Chapter 6: - God


Kaito terkejut, dia menganga dengan apa yang barus saja dia dengar, "Apa...?"

"Aku membunuh ibuku malam itu." Gakupo berjalan ke arah Kaito lebih dekat lagi, "Aku berumur 26 tahun saat itu. Dengan egois, aku ingin ibuku yang datang ke teater Edo setelah malam penghargaan besarku karena aku ingin ibuku melihat betapa besar nama anaknya dalam dunia hiburan yang selalu menjadi bagian hidupnya."

Kaito tampak khawatir, "Kamui... kupikir itu bukan salahmu—"

"Lalu malam itu, Kamitsumi menyergap perjalanan ibuku dan," Gakupo sempat terdiam, lalu dia kembali meneruskan apa yang ingin dia katakan, "Hanya Dewa yang tahu apa yang telah mereka lakukan pada ibuku sebelum mereka menghancurkan kepala ibuku."

"Kamui," Kaito mencoba menyela, semua yang terjadi pada ibu Gakupo bukanlah kesalahannya. "Ibumu pasti dengan bangga ingin melihatmu malam itu meskipun jika kau tidak menyuruhnya datang."

"Tetapi dia tetap datang karena aku menginginkannya." Gakupo membuang muka, "Jika aku tidak menyuruhnya datang, saat itu mungkin ibuku masih berada di kamarnya, menulis sebuah puisi seperti biasanya, dan dia masih bernafas hari ini." Mata dingin Gakupo mulai hilang, kini Kaito hanya melihat keputusasaan dari mata itu.

Kaito pernah melihat tatapan mata itu sebelumnya, pada dirinya sendiri.


"Kau memang penyakit, Kaito! Kenapa bukan kau yang mati di jembatan itu?! Pergilah dari hadapanku!"

"Jika kau tidak memiliki permintaan bodoh, mereka pasti masih hidup saat ini!"

"Ini salahmu, Kaito!"

"Aku tidak ingin melihat anak sialan itu, buang dia dari hadapanku!"


Tiba-tiba Kaito memeluk Gakupo dengan erat. Dia mengubur wajahnya di dada Gakupo dan dia mencoba untuk tidak mengeluarkan air matanya.

"Shion...?" Gakupo keheranan. "...apa yang—?"

"Itu..." Suara Kaito terdengar seperti gumaman karena dia masih mengubur wajahnya di dada Gakupo, "Bukan salahmu. Kau tidak membunuh ibumu. Kamitsumi-lah yang melakukannya. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kau—"

Gakupo pun mendorong Kaito dan terkejut melihat wajah yang dia lihat dari Kaito. Mata Kaito bagaikan tatapan seseorang yang berhadapan dengan kematian. Senyumannya begitu rapuh bagaikan Gakupo bisa melihat jiwa Kaito yang rusak.

Dengan berat hati, Kaito membuang muka, "Maaf. Aku... terbawa suasana." Dia pun menyadari sesuatu, lalu melirik ke arah Gakupo, "Apa yang kau tahu dari masa laluku?"

"Saudaramu... kakakmu dan adikmu." Gakupo membuang muka, "Maaf. Mungkin kali ini aku yang keterlaluan."

Kaito tersenyum, meskipun Gakupo bisa melihat tatapan Kaito yang menahan air mata, namun senyuman Kaito begitu tulus, "Kita kehilangan orang yang sangat kita cintai, dan aku tahu itu sangat menyakitkan, terlebih lagi jika semua itu terjadi karena apa yang kita lakukan. Tetapi kau tidak bisa terus menyalahkan dirimu, itu artinya kau terikat dengan masa lalumu dan tidak bisa melangkah ke depan."

Cahaya matahari senja menyinari Kaito yang masih tersenyum, "Aku tidak berkata kau harus mengabaikannya, tetapi cobalah untuk menjadi orang yang lebih baik dari apa yang menimpamu di masa lalu. Belajarlah dari itu." Kaito menggenggam tangan Gakupo, "Sekarang aku bisa melindungi lebih banyak orang lagi dengan posisiku sebagai anggota Jiyuutori, terlebih lagi aku adalah Komandan mereka."

Gakupo menatapi Kaito dengan mata yang terlihat hidup. Ini bukan ekspresi yang sering bisa ditunjukkan oleh Gakupo. Seakan-akan, hati Gakupo yang dingin telah terisi oleh sesuatu yang hangat.

Kaito masih tersenyum, "Maka dari itu—"

Gakupo pun menarik tangan Kaito, dia lalu memegang kedua pipi Kaito dengan cepat namun dengan sentuhan yang lembut. Perlahan, Gakupo mencium bibir Kaito.


"...lalu kita bisa kembali ke posisi semula." Yuuma melirik ke arah Kaito, "Apa anda memiliki opini lain, Komandan?"

Kaito terdiam, dia tampak memikirkan sesuatu yang lain. Anak buah Kaito yang sedang membahas posisi jaga untuk pertunjukan di teater Wageki hari ini tampak kebingungan.

