Chapter 4: The Silent of A Man Under The New Moon
Seperti dugaan Kaito dan Gakupo, pintu tempat pengobatan sudah tertutup rapat. Kaito yang masih dalam dekapan Gakupo menghela nafasnya, mulutnya sudah terlihat lebih pucat.
"Kau tahu..." Kaito mengerang kesakitan, "Kau bisa menarik pisau ini dan biarkan aku menahannya dengan tanganku... dan mungkin aku bisa menunggu hingga—"
Tidak menghiraukan apa yang Kaito katakan Gakupo menendang pintu tempat pengobatan dengan keras. Kaito terkejut hingga dia menggenggam lengan baju Gakupo dengan erat.
"A—Apa yang kau lakukan?!" Kaito yang merasa kesal mulai merasakan ngilu karena mengeluarkan suara yang cukup keras, "Kau menerobos ke tempat fasilitas umum! Kau—" Kaito mengernyit dan menggertak, menahan rasa sakit di panggulnya. "Kau bisa mendapat hukuman karena ini."
"Siapa?!" Tiba-tiba muncul seorang perawat lelaki yang menginap di sana sambil memegang lentera kecil miliknya, dia terlihat panik.
Perawat itu tampak terkejut melihat keadaan Kaito dan Gakupo. Gakupo dengan dinginnya memangku Kaito, baju bagian bawah Gakupo ternodai oleh darah yang mengalir deras dari panggul Kaito. Sedangkan Kaito sendiri tampak pucat seperti mayat hidup.
"Komandan Shion?!" Perawat itu mengenal Kaito—tentu saja, dia adalah Komandan Jiyutoori. Lalu dia melirik ke arah Gakupo, dia menganga, "Kamui Gakupo?!" dia terkejut—tentu saja, Gakupo adalah mantan aktor teater terkenal dan pengusaha teater terbesar di kota.
Sementara perawat itu mengobati Kaito, Gakupo melepaskan haori panjang miliknya yang ternodai darah Kaito. Gakupo kembali melihat ke arah pakaian di bawah haori-nya, sepertinya terkena darahnya juga. Kaito melirik Gakupo yang menunjukkan wajah dingin saat melihat pakaiannya—yang mungkin tidak terbayangkan harganya—ternodai darah.
"...maaf." Ucap Kaito ke arah Gakupo, "Aku tidak bermaksud—" Tiba-tiba rasa perih muncul dari panggulnya. "Argh!" Kaito mengerang kesakitan.
"Komandan Shion, sudah kubilang jangan banyak bergerak selama aku menutup lukamu." Perawat itu menghela nafasnya dan kembali konsentrasi.
Gakupo melirik ke arah Kaito, "Ini hanya darah. Dan lagi, aku masih memiliki banyak pakaian seperti ini. Tidak usah kau pikirkan."
"Baiklah." Perawat itu mulai menarik perban baru untuk panggul Kaito, dia menoleh ke arah Gakupo, "Untung anda segera membawanya kemari—" Perawat itu tiba-tiba terkejut, "Tuan Kamui! Pundak anda!"
Pundak Gakupo sendiri belum sembuh total dan kini darah merembes ke bajunya. "Oh." Gakupo memutar matanya, "Sepertinya obatnya tidak terlalu kuat untuk menahan jahitanku."
Perawat itu terlihat kebingungan dan tidak tahu harus mengobati siapa dulu. "Tuan Gakupo, anda bisa menahan luka anda dengan cairan di botol berawarna putih itu, sementara aku memasang perban di panggul Komandan Shion."
"Baiklah." Gakupo pun mengikuti arahan perawat tersebut.
Kaito menunduk, dia merasa seperti pembawa sial bagi Gakupo sejak pertama kali mereka bertemu.
"Seharusnya kau tidak perlu menggendongku tadi." Ucap Kaito yang masih menundukkan kepalanya sementara perawat itu menutup luka Kaito. "Kini lukamu semakin parah."
Gakupo menurunkan pakaiannya di bagian lengan kiri dan kini dia setengah telanjang. Dia mengusapkan cairan yang disebutkan oleh perawat itu ke pundaknya. Obat tersebut sepertinya sangat kuat, hingga Gakupo tidak merasakan apa-apa.
