.
Rumah sakit adalah tempat yang tak pernah Luhan sukai. Ia selalu berusaha semampunya untuk tidak menginjakkan kaki di gedung yang selalu dipenuhi bau obat-obatan ini. Namun, untuk kali ini Luhan harus memaksakan dirinya berada di sini, di tempat terkutuk yang selalu dipenuhi dengan suasana tidak menyenangkan.
Langkahnya dibawa cepat kala irisnya menangkap keberadaan keluarga Byun. "Beom hyung," panggilnya pelan. "Bagaimana keadaan Baekhyun?"
Pertanyaan yang diluncurkan olehnya hanya dihadiahi oleh tatapan frustasi dan sedih dari kakak laki-laki Baekhyun. Pemuda yang lebih tua darinya itu mengacak rambutnya seraya tangannya terus mengelus punggung kecil sang ibu, berusaha menenangkan wanita paruh baya yang tak berhenti menangis sedari tadi.
"Ibu, tenanglah. Aku yakin Baekhyun akan baik-baik saja."
Helaan nafas terhembus sekali. "Bibi, Baekhyun adalah laki-laki yang kuat. Dia akan baik-baik saja." ujar Luhan dengan senyum meyakinkan.
Tubuhnya ia dudukkan di samping ibu Baekhyun. Dalam hati berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada Baekhyun. Empat buah kepala menoleh secara serentak ke arah pintu kala mereka merasakan kehadiran seorang pria.
"Dokter, bagaimana?" Tuan Byun yang sedari tadi terdiam kini bersuara. Nada khawatir terdengar dengan jelas.
Sang dokter menghela nafas sekali sebelum bersuara, "Saya tidak yakin kapan anak Anda akan sadar, Karena benturan yang diterimanya cukup keras, tapi selain dari itu, ia baik-baik saja. Saya berharap baik dari pihak keluarga maupun yang lain bisa menunggunya hingga siuman."
Luhan jatuh terduduk kembali. Menatap nyalang ke arah pintu berwarna putih di hadapannya. Sepeninggal sang dokter, suasana hening melingkupi keempat manusia di sana. Sesekali suara isakan dari ibu Baekhyun masihlah terdengar.
"Luhan.." kepala bersurai coklat Luhan menoleh.
Iris rusanya membola terkejut saat mendapati kehadiran Yifan dan Seunghee di dekatnya. Dengan panik ia bangkit berdiri lalu menarik keduanya menjauh darisana kala merasakan suasana sekitarnya memberat diikuti oleh ibu Baekhyun yang mulai berteriak kalap.
"Untuk apa lagi kalian datang?!"
Luhan membentak. Kilatan penuh amarah tersirat jelas di irisnya. Luhan sama sekali tidak berniat sekasar ini, tapi amarahnya seketika muncul saat melihat Yifan dan Seunghee.
"Lu, ak..aku..Baekhyun.."
"Cukup! Aku tahu jika kalian yang telah membawa Baekhyun ke sini. Aku berterima kasih untuk itu, tapi sebaiknya kalian segera pergi dari sini!"
"Tap—"
"Apakah kau belum puas menyakiti Baekhyun?! Bahkan karena kau dan Seunghee, Baekhyun sampai harus masuk rumah sakit!" Luhan berteriak.
Rasa kesal dan amarahnya memuncak. Menatap dengan penuh emosi ke arah Yifan dan Seunghee bergantian. Dia tidak pernah semarah ini dengan seseorang, tapi untuk kali ini, Luhan merasa perbuatan Yifan dan Seunghee sangatlah kelewat batas.
Yifan menampakkan wajah penuh penyesalannya. "Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu Luhan, sungguh."
"Pergi, Yifan. Pergi!" Luhan menghembuskan nafasnya kasar. "Dan kau juga Seunghee! Aku benar-benar kecewa dengan apa yang telah kau lakukan."
Yifan menatap nanar ke arah lorong yang mengarah pada kamar Baekhyun sebelum memilih untuk berjalan menjauh dari sana. Tidak lupa tangannya menarik Seunghee untuk ikut pergi bersamanya.