"Komandan Shion?" Yuuma memiringkan kepalanya.

"Hmm?" Kaito pun tersadar, "Ah..." Wajahnya sedikit memerah, "Maaf. Apa yang kau katakan tadi?"

Yuuma terlihat masih bingung—begitu pula dengan yang lainnya. "Posisi jaga kita untuk pertunjukan malam ini?"

"Oh iya." Kaito pun menghela nafasnya, lalu dia kembali memasang wajah bingung, "Tunggu, jadi apa yang akan kalian lakukan nanti?"

"Komandan, anda baik-baik saja? Beberapa hari ini anda tampak lemas." Yuuma tampak khawatir, "Jika anda merasa kurang sehat, anda bisa beristirahat dan kami akan mengambil alih."

"Tidak. Tidak." Kaito menampar pelan wajahnya, "Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja."

"Baiklah." Yuuma tidak yakin, namun jika Kaito memaksa, dia tidak membantah atasannya.


Sore itu, teater Wageki sudah tampak penuh. Sebagian anggota Jiyuutori sudah tiba di sana dan keadaan tampaknya sudah terkendali. Di gerbang utama, Rin dan Len sudah menunggu Kaito. Berbeda dengan hari pertama pertunjukan, kini mereka mengenakan pakaian formal.

"Sepertinya hari ini lebih banyak bangsawan yang datang untuk menonton." Ucap Kaito pada mereka.

Rin tersenyum, "Dan tamu undangan. Hari ini ada lebih dari 10 keluarga bangsawan yang berkunjung. Tuan Kamui menyuruh kami memakai pakaian formal ini."

"Kau tampak elegan mengenakan kimono itu." Kaito tersenyum, lalu dia menoleh ke arah Len, "Kau juga."

Len memberikan wajah bangga, "Tentu saja. Ini adalah pakaian terbaik yang dijahit oleh nyonya Yuri, penjahit terkenal dari Edo yang sudah menjadi langganan tuan Kamui. Dan tentu saja, bahan yang digunakan tidaklah murahan."

"Kau tahu," Kaito menyela, "Aku hampir saja menampar wajah sombongmu tadi."

"Shion Kaito." Gakupo datang dari pintu samping.

Dada Kaito tiba-tiba berdetak dengan kencang dan dia tampak canggung. "O—Oh... Selamat sore, tuan Kamui."

"Kau bisa masuk dari pintu samping." Ucap Gakupo yang masih berpakaian biasa dan belum bersiap untuk pertunjukannya.

"Bukannya kau sudah harus dalam kostum-mu sekarang?" Tanya Kaito.

Rin menyela, "Tuan Kamui muncul di bagian dua, jadi dia bisa berdandan di bagian pertama saat berjalan."

Gakupo pun kembali berjalan ke arah pintu samping, diikuti oleh Kaito. Dia sempat menoleh ke arah Rin dan Len. "Ingat. Jika klan Agasa sudah tiba, beritahu aku."

"Baik!" Ucap Rin dan Len serentak.


Di lorong dari pintu masuk samping, Kaito dan Gakupo berjalan dalam keheningan. Sejak kejadian 'itu', mereka tidak bertemu lagi—karena Kaito sering kabur dari Gakupo sejak itu. Kaito menunduk dan berharap jika lorong ini berakhir di tempat yang sangat ramai.

"Shion Kaito." Ucap Gakupo tiba-tiba.

"I—iya?!" Kaito sangat terkejut dan tersenyum canggung.

"Apakah kau memikirkan apa yang aku lakukan beberapa hari yang lalu?" Tanya Gakupo tanpa menoleh ke arah Kaito dan masih berjalan menelusuri lorong itu.

Kaito—yang berusaha melupakan kejadian itu—mulai salah tingkah. "Eh?! Aku?" Dia memaksakan tawanya, "Apa maksudmu?"

Gakupo berhenti dan membalik badannya, "Aku telah menciummu."

Wajah Kaito memang tenang, namun dia berteriak di dalam. Jiwanya berteriak dengan kencang hingga senyuman di wajahnya begitu lebar.

"Maaf jika aku sudah keterlaluan." Gakupo tampak bersalah, "Aku tidak bermaksud untuk melakukan pelecehan atau semacamnya. Saat itu aku terbawa suasana."

Kaito hanya terdiam, karena jujur saja dia juga tidak mengelak saat itu. Sebaliknya, Kaito menikmatinya. Di saat itulah Kaito mulai merasa bingung dengan dirinya sendiri.

"Aku..." Kaito masih menunduk, "Tidak keberatan. Hanya saja..." Wajahnya mulai memanas dan dia menoleh ke arah lain agar wajahnya tidak dilihat Gakupo. Namun, Kaito juga mencuri pandang dan dia bingung ketika melihat Gakupo yang memperlihatkan wajah terkejutnya. "Kamui...?"

