.
Daehyun menatap dengan datar lembaran kertas di hadapannya, sedang bibirnya sibuk menyumpah serapahi orang yang berdiri dengan kaku di sampingnya. Entah berapa kali pun ia membaca tulisan-tulisan sialan ini, tetap saja kalimat 'Byun Baekhyun adalah suami sah dari Park Chanyeol.' membuat darahnya mendidih.
Sialan.
Kenapa selalu Park Chanyeol yang mendapatkan apapun itu yang dirinya inginkan?
Jika sebelum-sebelumnya Daehyun selalu membiarkan Chanyeol mendapatkan apapun, tidak untuk kali ini. Ia akan menjadikan Baekhyun miliknya dan melepaskan pemuda manis itu dari genggaman si brengsek Chanyeol.
Byun Baekhyun terlalu sempurna untuk bersanding dengan Park Chanyeol. Baekhyun benar-benar seorang pemuda dengan kepribadian lembut dan menyenangkan, tidak seharusnya pemuda yang ia cintai itu mendapatkan perlakuan kasar dari seseorang yang bahkan tidak bisa menghargai pernikahannya sendiri.
"Uh, Daehyun.." kepala menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Alisnya terangkat, menyuruh orang di sampingnya untuk melanjutkan ucapannya. "Aku mendapatkan informasi jika sudah empat hari ini, Baekhyun tidak terlihat dimanapun."
Dahi mengernyit tak senang.
"Bagaimana mungkin?"
Pemuda yang ditanya membalik kertas di tangan. "Seminggu lalu. Baekhyun keluar dari apartemennya sambil menangis lalu pergi darisana menggunakan taksi."
"Lalu?"
Kepala menggeleng sekali sebagai jawaban. Daehyun yang melihatnya berdecak kesal sekali. Merasa kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ia inginkan. Setelahnya ia mengibaskan tangannya, menyuruh orang di depannya untuk pergi dari dalam ruangan itu.
Tangannya bergerak untuk mengambil ponselnya yang tergelatak di atas meja. Sebaris kalimat ia ketikkan pada kolom pesan sebelum mengirimnya ke seseorang. Senyumannya perlahan terulas ketika matanya dapat menangkap gambar Baekhyun yang sedang tersenyum lembut pada layar ponselnya.
"Aku benar-benar mencintaimu, Baekhyun."
.
Bitter Wedding
.
T/M
(9/15)
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others
Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran
.
Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Park Ilsung menatap dengan penuh amarah ke arah anak bungsunya. Sesekali giginya bergemelatuk, pertanda emosinya sudah benar-benar tinggi. Ia tidak pernah mengerti jalan pikir Chanyeol. Memang benar Chanyeol adalah anaknya sendiri, tapi sifat yang dimiliki Chanyeol benar-benar berbeda dengannya maupun istrinya yang sudah meninggal.
Tangan besarnya memijat pangkal hidung dengan perlahan. Berusaha semampu mungkin untuk tidak menghajar anaknya yang duduk di hadapannya dengan wajah masam.
"Park Chanyeol. Bisakah kau beritahu kepadaku, dimana Baekhyun sekarang?"
Emosinya kembali memuncak kala mendengar suara decihan yang keluar dari bibir sang anak.
"Bukan urusanku, pak tua."
"Jaga ucapanmu!" bentak Ilsung keras. "Dia itu suamimu asal kau tahu."
Senyuman miring terulas. "Ya, suami. Apa perlu kuingatkan bahwa kami menikah karena kesepakatan konyolmu dengan kedua orangtua Byun sialan itu?"
"Park Chanyeol!"
Chanyeol mengibaskan tangannya malas. Rasa-rasanya ia ingin pergi saja dari sini, tapi sialnya, ia tidak mampu hanya untuk sekedar beranjak karena tangannya ditahan dengan cukup kuat oleh kakaknya.
"Lagipula, kenapa kau sangat memperhatikannya, huh? Apa bagusnya laki-laki lemah seperti dia? Kyungsoo masih jauh lebih baik daripada Byun sialan itu!"
Adalah sederet kalimat yang membuat Chanyeol mendapatkan tamparan keras di belah pipi kanannya. Sang ayah kini berdiri di hadapan Chanyeol dengan tangan mengepal dan irisnya memancarkan kemarahan yang luar biasa.