.
Bitter Wedding
.
T/M
(8/15)
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others
Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran
.
Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Pintu berwarna coklat itu terbuka setelah seorang gadis memanggil pemilik rumahnya secara berulang. Di balik pintu muncul sosok Baekhyun yang tampak acak-acakan karena baru saja terbangun dari tidur sorenya.
"Oh, Seunghee-ya? Ada apa?" tanya Baekhyun lembut dengan sesekali menguap lucu.
Tanpa aba-aba apapun, Seunghee langsung menubrukkan tubuhnya ke arah tubuh Baekhyun, membuat pemuda itu mau tak mau terkejut dan harus menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjatuh. "Astaga," Baekhyun melingkarkan lengannya pada pinggang ramping sang gadis. "Apa yang kau lakukan, Seunghee-ya?"
"Maaf, oppa. Habisnya kau sangat menggemaskan." ujar gadis itu.
Senyuman kikuk Baekhyun ulaskan, tidak tahu harus merespon apa. Ia pun memilih kembali menanyakan tujuan gadis yang lebih muda darinya itu, ada urusan apa hingga datang bertamu saat mendekati jam makan malam seperti ini.
Seunghee yang kembali teringat dengan tujuannya pun buru-buru melepaskan pelukannya. Gadis itu langsung menarik tangan Baekhyun agar mengkutinya.
"Tunggu. Kita mau kemana?"
"Ada yang ingin kutunjukkan padamu, oppa. Kau harus mengetahuinya secepat mungkin."
Mobil yang menjadi tempat duduk Baekhyun saat ini pun melaju dengan kecepatan konstan membelah jalanan Seoul. Pemuda bersurai gelap yang duduk di kursi penumpang dihinggapi beribu pertanyaan karena dirinya benar-benar tidak tahu kemana dan apa yang ingin ditunjukkan Seunghee kepadanya.
Perlahan, laju mobil melambat hingga berhenti tepat di salah satu bangunan yang sangat Baekhyun yakini sebagai tempat Yifan, kekasihnya, sering berkumpul bersama temannya dulu. Kernyitan di dahi semakin dalam.
Untuk apa mereka kemari?
Seunghee yang paham Baekhyun kebingungan, segera menuntun pemuda itu untuk turun dan berdiri bersembunyi di bawah salah satu jendela bangunan. Isyarat untuk diam dan tidak bersuara diberikan dan dipatuhi begitu saja oleh Baekhyun.
"Hei, Kris." suara seorang pemuda terdengar.
Kris. Nama panggilan Yifan saat ia sedang berkumpul bersama teman-temannya.
Tunggu.
Bukankah Yifan sempat berjanji padanya untuk tidak lagi berkumpul bersama-sama temannya yang selalu bertingkah layaknya berandal itu?
Baekhyun yang hendak beranjak masuk ditahan oleh Seunghee yang memerintahkan Baekhyun untuk diam melalui tatapannya. Dan kala dirinya ingin menolak, suara milik teman Kris kembali terdengar.
"Kapan kau akan memutuskan Byun Baekhyun?" suara pemuda yang tadi memanggil nama Yifan kembali terdengar. "Pertaruhan kita sudah selesai. Dan wow, bisakah kau berhenti menghentakkan milikmu itu ke dalam Jieun? Kalian benar-benar tidak tahu tempat saat bercinta, huh?"
"Sshh, jangan mengetatkan lubangmu Jieun!"
Itu suara Yifan.
Tanpa diminta, air mata Baekhyun keluar begitu saja. Kepalanya menggeleng beberapa kali, berusaha untuk tidak mempercayai bahwa itu adalah suara milik kekasihnya.
"Aku belum mau mengakhiri hubunganku dengan Baekhyun, nghh.. Dia pemuda yang manis dan patuh. Dan kurasa aku mulai—"
Ucapan Yifan terpotong ketika pintu bangunan itu terbuka dengan kasar. Pemuda mungil yang memegang status sebagai kekasihnya berdiri di sana. Berdiri di depan pintu dengan wajah penuh linangan air mata.
