Hai ! Siapa yang nunggu-nunggu update-an nih ?

Oke.. Untuk yang sudah bersabar...

This is...

.

.

Chapter 7

.

.

Hari-hari berlangsung dengan normal. Mamori yang sibuk mengurus segala keperluan Hiruma, dan Hiruma yang sibuk berlatih. Mamori pun menyempatkan diri melihat situasi Saikyoudai dan menyapa teman-temannya.

Mamori melihat junior-juniornya berlatih dengan semangat. Dia tersenyum kepada mereka dan menyemangatinya. Mamori lalu berjalan ke arah Akaba yang tengah mengawasi latihan mereka.

"Semua lancar Akaba-san?" tanya Mamori dan berdiri di sebelah Akaba.

Akaba tersenyum dan mengangguk. Dia kemudian teringat sesuatu dan mengambil ponselnya yang dia letakkan di pinggir lapangan.

"Kemari sebentar Anezaki-san."

Mamori pun menurut dan duduk di sebelah Akaba. "Ada apa?"

"Kau sudah baca berita?" tanya Akaba.

Mamori menatap kebingungan. Akaba kemudian menunjukkan ponselnya ke Mamori.

"Kau masuk berita Anezaki-san."

Mamori menerima ponsel yang diberikan Akaba. Dia lalu membaca dengan seksama berita tersebut. Berita yang memuat dirinya dan Hiruma, serta salah seorang artis yang cukup terkenal.

"Kenapa aku bisa ada di berita ini?" tanya Mamori kebingungan.

"Justru aku yang bertanya padamu," balas Akaba. "Memang kamu tidak tahu kalau Arisawa itu tengah diberitakan kalau pria idamannya adalah Hiruma?"

Mamori menggeleng dengan ragu. Dia memang tidak tahu sama sekali, ditambah kebingungannya mengapa dirinya ikut disangkut pautkan dengan berita ini. Mamori sebagai asisten Hiruma, yang seharusnya tahu lebih dulu mengenai berita itu, malah kecolongan dan tahu dari orang lain. Ditambah tidak ada pembicaraan di klun yang mengungkit berita itu.

Mamori lalu melanjutkan membaca berita itu lagi. Di berita itu terlihat foto Hiruma yang tengah berpelukan dengan Mamori. Foto saat mereka di Osaka beberapa hari lalu.

"Yang kutahu, belakangan ini Hiruma selalu menjadi pemberitaan. Terutama soal si Arisawa itu."

Mamori mengernyitkan dahinya. "Apa-apan ini? Kenapa aku yang disebut orang ketiga?" protesnya membaca berita tersebut. "Sudah jelas aku yang sudah lama mengenalnya."

Akaba tertawa dan mengangkat bahunya lagi. "Tentu saja media lebih membela Arisawa, Anezaki-san."

"Sudahlah. Aku tidak peduli," ujarnya lalu menyerahkan ponsel Akaba.

.

.

Hiruma sampai di lantai tiga ruang manajer. Dia langsung masuk ke dalam dan melihat manajer di kursinya.

"Ada apa memanggilku?" tanya Hiruma dan duduk berhadapan di depan meja manajer.

Sang Manajer memutar laptopnya dan menunjukkan sesuatu disana. Hiruma tidak bereaksi melihatnya. Karena tentu dia sudah tahu apa itu.

"Kurasa kau sudah membacanya."

"Yah... Tentu saja," balas Hiruma.

Sang Manajer menghela napas. "Aku tidak melarangmu berpacaran dengan asistenmu Hiruma. Aku cuma tidak ingin berita ini menjadi skandal."

"Tidak akan," jawab Hiruma.

"Ngomong-ngomong," ujar manajer lagi. "Kapan kau pernah bertemu Arisawa Mayu?"

"Aku belum pernah bertemu dengannya."

"Aku tidak menyangka kau yang urakan begini populer di kalangan artis."

Hiruma memamerkan giginya.

"Jadi kau pilih Arisawa atau asistenmu?" tanya manajer penasaran.

