Chapter 9
.
.
Ayah Mamori menoleh melihat putrinya. Dia mendapati Mamori dengan wajah yang kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa. Ayahnya hanya menghela napas. Dia lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan Mamori.
Mamori masih terpaku. Untaian pertanyaan masih berkelebat di pikirannya.
Apa yang terjadi?
Mengapa Hiruma ada disana?
Mamori yang tidak tahan melihatnya langsung mematikan televisi dan meninggalkan ruangan menuju ke kamarnya.
.
.
"Wah-wah... Arisawa Mayu-san. Lihat siapa yang kamu bawa ini?" ucap salah satu pembawa acara laki-laki dengan wajah antusiasnya.
"Sang Quarterback muda andalan Tokyo Storm. Hiruma Youichi," sambung pembawa acara perempuan di sebelah Hiruma. "Apa kabar Hiruma-san, Arisawa-san?"
Mereka lalu saling bersalaman.
"Jadi benar yang dikabarkan? Kalau kalian punya hubungan khusus?"
Arisawa tertawa mendengar pertanyaannya. "Yaa... Tidak berlebihan seperti yang diberitakan. Tidak seperti itu," jawabnya tersenyum.
"Lantas hubungan apa? Saya lihat kalian sudah dekat," sambung yang satunya. "Bukankah pemirsa di rumah dan disini juga penasaran? Benar begitu?" ujarnya dan disambut sorakan meriah dari deretan penonton di pinggir karpet merah.
"Hiruma-san sudah aku anggap seperti kakakku. Kalian semua tahu aku anak tunggal, jadi aku sangat menghormati dan menganggumi Hiruma-san layaknya kakakku," jelas Arisawa.
"Benar begitu Hiruma-san?" tanya sang wanita menyodorkan mikrofon ke Hiruma.
"Ya... Benar," jawab Hiruma. "Lagipula aku sudah punya tunangan. Dia jelas tidak suka dengan berita itu."
Pembawa acara wanita itu terperanga kaget. "Kita baru saja dengar berita ekslusif!" serunya tambah antusias. "Oke kita simpan itu untuk para wartawan. Baiklah. Terima kasih Arisawa-san dan Hiruma-san. Silahkan ke dalam."
Hiruma dan Arisawa lalu masuk ke studio tempat berlangsungnya acara.
Masih dengan tangan yang dilingkarkan ke lengan Hiruma. Arisawa menoleh melihat ke wajahnya. "Kamu puas Hiruma-san?" tanyanya sambil tersenyum. "Aku sudah menepati janjiku."
.
.
Kemarin...
"Apa kamu tidak tertarik padaku? Aku cuma minta kamu menemaniku. Bukan memintamu jadi pacarku," balasnya lagi.
Hiruma berpikir sejenak dan dia mengingat akan sesuatu dan tersenyum. "Keh... Aku akan membantumu," ujar Hiruma. "Tapi dengan syarat."
Yukiko mengerutkan keningnya khawatir.
"Apa syaratnya Hiruma-san?" tanya Arisawa.
"Aku tahu kau bukan tertarik padaku seperti yang diberitakan itu," jawab Hiruma.
Arisawa tersenyum dan mengangkat bahunya. "Yaa... Aku memang cuma menjadikannya bahan berita. Tapi aku benar-benar mengagumimu. Karena saat melihatmu bermain, kamu mirip dengan seseorang."
"Aku tahu..." sahut Hiruma. "Dia ayah kandungmu, benar, heh?".
Arisawa memiringkan kepalanya berpikir. "Bagaimana kamu tahu? Padahal tidak ada yang tahu mendiang ayah kandungku kecuali keluargaku."
Hiruma memamerkan senyumnya. "Aku punya caraku sendiri."
Arisawa balas tersenyum lembut. "Baiklah... Jadi apa syaratnya, Hiruma-san?"
"Kau harus mengklarifikasi berita itu. Bilang secara langsung bahwa hubungan kita yang diberitakan itu tidak benar."
"Saya menolak," balas Yukiko langsung. "Kalau seperti itu pihak kami akan dirugikan."
"Kalau begitu selamat berusaha menutupi kebohonganmu," balas Hiruma. "Cepat atau lambat mereka pasti tahu kalau kalian hanya pura-pura mengenalku dan sebenarnya kita tidak punya hubungan apa-apa."
Arisawa memandang Hiruma sambil berpikir. "Kamu punya seseorang yang kamu jaga perasaannya Hiruma-san?" sela Arisawa.
"Yah..."
"Asistenmu?" tebak Arisawa.
"Aku berniat menikahinya," jawab Hiruma.
