.

Makan malam seharusnya menjadi momen hangat di mana para anggota keluarga berkumpul. Berbicara tentang hal-hal yang setiap anggota keluarga alami pada hari itu. Tertawa dan bercanda bersama.

Tapi tampaknya hal itu tidaklah mungkin terjadi jika yang mengadakan makan malam adalah keluarga Park dan keluarga Byun.

Bagaimana tidak?

Di ruang makan apartemen mewah itu, dapat dengan jelas terlihat jika Chanyeol dan Tuan Park saling bersitegang. Keduanya melemparkan tatapan tajam untuk satu sama lain. Sedangkan yang lainnya hanya mampu terdiam seribu bahasa. Tidak tahu harus berbuat apa.

Terhitung lima belas menit lamanya, sepasang ayah-anak dari keluarga Park seperti itu. Lebih tepatnya, Tuan Park sudah menghujamkan tatapan tajamnya untuk anak bungsunya sejak Chanyeol memasuki ruang makan apartemen dengan tangan yang menggenggam erat tangan milik seorang pemuda.

Jika saja yang berada dalam genggaman Chanyeol adalah Baekhyun, Tuan Park tak akan mempermasalahkannya. Tapi ini, anaknya menggandeng tangan pemuda lain. Bahkan anaknya melakukannya tepat di hadapan Baekhyun beserta keluarganya.

Amarah dan kekesalan bercampur menjadi satu. Tuan Park mungkin akan meledak kapan saja jika Baekhyun tak segera menenangkannya.

Sedikit banyak Tuan Park berterima kasih pada Baekhyun. Karena jika tidak, ia tidak yakin akan mampu untuk menahan tangannya yang siap menghajar anak bungsunya.

"Siapa dia?" suara berat Tuan Park terdengar.

Tidak ada jawaban selama beberapa saat. Tuan Park tahu jika Chanyeol sama sekali tidak ada niatan untuk merespon pertanyaan darinya. Tapi lain halnya dengan pemuda yang dibawa oleh Chanyeol.

Pemuda bermata bulat itu bangkit dari duduknya. Ia bawa tubuhnya untuk membungkuk memberi hormat pada orang-orang yang berada di sana.

"Namaku Do Kyungsoo. Dan aku adalah—"

Belum sempat Kyungsoo menyelesaikan ucapannya, Chanyeol telah memotongnya terlebih dahulu.

"—kekasihku."

.

Bitter Wedding

.

T/M

(6/15)

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others

Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran

.

Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Sepasang iris Baekhyun menatap kosong ke arah depan. Tangannya yang semula tengah mengelus pundak Tuan Park berhenti bergerak. Baekhyun tak mampu menjelaskan apa yang tengah ia rasakan saat ini.

Sedihkah? Senangkah? Kecewakah?

Ia tidak tahu.

Namun yang pasti, ia merasakan dadanya berdenyut sakit. Rasa yang lebih sakit daripada ia mengalami sakit akibat luka fisik.

"Baekhyun-ah? Kau baik-baik saja?" suara khawatir sang ibu menyentak Baekhyun.

Pemuda itu menolehkan kepalanya menghadap sang ibu. Pikirannya menjadi kosong. Bahkan ia tidak tahu apa yang harus ia ucapkan untuk merespon pertanyaan dari ibunya.

Baekhyun memejamkan kedua irisnya ketika merasakan sang ibu menyentuh wajahnya dengan lembut. Dan ia baru menyadarinya, dirinya menangis tanpa ia ketahui apa penyebabnya.

"Jangan menangis sayang. Ibu mohon."

Tangan Baekhyun terulur, membalas pelukkan sang ibu dengan cukup erat. Ia berusaha keras untuk menahan suara isakannya yang berada di ujung lidahnya.

Pemandangan tersebut tidak luput dari perhatian seluruh orang yang ada di sini. Air wajah milik Tuan Park berubah. Tatapannya menjadi lebih tajam dari biasanya. Rahangnya pun ikut mengeras.

"Park Chanyeol," Tuan Park memanggil nama anak bungsunya.

Namun tak seperti biasanya, ada nada penuh amarah. Amarah yang tidak sama seperti apa yang selalu Tuan Park tunjukkan. Pria paruh baya itu tampak tenang tapi irisnya berkilat penuh ancaman. Kyungsoo yang melihatnya menjadi takut. Ia merasakan aura yang tidak mengenakkan dari arah Tuan Park. Tanpa sadar, tubuhnya merapat ke arah Chanyeol.

