Chapter 3: Leads
"Berhentilah bergerak untuk sesaat, Tuan Kamui!" Rin tampak jengkel, "Kami hanya ingin mengganti perbanmu!"
Len membuka gulungan perban baru yang besar, sementara Rin masih mencoba untuk membuka perban bekas yang masih melilit di tubuh Gakupo.
Gakupo menghela nafasnya dan memutar matanya, "Aku sudah tidak merasa sakit." Ucap Gakupo dengan santainya.
"Tidak sakit bagaimana?!" Rin pun menaikkan suaranya, jengkel. "Kami bisa mendengar suaramu yang mengerang kesakitan setiap malam!"
"Kapan?" Gakupo menyangkal.
Seminggu setelah kejadian di Urukawa, Gakupo masih belum bisa menggerakan lengannya dengan bebas sementara dia dalam masa pengobatan.
Kaito dan Kyo telah menginspeksi tubuh anggota Kamitsumi yang ditemukan di Urukawa. Sejauh ini tidak ada petunjuk yang jelas, selain anggota Kamitsumi ini telah diserang oleh benda tumpul di bagian dadanya, dan diberi sebuah racun yang mematikan setelahnya agar dia mati dengan cepat. Namun, petunjuk tersebut tidak mengarah kemanapun. Setidaknya menurut Kyo, karena Kaito yakin dia masih bisa menemukan lebih.
Kyo kembali ke kota Edo—pada periode Edo, Tokyo bernama Edo. Dia akan melaporkan hal ini kepada Kaisar.
Kaito tidak sempat menjenguk Gakupo, dia terlalu sibuk dengan mayat anggota Kamitsumi dan keberadaan Kyo cukup mengganggu baginya. Namun kini dia bisa pergi mengunjungi Gakupo setelah Kyo kembali ke Edo.
Di depan teater Wageki—yang masih ditutup karena keadaan Gakupo, Kaito mengetuk pintu depan samping khusus tamu sehari-hari dengan cukup lama. Kaito yakin akan sulit mendengar suara ketukan pintu jika tempat ini bahkan lebih besar dari markas Jiyuutori Otobashi. Tak lama kemudian, Rin pun membuka pintu tersebut.
"Oh! Komandan Shion! Maaf telah membuatmu menunggu." Rin tampak senang melihatnya, "Apa anda ingin bertemu dengan Tuan Kamui?"
Kaito tersenyum, "Kuharap aku tidak mengganggunya."
"Tentu saja tidak." Rin mempersilakan Kaito masuk, "Tuan Kamui baru saja selesai memakan sarapannya. Kini dia berada di ruang kerjanya."
Saat Kaito masuk, dia masih kebingungan dengan denah tempat ini. Begitu besar baginya, dia tidak yakin kemana dia harus melangkahkan kakinya. Rin terkekeh lalu menyuruhnya untuk mengikutinya.
Setelah melewati beberapa lorong—dan juga sempat melewati jendela yang langsung mengarah ke tengah-tengah teater, akhirnya mereka sampai di depan pintu ruang kerja Gakupo.
"Aku tidak tahu apa yang dilakukan Tuan Gakupo." Rin terkekeh, "Semenjak tangannya dalam masa perawatan, dia tidak bisa melanjutkan naskah barunya."
Rasa bersalah mulai muncul kembali dalam benak Kaito.
"Rin, kau berbicara dengan siapa?" Terdengar suara Gakupo dari balik pintu.
Mereka terkejut, Rin pun tersenyum, "Tuan Kamui, Komandan Shion telah berkunjung. Dia berdiri di sini bersamaku."
Gakupo sempat terdiam, lalu terdengar suara langkah kaki menghampiri mereka. Pintu pun tergeser, Gakupo berdiri di balik garis pintu, melihat Kaito dan Rin yang sedang menunggu.
"Selamat pagi, Tuan Kamui." Kaito menundukkan kepalanya sedikit.
"Masuklah. Dan, Rin," Gakupo kembali berjalan ke meja kerjanya, "Tinggalkan kami."
Rin pun mendorong tubuh Kaito untuk masuk, lalu dia menutup pintunya kembali dan pergi meninggalkan tempat.
