.

Kedua irisnya mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan bias cahaya lampu yang masuk ke dalam retina matanya. Pemuda bersurai perak itu sedikit melenguh kala merasakan pegal di sekitaran lehernya.

Tidur di atas sofa yang bahkan tidak mampu menampung seluruh tubuhmu bukanlah pilihan yang baik. Ia menggerakkan lehernya sedikit, setidaknya rasa pegalnya bisa sedikit hilang.

Tangan besarnya menyibak selimut yang semula menutupi tubuhnya. Dengan langkah sedikit malas ia berjalan menuju dapur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Kepalanya sedikit berdenyut nyeri tanpa alasan.

Langkahnya terhenti untuk sejenak kala matanya mendapati semangkuk bubur dan segelas susu hangat tersaji di atas meja makan. Dahinya mengernyit sekali sebelum mendengus kasar dan kembali melanjutkan langkahnya untuk mengambil minum. Mata bulatnya menatap langit-langit dapur dengan datar.

"Akhirnya kau bangun, Park."

Tubuh tinggi milik Chanyeol sedikit berjengit ketika mendengar nada tak bersahabat milik seseorang. Untuk sesaat, tubuhnya membeku saking terkejutnya. Namun setelahnya dengan cepat ia memutar tubuhnya hingga kedua irisnya bertubrukan langsung dengan iris bulat milik pemuda yang lebih mungil darinya.

Ekspresi wajah Chanyeol tidak terbaca sama sekali. Pemuda tinggi itu masih terdiam di posisinya, tidak tahu harus bagaimana. Dalam hatinya ia terus merapalkan kata tidak mungkin berulang kali.

"Yeol? Kau tidak merindukan kekasihmu?" ujar pemuda itu dengan nada main-main.

Sedetik setelahnya, Chanyeol berjalan menghampiri pemuda mungil itu dengan langkah lebar. Ia langsung memeluk pemuda itu yang mana hal tersebut mendapat respon berupa kekehan kecil. "Aku merindukanmu. Selamat datang, sayang," Chanyeol membenamkan wajahnya di atas kepala bersurai hitam itu.

"Ya, aku kembali bayi besar." Tangan Kyungsoo terangkat, menepuk berulang kali punggung lebar Chanyeol yang masih memeluknya dengan erat.

Chanyeol menghirup dalam-dalam aroma manis yang menguar dari kepala Kyungsoo. "Kukira kau meninggalkanku," gumamnya pelan namun masih mampu ditangkap oleh kedua telinga Kyungsoo mengingat jarak mereka yang terbilang sangat dekat.

"Kau bercanda?" Kyungsoo kembali terkekeh. Merasa lucu dengan pemikiran konyol Chanyeol.

"Salahmu sendiri pergi setelah aku memberitahukan tentang perjodohanku," Chanyeol merajuk layaknya anak kecil. Mata bulatnya memicing menatap Kyungsoo.

Sebuah senyuman kecil terulas di wajah Kyungsoo. Ia mengelus lembut sisian wajah Chanyeol. "Bukannya aku sudah memberitahumu bahwa perusahaan milik ayahku di Jepang sedang dalam masalah? Dan bukankah kau selalu menyuruh orang untuk mencari tahu tentangku?"

Kedua iris Chanyeol mengerjap beberapa kali. "Benarkah?" tanyanya dengan polos.

Kyungsoo yang gemas dengan Chanyeol langsung saja menghajar kepala bersurai perak itu dengan sayang. Inilah kebiasaan buruk Chanyeol. Jika pemuda tinggi itu sedang kesal atau dalam kondisi emosi, maka pemuda itu akan melupakan segala sesuatu selain permasalahannya sendiri yang membuatnya kesal.

Dan apa-apaan tingkah sok polosnya itu? Kyungsoo tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika Chanyeol memerintahkan seseorang untuk selalu mengawasi dirinya.

"Kenapa menghajarku?" pekik Chanyeol tidak terima. Chanyeol mencubit kedua pipi Kyungsoo sebagai balasan atas pukulan yang ia terima.

"Ya!" Kyungsoo menepis kedua tangan Chanyeol lalu mengelus kedua pipinya yang perlahan berubah warna menjadi merah. "Pergi bersiap, aku ingin pergi ke luar bersamamu." Kyungsoo berkacak pinggang seraya menatap Chanyeol dengan tatapan tajam.

