.

"Namanya Byun Baekhyun. Anak bungsu dari pasangan Byun. Ia merupakan salah satu penerima beasiswa di sekolahnya. Keluarganya hidup berkecukupan. Namun semenjak penyakit kakaknya semakin parah dan kepala keluarga Byun mengalami kegagalan dalam melakukan investasi, Baekhyun dijodohkan dengan Park Chanyeol untuk membantu keluarganya."

Pergerakan dari pemuda bersurai gelap itu terhenti. Irisnya bergulir untuk menatap seseorang yang telah memberikannya informasi yang ia butuhkan. "Apa?"

"Huh?"

Pemuda itu berdecak sekali ketika melihat raut bingung di wajah pemuda lainnya. "Tadi kau bilang, Byun Baekhyun telah menikah? Dengan Park Chanyeol?"

Yang ditanya menganggukkan kepalanya meski masih sedikit bingung dengan perubahan raut wajah pemuda di hadapannya. Sesaat kemudian ia berjalan mundur beberapa langkah saat mendapati wajah gelap milik pemuda bersurai gelap itu.

Gawat. Jika seperti ini, bisa-bisa ia menjadi sasaran tinju.

"Aku kira hanya itu yang bisa kusampaikan. Selamat tinggal."

Setelahnya pemuda itu berlari pergi darisana, meninggalkan pemuda bersurai gelap yang tengah menggeram penuh amarah di kursinya.

"Sial!" Pemuda itu melemparkan ponsel dalam genggamannya ke arah dinding. Membuat ponsel tersebut hancur hingga tak lagi berbentuk.

Ia menghirup nafas sedalam mungkin untuk meredakan emosinya yang sempat memuncak. Kemudian sebuah seringaian terpasang di wajah rupawannya. "Kau akan menjadi milikku, Byun Baekhyun."

.

Bitter Wedding

.

T/M

(5/15)

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others

Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran

.

Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Baekhyun duduk dengan tidak nyaman di kursinya. Kedua irisnya terus bergerak ke sana kemari dengan gelisah. Hal tersebut jelas saja membuat Luhan yang duduk di sebelahnya mengerutkan dahi bingung.

"Baek, ada apa?"

Untuk sesaat tak ada respon yang berarti dari Baekhyun. Pada akhirnya, Luhan memilih menepuk bahu Baekhyun untuk menarik perhatian sahabatnya.

Tubuh Baekhyun berjengit merasakah tepukan di bahunya. Dengan mata yang sedikit membulat, Baekhyun menatap Luhan. "Ada apa?"

"Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu?"

Baekhyun mengerjapkan kedua irisnya. Sedang salah satu jarinya menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Aku?" Luhan mengangguk sebagai jawaban. "Tidak apa-apa."

Luhan menghela nafas mendengar jawaban dari Baekhyun. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya. Kedua tangannya memainkan alat tulis di atas meja.

Suasana di sekitar keduanya menjadi hening. Ada sedikit rasa canggung dan tak nyaman menghinggapi Baekhyun karena keterdiaman Luhan. Tidak biasanya sahabat cantiknya menjadi sediam ini. Apalagi saat ini tengah berlangsung pelajaran sejarah, pelajaran yang paling tidak disukai oleh Luhan.

"Lu?" Baekhyun memanggil.

Namun respon yang ia dapatkan hanyalah sebuah gumaman singkat. Bahkan Luhan tak menoleh ke arahnya sama sekali. Baekhyun menipiskan bibirnya. Jika Luhan sudah bertingkah seperti ini, itu pertanda bahwa Luhan sudah terlalu lelah dengan sesuatu.

Bibir Baekhyun yang terbuka untuk memanggil Luhan kembali tertutup ketika suara bel istirahat terdengar. Kedua mata sipit Baekhyun dapat melihat Luhan yang bangkit dari posisi duduknya dan pergi dari kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan menoleh untuk menatapnya pun tidak.

Dan hal itu jelas saja membuat Baekhyun takut. Pemuda dengan surai kelam itu segera bangkit, berniat mengejar Luhan. Namun belum juga ia sempat melangkah, seseorang telah mencekal tangan kanannya.

"Baekby,"

Tubuh Baekhyun menegang mendengar suara berat seseorang memanggilnya. Dan Baekhyun tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika itu adalah Yifan. Karena tidak ada seorangpun yang pernah memanggilnya seperti itu selain Yifan.

Baekhyun memejamkan kedua irisnya seraya menarik-narik tangannya agar terlepas dari cekalan Yifan. Namun usahanya sia-sia saja. Baekhyun menggigit pipi bagian dalamnya ketika mendapat perhatian dari siswa dan siswi yang masih berada di kelasnya.

"Yifan-ssi. Tolong lepaskan," ucap Baekhyun dengan pelan namun masih mampu ditangkap oleh pendengaran Yifan.

Yifan tidak menjawab. Pemuda tingggi itu memilih untuk bangkit berdiri lalu memeluk Baekhyun dari belakang. Sedangkan yang dipeluk hanya mampu terdiam kaku di posisinya.

Tubuh tinggi Yifan dibawa untuk merunduk. Mengarahkan bibirnya ke arah telinga kanan Baekhyun. "Kumohon, Baekby. Maafkan aku," lirih Yifan lalu mengeratkan pelukkannya.