"Kau pikir aku mau menemukanmu dengan keadaan seperti itu?" Gakupo masih berwajah dingin, "Bukan hanya kau, jika siapapun yang berada di posisimu, aku pasti akan menolongnya." Gakupo melirik ke arah Kaito dengan dingin, "Sudah kubilang, menolong orang lain itu hal yang wajar, Shion Kaito."
Kaito yang melihat tatapan dingin Gakupo pun terdiam, rasa menyesal semakin menyelimutinya. Dia kembali menunduk dan tidak berani menatap Gakupo.
Akhirnya malam itu, Kaito menginap di sana, begitupula Gakupo—karena perawat itu ingin mengobati Gakupo secara total.
Tidak ada yang tahu jam berapa saat itu. Kaito yang tergeletak di futon-nya membuka matanya dengan perlahan dan menatap pintu geser yang berada di sampingnya. Suara langkah kaki terdengar dari balik pintu. Lalu, pintu pun tergeser dan Gakupo berdiri di sana. Kaito masih setengah sadar, dia juga merasa lemas, dia tidak tahu kenapa Gakupo ke ruangannya.
Gakupo menekuk lututnya dan duduk di samping Kaito yang setengah sadar. "Kaito." Ucap Gakupo dengan suara pelan, namun suaranya begitu dalam.
Kaito terkejut mendengar Gakupo yang memanggil nama kecilnya. "Eh?"
Dengan pelan, Gakupo pun menurunkan kepalanya ke arah kepala Kaito. Dada Kaito berdetak dengan kencang, tidak tahu harus berbuat apa. Kaito bisa merasakan nafas dingin Gakupo di wajahnya. Kaito pun menutup matanya dengan erat, hingga akhirnya dia merasakan bibir Gakupo di bibirnya sendiri. Gakupo menyentuh dagu Kaito dan menariknya ke bawah dengan pelan hingga Kaito membuka mulutnya. Kini Kaito bisa merasakan lidah Gakupo berada di dalam mulutnya. Kaito sama sekali tidak melawan atau mengelak, bukan karena dia dalam keadaan lemah, namun Kaito sendiri tidak ingin menghentikan apa yang dilakukan Gakupo padanya.
Dengan sendirinya, Kaito pun membalas ciuman Gakupo. Begitu dalam, begitu bergairah, membuat kepala Kaito berputar-putar. Kedua tangan Kaito pun memeluk punggung Gakupo, dia bisa merasakan halusnya rambut Gakupo. Sementara Gakupo, mengusapkan kedua tangannya di pinggul Kaito dengan perlahan hingga tubuh Kaito bereaksi dan merasakan setiap sentuhan tersebut merasuki pikirannya. Tubuh Kaito pun mulai sedikit terangkat, dia tidak merasakan sakit di panggulnya.
Kini tangan Gakupo turun ke arah bawah tubuh Kaito. Terkejut, Kaito melepaskan ciumannya dan menatap Gakupo dengan wajah yang memerah. Gakupo menatap Kaito dengan dingin, namun entah kenapa mata itu terlihat hangat bagi Kaito.
"Tenanglah." Gakupo menguburkan wajahnya di samping kepala Kaito dan mencium lehernya, "Kau tahu ini akan terasa memuaskan." Tangan Gakupo semakin turun ke tubuh Kaito.
Kaito mulai merasakan tangan dingin Gakupo di selangkangannya, "Tunggu—" Wajah Kaito memerah dengan hebat dan dia bisa merasakan nafas Gakupo di lehernya, "Ini—terlalu...! Gaku—!"
Kaito membuka matanya dengan cepat. Cahaya mentari pagi menyinari wajahnya yang berkeringat dingin. Dia menatapi langit-langit dan sempat terdiam, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kaito merasa malu dengan apa yang dia mimpikan semalam.
Tak lama kemudian, perawat semalam masuk ke ruangan tersebut dan membawakan Kaito secangkir teh. "Selamat pagi, Komandan Shion." Dia melihat wajah Kaito yang memerah hebat, "A—apa yang terjadi? Apa anda merasa demam?"
"Tidak." Kaito menghela nafasnya dan membuang muka, "Aku hanya..." Kaito tidak ingin membahasnya, "Aku tidak apa-apa."
"Oh?" Perawat itu melihat ke arah jendela yang terbuka, "Maaf, tadi saya membuka jendela untuk udara segar, dan mungkin cahaya matahari langsung menyinari wajah anda."
"Tidak apa-apa." Kaito menghela nafas, lalu dia bergumam, "Jika aku tidak terbangun, mungkin aku akan terbawa lebih jauh oleh mimpiku."
