.
Baekhyun mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tamu kediamannya. Matanya yang biasa berpendar hangat kini hanya mampu menatap kosong ke arah depan. Yang mana hal tersebut membuat baik ayah, ibu dan kakaknya khawatir.
Kepalanya menoleh ke arah samping saat merasakan tepukan pelan pada bahunya. "Sayang, kau baik-baik saja?"
Baekhyun mengerjapkan matanya beberapa kali. Kilatan kosong di matanya menghilang dan berganti dengan kehangatan seperti biasanya. Sebuah senyum pun terulas dengan apiknya di wajah manis Baekhyun.
"Tentu saja. Kenapa ibu bertanya?"
Secara tak sengaja, Baekhyun melihat raut sang kakak yang mengernyit seakan menahan rasa sakit. Tapi Baekhyun memilih mengabaikannya. Kepalanya terlalu penuh dengan berbagai hal hingga dirinya tidak sanggup lagi memikirkan perihal apa yang sedang terjadi pada sang kakak.
Baekhyun sedikit berjengit ketika merasakan tubuhnya ditarik hingga masuk ke dalam pelukkan menenangkan sang ibu. Ia diam pada posisinya. Tidak membalas maupun bersuara sama sekali. Namun saat telinganya mendengar isakan pelan lolos dari belah bibir sang ibu, Baekhyun langsung memeluk tubuh rapuh ibunya. Mengelus punggung milik wanita yang sangat disayanginya lebih dari apapun.
"Maaf," ujar sang ibu lirih tepat di depan telinga Baekhyun. "Maafkan kami Baekhyun-ah."
Elusan Baekhyun terhenti. Pemuda bersurai kelam itu melepaskan pelukkannya untuk bertemu tatap dengan sang ibu. Dan detik itu juga, Baekhyun merasakan nyeri pada dadanya melihat wajah sang ibu yang telah basah oleh air mata. Belum lagi sang ibu yang terus menggumamkan kata maaf berulang kali.
"Ibu, berhenti menangis. Ini bukan salah ibu, ayah maupun Baekbeom hyung." Baekhyun memberikan senyuman menenangkan untuk sang ibu. "Tapi, bisakah setidaknya kalian memberitahuku alasan kalian melakukan ini?" Baekhyun menatap lemah pada sang ibu.
Setelahnya Baekhyun mengetahui seluruh permasalahan yang tidak pernah ia ketahui selama ini. Dari penyakit yang sedang diderita sang kakak hingga kegagalan sang ayah dalam melakukan investasi. Menyebabkan kepala keluarga Byun itu menumpuk hutang pada beberapa lintah darat agar dapat menutupi kerugian yang terjadi dari kegagalan investasi tersebut.
Tapi meski begitu, keluarga Byun tetap membutuhkan uang dalam jumlah banyak. Karena yah, Baekbeom akan melakukan operasi dalam seminggu serta masa tenggat waktu pelunasan hutang sudah di depan mata. Jadi salah satu cara termudah untuk mendapatkan uang adalah memenuhi syarat yang diberikan oleh Tuan Park kepada keluarga mereka dengan menjodohkan Baekhyun dengan bungsu keluarga Park.
"Aku tidak masalah melakukannya asalkan dapat membantu untuk pengobatan Baekbeom hyung dan juga melunasi hutang keluarga kita." Ujar Baekhyun memecah keheningan yang awalnya sempat tercipta setelah sang ayah selesai menjelaskan semuanya pada Baekhyun.
Ya, ini demi keluarganya. Ia akan melakukan perjodohan ini jika dengan begitu kakaknya dapat sesegera mungkin melakukan operasi. Dan juga dapat membantu keluarganya untuk melunasi hutang. Baekhyun terlalu menyayangi keluarganya hingga ia merelakan kebebasan dan kebahagiannya sendiri.
Sang ibu tersenyum lemah. Sejujurnya, sebagai seorang ibu, ia tidak sanggup membiarkan anaknya untuk menikah di usia semuda ini apalagi dengan seseorang yang tidak dicintai oleh anaknya sendiri. Begitu juga dengan sang ayah. Meski tuan Byun sangat tegas, ia tetap menyayangi anaknya.
Jika ia memiliki pilihan lain, maka ia lebih memilih untuk tidak membiarkan anak bungsunya menikah. Tapi sayangnyanya tidak ada pilihan lain itu. "Baekhyun-ah," Baekhyun menatap sang ibu yang baru saja memanggilnya.
