.
"Sudah kukatakan berapa kali untuk berhenti menggangguku!" Suara teriakan penuh amarah memenuhi seisi ruang musik sekolah. Chanyeol menatap dengan berang sosok pemuda mungil di hadapannya yang tengah jatuh tersungkur.
Mata bulatnya berkilat penuh emosi. "Maaf. Aku hanya menuruti apa yang ayahmu perintahkan, Chanyeol."
"Jangan memanggilku sok akrab, brengsek."
Baekhyun, pemuda satunya menggigit bibir bagian dalamnya, berusaha menahan isakan yang siap meluncur kapan saja. Ia meremas kedua tangannya secara bergantian, salah satu cara yang biasanya ia lakukan ketika sedang berusaha menahan tangis.
"Tapi—"
"Berhenti!" Chanyeol melemparkan buku yang sedari tadi digenggamnya. Emosinya tersulut dengan cepat hanya dengan melihat wajah Baekhyun. "Kau tahu? Karena kau, aku menjadi tidak dapat melalukan apapun yang kumau. Sejak awal aku tidak pernah menyetujui ini tapi karena kau dan keluargamu, aku harus menanggung semua ini!"
Chanyeol membuang nafas dengan keras. Tangannya terangkat lalu mengacak surai peraknya kasar. Tidak perduli jika rambutnya akan berantakan. Emosinya semakin meningkat kala mendengar suara isakan tertahan Baekhyun.
Chanyeol yang memang tidak memiliki kontrol emosi baik, segera menyambar kerah kemeja Baekhyun. Dan tanpa mengucapkan apapun, Chanyeol mendaratkan sebuah pukulan keras di pipi sebelah kanan Baekhyun.
Baekhyun yang tidak siap langsung terlempar begitu saja ke atas lantai. Ia meringis saat mencium bau besi. Bibirnya robek. Air mata keluar semakin deras membasahi kedua pipinya.
Tangan besar Chanyeol menarik rambut Baekhyun tanpa perasaan. Ia kemudian tersenyun miring melihat wajah Baekhyun. "Ini sebabnya aku benci dengan orang lemah." Ucap Chanyeol seraya menghempaskan kepala Baekhyun keras ke atas lantai.
Chanyeol melangkah keluar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Baekhyun yang perlahan kehilangan kesadarannya.
.
Bitter Wedding
.
T/M
(2/15)
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others
Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran
.
Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Author's Note 1 : Cuman mau ksih tau, chap ini lbih bnyk flashbacknya~~
.
Tiga bulan lalu,
"Park Chanyeol!"
Seorang pemuda berperawakan tinggi menghentikan langkahnya. Ia mengerang jengkel dalam hati saat mendengar suara teriakan nyaring tersebut. Tangannya terangkat lalu mengacak surai peraknya dengan kasar.
"Kau tahu pukul berapa sekarang?"
Chanyeol tetap terdiam di posisinya, tidak berniat berbalik hanya untuk bertemu tatap dengan sang kepala keluarga. Bibirnya bergerak tanpa suara, menyumpah serapahi kedua sahabat sialannya yang membuatnya pulang selarut ini. Tidak mendapat respon berarti dari sang anak, jelas membuat pria paruh baya itu tersulut emosi.
Tuan Park melangkah cepat menghampiri anak bungsunya, menarik dengan keras bahu lebar milik Chanyeol. "Apa?" tanya Chanyeol dengan nada malas.
Sebuah tamparan keras mendarat di belah pipi kanan Chanyeol. Suara yang dihasilkan dari pertemuan kulit tersebut terdengar sangat nyaring mengingat saat ini sudah lewat tengah malam. Chanyeol mengerjapkan kedua mata bulatnya, masih sedikit terkejut dengan apa yang terjadi.
"Sudah kukatakan berapa kali untuk berhenti mabuk dan pulang larut. Jangan salahkan aku yang menggunakan tangan untuk memperingatkanmu,"
Chanyeol terkekeh pelan. Kepalanya tertunduk, menyebabkan helaian rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Chanyeol mengelap sedikit darah yang mengalir keluar dari sudut bibirnya. Tamparan ayahnya tidak bisa dikatakan pelan.