"Silakan diminum." Ucap perawat tersebut. Lalu, Kaito pun menarik cangkirnya dan meminumnya. Perawat itu tersenyum, "Syukurlah anda berdua tidak apa-apa. Tuan Kamui meninggalkan tempat ini sekitar satu jam yang lalu. Dia bilang dia harus mengerjakan sesuatu di teaternya."
"O—Oh, begitu." Tangan Kaito gemetaran begitu mendengar nama Gakupo disebutkan, "Sepertinya aku juga akan pulang." Kaito menaruh cangkirnya yang kini kosong, "Terima kasih."
"Tentu saja." Perawat itu pun mengambil kembali cangkir tehnya dan berdiri dari duduknya, "Jika anda pulang, pastikan anda memakai obat yang saya berikan dan beristirahatlah dengan cukup."
Kaito pun mengangguk. "Terima kasih."
Pagi itu, Kaito sudah merasa baikan. Meskipun panggulnya masih sedikit ngilu. Perawat tersebut menyuruh Kaito untuk tidak melakukan aktivitas fisik yang berlebihan atau jahitan lukanya akan kembali terbuka. Kaito berterima kasih dan hendak pergi ke markas Jiyuutori untuk melaporkan kejadian semalam.
Perjalan dari tempat pengobatan tidak terlalu jauh dari markas Jiyuutori, namun Kaito merasa perjalanannya sangat panjang, karena dia memikirkan apa yang dia impikan semalam. Dia berhenti, wajahnya memerah dan segera menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya.
"Berhentilah mengingat mimpi bodoh itu!" Ucap Kaito dalam hatinya.
Ia pun menghela nafas sambil menutup matanya dan melepaskannya dengan perlahan. Saat di membuka kembali matanya, di depannya berdiri Gakupo bersama si kembar Kagamine. Kaito pun kembali menutup wajahnya.
"Komandan Shion!" Rin berlari ke arahnya, "Bagaimana keadaanmu?"
Len menghampiri Rin, "Sudah jelas dia kesakitan, 'kan?" Len mengangguk, "Selamat pagi, Komandan Shion."
Kaito melepaskan tangannya dari wajahnya dengan perlahan, "Pa—pagi..."
Gakupo berjalan ke arahnya, seperti biasa, Gakupo mengenakan pakaiannya yang kasual namun terkesan mewah. Bahkan Kaito bisa melihat lembutnya haori panjang milik Gakupo yang mungkin berbahan sutra.
"Seperti biasa, kau terlihat bersemangat, Shion Kaito. Bagaimana keadaanmu?" Ucap Gakupo dengan kedua tangannya yang dia lipat ke dalam lengan haori-nya.
"Aku..." Kaito pun melepaskan kedua tangannya dan kini berdiri dengan tegak, "Hanya harus mengurangi aktivitas berlebih."
"Syukurlah." Rin tersenyum.
"Ngomong-ngomong." Kaito melirik Gakupo, "Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Apa itu?" Gakupo bernada dingin.
Kaito melupakan apa yang dia mimpikan semalam dan kini dia lebih fokus dengan apa yang harus dia lakukan sebagai Komandan Jiyuutori, "Kenapa semalam kau ada di perbatasan hutan? Sendirian."
Rin masih tersenyum dan dengan semangat menoleh ke arah Kaito, "Setiap malam Bulan Baru, Tuan Kamui selalu—"
"Aku tidak bertanya padamu, Kagamine." Kaito melirik Rin sambil mengernyit.
Rin pun terdiam dan kini berwajah dingin—bagaikan ada sisi lain dari kepribadian Rin, ini pertama kalinya Kaito melihat raut wajah Rin yang seperti ini. Saat Kaito menoleh ke arah Len, dia juga memberikan wajah yang sama. Kaito merasa melewati batas. Dia pun kembali menatap ke arah Gakupo.
Sebaliknya, Gakupo yang selalu berwajah dingin, tersenyum, "Seperti yang akan dikatakan Rin. Setiap malam Bulan Baru, aku selalu mengunjungi danau Mizuiro di dalam hutan."
"Untuk alasan apa?" Kaito masih bertanya.
Gakupo terdiam, wajahnya kembali dingin. Namun, kini Rin dan Len berdiri di depan Gakupo. Rin tersenyum dengan lebar.
"Anda sendiri kenapa ada di perbatasan hutan?" Tanya Rin.