Gakupo duduk di zabuton-nya, melihat Kaito yang berdiri dengan canggung di dekat pintu. "Duduklah." Ucap Gakupo.
Kaito pun duduk. Dia melihat Gakupo yang kembali menarik kuasnya dan mencelupkannya ke batu tinta. Gakupo menyuruhnya duduk, namun dia sendiri terlihat menghiraukannya, dia tahu Gakupo sedang bekerja dengan naskah barunya, Kaito pun menyadari keberadaannya tidak terlalu diharapkan karena Gakupo sedang bekerja.
"Maaf, jika aku mengganggumu, Tuan Kamui." Ucap Kaito dengan suara yang ragu-ragu.
Gakupo yang masih menulis di atas kertasnya, bahkan tidak menatap mata Kaito, "Hmm."
Kaito terdiam, berpikir, ternyata kedatangannya memang mengganggu Gakupo. Perasaan canggung pun muncul.
"Sebenarnya..." Kaito pun kembali berbicara, "Aku ingin mengucapkan terima kasih. Kau sudah menyelamatkanku minggu lalu. Aku tahu aku kurang berhati-hati, dan jujur saja—"
"Kenapa kau berterima kasih?" Ucap Gakupo dingin, dan masih tidak menatapi mata Kaito.
"Karena..." Kaito tercengang, tidak tahu harus menjawab apa, karena dia baru saja mengatakan alasannya.
"Aku menolongmu karena itu sudah seharusnya. Aku menggunakan akal sehatku, Komandan Shion." Gakupo berhenti menulis dan menyimpan kembali kuasnya. Dia menaruh kedua tangannya di meja lalu menahan dagunya dengan sebelah telapak tangannya.
"Katakan padaku, Komandan Shion." Mata Gakupo yang dingin kembali menatapi Kaito. "Jika kau melihat anak panah terbang ke arah salah satu warga sipil, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku..." Kaito menunduk, menghindari kontak mata, "Akan menolongnya. Mungkin menarik tubuhnya, atau mendorongnya. Atau..." Kaito sempat terdiam, lalu menutup matanya dengan kerutan di alisnya, "Menggunakan tubuhku sebagai pelindung bagi warga sipil."
Gakupo pun menghela nafasnya, "Baguslah. Mungkin kau sekarang sadar. Aku menolongmu karena itu sebuah keharusan. Bukan begitu, Komandan Shion?"
Memang masuk akal, bagi Kaito, namun dia merasa kecewa karena alasan yang diberikan oleh Gakupo. Ketika dia dilindungi oleh Gakupo, entah kenapa dia merasa istimewa. Kini dia hanya menunduk dan menyerap alasan yang masuk akal. Kaito berpikir, untuk apa dia merasa istimewa, Gakupo bukanlah siapa-siapa Kaito, selain warga sipil yang bersukarela membantunya dalam kasus yang dia tangani karena kesalahan anak buahnya.
"Kalau begitu..." Kaito pun berdiri dengan senyuman canggungnya, "Aku permisi dulu. Dan..." Kaito tersenyum sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan tersebut. "Semoga lekas sembuh, Tuan Kamui."
Kaito menggeser pintunya dan meninggalkan ruangan kerja Gakupo.
Kembali ke markas Jiyuutori, Kaito mendapatkan sebuah surat dari bagian Analisa Medis tadi pagi. Kaito pun pergi ke ruangannya dan duduk di kursinya. Dia membuka surat tersebut dan di sana tertulis...
Nama racun yang membunuh anggota Kamitsumi di Urukawa adalah racun fatal bernama Mosashi yang menghentikan kerja sistem syaraf dan vital. Pengaruh racun akan lebih efisien jika korban dalam keadaan lemah, stres, dan memiliki luka dalam.
Kaito mengerutkan alisnya, "Berarti anggota Kamitsumi itu dipukul dadanya terlebih dahulu, lalu dia diberi racun Mosashi." Kaito terdiam, lalu berpikir, "Mosashi... Tuan Ganas? Nama racun macam apa ini?"
Beberapa jam kemudian...
"Komandan." Yuuma masuk ke ruangan Kaito, "Tim Analisa Medis telah tiba."
"Biarkan mereka masuk." Ucap Kaito.