Seakan tersadar dengan apa yang terjadi, Baekhyun segera meronta hingga tubuhnya terlepas dari pelukkan Yifan. Kedua iris sipitnya berpendar ke arah sekeliling kelasnya sebelum menatap ke arah Yifan dengan tatapan tak terbaca sama sekali.

"Maaf, Yifan-ssi. Aku tidak mengenalmu, mungkin kau salah orang." Baekhyun berujar dengan cepat sebelum berlari keluar dari kelas.

Bohong jika Baekhyun mengatakan ia tidak mengenal Yifan. Karena pada kenyataannya, Baekhyun mengenal Yifan. Sangat mengenalnya.

Yifan adalah masa lalunya. Masa lalu yang tidak ingin ia ingat. Masa lalu yang tidak ingin ia lihat lagi. Ia ingin melupakan Yifan. Tapi kenapa pemuda itu kembali muncul di hadapannya?

Baekhyun terus berlari, mengabaikan larangan untuk berlarian di koridor. Saat ini hanya satu tujuannya. Taman belakang sekolah. Hanya tempat itulah yang dapat memberikan ketenangan untuknya.

Baekhyun mendudukkan diri di atas kursi setibanya di taman belakang. Punggung sempitnya ia sandarkan pada sandaran tempat duduk sedang kedua iris sipitnya memandang kosong ke arah langit cerah tak berawan di atasnya.

"Yifan.." Baekhyun bergumam dengan pelan.

Dan kilasan masa lalu kembali menghampirinya. Membuat air matanya tumpah bergitu saja. Ia tidak pernah ingin mengingatnya kembali. Tapi dengan kehadiran Yifan, semua ingatan itu kembali begitu saja.

Baekhyun membenci ini.

"Hei,"

Kedua tangan Baekhyun bergerak dengan cepat menghapus lelehan air mata yang mengaliri kedua belah pipinya. Lalu ia menolehkan kepala ke arah samping untuk mendapati sosok Kyungsoo berdiri dengan mata bulat yang menatap hangat ke arahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Kyungsoo langsung mendudukkan dirinya beberapa senti dari posisi Baekhyun duduk.

Kedua iris bulatnya menatap ke arah langit seperti Baekhyun tadi.

"Tidak ada." Baekhyun menjawab singkat. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan pemuda Do ini.

"Menenangkan diri?"

Baekhyun menatap ke arah Kyungsoo. Kedua iris sipitnya berpendar bingung. Bagaimana Kyungsoo bisa tahu apa yang ia lakukan?

Kekehan kecil meluncur dari belah bibir berisi milik Kyungsoo ketika tebakannya benar. "Aku juga sering menenangkan diri di sini jika sedang ada masalah dengan keluarga dan kekasihku,"

Tanpa sadar, Baekhyun mengepalkan kedua tangannya ketika mendengar kata kekasih disebutkan Kyungsoo. Ia jelas tahu siapa kekasih yang dimaksud oleh Kyungsoo. Siapa lagi jika bukan Park Chanyeol? Suaminya.

Keduanya terdiam. Surai mereka tertiup angin hingga membelai wajah keduanya dengan lembut. Suasana yang menenangkan, tapi tidak untuk Baekhyun. Ia sibuk memikirkan berbagai macam hal.

"Baekby,"

Baekhyun tersentak kaget. Lagi-lagi tubuhnya terdiam kaku tanpa mampu untuk digerakkan. Dalam hati merutuki kenapa sejak dulu Yifan selalu dapat menemukannya.

Baekhyun segera bangkit dari posisi duduknya, berniat untuk pergi darisana. Namun usahanya tidak berhasil, karena Yifan sudah menghalangi langkahnya.

Pemuda dengan tubuh tinggi itu membawa Baekhyun masuk ke dalam pelukkannya. Memeluk dengan erat tubuh milik pemuda yang lebih mungil. "Aku merindukanmu," Yifan mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Baekhyun. "Maafkan aku, sayang,"

Baekhyun tidak merespon. Yifan terlarut dalam kegiatannya melepaskan kerinduan. Sedangkan Kyungsoo hanya mampu terdiam bingung dengan kedua iris membulat.

Sayang? Apakah pemuda bernama Yifan itu adalah kekasih Baekhyun?

"Yifan-ssi,"

"Baek!" Yifan menjauhkan Baekhyun darinya. Kedua irisnya menatap tajam ke arah Baekhyun. Tanpa sadar nada suaranya meninggi. Dan setelahnya Yifan menyesal. Ia melanggar janjinya sendiri untuk tidak membentak Baekhyun jika kembali bertemu dengannya. "Maaf,"

"Kumohon, lepaskan aku, aku tidak mengenalmu," Baekhyun berujar dengan lirih.

Kepala Yifan menggeleng dengan cepat. "Tidak Baek, tidak. Maafkan aku. Jangan lakukan ini padaku," Nada suara Yifan terdengar sedih. Iris tajamnya berubah sendu.

Baekhyun meronta dalam dekapan Yifan. Mendorong tubuh yang lebih tinggi darinya hingga terlepas. Yifan menatap dengan nanar ke arah punggung Baekhyun yang perlahan menjauh kemudian menghilang dari pandangannya.

Ia mengerang dengan jengkel sebelum menjatuhkan dirinya pada kursi taman belakang sekolah. Kedua matanya ia pejamkan. Hari yang benar-benar buruk, rutuknya dalam hati.

