Chapter 7: 藤の下で – Under The Wisteria


Musim semi saat itu, di samping danau Mizuiro, Gakupo—yang masih berumur 8 tahun—duduk bersama ibunya, Sachiko, di bawah pohon wisteria yang sedang mekar. Gakupo berbaring di pangkuan ibunya yang mengelus kepalanya dengan lembut.

"Semalam, Ayah memberikan naskah pertunjukan pertama Ibu." Gakupo tersenyum dan terlihat bangga. "Menurutku, Ibu memerankan peran yang sangat menakjubkan!"

Sachiko tersenyum, menatapi anak tunggalnya dengan penuh kasih sayang, "Itu sudah lama sekali. Dan Ibu yakin, peran yang dimainkan Ibu sudah tidaklah begitu mengesankan. Tetapi, terima kasih atas komentarmu."

Gakupo pun bangkit dari pangkuan ibunya, kini wajahnya tampak khawatir. "Ibu... baik-baik saja?" Gakupo bisa melihat mata hampa dari Ibunya.

"Ibu baik-baik saja." Sachiko tersenyum rapuh.

Lalu, tiba-tiba Sachiko mengeluarkan air mata darah dan senyumannya semakin melebar di wajahnya dengan ekspresi yang menyedihkan.

Suara Sachiko mulai parau, "Kenapa kau bertanya seperti itu, Gakupo?"


Gakupo terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin di hampir seluruh tubuhnya. Dia bangkit dari kasurnya dan melihat ke sela-sela jendela. Dia bisa melihat cahaya matahari dari sana, dan akhirnya dia sadar ini sudah pagi.

Dua hari yang lalu, Gakupo bertemu dengan Kaito di kedai milik Meiko. Dia tidak tahu kenapa, tetapi Kaito tampak khawatir sepanjang malam itu. Gakupo pun berpikir jika Kaito merasa stres dari pekerjaannya. Dia tidak ingin mengganggu pekerjaan Kaito, tetapi dia berhak memberitahunya untuk beristirahat. Gakupo pun berbenah diri sebelum melakukan aktivitasnya hari ini.

Pagi itu, seluruh pekerja Gakupo sudah beraktivitas seperti biasa. Dia melihat Rin dan Len sedang mengatur para pekerja yang sedang membereskan pakaian-pakaian Gakupo. Dia pun berjalan menuju pintu utama, melewati berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para pekerjanya.

Saat Gakupo keluar dari pintu utama, suasana kota Otobashi cukup ramai. Para pejalan kaki yang melewati teater, menyapa Gakupo dengan sepenuh hati dan Gakupo membalas mereka dengan senyuman. Suasana yang sudah bisa Gakupo lihat dan rasakan, tidak ada yang baru atau semacamnya. Membosankan, pikir Gakupo.


Banyak orang yang ingin memiliki kehidupan seperti Kamui Gakupo, namun Gakupo sendiri merasa hidupnya membosankan, tidak menentu, dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan ke depannya selain memikirkan teaternya.

Bertahun-tahun Gakupo menjalani hidupnya yang abu-abu, dia tidak pernah merasa ada yang istimewa dari kehidupan pribadinya. Tidur bersama wanita atau lelaki pun tidak memberikan kehidupannya kesempatan untuk merasakan sesuatu yang hangat dalam dirinya selain rasa nafsunya. Dia berjalan dan berjalan hingga dia berhenti di depan markas Jiyuutori.

Gakupo mungkin merasa hidupnya membosankan, namun berada di dekat Kaito membuat hatinya tenang dan terkesan terisi sesuatu yang berarti. Sejauh ini, hanya Kaito yang selalu melihatnya sebagai manusia biasa, bukan sang Kamui Gakupo, mantan aktor yang menjadi idola setiap orang dan hidupnya dipenuhi kata-kata manis yang tidak dikatakan sepenuh hati.