Tak lama kemudian, ada 2 anggota Analisa Medis yang masuk ke ruangan Kaito. Meskipun mereka sama-sama bekerja untuk Jiyuutori, anggota medis memiliki seragam yang jauh berbeda—tentu saja. Mereka memakai setelan pakaian tradisional berwarna abu-abu dengan haori panjang berwarna putih dan simbol Jiyuutori berwarna hitam di bagian lengan kanan.
"Komandan Shion," Ucap salah satu dari mereka, lelaki ini mengenakan kacamata dan tersenyum dengan ramah, "Namaku Hiyama Kiyoteru, aku adalah kepala peneliti Analisa Medis Jiyuutori dari Edo." Kiyoteru menoleh ke arah gadis di sampingnya, "Ini adalah wakil kepala peneliti Analisa Medis Jiyuutori, Miki."
Gadis bernama Miki itu tersenyum dan mengangguk.
"Aku mendengar tentangmu." Balas Kaito. "Dan aku terkejut karena kalian mengirim hasil autopsi dengan cepat."
Kiyoteru kembali tersenyum, "Kami memberikan hasil yang cepat karena saat itu kami sedang berada di kota Taishoma."
"Taishoma?" Kaito mengernyit, "Apa yang kalian lakukan di kota kecil seperti Taishoma? Kota itu dekat dengan kota Yasue, 'kan? Jenderal Kyo kebetulan berada di sana saat kami menemukan salah satu mayat anggota Kamitsumi."
Kiyoteru sempat terdiam, dia tampak gelisah lalu melirik ke arah Miki dan akhirnya tersenyum ke arah Kaito, "Sebenarnya, pasukan Jiyuutori kota Yasue telah menemukan 3 anggota Kamitsumi, terluka parah dan hampir tidak bisa disembuhkan. Itulah alasannya Jenderal Kyo, kami, para anggota Analisa Medis dan beberapa dari anggota Kesehatan berada di sana."
"Apakah mereka terluka karena serangan pasukan Jiyuutori?" Kaito masih mengernyit. Dan juga kesal, karena Kyo tidak memberitahunya tentang ini.
"Tidak juga." Jelas Kiyoteru, "Mereka menemukan para anggota Kamitsumi sudah dalam keadaan sekarat, menderita pendarahan dalam. Kami melakukan segala hal agar mereka setidaknya bisa bertahan dan memberikan sebuah keterangan, namun 2 orang anggotanya telah meninggal."
"Bagaimana dengan yang satunya?" Tanya Kaito.
"Masih dalam keadaan tidak sadarkan diri." Kiyoteru menghela nafasnya, "Kami berada di sana selama seminggu lebih dan belum mendapatkan apa-apa."
Kaito masih memiliki banyak pertanyaan, "Apakah kalian akan kembali ke Yasue setelah ini?"
"Kami akan kembali ke Edo. Untuk mengamankan anggota Kamitsumi yang masih belum sadarkan diri." Balas Kiyoteru, "Kami juga membawa semua mayat anggota Kamitsumi yang kami temukan. Dan kami akan membawa mayat yang kau temukan, Komandan Shion."
"Baiklah." Kaito menghela nafas, "Mengenai Mosashi..."
"Oh iya," Kiyoteru menoleh ke arah wakilnya, "Miki."
Miki membuka tasnya dan menarik sebuah botol berisi cairan biru. Dengan hati-hati, Miki menaruhnya di meja Kaito.
"Mosashi." Ucap Kiyoteru, "Racun ini dijual-beli secara ilegal di pasar gelap. Untuk mendapatkan racun ini secara legal, orang tersebut harus memiliki izin khusus dan setidaknya memiliki sertifikat Kedokteran tingkat paling atas."
"Dan kau memiliki salah satu dari 2 kategori tersebut?" Kaito mengangkat bahunya.
Kiyoteru tersenyum, "Aku memiliki keduanya. Izin khusus langsung dari Asosiasi Kedokteran Kekaisaran dan sertifikat Kedokteran Edo."
Kaito mengangguk, terkagum. "Baiklah. Jelaskan lebih detail lagi."
