Jadi pusat perhatian itu melelahkan.

Tiga tahun menjadi supir angkot, Lumiere dapat mengkonfirmasi hal tersebut benar adanya. Padahal apalah dia, kekurangannya juga setinggi Himalaya. Tapi entah kenapa orang-orang selalu bilang dia ini cakep dan berwibawa. Darimana ceritanya?

Setelah mendapat konfesi tidak langsung dari seorang mahasiswa tidak tahu diri, berikutnya adalah giliran kawan lama yang tiba-tiba datang melamar dengan cincin berlian. Lumiere tidak tahu ... sejak kapan dia jadi magnet homo?

Usai siuman ia diantar oleh Licht pulang. Jangan tanya kenapa, tentu saja Licht yang memaksa karena ingin tahu rumah Lumiere sekarang. Meski sebenarnya Lumiere lebih terkejut dengan fakta bahwa Licht ternyata menyimpan rasa sejak lama. Sepanjang perjalanan ia tidak henti bercerita. Membuat Lumiere makin salah tingkah saja.

"Um, berhenti, Licht."

Mengerem mobil, Licht lantas menoleh kepada kawan lamanya. "Rumahmu di sini?" dan dia melihat sebuah rumah kecil bercat biru muda tak jauh dari posisi mereka.

Lumiere mengangguk.

Sebelum Lumiere menurunkan kaki, Licht menarik tangannya dan memberi kecupan pipi. Wajah Lumiere merah total. Astaga, apa ini bisa disebut sebagai pelecehan seksual? Haruskah Lumiere menghajarnya dengan segenap rasa kesal?

"Apa yang kau lakukan, Licht?!" Lumiere menarik diri. Ia tidak percaya bahwa Licht berani melakukannya.

"Hahaha, wajahmu lucu sekali, Lumiere. Sampai besok kalau begitu."

Lumiere benar-benar turun kali ini dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Setidaknya ia harus menghargai kebaikan Licht yang mengantarnya.

Menghela napas, lelaki pirang segera masuk ke rumahnya. Hari ini melelahkan sekali. Ia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi esok hari. Tunggu, kenapa dia bingung? Dia kan bukan homo, tolak saja semuanya. Beres. Kenapa dia sampai kepikiran? Bukankah selama tiga tahun ia memang selalu mendapat perlakuan ini? Seperti bukan dirinya. Orang-orang seperti mereka hanya bermain-main saja.

Tapi ... itu Licht yang tadi menyatakan cinta. Dia tidak akan mengatakan hal yang sama sekali tidak ia yakini. Juga ia adalah orang yang serius. Lumiere deg-degan. Ia menggeleng cepat lalu menampar pipinya sendiri.

"Sadarlah, Lumiere! Cepat tidur untuk bekerja besok!"


Lumiere masih kepikiran. Harus bagaimana ia menjawab Licht?

Pada akhirnya ia keluar untuk mencari udara segar. Beberapa keping koin ia masukkan ke dalam vending machine untuk mendapat sekaleng kola.

Sudah pasti ia tolak, 'kan? Tapi dia bingung. Cara penyampaian tanpa menyinggungnya itu seperti apa? Lumiere juga tidak mau hubungan mereka renggang. Ia juga senang bertemu dengan Licht lagi—sebagai teman.

"Hei, kenapa wajahmu begitu?"

"Hwaaa!" Lumiere terkejut setengah mati. Di sebelahnya mendadak ada penampakan mahasiswa yang tadi siang menggombalinya.

"Aku tanya, jawab dong."

"K-kenapa kau ada di sini?!"

"Aku sedang bosan jadi aku keluar. Kebetulan sekali bertemu denganmu."

Memang benar murni kebetulan saja. Rhya usai menggarap tugas dari rumah Fana. Karena merasa lelah berpikir akhirnya ia memutuskan mencari sesuatu di vending machine. Siapa sangka bertemu dengan supir yang tadi siang mengantarnya?

Ini pasti rezeki anak sholeh—Rhya.

