Chapter 2: 不安 - Uneasy


Pagi itu, Yuuma tiba di markas Jiyuutori. Seperti biasanya, dia selalu datang terlebih dahulu dari siapapun, karena rumahnya tidak jauh dari sana. Saat dia melewati ruangan Kaito, dia melihat bayangan dari sela pintu gesernya. Yuuma pun terkejut, dia langsung berdiri di samping pintu dan bersiap-siap untuk menggerebeknya. Yuuma menggeser pintu dengan sekuat tenaga dan berteriak.

"Diam di tempat! Atau—"

Kaito terbangun dari tidurnya dan bermuka masam. Yuuma menganga dan keheranan kenapa Kaito ada di sini. Yuuma melihat pakaian Kaito, sepertinya dia tidak pulang tadi malam.

"Komandan!" Yuuma menghampiri Kaito, "Jangan bilang kau menghabiskan waktumu berdeduksi di sini semalaman."

Kaito menguap dan menggaruk kepalanya, "Aku sempat berjalan pulang, tapi aku kembali."

Yuuma kebingungan, "Hah? Kenapa?"

"Aku..." Kaito mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun kini wajahnya memerah.


Tadi malam.

Kaito berjalan mundur dengan wajahnya yang canggung dan panik, "Maafkan aku. Aku... Aku tidak bermaksud—"

Gakupo melemparkan 2 koin perak ke arah lelaki muda yang diciumnya, dan setelah itu, lelaki muda itu berlari ke arah lain, meninggalkan Gakupo dan Kaito di gang tersebut.

Gakupo tersenyum dan berjalan ke arah Kaito, "Pulang selarut ini, apa kau sibuk dengan pekerjaanmu?"

"I—Iya." Kaito masih tidak bisa bertatapan langsung dengan Gakupo dan dia menunduk untuk menghindari kontak mata, "Aku terlalu sibuk memecahkan kasus ini."

Mereka pun sempat terdiam dalam kesunyian dan berdiri tanpa adanya tanda-tanda untuk pergi dari tempat itu.

Akhirnya, "Hmm..." Seperti biasanya, Gakupo membuka kipasnya, "Kau mau pulang atau tetap berada di sini dan membuang muka?"

Kaito mengangkat wajahnya, terkejut, wajahnya memerah dan dia kembali panik, "A—Aku akan pulang! Selamat malam, Kamui Gakupo!" Kaito pun berlari meninggalkan Gakupo, dan menuju ke arah yang salah.

Gakupo menatapi Kaito dari jauh dan bergumam, "Kau mau kembali ke markas Jiyuutori?"

Kembali ke markas Jiyuutori, Kaito tidak bisa mengatakan apa yang dia lihat tadi malam, "Aku... lelah untuk berjalan pulang. Rumahku sangat jauh, Yuuma."

Yuuma terkekeh dengan perasaan aneh, "Kau biasanya tidak punya masalah bekerja hingga larut malam dan pulang setelahnya."

Kaito berdiri dan menggeliat, "Benarkah? Aku tidak ingin pulang tadi malam, jadi aku kembali. Kau punya masalah dengan itu?" Kaito menoleh ke arah Yuuma.

"Tidak juga." Yuuma mengangkat bahunya sambil tersenyum, "Hanya saja, anda biasanya selalu pulang meskipun dalam keadaan apapun."

"Aku akan pulang." Ucap Kaito dengan santai.

"Eh?!" Yuuma terkejut, "Tapi, bukannya kita ada kasus yang harus dipecahkan?"

"Tenang saja." Kaito melewati Yuuma, berjalan menuju pintu, "Aku akan kembali nanti siang."


Akhirnya, Kaito pulang ke jalan biasanya, dia menyesal melewati jalan kota tadi malam dan harus melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat. Di sepanjang jalannya menuju ke rumah, Kaito berbicara pada dirinya sendiri.

"Aku tidak tahu Kamui Gakupo menyukai laki-laki. Tapi, tunggu dulu. Kemarin dia memberikan uang kepada lelaki muda itu, apa itu cuma hasrat sementara? Apa dia menyukai lelaki dan perempuan? Apa itu hal yang memungkinkan? Kalau begitu, selama menjadi aktor teater, apa dia pernah berhubungan dengan lelaki atau perempuan? Aku tidak tertarik pada dunia hiburan, jadi aku tidak terlalu memerhatikan. Mungkin kehidupan aktor dan aktris cukup membingungkan. Tunggu dulu, apa Kamui Gakupo memiliki kekasih saat ini? Jika iya, apa pasangannya tahu apa yang dia lakukan tadi malam?"