"Sudah jelas Mosashi diedarkan secara ilegal oleh Kamitsumi." Jelas Kiyoteru, "Dan yang mengejutkan adalah, mereka menggunakannya kepada anggota mereka sendiri?"
"Mungkin mereka melakukan kesalahan dan inilah hukumannya." Kaito mulai berpikir, "Kemungkinan anggota Kamitsumi yang mati di Urukawa adalah karena aku hampir mengangkapnya."
"Menurut data yang kami olah, sejauh ini, tidak ada anggota Kamitsumi yang gegabah seperti yang anda temukan." Ucap Kiyoteru, "Bagaimana awal kejadiannya?"
Kaito pun menghela nafasnya, "Baiklah..."
Sekitar 2 minggu yang lalu...
Kaito hendak pulang ke rumahnya setelah jam malam selesai. Seperti biasa, dia mengambil jalan pintas yang sepi. Saat dia melewati sebuah perempatan, dia melihat orang mencurigakan yang sedang menggeledah sebuah toko antik.
Kaito mengira jika itu adalah pencuri biasa, dia pun bersembunyi dan melihat gerak-gerik pencuri tersebut. Saat pencuri itu menoleh, di dada bajunya ada sebuah garis perak dan Kaito mengenal ciri khas tersebut, Kamitsumi.
Dengan perlahan, Kaito mengitari toko antik itu agar dia bisa menyergap anggota Kamitsumi tersebut dari arah dekat. Namun, anggota Kamitsumi itu menyadarinya. Sebelum Kaito bisa menyergapnya, dia berlari dari tempat. Kaito pun berlari mengejarnya.
"Begitulah kejadiannya." Kaito menyilangkan tangannya, "Sebenarnya agak aneh melihat anggota Kamitsumi menerobos masuk ke sebuah toko antik. Apakah sekarang mereka menjual barang-barang antik juga?"
"Kamitsumi bisa melakukan apapun. Asalkan itu adalah hal yang ilegal." Ucap Kiyoteru. "Dan ngomong-ngomong, tentang mayat yang akan kami bawa..."
"Oh iya," Kaito pun menarik secarik kertas dan kuas, "Biar kulihat surat izin kalian terlebih dahulu."
"Baiklah." Kiyoteru pun membuka tasnya dan memberikan surat izin yang disetujui oleh Kyo.
Sore itu, beberapa anggota Jiyuutori sudah pulang. Kaito melihat peta Otobashi dan mengitari sekitar tempat toko antik tersebut. Kaito cukup terkejut karena dia baru sadar jika mereka telah berlari ratusan meter dari toko antik tersebut hingga ke pusat kota.
Seperti yang Kaito katakan, anggota Kamitsumi memang sengaja memilih jalan yang sulit dilewati agar siapapun yang mengejarnya kehilangan jejaknya. Tetapi, Kaito tidak pantang menyerah meskipun dia terjatuh dan terbanting beberapa kali pun saat mengerjanya. Kaito melihat ke arah jalan utama, jalannya tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu panjang.
Akhirnya, Kaito pun memutuskan untuk mendatangi toko antik tersebut.
Setibanya di sisi selatan kota Otobashi, Kaito melihat toko antik tersebut masih buka. Kaito pun masuk dan di sana duduk seorang wanita tua yang hendak meminum tehnya.
"Oh!" Wanita tua itu menyimpan cangkir tehnya dan menghampiri Kaito. "Selamat datang, anak muda. Apa yang bisa aku bantu?"
Kaito tersenyum, "Namaku Shion, aku adalah Komandan Jiyuutori Otobashi. Bisakah aku berbicara dengan anda?"
Wanita tua itu menyuruh Kaito duduk dan dia menuangkan secangkir teh untuknya, "Silakan diminum tehnya. Aku menambahkan sedikit bubuk jahe di dalamnya."
Kaito yang sudah duduk pun menerima teh tersebut dan meminumnya, "Enak sekali. Terima kasih." Kaito menaruh kembali cangkirnya. "Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan."
"Silakan." Jawab wanita tua tersebut.
"Apakah ada hal yang mencurigakan selama 2 minggu kebelakang di toko ini?"