Senyuman pilu tampak di wajah Arisawa. "Ternyata ada juga kebenaran yang diberitakan oleh media," sahutnya.
"Kau setuju?" ujar Hiruma.
"Baiklah... Aku tidak mau jadi orang jahat di antara kalian," ujar Arisawa. "Aku akan mengklarifikasi berita itu. Asal kamu datang ke acara."
"Keh..."
Yukiko menghela napas. "Baiklah... Itu lebih baik. Asal anda bisa membuat orang-orang percaya kalau kalian cukup dekat, layaknya teman baik."
—
.
.
Hari pertandingan uji coba bersama Kanagawa akan dimulai dua jam lagi Hiruma merasa resah walau tak ditampakkan di wajahnya. Dia bukan resah dengan pertandingan, tapi dia resah dengan sosok yang hampir empat hari tidak menghubunginya. Entah apa yang terjadi dengan Mamori. Tapi sungguh, Hiruma butuh melihat wanita itu segera.
"Ada apa? Kenapa kau diam sekali?" tanya Daisuke sambil duduk di kursi panjang di ruang latihan stadion.
"Aku tidak tahu," jawab Hiruma. "Sialan, Aku tidak yakin bisa fokus pada pertandingan nanti," keluh Hiruma pada dirinya sendiri.
Daisuke tergelitik mendengarnya. "Kenapa kau terdengar seperti pemain amatiran Hiruma?" ledeknya. "Apa yang mengganjal pikiranmu?"
Hiruma tidak menjawab.
"Ah ya... Ngomong-ngomong kemana Anezaki? Kenapa aku tidak melihatnya belakangan ini?" lanjut Daisuke. "Sekarang pun dia tidak ada."
Daisuke melihat ke Hiruma yang menunduk berpikir sambil memegangi kepalanya.
"Apa... Terjadi sesuatu? kalian putus?" tanya Daisuke ragu.
Hiruma langsung menoleh tajam. "Putus? Kita bahkan belum memulai apa-apa. Bagaimana bisa putus, sialan!?"
"Tapi kemarin..." sahut Daisuke yang sama kebingungannya. "Kau menyebut-nyebut soal tunangan di TV kemarin. Kupikir kalian sudah bertunangan?"
"Sialan! Dia bahkan belum menerimaku," balas Hiruma.
Daisuke mengerutkan keningnya berpikir. "Apa... jangan-jangan dia tidak suka kalau kau menyebutnya tunangan?"
Hiruma berpikir dengan kata-kata Daisuke barusan. Dia memang tidak memikirkan kemungkinan itu. Tapi apa berarti Mamori tidak mau menerimanya, jadi dia tidak mau bertemu Hiruma lagi.
Daisuke menghela napasnya panjang. Merasa iba dengan juniornya ini. Karena Seumur hidup dia mengenal Hiruma, tidak pernah sekali pun dia melihat Hiruma kesulitan mengenai wanita. Tapi sekarang ini, Hiruma mengalaminya.
"Kau sudah menghubunginya?" tanya Daisuke.
"Dia tidak mengangkat teleponku," jawab Hiruma.
"Kalau begitu temui dia. Biar semuanya jelas," sarannya sambil menepuk pundak Hiruma.
.
.
Pertandingan telah usai. Sorak sorai penonton bergemuruh di stadion. Hiruma membuka pelindung kepalanya, masih dengan napasnya yang tersengal-sengal.
Tidak lama kemudian, dia berlari keluar lapangan dan masuk ke dalam stadion menuju ruang ganti. Dia tidak peduli dengan orang-orang di lapangan yang melihatnya keheranan. Dia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan Mamori.
Di dalam ruangan, Hiruma dengan cepat membuka pelindung lengan, bahu, dan lututnya, lalu berganti baju. Dengan sembarangan Hiruma memasukkan semuanya ke dalam tas. Dia lalu mengambil kunci mobil dan bergegas ke parkiran mobil.
.
.
Empat puluh menit Hiruma tempuh dari stadion sampai ke rumah orang tua Mamori. Hiruma tidak memikirkan tempat lain selain kesini, karena disinilah tempat terakhir kali Mamori bilang kepada Hiruma sebelum dia pergi.
Hiruma menekan bel dua kali. Dia melihat ke jam tangannya yang sudah menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Memang bukan waktu yang tepat untuk berkunjung, pikir Hiruma.
Hiruma berniat pergi, namun dia melihat pintu rumah terbuka dan ayah Mamori muncul disana.
"Hiruma?" ujar ayah Mamori. "Ada perlu apa?"