Ia mendongak hingga kedua irisnya bertemu pandang dengan iris tajam sang ayah. Matanya berpendar dengan tatapan yang sama sekali tak dapat diartikan. "Sejak kapan kau perduli padaku?"
"Park Chanyeol!"
"Urusi saja perusahaanmu, Tuan Park." Chanyeol menyentak kasar tangan ayahnya lalu tanpa permisi segera melangkahkan kaki panjangnya memasuki kamar. Sebelum ia benar-benar menutup pintunya, ia sempat mendengar ayahnya yang berkata akan memberikan hukuman.
Cih, persetan dengan hukuman. Ia sudah kebal dengan segala hukuman yang diberikan oleh ayahnya. Dari pemotongan uang jajan, penyitaan barang-barang, hingga dikurung di rumah selama berbulan-bulan. Chanyeol tidak perduli. Jika memang ayahnya akan memberikan hukuman, ia akan terima saja. Toh, nantinya ia bisa meminta tolong pada Sehun ataupun Jongin untuk membantunya.
000
Kedua irisnya terpejam dengan tenang. Semilir angin berhembus membelai surai peraknya yang sudah cukup panjang. Namun ia tidak benar-benar jatuh terlelap, ia hanya sedang menikmati cuaca pagi ini yang sangat pas untuk mengembalikan moodnya yang buruk karena kejadian semalam.
"Hei, Yoda,"
Pemuda itu berdecak sekali ketika telinganya mendengar suara mengganggu seseorang, atau lebih tepatnya dua orang. Belum lagi suara dobrakan pintu yang sangat nyaring. Ia membuka kedua matanya cepat hanya untuk mendapati kedua sahabatnya tengah tersenyum bodoh ke arahnya. Dan ia tahu maksud dari senyuman menyebalkan mereka.
"Jika kalian bertanya apa aku ketahuan. Jawabannya adalah ya," Chanyeol melirik ke arah dua pemuda dengan perbedaan warna kulit yang kontras tersebut. "Terima kasih untuk kalian berdua."
Pemuda dengan warna kulit agak kecoklatan terbahak sebelum memukul lengan Chanyeol dengan keras. "Tidak perlu berterima kasih seperti itu,"
"Dia tidak memujimu, idiot." Suara datar milik pemuda satunya mengintrupsi. "Beruntung semalam kau tidak mabuk, Park. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika kau ikut mabuk bersama pemuda maniak ini." Sehun menunjuk Jongin tepat di depan hidungnya. Membuat sang empu menggeram tidak terima seraya mendumelkan kata sialan berulang kali.
"Akan kulaporkan kau pada Luhan hyung, dasar albino sialan," Umpat Jongin seraya menunjuk-nunjuk wajah Sehun dengan telunjuknya.
Mata sipit Sehun dipaksa membulat. "Ya! Jika kau berani melakukannya, aku akan mengulitimu!" Jongin mencebikkan bibirnya tidak perduli dengan kedua bola matanya yang berputar pada rongganya.
Chanyeol yang melihatnya tertawa dengan keras. Moodnya selalu dapat dengan cepat membaik hanya karena tingkah aneh kedua sahabatnya ini. Sedikitnya Chanyeol bersyukur memiliki sahabat seperti mereka, ya walau terkadang keduanya bisa sangat menyebalkan dan brengsek.
Ia kembali merebahkan dirinya di atas lantai atap gedung sekolahnya. Mengabaikan suara pertengkaran tidak penting antara Jongin dan Sehun. "Hei—"
"Aku lapar." Chanyeol memotong ucapan Jongin. Tanpa menunggu respon dari kedua pemuda yang lebih muda darinya, Chanyeol bangkit berdiri lalu berjalan menuju pintu.
Baik Sehun dan Jongin mengekori Chanyeol dari belakang. Chanyeol sendiri berjalan santai dengan tatapan lurus terarah ke depan. Tidak terlalu menanggapi tatapan genit yang dilemparkan oleh beberapa siswi untuknya. Berbanding terbalik dengan Jongin yang mulai meladeni para gadis di sekitar lorong.
