Hello guys... Surprise ?
Okee... Kenapa saya update sekarang? Karena minggu ini adalah minggu hari raya. Jadi mengingat saya tidak akan bisa update jum'at nanti, plus karena ada anonim user yang terus review 'memaksa' saya untuk update. XD
Oh ya... Pengumuman PENTING lagi.
Saya buat POLLS tentang the most favorite story. Bisa cek di bio via web. Dimohon dengan sangat untuk vote ya guys.. Tolong sempatkan berkunjung ke bio saya. (di atas PM, tengah2nya)
.
.
Selamat membaca !
.
.
Chapter 8
.
.
Hiruma menaruh kertas proposal itu ke atas meja. "Aku tidak mau."
"Kenapa?" tanya Mamori sambil meletakkan kopi di atas meja dan duduk di sofa sebelah hiruma.
"Pakai tanya kenapa. Untuk apa aku melakukan hal tidak penting begitu. Buang-buang waktu saja."
"Yah... Padahal bayarannya lumayan," balas Mamori. "Bisa untuk membeli ponsel baru untukku misalnya."
Hiruma memutar tubuhnya dan menghadap Mamori. "Sejak kapan aku jadi mesin cetak uangmu, heh?"
Mamori tersenyum. "Oke kalau tidak mau." Mamori lalu teringat sesuatu dan dia menoleh ke Hiruma. "Benar tidak mau? Rekan modelmu Arisawa Mayu. Kamu tidak ingin bertemu dengannya?"
Hiruma mengamati wajah Mamori beberapa saat. "Kau ingin aku bertemu dengannya?"
Mamori mengangguk. "Kapan lagi bisa bertemu dengan artis, ya kan? Siapa tahu aku bisa bertemu dengan Yamazaki Kento, atau Furukawa Yuki di studio tempat syuting?" balasnya antusias.
Hiruma mengerutkan keningnya kesal. "Bermimpilah bodoh. Aku tidak akan mau melakukannya."
Mamori menghela napas kecewa.
Hiruma mengambil ponsel di atas meja dan mencari nama Arisawa Mayu di mesin pencari. Mamori yang menyadarinya, melihat Hiruma yang tengah melihat foto-foto Arisawa disana.
"Cantik," ujar Hiruma.
Entah Hiruma sengaja atau tidak, tapi dia berhasil melakukannya. Satu kata itu berhasil membuat Mamori kalut dengan berbagai pikiran di kepalanya. Hiruma terus melihat ke ponselnya tanpa menyadari perubahan suasana hati Mamori.
"Oke aku mau melakukannya," ujar Hiruma.
"Aku mau pulang," sela Mamori.
Mamori lalu beranjak dari duduknya. Dia berjalan melewati Hiruma untuk mengambil tasnya.
"Kau marah, heh?" sahutnya dan menahan tangan Mamori.
"Aku? Marah padamu?" balas Mamori. "Satu hal yang aku pelajari selama mengenalmu bertahun-tahun, Youichi. Marah padamu itu percuma. Kamu terlalu bodoh untuk menyadari kesalahanmu."
Hiruma menarik Mamori sehingga dia terjatuh dan duduk di pangkuannya. "Kalau begitu beri tahu apa kesalahanku."
Mamori menatap dengan tatapannya yang tajam. "Kau bodoh. Menyebalkan. Dan lepaskan aku!" kesalnya.
Hiruma semakin mengeratkan lingkarannya. Dia lalu memeluk Mamori lembut di dalam dadanya. Dia mengusap kepala dan punggung Mamori.
"Apa yang kamu lakukan?" ujar Mamori.
"Aku ingin selamanya bersamamu seperti ini. Kau tahu... Rasanya nyaman sekali."
Mamori tidak berkata apa-apa. Kekesalannya kini berubah menjadi kelegaan yang belum pernah dia rasakan.
"Aku tidak peduli kau mau jadi pacarku atau tidak. Asal kau tetap bersamaku dan jangan melihat laki-laki lain."