"Hmm..." Wanita tua itu mencoba mengingat, "Setahuku... tidak ada. Meskipun sepertinnya ada yang mencoba mengangkat pintu depan dari jalurnya. Aku bisa merasakan gesekan pintu terasa janggal, tapi lebih dari itu tidak ada keanehan lain."
"Benda antik apa yang paling berharga di sini?" Tanya Kaito, "Yang anda jual dengan harga yang paling mahal."
"Oh," Wanita tua itu berjalan menuju sebuah lemari yang dikunci dengan rapi, dan saat semua kunci terbuka, dia membuka lemari tersebut dan menarik sebuah kotak kecil. "Mungkin ini."
"Apa itu?" Kaito menghampiri wanita tua tersebut.
Wanita tua itu membuka kotak kecil itu dengan kunci khusus, "Ini adalah," Dia menarik sebuah benda yang berkilauan, "Koibara."
Benda yang bernama Koibara itu adalah sebuah permata berbentuk segitiga terbalik yang cukup berat, berbeda dengan permata lainnya, permata ini berwarna merah jambu polos dan sisinya yang berwarna putih kemilau. Wanita tua itu juga menarik sebuah tali perak dari kota tersebut.
"Ini adalah sebuah kalung." Kini wanita tua itu juga terlihat bingung, "Entah sebuah hiasan kepala. Kau tahu, seperti sebuah mahkota?"
"Dari mana anda mendapatkan permata ini?" Tanya Kaito.
"Aku mendapatkan ini dari anak lelakiku. Dia membeli kalung ini dengan harga yang tidak terbayangkan." Wanita tua itu menaruh kembali semuanya ke dalam kotak, "Sejak permata ini tiba di toko ini, banyak orang yang ingin membelinya, tetapi mereka tidak bisa membelinya karena harganya yang terlalu mahal. Mungkin dengan uang tersebut, mereka bisa membeli rumah."
Kaito berpikir, "Boleh aku tahu dari mana dia membeli kalung ini?"
"Aku pernah bertanya, tetapi dia tidak ingin mengatakannya." Wanita tua itu pun kembali mengamankan kotak tersebut dan menguncinya kembali di dalam lemari, "Anakku bahkan pernah berkata, yang bisa membeli permata ini hanyalah orang dari kalangan kelas atas atau orang yang menjualnya sendiri."
"Bisakah aku berbicara dengan anak anda?" Tanya Kaito.
Wanita tua itu terdiam, lalu menoleh ke arah Kaito, "Boleh saja. Tapi anakku sudah tidak ada di sini lagi."
Kaito terkejut, "Di—dia... meninggal?"
"Meninggal?" Wanita tua itu terkekeh, "Dia masih hidup dan sehat. Dia pindah ke Edo bersama keluarganya dan membuka toko antiknya sendiri."
Kaito merasa malu, "Ma—maafkan saya." Lalu, Kaito pun menyadari sesuatu, "Tunggu, kenapa dia tidak membawa permata ini bersamanya jika memang permata ini bisa terjual dengan harga yang tidak masuk akal?"
"Aku tidak tahu." Wanita tua itu tersenyum, "Mungkin dia ingin aku memilikinya."
Malam pun tiba, Kaito berjalan menuju ke rumahnya. Dia masih berpikir, kenapa permata itu ditinggalkan di sana sementara anak dari wanita pemilik toko antik itu bisa menjualnya dengan mudah di Edo—karena banyak keluarga bangsawan dengan uang yang melimpah. Ketika Kaito bertanya siapa nama anak dari wanita pemilik toko antik tersebut, Kaito sama sekali tidak mengenalnya.
Kaito tiba di dekat jembatan pembatas, namun jalan tersebut ditutup karena jembatan yang putus. Kaito terkejut.
"Apa-apaan ini?!"
Lalu, dari arah samping, ada beberapa pekerja yang tiba.
"Seragam Jiyuutori?" Ucap salah satu pekerja tersebut, "Ah, jangan-jangan anda Komandan Shion."
Kaito melihat ke arah jembatan, "Apa yang terjadi di sini?"
"Hujan deras beberapa hari yang lalu membuat tali penahan goyah dan akhirnya ini terjadi." Jawab si pekerja.
"Bagaimana aku melewati sungai ini?" Tanya Kaito.
