.
Lelah.
Takut.
Kecewa.
Seluruh perasaan bercampur menjadi satu. Dirinya lelah dengan segala hal. Ia takut akan jatuh terlalu dalam untuk orang itu. Ia kecewa dengan kenyataan yang ada.
Berhenti.
Ia sangat ingin berhenti dari semuanya. Tapi ia tidak mampu. Sampai kapanpun, Baekhyun tak akan bisa berhenti dan lepas dari cengkraman Park Chanyeol. Semuanya karena ikatan pernikahan di antara keduanya.
Entah berapa kali dirinya menangis. Entah berapa kali dirinya terluka. Entah berapa kali ia tepuruk. Tapi pada akhirnya, ia hanya mampu untuk bertahan.
Ia tidak mengerti. Mengapa harus dirinya?
.
Bitter Wedding
.
T/M
(7/15)
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others
Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran
.
Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Baekhyun duduk dengan tidak nyaman di atas kursinya. Sesekali ia menggigiti bibir bagian bawahnya untuk mengurangi perasaan tidak nyaman. Sebelah tangannya ia bawa untuk meremat badan cangkir.
"Baek!"
Tubuhnya tersentak kaget kala mendengar suara teriakan keras milik seorang gadis yang duduk tepat di hadapannya. Dengan sedikit kaku, Baekhyun mengangkat kepala dengan surai gelapnya yang semula tertunduk. "Ada apa?"
Bibir mengerucut dengan tangan disilangkan, pertanda gadis di hadapannya tengah kesal. "Kau mengabaikanku? Apa kau tidak merindukanku?"
Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berusaha mencari kata-kata yang tepat agar tidak menambah kekesalan sang gadis. "Maaf, maaf," senyuman terulas. "Aku hanya sedang memikirkan tugas-tugasku yang menumpuk dan tentu saja aku merindukanmu." Diakhiri dengan elusan lembut di kepala sang gadis.
Helaan nafas lega terhembus. Senang mendapati wajah senang dan nyaman sang gadis atas perlakuan lembutnya. Tangannya dibawa untuk turun namun ditahan untuk tetap berada di tempat.
Ia menurut. Menggerakkan tangannya naik dan turun, mengelus kembali kepala dengan surai coklat gelap itu.
Keheningan melingkupi. Sang gadis yang larut dengan elusan di kepala sedang sang pemuda terlarut dalam pikirannya yang bertambah kacau. Rasa-rasanya kepala Baekhyun ingin pecah.
Baginya, segala hal terlalu tiba-tiba untuknya. Dari pernikahannya. Kedatangan Kyungsoo dan Yifan. Hingga kehadiran gadis di hadapannya. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu.
Dirinya saja belum mampu menyelesaikan permasalahannya dengan Yifan, kini gadis yang mengaku sebagai kekasihnya muncul begitu saja.
Getaran halus terasa dari kantung celana bagian kanan. Pergerakkan Baekhyun terhenti dan dihadiahi raut tidak suka dari sang gadis. Baekhyun mengangkat ponselnya, memperlihatkan bahwa adanya panggilan masuk dari seseorang.
Kepala bersurai coklat itu mengangguk, memberikan izin untuk Baekhyun mengangkat teleponnya.
Baekhyun bangkit berdiri lalu berjalan menuju toilet. Membutuhkan sedikit privasi untuk panggilan yang masuk ini.
"Halo," adalah kata pertama yang menyapa pendengaran Baekhyun.
Pemuda itu mengulas sebuah senyum tipis. "Ibu," Tubuhnya bersandar pada dinding putih toilet. "Ada apa meneleponku?"
Jeda sesaat sebelum suara helaan nafas panjang terdengar. Bingung menghinggapi saat beberapa menit berlalu dalam keheningan. Ketika bibir terbuka untuk bertanya, suara lembut sang ibu terdengar.
"Kudengar, Seunghee kembali,"
Baekhyun terdiam kaku.
Bagaimana mungkin ibunya tahu?
Dari apa yang Baekhyun ketahui, setibanya di Korea, gadis itu baru datang ke sekolahnya dan belum mengunjungi rumahnya sama sekali.