Kaito pun berhenti berjalan. Dia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya dan menghela nafas yang panjang, "Apa yang aku pikirkan?"

"Oh!" Ada suara gadis dari belakang Kaito, "Komandan Shion!"

Kaito tahu suara ini, suara yang menghentikannya saat dia berusaha menangkap salah satu anggota Kamitsumi, Kaito pun membalik badannya dan melihat 2 pekerja Kamui Gakupo yang menggagalkannya kemarin lusa.

Mereka berlari menghampiri Kaito dengan senyuman yang lebar, gadis itu membungkuk, "Selamat pagi!" Dia melihat wajah Kaito yang berantakan, "Wow, kau tampak mengerikan."

Kaito tidak percaya, dia akan dihina oleh anak remaja sepagi ini. Kaito tertawa secara terpaksa dan hanya ingin pergi dari kedua anak remaja ini.

"Ngomong-ngomong, kami belum memperkenalkan diri." Ucap gadis remaja tersebut, "Namaku Rin. Kagamine Rin, dan ini adik kembarku, Kagamine Len."

Anak remaja lelaki itu membungkuk, "Kagamine Len." dan bangkit kembali dengan wajah datarnya.

"Oh, baiklah." Kaito tidak ingin berbicara dengan kedua anak ini, dia ingin berlari dan pergi dari hadapan mereka. Bukan karena mereka menggagalkan dirinya untuk menangkap anggota Kamitsumi, tapi memang karena dia kelelahan, ingin mengganti seluruh pakaiannya yang sudah tidak nyaman untuk dipakai, dan mungkin berendam di air panas. "Aku... akan pulang dulu. Aku belum sempat membersihkan diriku sejak kemarin."

Rin terkejut, "Kau bermalam di markas Jiyuutori?" Rin mengernyit, "Tapi bukannya rumahmu jauh sekali, Tuan Shion? Aku dengar dari orang-orang di pertokoan."

Len menoleh ke sebuah jalan pintas, "Jika kita melewati jalan ini, kita bisa sampai ke Wageki dalam hitungan menit. Kau bisa menggunakan kamar mandi kami."

"Apa?!" Kaito begitu takut mendengar kata Wageki saat ini—lebih tepatnya setelah kejadian tadi malam, membuat Rin dan Len bertanya-tanya apa yang terjadi pada Kaito, "A—Aku akan pulang."

"Anda yakin?" Tanya Len dengan kepalanya yang dia miringkan dan wajahnya penuh curiga.

"Yakin sekali." Kaito tegas.

"Baiklah." Rin pun menarik tangan Kaito dengan paksa, begitu pula Len. "Kau bisa pulang setelah kami bisa menebus kesalahan kami."

Rin dan Len ternyata cukup kuat dan mereka bisa menarik Kaito dengan sekali tarik, "Kamar mandi pekerja di Wageki sangat besar." Ucap Len.

Kaito masih terseret dengan paksa, dia mencoba menarik badannya sendiri, namun dia terlalu lelah untuk melawan, "Hei, lepaskan aku! Aku mau pulang!"

"Kita tidak boleh membiarkan Komandan Shion mandi di kamar mandi pekerja, bodoh. Dia adalah tamu terhormat." Rin yang masih menarik tangan Kaito pun berpikir, "Bagaimana dengan kamar mandi di samping kamar tamu? Yang selalu dipakai Tuan Kamui saat dia menggunakan kamar pribadi keduanya?"

Lebih buruk, menurut Kaito. Dia tidak mau bertemu dengan Gakupo saat ini karena kejadian tadi malam. Akhirnya, Kaito berteriak dalam batinnya, sementara kedua bocah ini menariknya dengan paksa.


Mereka sampai di pintu belakang Wageki, tidak semegah pintu depannya, pintu belakangnya cukup menyedihkan. Mungkin juga karena ini adalah jalan khusus untuk para pekerja. Kaito terlihat celingukan, seperti mencari seseorang.

"Anda mencari Tuan Kamui?" Tanya Rin tiba-tiba.

"Hmm?" Kaito terkejut dengan senyuman canggungnya, "Tidak juga. Aku hanya... melihat-lihat."

"Tuan Kamui belum bangun." Ucap Len, "Biasanya dia bangun pukul 9 pagi ke atas. Dia bukan tipe orang yang menyambut matahari terbit."

"Oh..." Kaito merasa lega, mungkin dia bisa menghindari Gakupo saat ini. Tapi dia merasa harus cepat karena jika dia terlalu santai, Gakupo bisa bangun lebih awal.