Langkah yang salah.

"Do Kyungsoo, benar?" tatapan Tuan Park beralih kepada Kyungsoo. Sebuah senyuman terpasang di wajah rupawan milik pria itu. Namun Kyungsoo tahu, jika senyuman tersebut tidaklah tulus.

"Ya."

"Bisakah kita berbicara hanya berdua."

Kyungsoo terdiam. Ia tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika itu bukanlah sebuah pertanyaan melainkan sebuah perintah. Jadi, dengan sedikit perasaan takut, pemuda beriris bulat itu mengangguk.

Ia telah bangkit dari kursinya untuk mengikuti langkah Tuan Park. Tapi langkahnya terhenti begitu saja ketika mendengar suara geraman Chanyeol.

"Apa yang kau inginkan?!" Chanyeol bangkit dari kursinya lalu menarik Kyungsoo untuk masuk ke dalam pelukkannya.

Tuan Park menghentikan langkahnya tapi tidak menoleh. "Berbicara. Bukankah kau mendengar apa yang kuucapkan tadi?"

Chanyeol kembali menggeram. "Aku tak akan membiarkannya. Berhenti mengganggu hidupku!"

Sebuah seringaian muncul di wajah Tuan Park. Pria itu memutar tubuhnya. Melemparkan tatapan serius ke arah sang anak bungsu. "Jangan bermain denganku, Chanyeol. Kau tahu dengan pasti bahwa kau tak dapat melarangku,"

Chanyeol menggertakkan giginya penuh amarah. Tidak dapat membalas ucapan yang dilontatkan ayahnya. Fokusnya teralihkan ketika merasakan sentuhan lembut pada belah pipi kanannya.

"Tenanglah, Yeol," Kyungsoo mengulas sebuah senyum meyakinkan. "Biarkan aku berbicara dengan ayahmu."

Pada akhirnya, Chanyeol mengalah. Ia tidak akan pernah mampu menolak permintaan Kyungsoo. Ia terlalu mencintai pemuda itu.

Chanyeol merundukkan tubuhnya. "Berteriaklah jika pria tua itu melakukan sesuatu yang buruk padamu." bisiknya dengan lembut ke arah telinga Kyungsoo. Setelahnya, Chanyeol mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir berisi milik Kyungsoo.

Dan ia tidak menyadarinya. Tidak menyadari jika perbuatannya berhasil membuat aliran air mata Baekhyun mengalir dengan semakin deras. Pandangan mata Baekhyun berubah menjadi sangat kosong. Bahkan pemuda berparas manis itu tidak lagi mampu mendengar apa yang ibunya ucapkan padanya.

Chanyeol menjatuhkan tubuh tingginya di atas kursi. Ia menghembuskan nafas dengan gusar. Terlalu takut jika sang ayah berbuat sesuatu yang kasar terhadap kekasihnya.

Ia menggeram jengkel sebelum memukul meja dengan cukup keras. Mata bulatnya menghujam tajam ke arah Baekhyun. Mengabaikan jika di sana ada orangtua serta kakak Baekhyun.

Dalam diam ia menatap Baekhyun yang balas menatapnya dengan tatapan kosong. Namun hal itu hanya sesaat karena setelahnya Chanyeol memilih bangkit dari duduknya lalu beranjak menuju kamarnya untuk menenangkan diri.

"Sial." umpatnya penuh kekesalan.


#


Luhan menatap dengan malas ke arah layar datar di hadapannya. Sebelah tangannya mengelusi kepala sang kekasih dengan lembut. Ia sudah menonton film di hadapannya berulang kali, bahkan dirinya sudah ingat dengan jelas setiap runtutan alur dalam film tersebut.

Berterima kasihlah pada kekasih menyebalkannya yang terus memaksanya untuk menonton film ini dan berakhir dengan dirinya yang sangat bosan. "Sehun~" panggil Luhan dengan manja.

Pemuda dengan kulit pucat yang tengah membaringkan kepalanya di atas paha Luhan hanya menggumam sebagai tanggapan. Hal itu jelas saja membuat Luhan jengkel setengah mati. Dengan tidak berperasaan, Luhan menarik surai hitam Sehun dengan cukup keras hingga menyebabkan Sehun meringis nyeri.