"Aku mengetahuinya dari Luhan." Ibunya menjawab seakan mengetahui apa yang ada dalam pikirannya.
Bibir membentuk sebuah garis tipis lalu menjawab, "Ya. Dia kembali."
Kedua irisnya terpejam. Mendengarkan dalam diam perkataan ibunya yang terdengar sangat khawatir dan sarat akan rasa ketidaksukaan di dalamnya. Ia berterima kasih pada Luhan bahwa pemuda itu hanya memberitahukan perihal kembalinya Seunghee. Ia tidak tahu harus berkata apa jika sampai Luhan memberitahukan tentang Yifan yang juga telah kembali.
Ibunya sudah cukup sedih dan merasa bersalah semenjak kejadian makan malam di apartemennya. Baekhyun tidak ingin ibunya semakin sedih karena kehadiran dua orang yang sangat ibunya tidak sukai itu.
"Ibu, jangan menangis lagi. Kumohon," ia berbisik lirih. Memejamkan matanya dengan semakin erat. Tanpa disadari, tangannya menggenggam sisian ponsel dengan keras hingga tangannya berdenyut nyeri.
Ia tidak suka ini. Ia tidak suka saat wanita yang paling disayanginya menangis.
Air mata lolos dari matanya. Isakan hampir meluncur.
Hampir. Jika saja telinga Baekhyun tidak dengan jelas mendengar suara pintu bilik salah satu toilet terbuka. Dengan cepat, Baekhyun mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya. Kedua kakinya kembali menopang tubuh agar berdiri dengan tegak.
Pandangan jatuh ke arah samping, dimana sosok seorang pemuda bersurai gelap berdiri. Melemparkan tatapan tak terbaca sama sekali. Baekhyun mengalihkan pandangannya, berusaha kembali fokus dengan suara sang ibu.
"Ibu, tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri," pelipis dipijat pelan. Rasa pusing hinggap dengan seenaknya. "Baik, bu. Aku harus pergi sekarang."
Senyum kembali terulas. Senyuman lembut yang sudah sangat jarang muncul di wajah berparas manis itu. "Aku juga menyayangi ibu. Sampai jumpa."
Ponsel dimasukkan kembali. Langkahnya dibawa menuju wastafel. Menyalakan salah satu keran yang tersedia. Irisnya menatap air yang mengalir turun sebelum menampungnya. Membasahi wajahnya untuk menghilangkan bekas air mata di wajah.
Tanpa mengeringkannya terlebih dahulu, ia berdiri. Dan harus terlonjak kaget saat mendapati pemuda bersurai gelap itu masih berdiri di sana. Masih memandangnya dengan tatapan yang sama. Baekhyun balas menatap dengan tatapan bingung.
"Maaf,"
Pemuda itu mengerjap sekali sebelum berjalan ke sebelah Baekhyun. Keduanya bertatapan melalui pantulan cermin di hadapan mereka.
Keran yang belum dimatikan, kini telah ditutup oleh pemuda itu. Saling bertatapan dalam diam hingga suara dehaman singkat milik pemuda itu memecah keheningan yang ada.
"Basah," adalah kata pertama yang terdengar. Tangan bergerak. Merogoh saku belakang celana, mengeluarkan sehelai saputangan berwarna biru gelap. Menyerahkannya kepada pemuda lain yang lebih pendek. "Keringkan wajahmu."
Dengan kikuk, Baekhyun menerimanya kemudian menuruti ucapan sang pemuda untuk mengeringkan wajahnya. "Terima kasih. Tapi, bagaimana aku akan mengembalikannya nanti?"
"Tidak perlu. Saputangan itu milikmu,"
Huh?
Ia tidak mengerti. Tidak mampu memahami maksud dari ucapan pemuda di sampingnya. "Ini milikmu dan aku harus mengembalikannya setelah membersihkannya."
Kepala menggeleng sebagai jawaban. Sebelah tangan memasuki kantung celana jeans berwarna hitam. Tubuhnya memutar hingga bersandar pada pinggiran wastafel. Sedang iris terus menatap ke arah Baekhyun. "Tidak perlu. Simpan itu."