Kaki panjangnya terus melangkah hingga memasuki kantin. Matanya mengedar berusaha mencari tempat yang sekiranya kosong. Dan ia berdecak sekali saat tak menemukan adanya meja yang dapat ia tempati. Namun tak berapa lama ia menyeringai saat melihat seorang siswa tampak menikmati makan siangnya sendirian di salah satu sudut kantin.
Tanpa ragu Chanyeol berjalan menuju ke tempat yang dilihat sebelumnya. Ia berdiri di samping meja dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celana seragamnya. "Minggir,"
Pemuda yang semula sedang terfokus dengan makanannya segera mendongak. Bola matanya yang sipit memandang Chanyeol dengan polos. "Maaf?"
"Kubilang minggir."
Pemuda dengan surai hitam legam itu terlihat sedikit linglung sebelum menggeser posisi duduknya ke samping, ke arah kursi kosong lainnya. "Silahkan."
Dahi Chanyeol berkedut kesal. Apa pemuda ini bodoh?
Chanyeol berdecak sekali. "Pergi dari sini,"
"Tap—"
Chanyeol kembali berdecak, ia berjalan mendekati pemuda itu lalu menarik kerah kemeja pemuda yang ternyata lebih pendek darinya. "Aku paling benci dibantah. Cepat pergi atau aku akan menghajarmu," Chanyeol melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja pemuda itu dengan kasar. Pemuda itu langsung bergegas pergi darisana dengan membawa makan siangnya yang masih belum habis.
"Hei, bukankah itu Byun Baekhyun?"
Kepala Chanyeol menoleh saat mendengar suara datar Sehun. "Huh?"
"Dia salah satu murid penerima beasiswa tahun ini."
"Apa perduliku?" Entah kenapa, Chanyeol kembali merasa kesal.
Sehun menggedikkan kedua bahunya mendengar nada tak bersahabat dalam ucapan Chanyeol. Pemuda berkulit pucat itu memilih untuk mendudukkan dirinya di atas kursi diikuti oleh Chanyeol. Keheningan melanda keduanya. Inilah yang terjadi jika tidak ada Jongin di antara keduanya, apalagi di saat Chanyeol sedang berada di dalam mood yang buruk.
Chanyeol menyandarkan kepala di atas meja. Perutnya yang tadi meronta minta diberi asupan, sekarang sudah tidak merasa lapar sama sekali. Ia menghela nafas lelah dengan mata yang terpejam. Entah kenapa hari ini sangat melelahkan untuknya, padahal sedari pagi ia hanya membolos pelajaran lalu berbaring di atap gedung sekolah.
"Kau baik?" Suara Sehun yang pertama kali memecah keheningan di sana. Chanyeol hanya menggumam sebagai tanggapan atas pertanyaan Sehun. Masih terlalu malas untuk sekedar berbicara.
"Hei, Lu," Sepasang telinga lebar Chanyeol dapat mendengar suara ceria Sehun yang memanggil nama kekasih pemuda berkulit pucat itu. Dalam hati Chanyeol mendengus, sedikit banyak ia masih tidak menyangka sahabatnya yang terkenal sangat dingin itu bisa berubah menjadi sangat ceria hanya karena seorang Luhan.
"Sehun-ah, apa kau melihat Baekhyun?"
Meski Chanyeol tak mengangkat kepalanya, ia dapat mendengar percakapan antara Sehun dan Luhan. Setelahnya ia merasakan telinga sebelah kanannya ditarik dengan keras oleh seseorang. "Arghh.." Chanyeol mengerang lalu mengangkat wajahnya yang semula direbahkan di atas meja. "Apa yang kau lakukan?!" Chanyeol mendelik jengkel pada Luhan.
"Kenapa kau mengusir Baekhyun?"
Mata Chanyeol memicing. "Aku tidak perduli, dasar rusa jadi-jadian,"
"YA! Aku lebih tua darimu, dasar tidak punya sopan santun!"
Chanyeol mendengus lalu menepis tangan Luhan dengan sedikit kasar. "Diam atau kuperkosa kau." Sebuah seringai perlahan muncul di wajah tampan Chanyeol. Iris bulatnya menatap mengejek ke arah Luhan yang wajahnya memerah menahan kesal.
Tapi bukannya mendapat respon dari Luhan, ia malah mendapati kerah seragamnya ditarik dengan keras oleh Sehun hingga ia bangkit dari duduknya. "Jangan berani macam-macam."