Chanyeol masih terdiam dengan wajah menghadap ke samping. Ia dapat merasakan rasa amis di dalam mulutnya. Sepertinya bagian dalam mulutnya robek karena tamparan dari sang ayah barusan.
"Jaga ucapanmu itu. Kau tidak tahu seberapa baik sosok Baekhyun yang bahkan hampir mengorbankan nyawanya untuk menyalamatkan Chunae."
Baik Yoora dan Chanyeol membeku. Ini pertama kalinya ayah mereka mengucapkan nama sang ibu semenjak wanita paruh baya itu meninggal dua tahun lalu akibat sakit parah. "Apa maksud ayah?"
Ilsung mengacak surainya kasar sebelum mendudukkan dirinya di atas sofa. Dalam hati merutuki kebodohannya yang sudah mengatakan hal yang tidak perlu. Padahal dirinya sudah pernah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak memberitahukan perihal ini kepada siapapun. Karena ia tidak ingin orang lain menganggap dirinya perduli dengan Baekhyun hanya karena sebatas rasa balas budi.
"Ayah," panggil Yoora lemah. "Apa maksud dari ucapan ayah tadi?"
Tatapan Ilsung melembut ketika mendapati raut sedih yang anak sulungnya lemparkan kepadanya. Ia menarik nafas berulang kali, berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang akan dilakukannya sekarang adalah benar. Dengan perlahan Ilsung pun menceritakan segala hal yang sudah ia simpan selama ini seorang diri.
Ingatan tentang kejadian empat tahun lalu berputar di dalam kepalanya. Kala itu, dirinya dan Chunae hanya ingin merayakan hari pernikahan mereka di sebuah restoran tempat dimana mereka pertama kali berkencan. Namun entah apa yang terjadi, ketika dirinya baru saja tiba di depan restoran, matanya dengan jelas dapat melihat besarnya kobaran api yang melahap gedung restoran.
Ia ingat dengan jelas bagaimana Baekhyun menjadi orang yang pertama kali menerobos masuk ke dalam restoran. Saat itu, Baekhyun hanyalah bocah berusia empat belas tahun yang tidak sengaja lewat di depan restoran. Namun tanpa rasa takut dan ragu sama sekali, Baekhyun menorobos masuk ketika mendengar beberapa orang berteriak bahwa di dalam masih ada seorang wanita yang merupakan istrinya yang terjebak.
Detik berlalu.
Menit pun berlalu.
Akhirnya, terlihat sosok Baekhyun yang tampak kacau keluar dengan bahu dan sebelah tangan memegangi lengan sang istri yang telah kehilangan kesadarannya. Pemuda itu masih mampu untuk tersenyum saat menyerahkan Chunae pada tim medis. Padahal Baekhyun sendiri jatuh pingsan sedetik setelah tim medis mengambil alih Chunae dari bahunya.
Ia berjalan mendekat dan mampu menangkap percakapan dua orang pemuda berseragam medis itu jika Baekhyun berada dalam kondisi yang kritis karena pemuda itu menerobos ke dalam tanpa menggunakan alat keamanan apapun.
Dan dapat dipastikan banyaknya asap dari kebakaran yang terhirup olehnya.
"Lalu, apa yang terjadi pada Baekhyun setelahnya?"
Ilsung menghela nafas sekali. "Dia tersadar keesokan harinya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Bahkan saat itu, ayah tidak mengetahui siapa namanya."
Chanyeol menggeleng tak percaya lalu tersenyum remeh. "Kau bercanda? Kebohongan apa yang sedang berusaha kau buat untuk kami, huh?"
"Kebohongan?"
Yoora yang melihat sang ayah kembali tersulur emosi segera menyela cepat. "Chanyeol! Ayah tidak mungkin berbohong tentang ini! Apa kau lupa kita pernah menjenguk ibu yang berada di rumah sakit dulu?"
Mulutnya terkatup. Tidak dapat menyangkal perkataan sang kakak karena hal itu benar adanya. Namun selang beberapa detik kemudian, Chanyeol kembali menyuarakan isi pikirannya dengan sebuah senyuman miring terpatri di wajahnya. "Berarti pernikahanku dengannya hanyalah sebatas rasa balas budimu padanya?"
