Chapter 11 (Last Chapter)
.
.
Beberapa Hari Kemudian ...
Jumonji berjalan ke pinggir lapangan untuk beristirahat. Dia meneguk minum dari botolnya sambil duduk di bangku pinggir lapangan. Matanya lalu menoleh ke luar lapangan dan mendapati sepasang pemuda yang sudah tidak asing baginya.
Jumonji memerhatikan mereka. Melihat mereka berjalan berdampingan seperti itu bukan lagi hal yang baru. Tapi tetap saja, hal itu masih menarik perhatian Jumonji mengapa kedua seniornya ini tidak menjalin hubungan saja. Mata Jumonji tidak lepas dari mereka saat keduanya berhenti dan berdiri berhadapan.
Jumonji melihat Mamori mengeluarkan sesuatu seperti lembaran kertas. Dia lalu memberikannya ke Hiruma. Mereka tampak berbincang sebentar. Jumonji menggelengkan kepala karena melihat Mamori yang tengah mengeluarkan omelannya. Jumonji lalu terpaku saat melihat Hiruma mencubit pipi Mamori dengan cengiran khasnya, lalu berganti dengan kecupan ringan di pipi Mamori.
Jumonji menyinggungkan senyumannya. "Akhirnya mereka bersama juga," sahut Jumonji.
Jumonji lalu meletakkan kembali botol minumnya dan kembali ke lapangan.
.
.
"Lupakan saja Atlet Hiruma, Mayu-san," ujar Yukiko.
Mayu masih berkutat di kasurnya dan enggan untuk meninggalkannya. "Aku tidak memikirkannya," bantah Arisawa.
"Kamu pikir sudah berapa tahun aku kerja padamu?"
Arisawa menghela napas dan makin memeluk bantalnya. "Aku masih tidak bisa melupakan saat awal melihat sikapnya masuk ke ruangan waktu itu. Dia jelas-jelas tidak tertarik padaku. Bahkan terkejut pun tidak."
"Dan kamu pun benar-benar pintar berakting," balas Yukiko.
Mayu menghela napasnya lagi. "Aku tidak tahu apa aku bisa melupakannya."
"Lupakanlah. Masih banyak lelaki yang lebih baik darinya."
"Dia begitu mencintai asistennya. Dia bahkan tidak tergoda padaku," sahutnya lagi tidak peduli dengan ucapan Yukiko. "Beruntungnya wanita itu."
Yukiko menghela napas kesal. Dia lalu mengibaskan selimut dari tubuh Arisawa. "Berhenti mengeluh," tegasnya. "Sudah lewat dua minggu kamu begini. Aku sudah membatalkan jadwalmu selama itu. Jadi tidak ada alasan lagi untukmu malas-malasan."
Arisawa bangun dengan malas dan memandang manja ke Yukiko. "Teganya kamu Yukiko-san," rengeknya.
"Dengar. Masih banyak atlet Amefuto yang lebih tampan darinya. Lagipula apa bagusnya dia. Wajahnya saja terlihat seram seperti itu. Apalagi sikapnya"
Arisawa menjungurkan mulutnya. "Kalau begitu aku mau tidur lagi saja."
"Mayu-san!"
.
.
Sore hari Mamori baru saja kembali dari gedung utama klub menuju ke gedung asrama. Mamori menoleh sepintas ke lapangan melihat para atlet yang masih berlatih. Dia lalu melanjutkan jalannya tanpa singgah terlebih dahulu.
Sesampainya di kamar Hiruma, Mamori memasukkan laporan yang dibawanya ke dalam laci. Dia lalu mengambil jaket sweater dan tasnya, kemudian keluar kembali.
Kali ini Mamori masuk ke lapangan dan berdiri sejenak disana. Dia menunggu Hiruma menoleh ke arahnya. Tidak butuh waktu lama, Mamori melambaikan tangannya meminta Hiruma untuk menghampirinya. Hiruma pun langsung berlari ke arahnya.
"Sudah mau pulang, heh?" tanya Hiruma.
Mamori mengangguk. "Ya. Besok aku tidak datang. Aku ingin menemani mama berbelanja."
"Keh..." ujar Hiruma. Hiruma terdiam sesaat lalu melanjutkan. "Apa kau bisa makan malam denganku?"
Mamori menyipitkan matanya curiga, karena tidak biasanya Hiruma bertanya kepadanya perihal makan malam.