Chanyeol terbahak keras mendengar ucapan Sehun barusan. Astaga, sepasang kekasih ini benar-benar sangat lucu. Ia melepaskan tangan Sehun dari kerahnya lalu menepuk dua kali bahu lebar Sehun. "Tenanglah, aku tidak berminat sama sekali pada rusa cerewet ini. Kyungsooku bahkan lebih baik darinya." Setelahnya Chanyeol beranjak darisana tanpa menunggu balasan apapun dari Sehun maupun Luhan.
Ya, setidaknya suasana hatinya menjadi lebih baik setelah menjahili kedua orang tadi.
#
"Baekbeom, Baekhyun, cepatlah. Kita sudah terlambat!" suara teriakan seorang wanita paruh baya terdengar nyaring, mengganggu pemuda bertubuh mungil yang semula sedang sibuk berkutat dengan buku pelajarannya.
Namun hal tersebut hanya berlangsung beberapa saat, karena setelahnya pemuda itu kembali fokus pada buku di hadapannya. Ia berjengit kaget kala pintu kamarnya di buka dengan kasar.
Mata sipitnya memicing menatap sang kakak yang tengah nyengir polos di ambang pintu kamarnya. Dengan santai, pemuda yang lebih tua lima tahun darinya itu berjalan masuk lalu merebahkan dirinya di atas kasur milik sang adik. Bahkan sang kakak dengan seenaknya, mengacaukan tempat tidurnya yang semula sudah ia susun dengan rapi.
Sabar, Baekhyun. Sabar.
"Ya! Apa yang kalian lakukan? Kita sudah terlambat!" Baik Baekhyun dan Baekbeom menoleh ke arah pintu dimana ibu mereka tengah berkacak pinggang menatap mereka.
"Terlambat untuk?"
"Astaga. Kita ada makan malam dengan keluarga Park. Ibu sudah mengatakannya sejak pagi, bukan?"
Baekhyun mengerutkan alisnya, berusaha mengingat apakah benar ibunya ada memberitahukan hal tersebut. Dan bibirnya membentuk sebuah cengiran kekanakan ketika ingat bahwa benar apa yang ibunya katakan tadi. Dengan cepat ia berlari memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menghindari jeweran sang ibu. Ia tertawa senang saat mendengar suara teriakan nyaring sang kakak yang merintih kesakitan.
Selang beberapa saat, Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan dibalut pakaian semi-formal. Baekhyun duduk dengan tenang di dalam mobil milik perusahaan ayahnya. Sesekali ia menanggapi ocehan yang dilontarkan baik oleh sang ibu, ayah maupun sang kakak. Percakapan mereka terhenti kala mobil yang di bawa oleh sang ayah berhenti di sebuah perkarangan rumah mewah.
Baekhyun bergumam wow kecil melihat betapa besarnya rumah tersebut. Rumah di hadapannya jelas lebih besar berkali lipat dari rumah sederhananya. Baekhyun melangkahkan kakinya mengikuti sang ayah dan ibu. Matanya sibuk memperhatikan perabotan rumah yang terihat mahal.
Ini kali pertama ia melihat semua ini, jadi jangan salahkan Baekhyun yang sibuk mengagumi semua barang yang tertangkap oleh matanya. Langkahnya terhenti di salah satu ruangan yang diketahui adalah ruang makan.
Ia digiring oleh salah satu pelayan di rumah tersebut untuk menduduki kursi yang tersedia. Baekhyun menggumamkan terima kasih setelah mendudukkan dirinya. Matanya masih sibuk menatap sekitar. "Jangan bertingkah kampungan," Baekhyun mendelik tak terima ke arah sang kakak yang tengah tertawa dengan pelan.
Baekhyun menolehkan kepalanya ke samping saat mendengar beberapa langkah kaki berjalan memasuki ruangan ini. Mata sipitnya membola melihat sosok tinggi pemuda yang tadi siang mengganggunya di kantin. Ia menolehkan kepala ke samping ketika pemuda itu beralih menatap ke arahnya.
Sepanjang acara makan malam itu, Baekhyun sama sekali tidak dapat menikmati makan malamnya karena suasana yang tidak mengenakkan itu. Ia juga terus menundukkan kepalanya, sama sekali tidak ada niatan untuk bertemu pandangan dengan pemuda di hadapannya.