Kaito menghela nafasnya, "Aku sedang mengejar anggota Kamitsumi."
Rin dan Len menganga, lalu mereka saling melirik dengan wajah terkejut.
"Sepertinya kau kehilangan mereka lagi, Shion Kaito." Ucap Gakupo.
Kaito mengernyit dan memutar matanya, "Tentu saja. Karena ada satu anggota lain yang menusuk pisaunya ke panggulku."
Len menoleh ke arah Kaito, "Sepertinya anda harus mulai bekerja sama dengan para anggota Jiyuutori yang lainnya. Mereka juga memiliki misi yang sama. Setidaknya jangan lupakan mereka hanya karena anda ingin berkerja sendiri."
"Len!" Rin memukul kepala Len. Rin pun membungkuk, "Maafkan adikku, Komandan Shion."
"Tidak apa-apa." Kaito tidak tersenyum ataupun mengeluarkan ekspresi kesal, dia hanya berdiri dengan wajah kosong. Seperti dia diselimuti rasa bersalah.
Rin dan Len pun mulai berjalan pergi. Sementara Gakupo masih berdiri di depan Kaito.
"Maaf." Kaito mengernyit, "Tapi aku butuh alasan yang kuat, atau kau akan ada di dalam catatanku untuk daftar tersangka yang dicurigai, Tuan Kamui."
Gakupo akhirnya mengeluarkan kipasnya lagi dan menutup setengah wajahnya, "Kau tahu apa yang ada di sisi danau Mizuiro?"
Kaito tidak sering ke sana, danau Mizuiro hampir tidak sering dikunjungi oleh orang lain karena jaraknya yang jauh dari kota ataupun tepi desa, tetapi dia tahu satu hal yang mencolok di sana. "Pohon Wisteria ungu?"
"Aku ke sana karena itu." Jawab Gakupo.
"Pohon Wisteria?" Kaito terlihat kebingungan, "Kenapa? Ada apa dengan pohon itu?"
Mata Gakupo dengan tajamnya melirik ke arah lain, "Aku ke sana hanya untuk melihatnya."
Kaito terdiam, lalu tenggelam dalam kebingungan. Bertanya-tanya kenapa Gakupo pergi ke sana, untuk apa Gakupo berjalan sangat jauh hanya untuk melihat pohon tersebut.
"Baiklah..." Kaito mengernyit, "Adakah yang bisa memberikan saksi untuk itu?"
"Kau bisa menanyakan seluruh pekerjaku di teater." Jawab Gakupo dingin, lalu dia menutup kipas dan berjalan meninggalkan Kaito. Saat Gakupo berjalan di sisi samping Kaito, Gakupo berbicara dengan suara pelan, "Kusarankan mulai saat ini kau tidak pergi sendirian, Shion Kaito." Akhirnya Gakupo pun berjalan meninggalkan Kaito.
Kaito pun tiba di gerbang Jiyuutori. Dari pintu utama, dia melihat Yuuma berlari ke arahnya. Terengah-engah, Yuuma berwajah panik.
"Komandan Shion!" Yuuma pun mencoba untuk tidak panik, "Para penjaga malam..."
"Aku tahu." Kaito memiliki firasat jika anggota Kamitsumi telah melakukan sesuatu pada para penjaga malam. "Semalam aku ada di sini."
"Eh?" Yuuma terkejut, "Bagaimana anda bisa keluar dari sini?"
"Aku berlari mengejar mereka hingga perbatasan hutan." Kaito mengusap panggulnya, "Tapi sepertinya aku terlalu gegabah dan ceroboh untuk mengejar mereka sendirian."
"Bagaimana dengan lukanya?" Yuuma terlihat khawatir.
"Itu..." Kaito sempat terdiam, "...Kamui Gakupo menolongku dan membawaku ke tempat pengobatan."
Kaito dan Yuuma sampai di halaman belakang dan mereka melihat lima mayat yang tertutupi kain. Kaito menelan ludahnya, dia masih tidak percaya jika semalam dia masih berbicara dengan salah satu dari mereka. Kaito pun sadar, hanya ada lima mayat yang tergeletak dan selalu ada enam penjaga malam.
"Di mana satu lagi?" Tanya Kaito.
"Dia masih terlihat syok. Dia berada di tempat istirahat, tampaknya para anggota Kamitsumi telah melukainya cukup parah. Tapi tidak usah khawatir, tim medis sudah mengobatinya." Jawab Yuuma.
