Hai guys... Maaf baru bisa update hari ini. Kemarin bukannya lupa, tapi lagi banyak kegiatan jadi belum sempat update.

Okeey... Ini lah chapter yang kalian tunggu-tunggu~!

.

Chapter 10

.

.

Dua hari sudah berselang sejak Hiruma mendatangi apartemennya waktu itu. Sejak kejadian itu, rasa tertekan terus menghantui Mamori. Dia menolak untuk mendengar penjelasan Hiruma, menolak untuk bertemu dengannya. Apa Mamori sudah begitu kejam terhadap Hiruma.

Selama dua hari itu, Mamori tidak keluar dari apartemennya. Beruntung dia punya persediaan bahan makanan yang banyak di kulkas. Hiruma pun tidak terdengar mendatangi apartemennya lagi. Tentu saja ada rasa kecewa. Tapi sejak kapan penyesalan selalu datang lebih awal. Sekarang Mamori tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Karena Hiruma jelas sudah menyerah terhadapnya.

Karena tidak ada yang bisa Mamori kerjakan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi keluar mencari udara segar. Dia menikmati waktu luangnya dengan makan siang dan bercengkrama bersama Sara dan Ako di kafe dekat Saikyodai. Setelah selesai dia menyempatkan diri mengunjungi klub Amefuto dan melihat junior-juniornya latihan sore.

Mamori masuk ke gerbang dan duduk di bangku pinggir lapangan. Hanya ada empat orang disana. Termasuk Yamato yang tengah mengikat tali sepatunya di sebelah Mamori.

"Sendirian, senpai?" tanya Yamato. Tidak menoleh dan masih mengikat sepatunya.

"Hm...," jawab Mamori mengangguk.

"Dimana Kapten Hiruma?" tanyanya lagi sudah berdiri sambil membiasakan sepatunya dan menghadap ke Mamori.

Mamori mengangkat bahunya. "Entahlah. Mana kutahu."

Yamato bertolak pinggang. Dia berpikir sesaat sambil mengerutkan keningnya. "Janggal sekali rasanya melihatmu tidak bersama Kapten."

"Apa aku harus bersamanya?" balas Mamori dengan malas.

"Ya. Kalian itu sudah satu paket," canda Yamato dan tersenyum. "Aku masuk ke lapangan dulu," dan Yamato berlari menuju lapangan.

Mamori menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Yamato. Alih-alih ingin melupakan sejenak tentang Hiruma, dia justru dibuat untuk terus mengingatnya. Tapi memang pilihan yang salah jika ingin melupakan Sang Iblis tetapi malah pergi ke tempat kenangan mereka.

"Hai Anezaki-san," sapa Akaba yang baru saja datang.

Mamori tersadar dari lamunannya dan menoleh ke Akaba.

"Menunggu Hiruma?" tanya Akaba sambil berjalan menuju Mamori.

Mamori mengerutkan keningnya. "Apa... Dia disini?"

Akaba lalu duduk di sebelah Mamori. "Aku tidak tahu. Biasanya kamu selalu menunggunya disini sementara Hiruma pergi menemui dosennya, Ya kan?"

"Aku tidak sedang bersamanya," balas Mamori.

Dia menyadari ada sesuatu yang terjadi dari jawaban ketus yang diberikan Mamori.

"Apa ada masalah?" tanya Akaba memperhatikan raut wajah Mamori. "Kupikir kalian sudah bertunangan."

Mamori terdiam sambil berpikir keras. "Apa yang kamu bicarakan?"

"Di acara penghargaan waktu itu Hiruma menyebut-nyebut soal tunangannya," jawab Akaba. "Yah... Dia tidak menyebutkan siapa, tapi aku tidak terpikirkan wanita lain, selain kamu, Anezaki-san."

"Mungkin Arisawa Mayu," sahut Mamori asal.

Akaba menggeleng. "Tidak. Karena seratus persen aku yakin kalau tunangan yang dimaksud Hiruma bukan Arisawa Mayu," jelas Akaba. "Apa kamu tidak menontonnya?"