"Apa yang kau lakukan?" Sehun bangkit dari posisi berbaringnya lalu mengelusi kepalanya. Jambakan Luhan sangat menyakitkan asal kalian tahu. Dan semoga saja ia tidak mengalami kebotakan pada usia muda karena ulah kekasih manisnya.

Bibir Luhan mengerucut dengan mata menyipit lucu. "Aku bosan," rengeknya lalu menghamburkan diri ke dalam pelukkan hangat Sehun.

"Jadi apa yang ingin kau lakukan?" Sehun mengelus punggung Luhan dengan pelan.

"Aku tidak tahu." Kepala Luhan menggeleng dengan wajah yang masih berada di dada Sehun.

Hening menyapa keduanya selama beberapa saat sebelum suara bel rumah Luhan berbunyi dengan nyaring. Luhan menjauhkan diri dari Sehun. Ia melirik ke arah jam yang menggantung di atas televisinya.

Pukul sebelas malam. Siapa orang kurang kerjaan yang datang bertamu ke rumahnya malam-malam? Seingatnya, hanya Sehunlah orang yang paling kurang kerjaan itu. Tapi kekasihnya sedang bersamanya, jadi siapa?

Luhan bangkit dari posisi duduknya, berjalan lurus menuju pintu masuk. Dan ekspresi Luhan berubah menjadi terkejut ketika mendapati Baekhyun berdiri di depan rumahnya dengan pakaian yang tampak basah mengingat saat ini sedang hujan.

"Baek?" Luhan menyentuh lengan Baekhyun. Detik itu juga ia merasakan suhu tubuh Baekhyun yang sangat dingin.

Astaga, sudah berapa lama Baekhyun berada di luar rumah hingga tubuhnya sedingin ini?

Luhan bergerak cepat. Menarik Baekhyun masuk ke dalam rumahnya dan langsung memasuki kamarnya, mengabaikan Sehun yang menatap bingung ke arah dirinya dan Baekhyun. Ia mendudukkan Baekhyun di atas tempat tidur. Sedang dirinya memasuki kamar mandi untuk mempersiapkan air hangat.

"Baek?" panggil Luhan. Ia berjongkok agar dapat bertemu pandang dengan Baekhyun yang sedari tadi terus menundukkan wajahnya.

Merasa dipanggil, Baekhyun sedikit mengangkat wajahnya hingga sepasang iris sipitnya dapat bertatapan dengan iris bening Luhan. Baekhyun tersenyum lemah melihat kilat penuh kekhawatiran dari iris Luhan.

Tangisannya pun pecah. Ia menghamburkan dirinya kepada Luhan. Tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang basah saat ini. Ia sangat membutuhkan sandaran saat ini. Dirinya tak mampu menahan segalanya lagi. Ia membutuhkan Luhan.

"Tenanglah, Baek. Aku di sini," Luhan berbisik tepat di telinga Baekhyun. Matanya terpejam erat mendengar isakan pilu Baekhyun.

Selama dirinya berteman dengan Baekhyun, ia tidak pernah melihat Baekhyun seperti ini. Dadanya berdenyut nyeri. Tanpa sadar, air mata ikut turun dari mata Luhan. Ia sangat menyayangi Baekhyun seperti adiknya dan ia tidak pernah suka jika Baekhyun menangis.

Perlahan, isakan Baekhyun terhenti. Pemuda itu melepaskan pelukkan eratnya di leher Luhan lalu menatap Luhan dengan sayu. "Lu," bahkan suara Baekhyun sangat serak.

Oh, Luhan tidak tahu berapa lama sahabatnya ini menangis.

"Ya?" Luhan mengelus wajah Baekhyun dengan lembut.

"Bolehkan aku menginap di sini untuk beberapa hari?"

Luhan menganggukkan kepalanya menyetujui. Tidak bertanya banyak perihal alasan Baekhyun datang kemari. Ia yakin Baekhyun akan menceritakannya. "Sebaiknya kau membersihkan dirimu dahulu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."

Baekhyun tersenyum kecil lalu mengangguk. Ia pun bangkit berdiri dari posisi duduknya menuju ke kamar mandi Luhan.