"Bagaimana dia masih selamat?" Kaito pun memutar badannya dan hendak berjalan ke ruang istirahat.
Yuuma mengikutinya, "Tubuhnya diikat dan dia dikurung di gudang penyimpanan. Dan..." Yuuma tampak cemas, "Mungkin ada beberapa senjata yang hilang dari sana."
Kaito menutup matanya dan kerutan alisnya begitu dalam seakan-akan Kaito menghadapi hal yang tidak kunjung selesai.
"Tetapi, kami menemukan salah satu mayat anggota Kamitsumi di lorong dekat ruangan anda." Ucap Yuuma.
"Iya..." Kaito mengernyit, "Saat dia mencoba menyerangku, teman-temannya menembak anak panah ke arahnya."
Di ruang isrtirahat, Kaito berbicara dengan penjaga malam yang selamat.
Wajah penjaga malam itu bagaikan termakan mimpi buruk, "Maafkan saya, Komandan. Saya—"
Kaito menepuk pundaknya, "Tidak usah khawatir. Kau selamat, syukuri itu."
"Mereka muncul secara tiba-tiba beberapa jam setelah anda tiba." Penjaga malam itu menutup matanya, "Mereka begitu senyap, bahkan kami tidak menyadari sesuatu. Saat itu aku ada di gerbang samping. Mereka menarik kakiku dan langsung menutup mulutku dengan semacam kain lengket. Dan di saat yang bersamaan, anggota Kamitsumi yang lainnya mengikat seluruh tubuhku."
"Lalu... mereka membawamu ke gudang penyimpanan?" Kaito mengernyit.
"Mereka..." Penjaga malam itu mengusap keningnya dengan wajah stres, "Mulai menyakitiku. Awalnya mereka hanya memukulku, namun begitu mereka tahu jika itu adalah gudang penyimpanan senajata, mereka mulai memakai katana untuk patroli padaku." Penjaga malam itu membuka lengan bajunya dan memperlihatkan luka-luka sayatan.
Kaito kembali menutup lengan baju penjaga malam itu, "Apakah mereka mengatakan sesuatu saat itu?"
"Mereka bagaikan orang bisu. Saat salah satu dari mereka menemukan katana, mereka hanya saling mengangguk."
Kaito berdiri di sebuah podium kayu. Di hadapannya berjajar para pasukan Jiyuutori. Kaito tampak geram dan kesal.
"Ini bukanlah kasus biasa yang kita tangani. Kamitsumi pun kini sudah mulai lebih berani muncul di hadapan umum. Mereka lebih sadis dan lebih tak kenal ampun, bahkan pada anggotanya sendiri." Mata Kaito berapi-api. "Jika tanda-tanda ini adalah sebuah pesan untuk kita lebih tegas dan keras, maka mereka akan mendapatkannya!"
Seluruh pasukan pun bersorak dan termotivasi oleh ucapan Kaito.
Kaito memerintahkan semua pasukan Jiyuutori untuk menyebar luas di setiap sudut kota Otobashi. Markas Jiyuutori dilindungi oleh para penjaga malam dan Pasukan Kedua Jiyuutori, sedangkan Kaito menyuruh setiap anggota Pasukan Pertama Jiyuutori memimpin di setiap pos Jiyuutori kota. Sore itu, Kaito menerima pesan dari Kyo yang kini berada di Edo. Kaito merasa kesal dengan pesan yang dikirim oleh Jenderalnya.
Aku mendengar keadaanmu di Otobashi. Aku tahu kau ingin melindungi kotamu, tetapi jangan melakukan hal yang bodoh sebelum aku sampai di sana.
Kaito bergumam, dia kesal, seakan-akan Kyo menyuruh Kaito untuk diam sementara keadaan kota semakin memburuk. Jabatannya sebagai Komandan tidak ada artinya di mata Kyo.
Malam itu, Kaito yang sudah sangat kelelahan—karena keadaan semalam pula—akhirnya memutuskan untuk pulang. Yuuma menyuruhnya untuk beristirahat.
Saat berjalan pulang, Kaito yang melewati pusat kota, melihat selembaran yang tersebar di hampir seluruh kota. Kaito mengambil salah satu selembaran kertas di tanah dan di kertas itu terdapat ilustrasi seorang samurai dengan gambaran mata yang tidak asing di mata Kaito. Ilustrasi itu seperti menunjukkan sosok seorang samurai yang kesepian namun menutupinya dengan kekerasan.