Chanyeol tertawa kencang sebelum berlalu menuju kamarnya untuk bersiap sesuai apa yang diperintahkan oleh Kyungsoo. Pemuda bermata bulat itu menggelengkan kepalanya sekali melihat tingkah kekasihnya. Kyungsoo berjalan menuju kulkas, meletakkan plastik besar berisi sayuran dan buah yang ia beli untuk mengisi kulkas Chanyeol di atas lantai.

Dahinya sedikit mengernyit ketika melihat kulkas milik Chanyeol terisi penuh. Sejak kapan pemuda yang menyandang status sebagai kekasihnya rajin berbelanja untuk mengisi kulkasnya? Dan sejak kapan pula Chanyeol suka memasak untuk diri sendiri?

Bibirnya membentuk bulatan kecil ketika mengingat Chanyeol telah memiliki seorang ist—suami saat ini. Jadi hal yang wajar jika ada persediaan berbagai macam makanan di dalam kulkas. Kyungsoo mengangkat kedua bahunya acuh lalu memasukkan sayur dan buah yang di belinya.

Hampir saja ia memekik keras karena tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang sesaat setelah ia menutup pintu kulkas. "Kau mengagetkanku." ucapnya sebal pada Chanyeol yang sibuk tertawa di belakangnya.

Chanyeol melepaskan pelukkannya lalu berjalan menuju meja makan. Tangannya terulur lalu mengambil mangkuk berisi bubur di atas meja. Kemudian berjalan menuju tempat sampah yang ada di dekat tempat cuci piring.

"Yeol? Apa yang kau lakukan?"

Pergerakan Chanyeol terhenti sejenak. Pemuda tinggi itu menoleh ke arah Kyungsoo. "Membuangnya tentu saja. Apalagi?"

Sebelah alis Kyungsoo terangkat. "Kenapa?"

"Aku tidak mau memakan makanan dari si Byun itu."

Raut wajah Kyungsoo berubah menjadi datar. "Apa maksudmu? Itu bubur yang kubuat untukmu. Kau tidak mau makan masakanku?"

Chanyeol mengerjapkan matanya beberapa kali lalu tertawa bodoh. Ia pun kembali melangkah menuju meja makan, meletakkan mangkuk tersebut ke atas meja lalu mulai melahap bubur itu dengan semangat. Suasana menjadi hening untuk sesaat. Chanyeol terlalu sibuk dengan makanan di depannya sedangkan Kyungsoo sibuk memikirkan entah apa itu.

Hingga pada detik selanjutnya suara Kyungsoo yang memecah keheningan pertama kali.

"Yeol, bagaimana jika kita mengakhiri hubungan kita?"

Tangan Chanyeol yang terangkat untuk memasukkan sendok ke dalam mulut terhenti begitu saja. Mata bulatnya menatap ke arah Kyungsoo aneh. "Kau bercanda?"

"Tidak," Kyungsoo menggeleng sekali. "Lagipula kau sudah menikah dan kau tidak lupa bukan bahwa aku paling tidak suka jika harus membagi apa yang menjadi milikku?"

Chanyeol meletakkan sendok di tangannya dengan kasar. Ia membuang nafas dengan gusar. "Sudah kukatakan berulang kali bukan jika aku hanya mencintaimu? Aku juga tidak pernah menyetujui perjodohan sialan ini."

"Tap—"

"Kyung, bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelum kau pergi? Aku tidak mencintai Byun sialan itu. Jadi jangan mengatakan bahwa kau ingin mengakhiri hubungan ini!" suara Chanyeol meninggi tanpa sadar. Ia bangkit dari kursinya dengan cepat.

Ia bawa langkahnya memutari meja hingga dirinya berdiri tepat di samping kursi Kyungsoo. Chanyeol tanpa permisi langsung menarik Kyungsoo hingga berdiri. Setelahnya, ia mempertemukan bibirnya dengan bibir Kyungsoo. Melumat bibir kekasihnya dengan lembut.

Kyungsoo tersenyum dalam ciuman yang diberikan oleh Chanyeol. Mata bulatnya melirik melalui ekor mata ke arah dimana seseorang tengah berdiri mematung dengan tubuh yang sedikit bergetar.

