Chapter 8: 拒否 – Denial
Kaito dan Gakupo kembali dari danau Mizuiro. Dikelilingi oleh suasana hening dan canggung—bagi Kaito. Gakupo berjalan dan memberikan ekspresi seakan-akan tidak ada hal aneh yang terjadi. Jarak berdiri mereka juga cukup renggang—karena Kaito sedikit menjauh untuk menghilangkan rasa canggungnya. Gakupo pun melirik ke arahnya.
"Apa kau selalu seperti ini setelah melakukan hal yang intim?"
Kaito terkejut dan wajahnya memerah, "Apa?! Tidak! Tidak!" Kini dia tertawa canggung, "Apa yang kau katakan, Kamui?!"
Gakupo sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Kau benar-benar orang yang aneh, Kaito."
Dengan Gakupo menyebut namanya, Kaito mulai salah tingkah. Dia berhenti berjalan dan menatapi pohon di sampingnya dengan fokus. "Hmm... pohon yang menarik."
"Apa yang kau lakukan?" Gakupo bisa membaca suasana dan dia tidak bisa menahan tawa kecilnya saat dia melihat Kaito yang salah tingkah.
"Berhentilah menatapiku." Kaito masih menoleh ke arah lain.
Saat mereka sempat diliputi suasana manis dan hangat, ada beberapa pekerja kebun yang hendak melewati mereka. Beberapa dari wanita muda di sana tersenyum-senyum ketika melihat Gakupo ada di sana.
"Selamat sore." Sapa Gakupo.
Mereka membalas sapaan Gakupo dan juga menyapa Kaito. Mereka sempat mengobrol tentang pertunjukan Gakupo dan Kaito hanya mendengar mereka berbicara.
"Tapi, apa yang anda lakukan di sisi kota?" Tanya salah satu dari mereka.
"Kami hanya berjalan-jalan." Jawab Kaito dengan cepat dan membuat Gakupo sempat meliriknya.
"Oh," Mereka pun menunduk dan hendak melanjutkan perjalanan mereka, "Kami permisi dulu."
"Baiklah. Hati-hati di jalan dan jangan sampai kalian tiba di rumah saat matahari terbenam." Ucap Kaito yang selalu mengkhawatirkan penduduknya dari serangan Kamitsumi.
"Terima kasih atas peringatannya. Kami akan baik-baik saja, Komandan Shion." Mereka tersenyum dan akhirnya meninggalkan tempat.
Saat Kaito dan Gakupo melanjutkan perjalanan mereka ke kota, Gakupo menoleh ke arah Kaito yang kini terlihat sudah biasa lagi.
"Aku cukup terkejut karena kau bisa merubah sikapmu dalam sekejap." Gakupo tersenyum, "Kau bisa menjadi seorang aktor."
Kaito menghela nafasnya, "Aku bukan aktor, aku hanya bisa menyesuaikan diri dengan lingkunganku dan memberikan sikap yang tepat di saat tertentu."
"Wow," Gakupo terdengar kagum, "Kau bukan aktor, tapi kau adalah orang bermuka dua."
"Apa maksudmu dengan itu?" Kaito sedikit tersinggung.
Gakupo kembali meliriknya, "Kuharap aku melihat sikapmu yang sebenarnya saat kita berada di danau Mizuiro."
Wajah Kaito memerah malu dan terlihat agak kesal, "Hentikan!"
Mereka pun kembali terdiam hingga Gakupo bergumam pada dirinya sendiri namun dia mencoba agar Kaito bisa mendengarnya, "Aku penasaran apa maksudmu dengan kuharap aku salah saat kita di danau Mizuiro."
Kaito berhenti berjalan dan kini dia tampak terganggu. Gakupo yang menatapinya tahu ada yang salah darinya, namun dia juga masih tidak tahu apa yang terjadi.
"Kau tidak perlu mengatakannya jika kau tidak ingin memberitahuku. Aku yakin setiap orang harus memiliki sebuah rahasia." Ucap Gakupo.
