真実と虚偽の層 – Shinjitsu to Kyogi no Sou
The Layers of Truths and Lies
Vocaloid Fanfiction by Kasuga Rei
Main Characters: KAITO as Shion Kaito and Gackpoid as Kamui Gakupo
Chapter 1: 神罪を探す - To Find Kamitsumi
Banyak yang menyebutkan zaman Edo adalah zaman dimana semua orang bisa menjadi apapun atau siapapun, tetapi sebagian kumpulan orang menganggapnya terlalu bebas dan membuat mereka berlaku seenaknya. Kamitsumi adalah sebuah organisasi ilegal yang menjadi incaran pihak berwajib sejak lama, mungkin sekitar 70 tahun. Mereka telah melakukan pembunuhan, penculikan, pasar gelap, dan masih banyak lagi. Keresahan masyarakat semakin meningkat dan dengan ini sang Kaisarpun membentuk sebuah pasukan elit khusus bernama Jiyuutori untuk mengincar Kamitsumi.
Pasukan Jiyuutori telah dibagi di seluruh negara, termasuk di desa-desa dan kota-kota kecil. Mereka memiliki reputasi yang cukup bagus karena sejak didirikan pasukan ini, keadaan sedikit membaik atau setidaknya korban dari Kamitsumi mengurang.
Di sebuah kota bernama Otobashi, pasukan Jiyutoori dipimpin oleh seorang pemuda bernama Shion Kaito. Banyak yang mengatakan jika dia tidak terlihat kuat sebagai Komandan, namun dia pekerja keras yang memiliki pendirian dan tekad tinggi. Dia juga pintar dalam mengatur strategi dan memecahkan kasus.
Malam itu, sisi kota Otobashi terkesan lebih sepi dari biasanya. Di seluruh jalan, orang-orang telah menutup toko dan rumah mereka. Lalu, dari sebuah gang terdengar suara kaki yang berlari, bukan satu orang, tapi dua orang.
"Tunggu!" Suara keras terdengar dari gang tersebut.
Dari gang itu, keluar seorang pemuda dengan pakaian hitamnya dan wajahnya yang tertutup sebagian. Dia berlari ke jalan utama dan mencoba menjauh dari kejaran orang yang ada di belakangnya. Tak lama kemudian, dari gang itu juga keluar seorang lelaki yang mengenakan seragam berwarna biru navy khusus berlogo Jiyuutori di punggungnya, itu adalah Shion Kaito. Kaito kembali mengejar lelaki berbaju hitam itu dengan sekuat tenaga, namun lelaki itu berlari lebih cepat darinya.
Ketika lelaki berbaju hitam itu berbelok, di jalan tersebut sangat ramai dibandingkan jalan yang baru saja mereka lewati. Kaito berdesakan dan mencoba untuk tidak kehilangan jejak lelaki tersebut. Kaito melihat lelaki tersebut memasuki sebuah bangunan yang ramai. Dengan cepat, Kaito pun masuk ke sana. Sayangnya, di sana ternyata jauh lebih ramai.
Tempat itu sangat ramai, bagaikan sebuah festival di sebuah ruangan. Kaito tidak tahu tempat apa ini tapi dia berusaha mencari lelaki yang dia kejar. Saat dia mencoba untuk masuk lebih dalam, Kaito ditahan oleh dua anak remaja yang mengenakan pakaian sama. Seperti pakaian seorang pekerja, namun lebih mewah.
"Tuan..." Ucap remaja perempuan yang mengenakan sebuah pita di kepalanya, "Kau punya tiket masuk?"
"Apa?!" Kaito yang sedang terburu-buru tidak punya waktu untuk hal sepele seperti ini, dia pun mengeluarkan statusnya, "Namaku Shion Kaito, aku adalah Komandan pasukan khusus Jiyuutori. Biarkan aku masuk, ini adalah urusan khusus."
Lalu, remaja lelaki di sampingnya berwajah malas, wajahnya sangat mirip dengan remaja perempuan itu, "Tuan, aku tidak peduli siapa kau, ini bukan tempat umum. Anda harus membayar untuk masuk."