"Bukan malam ini, tapi besok," lanjut Hiruma lagi merasa gelisah karena Mamori tidak kunjung menjawab.
"Kau tidak boleh bilang tidak karena aku sudah menyiapkan semuanya."
Mamori masih menatapnya curiga. "Jangan bilang kamu ingin mel—"
Hiruma langsung menutup mulut Mamori. "Apa bisa kau jadi bodoh sedikit?"
"Okee... Aku akan pura-pura tidak tahu."
"Terserah..." balas Hiruma. "Tidak perlu pakai gaun. Pakai pakaian biasa saja."
"Dari mana aku punya gaun. Memang kamu pernah membelikanku."
"Keh. Nanti akan kubelikan," balasnya dengan sedikit jengkel.
Mamori tersenyum puas dan mengacak-acak Hiruma. "Kenapa jadi marah begitu?" balasnya. "Jadi besok malam aku kesini atau kau yang menjemputku?"
"Aku yang menjemputmu," jawab Hiruma.
"Baiklah. Sampai besok malam."
.
.
Dengan dress turtle neck kasual berwarna kuning, Mamori membuka pintu untuk Hiruma.
Hiruma menatap Mamori beberapa saat.
"Kenapa? Aku cantik?" sahut Mamori tersenyum.
"Biasa saja," jawab Hiruma. "Ayo."
"Kamu tidak bawa bunga? Biasanya di film-film pria selalu membawa bunga jika ingin mengajak wanitanya makan malam."
"Untuk apa bawa bunga. Memang bunga bisa dimakan, heh? Sudah ayo cepat. Aku lapar."
"Ma.. Aku pergi dulu," teriak Mamori ke dalam rumah. Dia lalu menutup pintu dan berjalan mengikuti Hiruma ke mobil.
Tiga puluh menit mereka berkendara dan berhenti di sebuah di rumah yang tampak asing bagi Mamori.
"Ayo," ajak Hiruma sambil membuka kunci mobil.
Mamori melihat ke sekeliling sambil bertanya-tanya dalam hati.
"Kau mau turun atau tidak?"
"Ini... Dimana?"
"Rumah orangtuaku."
Mamori membelalakan matanya. "Kenapa kamu tidak bilang kalau kita akan makan malam di rumah orangtuamu?"
Hiruma menghela napas. "Karena aku yakin akan seperti inilah reaksimu."
"Aku tidak bawa apa-apa."
"Kau tidak perlu bawa apa-apa," sahut Hiruma sambil turun dari mobil.
Mamori melihat dengan khawatir ke Hiruma yang mengitari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Mamori.
"Youichi..." rajuk Mamori.
Hiruma menggenggam tangan Mamori dan menariknya keluar dari mobil. Mamori pun dengan enggan keluar dan Hiruma menutup pintu di belakangnya.
"Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?" tanya Mamori sambil memperlambat jalan mereka.
"Tidak ada yang tidak suka padamu, bodoh," sahut Hiruma.
Mereka sampai di depan pintu. Hiruma lalu memasukkan password untuk membuka pintunya. Pintu terbuka dan mereka masuk ke dalam.
"Akhirnya kalian sampai juga," sahut seseorang dari dalam rumah.
Mamori menoleh ke asal suara. Dia melihat seorang wanita dengan rambut hitam panjangnya berjalan ke arah mereka. Mata Mamori tertuju pada bola mata hijau yang tidak terelakkan. Seorang wanita cantik yang hampir membuat Mamori tidak bisa mengedipkan matanya.
Mamori segera menyadarkan dirinya. "Selamat malam. Saya Anezaki Mamori," ujarnya sambil membungkukkan tubuhnya.
Ibu Hiruma memegang lengan Mamori seraya menegakkan tubuhnya kembali. Dia lalu memeluk Mamori lembut. "Salam kenal Mamori. Aku Yuuna. Ibunya Youichi."
Hiruma lalu melewati mereka dan berjalan lebih dulu ke dalam.
"Ayo. Aku sudah menyiapkan makan malam."
Yuuna menuntun Mamori sampai mereka tiba di ruang makan. Mamori melihat lelaki menatap tajam ke arahnya. Mamori yang dengan cepat menyadari siapa lelaki itu, segera membungkukkan badannya.
"Selamat malam Paman. Saya Anezaki Mamori," sapa Mamori.
Ayah Hiruma hanya membalas dengan anggukan kepala. Mamori tampak canggung menghadapi ayah Hiruma. Melihat versi yang lebih tua dari Hiruma, terlebih yang baru dikenalnya, membuat Mamori bersyukur ada Yuuna yang bisa mencairkan suasana.