Luhan menghembuskan nafas lelah sebelum memutuskan untuk menyiapkan coklat hangat untuk Baekhyun. Namun langkahnya terhenti saat dirinya baru saja membuka pintu.

Tangannya terangkat, menyentuh dadanya yang berdentum keras. "Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanyanya dengan ketus.

Sebelah alis Sehun terangkat. "Apa yang kau lakukan bersama Byun Baekhyun di dalam?" Sehun menyentuh bahu Luhan. Memutar tubuh kekasihnya dengan mata yang meneliti tubuh Luhan. "Kau tidak melakukan yang aneh-aneh bukan?"

Kedutan kesal muncul di dahi Luhan. Giginya menggertak jengkel. Sehun itu benar-benar idiot dan pencemburu tidak jelas. Rasanya Luhan ingin menenggelamkan kekasihnya ini.

Tanpa perasaan, Luhan menghajar kepala Sehun dengan cukup keras. Menghasilkan protesan tidak terima dari pemuda yang lebih tinggi.

"Berhenti mengatakan hal tidak jelas. Dan apa kau bodoh? Baekhyun itu sahabatku." Luhan menarik kedua belah pipi Sehun dengan kesal.

Sehun meringis sekali sebelum menarik lepas tangan Luhan. Dengan cepat ia menahan tangan Luhan dengan sebelah tangan sedang sebelah tangannya memeluk pinggang ramping Luhan.

"Jika kau lupa, aku adalah dominant di sini, Lu. Aku lebih kuat darimu." ujar Sehun ringan lalu tersenyum jenaka.

Luhan menelan ludahnya susah payah. Oh, ini buruk.

Ia melakukan hal yang salah. Dalam hati dirinya berharap-harap cemas. Semoga saja Sehun tidak melakukan hal yang aneh-aneh.

Sehun mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan, berniat untuk mencium kekasihnya. Tapi niat hanyalah menjadi niat karena tiba-tiba dari dalam kamar Luhan terdengar suara pintu terbuka.

Luhan yang mendengarnya pun segera mendorong Sehun menjauh. Pemuda bersurai coklat itu mencubit sekali perut Sehun sebelum berlari menghampiri Baekhyun.

Sial.

Sehun mengumpat dalam hati. Matanya menatap dengan datar ke arah Luhan yang sedang sibuk mengeringkan rambut basah Baekhyun. Sebenarnya siapa yang kekasih Luhan di sini?

Merasa diabaikan, akhirnya Sehun melengos pergi. Lebih baik dirinya menonton televisi daripada menjadi obat nyamuk di antara kedua sahabat itu.


.


"Lu," Baekhyun memanggil dengan lemah.

Pergerakkan tangan Luhan terhenti. Pemuda itu menatap Baekhyun penuh tanya. "Ya?"

"Sebaiknya kau menemani Sehun."

Mendengar penuturan Baekhyun, sebelah alis Luhan berkerut tidak suka. Bagaimana mungkin ia menemani Sehun sedangkan sahabatnya tampak sangat kacau dan sedih saat ini?

"Tidak," Luhan menggelengkan kepalanya. "Hari ini aku akan bersamamu. Lagipula Sehun sudah besar, jadi tidak masalah jika aku tidak menemaninya."

"Tap—"

"Tidak Baekhyun. Kau lebih membutuhkanku saat ini." potong Luhan cepat.

Pada akhirnya Baekhyun hanya mampu menuruti apa yang dikatakan Luhan. Matanya menatap dengan kosong ke arah depan. Dan hal itu tak luput dari mata Luhan. Pemuda bersurai coklat itu menatap khawatir ke arah Baekhyun yang tak bertingkah seperti biasanya.

"Baekhyun.."

Panggilan Luhan dibalas dengan keheningan. Baekhyun tampak larut dalam pemikirannya sendiri. Perasaan khawatir pun semakin menggerogoti Luhan. Baekhyun adalah sahabatnya sejak kecil, ia hampir mengetahui permasalahan apa saja yang dihadapi oleh Baekhyun.

Selama ini, dirinya selalu bersama dengan Baekhyun ketika pemuda itu sedang dalam masalah. Dan selama itu pula, Luhan tak pernah melihat Baekhyun seperti ini. Baekhyun adalah pemuda yang kuat. Setiap masalah yang menimpanya pasti selalu dihadapi Baekhyun dengan sabar dan penuh senyuman.