Kaito pun akhirnya kehilangan jejak lelaki berbaju hitam tadi. Dia tampak kesal. "Kalian baru saja membuatku kehilangan salah satu anggota Kamitsumi!"
Mendengar nama Kamitsumi, semua orang terdiam dan mulai panik. Orang-orang di sana mulai belari keluar. Kaito dan kedua remaja tersebut diam di tempat mereka saat semua orang berlarian.
"Oh... kau membuat tamunya pergi. Dia tidak akan suka ini." Ucap remaja lelaki itu dengan wajah horor.
"Ada apa ini?" Terdengar suara lelaki yang cukup rendah dan mengintimidasi dari belakang Kaito.
Kaito pun membalik badannya, di hadapannya, berdiri seorang lelaki dengan pakaiannya yang megah dan dia menutup sebagian wajah bawahnya dengan kipas berwarna ungu muda yang dia pegang. Rambutnya yang panjang, diikat dengan rapi dan terlihat lembut. Namun, dibandingkan dengan penampilannya yang luwes, tatapan matanya cukup dingin dan terkesan menakutkan.
Meskipun Kaito adalah Komandan dari Jiyuutori, aura lelaki tersebut membuatnya menciut. Namun, Kaito sadar akan posisinya. Dia pun memberikan wajah tegas kepada lelaki tersebut.
"Namaku Shion Kaito, aku adalah Komandan dari pasukan Jiyuutori." Kaito menunjuk ke arah dua remaja yang menahannya, "Dan anak-anak ini telah menahanku untuk menangkap salah satu anggota Kamitsumi!"
Lelaki itu masih menutupi sebagian wajahnya dengan kipas miliknya, matanya melirik tajam ke arah lain, "Hmm... Anggota Kamitsumi masuk ke tempat ini?"
Kaito merinding melihat gerakan mata lelaki itu, bahkan dia tidak bisa melihatnya berbicara karena mulutnya tertutupi oleh kipasnya.
Matanya pun kembali menatapi Kaito, "Sepertinya dia sudah kabur. Tempat ini benar-benar kosong. Kecuali kita di sini." Lelaki itu menoleh ke arah kedua remaja tersebut, "Kalian, minta maaflah pada Tuan Shion."
Kedua remaja itu langsung menunduk dan berbicara secara bersamaan, "Maafkan kami."
Kaito pun menghela nafasnya dan terlihat kecewa, "Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu." Dia bergumam, "Kukira aku bisa menangkapnya."
Lelaki itu pun menarik kipasnya dari wajahnya, Kaito bisa melihat wajah lelaki itu seluruhnya. Lelaki itu sangat tampan, membuat Kaito merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Bukan itu pula, badannya yang tinggi dan gagah pun membuat Kaito merasa kecil di hadapannya.
"Sepertinya ini memang kesalahan pekerjaku." Lelaki itu menyulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "Namaku Kamui Gakupo. Aku pemilik teater Wageki ini. Sebagai ucapan maaf kami, aku akan membantumu mencari orang yang kau incar."
Meskipun lelaki bernama Kamui Gakupo itu tersenyum, Kaito masih merasa terintimidasi olehnya. Akhirnya dia pun membalas jabatan tangannya. "Te—terima kasih."
Tak lama kemudian, anggota Jiyuutori datang ke teater Wageki dan memeriksa tempat tersebut. Berbeda dengan seragam milik Kaito yang berwarna biru navy dengan lambang burung Phoenix berwarna hitam di punggungnya, seragam anak buahnya berwarna hitam dengan lambangnya yang berwarna biru navy. Kaito masih berbicara dengan anak buahnya, sedangkan Gakupo menatapinya dari jauh dengan kipasnya yang menutupi sebagian wajahnya.
Lalu, seorang anggota Jiyuutori menghampiri Gakupo, "Maaf." Ucapnya, "Apakah aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja." Jawab Gakupo yang sepertinya tidak memiliki niat untuk melepaskan kipasnya dari wajahnya.
"Di mana anda saat Komandan Shion masuk ke tempat ini?" Tanyanya.
