Chapter 5: 安心 - Relief
"Komandan, kenapa anda selalu berlaku aneh saat di dekat Tuan Kamui?" Dengan polosnya, Yuuma bertanya, saat mereka sedang memeriksa lantai 2.
Kaito berhenti memeriksa sebuah lemari, dia berbalik dan menatap Yuuma dengan dingin. "Kenapa kau tidak bekerja dengan serius?"
"Ma—maaf." Yuuma pun mulai melanjutkan apa yang harus dia lakukan—memeriksa seluruh lantai tersebut.
Dari pilar dekat tangga, Gakupo bersandar dan menatapi Kaito dari kejauhan. Gakupo pernah melihat reaksi seperti Kaito sebelumnya. Gakupo sudah tidak merasa aneh dengan apa yang terjadi di ruang teater.
Rin muncul dari tangga, "Tuan Kamui, makan siang sudah siap."
"Baiklah." Gakupo pun menoleh ke arah para anggota Jiyuutori, "Lebih baik kita makan siang terlebih dahulu."
Di ruang makan—tepat di ruang belakang di lantai dasar, mereka melihat meja makan yang sangat panjang dan makanan mewah yang melimpah.
"Silakan." Ucap Gakupo.
Yuuma menganga, "Apa anda biasa makan siang seperti ini?"
"Tidak juga." Gakupo menutup wajahnya dengan kipas, "Ini sudah biasa jika kami kedatangan tamu." Gakupo berbalik dan membuka pintu geser dari arah yang berlawanan dari para anggota Jiyuutori berdiri, "Ada tamu khusus lain selain kalian."
Dari balik pintu tersebut, berdiri Megurine Luka—aktris teater ternama yang reputasinya masih di puncak dunia hiburan, Gumi—aktris teater pendatang baru yang sedang naik daun, Yuu—aktor teater muda yang dirumorkan akan menjadi Kamui Gakupo yang baru di era teater modern, dan Hatsune Miku, penyanyi sekaligus aktris teater yang terkenal.
Para anggota Jiyuutori menganga dan mencoba untuk tidak terlihat bodoh di depan para jajaran orang-orang terkenal tersebut. Kecuali Kaito, karena dia sama sekali tidak tahu siapa mereka.
"Oh..." Luka tersenyum, "Aku tidak tahu kita akan makan siang dengan anggota Jiyuutori. Ini sebuah kehormatan bagiku untuk berbagi meja yang sama dengan pasukan yang melindungi kami dari serangan Kamitsumi."
Semua anggota Jiyuutori—kecuali Kaito—mulai terlihat malu-malu.
"Waktu makan siang kita hanya 2 jam. Mungkin lebih baik kita mulai." Ucap Gakupo.
Gakupo duduk di tempatnya, di tengah ujung meja makan. Luka duduk di samping kanan Gakupo, dan Yuu di samping kirinya. Lalu Gumi duduk di samping Luka, dan Miku duduk di samping Yuu. Sisanya diisi oleh anggota Jiyuutori.
Kaito yang hendak duduk di meja paling ujung, ditahan oleh Rin. "A—ada apa?" Kaito kebingungan.
Rin tersenyum dan mendorong tubuh Kaito dengan pelan, "Anda adalah Komandan pasukan Jiyuutori, anda akan duduk di samping tamu Tuan Kamui."
Akhirnya, Kaito duduk di samping Yuu.
Saat semuanya sudah siap, makan siang pun dimulai. Selama makan siang, Kaito sama sekali tidak membuat kontak mata dengan siapapun, dia hanya menunduk ke mangkuknya sedangkan semua anggotanya mencoba mengobrol dengan para aktor dan aktris lainnya. Gakupo juga tidak banya bicara—tidak ada yang merasa aneh, karena Gakupo memang jarang bicara.
Yuu menoleh ke arah Kaito, "Komandan Shion?"
Kaito pun mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Yuu, "Iya?"
"Sudah berapa lama anda berada di Jiyuutori?" Tanya Yuu dengan wajahnya yang bersinar-sinar.
"Mungkin..." Kaito tampak berpikir, "Sekitar 5 tahun."
Yuu tampak terkejut dan kagum, "Dalam 5 tahun anda sudah menjadi Komandan?" Yuu pun menoleh ke arah Luka, "Nona Megurine, anda juga menghabiskan waktu sekitar 4 sampai 5 tahun untuk setara dengan Tuan Kamui, 'kan?"
Luka melirik Gakupo, "Dan itu adalah 5 tahun yang menyakitkan bagiku." Kini dia tersenyum sadis, "Untunglah ada rumor aneh tentang kita dan jujur saja itu membuat reputasiku melunjak naik."
Gakupo melirik balik ke arah Luka, "Hanya karena kita pernah bermain sebagai Hikoboshi dan Orihime, semua orang mulai mengira kita memiliki suatu hubungan di belakang panggung."
"Ngomong-ngomong," Miku menyela, "Saat itu, Tuan Kamui masih terlihat sering tersenyum. Mungkin karena senyumannya yang beterbaran di sekitar Megurine membuat orang lain memikirkannya."
"Benar juga." Luka menepuk pundak Gakupo, "Apa yang terjadi pada Kamui Gakupo di masa itu? Dia bagaikan matahari kecil yang menyebarkan sinarnya dimana-mana."
Semuanya tertawa dan kembali pada perbincangan mereka yang lain. Kaito hendak kembali menunduk, namun sebelum itu, matanya bertemu dengan Gakupo. Kaito membatu, mata Gakupo menatap Kaito begitu dalam, seakan-akan Kaito tenggelam dalam lirikannya. Kaito pun membuang muka dan akhirnya terlepas dari tatapan Gakupo.