Kaito pun melihat tulisan di bawahnya, Kaito bergumam membacanya, "Saksikan penampilan mantan aktor, Kamui Gakupo, yang akan kembali tampil untuk malam khusus di Bulan Baru.新月の下の男の沈黙 (Shingetsu no Shita no Otoko no Chinmoku/Kesunyian Seorang Lelaki di Bawah Bulan Baru) di Teater Wageki, malam ketiga bulan baru."
Kaito mengernyit, dia terlihat bingung dan berpikir bagaimana Kamui Gakupo bisa melakukan pentas di saat seperti ini—masa ricuh Kamitsumi yang sedang menyebar di semua tempat.
Tanpa sadar, Kaito kini berdiri di depan teater Wageki sambil memegang selembaran yang dia bawa. Saat menoleh ke arah teater, dia melihat Len yang sedang membagikan selembaran yang sama.
"Sepertinya kau terlihat sibuk." Ucap Kaito tiba-tiba, dia pun menghampiri Len.
Len sempat terkejut, lalu dia tersenyum, "Komandan Shion, selamat malam." Dia sempat menyerahkan selembaran yang dia bagikan namun dia melihat selembaran itu di tangan Kaito, "Oh, anda sudah memilikinya."
"Ini?" Kaito mengangkat tangannya yang memegang selembaran tersebut. "Baiklah." Kaito menurunkan tangannya, lalu kini wajahnya terlihat tidak senang, "Apa kau mendengar status siaga dari pasukan Jiyuutori?"
Len hanya tersenyum-senyum dengan wajah polosnya, "Ah... iya. Sepertinya merepotkan."
Kaito pun tersenyum namun dengan perasaan kesal, "Baiklah. Sepertinya kau tidak mengerti artinya. Itu artinya, kalian harus berada di dalam rumah, dengan aman, setelah matahari terbenam, atau para Kamitsumi dengan mudahnya akan menyerang kalian."
Wajah Len terlihat malas, "Yang benar saja. Kami hanya menawarkan hiburan seni. Kami tidak mengundang para Kamitsumi atau semacamnya."
"Apa—?!" Kaito menahan amarahnya, "Dengar, Kagamine. Katakan pada—"
"Shion Kaito." Gakupo tiba-tiba muncul di belakang Kaito dengan kipasnya yang menutupi setengah wajahnya.
Kaito menoleh dan wajahnya terlihat pucat begitu melihat keberadaan Gakupo, "O—Oh... Selamat malam, Tuan Kamui..."
"Apakah pertunjukanku menimbulkan masalah?" Tanya Gakupo.
"Begini..." Kaito mencoba menjelaskan, namun dia tidak bisa berbicara sambil menatapi matanya, "Kau tahu kami telah mengelurkan peringatan untuk berada di dalam rumah setelah—"
"Otobashi adalah kota yang ramai." Gakupo menyela Kaito. "Dan tidak ada rekor untuk Kamitsumi untuk menyerang orang yang berada di kerumunan."
Kaito mengernyit dan mencoba melawannya, "Aku tahu, tapi—"
Gakupo mengangkat sebuah kertas dengan stempel Persatuan Teater dan Seni Panggung Otobashi, di sana, Gakupo mendapat izin legal untuk menampilkan sebuah pentas. Kaito yang menatap kertas itu pun kembali mengernyit.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka tidak meminta izin padaku dulu?" Ucap Kaito dengan nada kesal.
"Jiyuutori bukanlah satuan umum masyarakat. Kalian adalah pasukan khusus. Kalian tidak memberikan izin atau semacamnya. Tetapi kalian bisa memberikan kami siaga dan apapun yang kalian berikan saat ini." Gakupo menutup kipasnya, "Percayalah, Shion Kaito. Acara ini akan berjalan dengan lancar."
Kaito mengepalkan tangannya, "Apakah kami, Jiyuutori, tampak seperti lelucon bagi kalian? Kamitsumi bukanlah kelompok amatir biasa."
"Aku tidak pernah dan tidak akan menganggap Jiyuutori sebagai lelucon, Shion Kaito." Gakupo mengulurkan tangannya ke arah Kaito, "Percayalah. Acara ini akan baik-baik saja. Sudah bertahun-tahun aku melakukannya, dan sejauh ini kami tidak mengalami hal yang buruk."