Si Pekerja tampak berpikir, "Anda bisa memutar ke jalan utama Otobashi, sebelum memasuki kota, ada jembatan pembatas kota."
"Kau gila, aku bisa sampai ke sana dalam beberapa jam." Kaito pun menghela nafasnya, "Sepertinya aku harus menginap di markas lagi."
"Jika anda ingin menunggu, kami bisa menyelesaikan jembatan ini dalam beberapa jam." Pekerja itu terkekeh, "Mungkin."
"Tidak apa-apa. Aku akan kembali ke kota. Aku juga sudah sering menginap di markas." Jawab Kaito, "Baiklah, semoga pekerjaan kalian selesai tepat waktu. Dan hati-hati, cahaya lentera tidak terlalu jelas, jangan terlalu—"
Para pekerja pun tertawa, "Terima kasih atas perhatian anda, Komandan Shion. Tapi kami akan baik-baik saja."
Kaito pun sampai di markas Jiyuutori. Penjaga malam membuka pintu utama untuk Kaito agar dia bisa pergi ke ruangannya. Malam itu suasana sangat sunyi, Kaito bisa mendengar suara langkah kakinya dengan jelas meskipun dia berjalan dengan pelan.
Dia sampai di ruangannya dan menarik bantalan kursi sebagai pengganti bantal kepala. Dia melepaskan seragamnya dan kini hanya mengenakan pakaian putihnya. Kelelahan, Kaito pun langsung terlelap.
Beberapa jam kemudian, Kaito terbangun karena merasa ada angin masuk ke ruangan tersebut. Dia menggigil dan melihat ke arah jendela. Jendelanya sedikit terbuka dan membuat Kaito bingung.
"Aku tidak membuka jendela." Ucapnya dalam hati.
Kaito berdiri dari tidurnya dan pergi ke arah jendela. Saat dia hendak menutup jendela, dia melihat sebuah bayangan hitam berjalan dari samping. Kaito tidak memedulikannya karena mungkin itu adalah para penjaga malam. Namun, saat bayangan itu tampak lebih jelas, itu bukanlah penjaga malam. Pria itu mengenakan pakaian hitam Kamitsumi, bukan hanya satu, namun ada dua. Kaito memutar badannya dan menjauhi jangkauan pandang jendela.
"Dia tidak menutup jendelanya?" Ucap lelaki tersebut. "Dasar bodoh."
"Si bodoh Shion itu ada di sana, 'kan?" Tanya salah satu dari mereka.
Terkejut, Kaito berjalan dengan cepat namun pelan dan kembali ke tempat tidurnya. Dia berkeringat dingin dan memutar badannya agar wajahnya tidak terlihat oleh mereka.
"Lihatlah dia, tidur dengan lelap. Tidak tahu jika kita ada di sini." Lelaki itu pun menutup jendela tersebut.
Meskipun jendela sudah ditutup, Kaito bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Ada kabar baru dari Ketua?"
"Sejauh ini tidak." dia mendesis, "Jujur saja. Keadaan kita semakin tidak jelas. Akhir-akhir ini kita harus membunuh kawan kita sendiri hanya karena Ketua tidak mau ambil risiko."
"Dulu kita sering mendapat masalah seperti ini, tetapi tidak berakhir dengan cara seperti ini."
"Ketua mungkin sudah gila."
Kaito kembali bangkit dari tidurnya. Dia tidak mengerti kenapa anggota Kamitsumi ada di tempat ini dan kemana para penjaga malam pergi. Dia pun menarik kembali seragamnya dan mengambil katana miliknya yang disimpan di lemari khusus.
Dengan pelan, Kaito hendak meninggalkan ruangannya. Dari arah lain, Kaito mendengar suara langkah kaki. Saat Kaito mengintip, dia melihat salah satu penjaga malam. Kaito merasa bingung, kenapa mereka tidak membunyikan lonceng darurat sementara para anggota Kamitsumi berjalan dengan bebasnya di halaman belakang. Kaito mengernyit, dengan gagahnya, dia berdiri di depan para penjaga malam.
"Komandan Shion?" Ucap penjaga malam tersebut. "Kenapa anda terbangun?"
"Ada berapa penjaga malam hari ini?" Kaito berbicara dengan nada dingin.