"Maaf,"

Kedua mata Yifan terbuka kala mendengar suara seseorang. Ia tolehkan kepalanya ke samping. Seorang pemuda dengan iris bulat–namanya Kyungsoo jika Yifan tak salah ingat, tengah menatap ke arahnya..

"Ya?"

"Apakah kau kekasih Byun Baekhyun?"


#


Luhan menyandarkan kepalanya pada meja. Mengabaikan suara berisik di sekitarnya. Bahkan ia mengabaikan makanan yang dibelikan oleh Sehun untuknya.

"Lu, ada apa?"

Luhan memejamkan matanya ketika merasakan tangan besar Sehun mengelus kepalanya dengan lembut. Setidaknya ia merasa sedikit lebih tenang sekarang.

Ia menegakkan duduknya lalu menatap ke arah sang kekasih. "Sehun,"

"Hm?" Sehun bergumam sebagai respon. Tangannya masih sibuk mengelusi kepala Luhan.

"Cium aku."

HAH?!

Pergerakan Sehun terhenti begitu saja. Iris sipitnya memandang terkejut ke arah Luhan. Ada apa dengan Luhan? Tidak biasanya ia meminta untuk dicium seperti itu. Apalagi di tempat umum.

Namun setelah Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan, kekasihnya itu malah menjauh dan berkata tidak ingin dicium oleh Sehun. Astaga, untung saja Sehun menyayangi Luhan. Jika tidak, Sehun tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada Luhan.

Di lain sisi, Luhan menghela nafas berat. Ia merasa bersalah pada Baekhyun karena sudah bertingkah kekanakan. Bukan maksudnya untuk seperti itu. Tapi hei, bagaimana rasanya jika sahabatmu sendiri menutupi segala sesuatu darimu? Padahal Luhan ingin sedikit meringankan beban yang Baekhyun miliki.

Luhan merasa menjadi seorang sahabat yang tak berguna. Ia merasa tidak dipercayai oleh Baekhyun. Dan itu sedikit banyak membuatnya sedih.

"Sayang," suara berat Sehun mengintrupsi kegiatan Luhan.

Mau tak mau, Luhan menolehkan wajahnya ke arah Sehun karena mendengar nada lembut yang pemuda itu ucapkan. "Apa?"

"Jangan terlalu banyak berpikir, hm. Aku yakin Baekhyun akan baik-baik saja. Dia tidak selemah itu. Dan jika ia sudah tak mampu, ia pasti akan menceritakannya padamu."

Tunggu. Kenapa ini terlihat seperti Sehun lebih mengenal Baekhyun daripada dirinya? Padahal jelas-jelas, Luhan lah yang dekat dengan Baekhyun dan bukan kekasihnya.

Tanpa sadar Luhan cemberut karena pemikirannya sendiri. Pemuda bersurai coklat itu bangkit tanpa banyak kata.

"Bodoh." gumamnya kepada Sehun sebelum pergi meninggalkan sang kekasih yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Luhan.


#


"Darimana saja kau?"

Pergerakan Baekhyun terhenti. Irisnya memandang ke arah Chanyeol yang kini berdiri menjulang di hadapannya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Kedua matanya menghujam tajam ke arah Baekhyun yang terpaku dalam posisinya.

"Apa kau tuli?!" Nada suara Chanyeol meninggi. Merasa sedikit jengkel dengan sikap Baekhyun yang selalu diam saat ia bertanya.

"Tadi aku sedang ada urusan di sekolah."

Chanyeol berdecak sekali. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Ia meneliti tubuh Baekhyun dari atas hingga ke bawah secara berulang sebelum kembali membuka suara. "Hari ini pria tua itu akan datang,"

Baekhyun tahu dengan jelas siapa pria tua yang dimaksud oleh Chanyeol. Tuan Park atau bisa dikatakan sebagai ayah mertuanya. Dalam hati, ia bertanya-tanya, ada urusan apa hingga Tuan Park datang ke apartemen mereka.

"Tutupi semua lukamu. Jika sampai pria tua itu mengetahui luka yang kuberikan padamu, aku tak akan segan membunuhmu."

Tubuh Baekhyun menegang. Ia dapat dengan jelas mendengar nada dingin dalam ucapan Chanyeol. Pemuda bersurai perak itu selalu melakukan apa yang ia katakan. Jadi pada akhirnya, Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan takut.

Tanpa berkata apapun lagi, Chanyeol beranjak darisana. Meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam dalam posisinya. Setelah beberapa saat, Baekhyun pun berjalan memasuki apartemennya, menuju kamar tidur lebih tepatnya. Ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah sebelumnya ia mengganti seragamnya dengan pakaian santai.

Kedua irisnya menatap kosong ke arah dinding kamar. Lamunannya buyar kala ia merasakan getaran halus di sampingnya. Ia melirik ke arah ponselnya yang menunjukkan pemberitahuan adanya pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Lagi?" gumamnya pelan ketika melihat nomor pengirim pesan tersebut.

Terhitung sudah tiga hari ini ia menerima pesan dari nomor yang sama. Isinya pun selalu sama. Selalu berisi dengan kata maaf. Jika dipikir, ia mendapatkan pesan ini tepat sehari sebelum kemunculan Yifan dan Kyungsoo di sekolah. Apakah mungkin salah satu dari mereka yang mengirimkan pesan-pesan tersebut?

Namun pemikiran itu segera ditepisnya. Ia sudah mengganti nomor ponselnya, tidak mungkin Yifan bisa dengan mudah mendapatkannya. Dan juga, ia tidak mengenal Kyungsoo selain namanya, jadi hal yang tidak mungkin jika pemuda beriris bulat itu bisa mengiriminya pesan tersebut.