"Ada apa?"
"Bisakah ibu meminta satu hal?" Baekhyun tidak menjawab. Ia hanya menganggukan kepalanya sebagai respon. "Bertemanlah dengan Chanyeol. Meskipun kalian menikah karena perjodohan tetap sayangi dia seperti keluargamu sendiri."
Bibir Baekhyun terkatup rapat. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi pada akhirnya Baekhyun menjawab permintaan sang ibu dengan sebuah senyuman hangat. "Baik, akan kulakukan."
.
Bitter Wedding
.
T/M
(3/15)
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others
Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran
.
Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Sisa hari itu Baekhyun habiskan dengan tidak bersemangat. Perasaan bersalah melingkupinya terus-menerus. Sejak Luhan meninggalkannya di ruang kesehatan seorang diri, pemuda bersurai coklat itu tak juga kembali untuk sekedar melihat kondisinya. Baekhyun paham jika sahabatnya itu marah kepadanya. Tapi apa lagi yang dapat ia lakukan?
Bukannya ia tidak mempercayai Luhan sebagai sahabatnya tapi ia hanya belum siap menceritakannya. Hanya itu.
Baekhyun menghembuskan nafasnya lelah. Kepalanya menunduk cukup dalam karena saat ini sudah memasuki jam istirahat kedua yang mana berarti setiap siswa dan siswi telah berhamburan keluar dari kelas mereka. Ia menggigit bibir bawahnya dengan pelan, berusaha menekan perasaan tak nyaman.
Suara pekikan lolos dari bibir Baekhyun kala seseorang menubruknya hingga ia terjatuh dengan posisi lutut membentur lantai terlebih dahulu. Baekhyun meringis. Luka di kakinya belum sepenuhnya sembuh, kini lututnya malah mendapatkan luka.
"Maaf. Kau baik-baik saja?" Baekhyun mendongakkan kepalanya ketika mendengar seorang bertanya padanya dengan nada khawatir.
Sedikit banyak ia bingung dengan siapa orang yang bersikap seperti itu padanya. Mengingat seluruh siswa dan siswi di sekolahnya ini seakan membencinya dan selalu mengejeknya, kecuali Luhan tentu saja.
Iris sipitnya mengerjap menatap wajah asing milik seorang pemuda. Matanya bulat dengan iris berwarna hitam. Bibirnya tebal berwarna kemerahan. Wajahnya tampak asing untuknya. Lamunan Baekhyun buyar kala merasakan bahunya ditepuk beberapa kali oleh pemuda di hadapannya.
"Hei. Kau baik-baik saja? Maafkan aku,"
"Ah, ya. Aku baik-baik saja." Baekhyun tersenyum, berusaha meyakinkan pemuda di depannya yang masih menatapnya dengan tatapan khawatir.
Entah kenapa hati Baekhyun menghangat melihatnya. Bahkan ia hampir menitikkan air matanya. Karena selain Luhan, belum pernah ada yang mengkhawatirkan dirinya seperti ini di sekolahnya. Jadi jangan salahkan dirinya yang menjadi seperti ini.
"Kau bisa berdiri?"
"Tentu saja. Jangan khawatir." Baekhyun kembali tersenyum.
Pemuda di depannya terdiam untuk sesaat, memperhatikan Baekhyun yang masih bersimpuh di atas lantai. Sebelah alisnya terangkat tidak yakin. Meragukan jawaban yang Baekhyun berikan untuknya. Baekhyun yang melihat raut tidak percaya di wajah pemuda bermata bulat itu akhirnya memilih untuk bangkit dari posisinya. Walau ia harus menahan sekuat tenaga agar dirinya tidak mengeluarkan ringisan sakit.
"Lihat, aku bisa berdiri."
Pemuda itu diam sejenak. "Bagaimana dengan berjalan?"
Baekhyun tidak dapat menjawab. Karena dirinya sendiri tidak tahu apakah ia mampu untuk berjalan dengan luka di lututnya dan luka di kakinya yang belum juga sembuh. Sebelumnya saja ia sudah berjalan dengan menahan sakit. Mata Baekhyun bergerak liar, menghindari tatapan dari mata bulat pemuda di depannya.
