.
Bitter Wedding
.
T/M
(10/15)
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and others
Warn : BoysLove-Yaoi, typos, alur berantakan, cerita pasaran
.
Ide cerita dari msy_mt . Saya hanya mengetik dan mengembangkannya.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
Hari kedelapan dan akhirnya sosok Baekhyun kembali terlihat menghadiri kelas seperti sebelumnya. Namun kali ini berbeda, Baekhyun tampil menjadi sosok yang lebih berani dan tidak takut untuk membalas tatapan meremehkan dari beberapa siswa dan siswi yang dilaluinya.
Senyuman manis pun tak lepas dari wajah rupawannya sedari awal dirinya menginjakkan kaki di sana. Penampilannya memang masih sama seperti hari-hari sebelumnya tapi aura yang dipancarkan berbeda. Meninggalkan beribu tanda tanya bagi para siswa dan siswi di sekolah itu.
Chanyeol yang mendengar berita kehadiran Baekhyun dari Jongin pun merasa terusik. Bukan, bukan. Ia bukan terusik karena tidak senang, tapi entah bagaimana, ada setitik rasa asing karena akhirnya ia dapat melihat Baekhyun kembali.
Pemuda bersurai perak itu bangkit dari duduk malasnya lalu berjalan keluar kelas. Menurut penuturan Jongin tadi, Baekhyun sedang menuju kantin.
Benar saja.
Sosok pria mungil bersurai kehitaman itu tampak berjalan beriringan bersama seorang gadis di sampingnya. Belum lagi sebelah lengan Baekhyun tengah dirangkul dengan manja. Dahi berkerut dalam. Bibir mengkerut tanpa sebab.
Langkahnya dibawa lebih cepat. Dirinya berjalan lalu dengan sengaja menyenggol bahu Baekhyun. Namun tak ada reaksi apapun yang ia dapatkan. Baekhyun hanya meliriknya sekilas sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Mengabaikan Chanyeol yang terpaku di tempatnya berdiri.
Apa-apaan itu?
Apa Baekhyun baru saja mengabaikan dirinya?
Chanyeol menggeram jengkel sebelum berjalan menghampiri meja yang ditempati oleh Baekhyun dan sang gadis. "Hei, Byun,"
Kembali tak ada respon. Lagi dirinya menggeram. "Jangan mengabaikanku, brengsek!"
Helaan nafas terdengar kemudian sepasang iris berbeda ukuran bertemu. Keduanya memancarkan emosi yang berbeda. Kesal dan tak terbaca.
"Maaf, tapi aku tidak memiliki urusan lagi denganmu, Park."
Ap—
"Byun Baekhyun!"
Baekhyun memejamkan irisnya dengan lelah. Kepalanya berdenyut dan senyumannya perlahan menghilang. Awalnya ia hanya ingin makan siang dengan tenang tapi entah sekeras kepala apa Seunghee hingga gadis itu masih terus menempelinya sekalipun dirinya sudah melarang. Dan sekarang, sosok Chanyeol yang tampak dalam keadaan mood yang buruk ikut datang mengganggunya.
"Maaf, Chanyeol-ssi. Bisakah kau pergi?"
Geraman kembali terdengar. Dengan berang, Chanyeol menarik sebelah lengan Baekhyun, membuat pemuda mungil itu tersentak bangun. Baekhyun meringis pelan ketika merasakan sakit pada lengannya. Iris bulat Chanyeol menatap Baekhyun dengan kilatan penuh amarah. Bibir tebalnya terkatup rapat. "Jangan bermain-main denganku, Byun Baekhyun."
Niatan Chanyeol yang ingin menarik Baekhyun menjauh darisana tertahan begitu saja saat sebuah tangan berkulit putih menarik sebelah tangan Baekhyun yang bebas. Kepala Baekhyun menoleh hanya untuk mendapati sosok Seunghee yang berdiri dan menatap tak suka ke arah Chanyeol.
"Lepaskan dia. Kau tidak memiliki hak untuk membawa Baekhyun oppa."
Alis terangkat. "Kau juga tidak memiliki hak apapun untuk melarangku," balasnya dengan tenang namun penuh penekanan.
Deja vu.