Di lapangan depan, Gakupo bisa melihat Kaito sedang berbicara dengan Yuuma. Kaito tampak sedang fokus dan kerutan di alisnya begitu dalam. Gakupo tidak ingin mengganggunya dan akhirnya hanya menatapinya dari luar gerbang. Hingga akhirnya Kaito melirik ke arah gerbang dan menyadari keberadaan Gakupo. Wajah kusut Kaito langsung hilang dan kini dia hanya memberikan wajah yang tidak karuan dan pipinya memerah. Gakupo tersenyum, lagi, hatinya merasa terisi.

"Apa aku mengganggumu?" Tanya Gakupo.

Kaito berjalan menghampiri Gakupo dengan wajah yang masih tidak karuan, "Tidak juga." Kaito berdiri di depan Gakupo, "A—ada yang bisa aku bantu?"

"Tidak bolehkan aku berkunjung hanya untuk bertemu denganmu?" Gakupo memiringkan sedikit kepalanya.

"Apa—?" Wajah Kaito memerah dan gerak-geriknya mulai berantakan, "Untuk apa menemuiku? Aku tidak sepenting itu."

Gakupo hanya tersenyum simpul, "Aku baru sadar. Ternyata hanya kau yang sepadan dengan waktuku."

Wajah Kaito semakin memerah, cahaya matahari pagi bercampur dan kini wajah Kaito tampak memanas, "A—apa yang kau katakan?" Kaito malu. "Berhentilah menggodaku, tuan Kamui!" Kaito membuang muka.

"Komandan Shion!" Yuuma berlari ke arah Kaito, lalu dia sedikit terkejut melihat Gakupo berada di sana, "Oh! Selamat pagi, tuan Kamui." Dia membungkuk memberi hormat, lalu bangkit dengan senyuman simpul.

"Selamat pagi." Jawab Gakupo, "Kalian tampak sibuk."

Yuuma sempat terdiam, lalu dia kembali tersenyum, "Begitulah. Kami memiliki tugas baru dan sepertinya..." Yuuma menangkat bahu dengan wajah yang pasrah, "...kami mungkin bisa menemukan sesuatu, pada akhirnya."

Gakupo terkesima, "Hmm... baguslah. Kuharap kalian bisa menarik Kamitsumi dari akar-akarnya."

"Kami berusaha." Ucap Kaito.

"Boleh kupinjam Komandan-mu?" Tanya Gakupo pada Yuuma.

Yuuma tampak senang, "Oh, Komandan sudah memberikan tugas kami hari ini. Dia bebas untuk pergi kemana saja."

"Yuuma!" Kaito menyenggol Yuuma, "Kau tidak boleh menjual Komandanmu seperti itu!"

"Baiklah, aku akan membawanya." Ucap Gakupo.

"Apa?!" Wajah Kaito kembali memerah.


Mereka pun berjalan menelusuri kota, Kaito tidak tahu Gakupo akan membawanya ke mana. Kaito berharap Gakupo membawanya ke tempat yang ramai, karena jika tidak, Kaito hanya akan salah tingkah lagi. Kaito berjalan di belakang Gakupo, dia bisa melihat sosok Gakupo dari belakang. Meskipun rambut panjangnya yang terikat tampak lembut, namun langkah dan postur tubuh Gakupo jauh lebih gagah darinya. Kaito penasaran, apakah di balik pakaian berbahan sutra yang dikenakan Gakupo, tubuh Gakupo terasa kasar dan keras. Tiba-tiba Kaito menampar dirinya, karena baru saja, dia berpikir tidak senonoh.

"Kau masih ingat dengan pohon wisteria yang aku ceritakan?" Gakupo bertanya sembari melanjutkan perjalanannya.

"Iya. Di samping danau Mizuiro." Jawab Kaito.