"Kau..." Gakupo menenangkan wajahnya, "...tidak keberatan?"

Kaito sadar, kini wajahnya lebih memerah lagi, "Ah! Aku tidak bermaksud—maksudku, aku hanya—" Kaito terkekeh canggung.

Gakupo mendekati Kaito dan tiba-tiba lorong itu terasa sempit baginya. Dengan Gakupo yang menghampirinya, Kaito pun menyandar di tembok dan mencoba untuk tidak melakukan kontak mata dengan Gakupo.

Perlahan-lahan, tangan Gakupo menyentuh dagu Kaito. Dada Kaito berdetak dengan kencang, bahkan Gakupo bisa sedikit mendengarnya di lorong sunyi tersebut. Ketika Gakupo hendak mendekati wajahnya ke arah wajah Kaito, tiba-tiba suara Luka bisa terdengar dari ujung lorong.

"Gakupo! Kau di sana?" Teriaknya.

Mereka langsung berhenti dan menganggap suasana tadi tidak terjadi. Gakupo berjalan menghampiri suara Luka, "Aku di sini." Ucapnya dengan suara yang agak keras.

Gakupo menoleh ke arah Kaito sebelum benar-benar keluar dari lorong, dia melihat Kaito yang masih menunduk dan Gakupo sama sekali tidak bisa melihat wajah seperti apa yang dibuat oleh Kaito.

"Gakupo!" Luka mulai terdengar kesal.

Gakupo pun pergi dari lorong. Sementara itu, Kaito yang masih bersandar di tembok, memejamkan matanya, kerutan alisnya begitu dalam. Dia berpikir, kenapa dia seperti ini. Kebingungan, merasa tidak tenang, dan perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Dengar," Luka tampak tidak senang, "Sepertinya ada beberapa orang yang berkata padaku jika adegan ciuman kita terlihat sangat palsu."

Gumi menoleh ke arah mereka, "Memang itu ciuman palsu, 'kan? Kalian hanya akting."

Dengan mata berapi-api, Luka memelototi Gumi, "Itu berarti aku dan," Luka menunjuk Gakupo dengan jarinya yang menahan pukulan, "Dia!" Luka kembali menurunkan tangannya, "Telah gagal dalam memberikan pertunjukan yang spektakuler. Mereka bisa melihat kita berakting selama adegan itu. Dan itu artinya, penjiwaannya sangat kurang."

"Kau ingin kita berciuman lebih nyata?" Gakupo mengangkat sebelah alisnya.

"Tentu saja!" Luka tampak stres, dia mondar-mandir dengan kostum yang sudah dia kenakan, "Aku mendapat kritikan itu selama beberapa hari ini dan itu sangat tidak menyenangkan!"

Miku muncul dari belakang Gumi, "Menurutku, jika kalian ingin terlihat lebih asli melakukan adegan itu, mungkin nona Megurine bisa merangkulkan kedua lengannya di sekitar leher tuan Kamui, jadi meskipun ciuman itu tertutupi dengan lengan nona Megurine, asalkan kalian memberikan ekspresi yang meyakinkan, mereka bisa menyangka kalian benar-benar melakukannya."

"Hmm," Gumi tampak senang dengan ide Miku, "Mungkin itu bukan ide yang buruk."

Gakupo memutar matanya, "Bukan ide yang bagus. Aku pernah melihat sebuah pentas yang melakukan teknik yang sama, dan mereka tampak seperti orang bodoh karena jarak kepala mereka yang cukup jauh. Intinya, itu terlihat lebih palsu lagi."

Kaito akhirnya keluar dari pintu lorong, mata semua orang yang ada di ruangan itu sempat tertuju padanya dan membuatnya terkejut, namun mereka benar-benar tidak peduli dan mengabaikannya untuk melanjutkan pembicaraan mereka.

"Menurut nona Megurine," Miku terlihat berpikir, "Ciuman yang terlihat asli itu yang seperti apa?"

Luka mengusap keningnya dengan ekspresi kesal, "Entahlah!"

"Wow." Gumi mengangkat bahunya, "Berarti adegan ini akan sangat sulit di pertunjukan hari ini." Tiba-tiba, Gumi menoleh ke arah Kaito, "Bagaimana menurut anda, Komandan Shion?"

Kaito tidak tahu sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Setelah Gumi menjelaskannya, Kaito terselimuti oleh kebingungan. Menurutnya, adegan itu tampak nyata dan tidak tahu di mana palsunya—kecuali Kaito mengabaikan fakta jika mereka sedang berakting.

"Menurutku, penampilan kalian sangat menakjubkan." Komentar Kaito.

Luka menatapi Kaito dengan wajah malas, "Aku tidak ingin diberi komentar standar oleh orang yang bahkan tidak pernah melihat pertunjukan teater besar sebelumnya. Mungkin dia sendiri belum pernah mencium seseorang sebelumnya."