Dahinya mengernyit dalam. Rasa pening menghantam cepat kepalanya kala ia merasa pernah mengalami hal serupa namun dengan orang dan tempat yang berbeda. Rambut diremas keras sedang bibir mengeluarkan sebuah erangan pelan.
"Baekhyun?"
Erangan kembali terdengar diikuti dengan Baekhyun yang secara tak sadar menepis pegangan seseorang pada bahunya. Kepalanya bergerak cepat untuk mendongak dan mendapati wajah Chanyeol yang menatapnya dengan...khawatir?
Tidak mungkin, batinnya.
"Jangan menyentuhku," ujarnya pelan. "Dan menjauh dariku Seunghee."
Baru saja sedetik Baekhyun berujar demikian, tiba-tiba saja Yifan tertangkap dalam penglihatannya. Desahan lelah dihembuskan, berusaha menumpuk kesabaran agar tidak lepas kendali. Benar adanya ia berkata sudah bersiap bertemu dengan mereka—Park Chanyeol, Wu Yifan dan Lee Seunghee, tapi bukan berarti dirinya bersiap bertemu dengan ketiganya secara langsung.
Apalagi sekarang Baekhyun dapat melihat dengan jelas ketiganya saling melepar tatapan tajam kepada satu sama lain. Baekhyun ingin marah, tapi ia tahan. Ia diajarkan untuk tidak mudah terpancing emosi sedari kecil. Kelopak mata berkulit putih itu terpejam kala rasa pusing kembali menderanya saat mendengar pertengkaran tiga orang yang berdiri mengitarinya.
Tidak peduli berapa kali dirinya berusaha menghentikan, tapi tidak ada yang mau mendengarkannya sama sekali. Baekhyun hanya mampu terduduk di atas kursi dengan tangan yang sesekali memijat pelipisnya lelah.
"Menjauh dari Baekhyun!"
Adalah suara pekikan nyaring yang berhasil menarik atensi seluruh orang di sana, jyga menjadi suara yang menyelamatkan Baekhyun dari keadaan buruk ini.
Ucapan terima kasih dilontarkan Baekhyun berulang kali di dalam hati. Merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Luhan di waktu seperti ini. Ia tidak tahu akan seperti apa jadinya jika ia berada lebih lama lagi di sana.
"Kalian sebaiknya menjauh dari Baekhyun mulai saat ini. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kalian yang dengan tidak tahu malunya masih berani mendekati Baekhyun setelah apa yang terlah kalian perbuat kepada Baekhyun!" Luhan menyalak keras sedetik setelah dirinya berdiri di dekat Baekhyun.
Tubuh Baekhyun yang lebih pendek beberapa senti dibawa ke belakang tubuhnya diikuti dengan tangannya yang menggenggam erat pergelangan tangan Baekhyun. "Tapi, Luhan, bukankah kau sudah mengijinkanku untuk bertemu dan meminta maaf kepada Baekhyun?"
Luhan berdecak. "Ya. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Baekhyun akan berbicara empat mata denganmu saat pulang sekolah," irisnya bergulir. "Kau dan kau, aku tak akan segan-segan berbuat kasar jika kalian terus mengganggu Baekhyun." lanjutnya dengan tangan menunjuk tidak sopan ke arah Seunghee dan Chanyeol bergantian.
Geraman kesal terdengar, Chanyeol berdiri dengan iris berkilat tak senang. Sebelah tangan terangkat lalu menarik Baekhyun menjauh darisana, mengabaikan segala teriakan Luhan. Bahkan langkahnya dibawa lebih cepat agar Luhan tak dapat mengejar.
"Park Chanyeol, tolong lepaskan tanganmu." Baekhyun berujar dengan nada datar dan sukses membuat Chanyeol menghentikan langkahnya.
Pemuda yang lebih tinggi menatap dengan tak senang sekaligus kaget. Tidak menyangka jika sosok seperti Baekhyun dapat mengeluarkan nada seperti itu. "Kau memerintahku?"
"Ya."
Baekhyun balas menatap. Tatapannya jelas tak mampu dibaca oleh Chanyeol.
"Jangan lupa dengan posisimu, Byun!"