"Aku akan membantumu." Suara milik pemuda itu terdengar. Setelahnya, Baekhyun merasakan sebelah tangannya di tarik lalu dilingkarkan pada leher seseorang, siapa lagi jika bukan milik pemuda bermata bulat itu. "Bagaimanapun juga ini salahku."
Baekhyun yang mendengarnya tersenyum tanpa sadar. Keduanya berjalan dalam diam, mengabaikan beberapa tatapan tidak bersahabat dari siswa-siswi yang dilewati keduanya. Entah pemuda di samping Baekhyun ini menyadarinya atau tidak.
"Aku Do Kyungsoo, siswa pindahan. Kau?"
Ah, siswa pindahan ternyata. Wajar saja jika pemuda ini bersikap tidak seperti siswa dan siswi lainnya.
"Aku Byun Baekhyun."
Sesaat langkah keduanya terhenti setelah Baekhyun selesai menyebutkan namanya. Pemuda bernama Kyungsoo itu mengarahkan tatapannya kepada Baekhyun. Menatap Baekhyun dengan tatapan yang sama sekali tak terbaca. Namun setelahnya sebuah senyuman Kyungsoo lemparkan untuknya.
"Senang berkenalan denganmu, Byun Baekhyun."
#
"Yoda,"
Pemuda bersurai perak yang tengah membaringkan dirinya di atas atap sekolah berdecak sekali. Merasa sedikit jengkel karena lagi-lagi waktu bersantainya diusik oleh dua orang pemuda yang lebih muda darinya. Jika tidak mengingat jika dua pemuda itu adalah sahabatnya, Chanyeol tak akan segan mengubur keduanya di dalam tanah karena selalu saja mengganggunya.
"Apa?!" Chanyeol bertanya dengan nada kelewat ketus.
Tapi yang Chanyeol dapati adalah suara tawa menyebalkan milik Jongin dan suara dengusan dari Sehun. Chanyeol membuka kedua irisnya yang semula terpejam. Menatap Jongin dan Sehun dengan tatapan kelewat tajam. Namun sayang, keduanya tidak merasa terintimidasi atau takut sama sekali dengan tatapan Chanyeol. Mereka sudah kebal dengan itu.
Chanyeol berdecak sekali lalu bangkit dari posisi berbaringnya. Duduk di hadapan Jongin dan Sehun yang sudah duduk bersebelahan.
"Kudengar kau memukul Baekhyun lagi," Jongin memulai percakapan di antara ketiganya ketika suasana hening sempat menghinggapi mereka.
Tidak perlu berpikir darimana dua orang di hadapannya mengetahui hal tersebut. Karena darimana lagi mereka mengetahuinya jika bukan dari kekasih Sehun, Luhan. Chanyeol mendengus. Dia pikir ada sesuatu penting yang ingin disampaikan oleh kedua sahabatnya, tapi ternyata kedua orang itu hanya mengatakan sesuatu yang tidak bermutu sama sekali.
"Lalu?" pada akhirnya Chanyeol membalas ucapan Jongin meski dengan nada kelewat malas.
Jongin menghela nafas dengan berat dan perlahan. Seakan dirinya tengah memikul beban yang sangat berat di bahunya.
Berlebihan.
"Aku bingung dengan Baekhyun. Kenapa ia tahan berhadapan dengan sikap tidak bermoralmu—"
"YA!" Chanyeol berteriak tidak terima mendengar perkataan Jongin yang mengatainya tidak bermoral. Tapi tampaknya pemuda berkulit tan itu tidak perduli dan kembali melanjutkan ucapannya.
"—seharusnya ia meminta cerai saja. Lagipula jika dilihat, Baekhyun cukup manis untuk ukuran lelaki. Kenapa juga ia masih mau bertahan dengan pemuda menyebalkan sepertimu yang bahkan tidak lebih tampan dariku?"
Chanyeol menarik lalu menghembuskan nafasnya berulang kali. Berusaha menahan amarah dan kekesalannya karena ucapan kurang ajar Jongin. Sabar, Chanyeol. Pemuda bersurai perak itu menghujamkan tatapan paling tajam yang ia miliki kepada Jongin yang hanya menatap tidak berminat ke arahnya.
Sialan.
Tangan Chanyeol terulur hendak menghajar kepala Jongin tapi hal itu tidak terlaksana sama sekali karena mendengar ucapan Sehun. "Jadi kau tertarik dengan Baekhyun? Kulaporkan kau pada Krystal,"
Jongin melotot. Raut wajahnya berubah panik mendengar ucapan Sehun. "APA?! Lakukan jika kau berani. Aku juga akan melaporkan pada Luhan hyung bahwa kau masih sering pergi ke klub."