Makan siang pun selesai, para anggota Jiyuutori kembali memeriksa lantai 2. Kaito masuk ke sebuah ruangan di ujung lorong, pintu itu sangat sulit dibuka. Kaito merasa ruangan ini mencurigakan, akhirnya Kaito menarik pintu itu dengan paksa. Suasana di sana cukup ramai saat itu, dan suara keras dari pintu tersebut tidak terdengar oleh siapapun kecuali Kaito—mungkin.
Kaito pun masuk, ruangan tersebut cukup luas dan beberapa barangnya ditutupi kain putih, bahkan semua lukisan yang masih tergantung di dinding pun ditutupi oleh kain putih. Kaito tahu ruangan ini adalah ruangan seorang perempuan, bisa dilihat dari posisi barang-barangnya dan hiasan-hiasannya.
Di dinding tengah, Kaito melihat sebuah bingkai yang tertutupi kain, dibandingkan bingkai yang lain, yang satu ini tampak lebih besar. Kaito pun menarik kain putih tersebut. Di bingkai besar tersebut ada sebuah lukisan seorang wanita paruh baya yang sangat cantik. Kaito menatapi mata wanita itu yang tidak asing. Kaito akhirnya sadar, jika dia berada di ruangan Sachiko, mendiang ibu Gakupo.
Kaito menatapi lukisan itu dengan seksama, Sachiko mengenakan pakaian merahnya yang mewah. Meskipun tatapan matanya sedingin anaknya, namun senyumannya begitu sederhana dan hangat. Kaito pun menelusuri lukisan itu dari atas hingga bawah hingga dia melihat kalung yang dikenakan oleh Sachiko.
"Itu..." Kaito pernah melihat kalung permata berwarna merah jambu berbentuk segitiga terbalik itu sebelumnya. Kaito pun mulai ingat, dia tampak terkejut.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Suara Gakupo terdengar dari arah pintu.
Kaito berbalik dan tampak lebih terkejut lagi. Lagi, Gakupo menatapi Kaito dengan mata yang berbeda. Mata Gakupo selalu terlihat dingin, namun kini kesannya begitu berbeda. Gakupo terlihat seperti... ingin mencengkeram Kaito seutuhnya.
"Maaf, aku..." Kaito berkeringat dingin dan sedikit panik, "Aku tidak bermaksud untuk mendobrak masuk."
Kaito memang mendobrak pintu kamar ini, tetapi dia tidak bermaksud buruk. Gakupo masih menatapinya, lalu dia berjalan ke arah Kaito.
"Keluar." Ucap Gakupo dengan nada yang pedas.
"Aku..." Kaito pun mulai berjalan meninggalkan ruangan tersebut dan meninggalkan Gakupo sendirian di sana.
Di lorong, Kaito melihat Len yang sedang menyandar di tembok. Dia melirik Kaito dengan dingin, "Anda tahu dia sangat sensitif dengan segala hal yang menyangkut ibunya, 'kan? Bahkan ruangannya."
"Aku tidak bermaksud seperti itu." Kaito kini mulai sedikit kesal, "Ini adalah sebuah pemeriksaan dan aku harus melakukannya dengan benar."
"Komandan Shion," Len menghela nafasnya, "Tempat ini adalah properti pribadi. Anda bisa bertanya terlebih dahulu pada Tuan Kamui dan jujur saja," Len pun berbalik dan mulai berjalan meninggalkan lorong, "Aku percaya jika kau meminta izin terlebih dahulu, Tuan Kamui akan dengan senang hati membukakan pintu ruangan tersebut itu untuk anda."
Malam pertunjukan pun tiba, kota sangat ramai dan teater Wageki sudah bagaikan lautan manusia. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Gakupo tidak lagi berbicara dengan Kaito—kecuali untuk kepentingan keamanan pertunjukan. Para anggota Jiyuutori melingkari setiap sudut teater dan tidak ada yang luput dari mata mereka. Setiap pintu dan jendela memiliki setidaknya 2 sampai 3 anggota Jiyuutori.
Kaito, Yuuma, Kyo, dan sebagian anggota Jiyuutori berjaga di dalam teater. Kyo berjaga di lantai 2 bersama pasukannya, dan Kaito berada di lantai dasar, berdiri di belakang kursi penonton terakhir. Sedangkan Yuuma menjaga pintu masuk. Ketika keadaan sudah terperiksa dan dinyatakan aman, pertunjukan pun dimulai.
Anak buah Gakupo mulai mengambil alih. Teater pun menjadi gelap dan cahaya fokus ke arah tengah panggung.
Setengah jam kemudian, pertunjukan masih berjalan. Penonton memberikan reaksi yang luar biasa dari penampilan para aktor dan aktris, jalan cerita, dan tentu saja dengan pengaturan panggung yang berjalan dengan mulus dan profesional.
Kaito tidak pernah melihat pertunjukan yang membuatnya terfokus pada jalan cerita. Dia pun sadar jika dia sedang bekerja. Kaito mengusap keningnya dan menghela nafas.
"Berhenti!"
Kaito langsung menoleh ke arah panggung. Suara Gakupo menggema di seluruh teater. Kaito tahu Gakupo sedang memerankan perannya, namun ini pertama kalinya dia melihat Gakupo memberikan ekspresi penuh. Kaito tidak bisa melihat sosok Gakupo di balik peran tersebut.