Sebelah alis terangkat diikuti dengan bibir yang membentuk sebuah garis tipis. "Maaf saja, Park Chanyeol. Kau tidak dapat mengaturku lagi." ujarnya dengan nada tajam lalu menghempas tangan Chanyeol dengan cukup kasar.
Dan pemandangan tersebut sukses membuat beberapa siswa dan siswi yang berada di sekitar mereka terkejut bahkan ada yang sedikit memekik kaget karena mendapati wajah Chanyeol yang benar-benar tak bersahabat saat ini.
"Byun Baekhyun." mata bulatnya memicing dengan penuh amarah.
Kerah seragam ditarik dengan kasar membuat yang lebih kecil sedikit terangkat. "Berhenti sekarang juga atau kau akan mempermalukan dirimu sendiri." Baekhyun membalas tatapan tajam Chanyeol dengan berani.
"Kau.." Chanyeol menggeram jengkel lalu melepas dengan kasar genggamannya dari pergelangan tangan pemuda yang lebih pendek darinya. Ia berdiri menjulang di hadapan Baekhyun diikuti dengan tatapan menghunus tajam. "Kau masih suami sahku jika kau melupakannya!"
Diameter mata bertambah dengan bibir yang membentuk sebuah garis tipis. Terkejut bukan main dengan ucapan Chanyeol. Yang membuatnya terkejut bukanlah kalimat yang terbentuk dari bibir tebal milik Chanyeol, melainkan pada seberapa besar volume suara milik pemuda Park itu yang sukses membuat seluruh orang di sekitar mereka menganga tak percaya.
"Ap—"
"Berhenti mengelak, Byun! Kau suamiku!"
Tubuhnya berjengit kala mendengar teriakan penuh amarah milik pemuda di hadapannya. Tangannya terkepal tanpa ia sadari. "Ada apa denganmu sebenarnya, Park Chanyeol?" bisiknya sangat pelan namun masih mampu didengar oleh Chanyeol.
Pada detik selanjutnya, seakan tersadar, Chanyeol melangkah mundur. Irisnya menatap tepat ke arah iris Baekhyun dengan tatapan bingung dan tak percaya. Bibirnya pun sesekali menggumamkan kata 'apa yang sudah kuperbuat'. Surai keperakkan ia jambak cukup keras diikuti dengan geraman rendah. Merasa bodoh karena melakukan apa yang seharusnya tak pernah ia lakukan.
Ia benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri saat ini. Untuk sesaat, seluruh perasaan yang ia tahan selama seminggu lebih menguar begitu saja. Perasaan kesal yang menggerogotinya karena tidak dapat melihat Baekhyun.
Tunggu.
Perasaannya?
Apakah benar itu perasaannya?
Tapi itu tidak mungkin, karena ia tidak menaruh sedikit pun rasa pada pemuda bermarga Byun yang tengah menatapnya lamat-lamat. Lalu kenapa ia harus kesal? Chanyeol mengerang bingung. Benar-benar tidak mengerti dengan perasaan dan pikirannya yang tidak sejalan dan saling bertentangan.
Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya?
"Park Chanyeol-ssi, kau baik-baik saja?"
Kepala mendongak kasar. Merasa asing juga tak senang mendengar panggilan yang terlontar dari bibir Baekhyun. "Berhenti memanggilku seperti itu!" ujarnya rendah lalu membawa langkah kembali mendekati Baekhyun.
Tangan besarnya mencengkram kerah seragam Baekhyun lagi, menyebabkan pemuda yang lebih pendek sedikit terangkat. Iris bulatnya menghujam berusaha mencari sesuatu yang entah apa itu dari dalam iris sipit Baekhyun. Keduanya saling bertatapan hingga suara melengking milik Luhan lagi-lagi terdengar dari arah belakang Baekhyun.
"Brengsek." ucap Chanyeol sebelum melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Baekhyun yang ditinggalkan hanya mampu menatap Chanyeol dengan beribu tanda tanya di dalam kepalanya. Ia masih berusaha memahami situasi yang baru ia alami tadi bahkan dirinya sampai mengabaikan Luhan yang sibuk mengomel di sampingnya.
"Lu, kau berisik."