"Aku tidak tahu kapan dia datang, tapi aku sedang berbicara dengan pemain utama untuk drama hari ini." Jawab Gakupo dengan dingin. "Kau bisa tanyakan Megumi, dia adalah peran utama hari ini."
Wajah anggota itu memerah, "Megumi? Megumi yang itu? Sang Gumi? Anda kenal dengannya? Apakah aku bisa bertemu dengannya? Aku penggemarnya."
"Hei!" Kaito menarik anak buahnya yang mulai kehilangan kendali, "Berhentilah menanyakan hal yang tidak penting. Kembali ke tempat seniormu."
"Dimengerti!" Anak buah Kaito pun lari dengan wajahnya yang memerah menuju ke arah seniornya yang masih menggeledah tempat itu.
"Maaf. Dia masih baru." Ucap Kaito dengan nada yang agak malu.
"Tidak apa-apa. Gumi memang salah satu aktris terbaikku." Gakupo tersenyum.
"Sepertinya lelaki itu memang sudah kabur saat keadaan mulai ricuh." Kaito melihat ke sekelilingnya, "Tidak ada tanda apapun di sini. Sepertinya tempat ini sudah bisa dibilang bersih."
"Tapi tetap saja, anak buahku membuatmu kehilangan orang yang kau cari." Gakupo masih menatapi Kaito, "Sesuai janjiku. Aku akan membantumu mencari anggota Kamitsumi tersebut."
"Sebenarnya kau tidak perlu sejauh itu untuk meminta maaf, tapi..." Kaito tidak bisa menolaknya, "Baiklah."
Keesokan harinya, Kaito membuka peta kota Otobashi dan mulai mencari kemungkinan rute yang diambil anggota Kamitsumi kemarin.
"Komandan Shion."
Kaito melihat seseorang berdiri di depan mejanya, saat Kaito mengangkat wajahnya, di depannya berdiri anak buahnya yang bernama Yuuma. Berbeda dengan Kaito yang berusaha dengan belajar dan kerja keras untuk menjadi anggota Jiyuutori, Yuuma memiliki bakat sejak lahir dan diterima di pasukan ini dengan mudah.
"Ada apa?" Tanya Kaito.
"Ada tamu." Ucap Yuuma yang terlihat senang. "Kamui Gakupo."
Kaito menoleh dan melihat Gakupo sedang berdiri di samping pintu. Penampilan Gakupo sangat berbeda dengan semalam. Kini dia berpenampilan seperti samurai yang memiliki selera pakaian tinggi. Dan Kaito juga kaget Gakupo membawa 3 katana.
"Si—silakan masuk." Ucap Kaito.
Gakupo pun melangkah masuk dan Yuuma terlihat lebih senang dari biasanya. Kaito menyadari kelakukan Yuuma dan memberikan wajah bingung.
Yuuma sendiri sadar akan tatapan Kaito, "Ah... Tuan Kamui adalah mantan aktor drama teater. Orangtuaku sering membawaku ke teater untuk menontonnya." Dia pun menoleh ke arah Gakupo dengan wajahnya yang bersemangat, "Dan sejak saat itu aku selalu mengagumi anda, Tuan Kamui. Bakat anda sangat tidak ada bandingannya! Dan juga, mohon bantuannya untuk kasus ini!"
"Terima kasih." Ucap Gakupo hangat, berbeda dengan semalam, kini Gakupo terlihat lebih tenang.
"Yuuma." Kaito melirik dengan dingin. "Bisakah kau keluar dulu?"
Yuuma pun menunduk dan meninggalkan tempat itu. Kaito menggeser peta yang dia buka untuk berbicara dengan Gakupo.
"Terima kasih, Tuan Kamui. Anda sebenarnya tidak perlu datang kemari." Ucap Kaito yang mencuri pandang ke arah katana milik Gakupo.
Gakupo tahu Kaito menatapi katana miliknya, dia pun membuka kipasnya dan—lagi—menutup sebagian wajahnya dengan itu, "Dulu, sebagai aktor teater, aku tidak pernah memiliki pengawal. Jadi, sejak pertama kali aku menjadi aktor, aku berlatih melindungi diriku sendiri."