Ilsung menggeram. Inilah alasan kenapa dirinya tidak pernah menceritakan masalah ini pada siapapun.
Balas budi?
Ya. Memang awalnya Ilsung berniat membalas budi baik Baekhyun tapi tidak dengan mengikat anak bungsunya dengan Baekhyun. Tidak sama sekali. Bahkan sekedar ide untuk mengikat keduanya saja tidak pernah terlintas di dalam kepalanya.
"Benar bukan, Tuan Park Ilsung yang terhormat?" Chanyeol berujar dengan sarkas, merasa yakin jika tebakannya benar.
Ilsung membalas ucapan Chanyeol dengan seringaian. "Balas budi? Tentu saja tidak. Aku tidak sejahat itu menikahkan anakku sendiri hanya karena rasa balas budi."
Emosi tersulut dalam diri Chanyeol mendengar penuturan sang ayah. "Untuk seseorang yang bahkan lebih memilih untuk mengabaikanku dan Yoora noona hanya karena pekerjaan brengsekmu itu, kau masih berani berkata bahwa kau bukanlah ayah yang jahat?! Apa perlu kuingatkan apa yang telah kau lakukan dengan semua foto dan barang-barang peninggalan ibu? Kau membuangnya, brengsek!"
Suara pertemuan antar kulit kembali terdengar namun berasal dari orang yang berbeda. Yoora menatap dengan penuh kekecewaan dan kesedihan ke arah adik satu-satunya.
"Park Chanyeol! Kau sudah melewati batasmu!" Chanyeol membeku. Terkejut mendapati tamparan dari kakaknya sendiri. Ia juga terkejut saat melihat Yoora menangis dengan kencang. "Foto ib—"
"Jangan melanjutkannya Yoora." Ilsung memotong cepat ucapan gadis itu, tahu betul apa yang akan Yoora katakan. Irisnya ia bawa untuk menatap Chanyeol yang masih tampak terkejut. "Park Chanyeol, kau terlalu bodoh jika berpikir aku benar-benar menikahkan kalian hanya karena sebuah rasa balas budi. Baekhyun terlalu baik untuk anak berandalan sepertimu."
Kepala menoleh cepat dengan mata yang melotot tak senang.
"Kau bahkan tidak tahu seberapa baiknya sosok Byun Baekhyun." Ilsung mendudukkan dirinya lagi di atas kursi. "Aku sudah mengawasinya sejak dua tahun yang lalu asal kau tahu dan aku sudah melihat puluhan bahkan ratusan kebaikan yang ia lakukan kepada orang-orang yang aku yakini tidak ia kenal sama sekali. Baekhyun hampir kehilangan nyawanya dua kali dalam kurun waktu dua tahun itu hanya karena ingin menolong seorang pemuda yang nekat ingin melakukan aksi bunuh dirinya akibat depresi juga menyalamatkan seorang gadis yang ingin menabrakkan dirinya bersama dengan Baekhyun."
Ilsung menjeda ucapannya hanya untuk menatap ekspresi kedua anaknya. Yoora menampilkan wajah yang jelas tak percaya dan Chanyeol menatapanya dengan ekspresi yang sama sekali tak terbaca.
"Kuberitahu kau satu hal. Pernikahan kalian terjadi karena aku ingin membawa Baekhyun untuk masuk kedalam lingkar keluarga kita, jadi aku dapat lebih leluasa untuk menjaganya. Dan aku benar-benar menyesalinya sekarang, seharusnya aku menikahkan Yoora dengan Baekhyun bukan denganmu, pemuda yang bahkan tidak dapat melihat seberapa baik dan tulus suaminya sendiri."
Denyutan terasa dalam dadanya Chanyeol. Entah kenapa, rasa sakit itu hadir begitu saja tanpa permisi. Pikirannya mendadak kosong.
"Do Kyungsoo.."
Chanyeol mengangkat kepalanya yang semula tertunduk, irisnya pun dengan cepat menatap tajam ke arah sang ayah.