Rin pun membuka pintu kamar mandi tamu, ternyata benar, kamar mandi itu sangat besar dan mewah. Kaito tidak pernah melihat kamar mandi seperti ini, kamar mandi di rumahnya tampak seperti tempat becek yang kecil dan lembab. Tempat ini seperti kamar mandi pribadi di sebuah onsen.

"Silakan, nikmati air hangatnya." Ucap Rin, "Kami selalu menyiapkan air panas terlebih dahulu jika ada tamu, mungkin anda bisa menggunakannya dulu."

"Kalian punya tamu?" Tanya Kaito.

Rin dan Len sempat terdiam dan saling melirik dengan wajah was-was, lalu Rin tersenyum ke arah Kaito, "Iya. Tapi tidak usah khawatir, tamu kami masih di kamarnya." Rin dan Len pun keluar dari kamar mandi.

Kaito pun mulai membuka pakaiannya dan berendam di bak mandi yang sangat besar.


Tak lama kemudian, Kaito keluar dengan tubuh yang terasa segar. Seragamnya tidak ada di keranjang—mungkin sedang dibersihkan oleh Rin dan Len, jadi dia menggunakan pakaian sementara yang disediakan oleh mereka.

Begitu keluar dari pintu kamar mandi, dia benar-benar lupa di mana pintu keluarnya. Tempat ini sangat besar dan lorongnya pun sangat panjang. Sejauh matanya memandang, dia hanya melihat jajaran pintu shouji. Kaito pun berjalan dan mencoba mencari Rin dan Len. Pintu-pintu geser tersebut tampak tertutup dan dia tidak tahu ruangan-ruangan apa yang ada di balik pintu tersebut.

Ketika sampai di ujung lorong, ada pintu geser yang sedikit terbuka, Kaito berpikir mungkin itu jalan keluar. Saat dia melihat ke sela pintu, dia melihat punggung yang telanjang. Dia pun terkejut dan mencoba untuk tidak mengeluarkan suara. Kaito tahu punggung siapa itu, dengan rambutnya yang panjang dan mulus, itu sudah pasti punggung Kamui Gakupo. Dia baru tahu jika Gakupo selalu tertidur tanpa pakaian.

Tubuh belakang Gakupo begitu sigap dan gagah. Sebagai Komandan Jiyuutori, Kaito sama sekali tidak memiliki tubuh seperti itu. Saat Kaito mencoba menghindar dari pintu, dari samping Gakupo, terlihat seorang lelaki muda bangkit dari tidurnya—dan juga telanjang. Lelaki muda itu berbeda dari yang semalam.

Lelaki muda itu tampak terlihat pusing dan mencoba membangunkan Gakupo dengan membelai pundaknya. Gakupo pun bergerak dari tidurnya. Kaito tidak bisa melihat wajah Gakupo karena dia masih membelakangi pintu. Tanpa ingin melihat lagi, Kaito pun berjalan pergi dari tempat itu.


Kaito menemukan pintu keluar. Dia melihat Rin dan Len sedang mengeringkan seragam Kaito dengan cara dikibaskan dekat api.

"Apa yang kalian lakukan?!" Kaito pun mulai panik.

"Tenang. Kami sering melakukan ini agar pakaian kami cepat kering." Ucap Rin dengan santainya.

Kaito menarik seragamnya dari tangan mereka, "Kalian, jika kalian mengeringkannya dengan jarak sedekat itu, pakaian ini akan terbakar."

Len menoleh ke arah Rin. "Apakah seragam Jiyuutori dibuat dari bahan yang mudah terbakar? Entah kenapa terkesan murahan."

"Apa?!" Kaito tidak menerima seragam kebanggaannya dihina, "Dengar ya, semahal apapun kainnya, jika kalian menaruhnya sedekat itu dengan api, tetap saja akan terbakar!"

"Pantas saja celanamu terbakar kemarin, Len." Kini Rin dan Len tertawa satu sama lain.

Kaito pun menghela nafasnya dan mencoba merapikan bajunya yang sepertinya sudah hampir kering. Dia pun membalik badannya dan melihat pintu keluar, merasa tidak nyaman, dia pun meminta ruangan lain untuk ganti baju.

"Kenapa?" Tanya Rin, "Ruangannya terlalu sempit?"

"Tidak juga." Kaito pun beralasan, "Aku hanya ingin mengganti pakaianku di tempat yang dekat dengan pintu keluar, aku harus segera kembali ke markas Jiyuutori."

"Baiklah." Ucap Len yang lalu berlari ke arah tiang bambu jemuran.