Suara Gakupo begitu keras dan seluruh emosi bisa ikut dirasakan oleh Kaito. Apakah ini bakat seorang aktor? Kaito bertanya pada dirinya sendiri. Dia sebenarnya takut pada aktor dan aktris, mereka bisa memberikan ekspresi yang diinginkan oleh lawan bicaranya meskipun itu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Kaito kembali menonton pertunjukannya. Adegan selanjutnya, Gakupo menarik tangan Luka dan memberikan ekspresi kehilangan.
"Aku telah menunggu terlalu lama. Kau sendiri seharusnya lelah juga."
Suara Gakupo begitu kesakitan, seakan-akan dia hendak kehilangan seseorang. "Apakah kau akan selalu berlari dan tidak berani menatap mataku? Meskipun untuk terakhir kalinya?"
Luka menghela nafasnya, "Aku tidak pernah merasa kehilanganmu. Kau yang membuatku merasakan hal itu. Kau tidak pernah peduli. Sekalipun kau mengatakannya, tetapi sebenarnya kau tidak pernah peduli."
Suasana begitu berbeda, mata Kaito terlihat kosong, seakan-akan pikirannya berada dalam cerita pertunjukan tersebut.
"Seharusnya kau tidak mengatakan itu." Gakupo pun menarik pinggang Luka dan mengecup bibirnya.
Penonton begitu terkejut, ini pertama kalinya, dalam pertunjukan tradisional, mereka melihat hal yang intim di panggung. Kaito sendiri terkejut, begitu pula dengan para anggota Jiyuutori.
Luka mendorong tubuh Gakupo dan membuang muka ke arah penonton, "Maaf. Aku tidak bisa bersamamu lagi. Kuharap kau menemukan orang yang tepat. Karena..." Luka mengeluarkan air matanya dengan senyuman putus asa, "...sejak awal kau tidak pernah mencintaiku seperti aku mencintaimu." Luka berlari ke arah samping panggung, meninggalkan Gakupo berdiri di tengah panggung dengan wajah seorang pria yang hatinya pecah menjadi potongan-potongan kecil.
Beberapa adegan telah terlewati, membuat para penonton meneteskan air matanya. Adegan akhir pun tiba, Gakupo duduk di bawah pohon wisteria buatan dengan keadaan sakit. Dia menatap ke atas seakan-akan dia menatap bulan yang menyinarinya.
"Aku selalu mengatakan 'Aku tidak membutuhkan siapapun untuk bisa bertahan hidup.' lalu kau datang dan menghancurkan tembok egoku." Gakupo sempat terdiam dengan senyuman sarkastik yang tampak menyakitkan, "Sekarang aku berada di sini, sendirian, mungkin akan mati dalam hitungan menit. Sepertinya, ini adalah keadaan yang selalu aku bayangkan sebelum aku bertemu denganmu."
Gakupo berdiri dengan sempoyongan, dia menahan tubuhnya dengan properti katana-nya, dia tersenyum dengan lega sambil menutup matanya. "Jika memang ini adalah takdirku sejak awal. Mungkin bertemu denganmu adalah sebuah cahaya anugerah agar aku bisa keluar dari takdir tersebut." Gakupo membuka matanya dan masih tersenyum pasrah, "Pada akhirnya, aku selalu sendirian." Tubuh Gakupo tumbang dan panggung menjadi gelap.
Para penonton berdiri dari kursi mereka dan memberikan tepuk tangan yang meriah. Kaito tidak menepuk tangannya, namun dia berdiri dengan wajah terkagum, dia tidak bisa mengekpresikan apa yang dia rasakan dari pertunjukan yang baru saja dia lihat. Terlebih lagi dari seorang Kamui Gakupo.
Tirai panggung kembali terbuka dan seluruh pemain berjajar di atas panggung. Mereka tersenyum bangga dan membungkuk, berterima kasih kepada para penonton.
Akhirnya, Kaito sedikit tersenyum dan menepuk tangannya. Dia menoleh ke arah Kyo, sepertinya Kyo juga terbawa suasana karena senyuman Kyo tampak bersinar. Lalu, Kaito menoleh ke arah Yuuma, dia terlihat menangis tersedu-sedu, membuat Kaito mengernyitkan matanya.
Anggota Jiyuutori mengamankan pintu keluar, agar para warga yang keluar dari teater dengan aman. Sebagian dari mereka mengawasi jalan agar warga bisa pulang ke rumah dengan selamat. Keadaan yang dikhawatirkan oleh Kaito sama sekali tidak terjadi. Dia bersyukur semua itu tidak terjadi, pertunjukan berjalan dengan lancar.
Di belakang panggung, Kaito dan Kyo menghampiri Gakupo dan para pemain lainnya yang sedang merayakan keberhasilan pertunjukan mereka. Kyo tersenyum dan menjabat tangan Gakupo, memberikan ucapan selamat pada semua anggota yang terlibat.
"Pertunjukan yang mengesankan, tuan Kamui." Kyo terlihat gembira, namun dia sedikit menutupinya.
Gakupo membalas jabatan tangannya, "Terima kasih. Dan juga, terima kasih telah menjaga keamanan pertunjukan hari ini."
Kyo pun tersenyum, "Tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi tugas kami." Setelah Kyo melepaskan jabatan tangannya, dia menoleh ke arah Kaito, "Sepertinya Komandan Jiyuutori Otobashi sendiri juga terpesona dengan penampilan anda."
Kaito pun tersadar dan terlihat sedikit panik, "Eh? Aku?"
Kyo tertawa, "Dia memang tidak terlihat memerhatikan, namun ekspresi wajahnya seperti akar jiwanya terbawa oleh pertunjukanmu."
Gakupo pun melirik ke arah Kaito, dia sedikit tersenyum, membuat Kaito tidak tahu harus memberikan ekspresi apa setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Kyo pun pamit dan hendak membawa beberapa pasukannya kembali ke Edo—setelah mengetahui keadaan teater sangat aman di hari pertama.