"..hyun..Baekhyun,"
"Uhh, ya?" dengan kikuk Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah sang ayah yang menatapnya. "Ada apa?"
"Ada yang ingin Tuan Park sampaikan. Dengarkan baik-baik." Baekhyun menganggukkan kepalanya. Menuruti apa yang diperintahkan oleh sang ayah.
Pria paruh baya pemilik rumah ini berdeham sekali, membuat seluruh perhatian tertuju ke arahnya, kecuali pemuda di hadapan Baekhyun yang masih tampak asik mengaduk makanan di atas piringnya. Telinga Baekhyun dapat mendengar suara helaan nafas milik ayahnya. Sebuah tanda tanya besar menghinggapi kepala Baekhyun ketika mendapati tingkah diam sang kakak yang dibarengi dengan wajah tak terbaca milik sang ibu.
Ada apa sebenarnya?
"Byun Baekhyun, benar?"
Kepala bersurai gelap milik Baekhyun mengangguk, menjawab pertanyaan dari Tuan Park yang duduk agak jauh darinya. "Ya,"
"Baiklah Baekhyun. Aku ingin dalam dua bulan lagi kau menikah dengan anak bungsuku."
Hening sesaat sebelum suara gebrakan meja cukup keras terdengar dari arah seberang meja tempat Baekhyun duduk. Seluruh mata tertuju kepada pemuda bersurai perak yang tengah menatap sang ayah penuh amarah.
"Apa maksudmu melakukan ini padaku?! Bahkan aku masih sekolah!"
Sang kepala keluarga masih tampak tenang. Ia meletakkan gelas minumnya ke atas meja sebelum balas menatap ke arah anak bungsunya. "Ini demi kebaikanmu, Chanyeol."
"Aku tidak mau! Berhenti mengatur hidupku dan urusi saja perusahaan sialanmu itu!" Chanyeol mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak perduli jika saat ini ada orang lain selain keluarganya di ruang makan tersebut. Bahkan akan menjadi hal yang bagus, jika ia dinilai buruk sehingga pernikahan yang direncanakan tanpa seijinnya bisa dibatalkan.
"Park Chanyeol! Berhenti bertingkah kekanakan! Ini semua demi menolong keluarga Byun sekaligus menjadi hukumanmu!" Suara milik pria paruh baya bermarga Park itu sedikit meninggi. Matanya menatap sangat tajam sang anak. Amarahnya tersulut ketika mendapati tingkah tidak beretika milik Chanyeol yang sudah mempermalukannya di depan keluarga Byun.
Chanyeol yang hendak mengumpat kembali menutup mulutnya ketika sang ayah berujar dengan suara tajam dan penuh penekanan. "Kembali ke kamarmu atau kau akan mendapat masalah."
Chanyeol mendesis sekali sebelum beranjak pergi dari sana. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia sempat melirik ke arah pemuda bersurai gelap yang duduk di hadapannya. Pandangan keduanya bertemu untuk sesaat sebelum diputus terlebih lebih dahulu oleh pemuda itu.
000
Baekhyun berjalan dengan sedikit lesu memasuki gedung sekolah. Penampilannya sedikit berantakan karena dirinya tidak dapat tidur dengan nyenyak semalam. Ia berjalan dengan kepala sedikit tertunduk, tidak berani menatap ke sekitar. Meski sudah terhitung sebulan lamanya ia bersekolah di sini, Baekhyun masih belum begitu terbiasa dengan suasana sekitarnya.
Ia juga mengabaikan beberapa ejekan yang dilontarkan oleh beberapa siswa. Hingga akhirnya sosok sang sahabat datang lalu melemparkan tatapan tajam pada siswa-siswi yang sedari tadi sibuk membicarakannya. Jika ditanya, kenapa Baekhyun diperlakukan seperti itu oleh para siswa-siswi di sekolahnya? Jawabanya, karena Baekhyun adalah siswa penerima beasiswa. Yang mana berarti Baekhyun berasal dari keluarga biasa, tidak seperti murid lain yang bersekolah di sini.