Kaito pun terkekeh canggung, dan merasa pikirannya bisa dibaca oleh Gakupo, "Oh, begitu."
"Apakah ada perkembangan untuk kasus ini?" Tanya Gakupo yang masih menutupi sebagian wajahnya.
"Tidak ada. Sejauh ini masih buntu dan aku belum yakin." Kaito menunjuk sebuah sungai di peta kota Otobashi. "Ada kemungkinan dia meloncat ke sungai ini."
"Hmm..." Gakupo terlihat kagum dengan perkiraan Kaito, "Kenapa begitu?"
"Karena selama aku mengejarnya, dia tidak pernah mengambil jalan mudah." Kaito mengusap salah satu pundaknya, "Kemarin aku melewati gang yang sangat sempit untuk mengejarnya, bukan hanya itu saja, dia juga membuatku bergelantungan di pohon yang mati." Kaito berwajah kesal, "Aku bisa saja memegang ranting yang paling rapuh dan menjatuhkan badanku."
"Apakah kau mau memeriksa sungai ini?" Ucap Gakupo yang melirik ke arah sungai di peta.
"Baiklah. Kita ke sana. Aku akan bersiap-siap." Kaito tersenyum pada Gakupo untuk pertama kalinya.
Sungai yang ada di peta itu bernama Urukawa, sungai itu cukup besar dan airnya mengalir dengan sangat deras. Bebatuannya pun cukup besar. Kaito meloncat ke salah satu batu dan setelah itu tidak ada lagi batu besar yang bisa dia loncati.
Kaito berteriak ke arah Gakupo karena suara aliran sungainya sangat kencang, "Sepertinya dia tidak melewati sungai ini dengan meloncati batu!"
Gakupo tidak menjawab, dia tidak mau mengeluarkan suaranya. Dia hanya mengangguk.
Kaito pun kembali dan meloncat dengan hati-hati. Dia berhenti di depan Gakupo, "Akan bodoh sekali jika lelaki itu berenang melewati sungai ganas ini."
"Mungkin itu yang diinginkan oleh lelaki itu, membuatmu berpikir jika dia tidak berenang menyeberangi sungai ini." Ucap Gakupo. Kini dia menaruh kipasnya dan menoleh ke arah lain. "Dan lagi..."
Kaito mengikuti arah pandang Gakupo, mereka melihat sebuah jembatan kecil yang terguncang aliran deras sungai.
Entah kenapa Kaito merasa bodoh, "Tentu saja dia melewati jembatan kecil bodoh itu."
"Berarti..." Kaito melihat ke sisi lain dari sungai tersebut, "Dia masuk ke hutan itu."
"Bisa saja." Gakupo dan Kaito pun berjalan menuju jembatan kecil tersebut, "Mungkin kita bisa mencarinya ke hutan."
"Eh?" Kaito mengernyit, "Sekarang?"
"Tentu saja. Kenapa harus menunggu besok?" Gakupo menginjakan kakinya ke jembatan kecil tersebut. Dia berjalan dengan pelan dan hati-hati hingga dia bisa melewatinya tanpa tersapu aliran.
Kaito menginjak jembatan tersebut dengan perasaan was-was, dia pun bergumam pada dirinya sendiri, "Jika aku mati karena menyeberangi sungai, kematianku akan terdengar sangat bodoh."
Kaito berjalan dengan pelan, dia kagum melihat Gakupo yang dengan mudahnya melewati jembatan kecil ini tanpa memegang apapun—dan memang jembatan ini tidak memiliki pegangan. Saat melangkahkan kakinya untuk beberapa kali, tiba-tiba sebuah cipratan air yang keras mengenai kaki Kaito dan membuatnya terkejut. Kaito pun mulai panik.
Dari sisi sungai, Gakupo mengernyit dan melangkah maju, "Tenanglah dan—"
Sebelum mendengar kata-kata Gakupo, Kaito pun hilang kendali dan terjatuh ke aliran sungai yang deras. Kaito bukannya tidak bisa berenang, tetapi dia terlalu panik karena tersapu oleh aliran deras sungai ini.