"Sepertinya hari ini akan gugur." Gakupo sedikit memelankan langkah kakinya dan kini dia berjalan bersampingan dengan Kaito, dia melirik ke arah Kaito, "Entah kenapa, aku ingin melihatnya. Denganmu."

Kaito yang masih berjalan, memejamkan matanya, mengernyit, dan dadanya berdetak dengan kencang. Meskipun Kaito mencoba membuang dan menyangkal apa yang dia rasakan terhadap Gakupo, namun Gakupo selalu membuat perasaanya terus tumbuh dan apa yang selalu dilakukan Kaito untuk menyangkal perasaannya sama sekali tidak ada gunanya.

"Aku..." Kaito berhenti berjalan. Saat Gakupo ikut berhenti, dia menatapi Kaito yang kini membuat wajah khawatir dan tidak tenang. Kaito menoleh ke arah lain, "Kumohon... berhentilah melakukan itu... setidaknya untuk sekarang."

"Kenapa sekarang?" Gakupo bertanya.

Kaito yang masih diselimuti oleh kasus yang dia tangangi, sangat ingin untuk fokus terhadap pekerjaannya, "Aku tidak tahu, tetapi... kumohon."

Gakupo hanya tersenyum, "Baiklah. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman."

"Bukan begitu!" Kaito tiba-tiba menyalip ucapan Gakupo, "Hanya saja... untuk saat ini."


Mereka menempuh perjalanan yang cukup lama untuk tiba di danau Mizuiro, mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk sampai di sana. Kaito dan Gakupo bisa melihat dahan-dahan pohon wisteria di samping danau mulai berjatuhan. Kaito melihat ke seluruh penjuru danau dan seperti yang dia bayangkan, danau ini terlalu jauh dari kota dan sama sekali tidak ada yang berkunjung ke tempat ini selain mereka berdua.

Mereka pun berjalan ke pohon tersebut. Gakupo menyentuh pohon tersebut dan menatapi bunganya yang berjatuhan dari bawah. Kaito melihat wajah Gakupo yang diliputi oleh kesedihan, Kaito sama sekali tidak tahu kenapa pohon ini begitu berarti baginya.

"Ibuku selalu mengajakku kemari jika dia sedang membutuhkan keheningan." Ucap Gakupo. "Pohon ini memberikan ketenangan yang tidak pernah aku bayangkan akan sangat membantuku dalam menjalani hidupku."

Kaito tersenyum, "Kau selalu kemari sendirian? Kau tahu..." Kaito mencoba untuk tidak menyinggung Gakupo, "Setelah apa yang terjadi pada ibumu?"

Gakupo menoleh ke arah Kaito, "Ibuku berhenti mengunjungi tempat ini ketika aku berumur 14 tahun. Sejak itu, hanya aku yang datang kemari."

"Kenapa dia berhenti mengunjungi tempat ini?" Kaito penasaran.

"Entahlah. Dia memiliki banyak pikiran, sibuk, dan tidak punya waktu untuk kemari." Jawab Gakupo. "Sepertinya dari ribuan penduduk Otobashi, hanya aku yang mengunjungi tempat ini."

Kaito tersenyum. Gakupo pun berjalan ke arah Kaito. "Ibuku pernah mengatakan, tempat ini memiliki suasana yang istimewa."

"Oh iya?" Kaito terkekeh, "Seperti apa?"

Gakupo membelai pipi Kaito dan mendekatkan kepalanya ke wajah Kaito, "Salah satunya, mungkin ini."

Gakupo mencium bibir Kaito dengan lembut, ciuman itu begitu pelan dan mereka bisa merasakan bibir mereka satu sama lain. Seperti sebelumnya, Kaito tidak menolak atau mengelak. Kaito tidak sadar jika kedua tangannya kini memeluk tubuh Gakupo. Tangan Kaito membelai punggung Gakupo dengan pelan, ternyata benar, di balik pakaiannya yang berbahankan sutra halus, tangan Kaito bisa merasakan tubuh Gakupo yang keras dan kasar.