"Baek? Kau tampak kacau," ucap Luhan seraya memperhatikan Baekhyun dari atas ke bawah. Baekhyun sendiri hanya bergumam singkat untuk menanggapinya. "Baekhyun, kau baik-baik saja?"
Baekhyun mendongakkan kepalanya. Membalas tatapan khawatir Luhan dengan sebuah senyuman lembut. "Aku baik, Lu,"
"Kau—"
Perkataan Luhan terhenti begitu saja. Baik Luhan dan Baekhyun membeku di tempatnya ketika melihat tubuh Baekhyun kini dipenuhi oleh tepung. "Selamat pagi, Byun." Suara berat milik seseorang menyapa.
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara dan mendapati Chanyeol berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman mengejek. Pemuda bersurai perak itu berjalan mendekati Baekhyun dan Luhan. Ia kemudian berjalan mengitari tubuh Baekhyun. Sedangkan Baekhyun kembali menundukkan kepalanya.
Kepala Chanyeol menggeleng sekali. "Seharusnya kau membersihkan dirimu terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Lihatlah, kau mengotori lantai lorong," Chanyeol berdecak sekali lalu mendorong sedikit tubuh Baekhyun ke samping.
"YA! Park Chanyeol!" teriak Luhan nyaring ketika menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia berjalan mendekat ke arah Chanyeol lalu berniat mendaratkan sebuah pukulan. Namun belum sempat pukulan itu mengenai Chanyeol, sebuah tangan berkulit pucat menahan pergerakkannya. "Lepaskan aku, Oh Sehun!"
"Tidak, Lu. Sudah kukatakan berulang kali untuk berhenti memukuli orang lain," pemuda bernama Sehun itu membalas lalu melepaskan pegangan dari tangan Luhan.
Luhan menatap tajam kekasihnya sebelum menghampiri Baekhyun yang masih terdiam di tempatnya dengan kepala yang masih menunduk dalam. "Baekhyun, kita pergi dari sini," ucap Luhan kemudian menarik sebelah tangan Baekhyun.
"Maaf, Luhan. Tapi ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan Byun Baekhyun." Chanyeol menarik tangan Baekhyun yang lain. Membuat langkah Luhan terhenti begitu saja. Mata bulat Chanyeol menatap ke arah Sehun.
Sehun yang mengerti dengan tatapan yang diberikan oleh Chanyeol hanya mampu menghela nafas sekali sebelum membopong tubuh kekasihnya pergi dari sana. Mengabaikan rontaan serta pukulan keras yang Luhan berikan untuknya. Sehun bersumpah akan menghajar Chanyeol jika Luhan ngambek padanya.
Setelah kepergian Sehun dan Luhan, Chanyeol segera melepaskan pegangan tangannya pada tangan Baekhyun. Ia pun membersihkan tepung yang menempel di tangannya. Matanya menatap Baekhyun dengan tatapan tak terbaca sebelum berbicara, "Ikut denganku, sekarang."
Baekhyun yang sedari tadi terdiam hanya mampu menuruti apa yang Chanyeol ucapkan. Entah karena apa, Baekhyun tidak mampu mengatakan apapun ketika adanya sosok Chanyeol di sekitarnya. Keduanya berjalan menuju ruang musik sekolah. Chanyeol mengunci pintu tersebut, tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam. Untuk suara, Chanyeol tidak perlu pusing, karena ruang musik di sekolahnya kedap suara.
Chanyeol memutar tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Baekhyun yang masih tidak mau menatap ke arahnya. "Tolak perjodohan sialan itu," suara berat Chanyeol yang pertama kali memecah keheningan di sana.
Baekhyun dengan perlahan, mengangkat wajahnya hingga iris milik mereka berdua bertemu. Bibirnya terkunci rapat. Tidak mampu berkata apa-apa ketika mendapati tatapan tak bersahabat dari pemuda yang lebih tinggi.
"Jangan mengabaikanku, brengsek." Chanyeol berjalan cepat mendekati Baekhyun. Tangan besarnya terulur lalu menarik kerah seragam Baekhyun. Tubuh Baekhyun sedikit terangkat mengingat perbedaan tinggi tubuh mereka. Mata bulat Chanyeol berkilat penuh amarah. Emosi yang ditahannya sejak semalam mulai muncul.