"Saya mencari Mamori," jawab Hiruma.
"Apa dia tidak ada di apartemennya?" tanya ayah Mamori dengan wajah khawatir.
"Saya belum kesana. Kalau begitu permisi," ujar Hiruma, berniat pergi lagi.
"Sebentar Hiruma," tahan ayah Mamori. "Ada yang ingin saya bicarakan."
Hiruma duduk di ruang tamu bersama ayah Mamori.
"Jadi setelah pertandingan tadi kamu langsung kemari?" tanya ayah Mamori.
"Yah..."
"Saya terkesan," ujar ayah Mamori. "Saya melihatnya di TV, kamu langsung berlari keluar lapangan seusai pertandingan tadi. Kupikir ada apa,"
Ibu Mamori tersenyum kepada Hiruma seraya menyajikan kopi kepadanya. Dia kemudian duduk di sebelah suaminya.
"Jadi..." lanjut ayah Mamori. "Apa benar kamu mencintai Mamori?"
Hiruma kaget dengan pertanyaan itu. Tapi seharusnya dia tidak kaget, karena pasti mereka sudah tahu dari Mamori. Namun, dia tidak menyangka ayah Mamori akan terus terang seperti ini.
"Ya," jawab Hiruma yakin. "Dan saya minta izin, saya ingin menikahinya."
Ayah Mamori mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Hiruma. "Lantas apa hubunganmu dengan artis Arisawa Mayu?"
Hiruma berpikir tentang jawaban apa yang harus diberikannya. "Tidak ada hubungan khusus. Hanya sekedar kenalan."
"Tapi Saya rasa Mamori tidak menganggapnya seperti itu," balasnya.
Hiruma berpikir dengan pernyataan itu.
"Saya tidak tahu seberapa kecewa Mamori saat dia melihatmu di TV kemarin. Yang saya tahu, tidak lama dia melihatmu, dia langsung mematikan TV-nya."
Hiruma terdiam mendengarkan.
"Dia menangis di kamarnya," sahut Sang Ibu.
Kedua lelaki di ruangan itu langsung melihat ke arahnya.
"Mamori menangis?" ulang ayah Mamori dengan nada kesal.
Ibunya hanya balas mengangguk.
Hiruma mendapat tatapan tajam dari ayahnya.
"Apa yang sudah kau lakukan, Hiruma?" tanyanya dengan nada kesal.
Hiruma masih berpikir keras. Dia sungguh tidak paham dengan semuanya. "Apa Mamori sempat mendengar saya bicara di TV?"
Ayah Mamori mengangkat bahunya. "Dia langsung mematikan TV tidak lama saat melihatmu disana."
"Saya akan menemuinya. Dia harus mendengar penjelasan saya."
"Jangan," cegah ayah Mamori.
Hiruma mengerutkan keningnya hendak protes.
"Saya tidak mengizinkanmu bertemu dengannya malam ini," cegah Ayah Mamori. "Temui dia besok pagi," ujarnya.
Hiruma memandangi kedua orangtua Mamori. "Terima kasih. Kalau begitu saya permisi."
.
.
Hiruma merasa dirinya telah melakukan kesalahan. Baru kali ini dia terjebak rencananya sendiri. Dia terlalu bodoh untuk tidak memikirkan dampak lain dari dirinya yang muncul di acara itu bersama Arisawa. Dan sekarang Mamori telah salah paham dan menghindarinya.
Walaupun begitu, ada sedikit kelegaan di hati Hiruma. Awalnya dia mengira kalau Mamori tidak suka dengan pernyataannya mengenai tunangan itu. Tapi pada kenyataannya, Mamori tidak sempat mendengarnya. Hiruma masih punya harapan, jika Mamori menghindarinya karena kecewa melihat dirinya dengan Arisawa kemarin.
Hiruma harus membuat semuanya jelas. Dia sangat ingin Mamori jujur dengan perasaannya. Entah dengan cara apa. Hiruma telah mengerahkan segalanya agar wanita itu mencintainya. Jadi Hiruma tidak akan menyerah disini.
Hiruma akan menemui Mamori besok pagi. Dia tidak peduli dengan latihan paginya. Karena Hiruma tahu mana yang lebih penting. Mamori lah yang terpenting di hidupnya.
.
.
Mamori terbangun di pagi hari dengan wajah kalutnya. Jika dibilang tidak punya pekerjaan, seperti inilah rasanya. Entah sudah berapa hari Mamori tidak datang ke asrama, dia tidak menghitungnya.