"Kamu sendiri... Masih suka melihat perempuan lain," sindir Mamori.
Hiruma melepaskan pelukannya. Sekarang dia hanya bisa mengerutkan keningnya kesal sekaligus keheranan dengan Mamori. "Sebenarnya apa yang kau mau, sialan? Awalnya kau minta aku menerima tawaran karena modelnya si Arisawa itu. Saat aku bilang mau melakukannya, kau malah tidak suka." Giliran Hiruma yang merasa jengkel sekarang. "Kalau ada kamus elektronik penerjemah bahasa perempuan, aku akan beli dengan senang hati berapa pun harganya."
Mamori memberenggut kesal. "Kamu bilang cantik ke Arisawa Mayu padahal belum pernah bertemu dengannya. Aku yang bersamamu bertahun-tahun tidak pernah kamu bilang cantik."
Hiruma terperanga tidak percaya dengan alasan Mamori. "Cuma itu alasannya, heh?"
"Ya! Cuma itu," kesalnya.
Hiruma memamerkan senyum puasnya. Dia lalu mencubit lembut kedua pipi Mamori. "Kalau seperti ini, apanya yang cantik?"
"Lepaskan aku, kau menyebalkan," sahut Mamori.
Hiruma lalu mendapatkan bibir Mamori dan menciumnya dengan dalam.
Beberapa detik kemudian, Mamori melepaskan ciuman mereka. "Jangan seenaknya menciumku. Aku bukan pacarmu," jitaknya pelan ke kepala Hiruma.
"Kalau begitu segera jadi pacarku," balas Hiruma.
"Jadi pacarmu atau tidak, kamu tetap seenaknya memeluk dan menciumku. Jadi apa bedanya..," balas Mamori.
"Aku bisa melakukan yang lebih dari itu," balas Hiruma tersenyum jahil.
Mamori menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Hiruma. Dia lalu bangun dari pangkuan Hiruma. "Aku mau pulang."
"Kau masih marah, heh?" tanyanya masih menggenggam tangan Mamori.
"Aku sudah janji akan makan malam di rumah orangtuaku malam ini," jawab Mamori.
Hiruma memandangi Mamori sambil berpikir. "Aku akan mengantarmu sampai stasiun," ujar Hiruma dan berjalan di depan Mamori. "Aku ingin menemui mereka, tapi aku tidak bisa hari ini," lanjutnya.
Mamori tersenyum. "Aku tahu. Masih ada lain waktu. Kamu bisa menemui mereka saat libur nanti."
.
.
Mamori sedang di dapur membantu ibunya menyiapkan makanan. Ayahnya sedang bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi. Mamori selalu mengunjungi mereka paling tidak dua minggu sekali dan menginap disana, mengingat dia adalah anak semata wayang. Dan yang pasti, dia sangat merindukan orangtuanya.
"Bagaimana pekerjaanmu Mamori?" tanya ibunya.
"Lumayan... Tidak begitu berat ma. Aku hanya mengurusi keperluan dan aktivitas Youichi di klub."
Ayah Mamori melirik ke dapur mendengarkan percakapan mereka.
"Aku harus memperhatikan kegiatannya, pola makannya, dan mencatat semua perkembangannya dalam latihan."
Ibunya tersenyum. "Syukurlah kalau kamu menikmatinya. Mama sempat berpikir kamu akan merasa jenuh karena selalu mengurusi hal yang sama bertahun-tahun. Karena itu kamu sempat tidak mau menerima pekerjaan itu."
Mamori ikut tersenyum. "Mama tahu? Youichi dapat tawaran membintangi iklan bersama Arisawa Mayu," ceritanya lagi. "Tapi dia tidak mau."
Ibu Mamori terdiam berpikir sebelum mengeluarkan perkataannya. "Ngomong-ngomong soal itu Mamori. Ayahmu membaca berita...," sahutnya ragu. "Sebenarnya ini pertanyaan ayahmu," lanjutnya masih ragu dan mengecilkan suaranya. "Ayahmu bertanya apa kamu dengan Hiruma berpacaran?"