Dengan wajah yang masih tegang, Kaito akhirnya menghela nafasnya dan menjabat tangan Gakupo, "Baiklah." Kini wajah Kaito mengernyit dan lebih serius, "Tetapi dengan satu syarat."
Keesokan harinya, di markas Jiyuutori.
"Kita akan menjadi pengawas pertunjukan di teater Wageki?!" Kaito bisa melihat mata Yuuma yang bersinar ketika mengucapkannya.
Dia tampak senang sebagaimana anak kecil mendapatkan manisan gratis. Namun, Kaito tidak menganggap ini sebagai tontonan gratis atau semacamnya, bisa saja anggota Kamitsumi mengambil kesempatan dalam acara ini. Akan ada banyak bangsawan yang berkunjung pada malam pertunjukan, teater Wageki akan terasa bagaikan ladang emas dan dengan kembalinya Gakupo ke panggung akan membuat teater itu lebih meriah lagi.
"Ingat, kita akan berada di sana untuk bekerja." Ucap Kaito tegas.
"Dimengerti!" Ucap semua pasukan Jiyuutori dan Kaito bisa melihat Yuuma yang masih terkekeh kegirangan.
Dua hari menuju pertunjukan Gakupo, Kaito dan beberapa anak buahnya mengitari sekitar teater—ditemani beberapa pekerja Gakupo, termasuk Len. Kini mereka berada di samping teater. Kaito melihat ke arah lantai dua dan di sana hanya ada 6 jendela. Dia bingung, untuk bangunan sebesar ini, jendela sampingnya sangat sedikit. Namun ketika dia melihat ke arah lantai satu, sama sekali tidak ada jendela. Hanya dinding kayu memanjang sekitar puluhan meter hingga ujung.
Lalu, mereka sampai di halaman belakang. Dibandingkan bagian depan teater yang tampak seperti bangunan resmi, halaman belakang teater Wageki seperti halaman belakang rumah milik seorang bangsawan, begitu rapi, bersih, dan besarnya mungkin bisa menampung tiga rumah sederhana. Kaito pernah berada di halaman ini, dia kembali ingat kejadian saat itu dan kini wajahnya sedikit memerah.
Kaito pun berdeham, dia kembali fokus dan menyuruh seluruh anak buahnya mengitari halaman belakang agar tidak ada celah yang memudahkan orang lain masuk ke tempat ini. Mereka pun berpencar di halaman luas tersebut.
Len mengikuti Yuuma. "Tuan, rasanya aku pernah melihatmu."
"Aku?" Yuuma bahkan tidak mengenal Len, "Mungkin karena aku seorang prajurit Jiyuutori, kau sering melihatku di sekitar Komandan Shion."
"Tidak, tidak." Len tampak berpikir, "Sepertinya..." Len pun ingat, "Ah! Anda yang sering datang ke pertunjukan dwi pekan kami."
"Wow!" Yuuma terkesan dengan ingatan Len, "Hebat! Aku sendiri tidak menyadarinya. Tapi, sejak kejadian Kamitsumi, teater Wageki jadi jarang menampilkan pertunjukan."
"Tidak kali ini, Tuan!" Len tertawa, begitupula Yuuma.
"Hei!" Kaito berteriak dari arah lain, "Fokus! Kembali bekerja!"
"Ba—baik!" Yuuma panik dan langsung menjalankan perintah Komandannya.
Selama memeriksa halaman belakang, Kaito masih bisa mendengar Yuuma dan Len berbicara tentang aktor, aktris, dan segala pertunjukan. Kaito terus-terusan menyela mereka namun sepertinya tidak ada gunanya. Meskipun Kaito mulai terdiam karena Yuuma dan Len tidak bisa berhenti bicara, dia masih mendengarkan perbincangan mereka.
"Aku tidak sabar melihat Kamui Gakupo kembali ke panggung teater." Yuuma terdengar gembira.
"Oh percayalah, Tuan Yuuma. Aku sendiri tidak sabar." Len tersenyum, "Tuan Kamui berhenti menjadi seorang aktor di umur 26 tahun dan semua orang panik."
"Aku mendengar dari orang-orang, dia berhenti menjadi seorang aktor karena kematian—" Yuuma tiba-tiba terdiam, berpikir, apakah dia pantas membicarakan hal ini.
"Nyonya Sachiko?" Len tersenyum lemah. "Tidak ada yang mencintai Tuan Kamui selain Nyonya Sachiko."