Kini berganti wajah datar Sehun yang berubah panik. Dan setelahnya sudah pasti terjadi adu mulut antara kedua pemuda berkulit kopi susu itu. Chanyeol memijat pelipisnya lelah. Kenapa pula jadi kedua orang ini yang berdebat?
Chanyeol yang terlalu malas untuk ikut dalam perdebatan tidak bermutu keduanya pun memilih untuk merebahkan dirinya ke atas lantai atap. Berusaha untuk tidur diiringi dengan suara berisik Jongin dan Sehun yang masih ribut sejak tadi.
Namun hal itu tidak dapat ia lakukan karena ponsel di sakunya bergetar tanda adanya pesan masuk. Chanyeol mengerang jengkel sebelum mengambil ponselnya. Mengumpati siapapun yang telah mengganggunya.
Umpatannya terhenti dan digantikan dengan kedua mata yang membulat kala melihat isi pesan masuk dari seseorang. Ia mengucek kedua matanya beberapa kali, berharap bahwa apa yang dilihatnya bukanlah ilusi semata. Dan ketika yakin bahwa itu adalah benar, Chanyeol tersenyum dengan lebar tanpa diminta. Senyuman yang sudah lama tidak mampir di wajah tampannya.
"Ah!"
Tubuh Chanyeol berjengit mendengar teriakan keras Jongin. Bibirnya kembali mengumpat. Hampir saja ponselnya jatuh bebas ke atas lantai.
Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat sang peneriak. Ia melemparkan tatapan bingung serta kesal. Bingung kenapa Jongin tiba-tiba berteriak. Kesal karena suara teriakan Jongin yang cukup mengganggu.
"Ada apa denganmu, kkamjong?"
"Ya!" Jongin menghajar kepala Sehun yang dengan seenaknya memanggil dirinya kkamjong. Kemudian ia kembali melanjutkan ucapannya yang sempat tertunda, "Tadi aku seperti melihat Kyungsoo di lorong sekolah."
Sebelah alis Chanyeol terangkat. Menatap tak percaya ke arah Jongin. Bibirnya terkatup rapat tanpa adanya niatan untuk menjawab perkataan Jongin tadi. Ia memiliki alasan kenapa dirinya tidak percaya dengan ucapan Jongin.
Sebab menurut informasi yang Chanyeol dapat dari orang suruhannya, Kyungsoo berencana kembali ke Korea dalam dua atau tiga hari lagi. Jadi hal yang tidak mungkin jika Kyungsoo ada di sekolahnya saat ini. Bagaimanapun juga, orang suruhannya sangatlah ahli dalam mencari informasi. Pada akhirnya, Chanyeol memilih untuk tidak mempercayai apa yang diucapkan Jongin barusan.
"Terserah." Chanyeol mengangkat kedua bahunya acuh lalu kembali merebahkan dirinya. Ia bersumpah akan menghajar siapapun yang mengganggunya untuk bersantai setelah ini.
Jongin menatap aneh Chanyeol sebelum membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. "Hei, kau—"
Chanyeol membuka kedua irisnya yang tadi sempat terpejam dan menatap datar Jongin yang hendak berbicara. Sial, ia ingin sekali menghajar Jongin saat ini juga. Tapi sekali lagi, karena Jongin adalah sahabatnya, maka ia akan memaafkannya untuk sekarang. "Kalian berdua," tangannya terangkat dengan jari telunjuk yang menunjuk tepat ke arah wajah Sehun dan Jongin. "Pergi kalian, aku ingin beristirahat."
"Tapi—"
"Dan aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan tadi, hitam." Chanyeol memotong ucapan Jongin lagi disertai dengan sebuah hinaan yang mana berhasil membuat Jongin kesal.
"Dasar tiang listrik sialan." Ucap Jongin dengan jengkel lalu bangkit dari posisi duduknya diikuti oleh Sehun di belakangnya.
Chanyeol menghela nafas setelah kepergian dua sahabatnya. Tidak merasa bersalah sama sekali sudah mengusir keduanya juga telah mengatai Jongin dengan sebutan hitam. Hal itu sudah terlalu biasa terjadi. Ia yakin dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, mereka bertiga akan bertingkah seperti biasa lagi.