"Huh?! Diam kau Tuan Oh! Sialan, aku benar-benar akan mencincang temanmu itu!"
Senyuman terulas mendengar omelan sang sahabat. Luhan benar-benar menyayanginya dan itu membuat hatinya menghangat. "Tenanglah, Lu," Baekhyun mengelus pundak Luhan, berusaha menenangkan pemuda yang lebih tua. "Aku baik-baik saja."
Luhan berdecak sekali. Merasa kesal sendiri mendengar Baekhyun mengucapkan sebaris kalimat itu berulang kali setiap kali pemuda itu berurusan dengan Chanyeol. Luhan tidak bodoh untuk tidak mengetahui jika Baekhyun masih mencintai sosok Chanyeol. Karena ia sendiri tahu betapa sulitnya melupakan seseorang yang sangat dicintai.
Yang menjadi pertanyaan terbesarnya sampai saat ini adalah, kenapa harus Chanyeol?
Kenapa harus pemuda brengsek seperti Chanyeol yang mendapati perasaan cinta yang tulus dari Baekhyun?
#
Yifan berdiri dari posisi duduknya saat melihat sosok Baekhyun yang perlahan berjalan mendekatinya. Jika boleh berkata jujur, Baekhyun benar-benar tumbuh menjadi seorang anak lelaki yang manis. Ia merasa sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan Baekhyun yang mencintainya dengan sangat tulus di waktu yang lalu.
"Hei." panggil Baekhyun pelan ketika tiba di hadapan Yifan.
Baekhyin tersenyum tipis lalu mendudukkan dirinya saat Yifan mempersilahkannya untuk duduk. Keheningan menyelimuti. Baik Baekhyun maupun Yifan tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana.
Menit berlalu hingga akhirnya Yifan memiluh untuk memulai percakapan pertama kali." Baekhyun," ia menoleh. "Maafkan aku."
Kekehan lembut terdengar. "Aku sudah memaafkanmu dari dulu, Yifan. Kau tidak perlu memikirkannya lagi."
Yifan jelas tidak percaya. Pasalnya, apa yang telah ia perbuat dulu bisa dikatakan sangat tidak berperasaan dan melukai Baekhyun, tapi bagaimana mungkin pemuda yang berada di sampingnya sudah memaafkannya?
"Aku serius." ucap Baekhyun seakan tahu apa yang sedang Yifan pikirkan.
"Tapi, Baek," Yifan menelan kembalu ucapannya yang ingin membantah pernyataan Baekhyun tadi. "Baiklah. Tapi meski begitu, kau harus mengetahui semuanya Baek"
Baekhyun tidak menjawab. Mengijinkan Yifan untuk mengatakan apapun.
"Aku memang bersalah karena telah melakukan pertaruhan bodoh itu. Tapi percayalah, setelah melewati hari-hari bersamamu, aku perlahan menyayangi bahkan mencintaimu. Saat itu.." Yifan terhenti. Merasa tak enak untuk melanjutkan ucapannya.
Sebab Luhan sudah memperingatinya untuk tidak membahas perihal Baekhyun yang dulu hampir pernah dilecehkan oleh teman brengseknya.
"Yifan?"
Yifan tersentak. Baru menyadarinya jika dirinya melamun. Ia pun nenarik lalu menghembuskan nafasnya berulang kali. Dengan hati-hati ia berucap, "Saat dulu kau hampir dilecehkan," Yifan terdiam kembali untuk melihat reaksi Baekhyun dan pemuda itu tampak baik-baik saja. "Sebenarnya aku sedang berada dalam posisi menolak menerima bahwa aku mencintaimu. Maaf. Tapi setelah melihatmu pergi dengan tatapan kecewamu, aku pun tersadar jika aku sudah jatuh untukmu. Dan asal kau tahu, semua pertaruhan bodoh itu dimulai karena Seunghee."
"Seunghee?" beo Baekhyun.
"Ya. Gadis itu sakit, Baek. Kau harus menjauhinya."
"Apa maksudmu? Tapi yah, aku sedang berusaha menjauhinya."