Dengan mudahnya, Len mengangkat tiang bambu tersebut. Rin pun mengerti apa yang dilakukan oleh Len dan akhirnya ikut membantu. Mereka membuat tiang bambu itu berjajar membentuk kotak dan tertutupi oleh seprai di setiap sisinya. Len menarik salah satu seprainya dan mempersilakan Kaito untuk masuk.

"Kami tidak akan mengintip." Ucap Len.

Kaito tidak punya pilihan lain. Dia pun masuk dan mengganti pakaiannya di sana dan dia bisa melihat langit cerah di pagi itu dengan jelas.

Setelah selesai mengganti pakaiannya, Kaito pun bersiap-siap untuk keluar dari pekarangan milik Gakupo. Ketika dia membuka pagar belakang, lelaki muda yang tadi berada di kamar bersama Kaito keluar. Kaito, Rin, dan Len menoleh ke arah lelaki muda itu, lelaki muda itu benar-benar gemulai dan terlihat sangat baik. Wajahnya bersahabat dan suara begitu lembut.

"Selamat pagi." Ucap lelaki muda tersebut. Rin dan Len menyapanya.

Kaito tidak mau tahu dengan kehidupan pribadi orang-orang di Wageki, akhirnya dia pun meninggalkan tempat tanpa disadari oleh mereka.


Kaito tidak langsung kembali ke markas Jiyuutori, dia mampir ke kedai milik sepupunya untuk sarapan gratis. Sepupu Kaito, Meiko, adalah pemilik kedai makan dan minum yang tidak jauh dari pusat kota. Kaito jarang berkunjung ke sana sejak dia menjadi Komandan Jiyuutori.

Meiko adalah wanita yang dermawan dan bersahaja, ia cukup terkenal di daerah itu. Sebagai sepupunya, Kaito tahu sifat asli Meiko. Dia sebenarnya wanita galak yang selalu berkata pedas—mungkin hanya pada Kaito dan orang-orang dekatnya. Saat Kaito masuk ke kedai, dia bisa melihat sepupunya sedang menaruh cangkir teh di salah satu meja pelanggan.

"Mei-chan." Kaito melambaikan tangannya dengan senyuman penuh keterselubungan—ingin makan gratis—di wajahnya, "Sudah lama tidak bertemu."

Meiko tersenyum, lalu masuk begitu saja ke dapur, diikuti oleh Kaito. Saat mereka tiba di dapur, Meiko menghantam kepala Kaito dengan baki kayunya.

"Hampir 2 tahun kau jadi Komandan Jiyuutori, dan terakhir kau berkunjung kemari sekitar 3 bulan yang lalu." Meiko tersenyum sinis, "Apakah Komandan Shion ingin makanan gratis?"

Kaito masih menekuk lututnya sambil memegang kepalanya yang kesakitan, "Mei-chan, kau kejam sekali."

"Apa salahku, hah?" Meiko menendang bokong Kaito, "Kau kemari hanya untuk makanan gratis."

Kaito pun berdiri dengan menahan rasa sakit, "Maaf, maaf. Tapi aku benar-benar sibuk setelah mendapatkan jabatan ini."

Meiko menatap Kaito dengan dingin, "Hmm, sibuk sekali, Komandan Shion. Hingga kau kehilangan salah satu anggota Kamitsumi."

Angin dingin terhembus ke seluruh badan Kaito, "Sepertinya kau tidak perlu merendahkan aku seperti itu, Mei-chan. Kau tahu, aku masih punya perasaan dan harga diri."

"Baiklah." Meiko memutar matanya, "Karena kau bisa saja mati, aku akan memberimu makanan kapanpun kau mau." Kini mata Meiko berapi-api, "Dengan satu syarat."

"Apapun!" Kaito tampak bersemangat kembali.

"Aku dengar kau bekerja sama dengan Kamui Gakupo." Wajah Meiko memerah dan dia tampak girang. Sebaliknya, Kaito merasa jatuh ke dasar jurang mendengar nama itu. "Bawalah dia kemari malam ini dan biarkan dia membeli sake terbaikku!" Meiko tersenyum semangat.

Kaito terdiam dengan senyuman hampanya, "Tapi..."

Meiko kembali menampar Kaito dengan baki kayunya.

"Baiklah! Baikla!" Kaito mencoba menutup seluruh kepalanya dengan tangannya, "Akan aku usahakan!"

"Bagus." Meiko pun menarik sebuah kursi jelek dan meja bekas, "Kau akan makan di sini." Meiko pun pergi mengambil makanan untuk Kaito.