Ciuman Gakupo semakin dalam dan lidah mereka sudah tidak karuan. Gakupo menarik tubuh Kaito lalu mendorongnya dengan cukup keras ke pohon wisteria.

"...maaf." Ucap Gakupo.

Gakupo pun kembali mencium Kaito yang terlihat hampir kehabisan nafas. Kaito sedikit mendorong tubuh Gakupo.

"Aku..." Kaito agak terengah-engah, "Maaf, aku butuh bernafas sejenak—"

Tanpa menghiraukan Kaito, dan karena Gakupo sudah ingin melakukan banyak hal pada Kaito, dia pun kembali menciumnya. Perlahan-lahan, Gakupo mulai menarik kancing seragam Kaito.

"Tu—tunggu!" Kaito terkejut dan dia memberikan wajah yang tidak bisa ditahan oleh Gakupo, "Ki—kita tidak boleh melakukan ini..." Wajah Kaito memerah, "...di sini."

Gakupo yang sudah tidak bisa menahan dirinya karena ekspresi yang diberikan Kaito, mengabaikannya dan kembali membuka kancing seragam Kaito.

Kaito sendiri tidak mengelak, dia hanya terdiam dan merasakan sentuhan setiap jari Gakupo di tubuhnya. Saat sentuhan Gakupo mulai turun ke bawah tubuh Kaito, dia mulai tersentak dan terkejut.

"Kamui—!" Kaito mencoba mendorong tubuh Gakupo namun Gakupo sendiri masih berdiri tegak karena ternyata Gakupo jauh lebih kuat dari Kaito.

Lalu, Gakupo pun berhenti dan menatapi mata Kaito, "Maaf. Aku tidak bisa menahan diriku." Gakupo pun kembali mencium Kaito dengan pelan dan penuh perasaan.

Setelah mereka saling berciuman cukup lama—dan Kaito hampir kehabisan nafasnya, Gakupo tersenyum ke arahnya dan mengusap bibirnya dengan lembut, "Bolehkan aku memanggilmu dengan namamu?"

"Eh?" Kaito terkejut, "Maksudmu..."

"Kaito." Suara Gakupo yang rendah dan tegas mengiang di telingan Kaito saat Gakupo menyebutkan namanya. Dia mulai membuang muka dengan wajahnya yang memanas.

"Aku..." Kaito mulai terbata-bata, "Tidak keberatan."

"Kaito." Gakupo memegang kedua tangan Kaito dan merentangkannya ke tubuh pohon sehingga Kaito tidak bisa berkutik.

Gakupo tidak berhenti mencium Kaito dan mulai mengecup leher hingga pundak Kaito dan terus-terusan memanggil nama Kaito. Suara Gakupo sendiri sudah membuat kepala Kaito tidak karuan.


Kaito membuka matanya, dia melihat danau Mizuiro yang tenang dan sekitarnya yang sangat sepi. Dia terduduk menyandar di bawah pohon wisteria tersebut. Wajahnya mulai memerah saat dia menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Ini bukan mimpi lagi, dia menoleh ke arah Gakupo yang sedang tertidur di pundaknya dan tersenyum.

"Kamui Gakupo..." Kaito menghela nafasnya dengan senyuman penuh kasih sayang, "...kenapa dari semua orang, orang itu harus dirimu?"

Perlahan, Kaito menurunkan kepala Gakupo dan membuatnya tidur di pangkuannya. Gakupo membalik badan dan kini wajahnya menghadap ke tubuh Kaito, dia masih tertidur lelap. Kaito membelai kepala Gakupo.

Kini wajah Kaito berubah, dia tampak sangat khawatir, "Demi Dewa, aku selalu benar dengan pekerjaanku karena aku selalu mengikuti fakta dan bukti untuk semua kebenaran, tetapi..." Kaito kini memejamkan matanya, "...kuharap kali ini aku salah."


to be continued...