"Kenapa wajahmu muram begitu?" Rhya menyadari bahwa Lumiere terlihat tidak bersemangat. Sangat jauh berbeda dengan rautnya siang tadi.

"Eh? T-t-tidak ada apa-apa, kok!"

"Aku tahu kau sedang berbohong, kau tidak bisa menipuku."

"E-e-eh?! M-maaf, bukan apa-apa."

Rhya merasa ada peluang tercipta. "Kau bisa bercerita padaku. Itu kalau kau mau."

Hening.

Rhya garuk kepala. Apa ia mengatakan sesuatu yang salah? Ia hanya tidak tega melihat wajah sedihnya dan tulus untuk membantu. Lumiere memegang lengannya dan berkata,

"Ada ... ada seseorang yang melamarku."

Rhya menyemburkan jus jeruk kalengan yang baru saja ia minum.

Brussshhhhhh

"A-A-A-APA?! SERIUSAN?! LALU KAU JAWAB APA?"

Lumiere menunduk lesu. Matanya tampak berkaca-kaca. Pakai acara gigit bibir segala. Sial. Apa dia berniat menggodanya? Rhya tidak sadar menurunkan pertahanan dan ini yang didapat. Gawat. Tahan, Rhya junior. Tahan dulu.

"Aku tidak tahu, kami teman SMA dulu dan cukup dekat. A-aku hanya terkejut saja. Kupikir aku akan menolaknya saja, tapi aku tidak tahu kata-kata yang tepat. Aku hanya tidak ingin menyakitinya."

Kampret! Sudah ada orang yang duluan tancap gas rupanya. Tidak bisa dibiarkan. Rhya pasti akan menjauhkan mereka!

"Er, seperti apa orang yang melamarmu itu?" Rhya kepo. Dia ingin tahu standar Lumiere juga kalau bisa. Jadi ... siapa gerangan orang yang berani melamar sang primadona?

"Um, dia punya perusahaan sendiri. Aku baru tahu bahwa aku sering bertemu dengan karyawannya di tempat langganan makanku."

Bangke! Kapitalis bangsat! Terkutuk mereka semua!

"O-oh, kalau mau menolaknya menurutku kau harus dengan tegas mengatakannya." sial. Kenapa sih Rhya kalah modal? Pemuda itu berjanji akan menjadi lebih pantas untuk Lumiere di masa depan, setelah memastikan bahwa lamaran ini tidak akan dilanjutkan. Ia sudah membulatkan tekad.

"Anu, aku belum tahu siapa namamu. Rasanya aneh bercerita begini tapi aku tidak tahu namamu."

Bola mata Rhya menjadi putih semua. Bilang apa makhluk kawinable itu? Dia bertanya namanya? Apakah ini pertanda bahwa mereka bisa saja bersama?

"Rhya, namaku."

Lumiere mengulas senyum. "Nama yang bagus."

Rhya junior, belum saatnya menegakkan keadilan! Tahan dirimu! Ini baru awal! Hanya amatir yang melakukan ini! Seorang profesional harus bersusah-susah dahulu sebelum mendapat hasil!

"Jadi aku panggil Rhya, nih?"

Aku lebih suka dipanggil sayang—batin Rhya gendeng.

"Terserah kau saja."

"R—Rhya?" Lumiere menggaruk pipinya. Mengetes bahwa ia tidak salah eja.

Maygad maygad MAYGAD!

Tuhan, bolehkah Rhya menggagahinya sekarang juga?

"Bo-boleh saja." pada akhirnya Rhya cuma garuk kepala. Hehe. Setidaknya sekarang ia ternotis.

"Terima kasih sudah mau mendengarkan masalahku. Sekarang aku jadi lebih lega." Lumiere tertawa pelan. Ia berkedip beberapa kali, melihat Rhya yang sepertinya zonk.

"Rhya?"

Brak

Lumiere didorong ke vending machine. Kedua tangannya ditahan. Berkeringat dingin, Lumiere baru ingat bahwa mahasiswa bernama Rhya ini tadi siang baru saja melakukan gombal padanya.