Yifan menggigit bibir bagian dalamnya, merasa tidak enak membicarakan perihal gadis itu seenaknya. Namun ia harus, Yifan tidak ingin Baekhyun berada dalam bahaya untuk kedua kalinya.
"Gadis itu—Seunghee mengalami sedikit gangguan mental. Dia merasa kau adalah dunianya, karena kau dulu pernah menyelamatkannya yang sedang mengalami depresi berat dan hampir melakukan bunuh diri. Jadi dia selalu berasumsi bahwa kau adalah miliknya. Tapi karena kau mencintaiku, maka ia menggunakan cara itu agar kau membenciku."
Rasa tidak percaya itu langsung menyelimuti Baekhyun. Tidak menyangka jika gadis secantik Seunghee sampai melakukan hal demikian demi membuat dirinya membenci Yifan. Padahal ia sama sekali tidak ada niatan untuk membuat Seunghee menjadi seperti terikat kepadanya, kala itu dirinya hanya ingin menghentikan seorang gadis yang tampak kacau agar tidak melakukan aksi bunuh diri.
Denyutan nyeri kembali terasa, membuat irisnya secara refleks terpejam. Tangannya pun memijat pelipisnya perlahan guna mengurangu sedikit rasa nyerinya.
Akhir-akhir terlalu banyak hal yang terjadi kepadanya dan ia merasa semuanya terlalu berlebihan untuk dirinya.
Astaga.
"Kau baik?" tanya Yifan lembut. Tangan besar pemuda itu terulur lalu membelai rambut Baekhyun pelan.
Baekhyun pun tersenyum dibuatnya. "Ya, aku hanya tidak menyangka."
Irisnya baru akan terpejam lagi jika saja suara berat Yifan tidak mengintrupsi.
"Baek, tidak bisakah kita kembali bersama?"
Sederet pertanyaan itu dilontarkan Yifan dengan santainya. Baekhyun sampai mengira ia salah mendengar. Namun saat tatapan keduanya bertemu, ia dapat melihat keseriusan yang tergambar jelas di bola kembar kecoklatan milik pemuda lainnya.
Bibir terkatup dengan tangan yang sibuk saling meremat satu sama lain. Sedang di dalam kepala sibuk merangkai kalimat apa yang sekiranya cocok untuk menjawab pertanyaan Yifan tadi.
Yifan yang sedari tadi memperhatikan Baekhyun, terkekeh dibuatnya. "Lupakan apa yang baru saja kuucapkan, oke? Anggap saja aku tidak mengatakannya. Lagipula, aku sangat tahu jika kau sudah memiliki seseorang yang spesial di hatimu, bukan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Karena aku selalu memperhatikanmu, Baek." ujarnya seraya terkekeh pelan.
Baekhyun sendiri memilih untuk tidak merespon apapun. Irisnya dibawa untuk memandang langit kota Seoul yang perlahan berubah menjadi oranye. Angin sore pun berhembus lembut membelai sisian wajahnya. Lamunannya terpecat begitu saja saat ia teringat akan sesuatu hal yang sudah mengganjal di pikirannya.
"Um, Yifan?"
Atensi Yifan beralih, menatap Baekhyun penuh tanya.
"Apakah kau mengirimi ku pesan akhir-akhir ini?"
Sebelah alis terbal Yifan terangkat, berusaha memahami maksud dari ucapan Baekhyun. "Pesan?" Beberapa detik setelahnya Yifan pun menggeleng sebagai jawaban. "Aku pernah meminta nomormu kepada Luhan, tapi pemuda menyebalkan itu sama sekali tidak mau memberikannya padaku." Yifan berujar dengan nada yang terdengar seperti..merajuk.
Baekhyun tertawa dibuatnya.
"Ada apa?"
Baekhyun mengangkat kedua bahunya. "Tidak ada." Dan memilih untuk tidak mengatakan apapun pada Yifan perihal pesan-pesan permintaan maaf yang selalu dirinya terima.
Yifan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kembali berucap, "Sebaiknya kita segera pulang, hari sudah beranjak sangat sore."
Baekhyun menganggukkan kepalanya sekali untuk menyetujui ucapan Yifan. Keduanya berjalan beriringan melewati lorong sekolah yang sudah sangat sepi, hanya ada beberapa siswa-siswi yang masih berada di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
"Baekhyun."
Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah gerbang sekolah ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Pemuda bersurai gelap itu mengulas sebuah senyuman tipis ketika mendapati sosok Daehyun yang berdiri dengan tangan melambai ke arahnya. Ia berjalan menghampiri Daehyun setelah sebelumnya mengucapkan sampai jumpa kepada Yifan yang tadi sedamg berjalan bersamanya.
"Apa yang kau lakukan di sini, hm?"
Daehyun menggedikkan bahunya sekali. "Hanya ingin menemuimu, dan mungkin sekaligus mengajakmu jalan-jalan?"
Kekehan pelan meluncur dari belah bibir Baekhyun. Pemuda berparas manis itu mengangguk sekali untuk menjawab ajakan dari Daehyun. Ketika langkah pertama diambil, tiba-tiba saja tubuh Baekhyun oleng ke belakang karena ditarik dengan cukup keras oleh seseorang.
"Chan—"
"Mau kemana kau?!"
"Huh?"
Dahi Baekhyun berkerut tak mengerti.
"Apa maksudmu?"
"Kemana?!"
"Lepaskan. Kau menyakitinya." Daehyun berpindah posisi menjadi berdiri di antara Chanyeol dan Baekhyun. Pemuda itu pun melepaskan secara paksa genggaman tangan Chanyeol pada pergelangan tangan Baekhyun yang memerah.
Chanyeol mendelik kesal. Emosinya kembali tersulut ketika melihat pemuda di hadapannya yang sudah dengan berani menghalanginya. Ia menggeram sekali sebelum melangkah maju. Sebelah tangannya terangkat, siap menghajar wajah pemuda sialan di depannya. Namun niat terurungkan kala mendengar teriakan Luhan terdengar diikuti sebuah tangan besar menahan pergerakkan tangannyaa.
Bungsu keluarga Park itu kembali menggeram sebelum mengarahkan pandangannya ke arah Sehun yang berdiri di belakangnya seraya menatap datar ke arahnya. "Lepaskan." ujarnya dengan rendah. Sangat rendah, pertanda bahwa Chanyeol sama sekali tidak ingin dibantah.
"Tidak bisa. Aku sudah berjanji degan Yoora noona untuk mengawasimu."
"LEPASKAN!"
Kini sebelah tangan satunya yang Chanyeol angkat hampir mengenai wajah tampan Sehun jika saja Baekhyun tidak bergerak dengan cepat dan menahan pergerakkan pemuda Park itu. Chanyeol semakin berang karenanya.
Dengan sangat kasar ia menyentak pegangan dari Sehun dan Baekhyun. Tatapan matanya menghujam tajam ke arah orang-orang yang berada di sekitarnya. "Kau benar-benar sudah sangat berani, Byun Baekhyun." desisnya lalu melangkah maju mendekati Baekhyun.
Baekhyun sendiri tampak tak gentar. Ia sudah memantapkan hatinya sendiri untuk tidak takut lagi dengan sosok Chanyeol. Ketika keduanya berdiri saling berhadapan, Chanyeol pun mengulas sebuah senyum miring. Baekhyun yang masih tidak paham dengan perubahan cepat Chanyeol hanya mampu terdiam bingung.
Tanpa diduga siapapun, Chanyeol menarik kerahnya dan mendaratkan sebuah kecupan di belah bibir tipis milik Baekhyun. Dan secepat Chanyeol memberikan kecupan, secepat itu pula wajah Chanyeol mendapatkan tamparan keras dari tangan Baekhyun. Pemuda beriris sipit itu menatap tak percaya ke arah Chanyeol.
Rona merah telah menjalari wajahnya, entah karena malu atau marah. Ia sendiri tidak tahu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun pelan.
Bukannya menjawab, Chanyeol malah tertawa dengan keras. Pemuda itu menatap remeh ke arah Baekhyun. "Bukankah kau bilang, kau mencintaiku, hm?"
"Ap—"
"Itulah kenapa aku menciummu, harusnya kau senang dengan apa yang kau dapatkan."