"6 orang, Komandan." Jawabnya.
"Apa yang kalian lakukan selama ini?" Kaito mengernyit dan kini nadanya terdengar geram.
"Ka—kami sedang patroli, Komandan." Penjaga malam itu tampak ketakutan.
Kaito kembali mengernyit, "Tunggu... siapa namamu?"
Penjaga malam itu masih terlihat ketakutan "Na—namaku? Komandan, aku anggota baru—"
Dari arah belakang, sebuah anak panah menancap di punggung penjaga malam tersebut. Seketika, mulut penjaga malam itu membiru dan tumbang. Kaito melihat sebuah bayangan hitam di ujung lorong, dia berlari mengejar orang tersebut.
Tidak hanya 1 orang, ada 4 orang berlari bersama lelaki yang memegang busur panah. Kaito tidak percaya jika para penjaga malam tersebut adalah anggota Kamitsumi. Kaito merasa bodoh, dan kini dia merasa marah.
"Tunggu!" Kaito berteriak, dia berlari sekuat tenaga mengejar mereka.
Kaito tidak tahu sejauh mana dia berlari, dia juga tidak merasa lelah karena amarahnya yang meluap-luap. Kaito berdiri di dekat perbatasan hutan dan mungkin kehilangan jejak mereka. Semakin marah, Kaito menginjak-injakan kakinya ke tanah dengan keras.
"Sial! Sial! Sial!"
Terkecoh dengan perasaannya sendiri, Kaito tidak sadar selama ini ada orang yang berlari di belakangnya. Sosok di belakang Kaito mendekat dan menusuk panggulnya. Kaito melepaskan katana-nya dan mengibaskannya, namun karena tusukan pisau di panggulnya, Kaito tidak seimbang dan sempoyongan.
Setelah Kaito melemah, dia menahan posisinya dengan katana yang tertancap di tanah dan menopang tubuhnya. "Bodohnya..." Penglihatan Kaito mulai buram dan dia melihat semua anggota Kamitsumi berlari menjauhinya. "Ada enam orang Kamitsumi... Mereka membunuh salah satu temannya... dan aku mengejar empat orang... Dan satu orang lagi..." Kaito akhirnya tergeletak di tanah, "Kenapa orang bodoh sepertiku bisa menjadi seorang Komandan...?" Kaito pun memejamkan matanya dengan perlahan.
"...on."
"...Shion..."
"...Shion...!"
"Shion Kaito!"
Kaito membuka matanya dengan tiba-tiba, dia bernafas dengan cepat dan melihat wajah yang tidak asing baginya. Gakupo mencoba membantu Kaito untuk bangkit, namun dia baru sadar ada sebuah pisau di panggulnya. Darah Kaito mulai menetes ke baju Gakupo yang berwarna ungu polos.
"Aku..." Wajah Kaito sangat pucat karena darah yang terus mengalir dari panggulnya. "Apa yang kau lakukan di sini... Kamui Gakupo...?"
Gakupo mengernyit, "Kau serius menanyakan itu padaku sekarang? Lihatlah kondisimu." Dengan mudahnya, Gakupo mengangkat tubuh Kaito dengan pelan ke pangkuannya. "Jangan banyak bicara atau bergerak, aku akan membawamu ke tempat pengobatan."
Kaito masih penasaran kenapa Gakupo ada di tempat itu. Gakupo berjalan cukup cepat—seperti berlari, namun Kaito tidak merasakan goncangan. Kaito menatapi wajah Gakupo yang dingin dari arah pangkuannya. Selama ini Kaito tidak menyadari jika Gakupo memiliki rahang yang kuat dan jelas. Ini juga pertama kalinya Kaito melihat rambut Gakupo tidak diikat ke atas. Rambut Gakupo terurai, dengan sedikit kedua rambut sampingnya yang terkepang ke belakang rambutnya yang terurai hingga pinggangnya.
"...terima kasih." Ucap Kaito lemah.
Gakupo sempat terdiam, namun akhirnya dia menurunkan pandangannya, "Tidak apa-apa." Jawab Gakupo, yang kembali berjalan dan meneruskan perjalanannya menuju tempat pengobatan.
To be continued...