Mamori menatap ibunya ragu, kemudian menjawab. "Dia bilang dia mencintaiku. Tapi kita tidak pacaran."
Ayah Mamori di ruang tengah masih mendengarkan samar-samar pembicaraan mereka.
"Lalu bagaimana perasaanmu padanya?"
Mamori menunduk dan berpikir. Dia lalu melihat ke ibunya. "Aku tidak tahu ma. Aku tidak tahu aku mencintainya atau tidak."
"Jadi apa yang kamu rasakan saat bersamanya?"
Mamori ragu untuk menjawabnya. "Entahlah. Saat dia bilang ingin bersamaku, aku senang karena aku pun juga ingin bersamanya."
"Kamu nyaman bersamanya?"
Mamori mengangguk.
Ibu Mamori tersenyum mendapati jawaban dari putrinya. "Baiklah Mamori. Kamu jelas mencintainya," jawab ibunya. "Berarti mama akan bilang ke ayahmu kalau kalian belum pacaran, tapi kalian mau bersama. Menikah berarti?"
Mamori terdiam khawatir. "Apa ayah menentangnya?"
Ibunya tersenyum dan menggeleng. "Tidak. Ayahmu tidak bilang apa-apa. Tapi yang mama tahu, dia hanya tidak ingin kamu dipermainkan olehnya."
"Youichi tidak akan mungkin menyakitiku ma."
"Mama tahu," ujarnya tersenyum. "Terlepas dari siapa Hiruma sekarang. Mama senang kalau orang itu Hiruma. Karena mama tahu, kalian sudah saling mengenal sejak SMA. Mama yakin dia bisa menjagamu," jelas ibu Mamori. "Jadi mama tidak akan menentang pilihanmu. Begitu pun dengan ayah."
Mamori ikut tersenyum mendengarnya. "Youichi bilang dia ingin kesini dan bertemu kalian. Tapi dia latihan pagi dan sore. Jadi dia akan cari waktu yang tepat."
"Dia ingin bicara soal pernikahan?" sahut ayah Mamori berdiri di ambang pintu dapur dan bersandar disana.
"Ayah!" kaget Mamori. Mamori langsung panik karena ayahnya tiba-tiba muncul dan menyimak pembicaraan mereka.
"Sekarang ayah yang tanya langsung," ujarnya lagi. "Seberapa jauh hubunganmu dengannya? Di berita ada foto kalian yang berpelukan. Kenapa kalian berpelukan? Apa lagi yang sudah dia lakukan? Sudah berapa kali dia menciummu?"
Mamori tambah kacau dengan rentetan pertanyaan dari ayahnya. Dia tidak mungkin menjawab kalau Hiruma baru saja menciumnya tadi siang. "Ayah... Jangan tanya macam-macam seperti itu. Aku tidak mau menjawabnya!"
"Bilang padanya, temui ayah segera. Dia harus bertanggung jawab. Semakin cepat semakin baik."
Mamori hanya bisa tersenyum serba salah.
.
.
Latihan pagi terasa terik karena hari yang sudah semakin siang. Berkali-kali Hiruma melirik ke pintu gerbang, namun dia tidak melihat sosok yang dinantinya itu. Pandangan Hiruma teralihkan saat pelatih memanggilnya.
"Kau ditunggu manajer di ruang tamu gedung utama," ujar pelatih.
"Ada perlu apa?"
"Mana aku tahu," jawab pelatih sambil melihat jam tangannya. "Cepat. Jangan buang-buang waktu."
"Keh."
Hiruma lalu menuju ke gedung utama. Dia melewati lobi dan sampai di depan ruang tamu. Hiruma bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya, mengingat ruang tamu ini khusus untuk tamu penting para petinggi klub. Tanpa ragu Hiruma membuka pintu tersebut.
Hiruma melihat dua orang yang duduk di dalam. Tidak ada manajer, yang ada yaitu dua orang wanita disana. Hiruma mengenal salah satunya. Wajah yang lebih muda dari yang dia kira. Wanita itu tersenyum ke arahnya saat Hiruma memperhatikannya.
