ada tambahan astayuno wqwq bodo but still ada Lumiere Sans.
Warung Makan Mbak Yun.
Lumiere menghela napas membaca nama sebuah warung. Setelah seharian menarik penumpang, tubuhnya sangat lelah dan butuh makan. Hari ini penumpangnya banyak sekali, termasuk yang aneh sebelum ia menyelesaikan pekerjaannya.
"Penumpang terakhir tinggal Anda, mau turun di mana?"
"Turun di hatimu saja, boleh?"
Sumpah demi apa Lumiere keselek. Ada-ada saja manusia zaman now, begitu pikirnya. Untung saja ia tidak menamparnya, huh. Dan setelah melalui hari-hari berat, ia akan mampir ke warung makan ini. Warungnya sederhana, menunya enak dan murah. Penjualnya bernama Yuno Grinbellior, seorang pemuda yang penuh semangat.
Kok namanya di spanduk jadi Warung Makan Mbak Yun? Tenang, ada penjelasan untuk ini. Tukang printnya salah cetak karena mengira Yuno sebagai seorang perempuan ketika memesan (rambutnya memang agak panjang). Biaya membuat spanduk mahal, Yuno tidak bisa menggantinya begitu saja kecuali besok ada sugar daddy yang tiba-tiba saja datang dengan uang satu miliar.
Sebentar—
"Yuno, soto satu mangkuk, ya!"
"Baik, Mas Lumiere."
"Halo, Yuno!"
Muka jutek Yuno mendadak cerah seperti habis dirukiyah. Lantas ia melempar senyum kepada pelanggan yang datang setelah Lumiere.
"Oh, Asta! Mau makan, mau mandi atau mau aku?"
Asta terbahak. "Hahaha! Kamu lucu sekali, Yuno! Seperti seorang istri saja! Aku pesan kare!"
Karena inilah Lumiere bilang Yuno adalah pemuda yang penuh semangat. Lebih tepatnya, hanya semangat saat melihat Asta, kuli yang kebetulan bekerja di dekat sini mulai tiga bulan lalu. Entah membangun candi atau kerajaan karena kerjaannya belum kunjung rampung. Tapi itu tidak penting selama Yuno bisa bertemu dengannya. Sayangnya, Asta itu tidak peka level awas. Bahkan ketika Yuno bilang segamblang itu, Asta menganggapnya sebagai candaan. Padahal Yuno bersungguh-sungguh ketika mengatakannya.
"Ini, Lumiere." seseorang memberikan semangkuk soto pada Lumiere.
"Oh, terima kasih, Vanessa!"
Vanessa Enoteca, dia adalah satu-satunya pegawai Yuno sekarang. Karena Yuno sering keblinger sama seorang kuli bangunan, membuatnya harus mencari pekerja tambahan. Tidak apa kata Yuno, ini harga yang murah agar bisa meningkatkan kesempatan modus sama gebetan.
"Sama-sama. Hei, kau lihat pemandangan itu?" bisiknya sambil menunjuk ke arah Asta dan Yuno. Yuno mengambil kare yang dipesan dan menyuguhkannya kepada Asta—astaga banyak sekali.
"Eh? Bukankah ini terlalu banyak, Yuno?"
"Hari ini hari spesial, jadi bukan masalah."
"Oh, terima kasih kalau begitu!"
Vanessa tidak tahan melihat Yuno dengan aura bunga-bunga begitu. Ia jadi edan sejak kenal Asta. Katanya sih, mereka pertama kali berjumpa saat bulan purnama tiga bulan lalu saat Vanessa masih belum bekerja di sini. Waktu itu warung Yuno hampir dirampok dan Asta yang sedang mencari makan kebetulan secara heroik menyelamatkannya. Yuno terpana dan sejak saat itu ia jatuh cinta, terkena ilusi bahwa Asta adalah pangerannya.
Pertanyaan, kenapa Yuno jadi belok?