#
Tangan dengan jari-jari lentik Baekhyun mengelus luaran cangkir di hadapannya yang hangat. Matanya menatap lurus ke arah luar jendela kafe, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun selain kosong. Di dalam kepalanya terlalu banyak hal yang ia pikirkan hingga dirinya tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Baek.." Baekhyun tersentak sesaat sebelum menolehkan kepalanya ke samping kala mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mengulas sebuah senyum kecil ketika mendapati sahabatnya lah yang memanggil. Masih dengan senyuman, Baekhyun mempersilahkan Luhan untuk duduk di salah satu kursi.
Luhan memilih mendudukkan dirinya di hadapan Baekhyun. Keduanya terlarut dalam keheningan, membiarkan alunan musik klasik dari kafe memenuhi sekitar mereka. Baik Baekhyun dan Luhan terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Lu, apakah kau marah?" Baekhyun yang memecah keheningan tersebut pertama kali.
Luhan menolehkan wajahnya ke arah Baekhyun ketika mendengar suara pemuda yang lebih muda darinya. "Marah? Kenapa harus?"
Baekhyun menghela nafas dengan pelan sebelum ikut menatap ke arah Luhan. Mata sipitnya memandang Luhan penuh penyesalan.
"Karena aku telah menjadi sahabat yang buruk, belum lagi—" Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Sepasang irisnya bergerak gelisah ke sana kemari, tidak ingin bertemu pandang lagi dengan iris doe sahabatnya. "—saat di ruang kesehatan tadi, aku lebih membela Chanyeol daripada berkata jujur padamu,"
Telinga Baekhyun dapat mendengar kekehan kecil yang keluar dari bibir Luhan. Ia menatap Luhan tanpa sadar karena bingung apa yang lucu dari ucapannya barusan. Luhan menghentikan tawanya kala merasakan tatapan Baekhyun. Ia mengulas sebuah senyuman tipis.
"Tidak Baek. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah lepas kendali seperti kemarin," Luhan menangkup wajah manis Baekhyun dengan kedua telapak tangannya. "Aku tahu tidak mudah untuk menceritakan semuanya. Aku akan menunggu hingga kau siap dan juga aku yakin kau pasti memiliki alasan kuat kenapa kau membelanya kemarin." Lanjut Luhan lagi ketika Baekhyun menatapnya hangat.
Luhan kembali terkekeh ketika melihat mata Baekhyun yang perlahan berkaca-kaca. "Kau sangat menggemaskan." Pekik Luhan lalu berpindah ke samping Baekhyun untuk memeluk pemuda bersurai hitam itu dengan erat.
Baekhyun mau tak mau ikut terkekeh mendengar pekikan Luhan. Hatinya menghangat saat Luhan dan dirinya kembali seperti biasanya. Sungguh, ia sangat bersyukur bertemu dengan Luhan dan menjadi sahabat pemuda bersurai coklat ini. Baekhyun tidak tahu bagaimana dirinya akan bertahan jika tidak ada Luhan di sampingnya untuk memberikannya kekuatan serta sandaran ketika dirinya berada dalam kondisi terburuknya.
Baekhyun balas memeluk Luhan. Namun hanya sepersekian detik ia membalas, tubuh Luhan tiba-tiba saja menjauh diiringi dengan suara teriakan Luhan. Pemuda bersurai kelam itu menengadah hanya untuk mendapati Sehun yang tengah menatapnya datar.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa memeluk Baekhyun dengan sangat mesra dan bernafsu seperti itu, huh?"
"Apa maksudmu?!" Luhan meronta. Lehernya sedikit tercekik karena ulah menyebalkan kekasihnya. Bagaimana tidak tercekik jika pemuda berkulit pucat itu menarik kerah seragam bagian belakangnya hingga kedua kakinya tidak menapak di atas tanah?
Wajah Luhan memerah karena menyadari orang-orang di dalam kafe memandang aneh ke arah mereka. Oh, ingatkan Luhan untuk menendang bokong Sehun saat mereka tiba di apartemen milik mereka.
Sehun mengalihkan pandangannya ke arah Luhan. "Jangan berselingkuh di belakangku," ucapnya datar.
Luhan memelototkan kedua irisnya. "Siapa yang berselingkuh?! Dia sahabatku. Dasar albino idiot!" Luhan menghajar perut Sehun dengan keras hingga pegangan Sehun di kerahnya terlepas. Sehun meringis sakit. Demi apapun, pukulan Luhan tidak bisa dibilang pelan. Sedangkan Luhan terbatuk pelan.