Kedua wanita itu berdiri menyambut Hiruma.
"Hai Atlet Hiruma. Saya Yukiko. Manajer Mayu-san. Dan ini," ujarnya memperkenalkan dirinya sendiri. "Di sebelah saya Arisawa Mayu-san," ujarnya lagi.
"Hai Hiruma-san," sapa Arisawa kepada Hiruma.
Hiruma lalu duduk di sofa seberang mereka. "Ada perlu apa?"
"Kemarin saya dapat telepon dari pihak produk iklan kalau anda menolak tawaran itu?" lanjut Yukiko.
"Ya benar. Lalu?" balas Hiruma.
"Sangat disayangkan. Padahal Mayu-san sangat ingin mengenal anda lebih jauh," jawabnya.
Arisawa yang sedari tadi terdiam mendengarkan, menepuk lengan manajernya. "Biar aku saja yang bicara Yukiko-san."
Hiruma lalu mengalihkan perhatiannya ke Arisawa.
Mayu tersenyum lagi kepadanya. "Begini Hiruma-san. Aku sebenarnya sangat mengagumimu, kamu mungkin sudah tahu."
"Lalu?"
"Apa kamu bisa membantuku?"
Hiruma berpikir sejenak dengan pertanyaan itu. "Apa untungnya bagiku jika aku membantumu?"
"Sudah saya bilang dia akan bertanya begitu, Mayu-san," sahut Yukiko.
"Kamu tahu Hiruma-san, besok malam ada acara penghargaan drama. Aku sudah bilang pada wartawan dan pihak acara kalau aku akan mengajakmu sebagai partnerku," jelas Arisawa.
"Besok aku ada latihan untuk pertandingan," balas Hiruma.
Arisawa meraih tangan Hiruma dan menggenggamnya. "Manajer klubmu bilang kalau itu hanya pertandingan uji coba. Lagipula acaranya malam. Ayolah... Bantu aku Hiruma-san."
"Merepotkan saja. Aku tidak mau," ujarnya sambil melepaskan genggaman tangannya.
Arisawa pindah tempat duduk sehingga menghalangi Hiruma yang hendak meninggalkan ruangan. "Aku mohon Hiruma-san."
"Begini atlet Hiruma," sela Yukiko. "Jika anda menghadiri acara itu. Kalian berdua akan sangat diuntungkan. Masyarakat pasti akan tertarik dengan isu hubungan kalian dan kalian akan dapat banyak tawaran. Anda akan tambah terkenal. Dan sudah pasti keuntungannya akan banyak."
"Aku bahkan baru bertemu dengannya tidak sampai lima belas menit. Apa juga yang mau diisukan, heh? Aku tidak mau terlibat gosip murahan," balas Hiruma.
"Ini tidak akan jadi gosip. Kalian hanya akan jadi berita hangat selama beberapa pekan. Anda tidak akan dirugikan," balas Yukiko lagi.
"Oke lupakan soal untung rugi itu," sela Arisawa. "Bagaimana kalau kamu sekedar menolongku? Seperti yang aku bilang tadi. Aku sudah terlanjur bilang pada semua orang. Kamu mau aku menanggung malu hadir ke acara itu sendirian?"
Hiruma mengangkat bahu. "Itu masalahmu."
"Apa kamu tidak tertarik padaku? Aku cuma minta kamu menemaniku. Bukan memintamu jadi pacarku," balasnya lagi.
Hiruma berpikir sejenak dan dia mengingat akan sesuatu dan tersenyum. "Keh... Aku akan membantumu."
.
.
Waktu senggang siang ini Hiruma menyempatkan diri ke kampusnya untuk menyerahkan laporan tugas akhir. Mengingat dia masih seorang mahasiswa di kampusnya, Hiruma tentu ingin cepat lulus dan mengurangi satu beban yang menggelayutinya.