Awalnya ia ingin mendorong Chanyeol menjauh, namun ada satu sisi dalam dirinya yang tidak rela untuk melepaskannya. Hingga akhirnya Kyungsoo memilih untuk memejamkan kedua irisnya, menikmati pagutan bibirnya dan Chanyeol. Namun pagutan antara bibirnya dan Chanyeol terlepas begitu saja kala telinga keduanya mendengar sebuah suara debuman keras seperti benda terjatuh.

Chanyeol berbalik dengan cepat menuju ke arah ruang tamu. Sesaat Kyungsoo dapat melihat rahang Chanyeol yang mengeras dan kedua alis milik Chanyeol menukik tajam. Ia buru-buru berjalan menghampiri Chanyeol saat mendengar suara benturan dan teriakan penuh amarah Chanyeol.

Namun langkahnya terhenti beberapa langkah di belakang kekasihnya. Ia tidak pernah melihat Chanyeol dalam keadaan penuh amarah seperti ini.

"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau selalu menggangguku, brengsek?!"

Mata bulat Kyungsoo dapat melihat sosok yang ia kenal sebagai Baekhyun jatuh setelah bersusah payah untuk berdiri.

"Tidak bisakah kau menghilang dari hidupku?!" Chanyeol berteriak penuh amarah seraya tangannya menarik surai kelam milik Baekhyun

Iris sipit Baekhyun bergerak dengan liar ke sana kemari, tidak berani menatap langsung ke arah mata tajam Chanyeol. "Maaf," gumamnya dengan pelan sambil menahan nyeri di kepalanya akibat pegangan Chanyeol di kepalanya yang semakin menguat.

"Berhenti mengatakan itu! Lebih baik kau menjauh dari hidupku daripada terus mengatakan kata sialan itu!"

Baekhyun memejamkan mata sipitnya erat. Ia juga menggigit bibir bawahnya keras untuk menahan isakan yang sudah berada di ujung lidahnya dan siap meluncur kapan saja.

Kyungsoo meringis. Merasa tidak tega melihat wajah kesakitan Baekhyun akibat ulah Chanyeol. Akhirnya ia memilih melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti. Tangannya menyentuh lembut lengan Chanyeol. "Yeol, hentikan."

"Kali ini kau selamat. Tapi lain kali, aku tak akan segan menghajarmu lagi." Ujar Chanyeol dingin setelah melepaskan pegangannya di surai kelam Baekhyun. Lalu ia pun melangkah pergi darisana bersama Kyungsoo.

.

Bitter Wedding

.

T/M

(4/15)

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others

Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran

.

Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Suasana hening memenuhi mobil yang dikendarai Chanyeol. Baik Chanyeol maupun Kyungsoo tidak ada yang berniat mengucapkan sepatah katapun. Hanya alunan musik dari radio mobil yang memecah kesunyian yang ada.

"Kyung? Kau baik?"

Kyungsoo menolehkan kepalanya yang semula menghadap ke arah jendela. Ia melamparkan sebuah senyum kepada Chanyeol. Senyum yang sangat Chanyeol sukai dan selalu mampu membuat Chanyeol ikut tersenyum.

"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?" Dan kepala Chanyeol menggeleng beberapa kali sebagai jawaban dengan tatapan masih terfokus ke arah depan.

"Aku mencintaimu," adalah kata selanjutnya yang Chanyeol ucapkan untuk Kyungsoo.

Senyuman kembali terbit di wajah manis Kyungsoo." Aku juga mencintaimu, Park Dobi."

#

"Baek, berhenti menghela nafas." tegur Luhan pelan.

Terhitung sejak beberapa menit yang lalu, Baekhyun terus saja menghela nafas. Yang mana hal itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Luhan paling tidak nyaman jika melihat seseorang yang terus menerus menghela nafas. Karena menurutnya hal itu dapat membuat orang lain menjadi lelah.

"Maaf." Baekhyun bergumam sebelum menenggak minuman hangat di tangannya.

Luhan mengangguk sekali. "Tidak masalah. Jadi, ada apa kau mengajakku bertemu?" Luhan memperhatikan Baekhyun yang tengah menatap lurus ke arah luar.