"Mungkin anda ingin berkunjung ke Edo." Tawar Kyo, "Kami bisa memberikanmu keamanan khusus selama anda di sana."
"Terima kasih. Tetapi sepertinya tidak perlu," Gakupo tersenyum, "Kau akan membuatku terlihat seperti seorang tawanan."
Kyo pun tertawa.
Anggota Jiyuutori harus mengawasi teater hingga mereka benar-benar selesai dengan proses penutupan. Akhirnya, sebagian dari mereka membantu para pekerja Gakupo membereskan properti dan panggung, sementara para pemain sudah bersiap-siap untuk pulang dan kembali ke teater Wageki 3 hari kedepan.
Setelah keadaan mulai sedikit sepi, Kaito berada di tengah-tengah teater, berdiri, dan mengawasi anak buahnya yang membantu pekerja teater. Tiba-tiba, dari belakang, Gakupo menepuk pundak Kaito. Terkejut, Kaito pun sedikit mengambil langkah mundur.
"Ma—maaf." Kaito tersenyum canggung.
"Kenapa kau meminta maaf?" Gakupo sama sekali tidak mengerti kenapa Kaito sering mengatakan kata maaf meskipun dia merasa tidak ada yang perlu dimaafkan. Gakupo memiringkan sedikit kepalanya agar dia bisa melihat wajah Kaito yang terus-terusan menunduk.
"Maukah kau meminum teh denganku sambil menunggu proses penutupan selesai?" Ucap Gakupo dengan nada yang hangat.
"Oh... tapi..." Kaito menoleh ke arah anak buahnya, "Mungkin lebih baik aku berada di sini dan mengawasi mereka."
"Mereka akan baik-baik saja. Aku yakin." Gakupo memasukkan kedua tangannya ke lengan haori-nya.
"Tapi..." Kaito masih mencoba menolak, karena dia tidak mau duduk berdua dengan Gakupo setelah apa yang dia perbuat beberapa hari yang lalu, keadaan akan terasa canggung.
"Aku memaksa, Komandan Shion." Nada Gakupo terdengar kecil dan lemah dibandingkan seperti biasanya.
Kaito merasa aneh, tetapi mungkin ini disebabkan oleh pertunjukan tadi. Gakupo benar-benar mengeluarkan suaranya sepenuh tenaga untuk mendalami karakter.
Akhirnya, Kaito menyerah, "Baiklah."
Di ruang tamu yang sangat luas, mereka duduk berhadapan dan benar-benar dengan jarak yang cukup dekat. Kaito tidak mengerti dengan meja kecil yang ada di hadapannya. Meja teh ini seperti meja belajar untuk anak berusia 5 tahun. Satu tangan Gakupo yang tergeletak di meja itu sendiri telah menghabiskan sisi lahan meja. Ruangan seluas ini terlihat menggelikan dengan meja yang sangat kecil tersebut.
"Maaf." Gakupo menatapi Kaito yang terlihat berpikir kenapa hanya ada meja kecil ini di hadapan mereka. "Seluruh meja besar telah kami gunakan di ruang utama para pemain."
Kaito terkejut karena itu adalah apa yang dia pikirkan. Dia pun tersenyum canggung, "Ti—tidak apa-apa."
Gakupo pun menyingkirkan tangannya dari meja agar sedikit leluasa. "Silakan diminum—"
Kaito bergeser ke belakang dan melakukan pose dogeza, "Maafkan aku!"
Wajah Gakupo datar dengan matanya yang terlihat hampir terlihat malas, dia pun mengambil cangkir tehnya dan meminumnya. Setelah itu, dia menaruh kembali cangkirnya dan melihat Kaito yang masih berpose sama. Waktu terlewati cukup lama, Gakupo tidak memberikan jawaban atau reaksi, Kaito masih berharap Gakupo mengatakan sesuatu.
"Kau tahu..." Gakupo akhirnya berbicara, "Kau selalu meminta maaf. Aku tidak mengerti. Sepertinya orang lain juga tidak akan mengerti, karena kau meminta maaf tanpa mengatakan alasannya."
Kaito pun mengangkat wajahnya dengan pose yang sama, "Apa yang aku lakukan beberapa hari yang lalu sudah kelewat batas dan aku akan menerima apapun tuntutan darimu."
"Oh," mata Gakupo melirik ke arah pintu yang terbuka dan menatapi bulan di atas langit malam, "Masalah itu."
"Iya. Itu." Kaito menunduk lebih dalam lagi, "Maafkan aku!"
Gakupo pun kembali menoleh ke arah Kaito. "Bisakah kau meminta maaf dengan normal. Dan lagi, itu hanya sebuah kamar lama. Tidak ada hal yang harus dibesar-besarkan."
"Tetapi..." Kaito pun bangkit dan duduk dengan normal, "Itu... kamar mendiang ibumu?"
"Benar." Gakupo menghela nafasnya, "Aku mungkin sedang kelelahan, reaksiku sangat tidak profesional saat itu. Mungkin akulah yang seharusnya meminta maaf."
"Itu..." Kaito tersenyum canggung, "Sepertinya tidak perlu, tempat ini adalah properti pribadimu, aku sudah kelewat batas tanpa meminta izin terlebih dahulu."
"Iya, seharusnya kau bertanya dulu." jawab Gakupo cepat. Kaito tidak mengelak karena itu memang yang seharusnya dia lakukan.
"Tolong jangan ungkit masalah ini lagi." Gakupo pun mendorong cangkir teh milik Kaito. "Minumlah sebelum dingin."