Wajah semua orang di sana tampak terkejut, kecuali Gakupo, dia bahkan terlihat ingin tertawa namun menahannya. Kaito mengernyitkan matanya.

"Oke, baiklah. Lalu kenapa kalian bertanya padaku tentang ini jika aku memang terlihat seperti orang yang tidak tahu apa-apa?" Kaito terdengar kesal.

"Maafkan dia." Ucap Gakupo, "Dia sedang kesal, dan biasanya dia akan mencipratkan amarahnya ke semua orang.

"Hei!" Luka menampar pundak Gakupo, "Aku tidak seperti itu!"

"Kau lihat?" Ucap Gakupo dengan wajah mengejek.

Semua orang pun tertawa dan kembali membahas masalah tersebut. Kaito berdiri sendirian, melihat mereka yang sedang berinteraksi dan mungkin mempererat ikatan mereka. Membuat Kaito sadar, jika dia benar-benar kesepian. Bahkan di Jiyuutori pun, Kaito selalu sendirian. Akhirnya, Kaito pun meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan menuju area teater.


Kaito berdiri dan berjaga lagi di tempat sebelumnya. Dia melihat beberapa anak buahnya sudah berada di posisi sambil mengamankan para pengunjung. Dari arah pintu utama, Kaito melihat Rin dan Len berjalan menuju kursi khusus, di belakang mereka berdiri seorang lelaki dengan pakaian mewah dan membawa sebuah katana. Kaito lebih terkejut lagi ketika di belakang lelaki tersebut, mungkin ada lebih dari 5 orang berseragam mengikutinya—dan juga membawa katana.

Setelah lelaki itu duduk dan para pengikutnya berdiri di belakang kursi, Rin dan Len berlari menuju pintu yang ada di dekat Kaito. Mereka mengabaikan Kaito dan hendak berlari melewatinya, namun dia menahannya.

"Tunggu. Siapa itu?" Tanya Kaito yang memegang lengan Rin.

"Oh!" Rin tersenyum, dan Kaito akhirnya melepaskan genggamannya, "Dia adalah ketua klan Agasa, Agasa Rikiya."

Len tampak bangga, "Sudah berumur 61, tetapi dia masih terlihat segar dan gagah."

Kaito berpikir, "Dan itu adalah tamu yang dibicarakan oleh Gakupo tadi?"

"Iya." Rin masih tersenyum-senyum, "Kami tidak tahu apa hubungan tuan Kamui dan tuan Agasa secara detail, namun sepertinya tuan Kamui sangat menghormatinya dan mereka sering bekerja sama hampir dalam semua hal yang membantu teater ini untuk menjadi lebih baik."

"Kurasa hubungan mereka sudah sangat jelas." Ucap Kaito, "Orang bernama Agasa itu adalah seorang partner bisnis."

Rin dan Len terdiam, lalu wajah mereka sama-sama terkejut.

Kaito memutar matanya lalu menghela nafasnya, "Baiklah. Pergilah dan beritahu tuan kalian jika dia sudah ada di sini." Akhirnya, Rin dan Len meninggalkan Kaito.


Kaito menatapi orang bernama Agasa Rikiya tersebut. Sudah tentu Agasa Rikiya bukanlah penduduk Otobashi, karena Kaito sama sekali belum pernah melihat atau mendengarnya sebelumnya. Dari penampilannya, Kaito tidak yakin jika dia adalah seorang bangsawan atau seorang pengusaha kaya.

Di tempat duduknya, Agasa Rikiya melihat-lihat sekitar teater dan wajahnya begitu dingin. Kaito pernah melihat tatapan seperti itu dari Gakupo. Membuatnya berpikir apakah wajah orang-orang kaya memiliki ekspresi datar dan mengintimidasi yang sama.

Seperti yang Len katakan, untuk seseorang yang sudah berumur 61 tahun, Agasa Rikiya tampak seperti seseorang yang masih berumur 40 tahunan. Dia tampak sigap, penampilannya rapi dan berkelas, bahkan tidak ada sehelai rambutnya yang memutih.

Ketika Kaito menatapinya, mata Agasa Rikiya tertuju padanya dan dengan tenang, Kaito mulai mengalihkan pandangannya. Tak lama kemudian, Kaito kembali melirik ke arah Agasa Rikiya, namun ternyata dia masih menatapi Kaito. Tiba-tiba, bulu kuduk Kaito berdiri dan dia merasakan dingin di punggungnya. Membuang muka ke arah lain, Kaito pun mencoba untuk tidak terlihat panik. Menurutnya, tatapan orang ini lebih menakutkan dari tatapan dingin Gakupo di saat mereka bertemu saat pertama kali.

Dari pintu samping, Kaito melihat Gakupo yang berjalan ke arahnya—hendak berjalan melewatinya. Gakupo benar-benar melewati Kaito tanpa menyapa atau apapun, seakan-akan Kaito tidak ada di sana. Kaito sedikit merasa kesal, lalu matanya terfokus mengikuti Gakupo yang berjalan menghampiri kursi Agasa Rikiya. Di sana, mereka terlihat berjabat tangan dan mulai mengobrol. Kaito tidak yakin apa yang dibicarakan oleh mereka, tapi mungkin sebuah pembicaraan bisnis.

