Hari ini Lumiere bertukar jadwal dengan Valtos, ia tidak mau menarik di kampus setelah insiden semalam. Valtos sih tidak mengapa, tapi ia tetap bertanya apa alasan Lumiere. Lelaki pirang hanya menjawab bahwa ia ingin mencoba ganti suasana.
Kali ini Lumiere ngetem di sekitar area perumahan. Kata Valtos, tempat ini sangat sepi penumpang. Tapi biarlah, Lumiere ingin mengatasi kegalauannya terlebih dahulu. Ia sedang menunggu penumpang sambil menyeruput b*ba.
"Maaf pak, bisa tolong cepat?"
"Oke!"
Lumiere melihat ke arah belakang, minuman b*banya terjatuh dramatis. Serius, kalau ada yang namanya Dewa, ingin Lumiere hajar wajahnya sekarang juga! Seenaknya membuat takdir pertemuan seperti ini!
"Loh, Lumiere?" dan penumpangnya pagi itu adalah Licht.
"Li-Li-Licht?!"
"Bukankah ... supir di daerah sini itu Valtos, ya? Mobilku sedang ada masalah, jadi aku memintanya datang—tapi kenapa kau di sini?"
Kampret. Serius Lumiere tidak tahu bahwa Licht ternyata tinggal di sekitar sini! Menghindari lubang buaya, ia malah masuk ke habitat piranha.
—apa tanggapan Licht kalau tahu dirinya dipadankan dengan seekor piranha?
"A-aku memintanya ganti denganku, aku tidak ingin menarik di dekat kampus sementara waktu." Lumiere menghadap ke arah depan lagi. Astaga. Kenapa pipinya terasa amat panas? Ini masih pagi, 'kan? Apa cuacanya sedang begini?
"Lumiere, apa kau sakit? Wajahmu merah sekali."
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!
Di sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya diam. Tidak ada penumpang selain Licht hingga setengah jam kemudian. Mendadak Lumiere menyesal tidak mendengarkan perkataan Valtos bahwa daerah ini sepi. Lebih baik jika banyak penumpang seperti di kampus, ia bisa berkamuflase. Tapi, ia tidak ingin melihat wajah Rhya! Ugh. Lumiere bingung kenapa takdirnya seperti ini.
Licht anteng saja sambil sesekali melihat ponselnya, mungkin menghubungi seseorang. Lumiere menyetir sambil ketar-ketir. Kenapa Licht bisa setenang itu setelah dia mengacaukan kehidupan Lumiere? Apa dia tidak tahu Lumiere tak bisa makan khidmat apalagi bobok nyenyak hanya karena memikirkan lamarannya?
Mengapa ini harus terjadi padanya? Kenapa harus dia dan bukan orang lain saja? Ini salah Licht yang tiba-tiba menyatakan perasaan padanya. Lumiere jadi bingung dibuatnya. Lihat, Licht bahkan tidak menanyakan jawaban Lumiere sekarang. Sebenarnya dia itu serius atau tidak, sih?
Ngomong-ngomong soal itu, Lumiere ingat. Dulu Licht pernah ditembak seseorang, tetapi ia menolaknya karena ingin fokus dengan masa depan. Kenapa Lumiere tahu? Ia tidak sengaja menguping waktu itu. Bukan seorang saja, Licht itu seperti idola di sekolah mereka. Prestasinya cemerlang, lembut dan ramah terhadap siapa saja. Ganteng pula. Siapa yang tidak jatuh hati padanya?
Lumiere menggeleng. Fakta bahwa Licht memilihnya dari sekian banyak orang memang membuatnya senang, tapi dia kan bukan homo! Lumiere harus memberitahunya sebelum terlambat.
"Licht—"
"Oh ya? Noelle? Bagaimana kabarmu?"
Hah?
Lumiere melihat dari cermin atas dasbor, Licht sedang menelpon seseorang.
"Baik, Licht-san! Saya akan segera ke ruangan Anda setelah menyelesaikan ini."
"Aku juga belum sampai, tidak usah terburu-buru."
Kalau tidak salah, Licht tadi memanggilnya Noelle? Noelle itu ... gadis kantoran yang juga sering mampir ke Warung Makan Mbak Yun belakangan ini? Ia yakin tidak salah dengar bahwa Noelle kadang menceritakan bosnya. Dan hal itu memang terkuak saat Licht melamarnya sore itu.
Lumiere merasakan pipinya memanas lagi. Sadarlah, Lumiere! Kau bukan homo! Kenapa kau terus-menerus merasa malu?
Klik.
Panggilan berakhir.
Licht yang baru saja menyelesaikan panggilannya segera memanggil Lumiere.
"Lumiere, aku berhenti di sini."
Tidak ada jawaban sampai angkutan telah lewat beberapa meter dari titik yang dimaksud Licht. Licht heran, kenapa Lumiere tiba-tiba diam?
"Lumiere, kita sudah lewat jauh. Tolong putar."
Masih tiada respon.
"Lumiere, kumohon ayo berhenti. Aku akan terlambat ke rapat direksi nanti."
Akhirnya Lumiere berhenti. Licht pun bernapas lega. Mungkin tadi Lumiere sedang memikirkan sesuatu hingga tidak fokus? Yang penting sekarang angkutannya berhenti.
(Ya karena mikirin elu, geble!)
"Akhirnya. Astaga, ada apa Lumiere? Apa kau sedang ada masalah hingga sulit diajak berhenti? Apa ada kendala mesin?"
Licht melihat temannya itu mengerucutkan bibir. Ia heran kenapa Lumiere memasang raut begitu. Apa telah terjadi sesuatu?
"Lumiere?"
Lumiere tiba-tiba saja menatapnya tajam.
"Kalau ngajak serius, tolong perjuangkan agar aku yakin padamu, Licht."
Eh?
tamat