Baekhyun terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Ia memalingkan wajahnya kembali ke arah cermin. Dahinya mengernyit tidak mengerti. Namun sepersekian detik setelahnya, sepasang iris kembarnya membola. Kepalanya menoleh kembali ke arah pemuda di sampingnya dengan cepat. Kelewat cepat bahkan.
"Kau—"
"Hm?"
"—kau pemuda yang kutemui saat sedang mencari kakak Zuyi, 'kan?"
Kini pemuda bersurai gelap itu mengulas senyum. Merasa senang saat Baekhyun mengingat dirinya. Tidak sia-sia ia berdiri menunggu Baekhyun tadi. Tanpa menjawab, pemuda itu mengangguk singkat. Dan kini berganti Baekhyun yang tersenyum.
"Terima kasih untuk yang waktu itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika kau tidak membantuku lepas dari Yifan." Tubuhnya membungkuk.
Tapi tingkah Baekhyun malah membuat pemuda di hadapannya tidak nyaman. "Hei, tidak perlu seperti itu." Memegang kedua bahu Baekhyun, memaksanya untuk kembali berdiri dengan tegak. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan." Kali ini, usapan lembut didapatkan oleh Baekhyun.
"Jika boleh tahu, siapa namamu?" tanya Baekhyun.
Tangan terulur. "Jung Daehyun."
#
'Malam ini, di tempat biasa.'
Adalah sebaris kalimat yang baru saja Sehun baca dari layar ponselnya. Wajah datarnya menjadi semakin datar. Dalam hati mengumpat kesal kepada sang pengirim yang telah mengganggunya. Segala rencananya untuk bersantai dan bermanja pada Luhan tidak akan terjadi.
Dan semua itu karena Park Chanyeol. Jika ia tidak mengingat Chanyeol adalah sahabatnya, sudah pasti ia akan menolak ajakan Chanyeol untuk berkumpul. Sehun berdecak, membanting ponsel di tangannya ke atas tempat tidur.
Tingkahnya membuat sosok sang kekasih bingung. Mata bening itu menatap pergerakkan Sehun yang tampak malas. "Sehun?"
"Hm?"
Luhan mengerjap sekali. "Ada apa denganmu? Padahal aku sudah meluangkan waktu untuk bersamamu."
Sehun terdiam. Pemuda berkulit pucat itu mendengus sekali sebelum membalas, "Chanyeol mengajakku dan Jongin untuk berkumpul."
Dahi Luhan berkerut tak suka saat mendengar nama Chanyeol disebutkan. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang diceritakan oleh Baekhyun padanya kemarin. Perasaan jengkel perlahan merambati Luhan. Kini berganti pemuda berparas cantik itu yang berdecak.
"Terserah." Ujarnya dengan kesal lalu berlalu dari kamarnya.
Mata sipit Sehun dipaksa melotot. Tahu dengan jelas dengan perubahan sikap Luhan. Oh, ini buruk. Dengan cepat ia memakai kaus di tangannya kemudian berlari mengejar Luhan.
"Sayang," Sehun mendudukkan dirinya di samping Luhan. Tangan besarnya menarik kepala bersurai coklat itu untuk bersandar di bahu lebarnya. "Kau marah?"
Tidak ada jawaban dari pemuda lainnya.
"Aku tidak akan pergi jika kau tidak menyukainya, hm."
Luhan mengangkat kepalanya kemudian menggeleng. "Tidak. Aku hanya kesal saat mendengar namanya." Wajahnya ia arahkan ke samping untuk menatap Sehun. "Kau boleh pergi. Aku akan bersama Baekhyun."
Sehun ragu untuk sesaat namun akhirnya ia beranjak pergi setelah mendapatkan sebuah kecupan dari Luhan.
#
Mobil hitam itu berhenti di salah satu area parkir. Pemuda berperawakan tinggi dengan surai perak turun dari dalam mobil. Wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun. Kaki-kaki dibawa melangkah memasuki bangunan di depannya.