"Kuharap kau segera melupakan pemuda Do itu dan melihat dengan baik siapa yang benar-benar mencintaimu dan siapa yang hanya menjadikanmu sebagai tempat pelarian." ujar Ilsung pelan kemudian tersenyum tipis, sangat tipis.
Pria penyandang marga Park itu bangkit dari duduknya. Menatap ke arah Yoora dan Chanyeol secara bergantian, mengabaikan tatapan tak senang yang masih Chanyeol lemparkan untuknya.
"Kau hanya anak bodoh yang terlalu dibutakan dengan perasaan semumu. Aku sangat yakin jika kau tidak benar-benar mencintai Do Kyungsoo. Kau hanya membutuhkannya, karena pemuda itu adalah seseorang yang pertama kali berada di sampingmu ketika aku berubah menjadi sosok ayah yang sangat kau benci, bukan?"
"Kau bercanda?! Aku sangat mencintai Kyungsoo!" berang Chanyeol. Amarahnya yang sempat menyurut kembali tersulut begitu saja saat mendengar ucapan sang ayah.
Suara tawa milik Ilsung berderai. Senyuman miring masih terpasang di wajah rupawannya. "Kita lihat saja nanti, Park Chanyeol."
Ilsung segera pergi dari apartemen milik anaknya. Meninggalkan sosok Chanyeol yang tampak sangat marah bersama Yoora di sampingnya.
"Pak tua sialan!"
"Jaga ucapanmu, Chanyeol! Dia ayah kita."
Chanyeol berdecak. "Ayah?! Aku tidak sudi menganggapnya sebagai ayahku!"
"Chanyeol.."
Helaan nafas kasar Chanyeol hembuskan. "Maaf, noona. Aku hanya.."
Kedua tangan Yoora terulur, memeluk tubuh tinggi sang adik dengan lembut. Ia paham betul apa yang terngah Chanyeol rasakan. Sejujurnya, Chanyeol tidaklah membenci ayah mereka, Chanyeol hanya merasa terluka dan kecewa dengan sikap sang ayah yang berubah menjadi gila bekerja dan seakan tidak perduli dengan ibu mereka ketika sang ibu baru saja meninggal.
Tak ada air mata maupun raut sedih yang tercetak di wajah Ilsung. Pria paruh baya itu bahkan tersenyum saat itu. Namun Yoora yakin. Ayah mereka hanya berusaha tegar dan mengikhlaskan sang ibu pergi. Ia juga tahu jika sang ayah masih menyimpan setiap foto dan benda peninggalan sang ibu di salah satu kamar tamu di kediaman mereka yang terkunci dengan rapat. Ayahnya juga dengan rutin selalu membersihkan dan merawat semuanya.
Elusan lembut Yoora berikan pada punggung Chanyeol. Mengucapkan kata semuanya baik-baik saja secara berulang pada telinga sang adik.
"Yeol, kumohon. Kali ini saja kau dengarkan apa yang ayah katakan," ujar Yoora dengan tangan yang masih bergerak mengelus punggung Chanyeol. "Kyungsoo tidaklah seperti yang kau pikirkan. Ia tidak mencintaimu."
Pelukan dilepas dengan cukup kasar. "Apa yang kau katakan, noona?"
Tatapan tak percaya Chanyeol berikan. Tidak menyangka jika kakaknya sendiri akan berkata demikian. Bukankah Yoora yang mengenalkannya pada Kyungsoo? Bahkan kakaknya jugalah yang membuat dirinya dan Kyungsoo menjadi sepasang kekasih.
"Semua adalah salahku. Seharusnya aku tidak pernah mengenalkan kalian. Kyungsoo—" Yoora mengigit bibir bawahnya sedang irisnya bergerak-gerak liar. "—dia masih mencintai mantan kekasihnya ketika aku memperkenalkan kalian. Bahkan ketika kalian menjadi sepasang kekasih pun, Kyungsoo masih mencintai mantannya itu dan dia berkata bahwa dia hanya menjadikanmu sebagai pengganti."
"Noona, kau bercanda bukan?"
Tak ada jawaban.
Nafasnya tertahan. Tidak mungkin.
"Tolong katakan padaku jika kau sedang bercanda, noona!" ujarnya dengan suara yang bergetar.