Setelah Chanyeol berucap demikian, sebuah tinjuan mendarat dengan cepat ke wajah bagian kanannya yang tadi ditampar oleh Baekhyun. Namun tinjuan itu bukan berasal dari Baekhyun, melainkan Daehyun yang terlihat sangat marah saat ini.
Chanyeol meludahkan darah yang berada di dalam mulutnya lalu membalas tatapan marah dari Daehyun dengan berang. Ia pun melangkah mendekati Daehyun. "Apa masalahmu?"
Daehyun menggertakan giginya, kesal bukan kepalang ketika melihat Chanyeol yang menampakkan raut tak bersalahnya sama sekali. "Masalahku? Tentu saja karena kau sudah dengan seenaknya dengan Baekhyun."
"Aku adalah suaminya, jadi aku memiliki hak untuk melakukan apapun kepadanya. Kau sendiri siapa, huh?!"
"Lucu sekali, Park Chanyeol. Seseorang seperti dirimu tidak pantas untuk menyandang status sebagai suami Baekhyun. Akan kupastikan, setelah ini, Baekhyun akan hidup bahagia bersamaku dan mengakhiri pernikahan kalian."
Kalimat yang diucapkan oleh Daehyun jelas menyulut emosi bungsu dari keluarga Park.
"Kumohon berhenti." Baekhyun berucap dengan pelan.
Sebelah tangannya menarik lengan seragam Daehyun yang berdiri di depannya. Ia yakin sebentar lagi akan terjadi aksi baku hantam melihat betapa emosinya Daehyun dan Chanyeol sekarang.
Seluruh kepala di sana menoleh untuk menatap Baekhyun dan betapa terkejutnya mereka semua saat mendapati Baekhyun yang menangis. "Ba..Baek, kau baik?" Luhan menjadi orang pertama yang bergerak menghampiri Baekhyun.
Pemuda bersurai kecoklatan itu menarik Baekhyun untuk masuk ke dalam pelukkannya. Tangannya juga sesekali mengelus punggung bergetar Baekhyun. Isakan Baekhyun yang semula ia tahan pun keluar begitu saja.
"Tenanglah, Baek." Luhan berujar lembut sedang irisnya menatap penuh amarah ke arah Chanyeol yang terdiam kaku di tempatnya. "Puas kau menyakiti Baekhyun lagi?! Kenapa kau—"
"Sudah, Lu. Aku ingin pulang." ucapan dengan suara serak itu menghentikan segala makian yang ingin dilontarkan oleh Luhan.
Akhirnya Luhan pun mengangguk dan membawa Baekhyun menjauh darisana untuk segera kembali ke rumahnya. Tiga pemuda lainnya yang ditinggalkan hanya mampi terdiam.
Dan ketika sosok Daehyun pergi darisana, Sehun menatap penuh kekecewaan ke arah sahabatnya itu. "Aku tidak menyangka kau sebrengsek itu Chanyeol. Kau tahu perbuatanmu benar-benar telah menyakiti perasaan Baekhyun yang sudah dengan tulus menyayangimu. Mungkin aku akan membantu Daehyun untuk melepaskan Baekhyun darimu, aku sudah tidak tahan melihatmu yang terus menyakitinya seperti itu."
Chanyeol masih berada di posisinya tanpa bergerak sedikitpun, bahkan ia membiarkan Sehun berlalu dari hadapannya. Pikirannya mendadak kosong saat tadi mendapati Baekhyun yang menangis dan ia mendapati dadanya berdenyut sakit.
Kenapa?
.
.
ToBeContinued
.
.
Uyeeeee, apdet gengs apdet. Duh, maap kelamaan. Saya bener-bener sempet buntu pas ngetik chapter ini, tapi untungnya hari ini dapet ide buat ngelanjutin, semoga gak aneh ya :'). Makasih buat yang masih mau nungguin dan baca cerita ini meski saya apdetnya suka ngaret pake banget. Makasih buat fav, follow dan reviewnyaaaa~
Ngomong-ngomong, HAPPY CHANBAEK DAYS! Selalu support ChanBaek yaaa :* dan yeah, ada yang maen wp gak? Boleh kali kita pollow-pollowan, uname saya, eggso614.
Oke, sekian.
14/06/19 —hundeer.