"Terima kasih." Kaito pun meminum tehnya.
Tak lama kemudian, setelah duduk di suasana yang sunyi, Kaito pun ingin bertanya sesuatu.
"Saat aku masuk ke kamar itu, aku melihat lukisan mendiang ibumu." Kaito bisa melihat lirikan mata Gakupo yang tajam, mengarah ke matanya, "Aku penasaran dengan kalung yang dia kenakan. Apakah itu miliknya? Atau hanya perhiasan yang dipakai untuk lukisan tersebut?"
"Aku percaya ibuku memanggilnya Koibara." Jawab Gakupo. "Dulu, itu kalung miliknya."
"Kau masih memilikinya? Maksudku, apakah kalung itu masih ada di tempat ini?" Kaito bertanya, dia tahu kalung itu berada di toko antik di bagian sisi kota, namun dia hanya ingin memastikan.
"Entahlah." Jawab Gakupo singkat. "Sepertinya ayahku menjualnya beberapa hari setelah ibuku meninggal."
"Oh." Kaito tidak menduga jawaban seperti itu dari Gakupo. "Berarti, kalung itu sudah tidak ada di sini?"
"Tentu saja tidak." Gakupo mengangkat bahunya, "Kenapa kau tertarik dengan kalung ibuku?"
Kaito terkejut, "Oh... aku hanya... sepertinya aku pernah melihat kalung itu sebelumnya."
"Benarkah?" Gakupo menatapi mata Kaito yang mencoba tidak melakukan kontak mata, "Di mana kau melihatnya?"
"Aku tidak yakin." Kaito terlihat meyakinkan, dan sedikit membuat Gakupo percaya.
Tak lama kemudian, Rin masuk ke ruangan tersebut secara tiba-tiba—mungkin tidak tahu jika Kaito berada di sana. "Tuan Kamui, ada—oh..." Rin pun terdiam setelah melihat Kaito.
"Ada apa?" tanya Gakupo.
Rin mencoba mengatakan sesuatu, namun keberadaan Kaito membuatnya ragu-ragu untuk mengatakannya. "Itu... tamu anda sudah tiba."
"Tamu?" Kaito mengernyit, dia menoleh ke arah Gakupo dengan wajah yang sedikit jengkel, "Tuan Kamui, kau tidak memiliki jadwal lain setelah acara pertunjukan. Jika kau memiliki rencana lain seharusnya kau memberitahu kami. Keamanan teater Wageki masih berada dalam tanggung jawabku."
"Tamu ini adalah tamu pribadiku. Kau tidak punya hak untuk mengetahuinya." Jawab Gakupo singkat dan dia pun berdiri dari tempat duduknya, "Sepertinya proses penutupan sudah selesai. Lebih baik kau dan anak buahmu pulang untuk istirahat."
Kaito ikut berdiri dengan sedikit gusar, "Tuan Kamui, kita memiliki perjanjian untuk ini. Kau tidak bisa membuat keputusan tanpa sepengetahuan kami."
Rin tampak canggung dan dia terus-terusan mencuri pandang antara Gakupo dan Kaito.
"Apakah aku harus memberitahumu jadwal mandiku, Komandan Shion?" ucap Gakupo dengan nada sarkastik.
"Itu—" Wajah Kaito memerah, "Itu tidak perlu!"
"Lalu kenapa aku harus memberitahumu semua hal yang akan aku lakukan? Pulanglah, Shion Kaito." Gakupo pun berjalan meninggalkan ruangan.
Kaito dan Rin masih berada di ruangan itu. Rin bisa melihat wajah Kaito yang tampak geram.
"Komandan Shion." Rin mencoba mencairkan suasana, "Apakah anda ingin diantar hingga pintu utama—?"
"Tidak perlu. Aku bisa keluar sendiri." Kaito menyalip ucapan Rin dan berjalan meninggalkan ruangan dengan langkah kaki yang berat dan kasar.
Kaito turun dari tangga, dari sana, dia bisa melihat Gakupo sedang berbicara dengan seorang lelaki, Kaito pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Lelaki itu mungkin setinggi Kaito, kulitnya terlihat pucat namun terkesan bersih. Penampilannya begitu rapi dan tertata, berbeda dengan apa yang sering Kaito kenakan sehari-hari. Kaito mengernyit, berpikir apakah lelaki itu juga seorang aktor.
Lelaki itu tersenyum ke arah Gakupo dan memegang tangan Gakupo dengan erat. Kaito semakin penasaran. Dia turun dengan pelan dan mencoba menguping pembicaraan mereka. Kaito berdiri di samping dinding yang bersampingan dengan pilar dan akan sulit dilihat dari arah lain.
"...kau sepertinya tidak ingin melakukannya lagi." Ucap lelaki tersebut, suaranya begitu halus, mungkin lebih halus dari sebagian besar lelaki lain.
"Entahlah. Mungkin karena aku kelelahan akhir-akhir ini." Ucap Gakupo.
Lelaki itu tersenyum dengan tulus, "Tentu saja. Kau telah bekerja keras untuk pertunjukan ini, pasti kau sangat kelelahan. Hanya saja, biasanya kau tidak memiliki masalah seperti ini sebelumnya."
Kaito menurunkan matanya, meskipun pembicaraan ini terdengar ambigu, namun Kaito tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kaito pun ingat, lelaki tersebut adalah lelaki yang berada di kamar Gakupo di pagi saat Kaito dipaksa oleh Kagamine bersaudara untuk mandi di rumah ini.