Dengan cepat, Yifan menjauhkan Jieun dari atas tubuhnya. Ia berjalan mendekati Baekhyun yang tampak kacau.
"Baekby, apa yang kau lakukan di sini?"
Baekhyun tidak menjawab melainkan tangannya terayun dan hendak menariklengan Yifan. Namun usahanya menjadi sia-sia saat gadis yang bernama Jieun itu datang dan menahan tangannya.
"Apa yang kau lakukan, huh? Jangan berani-beraninya menyentuh kekasihku."
Kekasih?
"Ap—"
"Woah, ini pemuda yang bernama Baekhyun, hm?" Baekhyun berjengit saat seorang pemuda lain yang entah datang darimana tiba-tiba saja sudah merangkul bahunya dengan sok akrab. "Dia lebih manis dari yang kuduga."
Bulu kuduk Baekhyun meremang kala mendapati pemuda itu menatapnya seakan dirinya adalah seekor mangsa dengan sesekali menjilati bibir bawahnya. Baekhyun yang seakan tersadar dengan bahaya yang akan menghampirinya, langsung menyikut pemuda itu dengan keras.
"Brengsek!"
Pemuda itu berlari lalu membanting tubuh Baekhyun hingga terjatuh ke atas lantai. "Asal kau tahu, aku benar-benar sangat menyukai seorang yang pemberontak sepertimu." ujar pemuda itu yang dengan kurang ajarnya mulai mengangkat kaus yang dikenakan Baekhyun.
Detik itu juga. Baekhyun gemetar.
Tidak. Dia tidak mau.
Dia meronta dengan kuat namun cengkraman pemuda itu pun ikut menguat. Melalui ekor matanya ia dapat melihat Yifan yang menatap dirinya dengan pandangan tak terbaca sama sekali. Pemuda tinggi itu hanya berdiri diam di tempatnya tanpa ada niatan untuk membantu sama sekali.
Hati Baekhyun mencelos. Tidak percaya jika kekasihnya hanya berdiri diam saat dirinya akan dilecehkan oleh temannya sendiri. Baekhyun menangis kembali. Ia memejamkan irisnya untuk menghentikan air matanya lalu dengan sekuat tenaga menggerakkan lututnya ke arah daerah selangkangan pemuda di atasnya.
Pemuda itu merintih dan menjauh dari tubuh Baekhyun.
Tanpa menunggu lama, Baekhyun bangkit dan pergi. Sebelum dirinya benar-benar pergi darisana, Baekhyun menyempatkan diri untuk melemparkan tatapan penuh kekecewannya kepada Yifan.
…
Nafas lelahnya berhembus berulang kali dengan kepalanya yang terus tertunduk. Bibir bagian bawahnya digigit untuk menahan isakan yang sudah berada di ujung lidahnya. Baekhyun tidak pernah menyangka hubungannya dan Yifan hanya karena pertaruhan konyol. Ia tidak menyangka jika perlakuan dan kata-kata sayang dari Yifan selama ini hanyalah omong kosong belaka.
Ia benci pada dirinya yang bisa jatuh untuk Yifan.
"Oppa, kau baik-baik saja?" suara lembut Seunghee terdengar, tapi Baekhyun memilih untuk mengabaikannya. "Bukankah aku pernah mengatakannya padamu untuk tidak menjalin hubungan dengannya?"
Sebaris pertanyaan yang dilontarkan oleh Seunghee berhasil menarik atensi Baekhyun yang sempat melayang entah kemana. "Apa maksudmu?"
Seunghee berdecak sekali. "Lupakan saja, oppa." ujarnya lalu mengulas sebuah senyum.
Baekhyun terlalu larut dalam kesedihannya hingga tak dapat menangkap senyuman itu. Langkahnya kembali dibawa menuju halte bus terdekat namun lagi-lagi harus terhenti sebab tangannya dicekal dengan cepat oleh sang gadis yang masih setia mengikutinya.