Hiruma tertawa kecil. "Pertanyaan macam apa itu."

"Aku serius."

"Menurutmu?" balas Hiruma.

Sang Manajer melihat ke laptopnya kembali. "Sudah pasti Arisawa."

"Keh... Dia buatmu. Aku pilih asisten sialanku," jawab Hiruma. "Ada yang mau ditanyakan lagi, heh?"

"Sejak kapan kau berpacaran dengan asistenmu?" tanyanya lagi.

"Aku tidak berpacaran dengannya."

Manajer mengerutkan dahinya kebingungan. "Lantas kenapa kalian berpelukan seperti ini?"

Hiruma mengangkat bahu. "Aku biasa memeluknya."

"Oh Tuhan, Hiruma..." keluhnya. "Sebentar... Aku dengar gosip di klub kalau kalian juga sering tidur bersama!?"

Hiruma berpikir sejenak. "Yah... Memang benar."

"Tidur bersama dalam arti berhubungan atau hanya tidur satu ranjang!?"

"Yang kedua."

Sang Manajer memijat keningnya frustasi dengan tingkah atletnya ini. "Tetap saja dua-duanya tidak boleh," kesalnya. "Kalau kau ingin melakukan semua itu, segera nikahi dia."

"Aku memang berniat melakukannya. Tapi dia terus menolak."

Manajer menghela napas dan terus-terusan menggelengkan kepalanya. "Kau membuat kepalaku mau pecah."

"Apa mau kubantu biar cepat?" candanya.

"Intinya. Aku tidak peduli kau mau pacaran dengan asistenmu atau mau menikahinya. Aku cuma tidak ingin media menjadikannya skandal. Kau paham? Dan jaga omonganmu itu. Apa lagi saat kau bilang 'biasa tidur bersama asistenmu'. Kau cuma akan buat senang wartawan kalau mereka sampai mendengarnya, mengerti?"

"Yah yah... Aku juga tidak peduli mau dijadikan skandal atau apa." balas Hiruma memamerkan senyum khasnya. Dia lalu bangun dari duduknya dan keluar ruangan.

.

.

Mamori sedang berbincang santai dengan Sachiko di pinggir lapangan saat para atlet sedang beristirahat. Sesaat telepon berbunyi dan Mamori mengambilnya dari dalam tas.

"Sebentar Sachiko-san. Aku angkat telepon dulu."

Sachiko menjawab dengan anggukan kepala.

"Halo," sapa Mamori.

"Halo. Dengan Asisten Anezaki?"

Mamori menjawab dengan ragu-ragu "Ya benar..."

"Saya Sato dari Perusahaan X. Saya ingin menawarkan Atlet Hiruma untuk jadi bintang iklan Produk minuman berenergi."

Mamori mendengarkannya dan menganggukan kepalanya. "Lalu?"

"Apa anda punya waktu?"

Mamori melihat ke jam tangannya. "Aku sedang di kampus Saikyoudai sekarang. Kita bisa bertemu di kafe seberang."

"Baiklah. Tiga puluh menit saya sampai."

Mamori lalu menutup teleponnya. Dia lalu berpamitan dengan Sachiko dan anggota klub Saikyoudai lainnya. Mamori lalu berjalan kaki menuju gerbang utama untuk ke kafe di seberang.

.

.

Mamori membaca proposal yang diserahkan Sato kepadanya. Dia membaca setiap detailnya. Sampai pada dia membaca tentang nama model iklan yang akan syuting dengan Hiruma.

"Arisawa Mayu?" tanya Mamori.

Sato meletakkan kopinya dan menganggukan kepala. "Ya. Namanya sedang naik karena drama yang dibintanginya saat ini," jawabnya. Dia lalu teringat hal saat melihat Mamori. "Ah ya.. Anda tidak keberatan kan? Karena kudengar kabar kalau kalian ada hubungan khusus?"