Kaito tidak meminta tolong ataupun berteriak, dia seperti pasrah dan mencoba untuk menggapai sesuatu untuk menahan tubuhnya. Kaito pun merasakan sesuatu yang meraih tangannya. Dia yang sudah hampir tenggelam pun mengangkat tubuhnya sendiri dan melihat apa yang meraihnya. Bukan apa, tapi siapa. Gakupo masuk ke sungai, sebelah tangannya memegang sebuah akar dari pohon yang kuat dan sebelah tangannya lagi meraih Kaito.
Ini pertama kalinya Kaito melihat wajah Gakupo yang mengeluarkan ekspresi tertentu. Gakupo tampak kesusahan, Kaito pun menarik tubuhnya dan mencoba maju ke arah Gakupo.
Dengan gagahnya, Gakupo menarik tangan Kaito hingga mereka bisa tergeletak di samping sungai. Mereka berdua tergeletak dengan nafas yang tidak beraturan.
Kaito bangkit dan menunduk, "Maafkan aku! Dan terima kasih telah menolongku!" Saat Kaito kembali mengangkat wajahnya, Gakupo sudah berdiri dan terlihat sedang memeras bajunya.
"Tidak apa-apa." Ucap Gakupo dingin. Untungnya, Gakupo meninggalkan katana miliknya sebelum masuk ke sungai. "Lebih baik kita bergegas sebelum kita kedinginan."
Kaito pun berdiri dan merasa malu.
Di hutan tersebut, Kaito mencoba mencari jejak kaki. Sedangkan Gakupo hanya berdiri sambil menyandar di sebuah pohon besar. Kaito tidak protes atau apapun, dia tahu Gakupo bukan seorang pasukan khusus, dia hanya seorang pemilik teater terbesar di kota ini dan mantan aktor teater yang mungkin tidak tertarik untuk memecahkan kasus seperti ini. Gakupo sendiri berkata jika dia membantu Kaito hanya karena pekerjanya membuat Kaito kehilangan incarannya.
"Menemukan sesuatu?" Tanya Gakupo yang tampak risih karena dia tidak bisa menutup wajahnya dengan kipasnya—yang basah dan robek karena tersapu air sungai.
"Belum. Aku masih—" Kaito pun menemukan sebuah tanah yang tertekan sesuatu, "Sepertinya aku menemukan sesuatu." Kaito meraba tanah tersebut. "Ini bukan kedalaman tanah yang diinjak. Ini seperti—"
Tiba-tiba, Gakupo menancapkan salah satu katana miliknya yang masih tertutup pelindungnya di samping pandangan Kaito. Dan membuat Kaito terkejut. "I—Ini jejak penutup katana."
Gakupo menarik kembali katana miliknya, "Apakah anggota Kamitsumi itu membawa sebuah katana?"
Kaito berdiri dari tempatnya, "Tidak juga. Dia tidak membawa apa-apa." Kaito menoleh ke sekelilingnya, "Siapa saja yang membawa katana bisa membuat jejak seperti ini."
"Jadi, kita berada di jalan buntu lagi?" Gakupo melirik Kaito.
Meskipun sangat sulit menyatakannya, Kaito tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, "Sepertinya begitu. Hutan ini sangat luas, mungkin aku harus membawa anak buahku kemari."
Sore itu, pasukan Jiyuutori terkejut melihat Kaito dan Gakupo datang dengan keadaan basah kuyup. Setelah berbenah diri—dan Gakupo sempat pulang ke rumahnya, yang menyatu dengan teater Wageki, pasukan Jiyuutori pun datang ke hutan tadi untuk mencari petunjuk atas perintah Kaito.
Setelah beberapa jam, dan matahari mulai terlihat terbenam, tidak ada satupun yang menemukan petunjuk. Kaito terlihat berpikir dan entah kenapa wajahnya terlihat kecewa. Gakupo menatapinya.