Hanya keheningan yang membalas ucapan Chanyeol.
Pemuda bersurai perak itu menggeleng berulang kali.
"Tidak. Itu tidak mungkin!" Chanyeol membentak tanpa sadar. "Kyungsoo tidak mungkin seperti itu! Jelas-jelas dia selalu mengatakan jika dia sangat mencintaiku!"
"Chanyeol, kumohon jangan seperti ini."
Wajah ditangkup dengan lembut. Kening dibawa untuk menempel satu sama lain sedang iris keduanya memancarkan kesedihan yang sama. Kesedihan yang mendalam karena merasa telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Yoora tidak pernah bermaksud membuat adiknya terluka. Ia hanya tidak kuasa melihat adiknya yang terus larut dalam kesedihannya ketika sang ibu baru saja meninggal. Perasaannya benar-benar tak dapat terbendung mendapati Chanyeol yang perlahan berubah menjadi seseorang yang kasar. Dan ia dengan bodohnya mengenalkan Kyungsoo yang jelas-jelas ia ketahui baru saja mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih kepada Chanyeol.
"Maaf. Maafkan aku, Chanyeol-ah."
Chanyeol memejamkan matanya. Jika kalian bertanya apa kelemahan Chanyeol, maka jawabannya adalah Yoora. Sekeras atau seberapa berubahnya Chanyeol, Yoora selalu menjadi kelemahannya. Apalagi sejak meninggalnya sang ibu, ia benar-benar tidak ingin kehilangan kakak perempuannya yang sangat ia sayangi ini.
"Ini bukan salahmu, noona." balas Chanyeol dengan sangat lembut lalu balas memeluk sang kakak dengan erat. "Semua adalah salahku karena menjadi pemuda yang kasar, menjadi seseorang yang brengsek hingga melukaimu."
…
"Baekhyun-ah," suara lembut Luhan terdengar memanggil. "Ini sudah seminggu lamanya kau tidak datang ke sekolah dan aku tidak tahu harus beralasan apalagi kepada para guru yang terus merocokiku tentangmu."
Baekhyun terkekeh kecil melihat Luhan yang bersungut-sungut di sampingnya. "Besok aku akan menghadiri kelas seperti biasanya."
"Apa kau sudah siap bertemu dengan, uh.."
"Ya," Kepalanya mengangguk dengan yakin sekali. "Aku sudah siap bertemu dengan mereka, terutama dengan Park Chanyeol."
Luhan menatap Baekhyun dengan khawatir. Dalam hati merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa membantu banyak. Namun pada akhirnya ia hanya bisa mengharapkan semuanya akan baik-baik saja.
Dering ponsel Baekhyun mengintrupsi kegiatan keduanya. Baekhyun dengan cepat meraih ponselnya hanya untuk mendapati pesan yang sama seperti hari sebelum-sebelumnya. Kata maaf dan sederet nomor tak dikenal terpampang dengan jelas di atas layar ponselnya.
Dahinya berkerut samar. Dirinya benar-benar dilanda dengan rasa penasaran, siapakah orang yang selalu mengirimi pesan yang sama untuk dirinya. Setiap kali Baekhyun membalas atau menelepon nomor yang mengiriminya pesan, nomor itu selalu tidak aktif. Seakan ponselnya sengaja dimatikan sedetik setelah yakin pesan itu diterima oleh Baekhyun.
"Baekhyun, ada tamu untukmu."
Tubuh Baekhyun berjengit kaget saat suara Sehun terdengar memasuki pendengarannya. Dengan sedikit linglung, Baekhyun menoleh ke arah Sehun yang berdiri di depan pintu dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya. "Untukku?"
Sehun mengangguk sebagai jawaban.
Baekhyun menuruni tempat tidurnya lalu berjalan turun ke bawah untuk menemui siapapun itu yang datang dan ingin menemuinya. "Uh, Daehyun?"
Pemuda yang namanya dipanggil menoleh dengan cepat ke arah dimana Baekhyun tengah berdiri sekarang. Sebuah senyuman manis terulas di wajahnya ketika mendapati wajah bingung Baekhyun.
"Hey."
Tunggu.
Darimana Daehyun tahu dirinya berada?