"Aku tidak bisa melakukannya," ujar Baekhyun dengan lirih namun masih mampu ditangkap oleh telinga Chanyeol. Pilihan yang salah Baekhyun.
Amarah Chanyeol semakin tersulut. Chanyeol menggertakan giginya sekali sebelum melempar tubuh Baekhyun hingga mengenai dinding ruangan. Baekhyun sedikit meringis merasakan nyeri pada punggungnya. Pemuda bersurai gelap itu terduduk di atas lantai.
Kaki panjang Chanyeol melangkah mendekati tubuh Baekhyun. Pemuda bersurai perak itu menarik kasar rambut Baekhyun agar pemuda yang lebih pendek darinya menatap ke arahnya. "Baik," Chanyeol berucap dengan nada tenang. Sebuah senyum miring tercetak di wajah tampannya. "Jika kau tak mau melakukannya. Aku akan menggunakan cara kasar agar kau mau menolaknya."
000
Sesuai dengan perkataan Chanyeol beberapa hari lalu, Baekhyun selalu dijadikan sasaran pembullyan oleh Chanyeol. Pemuda bersurai perak itu selalu mengerjainya kapanpun itu di saat dirinya sedang seorang diri di sekolah. Entah itu mengerjainya dengan menyembunyikan barang-barangnya, melemparinya dengan tepung, air atau apapun itu yang dapat mengotori tubuhnya.
Pembullyan terhadap Baekhyun terhenti setelah sebulan berlalu, lebih tepatnya ketika Baekhyun dan Chanyeol telah resmi menikah. Baik Luhan dan seluruh siswa-siswi di sekolah berpikir bahwa Chanyeol sudah merasa bosan mengganggu Baekhyun. Tapi pada kenyataannya, tidak. Chanyeol tidak lagi mengganggunya di sekolah karena pemuda tinggi itu mulai melakukan kekerasan terhadapnya ketika hanya ada mereka berdua. Tidak ada yang mengetahui hal tersebut, karena yah, Baekhyun menutupinya dengan bertingkah seakan semua baik-baik saja.
Dan kekerasan yang diterima Baekhyun terus berlanjut hingga sekarang tanpa ada seorangpun yang tahu.
#
Kedua iris sipit itu terbuka perlahan. Matanya mengerjap berulang kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya. Ia bangkit dari posisi berbaringnya seraya berdesis. Tangannya terangkat, memijat kepalanya yang berdenyut nyeri. Kepalanya menoleh kala mendengar suara pintu terbuka.
Mata sipitnya dapat dengan jelas melihat sang sahabat berjalan memasuki ruangan yang diketahuinya sebagai ruang kesehatan sekolah dengan seorang pemuda berkulit pucat. Luhan tak menyadari bahwa Baekhyun telah sadar karena pemuda yang lebih tua darinya itu tengah sibuk berdebat dengan kekasihnya.
"Lu," panggil Baekhyun dengan suara serak.
Hal itu sontak saja membuat langkah Luhan dan pemuda lainnya terhenti. Kepala bersurai coklat Luhan menoleh cepat ke arah sumber suara. "Astaga, Baek. Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? Kau menginginkan sesua—"
"Kau sangat berisik, sayang. Kau membuat Baekhyun bingung," Sehun yang datang bersama Luhan tadi dengan santainya membekap mulut Luhan dengan tangan besarnya. Luhan sendiri hanya memelototkan mata beningnya.
Luhan dengan sedikit kasar melepaskan bekapan tangan besar tersebut. "Jangan menyentuhku, Oh Sehun! Pergi kau dari sini." Sehun mengangkat kedua bahunya acuh lalu pergi dari sana, membiarkan kekasihnya berbicara berdua dengan Baekhyun.
Fokus Luhan kini beralih ke arah Baekhyun yang hanya terduduk di atas tempat tidur dengan wajah penuh lebam. Meski Luhan sudah mengobatinya, warna biru pada luka tersebut tak juga hilang. "Baek, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa Chanyeol yang melakukannya lagi?"
Baekhyun menggeleng sebagai jawaban. Ia kemudian tersenyum tipis untuk meyakinkan sahabatnya. Luhan menatap Baekhyun dengan tatapan tidak percaya.