"Ada apa, Seunghee-ya?"
"Oppa, jadilah kekasihku. Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini."
Dahi Baekhyun berkerut lalu menatap Seunghee dengan pandangan aneh. Kepala Baekhyun menggeleng sekali sebagai tanda untuk menolak. Ia tidak mungkin menjalin hubungan dengan Seunghee, gadis itu sudah ia anggap seperti adiknya sendiri dan ia juga baru saja mengalami patah hati.
"Kita akan menjadi pasangan yang serasi. Percayalah padaku." Seunghee masih keukeuh meski Baekhyun sudah menolaknya.
Tangan Baekhyun terangkat lalu mengelus surai kecoklatan Seunghee dengan lembut. "Tidak, Seunghee-ya. Kau sudah seperti adikku sendiri, jadi hal yang tidak mungkin bagiku untuk menerimamu."
"Oppa! Kau bercanda?!" pekik Seunghee keras sebelum menghempas tangan Baekhyun dengan kasar. Sebuah senyuman miring perlahan tercetak di paras cantiknya. "Baik. Jika seperti itu."
Baekhyun tak mengerti apa yang tengah dipikirkan Seunghee. Pemuda itu memutuskan untuk mengikuti langkah Seunghee karena gadis itu terus menarik tangannya. "Seunghee-ya, kita mau kemana?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja saat dirinya dan Seunghee berdiri tepat di samping jalan yang ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.
Tanpa menoleh, Seunghee menjawab dengan nada kelewat ceria, "Tenang saja, oppa. Jika kau memang tidak mau menerimaku, sebaiknya kita sama-sama menabrakkan diri kemudian mati bersama. Agar tidak ada yang dapat memilikimu."
Ketika langkah pertama diambil, sebelah tangan Baekhyun yang bebas ditarik oleh seseorang. Menarik pemuda bertubuh mungil itu untuk kembali pada sisian jalan. Baik Baekhyun dan Seunghee menoleh secara serempak hanya untuk mendapati sosok Yifan yang berdiri menjulang dengan nafas terengah.
"Yi.." Baekhyun tercekat. "Yifan?"
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Yifan membentak dengan penuh amarah. "Apa kalian tidak dapat melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang?!"
Baekhyun terdiam. Bibirnya terkunci rapat. Untuk sesaat, Baekhyun merasa senang karena Yifan tampak perduli padanya, tapi semuanya hancur kala mengingat jika Yifan tidak pernah benar-benar menyayanginya.
"Lepaskan aku." cicit Baekhyun.
Yifan melembut. Paham benar jika pemuda bersurai gelap di hadapannya tidak pernah bisa jika menerima bentakan. "Maafkan aku, Baekby." Tangan besar Yifan terjulur lalu mengelus surai Baekhyun sayang, mengabaikan fakta bahwa Baekhyun tampak menegang dan menolak elusannya dengan gestur tubuh. "Aku hanya takut terjadi sesuatu yang buruk kepadamu."
Suara decihan dari Seunghee yang menjawab ucapan Yifan barusan.
"Kau masih saja pura-pura perduli setelah apa yang telah kau perbuat pada Baekhyun oppa?"
Yifan melirik ke arah Seunghee dan memilih untuk tidak merespon sama sekali ucapan sang gadis. Dia kembali memfokuskan dirinya pada Baekhyun yang balas menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Baekby,"
Baekhyun menegang. Entah kenapa panggilan dari Yifan yang biasa terdengar manis kini membuat dirinya sedih dan terluka. Memori tentang kenangan mereka dulu berputar-putar di kepalanya, membuat lukanya semakin dalam.
"Lepaskan." Baekhyun berujar lirih seraya menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Yifan. Namun bukannya terlepas, genggaman Yifan malah semakin mengerat.
"Baekby, kumohon. Dengarkan dulu penjelasanku."