Tak lama kemudian, Gakupo terlihat hendak kembali. Kaito sendiri kembali fokus ke arah panggung dan membiarkan Gakupo berjalan melewatinya. Saat Gakupo berjalan di depannya, Kaito terkejut karena wajah Gakupo benar-benar terlihat dingin dan tatapan matanya begitu kosong—terlihat seperti orang yang ingin mengakhiri nyawa seseorang. Gakupo pun melewati Kaito dan kembali masuk ke ruangan samping. Kaito terdiam dan berpikir apa yang terjadi di sana hingga membuat Gakupo terlihat seperti itu.


Beberapa menit sebelum pertunjukan dimulai, Kaito dikejutkan oleh kedatangan sebuah kelompok yang lebih besar dan tentu saja mereka memiliki katana di setiap sisi mereka. Para anggota Jiyuutori pun mulai menghampiri mereka—dipimpin oleh Kaito yang berdiri di depan mereka.

"Selamat malam." Ucap Kaito, "Ini adalah sebuah teater pertunjukan."

Orang yang berdiri di depan kelompok itu—tentu saja, adalah ketuanya—mendekati Kaito dengan wajah yang mengejek. "Oh, lihatlah. Komandan Jiyuutori kota Otobashi." Kini dia tersenyum sinis, "Bagaimana dengan pekerjaan kalian? Aku heran Jiyuutori masih beroperasi meskipun mereka sama sekali tidak pernah menangkap Kamitsumi." Lelaki itu tertawa, lalu semua pengikutnya ikut tertawa pula.

"Komandan Shion!" Terdengar suara teriakan Rin dari belakang. Dia berlari dan menghampiri mereka.

Rin langsung membungkuk dan memberi hormat kepada lelaki tadi. "Maafkan kami. Kami belum memberitahu para anggota Jiyuutori tentang anda."

Lelaki itu kembali berjalan, lalu mendorong Rin dari jalan mereka. "Dasar sampah tidak berguna. Lakukanlah pekerjaanmu lebih benar lagi, bocah." Lelaki itu pun berjalan ke kursi tamu khusus.

Kaito menoleh ke arah Rin dengan wajah yang mengamuk namun juga bercampur bingung, wajah Kaito terlihat tidak waras. Rin menghela nafasnya dan membuang muka dengan wajah kesal.

"Baiklah, maafkan aku." Rin menyilangkan tangannya, "Mereka adalah klan Kagamishou. Mereka memang menyebalkan, tetapi mereka adalah asosiasi ayah tuan Kamui sejak teater ini berdiri. Bahkan sebelumnya, saat dia masih bukan siapa-siapa di dunia teater."

"Dari mana dan kenapa kau tahu semua hal ini?" Kaito mengangkat sebelah alisnya.

Rin terdiam, menatapi Kaito, seakan-akan dia mempertimbangkan apa yang akan dia katakan. "Itu..."

"Rin!" Len memanggil Rin dari arah lain, dan Len tampak kewalahan. "Apa yang kau lakukan?! Cepat kemari! Kita harus mempersiapkan kursi untuk klan Douiyou!"

"Aku datang!" Rin menoleh ke arah Kaito dan tersenyum, "Selamat malam." Lalu dia berlari ke arah Len dan mereka pun tidak terlihat lagi di sana.


Pertunjukan sudah masuk ke bagian tujuh dan sebentar lagi mereka akan masuk ke adegan intim antara Gakupo dan Luka. Kaito ingat mereka masih memperdebatkan masalah ciuman mereka yang terlihat tidak asli—tentu saja karena mereka hanya berakting—Kaito berbicara sendiri.

Di panggung, Luka menatapi Gakupo dengan pandangan yang emoisional. Gakupo bisa melihat jika Luka ingin sekali adegan ini menjadi momen terbesarnya sebagai seorang aktris. Luka selalu menanggapi kritikan dengan serius, masalah ini pun akan dia pikirkan sepanjang hidupnya jika dia tidak memperbaikinya.

Sebagai sesama aktor, Gakupo pernah ada dalam posisi Luka, yang selalu menanggapi kritikan terlalu serius. Saat adegan hendak dimulai, Gakupo menarik Luka dengan erat dalam pelukannya lalu dia menaruh kepalanya di pundak Luka dan berbisik.

"Jika kau ingin memperbaikinya. Lakukanlah."