Dia tidak tahu jika Gakupo sepertinya memiliki sesuatu yang spesial dengan lelaki tersebut. Merasa bukan urusannya, Kaito pun akhirnya keluar dengan pelan-pelan tanpa ingin diketahui oleh Gakupo.
Dua hari kemudian...
Kaito membaca surat dari Hiyama Kiyoteru, ketua Analisa Medis Jiyuutori.
Anggota Kamitsumi yang kami temukan telah sadar. Dia tidak berbicara, awalnya kami kira dia hanya menjaga rahasia dan memilih kematian dibandingkan mengucapkan rahasia Kamitsumi, tetapi ternyata dia tidak bisa berbicara—dia bisu. Dan anehnya, sepertinya dia tidak bisu sebelumnya. Apakah ini salah satu pengaruh Mosashi? Atau anggota Kamitsumi melakukan sesuatu padanya agar bisa menjaga rahasia? Kami masih mengusutnya, berita ini telah disampaikan kepada Jenderal Kyo dan Komandan-Komandan Jiyuutori di seluruh penjuru negeri.
Kaito mengernyit dan mengusap keningnya. Dia bergumam kesal, "Yang benar saja."
Yuuma mengetuk pintu Kaito, "Komandan Shion? Tuan Kamui menunggu anda di depan."
"Apa?" Kaito terkejut, mereka tidak memiliki janji bertemu sama sekali, Kaito bahkan tidak tahu kenapa Gakupo datang ke sini, "Kau yakin?"
Yuuma terdiam dengan wajah jengkel, "Komandan, saya tahu wajah aktor Kamui Gakupo."
"Baiklah, baiklah." Kaito berdiri, "Kau tidak perlu tersinggung seperti itu."
Kaito pun sampai di gerbang depan, dia melihat Gakupo dengan penampilan kasualnya. Dan tentu saja dengan 3 katana miliknya. Gakupo menoleh ke arah Kaito dan mengangguk.
"Apakah kita memiliki janji temu yang sama sekali aku lupakan?" Kaito terlihat sedikit panik.
"Tidak juga." Ucap Gakupo santai. Dia melirik ke arah Kaito dengan tatapan mata yang cukup hangat—tidak biasa bagi Kaito melihat tatapan itu dari Gakupo, "Maukah kau ikut makan siang denganku?"
Kaito sempat terdiam, lalu dengan wajah polosnya, "Hah...?"
"Mei-chan!" Kaito masuk ke kedai sepupunya dengan perasaan was-was.
"Kaito?!" Suara Meiko terdengar dari arah dapur, suaranya mendekat ke arah Kaito berdiri, "Demi Tuhan, Kaito, jika kau meminta makanan gratis lagi—" Meiko terdiam, lalu terkejut, karena di belakang Kaito, berdiri Kamui Gakupo. "Ka—Ka—Ka..." Meiko terbata-bata.
Kaito mengernyit, "Ka...ito?"
Meiko berlari ke arah Gakupo dan mendorong Kaito jauh-jauh, "Kamui Gakupo! Aku tidak percaya! Kau datang ke kedaiku!"
Para pengunjung kedai lainnya juga tampak gembira melihat kedatangan Gakupo. Meiko mempersilakan Gakupo duduk. dia masih berbicara bersama Gakupo dengan penuh semangat, sementara Kaito duduk di depannnya dengan wajah malas. Kaito tahu jika kedatangan Gakupo akan menggemparkan, tetapi tidak seheboh ini.
"Aku akan menonton pertunjukanmu di malam ke-tiga." Ucap Meiko, "Begitu sulit mendapatkan tiket di hari pertama."
"Maaf." Gakupo tersenyum, "Mungkin lain kali kau bisa memintanya langsung pada Shion Kaito, dia berada di teater Wageki pada malam pertunjukan pertama."
Meiko melirik Kaito dengan tajam dan penuh dengan aura membunuh, "Kaito... kenapa kau tidak bilang? Hmm? Sepupuku yang baik?"
Kaito berkeringat dingin, "I—ini masalah pekerjaan, jadi aku tidak bisa membawamu ke sana."
"Ngomong-ngomong!" Meiko mengabaikan Kaito, "Apakah kau ingin memakan menu spesial hari ini?"
"Oh!" Gakupo terlihat sangat berbeda dengan orang lain, sedangkan dia selalu menunjukkan wajah dinginnya pada Kaito, "Aku akan senang memakan menu spesial hari ini."
"Baiklah!" Meiko masih terlihat gembira, lalu dia berhenti tersenyum dan menoleh ke arah sepupunya, "Kau mau makan apa?"
"Aku... seperti biasa." Kaito membuang muka.
"Tentu saja." Meiko pun mengangkat bahu dan meninggalkan meja untuk pergi ke dapur.
Gakupo menatap ke arah Kaito, "Sepupumu benar-benar berbeda denganmu. Dia terlihat lebih mudah berteman."
"Oke, baiklah." Kaito mengernyit dan tampak kesal, "Aku tidak peduli." Kaito kembali serius, Jadi, apa tujuanmu menemuiku?"
"Semalam, aku kedatangan tamu." Ucap Gakupo.
Kaito menghela nafasnya, entah kenapa dia merasa jengkel jika Gakupo hendak membicarakan orang-orang tertentu. "Kenapa dengan tamumu?"
"Kami sudah kenal sejak lama." Lanjut Gakupo, "Dan semalam dia memberitahuku jika ada kemungkinan dia melihat salah satu anggota Kamitsumi."
Kaito mengernyit, "Aku rasa kalian tidak membicarakan itu. Kalian hanya membicarakan—" Kaito pun berhenti berbicara, dia melirik ke arah Gakupo dan matanya terlhat sangat dingin.