Mamori tersenyum. "Tidak. Kami cuma teman lama." Dia lalu melanjutkan membacanya lagi. "Tapi kurasa Youichi tidak bisa berakting di depan kamera. Aku tidak yakin dia mau melakukannya."

"Tenang saja Anezaki-san. Hiruma-san hanya akting berlari dan disana akan ditemani oleh Arisawa-san. Dia tidak perlu bicara apa-apa."

"Tapi aku tidak jamin dia mau menerima tawaran iklan ini."

Sato tersenyum. "Bujuklah dia Anezaki-san... Saya harap dia mau dan kami yakin produk kami akan laris di pasaran. Detail kontraknya sudah tertulis semua disitu."

"Ya. Saya akan coba bicara dengannya nanti."

Sato lalu mengeluarkan kartu namanya. "Kabari saya segera. Terima kasih Anezaki-san."

.

.

Esok menjelang siang hari, Mamori pergi ke asrama dan melihat Hiruma sedang berlatih di lapangan. Mamori berdiri di pinggir lapangan dan mendapatkan Hiruma menyadari kehadirannya. Mamori lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.

Mamori menggerakkan tangannya dan menggunakan kode rahasia mereka yang mengatakan kalau dia akan menunggunya di kamar. Hiruma pun balas tersenyum dan menganggukan kepalanya. Mamori lalu meninggalkan lapangan dan menuju gedung asrama.

"Kalian masih melakukannya?" tanya Daisuke yang berlari kecil melewati rintangan bersama Hiruma di sebelahnya.

"Yah... Kenapa?" tanya Hiruma.

"Tidak apa-apa. Hanya saja kupikir kalian begitu romantis karena punya isyarat yang hanya dimengerti kalian sendiri," cengirnya. "Aku tidak menyangka kau bisa melakukan yang romantis begitu Hiruma."

Mereka selesai bersamaan dan berdiri di belakang barisan menunggu giliran. "Kau baca berita tentangku, heh?" tanya Hiruma tiba-tiba.

Daisuke mengangguk. "Aku heran kenapa kau sering sekali memeluk Anezaki. Aku sudah sering memergokimu beberapa kali sejak kuliah dulu."

"Apa salah?"

"Tidak salah sebenarnya... Yang salah kalau kau tidak punya perasaan padanya dan membuat Anezaki salah paham. Terlebih kalau orang lain yang melihat juga bisa salah paham. Seperti yang di berita itu."

"Aku tidak mengerti kenapa harus serumit itu," balas Hiruma.

Daisuke mengernyitkan keningnya bingung dengan perkataan Hiruma. "Maksudmu?"

"Aku hanya memeluknya. Aku nyaman bersama. Kenapa harus selalu melibatkan perasaan. Aku memintanya jadi pacarku. Tapi dia menolak karena dia bilang aku tidak mencintainya. Padahal jelas aku ingin bersamanya."

Daisuke terheran-heran melihat juniornya yang begitu jujur bercerita kepadanya. Dia lalu tertawa kecil dan bertanya. "Apa kau pernah jatuh cinta, Hiruma?"

"Lagi-lagi pertanyaan tentang itu. Aku tidak peduli."

"Begini Hiruma. Aku punya pacar. Aku ingin memeluknya setiap hari. Aku ingin selalu bersamanya, ingin terus melihatnya, dan aku sangat membutuhkannya," jelas Daisuke.

Hiruma mencermati perkataan Daisuke. "Itulah yang pernah kubilang padanya."

"Kau juga bilang kau mencintainya?" lanjut Daisuke lagi.

Hiruma menggeleng.

"Katakan kau mencintainya Hiruma. Bukalah matamu lebar-lebar. Apa perlu semua orang bilang kamu mencintainya baru kamu akan sadar?" balasnya. "Kita semua disini tahu kalau kamu menyukai Anezaki tapi kamu begitu bodoh untuk menyadarinya."

Hiruma tersenyum memamerkan giginya. "Jadi aku harus menyatakan cintaku dulu baru dia akan percaya?"