Helaan nafas berat ia hembuskan, merasa pusing sendiri memikirkan segala hal yang mengganggunya belakangan ini. Ia memilih untuk memejamkan matanya, berharap bisa segera jatuh terlelap dan terbangun ketika pagi telah menjelang.

Hanya beberapa detik matanya terpejam, tiba-tiba saja pintu kamar dibuka dengan keras. Mau tak mau Baekhyun segera bangkit dari posisi berbaringnya. Ia menatap dengan takut sekaligus bingung ke arah Chanyeol yang menatapnya dengan dingin dari ambang pintu kamar.

"A..ada apa?" tanya Baekhyun dengan pelan namun masih mampu ditangkap oleh kedua telinga Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan?! Sebentar lagi pria tua itu akan datang dan kau masih belum menutupi lukamu?!" Bibir Baekhyun yang terbuka hendak mengatakan kata maaf kembali tertutup karena Chanyeol telah memotongnya terlebih dahulu. "Jangan mengatakannya lagi! Sebaiknya kau cepat melakukan apa yang kuperintahkan!"

Chanyeol menggeram penuh amarah sebelum keluar dari kamar. Ia menutup pintu dengan sangat keras.

Sesuai dengan apa yang Chanyeol katakan, Baekhyun dengan terburu menutupi luka-luka di tubuhnya. Bahkan ia telah memikirkan alasan apa yang akan ia berikan nanti untuk Tuan Park, jika pria paruh baya itu menanyakan perihal dirinya yang memakai sweater cukup tebal saat cuaca Seoul sedang panas-panasnya.

Seulas senyum muncul di wajahnya kala ia telah selesai. Ia memandangi dirinya di cermin. Dan senyuman cerahnya berubah menjadi sendu. Sampai kapan ia harus seperti ini? Sejujurnya ia sudah lelah. Badan dan wajahnya selalu mendapatkan luka dari suaminya sendiri. Di satu sisi ia ingin semua segera berakhir tapi ada satu sisi dalam dirinya yang tidak menginginkannya.

Baekhyun menghela nafas sekali lalu menepuk kedua belah pipinya dengan cukup keras. Berusaha menghilangkan pemikirannya barusan. Ia pun kembali tersenyum dengan manis. Setelahnya, ia melangkah keluar dari kamar. Berjalan lurus menuju pintu masuk, karena beberapa saat yang lalu ia sempat mendengar suara bel.

"Oh? Baekhyun-ah,"

Kedua iris Baekhyun mengerjap. Menatapi beberapa saat pria paruh baya di hadapannya sebelum berkata, "Silahlan masuk, ayah," Ia menggeser sedikit tubuhnya.

Pria paruh baya itu tersenyum kecil mendapati sikap sopan namun terkesan canggung dari menantunya. Ia tahu jika Baekhyun belum terbiasa dengan statusnya yang sekarang.

"Dimana Chanyeol?"

"Ada apa?"

Belum sempat Baekhyun menjawab, suara berat Chanyeol terdengar. Baekhyun dengan pelan menghela nafas lega. Karena jujur saja, Baekhyun tidak tahu dimana Chanyeol berada tadi.

"Tidak adakah pelukan untuk ayahmu ini?" Tuan Park bertanya dengan nada main-main.

Pria paruh baya itu tahu bagaimana caranya menggoda anak bungsunya. Terlihat dari Chanyeol yang mulai terpancing amarah.

"Sebaiknya kau katakan apa yang kau inginkan?"

Terdengar tidak sopan memang. Tapi Chanyeol tidak peduli dengan hal itu. Ia bukanlah tipe orang yang menutup-nutupi emosinya jika sudah berhadapan dengan sang ayah.

Tuan Park mendengus mendengar anaknya yang selalu bertanya pada intinya.

"Tidak ada. Hanya ingin datang berkunjung sekaligus menemui menantuku." ujar Tuan Park ringan seraya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.

Chanyeol menggeram jengkel sebelum berjalan pergi darisana. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara berat sang ayah.

"Jangan berani kau pergi dari apartemen ini. Hari ini kita ada acara makan malam dengan keluarga Baekhyun."

Kedua iris Baekhyun membulat. Menatap tak percaya ke arah Tuan Park yang tampak menikmati kopi hidangannya dengan santai.

Apa tadi?

Makan malam bersama keluarganya?

Kenapa ia tidak mengetahuinya?

"...hyun, Baekhyun."

Baekhyun berjengit kaget ketika merasakan tepukan halus di pundak kanannya. Kepalanya ia tolehkan ke samping untuk menatap ke arah Tuan Park.

"Y-ya?"

Sebuah senyum terulas di wajah rupawan milik Tuan Park. Pria itu menjulurkan tangannya ke arah wajah Baekhyun dengan iris yang menatap Baekhyun dengan tatapan tak terbaca sama sekali.

Senyumannya perlahan luntur lalu digantikan dengam wajah dingin khas Tuan Park. Tangannya ia tarik mundur sebelum membawa langkahnya menuju kamar, dimana sosok Chanyeol berada.

Baekhyun yang tersadar dari keterkejutannya segera berlari menyusul Tuan Park yang hampir mencapai pintu kamarnya. Ia tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang akan mertuanya lakukan kepada suaminya.