Waktu Vanessa menanyakannya, Yuno hanya menjawab dengan memasang raut kesal.
"Kenapa? Jangan-jangan kau juga naksir Asta?" sambil membawa sebilah pisau.
Yuno sudah tidak waras kalau menyangkut pujaan hati.
"Yah, masa muda memang harus dinikmati." komentar Lumiere bersahaja. Vanessa terkekeh pelan.
"Kau memang selalu begitu. Ayo kencan denganku." godanya.
"Um, maaf aku menolak." Lumiere juga merasa tidak enak. Tapi bagaimana mengatakannya, ya? Ia juga bingung. Yang jelas ia capek bekerja dan ingin cepat-cepat beristirahat saja.
"Tidak seru. Ah, ada pelanggan lain!"
Oh, Lumiere tahu dia. Seorang karyawan kantoran bernama Noelle. Dia mulai mampir sejak satu bulan lalu. Asta memergokinya maju mundur syantik di depan warung, kemudian menyeretnya masuk.
Jangan tanya semurka apa Yuno waktu itu. Hampir saja makanan pesanan perempuan itu diludahi sang pemilik warung kalau tidak dihentikan Vanessa. Makanya Vanessa bergerak cepat melayaninya sebelum Yuno kumat.
"Mau pesan apa, Noelle?" tanya Vanessa ramah. Noelle tampak ragu sebelum bilang. "Sate."
"Oke!" Vanessa pun bergegas menyiapkannya.
Yuno memandang tidak suka. Noelle pun bisa merasakan tatapan jahat itu, namun memilih diam. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya Yuno tidak menyukainya. Bodo amat! Dia ke sini karena lapar, titik!
—dan karena harganya yang murah.
"Oh, Vanessa! Bosku juga akan mampir kemari, bisa tambah lagi satenya? Dia sedang ada sedikit urusan tadi."
"Tentu, gadis manis!"
Noelle tidak sengaja keceplosan menyebut nama Lumiere ketika menceritakan warung makan yang dia kunjungi belakangan kepada bosnya. Bosnya kepo kenapa Noelle selalu pulang lebih dulu, jadi dia bertanya. Wajah bosnya sedikit berbeda ketika ia menceritakan Lumiere, sang supir angkot yang makan tiap sore di sana.
Noelle penasaran. Apa bosnya dan Lumiere ada hubungan? Sebuah hubungan gelap? Cinta terlarang dari yang terlarang? Ugh. Noelle kan juga ketularan kepo akhirnya. Bosnya ada sedikit urusan jadi tidak ikut bersamanya. Noelle sudah memberitahu lokasinya, jadi bosnya pasti baik-baik saja.
—mungkin.
"Apa kabar, Noelle? Bagaimana harimu?"
Sudah sifat Asta terkesan carefree dengan siapa saja, termasuk Noelle. Apa dia tidak sadar tekanan batin yang dialami si gadis ketika ditatap intens oleh pemilik warung dengan hawa membunuh itu?
"Ja-jangan sok akrab denganku!"
"Ugh, kata-katamu menyakitkan, lho!"
Yah, daripada aku jadi daging cincang—batin Noelle nelangsa kala melihat Yuno sudah mengangkat pisau. Haha. Kenapa sih dia juga harus terlibat drama murahan ini? Kalau suka ya bilang saja lah, Yuno sialan! Tidak perlu memakai ancaman segala!
"Kudengar proyekmu hampir selesai, Asta." balas Noelle. Proyek yang sedang dikerjakan Asta dan rekan-rekannya adalah pembangunan sebuah gedung yang tak jauh dari sini.
"Yah, karena Om Yami bersama kami, jadi pengerjaannya akan lebih cepat."
Yuno yang semula tampak bahagia kini dirundung nestapa. Wajahnya muram, terlihat seperti mau mati saja.
"Jadi ... Asta tidak akan kemari lagi?" Yuno duduk di sebelahnya dan menatap nanar, berusaha memastikan bahwa itu tidaklah benar.