Kepala bersurai gelap itu menggeleng. Menolak apapun yang ingin Yifan katakan. Bukannya ia tidak mau, ia hanya takut. Takut jika penjelasan Yifan akan semakin melukainya.
"Berhenti, Yifan oppa." ujar Seunghee lalu melepaskan genggaman Yifan pada tangan Baekhyun dengan cukup kasar.
Yifan mendelik tak suka. Air wajahnya perlahan mengkeruh sebelum ia berujar dengan nada yang berbahaya. "Kau tidak berhak mengaturku! Kau juga bersalah di sini."
"Huh?! Jelas-jelas kau yang bersalah di sini dan kau malah menuduhku?!" Seunghee membalas ucapan Yifan dengan keras. Suaranya yang biasa lembut kini terdengar meninggi dengan campuran emosi di dalamnya.
"Hentikan." Baekhyun berujar pelan. Air mata kembali mengalir dan membasahi wajah putih Baekhyun. "Kumohon hentikan."
Baik Seunghee maupun Yifan menolehkan kepala untuk menatap Baekhyun. Untuk sesaat, mereka melupakan keberadaan Baekhyun di sana. Keduanya terdiam, menatap Baekhyun dengan tatapan yang berbeda. Yifan menatapnya dengan sedih dan penuh rasa bersalah, sedang Seunghee menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tak terbaca.
"Baekby."
"Biarkan aku pulang. Tolong jangan pernah mendekatiku lagi, Yifan." Baekhyun menarik nafasnya dengan susah payah sebelum menoleh ke arah Seunghee ketika ia merasakan tarikkan pada lengan bajunya. "Kita pulang, Seunghee-ya."
Sebuah senyuman mengejek terulas di wajah cantik Seunghee. Gadis itu menatap dengan penuh kemenangan ke arah Yifan yang tengah menggeram penuh amarah di tempatnya. "Baekhyun oppa akan menjadi kekasihku. Sebaiknya kau jangan mendekatinya lagi."
Seunghee terkejut saat dirinya secara tak sengaja menabrak tubuh Baekhyun yang tiba-tiba saja berhenti. Pemuda bersurai kelam itu menoleh lalu memberikan senyuman lemah kepada sang gadis.
"Tidak, Seunghee-ya. Jangan mengatakan hal seperti itu."
"Kenapa, oppa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!"
Baekhyun menggeleng sekali. "Sudah kukatakan, kita tidak mungkin bersama. Aku hanya mengganggapmu sebagai adikku saja."
"Oppa!"
Helaan nafas lelah dihembuskan. Sesaat Baekhyun terserang pusing. Ia ingin cepat kembali ke rumahnya dan beristirahat tapi Seunghee malah bertingkah lagi. Entah berapa kali ia memberi pengertian kepada Seunghee, tapi gadis bermarga Lee itu sama sekali tidak mau memahaminya sama sekali.
"Baik! Memang seharusnya dari awal aku membawa oppa untuk sama-sama menabrakkan diri saja!"
Semuanya terjadi begitu cepat untuk Baekhyun. Belum sampai sedetik Seunghee mengucapkas sebaris kalimat itu dan menarik tangannya, tau-tau saja dirinya sudah berdiri di jalan dengan sebuah mobil besar yang melaju kencang ke arahnya. Iris sipitnya membola.
Dan dalam sepersekian detik itu pula, sebelum mobil dapat menyentuh dirinya dan Seunghee, Baekhyun secara refleks mendorong tubuh Seunghee dengan keras ke arah sisian jalan. Tidak membiarkan gadis itu terluka sama sekali.
Baekhyun benar-benar tidak tahu lagi apa yang dirasakannya karena setelah itu, kepalanya menjadi pusing kemudian pandangannya perlahan menjadi gelap.
#
Tubuh mungilnya terduduk dengan cepat. Nafas memburu diikuti dengan bulir-bulir keringat yang mengalir, membasahi tubuh dan dahinya. Pakaian yang dikenakannya menempel karena terkena keringatnya sendiri.
