youichi. Pertama. Kamu anggap aku ini apa?"
Beberapa detik Hiruma terdiam memandang Mamori. Mencerna arah pertanyaannya. "Asistenku?"
"Berapa kali aku harus bertanya, Apa wajar kamu memelukku?""
"Aku ingin melakukannya."
"Kenapa?"
Hiruma mengangkat bahunya. "Sudah jangan tanya yang macam-macam lagi." Hiruma lalu berbaring dan membelakangi Mamori. "Bangunkan aku saat makan siang."
.
.
Malam hari pertandingan berlangsung dengan baik. Tokyo Storm memenangkan pertandingan sengit dengan perbedaan skor yang tipis. Para pemain saling bersalaman dan penonton menyorakkan kemenangan tim-nya.
Mamori tersenyum ke arah Hiruma yang melihatnya. Hiruma balas tersenyum kepadanya. Mamori lalu turun bersama teman asistennya dan menunggu pemain untuk masuk ke dalam ruangan. Sambil mengobrol membicarakan pertandingan, para pemain berjalan melewati lorong dan sampai pada ruang ganti pemain.
Mamori menunggu di luar dan beberapa menit kemudian Hiruma keluar ruangan. Hiruma menyampirkan handuk ke pundak Mamori dan menyerahkan botol minum kepadanya. Sementara tas jinjing masih tetap dibawa Hiruma. Mereka pun berjalan bersama para atlet lain kembali ke bis untuk menuju hotel.
.
.
Selesai membersihkan dirinya. Mamori melihat Hiruma merebahkan dirinya di sofa.
"tidurlah di kasur. Biar aku di sofa," sahut Mamori yang sedang merapikan barang bawaannya karena besok mereka akan kembali ke Tokyo.
"Di internet bilang, cara lainnya untuk membuat wanita jatuh cinta adalah dengan mengalah padanya."
Mamori menatap Hiruma dengan sindirannya. "Kamu? Mengalah padaku, Youichi?" ujarnya lalu tertawa. "Apa lagi yang dibilang di internet?" tanyanya lagi. Mamori lalu menutup tasnya dan selesai berbenah untuk hari ini.
"Aku harus sering membuatmu tertawa," jawab Hiruma.
Mamori tersenyum menahan tawanya. Dia lalu menghampiri Hiruma dan menepuk kakinya, meminta Hiruma untuk bangun. Mamori lalu duduk menghadap ke Hiruma.
"Kamu serius bisa membuatku tertawa?" ledeknya.
"Aku baru saja melakukannya, bodoh."
Mamori tertawa mendengarnya.
Hiruma hanya memandangi Mamori tertawa dan dia dibuat tersenyum melihatnya.
"Aku punya pertanyaan," sahut Mamori. "Kalau suatu hari aku jatuh cinta padamu. Apa kamu akan menyukaiku?"
"Entahlah," jawab Hiruma.
Senyum Mamori lambat laun pudar.
Hiruma mengamati perubahan wajah Mamori. Dirinya terseyum. "Kau mau aku menyukaimu?"
Mamori mendongak menatap bingung ke Hiruma.
"Apa selama ini kurang jelas, heh?" lanjut Hiruma lagi.
Hiruma lalu mendekatkan tubuhnya dan mendekap lembut Mamori. Mamori hanya bisa terdiam dan merasakan debaran jantung Hiruma di telinganya. Hiruma mencium ujung kepala Mamori sambil mengusap lembut rambutnya.
"Kau pikir untuk apa aku bersusah payah meminta seorang wanita untuk bersamaku kalau aku tidak menyukainya?"
Mamori melingkarkan lengannya ke pinggang Hiruma. Berusaha memberanikan diri untuk membalas pelukannya.
"Kenapa tidak kamu katakan dengan jelas?" tanya Mamori.
"Kau tahu aku tidak terbiasa mengatakannya," jawab Hiruma dan melepaskan pelukannya. "Kalau kau memelukku seperti ini terus, aku tidak akan bisa tidur."
Mamori menunduk menahan rona merah di wajahnya.
"Sekarang tidurlah. Biar aku yang di sofa," ujar Hiruma.
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Oke guys... Terima kasih atas 18 reviews nya!
Sesuai janji saya update 2 minggu lagi. Ternyata saya berhasil memancing para silent readers untuk berkomentar XD
Gimana? Gimana? Greget tidak chapter ini? Sudah mulai ada kemajuan ya...
Sedikit spoiler... Next chapter itu favorit saya. Hiruma akan melakukan sesuatu XD. Jadi kalau mau cepat update, seperti biasa feedbacknya dulu... Karena saya juga mau liat seberapa antusias kalian menunggu cerita saya. Semakin kalian rajin review, semakin rajin juga saya untuk menulis.
15 reviews = update 2 minggu lagi
25 reviews = update minggu depan
Ayoo pilih yang mana? Ga apa-apa maksa dikit. Biar ramai fandom ini XD
Oke guys... Ditunggu review-nya..
Salam : De