Luka menelan ludahnya, mengangguk sedikit, memberikan tanda jika Luka benar-benar ingin adegan ini terlihat nyata. Mereka kembali bertatapan mata dan dengan lembut Gakupo menaruh kedua tangannya di pipi Luka. Mereka pun saling berciuman. Gakupo mencium Luka dengan begitu dalam dan begitu pula Luka. Para penonton terkejut dan terkesima dengan adegan yang mereka lihat. Kaito menatapi mereka dan merasa dia pernah melihat atau merasakan adegan itu. Karena itulah yang dilakukan oleh mereka beberapa hari yang lalu. Dan Kaito merasa ada sesuatu yang menyesakkan di dadanya saat melihat adegan tersebut. Saat adegan bagian tujuh selelsai, para penonton bersorak dan bertepuk tangan dengan meriah.


Pertunjukan malam ini sangatlah sukses. Luka menangis dan terus-terusan memeluk Gumi karena akhirnya dia bisa terlepas dari kritikan yang dia terima. Saat mereka saling merayakan, Gakupo tersenyum menatapi mereka dari ruangan. Tak lama kemudian, Kaito, Yuuma, dan beberapa anggota Jiyuutori masuk ke belakang panggung.

"Selamat." Ucap Kaito, mecoba tampak lebih profesional, "Kalian memberikan pertunjukan yang mengagumkan malam ini."

Yuuma menyela dengan suaranya yang sangat bahagia, "Aku hampir menangis melihat adegan akhirnya—lagi." Dia pun terkekeh.

"Terima kasih." Ucap Luka dengan tulus dan dia tidak bisa berhenti tersenyum. "Dan terima kasih telah menjaga pertunjukan kami agar tetap aman."

"Itu sudah menjadi tugas kami." Kaito sedikit mengangguk. "Seperti biasa, kami akan berjaga di seluruh teater hingga proses penutupan." Dia tersenyum, "Kami akan kembali." Kaito pun memutar badannya dan hendak berjalan menuju pintu keluar hingga dia sadar jika Gakupo sedang menyandar di dinding di samping pintu.

Kaito tersenyum, "Selamat atas pertunjukannya, tuan Kamui."

"Itu bukan apa-apa." Jawab Gakupo dengan biasa, dia sudah sering mendapat ucapan seperti itu dari orang lain.

Dari pintu, datang seseorang yang tidak asing di mata Kaito. Ketua klan Agasa hendak masuk ke sana. Kaito dan anak buahnya sedikit mundur agar mereka bisa masuk. Gakupo langsung berdiri dengan benar saat mereka masuk.

"Tuan Agasa." Gakupo sedikit mengangguk.

Agasa tampak senang melihat Gakupo dan seluruh orang yang terlibat dengan pertunjukan tadi. "Sebuah pertunjukan yang sangat mengesankan. Aku tidak merasa bosan melihatnya. Mungkin aku akan menonton petunjukan terakhir kalian lagi minggu depan."

"Itu sangat berarti bagi kami, terutama bagiku." Ucap Gakupo. "Terima kasih telah menerima undangan kami."

"Sebenarnya kau tidak perlu mengundangku. Aku akan datang melihat pertunjukanmu dengan kehendakku sendiri." Agasa tampak bangga dengan apa yang dilakukan oleh seluruh tim pertunjukan. "Kami akan pamit dulu."

"Oh," Gakupo pun membungkuk, diikuti semua timnya, "Terima kasih." Mereka pun kembali berdiri, "Kami akan melihat kalian lagi minggu depan."

Agasa mengangguk lalu dia dan anak buahnya pergi meninggalkan ruangan.


Proses penutupan hampir selesai. Kaito berdiri di tempat biasanya—di tengah kursi penonton dan berhadapan langsung ke arah panggung. Gakupo datang menghampirinya.

"Kau tidak banyak bicara hari ini."

Kaito terkejut, "Sejak kapan kau di sini?"

"Aku baru saja tiba." Gakupo berdiri di samping Kaito dan mereka sama-sama menatapi panggung—yang sedang dibereskan oleh anggota teater.

"Banyak yang bilang, pertujukan teater kedua tidak memberikan kesan bagi orang yang menontonnya di pertunjukan pertama." Ucap Gakupo.

"Tidak juga." Balas Kaito, "Aku masih terkesima dengan pertunjukan ini, meskipun aku sudah tahu jalan ceritanya."

"Aku tidak perlu bertanya tentang ini, tetapi Luka bersikeras karena dia ingin tahu pendapat semua orang." Gakupo melirik ke arah Kaito, "Bagaimana menurutmu tentang adegan kami?"

"Oh..." Kaito terdiam, lalu dia sengaja melihat ke arah lain, seakan-akan dia memeriksa anak buahnya di lantai 2. "Bagus. Terlihat sangat nyata bagiku. Meskipun aku sudah bisa melihat adegan itu sangat bagus di pertujukan pertama."

"Jadi, kami berhasil?" Tanya Gakupo yang masih menatapi Kaito.

"Tentu saja." Kaito terkekeh canggung, "Aku tidak percaya kalian benar-benar berciuman. Ini adalah sebuah fenomenal di dunia teater." Kaito pun menatapi panggung dengan mata kosong.