Iris Baekhyun bergerak dengan gelisah ketika mimpi tentang masa lalunya kembali datang. Bibir digigit keras berusaha menahan tangisan yang hendak keluar. Tidak perduli seberapa kuat ia berusaha mengubur kenangan buruk itu, ia tidak pernah bisa melupakannya.
Ia mengerang sekali sebelum meminum segelas air yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya. "Astaga." gumamnya pelan. Baekhyun menyingkirkan helaian rambut yang berada di dahinya sebelum melirik ke arah jam dinding yang berada di dekat lemari pakaian.
Pukul tiga pagi.
Berarti sudah empat jam lamanya dirinya menunggu kepulangan Chanyeol, bahkan dirinya sampai tertidur sebab lamanya pemuda itu. Ia sedikit tidak mengerti untuk apa Chanyeol mengiriminya pesan untuk pulang tetapi pemuda itu sendiri tidak berada di apartemen mereka sama sekali.
Tangannya terangkat lalu memijat pelipisnya perlahan. Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut sakit saat mengingat masalah yang datang bertubi-tubi menghampirinya. Dari mulai pernikahannya dan Chanyeol, kenyataan bahwa suaminya sendiri telah memiliki seorang kekasih juga kedatangan Yifan dan Seunghee.
"Apa yang harus kulakukan, ibu? Aku benar-benar sangat lelah."
Tubuhnya berjengit kaget ketika pintu kamar dibuka dengan kasar oleh seseorang. Baekhyun segera bangkit berdiri hanya untuk mendapati sosok Chanyeol berdiri di ambang pintu dengan kepala bersurai peraknya menunduk dalam. Baekhyun menelan ludahnya susah payah secara tak sadar. Entah bagaimana, ia merasakan sesuatu yang aneh dari sosok Chanyeol di hadapannya.
"Ch—"
"Byun Baekhyun.." suaranya berat dan serak.
Kepala yang semula menunduk pun terangkat, menyebabkan sepasang iris sayunya bertemu dengan sepasang iris milik pemuda lainnya. Ia mengulas sebuah senyuman miring lalu berjalan dengan cepat ke arah Baekhyun.
Baekhyun memekik kala merasakan tubuhnya menabrak sisian tempat tidurnya dengan keras. Chanyeol berlutut di depannya dengan tangan yang meremas bahunya. Ada kilatan penuh amarah dan kebencian terpancar dari manik kelam milik Chanyeol. Bau alkohol menguar dari tubuh Chanyeol.
Hati Baekhyun mencelos melihat kilatan penuh kebencian itu. Sebegitu bencinya kah Chanyeol pada dirinya?
"Kau! Seharusnya kau tak pernah hadir dalam hidupku! Kau mengacaukan kehidupanku begitu saja! Karena kau, aku harus kehilangan Kyungsoo yang sangat kucintai selama ini!" Chanyeol berucap dengan kalap. Cengkramannya pada bahu Baekhyun mengerat.
Sebulir air mata lolos dari mata Chanyeol. Pemuda bertubuh tinggi yang biasanya selalu terlihat keras di mata Baekhyun, kini tampak rapuh. Baekhyun terdiam. Dadanya berdenyut sekali saat mendapati Chanyeol seperti itu.
"Aku benar-benar membencimu, Byun Baekhyun sialan!"
Tubuhnya membeku dengan tatapan yang perlahan menjadi kosong. Lidahnya terasa kelu untuk bersuara bahkan untuk menelan ludah saja ia tak mampu. Rasa sakit itu kembali, seakan adanya tangan tak terlihat yang meremas jantungnya dengan kuat. Mendengar bahwa Chanyeol sangatlah mencintai Kyungsoo sudah cukup membuat dirinya terluka. Dan apalagi sekarang?
Benar yang Luhan ucapkan sebelumnya.
Kenapa?
Kenapa dirinya selalu mencintai pemuda yang salah?
Kenapa dulu ia sangat mencintai Yifan?
Dan kenapa dia dengan bodohnya mengulangi kesalahannya dulu dengan mencintai sosok Park Chanyeol?