"Ini tidak apa-apa." Kaito tersenyum pasrah, "Yang penting aku bisa makan."


Siang itu, Kaito kembali ke markas Jiyuutori. Suasana di sana cukup menegangkan, Kaito yang baru saja datang, tidak tahu apa yang terjadi. Saat dia masuk ke ruangannya, Yuuma berdiri di sana dan di sampingnya ada seorang lelaki bertubuh tinggi mengenakan seragam Jiyuutori berwarna putih dan lambang Phoenix berwarna emas.

Kaito menganga dan terkejut, "Je—Jenderal Kyo!" Kaito pun membungkuk dan entah kenapa keringat dinginnya mulai keluar.

Kyo pun membalik badannya dan berwajah kecewa, "Apakah ini yang dilakukan oleh Komandan Jiyuutori? Datang sesiang ini dengan santai dan mengabaikan pekerjaannya."

Yuuma menyela dengan suaranya yang pelan, "Ma—maaf, sebenarnya Komandan Shion bergadang di sini untuk memecahkan kasus—"

Kyo melirik Yuuma dengan dingin dan membuatnya berhenti berbicara. Kaito yang masih membungkuk pun tidak berani untuk menatap mata Jenderal-nya.

"Aku berada di kota Yasue kemarin dan mendengar kabar jika kau kehilangan salah satu anggota Kamitsumi." Kyo pun menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tidak karuan dan lebih menjuru ke wajah yang marah. "Aku tidak percaya. Bagaimana kau bisa kehilangannya? Latihan apa yang tidak cukup bagimu, Shion?" Kyo sempat terdiam, lalu matanya merendah dan menatap dingin Kaito, "Sepertinya mengangkat pangkat seseorang hanya karena mereka pintar tidaklah cukup. Seharusnya aku tidak memilih orang yang lemah fisiknya sepertimu."

Perlahan Kaito berdiri, dia menelan ludah dan merasakan cambukkan dari ucapan Kyo. "Saya..."

"Hmm..." Ada suara yang tidak asing datang dari arah pintu. Saat mereka menoleh, mereka melihat Gakupo yang sedang menyandar di sisi pintu, "Sebenarnya, anak buahku yang membuat Komandan Shion kehilangan jejak anggota Kamitsumi yang kalian cari."

Dada Kaito tiba-tiba berdetak cukup kencang, "Ka—Kamui..."

"Kamui Gakupo." Kyo sepertinya mengetahui Gakupo, dia tersenyum dengan sinis, "Apa yang kau lakukan di sini? Ini bukan teater."

Gakupo membuka kipasnya dan menutup setengah wajahnya, "Sepertinya tempat ini seperti panggung teater." Mata Gakupo yang jauh lebih dingin dari biasanya, menatapi Kyo tanpa henti, "Sebuah panggung yang ditata seperti sebuah kantor dan kau sebagai pemeran pengganggu yang dibenci oleh penonton."

Kyo menutup matanya dan terkekeh, "Kau cukup berani sebagai mantan aktor untuk ikut campur dalam urusan militer, Kamui Gakupo."

Gakupo masih menunjukkan mata dinginnya, "Dan kau cukup berani untuk berbicara seperti seorang tirani, meskipun dulu kau tidak pernah melewatkan satu pentas teaterku."

Kyo pun mengernyit, dia adalah penggemar Gakupo saat dia masih aktif sebagai aktor. Kyo pun mendekati Gakupo, tinggi tubuh mereka hampir sama—meskipun Gakupo sebenarnya lebih tinggi. "Aku mendengar kabarnya. Kau melakukan ini untuk menebus kesalahan anak buahmu? Apakah hidupmu separah ini, Kamui Gakupo? Kau dulu seorang aktor ternama, dan kini kau hanyalah orang biasa yang mencampuri urusan orang lain."

Gakupo mengangkat bahunya, "Aku memiliki teater, aku melatih para pemula, aku akan membuka 4 teater di luar kota, dan mungkin aku lebih kaya darimu." Gakupo menatap Kyo dengan dingin, "Aku orang yang bertanggung jawab dan akan melakukan apapun untuk membantu orang lain yang kesusahan karena kesalahanku, atau kesalahan orang yang bersangkutan denganku."

"Aku bisa mengurungmu di penjara, Kamui Gakupo." Kyo tidak mau kalah.

"Karena apa?" Gakupo mengangkat bahunya, "Karena menyakiti perasaanmu?"

Kaito dan Yuuma yang berdiri di antara mereka tidak bisa menahan suasana menenggangkan ini. Mereka ingin keluar dari ruangan ini dan membiarkan 2 orang ini beradu mulut seharian.