Mamori menggelengkan kepalanya. "Menonton apa?"

Akaba lalu mencari sesuatu di ponselnya. Tidak lama kemudian dia lalu menunjukkan sebuah video ke Mamori. Dengan ragu Mamori mulai menontonnya. Karena dia tahu, itu adalah video acara penghargaan waktu itu.

"Jadi benar yang dikabarkan? Kalau kalian punya hubungan khusus?"

"Yaa... Tidak berlebihan seperti yang diberitakan. Tidak seperti itu,"

"Lantas hubungan apa? Saya lihat kalian sudah dekat, Bukannya pemirsa di rumah dan disini juga penasaran? Benar begitu?"

"Hiruma-san sudah aku anggap seperti kakakku. Kalian semua tahu aku anak tunggal, jadi aku sangat menghormati dan menganggumi Hiruma-san layaknya kakakku,"

"Benar begitu Hiruma-san?"

"Ya... Benar, Lagipula aku sudah punya tunangan. Dia jelas tidak suka dengan berita itu."

"Kita baru saja dengar berita ekslusif! Oke kita simpan itu untuk para wartawan. Baiklah. Terima kasih Arisawa-san dan Hiruma-san..."

Mamori berpikir dalam-dalam menonton video itu. Percakapan ini terjadi tepat setelah Mamori mematikan televisinya waktu itu. Bagaimana dia bisa melewati hal seperti ini? Mamori bahkan sudah bertindak bodoh karena kesalahpahamannya.

"Jadi menurutmu siapa wanita itu kalau bukan dirimu?" sahut Akaba.

Mamori menyadarkan dirinya kembali. Dia lalu membalas dengan mengangkat bahunya. "Bisa saja orang lain."

Akaba menyipitkan matanya curiga sambil menatap Mamori. "Tapi melihat dari reaksimu, aku yakin kalau wanita itu adalah kamu, Anezaki-san."

"Yah... Aku juga tidak tahu."

"Hiruma sangat mencintaimu. Aku yakin itu."

Mamori hanya tersenyum pilu mendengarnya.

"Pernahkah dia mengatakannya padamu?" tanya Akaba.

Mamori mengangguk ragu.

"Lalu kenapa kalian berdua masih belum berpacaran?" tanya Akaba. "Apa kamu tidak menyukainya?"

Mamori menengadahkan kepalanya menatap ke langit. "Aku sangat mencintainya, Akaba-san. Sampai aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri," ujarnya lepas. Dia tidak ingin menahan perasaannya lagi.

"Harusnya kamu katakan itu kepada Hiruma. Jadi dia tidak terlihat kacau seperti itu."

Mamori melihat Akaba dengan wajah bingungnya. Mendapatinya yang tengah memandang jauh ke belakang Mamori.

"Kau dengar itu Hiruma? Kau puas?" sahutnya tersenyum kepada seseorang yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

.

.

Dengan terkejut Mamori menoleh ke belakangnya. Dia melihat Hiruma yang berdiri di ambang gerbang lapangan dengan tatapan serius ke arahnya. Sontak Mamori langsung berdiri. Dia berlari dengan tergesa melewati Hiruma yang terus mengamatinya.

Hiruma melihat Mamori berlari melewatinya. Dia tidak menghentikan Mamori. Hiruma hanya menoleh ke belakang sambil menghela napasnya.

"Jangan sampai lepas lagi," sahut Akaba.

Hiruma hanya menganggukkan kepala seraya berterima kasih kepada Akaba. Dia lalu berbalik dan mengikuti Mamori. Sementara Mamori tidak menyadari kalau dia berlari ke arah ruang klub, sehingga memudahkan Hiruma untuk mencapainya.

Hiruma membuka pintu dan melihat tiga orang di dalam, yaitu Taka, Jumonji, dan Satoshi. Hanya ada satu kemungkinan Mamori bersembunyi. Yaitu ruang ganti.

"Keluar semua," perintah Hiruma.

"Apa kalian sedang main petak umpet, Kapten?" sahut Taka.