Gakupo terdiam cukup lama, lalu dia menghela nafasnya. "Dunia teater adalah dunia yang profesional. Dan semuanya hanya sebatas pekerjaan." Gakupo kembali melirik Kaito, "Ciuman di sebuah pertunjukan tidaklah menggunakan lidah. Kami hanya berciuman di mulut yang hampa, karena kami hanyalah berakting. Berciuman dengan lidah adalah sesuatu yang intim dan pribadi."

Tiba-tiba wajah Kaito memerah. Dia mengingat ciuman Gakupo yang begitu dalam di mulutnya dan saat itu lidah mereka bagaikan terbelit di dalamnya. Gakupo sedikit tersenyum, lalu dia menutupi wajahnya dengan kipasnya.

"Selamat malam, Komandan Shion." Gakupo berjalan meninggalkan Kaito, "Terima kasih atas bantuanmu."

Saat Gakupo sudah keluar dari lingkungan teater, Kaito pun jongkok dan menutupi wajahnya yang masih memerah.


Keesokan harinya, pagi itu Kyo dan Kiyoteru datang mengunjungi Kaito. Wajah Kyo sama sekali tidak menyenangkan dan Kiyoteru tampak putus asa. Kaito yang baru saja tiba tidak berharap mendapat teguran sepagi ini.

"Kalian tampak menyedihkan." Ucap Kaito dengan wajah khawatir.

"Tentu saja." Kyo terdengar kesal, dia pun masuk ke pintu utama dan berjalan menuju ruangan kerja Kaito.

Di sana, Kyo duduk dengan posisi yang tidak tenang sedangkan Kiyoteru hanya terdiam. Kaito penasaran dengan apa yang terjadi.

"Kau tahu anggota Kamitsumi yang tiba-tiba menjadi bisu?" Tanya Kyo.

"Iya. Aku sudah membaca surat Hiyama." Kaito menoleh ke arah Kiyoteru, "Baiklah, apa yang terjadi?"

Kiyoteru menghela nafasnya, "Dia mati kemarin malam dan hanya memberi petunjuk yang tidak masuk akal."

Kaito mengernyit, "Baiklah. Petunjuk seperti apa?" Dia kembali menoleh ke arah Kyo. "Kalian pasti sudah memikirkannya, 'kan? Sebelum kalian tampak putus asa seperti ini."

"Saat kami menginterogasinya," Ucap Kiyoteru, "Kami memberikan kertas dan kuas. Berharap dia menuliskan sesuatu di sana tentang Kamitsumi atau kami mengacamnya untuk hukuman mati. Dia hanya terdiam selama 3 jam, hingga akhirnya dia menuliskan sesuatu di kertas itu."

Kyo mengeluarkan gulungan kertas besar dan membeberkannya di meja. Di kertas besar tersebut, hanya tertulis kanji Dewa/Tuhan (神- Kami). Kaito mengernyit, petunjuk ini sangatlah ambigu, maksudnya bisa apa saja.

"Kami...?" Kaito mengangkat sebelah alisnya, "Kamitsumi? Dewa? Atau dia hendak berhadapan dengan dewa, mengetahui dia akan mati?"

"Sudah kubilang ini sangatlah ambigu." Kyo menghela nafasnya, "Aku memberikan petunjuk ini ke 3 komandan Jiyuutori—termasuk kau, karena Kaisar sendiri yang memerintahkannya. Beliau tahu kemampuan kalian dan kuharap kalian memberikan solusinya atau kita tidak bisa melangkah lebih jauh dari Kamitsumi."

"Baiklah." Kaito mengangguk, "Aku akan mencoba memecahkannya."


Malam itu, Kaito berada di kedai milik Meiko, saat ini kedai tidak terlalu ramai, hanya ada 4 orang yang berkunjung. Kaito hanya memesan teh dan terfokus pada kasus ini. Dia hanya berbekal catatan kecil dan semua petunjuk dia tuliskan di sana, kini dia mencoba memecahkannya dan melihat jika ada koneksi dari petunjuk yang dia temukan.

Tak lama kemudian, Gakupo dan Kagamine bersaudara tiba di kedai. Kaito terkejut dan hampir menumpahnya cangkir tehnya. Rin dan Len langsung berlari ke kursi Kaito dengan senyuman di wajahnya.

"Selamat malam, Komandan Shion!" Ucap Kagamine bersaudara.

"Malam." Balas Kaito, yang langsung menutup catatannya dan menyimpannya di balik haori Jiyuutori.

Gakupo tiba-tiba duduk di kursi samping Kaito, sedangkan si kembar duduk di seberang mereka. Gakupo menoleh ke arah Meiko. "Selamat malam."

Meiko yang menyadari kedatangan Gakupo, terlihat sangat senang, "Selamat malam, tuan Kamui! Ingin pesan sake lagi?"

Gakupo pun mengangguk, Rin dan Len mengangkat tangannya dan berbicara secara bersamaan, "Kami ingin teh! Terima kasih!"