"Kau menguping pembicaraan kami?" Gakupo masih menatapi Kaito.
"Aku tidak sengaja." Kaito beralasan. "Kalian berbicara di dekat tangga dan aku bisa mendengar pembicaraan kalian. Kalian terlihat akrab. Apakah kalian sudah saling mengenal lebih dari 10 tahun?"
Gakupo sempat terdiam, merasa aneh karena ini pertama kalinya dia melihat Kaito tidak tertarik pada berita anggota Kamitsumi. Sebaliknya, Kaito terlihat lebih fokus ke masalah orang yang diajak bicara oleh Gakupo tadi malam.
"Kau baik-baik saja, Shion Kaito?" Ucap Gakupo tiba-tiba.
"Aku?" Kaito bingung, "Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Kau terlihat," mata Gakupo memindai Kaito yang duduk di depannya, "Berbeda."
"Berbeda bagaimana?" Kaito masih terlihat bingung.
Gakupo pun membelai kepala Kaito secara tiba-tiba, hanya untuk memastikan Kaito tidak terkena terik matahari dan membuatnya bersikap seperti ini, "Kau yakin kau baik-baik saja—"
Gakupo bisa melihat wajah Kaito memerah hebat, namun kerutan matanya terlihat menyakitkan. Seakan-akan dia ingin Gakupo berhenti membicarakan hal yang tidak ingin dia dengar.
Akhirnya, Gakupo melepaskan tangannya dari kepala Kaito, "Kau—"
"Maaf menunggu!" Meiko menyimpan sebotol kecil sake dan dua gelas kecil. "Aku tahu ini masih siang, tapi tidak ada yang bisa menolak sake terbaik di kota ini!"
Kaito dan Gakupo sama-sama terkejut dengan kedatangan Meiko. Dan seketika, Gakupo melepaskan tangannya dari kepala Kaito.
"Terima kasih." Ucap Gakupo dengan senyuman khasnya.
"Makanannya akan segera siap beberapa saat lagi." Meiko tersenyum-senyum, "Kau akan sangat menyukainya." Lalu dia kembali ke arah dapur.
Kembali ke topik utama, Gakupo mencoba untuk menjelaskan apa yang dia tahu, "Rekanku mendatangiku setelah pertunjukan dan saat dia hendak bertemu denganku, dia bilang dia melihat seseorang di dekat pintu utama, berpakaian serba hitam dengan garis perak di dadanya namun tidak tampak seperti pakaian Kamitsumi pada biasanya."
"Oh." Kaito benar-benar tidak tertarik, dan sikapnya membuat Gakupo keheranan. "Mungkin hanya pengunjung biasa. Dan lagi anak buahku ada di sana. Butuh nyali besar bagi anggota Kamitsumi untuk berada di dekat kerumunan yang dijaga oleh Jiyuutori."
"Kau tidak memercayaiku?" ucap Gakupo.
"Aku tidak pernah bilang begitu." Kaito hendak menyentuh gelas sake, namun dia terhenti dan malah mengambil gelas tehnya.
Mata Gakupo tertuju pada Kaito, "Atau kau tidak percaya pada rekanku?"
"Aku hanya heran. Tidak mungkin seorang anggota Kamitsumi dengan bebasnya mengenakan seragam mereka dan berada di kerumunan yang dijaga oleh anggota Jiyuutori. Mungkin rekanmu mabuk atau..." Kaito sempat terdiam, lalu dia sedikit tersenyum dengan wajah sarkastik, meminum tehnya dengan senyuman picik di wajahnya, dengan dingin dia berkata, "...mungkin dia ingin mendapatkan perhatianmu."
Gakupo mulai berpikir kembali, dia tahu sikap rekannya, apa yang dikatakan oleh Kaito mungkin ada benarnya. Dia menatap ke arah Kaito yang masih meminum tehnya. Merasakan sesuatu dari dalam dirinya, Gakupo sedikit tersenyum dan mulai membicarakan hal lain.
Mereka menghabiskan waktu di kedai Meiko hingga sore. Bukan karena Kaito bolos dari pekerjaannya, tetapi misi utama Jiyuutori saat ini adalah melindungi rakyat dan mengamankan Kamui Gakupo beserta dengan pertunjukannya dalam sebulan ini.
Kaito tidak bisa menahan alkohol, maka dari itu dia hanya meminum segelas saja setelah makan. Sebaliknya, dia melihat Gakupo meminum hampir 5 botol sake, tetapi dia sama sekali tidak mabuk, karena Gakupo sudah biasa meminum sake di pesta-pesta besar para aktor dan aktris.
"Datanglah lagi, tuan Kamui!" Meiko melambaikan tangannya dari pintu kedai.
Kaito dan Gakupo pun berjalan menuju ke arah kota. Kaito mencuri pandang dan melihat jika Gakupo benar-benar tidak mabuk. Dan ternyata Gakupo memang tidak mabuk sama sekali, dia takut melihatnya. Manusia macam apa yang tidak mabuk sedikitpun dari alkohol.
"Aku tidak tahu kau peminum yang kuat." Ucap Kaito.
Gakupo sedikit tersenyum, "Sake pertamaku adalah sake buatan Yamio Guren."
Kaito terkejut, "Pembuat sake keras itu?!"
"Dan aku meminumnya saat aku berusia 8 tahun." Lanjut Gakupo.
"Apa?!" Kaito tampak terganggu dengan fakta tersebut, "Kenapa kau meminum sake saat kau masih berumur 8 tahun? Kau bisa saja keracunan."