Mereka lalu memulai makan malam yang diselingi dengan obrolan santai. Yuuna banyak bertanya pada Mamori. Tentang bagaimana hubungan mereka selama ini. Ayah Hiruma hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi, begitu pun dengan Hiruma. Mamori jadi tahu dari mana sifat Hiruma berasal.
.
.
Setelah makan malam, Mamori membantu Yuuna membereskan piring kotor di dapur. Mereka masih terus mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari acara televisi, resep masakan, sampai menceritakan masa kecil Hiruma.
"Aku ingat dulu saat Youichi kelas 2 SD. Dia berangkat sekolah dan terpeleset masuk ke parit," ceritanya sambil tertawa. "Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya saat itu. Akhirnya dia kembali lagi ke rumah dan memintaku mengantarkannya."
Mamori ikut tertawa mendengarnya. "Aku tidak bisa membayarkan wajahnya saat terjatuh. Tapi yang pasti lucu sekali."
"Aku ingin tertawa waktu itu melihatnya. Tapi aku tidak tega."
Mereka berdua pun tertawa bersama membayangkan kejadian yang menimpa Hiruma cilik.
Mamori mendengar Hiruma berdeham dan masuk ke dalam dapur.
"Ayo ikut aku ke atas," ajak Hiruma kepada Mamori.
"Sebentar. Aku selesaikan ini dulu," balas Mamori sambil melanjutkan pekerjaannya.
Hiruma menatap ke Yuuna sambil mengerutkan keningnya. "Jangan pernah cerita itu ke orang lain."
Yuuna tersenyum. "Kamu tidak perlu malu. Tetangga kita sudah tahu cerita itu."
Hiruma mengacak-acak rambutnya sendiri, keheranan dengan sifat ibunya.
"Sudah, Mamori. Biar aku saja yang melanjutkan," ujar Yuuna dan menggantikan Mamori di depan cucian piring.
Mamori lalu melepas sarung tangannya. "Tidak apa-apa?"
"Ayo cepat," paksa Hiruma sambil menggenggam tangan Mamori.
Mereka lalu berjalan melewati ruang makan dan menuju tangga untuk ke lantai dua.
"Kita mau kemana?" tanya Mamori di tengah tangga.
"Ke kamarku."
Mamori lalu menghentikan langkahnya sehingga membuat Hiruma menoleh dan menunduk melihatnya.
"Kenapa, heh?"
Mamori menjawab dengan kerutan di keningnya sambil menggelengkan kepala.
"Jangan bertingkah seolah kau tidak pernah masuk ke kamarku. Kau sudah sering bolak-balik ke asramaku, bodoh. Bahkan kamar apartemenku."
Mamori tambah melotot dan menoleh ke belakang melihat ke ayah Hiruma yang sedang memperhatikan mereka. Mamori lalu tersenyum kepadanya.
Hiruma tanpa peduli langsung melanjutkan jalannya lagi dan membawa Mamori bersamanya.
"Apa kamu tidak peduli apa yang dipikirkan orangtuamu. Mereka akan berpikir kita akan melakukan macam-macam di dalam."
Hiruma membuka pintu kamarnya dan mereka masuk ke dalam. "Ya. Aku tidak peduli. Kita juga tidak akan melakukan apa-apa." Hiruma lalu menutup pintunya dan memandang jahil ke Mamori. "Atau kau mau kita berbuat macam-macam disini, heh?" usilnya sambil tersenyum.
Mamori tidak menggubris ucapan Hiruma dan langsung menggeser tubuhnya. Mamori lalu melihat-lihat kamar Hiruma. "Lumayan rapi. Kamu pasti jarang sekali kesini."
Mamori melihat ke foto-foto yang tertempel di dinding kamar Hiruma. Mamori tersenyum melihatnya. Karena itu adalah foto-foto kemenangan Deimon Devil Bats yang pertama. Pandangan Mamori terhenti pada foto dirinya yang sedang tersenyum menggunakan jaket Deimon dan memegang medali di tangannya. Dia ingat saat itu memang dia telah difoto oleh Suzuna.
Dulu Mamori sempat bertanya-tanya kemana hasil foto ini. Suzuna mengaku kalau hasil fotonya hilang. Namun nyatanya foto ini ada dan hasilnya sangat bagus.