Suara alunan musik lembut menyapa telinganya saat ia masuk. Sebuah seringai tipis terukir ketika matanya dapat melihat kedua sahabatnya sudah duduk di depan meja bar dengan wajah masam.
"Hei," panggilnya dengan tangan menepuk bahu sahabatnya.
Kedua pemuda dengan warna kulit yang berbeda itu menoleh lalu berdecih secara bersamaan.
"Lihatlah. Siapa yang datang kelewat tepat waktu." Jongin berujar dengan nada sarkas. Matanya memicing menatap Chanyeol yang menyeringai semakin lebar.
"Jadi, kenapa kau mengajak kami berkumpul?"
Baru saja Chanyeol duduk, sebuah pertanyaan dengan nada datar terlontar dari bibir Sehun. Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan sebal.
"Aku hanya ingin berbagi kebahagiaanku dengan kalian. Kenapa kau sangat menyebalkan, Oh Sehun?"
Sehun mengibaskan tangannya sekali. Terlalu malas untuk meladeni Park Chanyeol. Pada akhirnya ia lebih memilih menopangkan dagunya seraya mendengarkan ocehan Chanyeol.
Sedikit banyak ia sudah mengetahuinya, mengingat ia secara tidak sengaja mendengar percakapan antara kekasihnya dan Baekhyun.
Namun yang membedakannya adalah Chanyeol yang bercerita dengan senang karena berhasil membuat Baekhyun semakin menderita serta berhasil memperkenalkan Kyungsoo sebagai kekasihnya. Sedangkan Baekhyun yang bercerita dengan sedih karena terluka.
Sedikit banyak ia merasa kasihan pada Baekhyun. Entah apa kesalahan Baekhyun di masa lalu hingga harus terjebak dengan Park Chanyeol.
"..hun. Ya! Oh Sehun!"
Sehun berjengit kaget. Mata sipitnya sedikit membesat karena terkejut mendengar suaraChanyeol yang cukup keras. Ia menoleh lalu melemparkan tatapan kesalnya. "Apa?"
"Dasar albino sialan. Apa kau tidak mendengarkan apa yang kuceritakan?"
Sehun mengangkat bahunya dengan santai. Lalu senyumansetengah hati ia lemparkan kepada Chanyeol. "Tentu saja aku mendengarkan. Tentang kau dan Kyungsoo, bukan?"
Chanyeol mengangguk.
"Lalu? Bagaimana dengan Baekhyun? Kau bilang dia tidak kembali ke apartemen sejak kemarin," kini giliran Jongin yang membuka suara. Pemuda berkulit tan itu menenggak sedikit minumannya sebelum kembali memperhatikan Chanyeol.
Raut wajah Chanyeol berubah menjadi dingin. "Well, ya. Aku tidak perduli dengan Byun itu. Aku lebih senang jika dia tidak kembali lagi agar Kyungsoo bisa tinggal bersamaku."
Sehun dan Jongin saling bertatapan untul sesaat. Keduanya menggeleng sekali. Lama-kelamaan, keduanya sedikit jengkel dengan tingkah Chanyeol yang sangat kelewatan terhadap Baekhyun.
Tapi mereka tidak memiliki hal apapun untuk ikut campur dalam urusan Chanyeol. Jadi, mereka hanya terdiam tanpa berniat menyuarakan rasa jengkel mereka.
"Dan bagaimana dengan Kyungsoo? Sekarang dia tinggal bersamamu?"
Saat mendengar nama sang kekasih disebutkan, Chanyeol kembali berseri. "Tent-"
Ucapan Chanyeol terhenti saat merasakan getaran di saku celananya. Pemuda bersurai perak itu mengeluarkan ponsel layar datarnya. Mata Chanyeol membulat saat membaca sederet kalimat di layar ponselnya.
Dan hal itu jelas saja membuat baik Sehun dan Jongin bingung.
"Ada apa?" adalah pertanyaan yang terlontar begitu saja dari bibir Jongin.
Iris Chanyeol perlahan menyipit dengan gigi yang saling bergemelatuk. Pemuda tinggi itu mengalihkan pandangannya dan kilat tak bersahabat terpancar dengan jelas di kedua mata Chanyeol. "Aku benar-benar membenci Byun brengsek itu!"