Seingat Baekhyun, ia tidak memberitahukan siapapun bahwa dirinya berada di rumah Luhan selama empat hari ini dan juga, ia hanya sekedar mengetahui nama Daehyun, tidak lebih.
Daehyun tertawa pelan saat mendapati Baekhyun yang benar-benar terlihat bingung. "Aku melihatmu masuk ke sini kemarin, jadi aku pikir kau tinggal di sini."
Bibir tipis Baekhyun membentuk lingkaran kecil mendengar penuturan Daehyun tadi.
"Ada apa?"
Daehyun terdiam selama beberapa saat sebelum membalas pertanyaan Baekhyun. "Tidak. Hanya ingin bertemu denganmu."
"Huh?"
"Baekhyun, bagaimana jika kita per—"
Ucapan Daehyun terpotong begitu saja ketika ia dapat melihat dengan jelas seorang gadis tengah memeluk tubuh Baekhyun dari samping. Bibirnya terkatup rapat dengan iris yang berkilat tidak suka.
"Seunghee?"
"Oppa! Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak masuk sekolah sama sekali?" rengek Seunghee seraya bergelayut manja pada sebelah lengan Baekhyun yang bebas.
Daehyun yang sedari terdiam dapat melihat raut tak nyaman yang tercetak jelas di wajah Baekhyun. Pemuda bersurai gelap itu seakan tidak ingin berada terlalu dekat dengan gadis yang dipanggil Seunghee tadi. Bahkan senyuman yang sangat ia sukai itu terlihat sangat dipaksakan.
Pemuda yang menjadi objek pandangan Daehyun kini sedang berusaha dengan keras agar Seunghee mau melepaskan tangannya. "Seunghee-ya, ada yang ingin kubicarakan denganmu,"
"Katakan saja, oppa."
Baekhyun mengigit bibir bagian bawahnya sekali lalu menarik tangannya yang semula dirangkul oleh Seunghee dengan cukup keras, membuat gadis cantik itu tersentak mundur beberapa langkah.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan ini saat kita bertemu esok hari, tapi karena kau di sini, aku ingin menyelesaikan semuanya," Baekhyun menatap dalam ke arah Seunghee yang balas menatapnya bingung. "Jangan pernah menemui atau menghampiriku lagi. Seunghee-ya, aku tidak akan pernah mencintaimu sampai kapanpun."
"Kenapa?"
Pertanyaan yang Seunghee lemparkan sedikit banyak membuat Baekhyun terkejut. Tidak menyangka respon yang diberikan cukup tenang. "Karena aku telah menikah dan aku mencintai pasanganku."
Senyuman meremehkan terulas. "Mencintai pemuda brengsek seperti Park Chanyeol itu, huh?"
"Apa maksudmu?"
"Baekhyun oppa, apa kau pikir aku tidak tahu apa saja yang dia lakukan kepadamu? Aku sangat tahu jika Park Chanyeol selalu berbuat kasar kepadamu bahkan dia dengan tidak tahu dirinya berselingkuh tepat di depan oppa dan keluarga oppa! Dia tidak pantas untuk kau cintai! Kau lebih pantas bersamaku, aku sangat yakin kau akan bahagia jika bersamaku."
Baekhyun mengernyitkan dahinya tak suka. Meski apa yang diucapkan oleh Seunghee adalah benar adanya, tapi bagaimana pun Chanyeol masih memegang statussebagai suami sahnya.
"Darimana kau mengetahui hal itu?"
Seluruh kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan dan hanya sebaris kalimat tanya itu yang mampu ia ucapkan.
Tawa Seunghee tiba-tiba terdengar, menghasilkan beribu tanda tanya dalam diri Baekhyun. "Tentu saja. Aku selalu mengawasi dan mencari informasi tentang oppa sedari dulu."
"Maaf mengganggu. Nona, kurasa perbuatanmu sudah melewati batas dan bukankah Baekhyun telah mengatakannya dengan jelas bahwa dia tidak mencintaimu?" Daehyun berujar, menghentikan Baekhyun yang hendak membalas ucapan Seunghee.