Mamori mengambil foto tersebut dan menoleh ke Hiruma yang berdiri di sebelahnya.
"Kenapa kamu menyimpan foto ini?"
Hiruma mengangkat bahu. "Tidak ada alasan khusus."
Mamori memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Hiruma langsung merebut foto itu dan kembali menempelkannya di dinding. Dia kemudian menarik sebuah tali di langit-langit dan sebuah tangga mendarat di lantai.
"Naiklah," ujar Hiruma.
Mamori melirik ke Hiruma lalu menggelengkan kepalanya.
"Tinggal naik saja, bodoh."
Mamori menghela napas. "Kamu tidak lihat pakaianku?"
Hiruma memperhatikan dress kuning Mamori dari atas sampai bawah. "Keh... Aku duluan. Aku tidak tanggung kalau kau sampai jatuh."
"Tidak akan."
Hiruma naik terlebih dahulu ke atas kemudian disusul oleh Mamori.
Sesampainya di atas, Mamori menatap ke sekelilingnya dengan terpana. Ternyata lantai di atas kamar Hiruma adalah sebuah ruangan dengan atap dan dinding kaca. Mamori melihat ke langit yang terpampang dengan sangat indah dari ruangan ini.
"Kamu yang men-design ruangan ini?"
"Hm..," jawab Hiruma. "Aku memang jarang pulang. Tapi aku sengaja membuat ruangan ini agar aku bisa berpikir tenang."
Mamori berjalan mendekati dinding kaca dan menikmati pemandangan malam.
"Jadi ini yang mau kamu tunjukkan?" tanya Mamori.
Mamori yang tidak mendengar jawaban Hiruma, langsung menoleh dan melihat Hiruma mengambil sesuatu dari dalam meja laci di samping sofa. Mamori melihat kotak perhiasan berwarna hitam.
"Apa itu?"
Hiruma berjalan menghampiri Mamori. Dengan tatapan serius yang tertuju pada Mamori, Hiruma berdiri dengan kotak kecil hitam di tangannya. Dia lalu membukanya.
"Mamori. Menikahlah denganku."
Mamori memandangi cincin indah itu dengan harunya, lalu menatap ke Hiruma.
"Jangan diam saja, bodoh. Jawablah sesuatu. Apa kau tahu aku sedang gugup?"
Mamori tersenyum sambil mengusap air mata di ujung matanya. "Kamu tahu, ini sungguh tidak romantis."
"Aku tahu. Jangan menambah kegelisahanku, bodoh."
"Kalau begitu pakaikan," sahut Mamori.
Hiruma terdiam mendengarnya. "Kau mau menikah denganku?" ujarnya.
Mamori mengangguk sambil tersenyum. "Ya Youchi."
Hiruma lalu memakaikan cincin ke jari Mamori. Dia lalu mengecup lembut tangan Mamori kemudian membelai lembut pipinya. Mamori tersenyum. Dia lalu merapatkan diri dan memeluk Hiruma.
"Aku tidak menyangka akan bersamamu seperti ini," lirih Mamori.
"Berjanjilah kepadaku," sahut Hiruma. "Jangan mendiamiku jika marah dan jangan meninggalkanku jika bosan."
"Tujuh tahun aku bersamamu. Aku mungkin akan marah, tapi aku tidak akan pernah bosan," balas Mamori lembut.
"Janji kau tidak akan meninggalkanku, heh?"
"Tergantung bagaimana sikapmu," balas Mamori. Merasa senang dengan menggoda Hiruma.
Hiruma merenggangkan pelukan mereka dan memandang kesal ke Mamori. "Kemarin kau membuatku berjanji, sialan. Sekarang giliranmu."
Mamori memberenggut mendapati Hiruma yang menyumpahinya. "Ya. Aku berjanji. Kenapa bicaramu kasar sekali. Aku ini pacarmu."
"Bukan... Kau calon istri sialanku."
.
.
The END
.
.
Side Note :
Terima kasih untuk yang sudah bersabar menunggu chapter terakhir.
Maaf karena telat sampai 2 bulan (?). Semoga endingnya tidak mengecewakan.
Jangan lupa favorite cerita ini dan berikan pendapat kalian mengenai fic ini di kolom komentar. Setiap review kalian sangat berharga bagi saya.
Okeey... Sampai jumpa di cerita selanjutkan. Doakan saya semoga bisa cepat dapat ide dan menulis cerita lagi.
Terima kasih semuanyaaaa...
Salam : De