Chanyeol segera beranjak pergi darisana setelah berucap demikian. Tidak mengerti mengapa tiba-tiba Chanyeol tampak emosi.
Jongin dan Sehun kembali bertatapan satu sama lain, tidak mengerti mengapa tiba-tiba Chanyeol tampak emosi. Pada akhirnya Sehun lebih memilih untuk ikut berdiri dan tidak memusingkan hal tersebut.
"Aku pergi. Aku ingin menemui Luhan." Sehun berujar saat melihat Jongin yang seakan ingin bertanya.
"Ya, ya. Pergi kau, dasar Luhan complex."
000
Wajahnya mengkeruh. Tatapan matanya yang biasa berkilat jenaka kini berpendar penuh amarah. Tetes demi tetes cairan berwarna merah di dalam gelas memasuki tenggorokkan. Tak terhitung berapa banyak cairan yang telah masuk. Salah satu caranya melampiaskan amarahnya.
Rasanya ingin menghajar seseorang namun tidak mungkin ia lakukan. Ia tidak ingin masalah berbuntut panjang dan berakhir dirinya yang dibenci oleh seseorang. Pandangan mengabur. Posisi duduk mulai tidak baik.
Sebelah tangan masih memegang segelaswine sedang yang lainnya menopang dagu. Iris terpejam, berusaha menikmati alunan musik di dalam bar. Beruntung ia mendatangi bar ini, ia sedang tidak dalam mood untuk mendengarkan dentuman musik yang terlalu keras dan mengganggu.
"Hei, Jongin,"
Kepala menoleh diikuti dengan mata memicing tak suka. "Kai! Sudah kukatakan untuk memanggilku Kai jika di sini."
Yang diomeli mengangkat kedua tangan seakan menyerah. Senyuman terpasang, lebih tepatnya seringaian. Memperhatikan Jongin yang mulai mabuk. Seringaian melebar ketika mendapati tatapan Jongin mulai tidak fokus.
"Jadi, apa masalahmu kali ini Jon—"
"Kai. Atau kucabik mulut sialanmu itu."
Tawa berderai. "Baik-baik. Kai," menepuk sekali bahu lebar dengan balutan kaus berwarna gelap. "Jadi, apa masalahmu?"
Jongin meletakkan gelas dalam genggamannya. Menjatuhkan wajahnya ke atas meja bar dengan perlahan. "Seperti biasa. Dia."
Pemuda di samping Jongin menggelengkan kepalanya lelah. Memesan segelas minuman sebelum kembali mengalihkan fokus kepada percakapan antara dirinya dan Jongin.
"Sudah kukatakan. Lupakan dia, lagipula kau sudah memiliki kekasih," gelas bening menyentuh permukaan bibir. Menenggak sedikit isi dalam gelas. "Bahkan kekasihmu sangat cantik. Siapa namanya? Kr–Krystal!"
Kibasan tangan Jongin berikan. Menolak segala ucapan yang ia dengar dari salah satu temannya di bar. Posisi duduk diubah seperti semula. Sepasang iris sayu bertemu dengan sepasang iris coklat.
"Apa yang kau tahu, Chen? Aku sangat mencintainya. Secantik apapun Krystal, aku tetap tidak bisa melupakannya."
Chen mengerjap. "Uh, baiklah."
"Aku sangat mencintai dia. Kau tahu bukan?"
Kepala mengangguk diikuti dengan wajah prihatin. Sedikit tidak tega juga mendengar kalimat yang sama terus terucap dari bibir Jongin ketika pemuda itu mabuk.
"Ya," Chen beralih sesaat. Memesan segelas minuman beralkohol rendah sebelum kembali fokus kepada Jongin. "Tapi kau terlalu bodoh karena masih mengharapkan orang yang jelas-jelas tidak melihatmu."
Menggeram jengkel lalu kembali menenggak. Pegangan mengerat pada badan gelas. "Aku tahu! Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa berhenti mencintai dia."