"Kau berbohong," ujar Luhan seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tahu dengan jelas, bahwa ini adalah ulah Park Chanyeol."
"Bu—"
"Jangan membelanya!" suara Luhan sedikit meninggi. Matanya berkilat kesal. Luhan tidak habis pikir dengan Baekhyun. Kenapa sahabatnya ini selalu membela Chanyeol? Padahal tadi Luhan tidak sengaja melihat Chanyeol yang keluar dari ruang musik tempat ia menemukan Baekhyun tak sadarkan diri. Ia hanya ingin Baekhyun jujur padanya.
Baekhyun bungkam. Tidak tahu lagi harus menjawab apa. Ia menggigit bibir bawahnya keras. Matanya bergerak gelisah ke sana kemari. Ia tahu Luhan sedang sangat kesal saat ini. Suasana hening yang sempat melanda keduanya kini terpecah ketika Luhan menghela nafas sekali.
"Baek, aku harus pergi. Pelajaran berikutnya sudah di mulai. Maaf tidak bisa menemanimu," Luhan tersenyum lembut. "Kita bicarakan ini lagi nanti." Tangan Luhan terangkat lalu mengelus sekali kepala pemuda yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Setelahnya Luhan pergi dari sana. Meninggalkan Baekhyun yang menatap kosong pintu di hadapannya. Perasaan bersalah merayapi Baekhyun. Ia merasa menjadi sahabat yang buruk dan seakan tidak mempercayai Luhan. Ia hanya belum terlalu siap menceritakan segala hal pada Luhan. Bahkan kemarin Luhan mengetahui bahwa ia dan Chanyeol telah menikah karena berita yang disebarkan oleh entah siapa itu, bukan mengetahui langsung dari dirinya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
.
.
ToBeContinued
.
.
Holaaa~~ Chap 2 nya di updateeeee~ Pertama, saya minta maaf buat keterlambatan updatenya. Saya lg sbuk bgt di RL dan jg baru dpet mood ketik jadi baru bisa di update sekarang. Maaf jg klo ff ini gak sesuai harapan kalian, saya udh berusaha sebisa saya :" .
Kedua, Thanks buat yg udh nyempetin baca, review, fav dan follow :3 . Thanks jg buat msy_mt yg udh ksih ide buat ff ini x) . Saya gak nyangka bakal dpet respon baik dri kaliann :'3 . Buat yg login, reviewnya udh saya bls lewat PM yaa dan ini balasan review buat yg blm login,
hunhan1220 : Makasihh :3 . Mian gak bs fastupd, tp ini udh dilanjut yaaa~ Thanks buat reviewnyaa :3
PisangStrawberry61 : Ini udh di lanjut yaaa~ Eh? Makasih :3. Tenang, di lanjut smpe end kokk~ Thanks buat reviewnyaa :3
Guest : Makasihh :3 . Halloooo penikmat angst :3 /heh . Thanks buat reviewnyaa :3
msymt : kkk. Makasihh :3 . Ide ceritanya jg dri km kok xD . Ini udh di lanjut yaaa. Mian telat updatenyaa.
realpcy : ini udh dilanjutt~ Mian gak bs fastupd :" . Iyaaaa. Makasihhh :3 . Ada kok HunHan moment /lirikatas/ . Cmn numpang lewat cwenyaa :v .Thanks buat reviewnyaaa :3
kkkl : Eh? Makasihh :3 . Ini udh di post chap 2 nyaa~~ Okayyyy x) . Id line saya atau msy_mt? Id line saya sm kyk uname ffn. Klo msy_mt id linenya msy_mt :3 . Thanks buat reviewnyaa :3
vye-het : dia ngejahatin baek~ Udh di lanjut yaaa~~ Samasamaa :3 . Eh? Really? Kkk. Thanks for review neee :3
baexoxo : Mian gak bs fastupd, tp ini udh di lanjutt yaa :3 . Lah busett, jahat amat xD . Emmm, buat itu, dipikirin dlu yaa :v . Thanks buat reviewnyaa :3
pinkfoxx : iyaaa, kkk. Udh di lanjut yaaa~ Thanks buat reviewnyaa :3
.
Last, Mind to review?
16/06/16 –hundeer