Sampai kapanpun, Chanyeol tak akan pernah mencintainya.
Benar.
Benar apa yang diucapkan Chanyeol.
Pernikahan mereka bukanlah didasarkan atas cinta. Tetapi hanyalah didasarkan oleh kesepakatan kedua orangtuanya dan Tuan Park.
Kenapa ia sangat bodoh hanya untuk menyadari hal sekecil itu? Apa dirinya telah dibutakan karena terlalu mencintai Park Chanyeol?
Tawa getir meluncur dari bibir tipisnya. Dengan tatapan penuh luka, ia menatap ke arah Chanyeol. Ke arah suaminya. "Ya, semua memang salahku Chanyeol-ah. Salahku," senyuman pahit terulas.
Chanyeol terpaku saat mendapati Baekhyun yang berujar seraya menangis tanpa suara. Selama ini, ia tidak pernah melihat Baekhyun menangis. Dan entah bagaimana menjelaskannya, Baekhyun yang ia lihat sekarang benar-benar tampak…rapuh.
"Maafkan aku, Chanyeol-ah," Baekhyun memberanikan diri untuk menyentuh belah pipi Chanyeol. Ibu jarinya bergerak, mengelus wajah halus itu dengan lembut. "Maafkan aku yang selalu membuatmu marah dan kesal. Maafkan aku yang membuatmu kehilangan sosok Kyungsoo yang kau cintai,"
Lagi. Denyutan pada dadanya kembali terasa namun kali ini terasa lebih menyakitkan.
Baekhyun menarik nafas sekali, berusaha menjaga suaranya agar tidak lebih bergetar. "Maafkan aku karena menjadi suami yang buruk untukmu. Maafkan aku yang terlalu mencintaimu, hingga aku tak menyadari betapa kau sangatlah membenciku. Dan maafkan aku yang selalu berharap kau akan membalas perasaanku jika aku terus bertahan dengan segala sikap kasarmu padaku itu. Maaf, Chanyeol-ah. Maafkan aku."
Isak tangisnya yang selalu ia tahan jika di hadapan Chanyeol, pecah begitu saja. Baekhyun menyadarinya, ia terlalu mencintai Park Chanyeol. Seseorang yang sampai kapanpun hanya akan menganggap dirinya sosok seorang pengganggu saja. Seseorang yang tak akan pernah mencintainya.
Baekhyun memotong cepat saat mendapati Chanyeol yang hendak mengucapkan sesuatu,
Sudah cukup.
Ia tidak ingin mendengar apapun lagi yang akan menyakitinya lebih dari ini.
"Aku akan pergi dari hidupmu. Aku tidak akan kembali ke apartemen ini. Tapi untuk pernikahan, aku tidak akan mengakhirinya—"
"Ap—"
"—Karena aku tidak ingin ayahmu marah dan berakhir menghukummu dengan berat." ujar Baekhyun pada akhirnya.
Pemuda itu pun mendorong tubuh Chanyeol yang masih berada di depannya dengan keras. Lalu beranjak pergi dari kamar apartemen mereka tanpa menunggu balasan apapun dari Park Chanyeol.
.
ToBeContinued
.
Well, hello there. I'm back. Saya gak yakin apa chapter ini menarik atau gak. Entah berapa kali saya ngulang ngetik chapter ini, saya tetep ngerasa aneh sendiri pas ngebacanya :".
Dan buat yang berharap Baek jgn terlalu lemah, mulai dari sini, Baek bakal berani ngelawan kok~ Baek bukan lemah sebenernya, cuma terlalu sayang sampe gak mau ngelawan~~
Untuk update an fanfic, saya gak bisa janji untuk update cepat, okay? Saya orangnya rada mood-mood an kalo berhubungan soal ngetik fanfic. Ide selalu ada, tapi buat ngetik suka susah dapetin moodnya itu /nangis/. Tolong bersabar dengan saya dan THANKS banget buat kalian yang masih setia baca dan nunggu fanfic saya ini~
21/02/19 —hundeer.