"Kurang tahu juga, tapi rumahku jauh dari sini. Mungkin saja begitu." jelas Asta tanpa dosa. Yuno mendadak meriang, berharap ini hanyalah dusta belaka. Ia bersumpah akan mengutuk siapapun yang berusaha memisahkannya dengan Asta.
Lumiere yang telah menghabiskan sotonya hanya geleng-geleng kepala. Ia segera membayar bagiannya dan berniat pergi. Baru saja melangkah ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang.
" ... Lumiere? Itukah kau?"
Lumiere terhenti.
"Licht? Sedang apa di sini?"
Usut punya usut keduanya merupakan teman di SMA yang sama dahulu. Licht melanjutkan pendidikannya karena ia berasal dari kalangan berada serta harus mengurus perusahaan keluarga, berbeda dengan Lumiere yang hidup sebatang kara dan lebih mementingkan urusan perut ketimbang hal seperti itu.
Mereka selalu sekelas dengan bangku yang bersebelahan. Kadang, Licht akan memberi jimat padanya ketika jam pelajaran berlangsung. Licht suka melakukannya dengan memutar jimat itu ke depan, padahal ia tak perlu melakukannya karena Lumiere duduk di sebelahnya.
Selain itu, mereka juga berada di klub yang sama; klub tenis. Tapi sekolah mereka hanya berhasil lolos hingga semifinal. Bukan hanya itu, mereka bahkan sering makan bekal bersama, atau mencoba menu baru di kantin berdua. Intinya mereka memang teman dekat dahulu.
Melihat Lumiere yang tak merespon, lantas Licht memeluknya, membawa ke dalam dekapan hangat. Lumiere terhenyak. Jadi Licht masih mengingatnya setelah sekian lama? Ia sedikit terharu juga.
"Bos, jadi dia teman lama Anda, ya?" Noelle bertanya. Licht mengangguk. Sekarang Noelle mengerti kenapa bosnya begitu tertarik ketika mendengar nama Lumiere.
"Aku mencarimu kemana-mana, Lumiere! Tidak kusangka sekarang bisa bertemu lagi."
"Kenapa kau mencariku?" bagi Lumiere, aneh jika Licht mencarinya. Tidak ada urgensi apa-apa.
"Tentu saja untuk ini."
Lumiere menerima sebuah kotak beludru merah. Di dalamnya ada sebuah cincin berlian. Licht cuma tersenyum ketika melihat Lumiere mulai memerah.
"Licht. Apa maksudmu?!" mungkin saja itu kado persahabatan? Atau semacam suvenir,—
"Sudah jelas, 'kan? Ayo menikah."
—'kan?
Lumiere pingsan di tempat.
Vanessa dan Licht membantu Lumiere, memberinya pertolongan pertama dengan menelpon ambulans. Berlebihan memang, tapi terserah yang punya uang.
Asta melongo melihat pemandangan itu. Ia tidak pernah melihat orang melamar seperti itu sebelumnya. Di depan umum pula. Memang kalau sudah cinta serasa dunia milik berdua. Seperti sinetron saja.
Tiba-tiba Asta merasakan beban di pundaknya. Yuno ternyata menyanderkan kepalanya.
"Ada apa, Yuno? Kau lelah?" memang dasar orang budiman, tidak pernah berprasangka buruk.
"Iya, aku lelah," katanya. "lelah menunggu Asta yang tidak peka."
"Kau masih suka bercanda begitu, Yuno? Hahaha." Asta menepuk punggungnya. Yuno menatap ke arahnya dan kini wajah mereka semakin dekat.
"Aku tidak bercanda, aku sungguhan suka Asta."
"EEEEHHHHHHHH?!"
Noelle pusing. Sate pesanannya bahkan belum datang dari tadi. Apalagi melihat kanan-kirinya. Semua cuma mementingkan diri mereka sendiri. Ia membatin kesal,
KENAPA SEKELILING GUE HOMO SEMUA.
Part 2 end