Sebenarnya Daehyun hanya merasa sedikit terganggu dengan Seunghee. Gadis ini terlalu berlebihan menurutnya, meski ia tidak dapat menyangkal jika dirinya melakukan hal yang sama seperti Seunghee. Tapi dirinya masih berada di batas wajar dengan mendekati Baekhyun secara perlahan.
"Siapa kau dan untuk apa kau berada di sini?"
"Jung Daehyun. Seseorang yang akan membahagiakan Baekhyun kelak."
Baik Baekhyun dan Seughee terlihat terkejut. Menatap Daehyun dengan tak percaya. Pemuda yang ditatap hanya melemparkan senyuman lembut ke arah Baekhyun yang terlihat sangat menggemaskan saat terkejut, membuat rasa ingin memiliki dalam dirinya semakin menguat.
Langkahnya ia bawa mendekat lalu menangkupkan sebelah tangannya pada belah pipi Baekhyun. "Byun Baekhyun, aku akan membuatmu terlepas dari Park Chanyeol sesegera mungkin dan menjadikanmu milikku." ujarnya kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening Baekhyun.
…
Satu minggu.
Adalah kurun waktu dimana Baekhyun benar-benar menghilang dari hidup seorang Park Chanyeol juga hari ini sudah terhitung empat hari setelah ayah mereka menceritakan semuanya kepada dirinya dan sang adik. Chanyeol tampak lebih emosional selama empat hari itu pula. Pemuda bersurai perak itu lebih mudah tersulut emosi bahkan memukul orang-orang di sekitarnya.
Park Yoora, kakak dari Chanyeol hanya bisa menggerutu kesal kala dirinya lagi-lagi dipanggil ke sekolah karena adiknya kembali membuat ulah dengan berkelahi.
"Ya! Park Chanyeol!" Yoora berteriak nyaring lalu menarik telinga adiknya dengan kesal. "Sudah kukatakan bukan? Berhenti membuat masalah! Kenapa kau semakin berandal saja, huh?!"
Chanyeol berdecih sekali sebelum menepis tangan kakaknya dengan lumayan kasar. Pemuda bersurai perak itu lebih memilih untuk segera pergi darisana daripada harus mendengarkan ocehan dari sang kakak yang tidak pernah ada habisnya.
"Berhenti atau aku akan membunuhmu." teriak Yoora kesal.
Air muka gadis itu tampak menggelap. Jika dirinya sedang berada dalam dunia animasi, mungkin akan muncul kedutan di dahi mulusnya. "Berhentilah berteriak, noona. Kau sangat berisik."
"Apa?!"
Chanyeol menatap dengan malas ke arah sang kakak yang berjalan dengan kaki menghentak ke arahnya. Yoora segera menghajar kepala sang adik tanpa ampun. Benar-benar tidak tahan dengan tingkah adiknya ini. Di sisi lain, Chanyeol hanya memilih diam daripada Yoora semakin menjadi.
"Ngomong-ngomong, dimana Baekhyun? Aku tidak melihatnya, padahal kalian satu sekolah."
Bibir tebal Chanyeol terkatup dengan rapat. Entah karena alasan apa, tiba-tiba dirinya merasa marah akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoora untuknya. Yoora menatap dengan sedih ke arah punggung Chanyeol yang perlahan menjauh. Ia tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi dengan adiknya itu.
"Park Chanyeol bodoh."
.
.
ToBeContinued
.
.
Heiho~ Saya kembali. Saya berusaha update secepat mungkin dan ini hasilnya, semoga gak ngecewain ya chapter ini. Kalo boleh sedikit spoiler, chap depan saya berencana bikin Chan yang bakal menderita, wkwkwkkw /heh.
Thanks banget buat kalian yang masih mau nungguin dan mau baca fanfic ini~ Buat yang login, reviewnya udah saya bales lewat PM dan ini balasan buat yang gak login,
Guest: maafkeun saya yang updatenya lama. Kuliah saya banyak tugas dan kadang saya susah dapet mood ketik padahal idenya selalu ada :"
Guest: kkk~ Maap udah bikin Kyung jadi jahat di sini..
Untuk next update, diusahakan secepatnya ya. Mumpung masih awal semester dan saya lagi ada mood ngetik walau cuma beberapa paragraf perharinya :V
13/03/19 —hundeer.