"Ayah.." Baekhyun berdiri di depan pintu kamar. Menghalangi langkah pria yang lebih tua.

"Jangan mengahalangiku, Baekhyun. Anak itu harus diberi pelajaran. Ia tidak akan pernah mengerti jika tidak dengan kekerasan."

Nada suaranya terdengar dingin. Namun Baekhyun bergeming di posisinya. Masih keukeuh agar Tuan Park tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada Chanyeol.

Kepala dengan surai kelamnya menggeleng beberapa kali. "Tidak, ayah. Aku ceroboh hingga mendapati luka di wajahku," ujar Baekhyun bohong.

Luka di pipinya masihlah baru meski tidak terlalu bengkak seperti beberapa hari yang lalu. Tapi denyutan sakit tetap masih ia rasakan.

"Jangan membohongiku. Kau pikir sebodoh apa aku hingga tidak mengetahui bagaimana tabiat anak keras kepala itu?"

"Aku tidak berbohong. Sungguh."

Iris sipitnya ia bawa untuk menatap tepat ke arah iris tajam Tuan Park. Berharap kebohongannya tidaklah diketahui dengan mudah oleh Tuan Park.

Keduanya berada dalam posisi itu selama beberapa saat sebelum akhirnya Tuan Park menyerah. Baekhyun sama keras kepalanya seperti dirinya. Percuma saja jika ia tetap bersikeras untuk menghukum anak bungsunya.

"Baiklah," Tuan Park mengehela nafas sekali. "Tapi jika sampai aku mengetahui Chanyeol yang memukulmu, aku tak akan segan menghukum Chanyeol dengan berat."

Baekhyun termangu.

Jujur saja ia tidak mengerti. Mengapa Tuan Park sangat baik kepadanya? Kenapa pria di hadapannya ini memilihnya untuk menjadi pendamping Chanyeol? Kenapa Tuan Park sangat marah saat mengetahui ia mendapati luka di wajahnya?

Terlalu banyak kata kenapa yang muncul di kepalanya. Hingga bibirnya tak dapat menahan untuk bertanya, "Kenapa?" dengan cukup lantang.

Tidak ada respon selama beberapa detik. Tuan Park terdiam, begitupula dengan Baekhyun. Kedua kaki milik Tuan Park di bawa mundur sebanyak dua langkah.

Pria itu menatap Baekhyun dengan tatapan lembut. "Karena sekarang, kau adalah anakku juga." Senyumannya kembali muncul.

"Tap—"

"Baiklah. Aku harus kembali ke kantor. Ada rapat penting yang harus kuhadiri." Tuan Park berujar ringan seraya menunjukkan layar ponsel datarnya yang terpampang panggilan masuk dari sang sekertaris.

Baekhyun tidak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah Tuan Park yang berjalan menuju pintu apartemen. "Jangan lupa jika malam ini kita akan ada makan malam. Di sini."

Setelahnya Tuan Park pergi dari apartemen Baekhyun dan Chanyeol. Meninggalkan beribu pertanyaan di kepala Baekhyun yang sama sekali tidak terjawab dengan pernyataan Tuan Park tadi.

Baekhyun kembali melangkah masuk. Ia sedikit melangkah mundur ketika wajahnya tidak sengaja menabrak sesuatu. Dan bibirnya membentuk sebuah garis tipis ketika mendapati Chanyeol berdiri di hadapannya dengan wajah sangat dingin.

"Ch—"

Tangan Chanyeol terulur lalu menggeser tubuh Baekhyun dengan kasar. Tanpa berkata apapun lagi Chanyeol pergi dari apartemen dengan pakaian yang tampak kasual. Jika tebakan Baekhyun benar, kemungkinan Chanyeol akan pergi menemui Kyungsoo.

Pemuda bersurai kelam itu hanya mampu menghela nafas lelah. Kakinya ia bawa dengan langkah pelan menuju dapur seraya kepalanya sibuk memikirkan makanan apa yang harus ia buat untuk malam ini.

"Uh, aku harus membeli bahan makanan." gumamnya pelan.


.


Roda-roda troli itu bergerak kemanapun sesuai dengan sang pendorong. Di dalam badan troli terdapat berbagai jenis bahan makanan. Dari sayur, bumbu masak hingga daging. Semuanya Baekhyun masukkan ke dalam troli.

Bibir tipisnya sesekali bersenandung kecil dengan mata yang terus menjelajahi setiap deret rak yang ia lalui. Harus Baekhyun akui, saat berbelanja adalah salah satu saat yang sangat ia sukai. Setidaknya beban pikirannya sedikit berkurang.

Baekhyun memekik kaget ketika merasakan kakinya ditubruk dengan cukup keras. Ia pun membawa pandangannya menuju bawah. Dan ia dapat melihat seorang anak kecil terduduk di samping kakinya dengan mata yang berkaca-kaca.

Baekhyun membawa tubuhnya untuk berjongkok. "Kau tidak apa-apa?" Tangannya mengelus dengan lembut kepala anak laki-laki di hadapannya.

Anak tersebut menatap tepat ke arah iris Baekhyun. Bibir kecilnya mengkerut ke bawah dan Baekhyun yakin, anak di hadapannya akan menangis sebentar lagi.

"Ma-maafkan aku,"

Mata Baekhyun mengerjap beberapa kali mendengar kata maaf yang diucapkan sang anak. Tanpa dapat ditahan, Baekhyun mengulas sebuah senyum. Dia merasa gemas sendiri melihat anak kecil ini. "Tentu. Lainkali, kau harus berhati-hati, hm?"

