Black Clover © Tabata Yuuki

Story© Panda Dayo

Alternate Universe. Supir Angkot!Lumiere. Mahasiswa!Raia. Big Boss! Licht

possibly ooc, typo, etc.

Tribut buat ultah Lumiere tanggal 12 Februari. Ada 3 Part. Ini Part 1 lah anggep aja begitu. Meski condong ke rhya/lumi sih wkwkw


Kalau saja.

Kalau saja Vetto tidak ada urusan mendadak di BEM, Rhya tidak mungkin menunggu di bawah pohon begini. Biasanya dia nebeng dengan teman beda bapak beda ibu satu itu, karena rumah mereka searah dan cukup jauh. Hari ini Vetto ada rapat sampai malam, dan motor yang biasa digunakan itu punya doi. Rhya mah apa atuh. Prinsip hidupnya adalah mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.

Cuaca sangat terik, Rhya merasa dirinya sebentar lagi akan tersublimasi. Sudah menepi panasnya masih saja amit-amit jabang bayi. Tahi.

Mana Rhya juga harus berdesakan dengan orang-orang lagi. Tempat ini adalah spot ngetem angkot tepat di seberang kampusnya, makanya banyak yang berkumpul juga. Yah, kebetulan saja ia dengar angkot ini sejalur dengan rute pulangnya dari Vetto. Temannya itu yang memberi saran agar naik kendaraan ini. Kebanyakan yang menunggu sih perempuan. Ini adalah sebuah fenomena yang terjadi setiap hari. Rhya sendiri heran, kenapa mereka semua doyan naik angkot? Padahal kereta ada, hanya perlu jalan sepuluh menit ke stasiun. Pula halte yang berada tak jauh dari sini. Jadi mengapa orang-orang hobi menaiki kendaraan buluk itu?

Lantas jika sebegitu tidak sukanya, mengapa Rhya menunggu juga?

Jangan bilang kalian tidak tahu derita mahasiswa akhir bulan? Kere. Dah lah males.

"Kyaaaa! Itu angkotnya!" salah seorang penunggu —maaf, calon penumpang tampak gembira setelah melihat angkot biru yang muncul dari kejauhan. Rhya memutar mata. Apa istimewanya sih angkot itu? Tapi mau bagaimana lagi ia juga tidak punya pilihan lain. Terpaksa ia harus naik ketika transportasi itu berhenti.

Di dalam juga sama saja sumpeknya. Tahan, Rhya. Tahan. Ini tidak seberapa dan hanya berlangsung satu hari, besok bisa bonceng Vetto lagi. Amin.

"Bang Lumiere, aku turun di pertigaan depan, ya!"

"Aku di sebelah halte, ya!" —wut? Ngeselin anjir. Padahal halte dekat tapi kenapa mereka membuang uang buat naik angkot?

"Siap!"

Deg!

Rhya mendadak terpaku. Ia menoleh ke bangku pengemudi. Tapi yang ia lihat hanya rambut pirang pendek sang supir ini. Siapa dia? Entah kenapa Rhya merasa dia bukanlah supir biasa. Suaranya itu! Ngademin kokoro banget! Rhya curiga dia pakai jampi-jampi. Ia harus memastikannya sendiri.

Siapa namanya tadi? Lumer? Lemper?

"Bang Lumiere! Aku turun sini!"

"Oke!"

"Eh, tapi foto dulu yuk, bang!"

"Wah, aku masih bekerja. Kapan-kapan saja, ya!"

Oh, Lumiere. Namanya agak nyentrik. Dari bahasa mana itu? Bahasa kalbu? Terlebih, ia sepertinya cukup populer juga. Tapi kenapa Rhya tidak pernah tahu menahu soal popularitas Lumiere? Ia tidak menyangka bahwa dirinya sekudet ini.

Angkot terus berjalan. Rhya tidak sadar telah melewatkan jalurnya. Ia sibuk memperhatikan punggung sang supir. Kira-kira wajahnya bagaimana, ya?

"Masnya turun di mana?"

Supir itu menoleh. Memberi senyum indah kira-kira mabushii. Kedua iris birunya begitu teduh, ditambah wajah manisnya. Rambut pirang pendek, suara lemah lembut nan aduhai.

Rhya terjungkal karena mendadak ditatap. Gila! Seumur-umur ia baru melihat orang secakep itu. Siapa sebenarnya makhluk ini? Kok kawinable sekali? Apa dia malaikat? Atau dia ternyata adalah jodoh yang dia cari selama ini?

Rhya junior, tenang. Belum saatnya untuk menegakkan keadilan.

"Mas? Kita hampir sampai terminal. Habis ini saya harus oper ke supir lain."

" ... "

" ... mas?" Lumiere malah curiga mas-mas penumpangnya kerasukan jin. Ia memberhentikan angkutannya dan melihat kondisi Rhya yang cukup ekstrim. Pemuda itu terkapar dengan gejala ngiler. Perlahan, Lumiere menepuk pundak Rhya yang kelihatan hohohihe.

"Mas? Mas! Sadar, mas!"

Bilang apa makhluk itu tadi? Mas? OMG? Rhya dipanggil mas? Kok manis banget? Rhya ngefly.

"Mas?"

"Ah, maaf." Rhya kembali pada kenyataan. Sialan, wajah mereka sekarang dekat sekali! Tunggu, wangi apa ini? Melati. Jangan-jangan parfumnya Lumiere?

"Jadi masnya turun di mana? Turun di terminal sekalian?"

" ... "

"Mas?"

"Ah, iya?" Rhya menepuk dahinya. Kenapa dia jadi bloon gini?

"Penumpang terakhir tinggal Anda, mau turun di mana?" Lumiere masih bertanya dengan sopan.

Rhya terpana. Astaga, apa-apaan itu? Soft sekali. Setelah Rhya lama merespon ia bahkan masih memperhatikan dengan penuh kasih sayang. Tampangnya imut kalo melongo begitu, bibirnya pun ciumable. Harusnya Lumiere menjadi supir angkutan itu ilegal!

Lumiere menatap heran. Ini orang kenapa? Habis ngiler sekarang malah hohohihe. Mungkinkah ... dia adalah anggota sindikat begal yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan?

Belum sempat mencari solusi, tiba-tiba saja Rhya meraih tangan si supir,

"Turun di hatimu saja, boleh?"


Part 1 end


A/N : Rhya jadi tukang gombal! HAHAHAHAHA somehow cocok aja. Lagian dia ambigay banget pas tahu Licht ama Lumiere reunian, dia bilang "Aku cemburu." LU CEMBURU SAMA LICHT ATAU LUMIERE, KOPLOK? /Gebrak meja

oke lanjutan masih ada tapi besok pas ultah Lumiere

thanks for read

siluman panda