Yuuma berbisik kepada Gakupo yang terlihat penasaran apa yang dipikirkan Kaito, "Komandan Shion tidak pernah salah dalam membuat deduksi. Biasanya dia selalu benar pada akhirnya, tapi sepertinya tidak untuk hari ini."
"Apakah dia putus asa?" Tanya Gakupo yang masih menatapi Kaito.
"Entahlah. Sejauh ini dia belum pernah salah." Yuuma menghela nafasnya, "Sebenarnya, dia tidak perlu menekan dirinya sendiri untuk masalah ini, bukannya kami juga berada di pasukan ini untuk alasan yang sama?"
Gakupo menoleh ke arah Yuuma, "Dia memiliki harga diri yang tinggi sepertinya."
Malam pun tiba, pencarian bukti di hutan sudah tidak mungkin. Semua orang kembali ke markas Jiyuutori dan bersiap-siap untuk mencari bukti-bukti esok hari. Gakupo tidak ikut ke markas Jiyuutori karena teater Wageki cukup dekat dengan Urukawa.
Yuuma yang hendak pulang pun melihat Kaito masih berada di ruangannya, menatapi peta dan catatan-catatan berserakan di mejanya.
"Komandan Shion. Sekarang sudah larut, lebih baik anda pulang dan beristirahat." Ucap Yuuma yang terdengar khawatir.
"Tidak apa-apa. Aku akan di sini sebentar lagi. Pulanglah, Yuuma." Balas Kaito yang sama sekali tidak melihat ke arah Yuuma.
Yuuma pun menghela nafasnya, "Tolong jangan memaksakan diri." Yuuma pun meninggalkan ruangan dan pulang ke rumahnya.
Kaito menggeliat dan melihat ke arah jam kayunya. "Jam 2?" Kaito menguap dan menaruh semua catatan-catatannya di laci. Dia berdiri dari mejanya dan hendak meninggalkan ruangan untuk pulang.
Suasana kota sekitar markas Jiyuutori sangat sepi, Kaito hanya melihat dua atau tiga orang melewati jalan malam itu. Tentu saja, siapa yang mau keluar rumah sementara dia kehilangan anggota Kamitsumi.
Rumah Kaito cukup jauh, tempat tinggalnya hampir dekat dengan perbatasan kota. Dia memikirkan untuk mencari sebuah rumah di pusat kota, namun untuk saat ini belum ada yang tersedia. Dia pun berjalan melewati jalan besar, tidak seperti biasanya, dia ingin melewati jalan pusat kota. Bukan karena ingin, tapi mungkin kini dia menemukan sebuah rumah atau tempat sewaan yang kosong. Melewati pusat kota juga berarti melewati teater Wageki.
Berbeda dengan jalan yang dia lewati sebelumnya, jalan pusat kota masih cukup ramai, tidak seramai itu, tapi setidaknya ada beberapa kelompok orang yang berdiri dan duduk di setiap sudut. Bahkan masih ada restoran yang buka.
Kaito melewati teater Wageki dan kini dia mengernyit. "Seharusnya aku masuk seperti pencuri kemarin. Mungkin sekarang anggota Kamitsumi sialan itu sudah ada di ruang tahanan Jiyuutori."
Dari sisi bangunan teater Wageki yang tersudut dan terlihat seperti titik mati, Kaito mendengar suara gesekan sepatu yang tidak beraturan. Kaito pun berjalan pelan-pelan kesana, dia harus hati-hati karena mungkin saja itu adalah anggota Kamitsumi.
Perlahan-lahan, Kaito pun mulai bisa melihat sebuah sosok dari sisi bangunan tersebut yang gelap. Saat Kaito memberanikan dirinya untuk muncul, dia membulatkan matanya dan mengeluarkan sedikit suara kaget.
Di hadapannya, Kaito melihat Gakupo yang sedang merangkul seorang lelaki muda dan menciumnya dengan penuh gairah. Suara lelaki muda yang dirangkul Gakupo mendesah, seakan-akan dia menikmati setiap ciuman yang diberikan.
Gakupo membuka matanya dan perlahan melirik ke arah Kaito dengan matanya yang dingin.
To be continued...