Jadi karena nanti malam dia punya acara 'penting', maka saat ini dia pergi tanpa ditemani oleh Mamori yang entah seharian kemarin Hiruma sama sekali tidak melihatnya. Mamori pun tidak pula menghubungi Hiruma kemana dirinya berada. Tapi karena dia ingat kalau Mamori sedang bersama keluarganya, Hiruma tidak merasa khawatir. Dia pun tidak mau mengganggu waktu Mamori.
Seusai dari kampusnya, Hiruma menerima telepon dari pihak Arisawa dan memintanya untuk datang ke sebuah butik di daerah Shibuya.
Melakukan fitting dan hair-do untuk Hiruma dilakukan setelah dia sampai disana. Persiapan memakan waktu beberapa jam. Waktu Hiruma tersita karena dia harus menunggu persiapan dari sang bintang besar. Karena tentu wanita butuh waktu lama untuk mempersiapkan dirinya.
Selama melakukan persiapan, Arisawa tak henti-hentinya mengajak Hiruma berbincang dan bercengkrama. Arisawa mungkin salah satu artis yang supel karena dia berhasil mengajak Hiruma berbicara dan tertawa dengannya.
Hari tidak terasa sudah mulai sore. Hiruma sudah siap dengan jas hitam dan rambutnya yang tertata rapi. Sementara Arisawa mengenakan gaun berwarna biru muda dan rambut ditata terurai ke pundak kirinya. Tangan Arisawa dilingkarkan ke lengan Hiruma seraya mereka berjalan ke mobil menuju tempat acara.
.
.
Mamori meletakan potongan buah melon di atas meja. Dia lalu duduk di sebelah ayahnya yang sedang menonton televisi.
"Kapan pertandingan Tokyo Storm dengan Kanagawa?" tanya ayah Mamori.
"Lusa nanti," jawab Mamori.
Ayah Mamori lalu mengganti saluran lain. Saluran yang menayangkan acara penghargaan drama. Mamori ikut menontonnya untuk mengisi waktu menemani ayahnya. Walau dia tidak begitu tertarik dengan acara seperti itu.
Mamori melihat beberapa artis melewati karpet merah dengan para kameramen di pinggir Mereka. Pembawa acara melakukan wawancara singkat dengan para artis sebelum mereka memasuki gedung acara.
Tidak lama kemudian kamera berganti dan menayangkan sebuah mobil yang baru saja datang. Mata Mamori menangkap sosok wanita yang sedang naik daun itu turun dari mobilnya. Dia melingkarkan tangannya ke lengan pria yang berdiri di sebelahnya.
"Bukannya itu Hiruma?" sahut ayah Mamori.
Mamori memfokuskan lagi penglihatannya ke televisi. Kamera menampilkan layar penuh pasangan yang baru saja datang itu. Kali ini Mamori dengan jelas melihat sosok yang sangat dikenalnya. Dengan setelan jas hitamnya. Mamori tidak peduli seberapa menarik penampilan Hiruma. Tidak, dia tidak peduli soal itu. Tapi dia bertanya-tanya mengapa Hiruma ada di acara ini. Terlebih bersama dengan Arisawa Mayu.
Mamori melihat mereka berjalan di karpet merah. Arisawa tersenyum ke arah kamera. Sesekali tangan Hiruma memegang tangan Arisawa yang menggandengnya seraya mereka berjalan sampai ke tempat wawancara.
Ayah Mamori menoleh melihat putrinya. Dia mendapati Mamori dengan wajah yang kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa. Ayahnya hanya menghela napas. Dia lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Mamori.
Mamori masih terpaku. Untaian pertanyaan masih berkelebat di pikirannya.
Apa yang terjadi?
Mengapa Hiruma ada disana?
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Konflik sudah mulai memuncak! Orang ketiga sudah muncul! Siapa yang tidak suka konflik orang ketiga disini? XD
Okee... Sama. Saya juga tidak suka XD
Saya tidak perlu panjang lebar disini. Karena di atas saya sudah menulis banyak.
Jangan lupa review & Polls - nya guys. Wajib !
Salam : De