Kyo pun berjalan menuju pintu dan kembali mengenakan topinya, "Aku ingin laporanmu sudah ada di markas utama Jiyuutori hingga bulan depan, Shion Kaito. Jika lebih dari itu, kau bisa mengucapkan selamat tinggal pada pekerjaanmu." Kyo pun meninggalkan ruangan.

Kaito membungkuk dengan cepat, "Baik! Akan saya laksanakan!" Lalu Kaito kembali berdiri dengan wajah cemas.

Sesaat, ruangan Kaito begitu sunyi, hingga Yuuma akhirnya terkekeh dan berterima kasih kepada Gakupo.

"Aku tidak percaya, Jenderal Kyo adalah penggemarmu juga." Yuuma tersenyum, "Kami benar-benar berterima kasih." Yuuma menoleh ke arah Kaito, "Iya, 'kan, Komandan Shion?"

Kaito berdiri dengan wajah yang pucat dan sepertinya tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh Yuuma. Akhirnya, Gakupo pun menyuruh Yuuma untuk keluar sebentar agar dia bisa berbicara dengan Kaito. Yuuma pun keluar, meninggalkan Kaito dan Gakupo di sana dengan pintu yang tertutup.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Gakupo.

Tiba-tiba, Kaito berwajah panik dan kakinya lemas hingga dia menekuk lutut. "Tadi benar-benar..." Suara Kaito terputus-putus, "...mengerikan. Aku kira, aku akan kehilangan pekerjaanku."

Gakupo menarik tangan Kaito dengan pelan hingga dia berdiri dengan tegak kembali. Kaito tidak sadar, hingga dia mulai merasakan genggaman tangan Gakupo. Dia pun menarik tangannya dan mulai canggung.

"Te—terima kasih telah membelaku." Kaito menunduk malu dan masih tidak berani menatapi Gakupo. "Aku tidak tahu harus berkata apa tapi—"

"Apa ini karena semalam?" Tiba-tiba Gakupo menyela Kaito.

Kaito langsung mengangkat wajahnya yang masih memerah dan kini dia tidak bisa melepaskan tatapan matanya dari mata dingin Gakupo. "Itu..."

Gakupo melirik ke arah lain dan menghela nafasnya, "Ternyata benar."

"A—Aku tidak akan menghakimimu! Sungguh!" Kaito berbicara terbata-bata dengan tawa kecilnya yang canggung. "Aku tidak akan mengomentari kehidupan pribadimu. Aku juga punya kehidupan pribadi, semua orang punya, jadi kau tidak perlu khawatir."

"Kenapa kau bersikap panik hanya karena masalah ini?" Gakupo mengernyit.

"Eh?" Kaito pun mereda, "Karena..." Kaito benar-benar sadar, dia sebenarnya tidak perlu bersikap panik seperti ini, jika dia memang tidak punya masalah dengan apa yang dilakukan Gakupo, dia seharusnya berkelakuan biasa saja.

"Apakah itu pertama kalinya kau melihat sesama lelaki melakukan hubungan fisik?" Tanya Gakupo dengan santainya.

Namun, wajah Kaito kembali memerah dan dia mengangguk dengan perlahan.

"Kau tidak perlu khawatir." Ucap Gakupo, dia tahu reaksi orang-orang seperti Kaito, "Meskipun kau tidak menyadarinya, kau sebenarnya takut."

"Tapi, aku tidak merasa takut atau apapun!" Kaito membela dirinya dan mencoba untuk tidak menyinggung Gakupo.

"Jika kau tidak mau menyebutnya takut, mungkin kau khawatir." Gakupo melirik Kaito dengan dingin, "Kau khawatir jika suatu saat aku melakukan sesuatu padamu."

Kaito menelan ludahnya, dia tidak pernah berpikir seperti itu, Kaito hanya malu dan mungkin merasa tidak tenang. Dengan tatapan Gakupo yang begitu dingin dan bagaimana dia mencium lelaki muda kemarin dengan penuh gairah.


Tiba-tiba, suara bel kota berbunyi dengan keras. Kaito dan Gakupo langsung keluar dari ruangan dan melihat keadaan di luar. Salah satu anggota Jiyuutori berlari menghampiri Kaito.

"Komandan!" Anak buah Kaito mencoba untuk bernafas dengan teratur, "Urukawa." Dia menelan ludahnya, "Ada mayat anggota Kamitsumi di sungai Urukawa."

Kaito terkejut dan saling bertatapan dengan Gakupo. Akhirnya, sebagian pasukan Jiyuutori pergi menuju Urukawa untuk melihat mayat tersebut.