Menatap para pejalan kaki yang berjalan lalu lalang melewati kafe yang tengah keduanya tempati. "Tidak. Hanya ingin,"

Sebelah alis Luhan terangkat, menatap tidak percaya ke arah wajah Baekhyun. "Kau bercanda? Katakan apa yang terjadi,"

Baekhyun mengalihkan tatapannya kepada Luhan ketika mendengar suara Luhan yang mulai terdengar tidak percaya. Sebuah senyum menenangkan ia lemparkan untuk Luhan.

"Aku baik-baik saja, Lu. Sungguh. Aku hanya sedang bosan."

Luhan terdiam. Pemuda bersurai coklat itu menatap lamat-lamat ke arah Baekhyun. Dan Baekhyun sangat yakin jika sahabatnya itu tengah meneliti kondisi tubuhnya. Sekaligus memperhatikan perubahan raut wajahnya.

Sebuah helaan nafas Baekhyun hembuskan kala mendengar Luhan mengatakan bahwa dirinya berbohong. Ya, harus dia akui bahwa Luhan benar. Ia berbohong.

Tujuan ia mengajak Luhan bertemu bukanlah untuk menghilangkan kebosanan melainkan untuk menanyakan sesuatu yang mengganggunya sejak terakhir kali ia bertemu dengan Chanyeol.

"Baik. Kau menang," Baekhyun menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa di belakangnya. Dapat ia lihat Luhan yang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. "Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu."

Luhan menaikkan kembali sebelah alisnya. "Katakan."

"Apa kau mengenal Do Kyungsoo?"

Hening.

Sejenak tidak ada yang bersuara. Baekhyun terdiam karena sedang menunggu jawaban Luhan. Sedangkan Luhan sedang sibuk mengingat seseorang yang namanya tampak tidak asing di telinganya.

"Kenapa kau menanyakannya?"

Pertanyaan Luhan memecahkan keheningan yang sempat tercipta diantara keduanya.

"Hanya ingin tahu." Ujar Baekhyun. Kedua ibu jarinya bermain pada bibir cangkir miliknya. Sedang kedua irisnya menatap ke arah dinding putih kafe.

"Tatap mataku, Baek," Baekhyun menggigit bibir bawahnya ketika mendengar perintah yang Luhan berikan untuknya.

Sebisa mungkin saat ini ia tidak ingin bertemu tatap langsung dengan Luhan. Karena ia belum sepenuhnya siap untuk menceritakan apapun pada Luhan.

Kini berganti Luhan yang menghela nafas. Ia jelas tahu gestur tubuh Baekhyun. Pemuda bersurai hitam di hadapannya jelas-jelas sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.

Tapi ia bisa apa? Ia tidak mungkin memaksa Baekhyun menceritakan semua padanya. Ia tidak ingin membuat sahabatnya kembali bersedih. Jadi pada akhirnya, Luhan memilih untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya Baekhyun katakan.

"Do Kyungsoo. Bisa dikatakan ia adalah salah satu siswa di sekolah kita. Tapi sejak tiga bulan lalu ia tidak pernah hadir di sekolah sebab ada masalah dengan perusahaan keluarganya," Luhan memperhatikan raut wajah Baekhyun. Sama sekali tidak ada perubahan.

"Dan sesuai apa yang kudengar dari beberapa siswa, ia adalah kekasih atau mungkin mantan kekasih Park Chanyeol. Entahlah, aku tidak terlalu tahu tentang hal itu." Luhan mengangkat kedua bahunya acuh setelah selesai berucap.

"Ternyata benar."

"Apanya?"

Baekhyun mendongakkan kepalanya yang sempat tertunduk sesaat. Ia pun menggeleng berulang kali. "Tidak ada dan terima kasih." Baekhyun berucap seraya tersenyum manis.

"Baek, apa kau menyukai Chanyeol?"

.

Baekhyun merebahkan dirinya di atas tempat tidur disaat waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kedua tangannya ia rentangkan di atas tempat tidur dengan kedua irisnya yang menatap langit-langit kamar dengan tatapan tak terbaca. Ia tidak tahu harus melakukan apa.

Sepulangnya ia setelah bertemu dengan Luhan, Baekhyun telah mengerjakan seluruh tugas sekolahnya. Jadi disinilah ia, berada di atas tempat tidur tanpa tahu apa yang akan ia lakukan. Baekhyun menghela nafas untuk kesekian kalinya pada hari ini.