"Apa yang terjadi Senpai?" tanya Jumonji sama kebingungannya saat melihat Mamori yang tiba-tiba menerobos dan masuk ke ruang ganti.

"Keluar saja."

Para junior langsung menuruti perintah Sang Kapten. Tidak perlu menunggu lama, sekarang tinggal Hiruma sendiri di dalam ruangan. Dia lalu menutup pintu dan menguncinya.

.

.

"Sampai kapan kau mau menghindariku, heh?" tanya Hiruma di depan pintu ruang ganti.

Tidak ada balasan dari Mamori.

"Aku mungkin tidak akan mendobrak kamar apartemenmu. Tapi kalau pintu ini, aku tidak akan ragu lagi untuk mendobraknya."

"Katakan saja apa maumu," sahut Mamori.

"Kau tahu apa mauku," jawab Hiruma.

Mamori tidak membalas lagi.

"Aku butuh melihatmu. Buka pintunya Mamori," pinta Hiruma.

Mamori terdiam. Dia yakin sekali kalau ini baru pertama kalinya dia mendengar Hiruma memohon dengan suara lembut seperti ini. Dengan hati yang perlahan meluluh, Mamori membuka pintunya.

Seolah mendapatkan angin segar, Hiruma mendapatkan kelegaan. Dia pun kemudian masuk ke dalam. Hiruma melihat Mamori yang berdiri membelakanginya.

"Kau tidak ingin melihatku, heh?" sahut Hiruma.

Dia perlahan mendekat ke Mamori. Sekarang Hiruma sudah berdiri tepat di belakangnya. Mencoba menahan keinginan untuk memeluk Mamori.

"Apa kau lupa kalau aku mencintaimu?" lirihnya dengan suara terluka.

Mamori tetap terdiam sambil menahan perasaannya.

"Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi kau sudah salah paham. Kenapa kau tidak dengar dulu apa yang kukatakan di acara kemarin?"

"Apa penting?" balas Mamori dingin.

Hiruma yang tidak bisa menahan dirinya, perlahan memeluk Mamori dari belakang. Dia memejamkan matanya di pundak Mamori, meluapkan semua perasaannya. Mamori tidak bisa berkata-kata. Dia hanya diam terpaku saat Hiruma tiba-tiba memeluknya.

"Katakan kalau kau cemburu," sahut Hiruma. "Jangan bersikap seperti ini padaku, sialan. Aku sama sekali tidak mengerti."

Mamori merasakan debaran di dadanya yang tidak tertahankan. "Ya. Aku cemburu," balas Mamori lirih. "Aku kecewa Youichi. Kenapa kamu bersamanya... Kenapa dia menggandeng tanganmu... Kenapa kamu tidak bilang apa-apa padaku."

Mamori menahan suaranya yang sudah bergetar. Dia mulai meneteskan air mata dan dengan segera menghapusnya.

"Aku bukan siapa-siapa jika harus bersaing dengannya," lanjut Mamori lagi. "Tapi aku tidak suka kamu bersamanya. Aku tidak ingin membagimu dengan siapapun."

Hiruma menyinggungkan senyumannya. "Katakan kau mencintaiku, maka aku selamanya milikmu."

Air mata Mamori kembali menetes perlahan. Hiruma membalik tubuh Mamori sehingga mereka berdiri berhadapan. Dia lalu menghapusnya dari kedua pipi Mamori.

Beberapa detik kemudian Mamori memeluk Hiruma erat. Dia terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya. Hiruma pun membalas pelukan Mamori dan membelai lembut rambutnya.

"Apa sesulit itu, heh?"

"Jangan bersama wanita lain lagi," sahut Mamori.

"Yah..."

"Janji?"

Hiruma merenggangkan pelukannya. Dia menunduk melihat Mamori sambil tersenyum. "Lihat siapa yang sekarang bersikap posesif?"

"Janji!"

"keh... Seperti kau pernah melihatku dengan perempuan lain saja," balas Hiruma.

Mamori memandangi wajah Hiruma. Dia meletakkan telapak tangan ke pipi Hiruma. "Berapa hari kamu tidak tidur?" tanyanya khawatir.