Yuuma tersenyum canggung, "Pasti berat bagi Tuan Kamui untuk kehilangan seorang ibu yang sangat mencintainya."
"Iya..." Len menatapi rumput di bawah kakinya, "Tapi dia baik-baik saja sekarang. Mungkin. Selain Nyonya Sachiko, tidak ada satu orang pun yang tahu apa yang dipikirkan oleh Tuan Kamui. Dia begitu tertutup dan sulit untuk diajak bicara secara pribadi."
Yuuma mengernyit, "Dia tidak memiliki kekasih atau semacamnya?"
Kaito terpicu oleh pembicaraan ini, dia sedikit menoleh ke arah mereka dan mencoba mendengar lebih dekat. Sejak kejadian malam itu, Kaito benar-benar penasaran dengan kehidupan pribadi Gakupo.
Len terkekeh, "Tidak juga. Dia sering sendirian."
"Bagaimana dengan rumor-rumor yang mengatakan jika dia berhubungan dengan Megurine, aktris saingannya saat dulu?" Yuuma tidak sadar jika dia baru saja memulai sebuah pembicaraan berbau gosip.
"Nona Megurine?" Len sempat berwajah bingung, lalu dia terkekeh, "Kurasa tidak, mereka sangat dekat sebagai sahabat. Persaingan mereka begitu sengit saat itu, namun mereka bersaing dengan sehat. Sekarang pun mereka masih dekat, tetapi bukan sebagai kekasih."
"Oh..." Yuuma terlihat sedikit kecewa, "Padahal mereka terlihat cocok. Mereka bisa menjadi pasangan yang—"
Kaito tiba-tiba berdiri di samping mereka dengan wajah kesal, "Yuuma, aku bersumpah jika kau masih membicarakan hal yang tidak berguna selama bekerja, aku akan membuat surat skors untukmu."
"Ma—maafkan saya!" Yuuma membungkuk dengan cepat.
Beberapa jam kemudian, Kaito dan yang lainnya telah selesai memeriksa bagian luar teater. Kini mereka masuk ke area panggung, Kaito tidak sering menonton pertunjukan—bahkan hampir tidak pernah, dia tampak terpesona melihat sebuah teater yang sangat besar dan panggungnya yang ditata begitu indah. Kaito melihat Gakupo sedang berdiri di atas panggung, memberikan sebuah pengarahan pada para pemain sampingan.
"Tuan Kamui," Ucap Len dari bawah panggung, "Mereka telah selesai memeriksa bagian luar teater."
Gakupo menoleh, "Baiklah." Gakupo melihat Kaito dan anak buahnya berdiri dengan tegak di belakang Len. Dia tersenyum, "Terima kasih."
Kaito sedikit mengangguk, "Kami harus memeriksa bagian dalam teater juga."
"Silakan." Ucap Gakupo, lalu dia kembali menoleh ke arah para pemain sampingan, "Istirahat untuk beberapa menit dan kita akan mengulang adegan akhir lagi nanti."
Semuanya menjawab serentak dan mereka pun kembali ke belakang panggung. Gakupo turun dari tangga dan kini berdiri di depan Kaito. "Sepertinya tur di dalam teater akan menjadi tanggung jawabku."
Len pun membungkuk dan meninggalkan mereka.
Gakupo tersenyum, dan jujur saja membuat Kaito merinding, karena dia hampir tidak pernah melihat Gakupo tersenyum sebebas ini.
"Kau ingin memulai dari mana, Komandan Shion?" Tanya Gakupo.
"Lantai dua." Kaito mengangkat bahunya, "Jika kau tidak keberatan."
Gakupo masih tersenyum, "Tentu saja."
Terlalu lama di halaman belakang, Gakupo bisa melihat rambut Kaito sedikit berdebu dan mungkin sedikit tersapu angin. Gakupo pun mengalurkan tangannya dan hendak mengusap kepala Kaito, "Maaf, ada sesuatu di rambut—"
Tiba-tiba, Kaito menampar tangan Gakupo dengan kencang hingga suara tamparan tersebut cukup menggema di seluruh area teater. Anak buah Kaito terkejut, begitupula Gakupo. Dia melihat Kaito menunduk.
Gakupo memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Kaito, "Maaf, aku tidak bermaksud—" mata Gakupo sedikit terbelalak, melihat wajah Kaito yang sangat memerah dan dia tampak waswas.
To be continued...