Cuaca hari ini cukup dingin, air sungai bagaikan air es dan mereka harus telanjang kaki untuk menarik mayat tersebut dari batu besar yang berada di tengah-tengah sungai. Saat mayat itu ditepikan, Kaito mengernyit. Mayat tersebut adalah orang yang dikejar oleh Kaito sebelumnya.

"Apakah dia orangnya?" Tanya Gakupo. Dia menekuk lutut dan membuka masker hitam anggota Kamitsumi tersebut. Mulut lelaki itu berwarna kebiruan. "Sepertinya dia bukan hanya tenggelam."

Kaito ikut menekuk lutut dan merobek pakaian lelaki itu, ada beberapa luka lebam di dadanya. "Apakah dia berkelahi dengan seseorang?" Kaito kembali berdiri, dia berteriak ke arah anak buahnya yang berdiri di sisi lain sungai, "Hei! Carilah sesuatu dari sisi sana! Jika kalian menemukan sebuah jejak, segera beritahu aku!" 4 anak buah Kaito langsung berpencar mencari sebuah petunjuk.

Gakupo berdiri dan mengikuti Kaito yang berjalan mondar-mandir, "Lebih baik kau amankan dulu tubuh ini sebelum—"

Entah dari arah mana, ada sebuah anak panah yang terbang dan menancap di pundak Gakupo hingga menembus tubuhnya. Kaito membalik badannya dan terkejut, "Kamui!"

Darah mulai menetes dari pundak Gakupo, menodai dan melubangi pakaiannya yang mungkin tidak bisa dibeli oleh orang biasa. Gakupo mengernyit dan dia menahan rasa sakitnya. Anak buah Kaito menghampirinya, namun dari arah lain, Gakupo bisa melihat sebuah anak panah terbang ke arah Kaito. Dengan cepat, Gakupo menarik Kaito, memutar badannya untuk melindungi Kaito, lalu panah itu menancap ke punggung Gakupo.

"Kalian!" Kaito mulai geram kepada anak-anak buahnya, "Cepat bawa mayat itu dan tinggalkan tempat ini!" Dia menoleh ke arah Yuuma, "Bantu aku mengangkat Kamui!"

Yuuma berlari ke arah Kaito dan membantunya mengangkat Gakupo, beberapa anak panah mulai kembali bermunculan namun akhirnya mereka bisa menghindarinya. Sebelum kembali ke markas, Kaito menoleh ke arah sisi lain sungai dan khawatir dengan keadaan anak buahnya yang masih berada di sana.


Kaito dan Yuuma sampai di ruang kesehatan markas Jiyuutori, Gakupo tidak bisa dibaringkan karena ada anak panah yang menancap di punggungnya. Dokter pun datang, menyuruh Kaito dan Yuuma untuk memberi jarak.

"Maaf, tapi ini akan sangat menyakitkan." Ucap sang dokter yang mulai mengeluarkan beberapa obat dan kapas yang banyak, "Tarik nafas terlebih dahulu, dan tahan rasa sakitnya selama aku menutup lukamu nanti."

Gakupo mengeluarkan keringat dingin dengan matanya yang menakutkan, Kaito dan Yuuma terdiam, merasa terintimidasi oleh ekspresi yang dikeluarkan oleh Gakupo. Dokter pun membuka seluruh pakaian Gakupo hingga dia telanjang dada. Tubuh Gakupo jauh lebih berotot dari tubuhnya sendiri ataupun beberapa lelaki yang dikenal oleh Kaito, tubuhnya berkeringat dingin dan Kaito kehilangan konsentrasi, melihat sebuah bekas cakaran di punggungnya dan beberapa bulatan merah—cupang—di lehernya. Tapi selain Kaito, tidak ada yang memerhatikan bagian itu.

"Baiklah. Satu... Dua... Tiga!" Dokter pun menarik anak panah tersebut dengan cepat dan darah mulai mengalir deras dari punggung Gakupo.

Gakupo memejamkan matanya dan menggertak giginya, sementara Dokter menutup luka Gakupo dengan kapas yang diberi cairan pembersih luka. Setelah luka di punggung mulai mereda, sang Dokter agak gugup untuk menarik anak panah yang menancap di pundaknya, karena anak panah ini tembus hingga belakang tubuhnya.

"Apa kau bisa melakukannya?" Tanya Kaito khawatir.

Dokter pun menelan ludahnya dan dia sendiri tidak yakin. "Aku... mungkin butuh bantuan untuk ini."