Kepala anak itu mengangguk.

"Siapa namamu? Dan dimana orangtua atau mungkin kakakmu?" Baekhyun membawa tubuh anak itu ke dalam gendongannya.

Tangan-tangan kecil milik sang anak melingkar erat di leher jenjang Baekhyun. "Namaku Zuyi dan aku tidak tahu hyung pergi kemana,"

Baekhyun terdiam sesaat. Ia mengambil ponsel di saku celananya, berniat melihat jam berapa saat ini. Dan ia masih memiliki waktu dua jam sebelum waktunya untuk mempersiapkan makan malam. Ponselnya ia masukkan kembali ke dalam saku celana kemudian membawa fokusnya ke arah anak laki-laki bernama Zuyi yang ada di gendongannya.

"Baiklah. Jika begitu, hyung akan membantumu mencari kakakmu."

Kekehan kecil lolos dari belah bibir Baekhyun ketika melihat iris Zuyi berbinar penuh harap belum lagi senyuman khas anak kecil melekat di wajah tampannya. Bahkan Zuyi terus mengatakan kata 'benarkah' secara berulang kali. Baekhyun yang tak tahan akhirnya mendaratkan sebuah kecupan ringan di belah pipi Zuyi.

Baekhyun menurunkan Zuyi lalu menyuruh anak lelaki itu memegang erat pada celananya agar tidak terpisah darinya. Dengan cepat Baekhyun menyelesaikan kegiatan belanjanya. Setelah menitipkan belanjaannya di tempat penitipan, Baekhyun pun mulai mencari kakak dari Zuyi.

"Hyung, aku lapar." Zuyi menelusupkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun. Anak itu mengusap-usapkan wajahnya di sana dengan manja.

Baekhyun yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya tertawa kecil. "Ayo kita membeli makanan untukmu,"

"Untukku? Hyung tidak makan?"

Kepala Baekhyun menggeleng. "Nanti hyung akan makan di rumah." Ujar Baekhyun sebelum Zuyi bertanya lebih lanjut.

Kedua kaki Baekhyun pun melangkah menuju salah satu kafe di dekat supermarket tempatnya berbelanja. Ia mendudukkan Zuyi di kursi dan menyuruh anak itu menunggunya. Sedang dirinya pergi memesan makanan untuk Zuyi.

Ketika makanan yang ia pesan tiba, Zuyi dengan lahap memakannya. Baekhyun hanya mampu tersenyum. Anak lelaki di hadapannya sungguh menggemaskan. Namun senyumannya seketika menghilang dari wajah manisnya. Matanya menatap kosong ke arah depan.

"Hyung? Kenapa menangis? Apa hyung lapar?"

Baekhyun menunduk setelah menghapus air matanya. Ia sendiri tidak tahu kenapa dirinya menangis.

Ia mengulas sebuah senyum kecil lalu kepalanya menggeleng sekali. "Hyung tidak menangis. Mata hyung kemasukan debu,"

"Benarkah? Jika hyung lapar, aku akan membagi makananku."

Baekhyun kembali menggeleng. "Tidak perlu. Cepat habiskan makananmu dan kita mencari hyungmu lagi." Dengan lembut Baekhyun mengelus kepala Zuyi.


.


Terhitung lima belas menit lamanya, Baekhyun berjalan menyusuri daerah sekitar tempatnya berbelanja. Selesai mengisi perut Zuyi, keduanya kembali melanjutkan kegiatan mereka sebelumnya, mencari kakak dari Zuyi.

Tapi, tak peduli berapa lamapun keduanya berjalan, mereka tak kunjung menemukan seorang pemuda yang sesuai seperti apa yang Zuyi deskripsikan padanya. Meski begitu, Baekhyun tetap saja mencari dengan sesekali menenangkan Zuyi yang tampak akan menangis.

"Maafkan aku," Baekhyun berujar dengan cukup keras ketika bahunya tak sengaja menabrak seseorang. Salahkan dirinya yang tidak memperhatikan jalanan di depannya dan malah memperhatikan setiap toko yang ia lalui.

Baekhyun menolehkan kepalanya hingga kedua iris sipitnya bertubrukan langsung dengan sepasang iris yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca sama sekali. Tubuhnya membungkuk untuk kembali meminta maaf namun pergerakannya dihentikan oleh pemuda di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan?" pemuda itu bertanya dengan nada suara tak bersahabat sama sekali. Membuat Baekhyun sedikit merasa tak nyaman.

"Meminta maaf?"

Pernyataan atau mungkin pertanyaan dari Baekhyun membuat pemuda di hadapannya berdecak sekali. Kedua tangannya bersedekap di depan dada dengan mata yang terus memperhatikan Baekhyun tanpa henti.

"Ka—"

Ucapan pemuda di hadapan Baekhyun terpotong begitu saja karena sebuah suara teriakan yang datang dari arah belakang Baekhyun.

"Zuyi!"

Dan tubuh Baekhyun menegang mendengar suara milik seseorang yang sangat dikenalnya. Tidak mungkin adalah kata yang terus Baekhyun pikirkan dalam kepalanya. Kedua telinga Baekhyun dapat mendengar suara nafas memburu di belakangnya meski tidaklah terlalu jelas.