Ia memilih untuk memasuki kamar mandi. Membersihkan sekaligus mendinginkan kepala tampaknya sangat pas untuk saat ini.

"Sshh.." Bibirnya mengeluarkan ringisan kecil kala rasa nyeri kembali menjalari bagian kakinya. Baekhyun sedikit melambatkan langkah kakinya.

Dirinya sedikit bersyukur karena saat bertemu dengan Luhan, ia mampu menahan rasa nyerinya. Jika tidak, ia tidak tahu apa yang akan Luhan lakukan pada Chanyeol. Mengingat betapa protektifnya Luhan padanya.

Ketika ia telah mencapai pintu kamar mandi, ponselnya berdering dengan nyaring. Ia mengerang sekali. Kakinya terlalu susah untuk dibawa melangkah kembali menuju tempat tidur, tapi ia takut ada sesuatu hal yang penting. Jadi pada akhirnya, Baekhyun memutar tubuhnya lalu kembali melangkah menuju tempat tidur.

"Astaga, menyebalkan." Gumam Baekhyun sebal. Karena setelah dirinya telah mencapai tempat ponselnya berada, suara panggilan telepon masuk pun terhenti. Meskipun ponselnya telah berhenti berdering, Baekhyun tetap menggapai ponselnya. Dahinya sedikit mengernyit mendapati sederet nomor tidak dikenal pada layar ponsel.

Baekhyun berjengit kaget saat ponselnya bergetar karena sebuah pesan yang masuk. Jari lentiknya bergerak dengan lincah di atas layar ponsel datarnya. Namun dahinya kembali mengernyit mendapati pesan aneh dari nomor yang tadi meneleponnya.

'Maafkan aku.'

Singkat dan aneh.

Baekhyun terdiam sejenak lalu menggendikkan bahunya acuh. Kemudian ia kembali melanjutkan niat awalnya untuk membersihkan diri.

Baekhyun berdiri di bawah shower setelah sebelumnya ia melepaskan seluruh pakaian yang tadi melekat pada dirinya. Kepalanya tertunduk, membiarkan air hangat mengaliri dirinya. Bibir tipisnya lagi-lagi meringis saat luka pada tubuhnya yang belum sepenuhnya mengering bertemu langsung dengan air.

Perasaan sedih merambati dirinya ketika ia melihat pada tubuhnya sendiri. Tubuh bagian depannya terdapat beberapa bekas luka baik itu yang baru ataupun lama. Dan tidak berbeda jauh dengan tubuh bagian depannya, tubuh bagian belakang Baekhyun pun terdapat bekas luka bahkan lebih banyak dari bagian depan.

Tangannya terulur, mengelus salah satu luka lama pada bagian perutnya. Matanya menatap kosong ke arah luka yang ia dapati dua minggu lalu itu. Ia tidak boleh membiarkan siapapun melihatnya. Ia tidak ingin membuat siapapun khawatir, dirinya juga tidak ingin Chanyeol mendapat omelan maupun hukuman lain dari Tuan Park.

Salah satu bagian dalam dirinya yakin jika Chanyeol bukanlah seseorang yang jahat. Ia yakin itu.

000

Kedua kaki berbalut celana berwarna hitam itu melangkah dengan terburu memasuki gerbang sekolah. Ia menghela nafas lega saat gerbang ditutup tepat setelah dirinya telah berada di dalam area sekolah.

Namun hal itu hanya berlangsung sesaat, karena setelahnya ia kembali berlari dengan cepat menuju kelasnya. Ia yakin jika di dalam kelasnya sudah ada guru Kim.

"Aku terlambat."

Bukan kehendaknya untuk datang terlambat. Salahkan alarmnya yang tidak berbunyi karena kehabisan baterai. Belum lagi, semalam ia tidak dapat tidur karena sibuk memikirkan berbagai macam hal.

Baekhyun mendumel sebal berulang kali di dalam hati. Nafasnya terengah saat dirinya mencapai depan pintu kelasnya sedang keringat telah membasahi tubuhnya. Ia menyentuh kedua lututnya. Setelah nafasnya mulai teratur, Baekhyun mengangkat sebelah tangan untuk mengetuk pintu.