"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Yuuma dengan wajahnya yang panik. "Aku dan Komandan akan membantu!"

"Baiklah." Sang dokter pun menghela nafasnya, menenangkan dirinya. "Aku akan mematahkan kedua ujung anak panah ini dan setelah itu aku bisa menarik sisanya." Dokter pun dengan hati-hati memotong ekor anak panah.

"Tuan Kamui," Dokter menatap Gakupo dengan mata yang ketakutan, "Jika kau merasa sakit, meskipun rasa sakit yang kecil, tolong beritahu aku."

Ekor panah pun berhasil terpotong, kini Dokter akan memotong ujung depan anak panah. Saat dia menyentuh anak panah tersebut, rasa ngilu yang dahsyat mulai menyebar ke seluruh tubuh Gakupo. Gertakan giginya terdengar dengan jelas. Kaito dengan refleks menggenggam tangan Gakupo yang mengepal. Gakupo membuka matanya dan melirik Kaito.

"Maaf!" Dokter pun mulai kembali fokus dengan ujung anah panah.

Kaito melihat lingkar mata Gakupo yang terlihat stres. Tangan Gakupo mengeluarkan keringat dingin, Kaito bisa merasakannya. Gakupo sendiri tidak sadar jika dia menggenggam balik tangan Kaito dengan erat.

Akhirnya, kedua ujung panah pun terpotong. Kini bagian tersulitnya adalah menarik anak panah tersebut dari tubuh Gakupo dan menahan pendarahan yang akan muncul. Yuuma mengambil kain penutup untuk menahan pendarahan nanti, sementara Kaito tetap menggenggam tangan Gakupo. Dokter pun ikut berkeringat.

"Ini akan sangat menyakitkan, Tuan Kamui. Tolong bersabar." Dokter pun meregangkan tangannya, "Aku akan menariknya dengan cepat, karena jika aku menariknya dengan lambat, rasa sakitnya hanya akan terasa lebih menyakitkan."

Gakupo tidak menjawabnya, tapi dia mengangguk dengan pelan. Sang Dokter pun dengan hati-hati memegang sisa anak panah yang menancap di tubuh Gakupo. Seketika, Dokter pun menarik potongan anak panah dengan cepat.

Genggaman tangan Gakupo semakin erat, Kaito pun merasa tangannya seperti remuk. Gakupo bernafas dengan cepat dan tidak beraturan.

"Tutup lukanya dari dua arah!" Teriak Dokter kepada Yuuma.

Yuuma pun menutup luka pundak Gakupo dan darahnya mulai tembus kain tersebut. "Apa yang harus aku lakukan?! Darahnya tidak berhenti mengalir!"

Wajah Gakupo mulai pucat. Sang Dokter pun menumpahan cairan obat ke balik kain yang dipegang oleh Yuuma. Tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi, Gakupo mulai berteriak kesakitan.

Kaito terkejut, dia tidak menyangka akan melihat Gakupo yang seperti ini. Sementara Sang Dokter dan Yuuma kalang kabut untuk menghentikan pendarahan, Kaito terdiam dalam rasa paniknya, dia hanya menatapi Gakupo, mengerutkan alisnya, khawatir jika sesuatu terjadi padanya.

Setelah beberapa botol cairan di tuangkan ke luka Gakupo, pendarahan mulai berkurang. Kini Sang Dokter bisa menutup luka tersebut dengan normal seperti dia menutup luka di punggung Gakupo.

Genggaman tangan Gakupo melemah dan akhirnya terlepas. Kaito menatap ke arah tangannya yang kini memerah karena genggaman Gakupo begitu kuat.


Tak lama kemudian, Kyo kembali. Dia belum pergi terlalu jauh dan dia segera kembali setelah mendengar ada mayat anggota Kamitsumi telah ditemukan di sungai. Dia masuk ke ruangan Kaito dengan rusuh.

"Shion! Apa yang terjadi—"

Kyo melihat Kaito yang merangkul tangannya dan setengah tubuhnya tergeletak ke meja kerjanya.

"Shion." Kyo menghampiri Kaito. "Kau kenapa? Aku juga mendengar jika kau dan sebagian pasukanmu diserang di Urukawa."

Kaito tidak menjawab dan masih menempel ke mejanya seperti anak kecil. Kyo pun merasa kesal dan mendorong kepala Kaito ke atas agar dia bisa melihat wajahnya, "Shion! Kau tidak—"

Kyo terkejut, lingkar mata Kaito menghitam dan dia tampak stres, "Kamui Gakupo... rela terluka hanya untuk menyelamatkanku."


to be continued...