Meiko tersenyum dan menyiapkan pesanan mereka. Kaito menghela nafasnya dan kini dia tidak bisa berkonsetrasi dengan pekerjaannya selain dadanya yang berdetak tidak karuan setiap Gakupo meliriknya.

"Kau tampak sibuk." Ucap Gakupo yang melihat Kaito sempat memasukkan catatan miliknya. "Kau sedang bekerja?"

"Begitulah." Balas Kaito, "Tapi mungkin aku bisa meneruskannya besok. Aku sudah seharian memikirkan ini."

"Istirahat yang cukup," Ucap Rin.

"Bisa memberikan fokus yang lebih tinggi!" Ucap Len. Lalu mereka terkekeh.

"Sudah ada berita baru dari Kamitsumi?" Tanya Gakupo dengan biasa.

"Ini adalah sebuah rahasia, aku tidak bisa seenaknya memberitahu kalian atau aku akan terkena masalah." Kaito menghela nafasnya.

"Kami tidak mengganggu," Rin tampak bersungguh-sungguh, "Kami hanya penasaran." Lalu dia kembali tertawa dengan saudara kembarnya."

Kaito mengusap keningnya dan memberikan wajah yang sudah menyerah. Gakupo meliriknya dan sedikit tersenyum.

"Maafkan mereka. Kebiasaan mereka untuk mencari informasi sudah melekat sejak kecil." Ucap Gakupo yang kini melihat ke arah Kagamine bersaudara yang sedang asyik berbicara.

"Kau melatih mereka agar bisa mencampuri urusan orang lain?" Kaito mengernyit.

"Aku tidak akan melatih mereka sebagai orang seperti itu. Mereka secara resmi berada di teater Wageki dan kediaman Kamui ketika mereka berumur 7 tahun. Kini mereka adalah remaja 16 tahun yang bahagia dan sepertinya sudah terlatih dengan kemampuan mereka untuk menggali informasi." Balas Gakupo.

"Tuan Kamui, kami akan memesankan acar terung untuk anda." Ucap Rin, "Kuharap nona Meiko memilikinya." Rin dan Len pun berlari ke arah dapur.

Kaito sempat terdiam, lalu dia menoleh ke arah Gakupo, "Aku kira mereka lahir di kediaman Kamui." Lalu dia kembali mengernyit, "Lalu kenapa mereka harus dilatih untuk mencari informasi? Orang macam apa yang mengajari anaknya untuk mengetahui masalah orang lain?"

"Orang tua mereka terlilit hutang dan mereka tidak punya pilihan selain menyerahkan anaknya." Gakupo menghela nafasnya, "Karena jika orang tua mereka tidak membayarnya, Rin dan Len mungkin tidak akan selamat."

"Mereka..." Kaito tampak khawatir, "Tidak bekerja denganmu sejak awal?"

"Tidak." Gakupo sedikit tersenyum, "Ayahku menyelamatkan mereka dan orang tua mereka. Kini kedua orang tua mereka bekerja di Kyoto karena ayahku memberikan mereka pekerjaan melalui rekomendasi."

"Oh," Kaito tampak kagum, "Aku tidak tahu itu." Dia pun menoleh ke arah Gakupo, "Kepada siapa mereka memiliki hutang?"

"Klan Kagamishou." Jawab Gakupo.

"Kagamishou." Kaito merasa dia pernah mendengar nama itu sebelumnya. Akhirnya dia ingat dan wajahnya terkejut, "Mereka pernah bekerja pada lelaki tidak sopan itu?!"

Gakupo melirik Kaito, "Ketua klan mereka sebenarnya orang baik. Tapi anak mereka, yang mengunjungi pertunjukan malam itu, kurang disukai orang lain."

"Pantas saja." Kaito pun menyilangkan tangannya. "Tetapi, aku terkejut mereka memiliki marga yang hampir sama. Kagamine dan Kagamishou."

"Iya, namun penulisan kanjinya sangat berbeda." Ucap Gakupo.

Kaito menghela nafasnya, "Mudah-mudahan aku tidak salah menuliskan nama orang lain." Dia pun terkekeh, lalu tiba-tiba dia terdiam. Wajahnya mulai serius karena mungkin dia menyadari akan sesuatu. Dia menoleh ke arah Gakupo dengan pelan. "Ka—Kamui..."

"Iya?" Gakupo menoleh ke arah Kaito.

"Ba—bagaimana kau menulis Kamui?" Kaito tampak memastikan.

Gakupo sempat terdiam, lalu dia menuliskan namanya di udara seakan-akan dia menulis di sebuah kertas, "Kamui menggunakan kanji 'Kami' (神- Dewa) dan 'I' dari Odoshi (威- Kekuasaan)." Gakupo memiringkan kepalanya, keheranan, kenapa Kaito bertanya hal itu dengan wajah yang khawatir.

Kaito menelan ludahnya, perasaan khawatir dan prasangka mulai muncul di dalam dirinya.


To be continued...