"Hyung!" Zuyi meronta meminta turun dari gendongan Baekhyun. Baekhyun menuruti keinginan Zuyi tanpa berniat memutar tubuhnya untuk melihat siapakah kakak dari Zuyi. Karena ia tidak siap jika tebakannya benar.

Tanpa sadar Baekhyun mengigit pipi bagian dalamnya dengan cukup kuat. Kedua irisnya bergerak liar kesana kemari. Ia bahkan melupakan sosok pemuda di hadapannya yang kini tengah menatap bingung dirinya.

"Ba..Baekby?"

Lagi. Suara berat milik kakak dari Zuyi terdengar lagi namun kini ia sangat yakin jika tebakannya benar. Bahwa orang yang menjadi kakak Zuyi adalah..

"Yifan hyung mengenal Baekhyun hyung?"

Baekhyun mengambil ancang-ancang untuk berlari pergi darisana namun langkahnya tertahan karena sebelah tangannya dicekal oleh Yifan. "Baek, jangan pergi lagi. Kumohon,"

Baekhyun dapat merasakan tatapan sedih yang Yifan tujukan padanya. Kepalanya menunduk ke bawah dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu harus berucap apa. Ia takut jika bukan suaranya yang keluar melainkan suara isakan yang keluar.

"Lepaskan aku." Baekhyun berujar dengan lirih. Suaranya terdengar sedikit bergetar karena ia berusaha menahan tangisannya. Ia ingin pergi dari sini, tapi kakinya tidak dapat digerakkan sama sekali. Belum lagi Yifan masih menggenggam sebelah tangannya.

"Tidak, Baek. Tidak lagi."

Yifan menggelengkan kepalanya meski ia tahu Baekhyun tak dapat melihatnya. Dengan satu tangan yang masih memegang pergelangan tangan Baekhyun, Yifan menurunkan Zuyi dalam gendongannya. Dan dengan isyarat mata, Yifan memerintahkan Zuyi untuk menghampiri ibunya yang berada di dekat mereka.

Setelah Zuyi bersama dengan ibunya, Yifan kembali memusatkan perhatiannya ke arah Baekhyun yang masih tidak bergerak dari posisinya. "Baekby?" Ia menarik Baekhyun mendekat ke arahnya. Meski Baekhyun tidak mau menatapnya, Yifan tetap memeluk tubuh mungil itu dari belakang.

Ia dapat merasakan tubuh Baekhyun yang menjadi sangat kaku akibat pelukannya. Tapi ia tidak peduli. Ia sangat merindukan sosok pemuda dalam dekapannya. Ia benar-benar bodoh. Ia bodoh karena telah menyakiti pemuda berhati lembut seperti Baekhyun.

Suara dehaman nyaring terdengar. Yifan mengangkat kepalanya yang semula berada di atas pucuk kepala Baekhyun. Menatap ke arah sosok seorang pemuda yang tidak lebih tinggi darinya. Bertanya ada urusan apa kepada pemuda itu melalui tatapan matanya.

"Aku tidak tahu apa hubungan kalian berdua. Tapi, bisakah kau melepaskannya? Raut wajah pemuda dalam pelukanmu tampak tidak nyaman dan seperti akan menangis,"

Mata Yifan memicing. Menatap tidak suka ke arah pemuda itu. "Jangan mencampuri urusan orang lain."

Kedua iris Yifan melotot. Amarah terpancar jelas dalam kilatan matanya. Bagaimana ia tidak tersulut emosi jika pemuda itu dengan kurang ajarnya menjauhkan Baekhyun darinya?

"Ap—"

"Jangan mendekat!" Langkah Yifan terhenti. Ia menatap terkejut ke arah punggung sempit Baekhyun.

Apa Baekhyun baru saja membentaknya? Dari dulu, Baekhyun tak pernah membentaknya sekalipun. Bahkan ketika ia dengan bodohnya menyakiti pemuda mungil itu, Baekhyun hanya tersenyum pahit dan pergi.

Dan pada akhirnya, Yifan membiarkan Baekhyun melangkah pergi bersama seorang pemuda yang menuntun langkahnya.


#


"Yeol!"

Chanyeol tersentak kaget. Ia menatap dengan raut bingung ke arah Kyungsoo yang sedang memasang wajah masam ke arahnya. Oh, ini tidak baik.

"Kyung, ada apa?"

Kyungsoo berdecak sekali dan Chanyeol mengerti jika kekasihnya sedang kesal. "Kau mengabaikanku," Kyungsoo menatap Chanyeol dengan sebal. Ia paling tidak suka diabaikan apalagi oleh kekasihnya sendiri.

"Maafkan aku, hm?" Chanyeol menjulurkan tangannya lalu mengelus belah pipi kanan Kyungsoo dengan lembut.

Perlakuan Chanyeol padanya, mau tak mau membuat Kyungsoo mengangguk memaafkan kekasihnya itu. Keduanya pun kembali larut dalam obrolan mereka sebelumnya. Membahas berbagai macam hal saat keduanya terpisah.

Bersantai seperti ini merupakan salah satu hal yang sangat Kyungsoo sukai. Meski Chanyeol telah memiliki status sebagai suami dari Byun Baekhyun. Tak ada salahnya bukan jika Kyungsoo masih ingin mempertahankan hubungan mereka? Lagipula pernikahan antara Chanyeol dan Baekhyun hanyalah didasarkan oleh perjodohan. Karena yang Kyungsoo tahu, Chanyeol hanya mencintainya dan akan selalu seperti itu.