"Tepat. Meminta wanita jadi pacarmu itu ada urutannya. Nyatakan perasaanmu, jadikan dia pacarmu, peluk dan cium dia sesukamu. Kalau cocok, jadikan dia istrimu."

"Berarti selama ini urutanku salah," balas Hiruma.

Daisuke terdiam memikirkan pernyataan Hiruma barusan. "Salah? Apa... Kau pernah memintanya jadi istrimu?"

Hiruma mengangguk.

"Jangan bilang kau juga pernah menciumnya?"

"Yahh..."

"Oh Tuhan, Hiruma. Kau benar-benar gila."

"Yah.. Kupikir itu biasa."

"Sudahlah. Aku pusing dengan kelakuanmu," keluhnya. "Kau bercerita begini, tapi apa kau yakin Anezaki mau menerimamu? Apa dia punya perasaan kepadamu?"

Hiruma mengangkat bahunya. "Entahlah."

"Pastikan dulu perasaannya. Jangan karena kalian sering bersama, lantas kau pikir dia mau menerimamu. Bisa jadi kau hanya dianggapnya teman saja?"

.

.

"Bisa jadi kau hanya dianggapnya teman saja?"

Perkataan Daisuke membekas di kepala Hiruma. Hiruma tidak pernah memikirkan soal itu. Selama ini yang Hiruma pikirkan, bahwa mereka sudah biasa bersama. Hiruma merasa nyaman bersama Mamori, begitu halnya dengan Mamori.

Tapi dia tidak pernah berpikir apa yang Mamori rasakan. Bahkan Hiruma tidak pernah memastikan soal perasaannya sendiri. Bahwa dia ingin bersama Mamori untuk hubungan yang lebih serius.

Hiruma membuka pintu kamarnya. Dia melihat Mamori tengah berjinjit hendak mengambil piring dari atas rak. Hiruma meletakkan tasnya di atas rak. Dia lalu berdiri di belakang Mamori.

Mamori yang menyadari Hiruma di belakangnya, menghentikan aktivitasnya dan berbalik menghadap Hiruma. Dia memandangi Hiruma dan memasang wajah kebingungan.

"Ada apa?" tanya Mamori keheranan.

Hiruma terdiam dan memandangi wajah Mamori.

"Jangan bilang kamu mau berbuat yang aneh-aneh lagi, Youichi?" lanjut Mamori curiga.

Hiruma membingkai Mamori dengan kedua telapak tangannya yang bersandar di rak meja belakang Mamori, membuat tubuh mereka semakin mendekat. Mamori memundurkan tubuhnya dan mendongak ke Hiruma. Terlalu ragu untuk menatap kedua bola mata Hiruma yang serius seperti itu.

"Kamu mau apa?" ucap Mamori menghilangkan kekakuannya.

Hiruma masih terdiam. Dia hanya menatap wajah Mamori begitu lama. Sampai akhirnya dia mengeluarkan kata-katanya. "Aku mencintaimu, Mamori. Jadilah pacarku."

Darah seolah naik ke wajah Mamori dan membuatnya memerah seketika. Mamori berusaha menahan debaran jantungnya. Menerima pernyataan cinta bukan hal pertama bagi Mamori. Tapi dengan situasi seperti ini, dan dengan kedekatan mereka sekarang, adalah hal pertama untuknya. Terlebih dia mendengar pernyataan itu dari lelaki yang berada di urutan pertama yang pasti tidak akan mungkin menyatakan perasaan untuknya.

"Kau sakit," balas Mamori. Mamori berusaha melepaskan diri dari Hiruma.

Hiruma mengernyitkan keningnya. "Kau tidak mau menerimaku, heh?"

Mamori menghela napas. "Aku cuma tidak mengerti kamu, Youichi," balas Mamori.

Hiruma terdiam masih tetap pada posisinya, menunggu Mamori melanjutkan.

"Kamu tiba-tiba minta aku jadi pacarmu. Tiba-tiba bilang mencintaiku. Dan tiba-tiba juga bilang ingin menikah denganku," jelas Mamori. "Memangnya kamu mau aku bereaksi seperti apa?"