Gerak tangannya terhenti beberapa senti di depan dada milik seseorang. Baekhyun terdiam sejenak sebelum mendongakkan kepalanya. Kedua irisnya bertubrukan langsung dengan mata bulat seorang pemuda.

Chanyeol, suaminya.

"Minggir," Chanyeol berujar dengan nada kelewat dingin.

Tapi Baekhyun yang masih terkejut karena bertemu dengan Chanyeol yang semalam tidak pulang hanya mampu terdiam kaku di tempatnya.

Chanyeol menggeram. Giginya bergemelatuk berusaha menahan amarahnya agar tak meledak. "Kubilang minggir. Apa kau tuli?!" Nada suara Chanyeol meninggi menyebabkan Baekhyun yang tersadar dari keterkejutannya.

Dengan cepat Baekhyun menggeser posisi berdirinya untuk membiarkan Chanyeol lewat. Saat Chanyeol berjalan maju, tanpa sengaja Chanyeol menabrak bahu Baekhyun. Yang mana hal tersebut membuat Chanyeol berdecih.

Baekhyun masih berdiri di posisinya setelah kepergian Chanyeol. Bahkan pemuda dengan iris sipit itu terus memperhatikan ke arah dimana sosok Chanyeol berjalan tadi.

Baekhyun berjengit kaget kala merasakan tepukan cukup keras pada bahu kanannya. Kepalanya ia tolehkan ke samping hanya untuk mendapati Luhan yang tengah menatapnya.

"Baek, ada apa?" Luhan bertanya seraya menarik tangan Baekhyun untuk menjauh dari pintu kelas, membiarkan seorang siswa yang ingin keluar.

Kepala Baekhyun menggeleng. "Tidak ada."

"Lalu apa yang kau lakukan di depan pintu seperti tadi?"

"Tidak ada, sungguh."

Sebelah alis Luhan terangkat. Kedua iris kembarnya menatap Baekhyun dengan tatapan tak percaya namun ia tak berkata apapun. Luhan memilih berjalan memasuki kelas sambil menggandeng Baekhyun.

Sesekali ia melemparkan tatapan tajam ke arah beberapa siswa di kelasnya. Luhan bingung, ada masalah apa siswa di sekolah ini hingga sangat tidak menyukai Baekhyun? Karena status keluarganya yang biasa? Jika iya, ternyata mereka semua adalah orang-orang bodoh. Yang berteman hanya dengan melihat status sosial seseorang.

Baekhyun mendudukkan dirinya di sebelah Luhan. Kepalanya menunduk, tidak berani menatap ke arah sekeliling. Luhan yang melihat kelakuan Baekhyun berdecak sekali. Merasa tak suka dengan sifat Baekhyun yang selalu merasa rendah diri.

"Baek,"

Baekhyun mengarahkan pandangannya kepada Luhan. Memberikan tatapan seolah bertanya ada apa untuk sahabatnya itu.

"Berhenti menunduk. Jangan selalu merendah seperti itu. Aku tidak suka."

"Tap—"

"Baek! jangan pedulikan mereka, oke?"

Baekhyun menipiskan bibirnya. Tidak tahu harus membalas apa. Pada akhirnya, dengan perlahan Baekhyun mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk.

Dan benar saja. Beberapa siswa yang duduk di sekitarnya tengah menghujamkan tatapan tajam dan benci ke arahnya. Kepala Baekhyun hendak menunduk lagi, namun niatnya tidak terlaksana dikarenakan Luhan yang sudah menahan dagunya.

Ia kembali menatap ke arah Luhan dan mendapati sang sahabat yang menggeleng dengan mata memicing. Pertanda bahwa Luhan tidak memberikannya ijin untuk menunduk.

"Jangan. Kau harus berani membalas tatapan mereka. Jika kau terus merendah diri seperti itu, mereka akan semakin senang menganggumu."

Baekhyun menggigir bibir bawahnya dengan cukup keras. Berusaha menuruti apa yang Luhan katakan, membalas tatapan para siswa.

Sebuah senyum terulas di wajah manisnya kala melihat beberapa siswa yang ia balas tatapannya membuang arah pandang darinya. Ia pun menolehkan kepalanya ke arah Luhan. Sebuah senyum lebar muncul tanpa mampu ia tahan.