"Lu,"

Luhan tersentak kaget mendengar suara Baekhyun yang tiba-tiba terdengar. Ia balas menatap ke arah Baekhyun yang sudah menatap ke arahnya.

"Ya?"

"Aku tidak tahan lagi."

Air mata kembali membasahi kedua belah pipi Baekhyun. Sebuah senyuman sedih terpasang di paras manisnya. Luhan tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Yang pasti, ia merasakan nyeri di hatinya saat melihat sahabatnya menangis.

Luhan segera menarik Baekhyun masuk ke dalam pelukkannya. "Jangan menangis. Kau bisa selalu bersandar padaku. Aku akan selalu ada di sisimu." bisik Luhan di telinga Baekhyun.

Tangan Luhan terulur, mengelus punggung Baekhyun secara lembut. Berharap dapat menenangkan pemuda dalam pelukkannya itu.

Beberapa menit berlalu, tangisan Baekhyun mereda. Pemuda itu balas memeluk Luhan sebelum cerita tentang segala hal yang membebaninya selama ini mengalir keluar dari bibirnya begitu saja.


000


Keesokan harinya, Baekhyun kembali seperti semula. Perasaan sedihnya sedikit berkurang setelah semalaman menangis dan menceritakannya pada Luhan.

Tangannya ia bawa untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia juga menyempatkan diri untuk melipat sedikit celana seragam Luhan, mengingat tubuhnya sedikit lebih pendek dari sahabatnya itu. Sebuah senyuman muncul di wajahnya manisnya ketika mendapati penampilan yang diinginkannya.

"Baekhyun,"

Baekhyun tersentak kaget mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Dengan sedikit kikuk ia memutar tubuhnya untuk menatap ke arah pintu kamar. Di sana, sosok tinggi Sehun berdiri sambil menatap datar ke arahnya.

"Y-ya?"

Baekhyun berdiri dengan tidak nyaman di posisinya saat mendapati Sehun meneliti tubuhnya dari atas ke bawah dan berakhir di kedua iris kembarnya. "Luhan menyuruhmu turun untuk sarapan sekarang."

Setelahnya Sehun pergi dari hadapan Baekhyun tanpa menunggu balasan dari pemuda yang lebih tua itu. Helaan nafas Baekhyun hembuskan saat melihat tingkah Sehun. Jelas ia lebih tua dari Sehun, tapi pemuda itu tak pernah memanggil dirinya dengan sebutan hyung. Belum lagi pemuda itu selalu menatapnya dengan tatapan datar nan tajam.

Baekhyun membawa langkah kakinya untuk turun ke bawah. Matanya dapat melihat Luhan yang sibuk meletakkan sarapan yang ia buat dengan Sehun yang duduk di salah satu kursi dan terus memperhatikan gerak-gerik Luhan.

Ia tersenyum kecil melihat hal tersebut. Dapat ia lihat tatapan penuh cinta yang Sehun berikan kepada Luhan. Sahabatnya sungguh sangat beruntung mendapati kekasih yang sangat menyayanginya seperti itu.

Seandainya ia bisa mendapatkan seseorang yang sangat menyayanginya seperti Sehun yang sayang kepada Luhan.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Tidak. Tidak. Apa yang baru saja ia pikirkan? Ia tidak boleh berpikir seperti itu. Dirinya sudah memiliki suami, jadi hal yang buruk jika ia sampai berpikir ingin mendapatkan seseorang yang lain. Sekasar apapun Chanyeol padanya, pemuda dengan surai perak itu tetaplah suaminya.

"Baek, apa yang kau lakukan di sana? Kita harus segera sarapan atau kita akan terlambat."

Suara lembut Luhan memecah lamunan Baekhyun. Tanpa banyak berbicara, Baekhyun langsung menduduki salah satu kursi di ruang makan keluarga Luhan dan melahap makanan yang terhidang di hadapannya.