Mamori tidak tahu harus memasang wajah seperti apa saat bertemu dengan Hiruma kalau dia pergi ke asrama. Mamori tidak bisa bersikap biasa saja, mengingat dia terlalu kecewa dan tidak ingin diperlihatkannya. Karena Mamori tidak punya hak untuk kecewa ataupun marah Kepada Hiruma. Ya... Mereka bukan siapa-siapa. Hiruma berhak berhubungan dengan siapa pun.
Mamori beranjak dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Dengan malas dia memandangi dirinya di cermin. Air mata tergenang kala itu juga. Sudah pasti dia terpikirkan sesuatu. Untuk apa Hiruma memilih dirinya jika ada wanita secantik Arisawa di dekatnya. Mamori tidak perlu bermimpi terlalu jauh.
Selesai menyikat gigi dan membasuh mukanya. Mamori mendengar ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Hiruma. Sudah pasti dia menghubunginya. Bagaimana tidak dia tidak menghubunginya, orang itu terlalu bergantung padanya. Jadi tentu saja Hiruma merasa kehilangan karena tidak ada yang mengurus segala kebutuhannya.
Ponsel berhenti berdering. Dia mengambil ponselnya. Sudah berapa puluh kali Hiruma menghubunginya. Mamori tidak peduli. Dia juga tidak ingin membaca pesan darinya. Karena hal itu hanya akan membuatnya tambah kecewa dan akan kembali kalut lagi. Karena tentu saja, seseorang pasti tidak suka diberi harapan lebih, dan langsung dijatuhkan begitu saja. Seperti Hiruma yang sudah jelas mempermainkannya.
Beberapa menit berselang, bel pintu apartemennya berbunyi. Mamori sedikit ragu untuk melihatnya, karena sudah terbesit siapa orang yang ada di balik pintu itu.
Bel pintu berbunyi lagi. Mamori mendekat dan melihat selembar kertas yang ada di depan pintu. Dia lalu menunduk dan mengambilnya.
Aku tahu kau di dalam. Bukalah pintunya. Ada yang ingin aku jelaskan.
Begitulah isi kertas itu. Selang beberapa detik, Mamori melihat kertas lagi yang baru masuk dari celah pintu.
Aku ingin melihatmu. Jangan menyiksaku seperti ini.
Mamori tersenyum kecil membacanya. Tapi mengingat dia tengah kecewa, Mamori menahan luapan perasaannya. Dengan ragu Mamori lalu membuka pintunya.
Hiruma melihat pintu terbuka, dan kelegaan memenuhi dadanya. Namun semua sirna seketika saat Mamori hanya membuka sedikit karena dia menguncinya dengan rantai pengaman.
"Ada perlu apa?" tanya Mamori berusaha terdengar wajar.
"Buka pintunya," ujar Hiruma.
"Cepat katakan. Aku mendengarnya," balas Mamori.
"Sialan, Mamori. Buka pintunya atau aku akan dobrak," kesal Hiruma.
Beberapa detik berselang, Pintu kembali tertutup dan terkunci. Hiruma yang kesal langsung memukul pintu. Tidak keras, tapi cukup membuat Mamori merasakan kekesalan dan penyesalan Hiruma.
Mamori bersandar di pintunya. Dia menatap kejauhan sambil merenungkan plilhannya. Kenapa Mamori sekesal ini. Padahal Hiruma bukan miliknya. Mamori bukan siapa-siapa. Tapi kenapa dia merasa sesakit ini.
Mamori mendengar langkah kaki Hiruma yang menjauh. Mamori terduduk di depan pintu sambil meringkuk memeluk kakinya. Pelupuk mata Mamori sudah bisa menahannya lagi. Air mata bergulur membasahi pipinya.
Mengapa sesulit ini. Dia sangat ingin berlari dan menyusul Hiruma. Memeluknya dan menumpahkan semua isi hatinya. Tapi raga Mamori tidak mengizinkannya. Dia hanya diam meratapi pilihannya.
Apakah ini pilihan yang tepat?
.
.
To Be Continue
.
.
Side Note :
Rupanya banyak yang kesal dengan Hiruma di chapter sebelumnya. Jangan doong... Apa masih kesal? Apa sekarang giliran Mamori yang bikin kalian gregetan? XD
Cuma mau kasih tahu. Saat menulis ini, saya berpikir untuk membuat yang sedih-sedih agar kalian terombang-ambing (apa deh). Lalu saya ingat, genre fic ini bukan hurt/comfort XD jadinya saya batalin.
Jangan lupa... 25 review guys.. Biar ramai.
Oiya... Ini bukan chapter terakhir, jadi masih ada next chapter lagi (Jelas lah... Masih gantung gitu XD)
Salam : De