Hiruma mendengar pertanyaan itu. Tapi dia terlalu fokus dengan sepasang bola mata indah yang memandanginya. Tatapan yang sangat dia rindukan. Hiruma mendekatkan wajahnya dan menangkap bibir Mamori. Hiruma lalu menciumnya dengan lembut dan dalam. Seolah membayar semua kerinduan yang selama ini menyiksanya.

Mamori berjinjit dengan lengan Hiruma yang menopang dirinya. Mamori tidak tahu bahwa dia bisa mencium sang iblis dengan begitu dalam seperti ini. Mamori menginginkannya. Dia ingin berada di dalam pelukan Hiruma, merasakan kehangatan, dan mencium aroma tubuhnya.

Mamori melepaskan ciuman mereka dan mulai mengatur napasnya. Dia menatap dalam-dalam mata Hiruma, yang masih terus memandanginya.

Hiruma menciumnya kembali. Seolah tidak ingin melepaskannya, dia memeluk erat Mamori sambil terus menikmati bibirnya. Mereka kemudian melepaskan ciumannya.

Mamori menangkup pipi Hiruma dengan kedua telapak tangannya. Dia lalu tersenyum. "Aku menyayangimu, Hiruma Youichi," lirih Mamori.

Hiruma tersenyum mendengarnya. "Aku juga menyayangimu, asisten sialanku."

Hiruma lalu memeluk Mamori lagi dengan segala kelegaan dan gembiranya. Dia mencium ujung kepala Mamori. "Akhirnya kau jadi milikku."

.

.

Hiruma mengikuti Mamori menaiki tangga sampai mereka tiba di depan kamar apartemen Mamori.

Mamori tersenyum dan menghadap Hiruma. "Terima kasih sudah mengantarku," ujar Mamori.

Mamori lalu membuka pintu kamarnya dan hendak melangkah masuk, namun tangan Hiruma memegang pergelangan tangannya. Mamori kembali menoleh. Dia menatap Hiruma dengan wajah bertanya.

"Aku ingin tidur disini," sahut Hiruma.

Mamori terdiam berpikir. Karena tidak biasanya Hiruma bersikap seperti ini.

"Seminggu lebih aku tidak melihatmu. Aku tidak mau berpisah secepat ini," keluh Hiruma, terdengar merajuk.

Mamori menahan tawanya dengan senyuman. "Bagaimana dengan latihanmu besok pagi?"

"Kau lupa besok hari liburku?"

Mamori mengangguk-angguk mengiyakan. "Hm... Baiklah. Kamu boleh tidur disini."

Mereka lalu masuk ke dalam dan Mamori menutup pintunya.

"Mandilah. Agar kamu bisa tidur dengan nyenyak."

Hiruma tidak membantah dan menuruti perkataan Mamori. Mamori pun meletakkan tas di atas meja rias. Dia lalu menyiapkan baju Hiruma yang pernah dia pinjam dulu. Setelah itu dia mulai mengambil baju ganti untuknya. Kemudian Mamori menuju dapur untuk menyiapkan susu hangat untuk Hiruma.

Tidak lama berselang, Hiruma selesai dari mandinya sambil mengacak-acak rambutnya yang basah dengan handuk. Dia lalu memakai baju yang telah disediakan sambil melihat Mamori keluar dari dapur dengan segelas susu di tangannya.

Hiruma mengernyitkan dahinya. "Untukku, heh?"

"Kamu sudah minum kopi di kafe tadi. Jadi malam ini susu hangat agar kamu bisa pulas tidur," jawab Mamori. "Jangan bilang tidak."

"Terserah."

"Aku mandi dulu," ujar Mamori. "Segera minum susunya."

Hiruma duduk di sofa sambil meminum susunya. Dengan tiga kali tegukan susu itu langsung habis. Hiruma lalu merebahkan dirinya di sofa sambil perlahan memejamkan matanya. Tidak lama kemudian Hiruma sudah tertidur pulas.