Sesekali dirinya terkekeh melihat tingkah Luhan dan Sehun. Keduanya terus beradu mulut, entah apa yang keduanya sedang ributkan. Tapi dari yang ia sedikit tangkap, Sehun terus merengek meminta Luhan untuk menyuapinya dan tentu saja hal itu ditolak mentah-mentah oleh Luhan. Dan keduanya berakhir dengan adu mulut, karena Sehun yang sebal dengan penolakkan Luhan. Untuk sisanya, ia tidak tahu apalagi yang mereka ributkan.

Sarapan pagi yang seharusnya berlangsung dengan cepat, malah memakan waktu hampir setengah jam. Ketika jarum pendek menunjukkan hampir mencapai angka tujuh dan jarum yang panjang menyentuh angka sepuluh, ketiga pemuda yang ada dalam kediaman keluarga Luhan menjadi panik.

Sehun yang menjadi supir dadakan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Di sampingnya, Luhan terus mengomeli pemuda yang menjabat sebagai kekasihnya itu.

"Semua karenamu, Sehun!" omel Luhan lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

Sehun yang masih fokus ke arah depan mengernyitkan dahinya. "Apa?" tanyanya dengan nada sebal.

"Karenamu kita terlambat,"

"Tidak sepenuhnya. Kau juga bersalah karena terlalu lama menatapi makhluk kuning menjijikan yang tinggal di dalam laut itu."

Luhan mengalihkan pandangannya ke arah Sehun. Matanya menyipit tidak suka. "Spongebob tidak menjijikan. Dia sangat lucu."

Apa-apaan kekasihnya itu yang menghina karakter kartun kesukaannya?

Baekhyun yang sedari tadi duduk dalam diam di kursi belakang akhirnya memilih buka suara. Tidak ingin perdebatan Luhan dan Sehun semakin berkepanjangan. "Sudahlah, Lu." Ujarnya pelan lalu mengelus sisi lengan Luhan dari belakang.

Setelahnya, keheningan mengisi seisi mobil yang ditumpangi mereka. Sejujurnya Baekhyun sedikit tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Namun, tak berapa lama mobil yang dikendarai Sehun tiba di lapangan parkir sekolah mereka.

Luhan keluar terlebih dahulu dari mobil yang diikuti oleh Baekhyun dan Sehun diakhir. Tampaknya perdebatan mereka di dalam mobil masih membuat Luhan kesal. Hal itu terlihat dari Luhan yang menggeret Baekhyun pergi, meninggalkan Sehun di belakang tanpa mengucapkan sepatah katapun.

"Lu, pelan-pelan," Baekhyun berucap dengan nada pelan namun masih mampu didengar oleh sahabatnya itu.

Sesekali Baekhyun balas menatap ke arah siswa maupun siswi yang terus memandanginya. Sekarang ia berani melakukannya, karena dengan begitu, tatapan para siswa kepadanya akan berkurang.

"Lu, ada apa?" Baekhyun menghentikan langkahnya dengan cepat. Hampir saja dirinya menabrak tubuh Luhan yang tiba-tiba saja berhenti.

Pemuda dengan surai coklat itu menoleh. Menatap ke arah Baekhyun lalu menatap ke arah seseorang di balik punggung Baekhyun. "Ada yang memanggilmu." ujar Luhan.

Baekhyun mengerutkan dahinya sebentar sebelum berbalik untuk melihat siapa yang sudah memanggilnya. Dan kenapa ia tidak mendengar ada yang memanggilnya tadi?

Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, ada seorang gadis berparas cantik tengah tersenyum dengan tangan yang melambai ke arahnya.

"Baekkie~" panggil gadis itu dengan nada riang. Sepasang kaki jenjangnya berlari kecil menghampiri Baekhyun yang bergeming.

Tanpa permisi, gadis itu langsung memeluk Baekhyun dengan erat. Bahkan gadis itu memberikan kecupan bertubi-tubi di sekitaran wajah Baekhyun.

Pemandangan ini jelas saja membuat shock para siswa dan siswi. Bisikan-bisikan pun mengudara di sepanjang koridor sekolah. Berbagai pertanyaan terlontar dari setiap bibir siswa dan siswi. Seperti siapa dan apa hubungan gadis itu dengan Byun Baekhyun.

Baekhyun yang tersadar menjadi tak nyaman. Dengan lembut, Baekhyun melepaskan lingkaran tangan sang gadis dari lehernya. Ia mundur selangkah untuk memberi jarak. Air muka Baekhyun berubah menjadi tak terbaca.