"Aku penasaran dengan rasa sake. Kehidupan di teater tidaklah mudah, banyak hal yang baru dan selalu saja ada dorongan untuk mencobanya." Gakupo mengernyit, "Dan sake pertama yang aku minum benar-benar membuatku pusing."
"Tentu saja." Kaito menghela nafasnya, "Sake buatan Yamio Guren bisa membuat orang dewasa tumbang dengan mudah, dan kau sudah mencicipinya sejak kau masih berumur 8 tahun."
Mereka bisa melihat matahari terbenam di jalan menuju kota. Cuaca saat itu sangat cerah, meskipun musim gugur akan berakhir dan musim dingin sudah di ujung mata, hangatnya matahari saat itu menembus ke kulit mereka.
"Terima kasih." Ucap Gakupo.
"Untuk apa?" Kaito menoleh ke arah Gakupo.
"Terima kasih, karena kau masih mau menemaniku meskipun aku selalu keterlaluan padamu. Setidaknya itu yang aku rasakan." Gakupo melirik ke arah Kaito dan tersenyum—senyuman di wajahnya begitu tulus hingga membuat Kaito tersipu malu.
"I—Itu... bukan masalah." Kaito menunduk malu, "Aku rasa kau keterlaluan padaku karena aku sendiri penyebabnya."
"Mungkin kita harus lebih sering keluar bersama." Ucap Gakupo dengan santai.
Kaito sempat terdiam, lalu dia tersadar, "Apa? Kita?" Dia mengernyit, karena atas dasar apa mereka harus keluar bersama lebih sering. "Kenapa?"
"Entahlah." Gakupo mengangkat bahu. "Karena aku merasa kau tidak pura-pura di depanku."
"Pura-pura?" Kaito tahu Gakupo adalah seorang bintang—atau mungkin sekarang mantan bintang—ternama di hampir seluruh penjuru negeri, selama ini dia tidak melihatnya demikian. Di mata Kaito, sebagai Komandan sebuah pasukan khusus yang melindungi warga, Gakupo hanyalah seorang salah satu warga—yang sangat kaya dan membuat dirinya terlihat seperti rakyat jelata—biasa. Tidak ada alasan mengapa dia harus menganak emas-kan Gakupo bila itu semua adalah untuk keselamatannya.
"Selama hidupku, aku hanya dikelilingi oleh pujian dan kekaguman." Gakupo berkomentar, "Meskipun aku melakukan kesalahan, orang di sekililingku bisa memutarbalikkan fakta, hingga aku berpikir jika aku memang tidak memiliki kesalahan atau kekurangan."
Kaito tidak tahu harus menjawab apa. Kehidupannya begitu berbeda, karena dia selalu menjadi sasaran kesalahan orang lain selama masa kecil hingga remajanya, dia tidak terlalu memiliki masa-masa yang menyenangkan.
"Kupikir." Kaito pun menunduk, "Itu tidaklah buruk." Kaito menginginkan orang-orang yang berada di sekeliling Gakupo, menyemangatinya, memberinya ucapan positif, dan selalu berada di sana untuknya. "Mungkin kau membutuhkannya."
"Aku tidak membutuhkannya." Balas Gakupo, "Jujurlah padaku, Shion Kaito. Apa yang kau lihat dariku?"
"Eh?" Kaito mulai terseret dalam masalah ini, "Menurutku, kau sangat dermawan. Bijak, jika aku ingin mengatakannya. Kau juga selalu tenang, tidak mudah panik. Kau sangat baik dan mudah berteman dengan orang lain dengan cepat." Kaito membuang muka dan bergumam, "Meskipun sebenarnya kau tampak mengerikan dengan wajah sedingin itu."
"Baiklah." Gakupo memperlihatkan wajahnya yang tidak setuju, "Kau tahu kenapa aku seperti itu?"
Kaito tampak berpikir, "Karena kau selalu dikelilingi oleh orang-orang yang peduli padamu?"
"Tidak." Gakupo berhenti, Kaito pun ikut. Mata Gakupo begitu dingin, menatap Kaito dengan serius, "Aku menjadi aku yang sekarang karena aku selalu menyalahkan diriku. Aku menganggap diriku sebagai orang yang gagal. Orang yang tidak pernah menggapai impiannya. Mungkin menyakiti diriku sendiri. Karena jika aku tidak melakukan semua itu, sekarang aku masih akan menjadi seorang aktor yang kurang ajar dengan harga dirinya yang tinggi, bahkan tidak pernah menghargai orang lain karena aku tahu mereka selalu mengikuti apa yang aku inginkan. Kadang kau harus terjatuh agar bisa bangkit."
Kaito sempat terdiam, lalu dia tersenyum, "Aku tidak pernah mengerti dengan jalan pikiranmu, tuan Kamui." Kaito membuang muka dengan senyuman yang masih tertera di wajahnya. "Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang ingin disalahkan sebelumnya."
"Aku selalu iri padamu, Shion Kaito." Ucap Gakupo.
Kaito mengangkat wajahnya, terkejut, "Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu persis apa yang kau alami, tetapi apapun itu, bisa membuatmu menjadi orang yang tegas dan bijaksana." Gakupo menghampiri Kaito, "Sifat keras membuatmu tidak melihat status seseorang, kau akan selalu menentang apa yang salah dan membela apa yang benar." Dia pun berjalan melewati Kaito.
Kaito menoleh, "Kau iri padaku?" Dia sedikit tersenyum namun tatapannya kosong dan mengepalkan tangannya, "Apakah kau juga menyalahkan dirimu sendiri atas kematian ibumu?"
Gakupo berhenti, dia memutar balik badannya dan menatap ke arah Kaito, "Tentu saja. Karena aku sendiri yang membunuhnya."
to be continued...