Setelah selesai mandi, Mamori melihat Hiruma yang sudah tidur di sofa. Dia lalu mengambil selimut untuk Hiruma dan memasangkannya. Mamori pun mematikan lampu dan menuju ke tempat tidur.

Mamori memosisikan dirinya dengan nyaman di dalam selimut. Tidak lama setelah itu Hiruma terbangun dan menyadari ruangan yang sudah gelap. Dia lalu bangkit dan duduk di sofa, sambil memandang lurus ke Mamori yang tengah nyaman di tempat tidurnya.

"Aku tidur di sofa, heh?" sahut Hiruma, membuat Mamori menyadari kalau Hiruma terbangun dari tidur.

"Memang mau tidur dimana lagi?" balas Mamori.

Hiruma pun bangkit dan berjalan ke tempat tidur. Mamori hanya menatapnya waspada saat Hiruma ikut berbaring dan masuk ke dalam selimut.

"Kasur ini hanya untuk satu orang, Youichi," protes Mamori.

"Tapi cukup untuk kita berdua," balas Hiruma dan menempatkan dirinya nyaman sambil memeluk Mamori.

Mamori berusaha untuk tetap tenang karena begitu dekat dengan Hiruma.

"Kau wangi," sahut Hiruma. "Mantra apa yang kau gunakan, heh, sehingga aku tidak bisa lepas darimu?"

Mamori merasakan wajahnya yang memerah. Mendengar suara Hiruma yang berbisik di telinganya, ditambah dirinya yang tengah berkemul di dada bidang Hiruma.

"Jantungmu berdebar kencang," ledek Hiruma lagi dengan tersenyum puas.

Mamori menutup matanya dan tersipu malu. "Apa bisa kamu langsung tidur saja?"

Hiruma tambah memeluk Mamori erat karena kegemasannya. "Nyaman rasanya bisa tidur sambil memelukmu seperti ini."

"Ini pertama kalinya aku tidur sambil memelukmu," sahut Mamori.

"Ini bukan pertama kali."

Mamori menatap bingung ke Hiruma seraya meminta jawaban.

"Setiap kita tidur bersama, kau tanpa sadar selalu memelukku seolah aku guling."

Mamori mengerutkan keningnya. "Kenapa aku tidak sadar?"

Hiruma mengangkat bahu. "Karena setiap aku terbangun, aku selalu menyingkirkanmu. Jadi saat kau bangun, kau tidak menyadarinya."

"Jadi sekarang kamu mau menyingkirkanku juga?"

Hiruma mengangkat kepala dan bertopang pada telapak tangannya sambil menatap Mamori. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," jawabnya sambil tersenyum jahil.

Hiruma menyentuh dagu Mamori dan mulai mencium bibirnya. Hiruma menindih Mamori dengan tubuhnya dan menikmati setiap sentuhan mereka.

Beberapa detik kemudian Hiruma melepaskan ciumannya. Dia memandangi wajah Mamori lekat-lekat. Begitu bersyukur karena Mamori juga mencintainya. Lelaki yang penuh kekurangan, dan Mamori mau menerima dirinya apa adanya. Dia mencium hidung Mamori dan perlahan mengecup keningnya.

Mamori tersenyum mendapati kelembutan Hiruma. Dia kemudian melingkarkan lengan ke leher Hiruma dan membawanya kembali berbaring. Mamori tersenyum bahagia. Dia lalu memeluk Hiruma dengan nyaman. Mamori mulai memejamkan matanya. Dia mendapati aroma khas Hiruma yang melingkupi dirinya. Mamori merasa aman, karena mendapati Hiruma bersamanya.

"Aku mencintaimu, Youichi. Sangat mencintaimu."

.

.

To Be Continue

.

.

Side Note :

Hai... Tenang. Ini bukan chapter terakhir.

Terima kasih untuk kalian yang selalu rajin review di setiap chapternya. Kalian memang luar biasa!

Jangan bosan-bosan untuk menulis sepatah dua patah kata di kolom review-nya XD

Nantikan chapter terakhir yang akan di update segera.

Salam : De