Hiruma hanya balas tersenyum sambil memandangi wajahnya, sehingga membuat Mamori tambah salah tingkah.

"Aku tanya... Kenapa kamu mencintaiku?" tanya Mamori.

Hiruma memutar bola matanya. "Entahlah. Karena orang itu kamu. Karena aku butuh kamu di hidupku."

Wajah Mamori merona dan dia kehilangan kata-katanya.

"Kalau bisa... Lebih baik kau jadi istriku," lanjut Hiruma.

Mamori berdeham dan memfokuskan kembali pikirannya. "Lalu sejak kapan kamu mulai jatuh cinta padaku?"

Hiruma mengangkat bahunya. "Aku juga tidak tahu sejak kapan. Yang jelas aku ingin bersamamu. Aku ingin memelukmu setiap hari dan menciummu sesukaku."

Mamori menolehkan kepala mengalihkan pandangannya. "Kau mesum."

"Jadi kau mau menerimaku?"

Mamori kembali menatap ke Hiruma lagi. "Semuanya terlalu mendadak. Aku butuh waktu."

"Keh... Aku akan menunggu jawabanmu," balas Hiruma.

Mamori lalu terdiam dan menunggu Hiruma melepaskannya. Tetapi Hiruma tidak juga beranjak dari posisinya. "Kamu tidak mau bergeser?"

Hiruma tersenyum usil memamerkan giginya. Dia mengangkat tubuh Mamori dan mendudukkannya di rak meja. Hiruma lalu kembali merangkulnya.

Mamori masih kaget dengan posisinya sekarang. Dia lalu menatap lurus ke wajah Hiruma. "Kamu mau apa lagi?" balasnya frustasi.

Hiruma menyengir. "Karena posisi kita sudah seperti ini, Biarkan aku menciummu."

Tanpa aba-aba, Hiruma mendekatkan bibirnya. Namun tangan Mamori langsung mencegah dan menghalanginya.

"Sekali saja," ujar Hiruma, masih terhalang dengan tangan Mamori.

"Waktu itu sudah pernah," Balas Mamori.

"Kapan? Aku tidak ingat."

Mamori langsung menoyor kepala Hiruma. "Jangan pura-pura lupa. Jelas-jelas kamu melakukannya dengan niat."

Tanpa pertahanan, Hiruma berhasil mendapatkan bibir Mamori dan mulai menciumnya. Hiruma menciumnya perlahan dan lembut sambil terus menikmatinya. Mamori pun mulai luluh dan tangannya melingkari leher Hiruma. Mamori membalas ciumannya dengan sama lembutnya. Beberapa detik terlewati sampai Mamori melepaskan ciuman mereka.

"Puas?" ujar Mamori dengan tangan masih melingkari leher Hiruma.

Hiruma menggeleng. Kali ini dia menyinggungkan senyumnya sambil mendekat perlahan. Hiruma lalu kembali mencium Mamori dan Mamori membalas dengan menggigit bibirnya.

"Dari mana kau belajar menggigit begitu, heh?"

Mamori menggeleng dan tersenyum. "Karena kamu tidak mau berhenti."

Hiruma lalu mencium kening Mamori. "Yang ini bonus," cengirnya.

Detak jantung Mamori masih bergemuruh. Hiruma lalu menurunkannya dari rak meja. Dia kembali mengambil tasnya dan membawanya ke dalam.

"Kau masak apa?" tanya Hiruma sambil duduk di kursi meja makan.

Mamori lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sebelum Hiruma datang tadi, dia tengah menyiapkan makan siang Hiruma yang sudah dibuatnya di apartemen tadi pagi.

"Kamu pasti suka. Sekarang cepat kamu mandi. Setelah itu makan. Ada yang ingin aku bicarakan."

.

.

To Be Continue

.

.

Side Note :

Seperti biasanya yaa... Review-nya jangan lupa. Makin banyak makin cepat update-nya XD

.

.

Salam : De