Sebuah senyum terulas di wajah manis Kyungsoo. Pemuda bertubuh pendek itu mengeratkan genggaman tangannya dan Chanyeol. Ia pun tanpa ragu menyenderkan kepalanya pada bahu lebar Chanyeol.

Keadaan hening melingkupi keduanya sejak keduanya memilih untuk duduk di kursi taman. Suasana hening yang membuatnya nyaman. Kedua irisnya menatap ke arah langit senja berwarna keoranyean. Sebentar lagi malam akan menjemput.

"Yeol, bukankah ayahmu akan datang makan malam ke apartemenmu?"

Kyungsoo menegakkan kepalanya. Menatap ke arah Chanyeol dengan iris bulatnya. Pemuda bersurai perak di hadapannya mendengus sekali.

"Kenapa kau mengingatkanku, Kyung? Aku sangat malas pulang," Chanyeol balas menatap Kyungsoo. Tatapannya terlihat sangat memelas. Merajuk, eh?

Kyungsoo terkekeh. "Kau tetap harus pulang, Yeol. Kau tidak ingin ayahmu marah 'kan?"

Chanyeol mendengus. "Tapi aku masih ingin bersamamu." Lagi. Chanyeol lagi-lagi merajuk.

Pada akhirnya Kyungsoo tak dapat menahan tawanya. Tak tahan melihat tingkah Chanyeol. Terkadang kekasihnya akan bertingkah kekanakan seperti ini jika merasa sebal akan sesuatu. Ingat, hanya terkadang.

"Kita bisa pergi lagi lainkali. Sekarang kau harus pulang." Ujar Kyungsoo dengan lembut. Ia merapatkan jaket yang dikenakan oleh Chanyeol lalu mendaratkan sebuah kecupan di bibir Chanyeol.

Saat dirinya akan menjauh, Chanyeol malah menahan kepalanya agar tidak menjauh. Dan keduanya pun berciuman selama beberapa saat sebelum menjauh. Chanyeol menatap ke dalam iris bulat Kyungsoo. Menyalurkan perasaan sayang melalui tatapannya.

"Ah!" Chanyeol berteriak tiba-tiba. "Bagaimana jika kau ikut makan malam di apartemenku?"

.

ToBeContinued

.

Yo~ Akhirnya bisa update setelah dua bulan sibuk sama rl. Maafkan saya atas keterlambatan updatenya. Saya sekarang ini kelas tiga, jadi tugas sekolah selalu numpuk, jadi harap maklumi. Saya tau ini kurang panjang, tapi saya gak tau mau ngetik apa lagi, otak ngestuck di bagian itu :'v .

Saya udah rombak tiga atau empat kali buat chap ini, tapi tetep aja ngerasa ada yang aneh. Adakah yang berkenan buat kasih tau saya kalo ada bagian yang dirasa aneh atau terlalu dipaksakan?

Untuk yang minta fastupdate, jujur aja, saya gak janji bisa ngelakuinnya. Karena yah, ngumpulin mood buat ngetik itu susah banget. Tapi saya janji bakal namatin ff ini meski ngaretnya minta ampun. Buat msy_mt, makasih udah ingetin saya buat update terus meski tetep aja updatenya lama. Saya harap kamu masih mau baca ff ini :'v

Nahh, buat yang login, review udah di bales lewat PM dan ini balasan buat yang belum login,

CB 614 : Makasihh :3 . Eh? Emang ff nya sedih ya? Awal" doang kok ceye jahatnya, ntar pelan" jg baik sendiri :v. Welehh, saya gak bs fastupd, lg sbuk bgt di real life soalnya :'v. Tapi ini udh saya update yaaa~ Okayy. Makasih :3 . Thanks for review~

fwxing : Ntar ada waktunya baek pergi kok, ditunggu saja~~ Thanks for review~

ParkNada :dilanjut~ Thanks for review~

parkbyun : Maafkan saya yg lama update :'v . Dilanjut kok~~ Thanks for review~

Nur Safitri Shiners Exo-l : Greget knp? :v . Ini udh dilanjut kok~ Thanks for review~

msymt22 :Maaf, gak bs fastupd, real life lg sibuk bgt :'v . Yapp, smua jg krna ide dri kamu kok :3 . Tp udh dilanjut kok~ Makasihh :3 Thanks for review~

chanpark : Dia mah emang jahat :v /gak . Ntar ceye jg baik sendiri kok, tunggu aja~ Thanks for review~

Hunhanship : NC? Ntar ada wktunya, ditunggu ajaa :v. Endingnya? Yagitu /heh. Dilanjut yaaa~ Thanks for review~

Yaoi : Maaf :'v . Saya lg sbuk di real life, jd gak smpet ngetik trs :'v . Tp ini udh dilanjut~ Thanks for review~

mischa : dilanjut~ Thanks for review~

jempolnya : Astaga :') . Makasih loh udh selalu mau nunggu :3 . Lah, kalo itu mah masih lamaaaa bgt, entah kpan mreka bahagianya :v /heh. Makasihh :3 . Thanks for review~

ruqiy614 : Welkam :3. Tabok aja si ceye nya :v /gak. Thanks for review~

park eunsoo : Makasihh :3 . Dilanjut kokk~ Thanks for review~

ovieee : Siapa? Yifan? Ntar jg tau kokk :v . Dilanjut~ Thanks for review~

Last, mind to review?

16/12/12 –hundeer.