Baekhyun memandang geli ke arah Luhan dan Sehun. Interaksi sepasang kekasih di depannya selalu terlihat lucu dan sedikit aneh. "Jangan tertawa, Baek," Luhan merajuk tanpa sadar ketika melihat Baekhyun tertawa.
Namun pada akhirnya Luhan ikut tertawa bersama Baekhyun. Tawa lepas Baekhyun itu sedikit banyak dapat menular pada orang di sekitarnya karena yah, tawa Baekhyun terdengar sangat menyenangkan.
"Maaf Baekhyun. Tapi aku akan membawa rusa ini bersamaku." Suara Sehun mengintrupsi tawa sepasang sahabat di hadapannya.
"Lakukan jika kau ingin tidur di luar hari ini." Pergerakan Sehun terhenti begitu saja mendengar ucapan Luhan. Wajah datarnya berubah mendung. Luhan itu tidak pernah bercanda dengan ucapannya. Pada akhirnya Sehun memilih mendudukkan dirinya di atas salah satu kursi, tidak lupa menarik Luhan untuk duduk di sampingnya.
Baekhyun mengulum senyum. Menatap bergantian ke arah Luhan dan Sehun yang masih asik berdebat sendiri. Ia menyesap kopi dalam gelasnya dengan mata yang tetap memperhatikan Luhan dan Sehun.
"Baekhyun, ayo pergi."
Eh?
Baekhyun memasang ekspresi bingung. Mata sipitnya menatap penuh tanya ke arah Luhan yang memasang wajah masam lalu beralih menatap ke arah Sehun yang menatapnya memohon. Sepertinya Baekhyun mengerti arti dari tatapan Sehun untuknya.
"Maaf, Lu. Aku harus kembali sekarang." Baekhyun bangkit dari posisi duduknya. Melepaskan pegangan Luhan pada pergelangan tangannya dengan perlahan. Luhan merengut mendengar jawaban Baekhyun. Wajahnya memelas dengan bibir melengkung ke bawah. "Sungguh, Lu. Aku tidak bisa pergi denganmu." Lanjut Baekhyun kemudian.
Luhan menghentakkan kakinya. "Menyebalkan." Ujarnya kemudian berlari pergi darisana.
"Astaga, kenapa kekasihku sangat kekanakan?" Sehun yang masih berada dalam posisinya, memijat pelipis perlahan. "Terima kasih, Byun Baekhyun." Sehun pergi dari dalam kafe setelah mengucapkan terima kasih pada Baekhyun yang telah menolak permintaan Luhan.
Kepala Baekhyun menggeleng. "Dasar." Gumamnya.
.
"Aku pulang." Ujar Baekhyun dengan perlahan. Lagipula tidak akan ada yang membalas ucapannya jika ia mengatakannya dengan suara keras.
Baekhyun melepaskan sepatunya lalu meletakkannya pada rak sepatu. Dahinya sedikit mengernyit mendapati sepasang sepatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya yang diletakkan pada bagian bawah rak.
Ia berjalan memasuki apartemen, mengabaikan kebingungan akan siapa pemilik sepatu tersebut. Ia berjalan lurus menuju ke dalam kamar tidur. Namun langkahnya terhenti begitu saja ketika matanya tidak sengaja menangkap adanya seseorang bertubuh tinggi berdiri di dekat meja makan.
Sebuah senyum tercetak di wajah manisnya. Kakinya berniat melangkah mendekati Chanyeol yang entah sedang melakukan apa. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti. Bukan karena dirinya tidak dapat berjalan melainkan matanya dapat melihat Chanyeol sedang bersama seseorang. Lebih tepatnya, pemuda dengan surai perak itu tengah berciuman dengan seseorang.
Seseorang yang entah siapa itu. Tubuh Baekhyun bergetar pelan. Tiba-tiba perasaan takut menghinggapinya. Ingatan tentang Chanyeol yang memukulnya ketika dirinya secara tak sengaja selalu mengganggu kegiatan Chanyeol terlintas di kepalanya. Baekhyun berjalan mundur secara perlahan, berniat menjauh darisana.