"Jujur saja aku tidak tahan, kau sangat menggemaskan ... " ah, bodo! Rhya ingin menggarap Lumiere sekarang juga! Kapan lagi kesempatan bagus seperti ini datang? Mumpung jalanan juga sepi.

Rhya junior, inilah saatnya untuk menegakkan keadilan!

"T-tunggu, Rhya! Apa yang mau kau lakukan?!" jangan bilang Lumiere akan menjadi korban pelecehan seksual sesi dua? Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi! Lumiere berusaha melawan sebisanya, tapi entah kenapa kekuatan mahasiswa ini seperti gorila. Berguru di padepokan mana dia?

"Kira-kira kalau sedang berduaan begini, apa yang bisa kita lakukan?" Si mahasiswa mendekatkan wajahnya. Lumiere memalingkan muka. Terlalu dekat!

"Hei, berhenti—hahahaha! Hei, hentikan! Rhya—hahahaha!"

Ternyata Lumiere digelitiki.

Di tengah acara tawanya, Lumiere merasakan sesuatu yang tidak biasa. Bukan hujan, langit masih nampak cerah dengan bintang-bintang. Jadi kenapa ada sesuatu yang terasa basah di bibirnya?

Eh, bibir?

Lumiere terbeliak ketika sadar bahwa Rhya sedang menciumnya. Hanya kecupan biasa sebelum Raia memaksa Lumiere membuka mulutnya. Lidahnya masuk tanpa izin, membuat lelaki pirang kewalahan. Kasar sekali, tidak ada lembut-lembutnya. Juga, ia susah bernapas. Apa Rhya berniat membunuhnya? Jadi benarkah dugaannya bahwa Rhya merupakan anggota sindikat begal?

"—nghh."

Lumiere menyerah. Ia membiarkan Rhya melakukan sesukanya. Tenaga Lumiere sudah habis karena dipakai bekerja seharian. Ia bahkan belum minum kola kalengan. Tapi Rhya tidak berhenti di sana. Salah satu tangannya malah meraba-raba area belakang.

Lumiere hampir kehabisan napas, ia harus melakukan sesuatu. Ah, benar juga!

Jduakkk!

Rhya terkapar begitu saja setelah menerima headshot dari Lumiere. Sementara Lumiere melongo karena tidak percaya serangannya barusan berefek pada Rhya.

"Ugh ... sialan. Hahh ... hahh ... ciuman pertamaku." Lumiere mengusap bibirnya. Bajingan. Dasar fakboi. Dia bahkan lebih buruk dari Licht—ya bukan berarti Lumiere suka dicium seenak jidat! Besok-besok Lumiere akan ban Rhya dari daftar penumpang. Ternyata dia cuma orang mesum.

Ya ampun, bibir dan pipinya sudah tidak perawan. Lumiere merasa ternoda. Mana semuanya diambil sesama lelaki pula. Menyedihkan sekali kisah asmaranya.

Sebelum meninggalkan Rhya, Lumiere mengamatinya dengan seksama. Hebat sekali ternyata tengkoraknya, bisa membuat orang pingsan hanya dengan sekali coba. Meski Lumiere juga cenut-cenut karenanya. Ia sedikit kasihan juga melihat jidat Rhya yang merah. Tapi itu kan karena salahnya sendiri! Lumiere tidak mau peduli!

Apa tidak apa-apa ditinggal saja?

Lumiere menampar pipinya lagi. Apa sih yang dia pikirkan? Dia sudah dilecehkan! Tidak perlu ada simpati atau drama picisan!

Pada akhirnya Lumiere meninggalkannya seorang diri sambil menggerutu sebal. Ia bahkan lupa mengambil kolanya. Lumiere mengacak rambutnya, pusing dengan serentetan kejadian tak terduga.

Ah, biarlah! Ia mau tidur saja!


part 3 end


a/n : gaada tag Chara Lumiere ye. kesel gw. btw hbd Lumiere! moga makin ganteng teng teng wqwq ditinggal pas lagi sayang:"(