"Lihat? Jika kau membalas tatapan mereka, justru mereka yang akan membuang muka,"

Baekhyun mengangguk dengan senang. Setidaknya perasaan tidak nyaman karena terus ditatap rendah oleh para siswa di kelasnya berkurang.

"Semuanya kembali ke tempat duduk kalian," suara teriakan milik guru Song mengintrupsi. Seluruh siswa dengan segera kembali ke tempat masing-masing. "Hari ini guru Kim tidak dapat hadir. Aku yang akan menggantikannya."

Terdengar beberapa pekikan tertahan karena sebal dari berbagai sudut kelas. Sebab guru Song merupakan salah satu guru tergalak di sekolah mereka dan juga guru yang senang memberikan tugas yang terlampau banyak. Jadi hal yang wajar jika beberapa siswa memekik sebal.

"Sebelum dimulai, ada salah satu teman lama kalian yang akan kembali belajar di sini. Selain itu juga akan ada teman baru untuk kalian."

Tubuh Baekhyun menegang tanpa alasan. Ia jelas tahu siapa teman lama yang dimaksudkan oleh guru Song meski ia adalah salah satu murid baru di sekolahnya. Perlahan, Baekhyun kembali menundukkan kepalanya.

"Masuk dan perkenalkan diri kalian."

Pintu bergeser terbuka, menampilkan dua sosok pemuda dengan tinggi badan yang sangat kontras. Keduanya berjalan masuk dengan pemuda yang lebih kecil berjalan terlebih dahulu.

"Do Kyungsoo. Aku yakin kalian masih mengingatku, bukan?" Kyungaoo tersenyum menatap ke arah teman sekelasnya yang balas tersenyum. Jangan lupakan beberapa gadis dan pemuda yang memekik gemas melihat Kyungsoo.

Baekhyun mendongak dengan cepat ketika berganti sebuah suara berat milik seseorang yang familiar di telinganya terdengar.

"Aku Wu Yifan. Senang berkenalan dengan kalian."

Iris sipit Baekhyun membola melihat sosok seorang pemuda tinggi dengan surai pirang tengah berdiri di depan kelasnya dengan wajah sangat datar.

Ia mengenal pemuda itu. Ia mengenal Wu Yifan.

.

.

ToBeContinued

.

.

Ehemmm.. Haloo? Masih ada yang inget sama ff ini? Oke, pertama saya mau minta maaf buat updatenya yang ngaret banget. Saya baru dapet mood ngetik, jadi maafkan saya :'v. Terus, saya rada gak yakin sama chapter ini, kayak ada yang aneh .-. Tapi saya harap chap ini memuaskan yaa dan semoga alurnya gak berantakan. Next chap saya usahakan diupdate dalam dua minggu. Diusahakan loh ya, gak janji :v /slapped.

Next, buat yang login, review udah dibales lewat PM. Ini balesan review buat yang belum login,

msymt22 : dilanjut~~ Maaf kelamaan :". Makasihh~~ Thanks for review~~

winterseluna : Dia gak lemah kok, cmn gak mau ngelawan blik doang :v . Thanks for review~~

Baekbee : dilanjut~~ Maaf kelamaan :" . Saya jg penasaran sm kelanjutannya ;) /heh. Thanks for review~~

baekbaekchan614 : Eh? Makasihh~~ Jangan kesel" sm ceye donggg :3 . Dilanjutt, maaf kelamaan :". Masih penasaran? :3 . Thanks for review~~

Namelalabunny : dilanjut kokkk~~ Tp maaf lama :" . Makasihhh~~ Thanks for review~~

naya : Terzolimi? :v . kkk~ Dilanjut yaaa~ Maaf kelamaan :" . Thanks for review~~

BaekheeByunnie : gpp kok. Hrusnya saya yg minta maaf karena kelamaan update :" . Makasihh~~ Dilanjut yaaa, maaf kelamaan :" . Thanks for review~~

jempolnya pcy : Maunyaaa, tp bru mood ngetik :" . Ini dilanjutt yaa. Maaf kelamaan :" . Thanks for review~~

Then, buat yang udah baca, berkenan meninggalkan jejak?

16/10/09 –hundeer.