"Kenapa kau bisa di sini?" adalah pertanyaan pertama yang terlontar dari bibir Baekhyun setelah hening cukup lama.

Kepala gadis itu miring ke samping. Wajahnya menunjukkan ketidak mengertian yang jelas. Namun, sesaat setelahnya sebuah senyuman terukir di wajah cantik sang gadis.

"Tentu saja untuk menemui kau, kekasihku."


#


"Hei, kau sudah dengar? Byun si penerima beasiswa memiliki kekasih dan kekasihnya sangat cantik."

Jongin yang berjalan di samping Chanyeol dan Kyungsoo mengerutkan keningnya. Perasaannya saja atau memang benar jika sedari awal ia menginjakkan kaki di dalam sekolah, hampir seluruh siswa membicarakan perihal Baekhyun yang sudah memiliki seorang kekasih.

Matanya bergerak, melirik ke arah Chanyeol melalui ekor matanya. Pemuda dengan surai perak itu tampak tidak peduli dengan perbincangan para siswa. Bahkan pemuda itu malah sibuk memanjakan Kyungsoo yang bergelayut di sebelah tangan Chanyeol.

Entah kenapa ia tidak menyukai pemandangan tersebut. Ia tidak suka dengan sikap Chanyeol yang benar-benar tidak peduli dengan Baekhyun. Ia memang tidak memiliki hak untuk ikut campur, tapi Chanyeol sudah kelewat batas. Chanyeol seakan melupakan kenyataan bahwa ia dan Baekhyun telah terikat pernikahan.

Langkahnya terhenti. Menatap ke arah depan, dimana sosok Baekhyun berdiri. Tubuh mungilnya sedikit terhalang dengan dinding di depannya, tapi Jongin dapat melihat dengan jelas kilat sedih yang terpancar di iris Baekhyun.

"Chanyeol," Jongin tidak bermaksud untuk memanggil Chanyeol. Panggilan itu keluar begitu saja tanpa mampu ditahan.

Chanyeol yang berada beberapa langkah di depan Jongin berhenti. Kepalanya ia tolehkan ke belakang. "Apa?"

Mata Jongin secara tak sengaja bertemu dengan sepasang iris lainnya. Ia menghela nafas sekali sebelum mengalihkan pandangannya. "Tidak. Hanya saja, aku harus pergi menemui Krystal."

Tanpa menunggu balasan dari Chanyeol, Jongin beranjak pergi darisana. Pemuda dengan kulit tan itu menggertakkan giginya penuh amarah.

"Kenapa? Kenapa harus Chanyeol?"

.

ToBeContinued

.

Halooooo~~~~ Happy Lunar New Year semuanya~~ Ini angpao dari saya buat kalian :* /gak.

Maafkan saya yang updatenya selalu ngaret :'v . Dari dua minggu lalu udah berniat mau update, tapi karena saya udah kelas 3, tugas dan pm menghalangi saya :'v. Saya harap masih ada yang mau baca ff ini ;) .

Seperti biasa, buat yang login, reviewnya udah saya bales lewat PM dan ini balasan review buat yang belum login,

ussy : Dia gak lemah kok, dia punya alasan sendiri kenapa gak ngelawan :3 . Ntar ada waktunya di bakal ngelawan dan lupain alasan dia, tunggu aja~ Jangan dibenci dong :" . Thanks for review yaa~~

msymt22 : Cieee ;) /heh. Seseorang yg pasti ;) . Dalam beberapa chap lg bakal banyak moment ChanBaek kok, ditunggu aja~~ Makasihh :3 , Thanks for review~~

Guest : Lah, gak perlu ijin tiap chap kok. Mau review, review aja xD. Dalam beberapa chap kokk :3 , Thanks for review~

guest (1) : Greger knp? :v . Ini dilanjut~ Thanks for review~

HunBaekChan69 : 69. Maaf, saya salah fokus ke nama kamu :'v . Makasihh lohh :3 . Maaf gak bisa fastupd, tp ini udah dilanjut yaa~~ Yahh, sayangnya di sini gak ada moment KrisBaek :'v . Bener kok, Zuyi. Kalo Ziyu beda orang lagi~~ Thanks for review~

Okay, itu saja~ Buat yang baca, berkenan meninggalkan jejak?

17/01/29 –hundeer.