Hembusan nafas malas dihembuskan oleh Chen. Tidak tahu lagi harus berkata apa agar teman minumnya ini mengerti. Ia memilih untuk diam dan mendengarkan ocehan Jongin yang tidak ada habisnya. Hitung-hitung membalas kebaikan Jongin yang lalu, ketika dirinya yang mabuk dan mengoceh panjang lebar kepada Jongin.
#
Pemuda bersurai coklat itu bersenandung kecil. Sedang tangannya sibuk menuangkan beberapa sendok bubuk coklat ke dalam cangkir lalu menuangkan air ke dalamnya. Tak lupa juga ia mengaduk cairan berwarna kecoklatan tersebut. Senyumannya merekah saat dua cangkir berisi coklat hangat tersedia di hadapannya. Ia meletakkan kedua cangkir itu ke atas nampan.
Setelahnya ia bergerak meninggalkan dapur untuk menuju ke lantai atas. Langkahnya berhenti saat tiba di depan pintu berwarna putih. Sebelah tangan terangkat mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk ketika mendapatkan izin dari seseorang di dalam.
"Baek," Luhan memanggil.
Nampan ia letakkan pada atas meja kecil samping tempat tidur. Matanya terus menatap ke arah Baekhyun yang tampak fokus dengan buku di tangannya.
Dan saat Luhan mendudukkan diri di samping Baekhyun, barulah pemuda bersurai hitam itu tersadar.
"Uh, maafkan aku. Aku terlalu larut dalam bacaanku," ujar Baekhyun pelan seraya menutup buku yang dibacanya tadi.
Kepala dengan surai coklat menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku lebih senang kau sibuk dengan sesuatu daripada termenung memikirkan masalahmu," usakan lembut didaratkan di atas kepala Baekhyun. "Aku membuatkanmu coklat hangat."
Baekhyun yang mendengar coklat hangat langsung tersenyum. Tangannya langsung menerima cangkir yang disodorkan oleh Luhan kepadanya. Sahabatnya selalu tahu apa yang ia sukai. Hening menyapa keduanya. Fokus keduanya terpecah kala mendengar suara dering ponsel nyaring milik Baekhyun.
Pemuda yang lebih muda beranjak, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Senyum perlahan menghilang, digantikan dengan wajah pucat. Hal tersebut tak luput dari pandangan Luhan.
"Baek, ada apa?"
Tidak ada jawaban.
"Baek?" Luhan memanggil lebih keras. Tetap tak ada jawaban.
Akhirnya Luhan memilih untuk bangkit, mengintip melalui sela antara leher dan bahu Baekhyun. Matanya memicing tak suka ketika mendapati nama pengirim pesan yang tertera di atas layar datar ponsel Baekhyun.
Luhan berdeham dengan keras, menghentikan lamunan dan pikiran Baekhyun. "Baek," tangannya terulur, memutar tubuh Baekhyun hingga keduanya saling berhadapan. "Kau tidak berpikir untuk menuruti apa yang disuruh Chanyeol bukan?"
Baekhyun berjengit ketika Luhan sedikit menaikkan nada suaranya. Dan Baekhyun tahu dengan jelas jika Luhan sedang kesal. Bibir Baekhyun terasa kelu untuk sekedar menjawab namun dari raut wajah yang ditampilkan Baekhyun, Luhan dapat menyimpulkan bahwa pemuda di hadapannya berniat untuk menuruti apa yang diperintahkan oleh Chanyeol.
Ia berdecak sekali. Tangannya bersedekap di depan dada. "Aku tahu bahwa Chanyeol adalah suamimu saat ini. Tapi tidak bisakah kau mengabaikannya untuk kali ini? Kau tidak lupa bukan dengan apa yang sudah ia perbuat padamu selama ini?"
"Ak—"
Belum sempat Baekhyun menyelesaikan ucapannya, Luhan sudah memotongnya terlebih dahulu. Karena Luhan tahu, Baekhyun hanya akan beralasan dan kembali membela Chanyeol. "Baek! Aku tidak mengerti, kenapa kau tidak pernah melawannya?" Luhan berdecak. "Kau tidak lupa bukan bahwa kau adalah pemegang sabuk hitam hapkido?"