Ia tidak ingin mengganggu Chanyeol dan mendapatkan pukulan lainnya di tubuhnya. Tidak lagi. Tubuhnya masih sakit karena beberapa luka yang masih belum sembuh, ia tidak ingin menambah luka baru lagi. Baekhyun pun berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Tapi seakan dirinya tidak dibiarkan untuk tidak merasakan pukulan Chanyeol sehari saja, Baekhyun secara tidak sengaja menyenggol salah satu meja kecil di ruang tamu, membuat barang di atasnya terjatuh dan menghasilkan bunyi keras.
Setelahnya, kedua telinga Baekhyun dapat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia bangkit berdiri dengan susah payah. "Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau selalu menggangguku, brengsek?!" suara teriakan Chanyeol terdengar nyaring.
Hal tersebut semakin membuat tubuh Baekhyun bergetar hingga Baekhyun kembali jatuh terduduk di atas lantai karena tidak mampu menopang berat tubuhnya. Bahunya di tarik dengan keras, membuat Baekhyun bertemu tatap dengan mata bulat Chanyeol yang berkilat emosi.
Pemuda tinggi itu mencengkram surai kelam Baekhyun geram. "Tidak bisakah kau menghilang dari hidupku?!" Chanyeol berteriak penuh amarah.
Pegangannya pada surai Baekhyun menguat menyebabkan Baekhyun meringis nyeri. Rambut di kepalanya seperti akan lepas dari kepalanya karena cengkraman Chanyeol yang sangat kuat. "Maaf,"
"Berhenti mengatakan itu! Lebih baik kau menjauh dari hidupku daripada terus mengatakan kata sialan itu!"
Baekhyun memejamkan mata sipitnya erat. Ia juga menggigit bibir bawahnya keras untuk menahan isakan yang sudah berada di ujung lidahnya dan siap meluncur kapan saja.
"Yeol, hentikan." Suara milik seseorang mengintrupsi.
Baekhyun dapat merasakan pegangan Chanyeol di surainya mengendur, sebelum perlahan terlepas. Ia masih memejamkan matanya dengan kepala yang semakin menunduk dalam. "Kali ini kau selamat. Tapi lain kali, aku tak akan segan menghajarmu lagi." Ujar Chanyeol dingin lalu melenggang pergi dari sana bersama seseorang.
Mendengar langkah kaki yang perlahan menjauh, Baekhyun pun membuka matanya. Ia menatap ke arah punggung milik dua orang. Yang satu milik Chanyeol sedangkan yang satu lagi tidak ia ketahui milik siapa. Tapi Baekhyun merasa sangat familiar dengan siluet punggung tersebut.
Baekhyun menggelengkan kepalanya sekali. "Tidak mungkin."
.
.
ToBeContinued
.
.
Yo~ Ada yg masih inget sama ff ini? Duh, sorry kelamaan updatenya. Seharusnya ini di update dua hari lalu, tapi karena mood yang sering hilang dan sayanya gak srek sama alurnya, akhirnya saya rombak berkali-kali chap ini. Saya harap chap ini memuaskan yaa, karena saya sendiri gak yakin sama alur chap ini :" . Kalo ada yang aneh kasih tau saya aja, ntar saya perbaiki~
Makasih buat yang udah nyempetin baca, fav dan follow ff ini. Maaf juga buat updatenya yang kelewat ngaret /bow/ . Untuk yang login, review udah dibales lewat PM. Ini balasan review buat yang belum login,
Msymt : ini udh di lanjut, Maaf telat updatenyaa :" . Okay, ntar aku kasih tauu~ Thanks for review nee~~
pcy : Eh? Beneran? Seneng dengernya xD . Ntar aku titipin salamnyaa~ id line dia msy_mt22 . Maaf telat updatenyaa :" . Semoga suka sm chap 3 nya yaa~ Okayy, ntar bakal muncul kok KrisBaeknya. Makasihhh~~ Thanks buat reviewnya~~
BaekheeByunnie : dilanjut. Maaf telat. Thanks for review~~
byunaeri : dilanjutt. Maaf telat. Thanks for review~~
realpcy : Makasihh~~ Dilanjut, maaf telat. Okay, makasihh lagi~ Thanks jg buat reviewnya~~
baekbaekchan614 : Beneran? Seneng dengernyaa xD . Maaf telat update. Semoga suka sama chap ini~ Thanks for review~~
.
Setelah membaca, berkenan meninggalkan jejak? :3
16/07/26 –hundeer.