Baekhyun tidak melupakannya. Tapi ia tidak mampu melawan. Baekhyun tidak pernah sanggup melawan Chanyeol. "Lu.." panggil Baekhyun dengan lirih.
Pada detik itu juga, Luhan merutuki dirinya yang lepas kendali. Luhan memejamkan matanya sesaat sedang Baekhyun hanya dapat menundukkan kepalanya dalam. Ia tahu apa yang akan dikatakan Luhan selanjutnya.
"Kau mencintainya bukan? Park Chanyeol."
Baekhyun terdiam. Tubuhnya yang semula berdiri, perlahan terduduk di atas tempat tidur. Kedua tangannya saling meremat satu sama lain. Hal itu sudah lebih dari cukup bagi Luhan untuk mengetahui jawaban dari pertanyaannya barusan.
Luhan tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat dipaksakan. Ia ikut duduk di samping Baekhyun. "Baek," Luhan menyandarkan kepalanya pada bahu Baekhyun. "Kenapa harus Chanyeol? Kenapa kau selalu mencintai seseorang yang brengsek? Aku ingat dengan jelas, sebelumnya kau pernah mencintai seorang pemuda brengsek bernama Yifan bukan?"
Baekhyun berjengit. Tubuhnya terasa kaku mendengar nama Yifan. Ternyata Luhan mengingatnya, ia kira Luhan sudah lupa dengan Yifan. Karena Luhan terlihat biasa saja ketika melihat Yifan di kelas mereka.
"Jika kau berpikir mengapa aku tidak terkejut saat melihat Yifan, maka jawabannya adalah karena aku yang memberitahukan Yifan dimana kau sekarang. Dia bilang ingin meminta maaf kepadamu," Luhan menegakkan duduknya. "Awalnya aku menolak, tapi setelah berbulan-bulan ia memohon padaku juga melihat keseriusan Yifan, akhirnya aku memberitahunya."
Entah bagaimana respon yang harus Baekhyun berikan atas pernyataan Luhan. Ia tidak dapat menyalahkan Luhan sebab ia yakin, Luhan melakukan itu demi menolong Baekhyun untuk lepas dari masa lalunya.
Senyuman tipis Baekhyun berikan. Ia memeluk sahabatnya dengan erat.
"Baek, kumohon. Jangan menuruti perintah Chanyeol untuk kali ini," Luhan membalas pelukan Baekhyun tak kalah erat. "Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika kau pergi menemuinya."
Pelukkan terlepas.
"Aku akan bai—"
"Baek,"
Wajah Baekhyun ditangkup oleh sahabatnya. Dua pasang iris saling bertemu satu sama lain. Mereka berada dalam posisi itu selama beberapa saat sebelum Luhan yang memutuskannya terlebih dahulu.
"Lakukan apa yang kau mau." ujar Luhan pelan lalu berlalu darisana.
Baekhyun menatap dalam diam pintu berwarna coklat yang baru saja tertutup. Perasaan tak enak menggerogotinya. Tapi ia tidak punya pilihan lain, ia harus menemui Chanyeol.
Kedua belah pipinya ditepuk beberapa kali diikuti sebuah senyuman untuk menguatkan diri sendiri.
Ya, ia akan baik-baik saja.
.
ToBeContinued
.
Heihooo~ Saya kembali setelah hampir dua tahun menghilang. Saya bener-bener minta maaf buat keterlambatannya. Sebenernya chapter ini udah selesai setengah jalan dari saya selesai UN tapi saya gak yakin sama alurnya dan akhirnya saya berhenti lanjutin gara-gara ada sesuatu di real life yang bikin saya bener-bener gak nyentuh ffn bahkan saya sempet punya rencana buat berhenti ngefangirl lagi /pundung/.
But, well. Setelah baca ulang review kalian saya pun ngelanjutin lagi :') . Makasih banget buat yang selalu nunggu dan nanya kapan update baik lewat review, dm ataupun line. Maaf belom bisa bales review dan chat kalian.
Sekali lagi saya ucapin maaf dan terima kasih /peluk/.
28/10/18 –hundeer.