Keesokan harinya, Kaito duduk di ruang kerjanya dan masih melihat beberapa bukti dan informasi yang dia kumpulkan untuk kasusnya. Kemarin, Kaito tidak membicarakan apa yang Gakupo tanyakan, Gakupo sendiri tidak keberatan. Namun, kini Kaito selalu merasa tenang jika harus bertemu dengan Gakupo.
"Komandan." Yuuma mengetuk pintunya hingga Kaito mempersilakannya untuk masuk, Yuuma pun duduk di depan meja kerja Kaito dan mengeluarkan beberapa buku lusuh dari tasnya, "Aku mendapatkan buku yang anda cari." Dia pun memberikannya dan bertanya-tanya kenapa Kaito membutuhkan buku tersebut.
"Terima kasih." Kaito pun mengambil buku tersebut dan membuka halaman pertamanya. Wajahnya tampak khawatir.
Yuuma yang masih menatapi Komandannya juga ikut khawatir, meskipun dia tidak tahu apa yang sedang Kaito pikirkan. Yuuma harus mencari buku tersebut ke desa Miyabi dan menghabiskan waktu seharian untuk menempuh perjalanannya, kemarin pagi dia hendak pergi dan dia baru sampai pagi ini.
"Kau boleh keluar." Ucap Kaito yang matanya terpaku pada buku lusuh tersebut.
"Baiklah, tetapi," Yuuma masih penasaran, "Apa yang sebenarnya anda cari di buku tersebut? Apakah ada petunjuk besar di sana untuk kita tentang Kamitsumi?"
"Aku memiliki spekulasi," Kaito tersenyum dengan putus asa, "Tetapi aku berharap aku salah."
Yuuma terkejut, "Apa maksud Komandan?! Kau ingin... salah?" Ini pertama kalinya dalam hidupnya, mendengar Shion Kaito ingin melakukan kesalahan dalam pekerjaannya.
"Kau tidak mengerti." Kaito menghela nafasnya, "Aku akan memberitahumu jika waktunya sudah tepat. Sekarang, tolong tinggalkan ruangan ini."
"Ba—baiklah." Yuuma pun mereda dan keluar dari ruang kerja Kaito dengan rasa khawatir akan keadaan Komandannya.
Malam itu, Kaito berkunjung ke teater Wageki dan di sana, para pemain dan kru sedang sibuk untuk pertunjukan terakhir mereka di akhir pekan. Gakupo yang sedang berdiri di panggung dan mengoordinasi kru-nya, sadar akan kedatangan Kaito. Dia pun turun dari panggung dan menghampiri Kaito.
"Aku tidak tahu jika kau akan memeriksa teater hari ini." Ucap Gakupo.
Kaito tersenyum, "Memang tidak. Aku hanya berkunjung sebagai teman."
"Baiklah." Gakupo tersenyum simpul. "Kita bisa pergi ke lantai 2, mungkin kita bisa meminum teh di ruang tamu."
Kaito mengangguk setuju, "Sepertinya menyenangkan."
Tak lama kemudian, setelah Gakupo menyelesaikan pekerjaannya di panggung, mereka pun pergi ke lantai 2 dan hendak mengunjungi ruang tamu. Kaito melirik ke arah lorong yang pernah dia kunjungi sebelumnya, dia masih melihat ruangan ibu Gakupo, Sachiko, masih tetutup rapat. Setibanya di ruang tamu, Rin sudah menyiapkan 2 cangkir teh di meja. Rin pun meninggalkan ruangan dan kini di sana hanya ada mereka berdua, saling berhadapan dengan dua cangkir teh di meja.
"Bagaimana dengan kasus yang kau tangani?" Tanya Gakupo yang baru saja meminum tehnya.
"Sejauh ini aku belum memastikan, hanya mengumpulkan beberapa informasi untuk diuraikan dan dikonfirmasi." Kaito menghela nafasnya, "Selama aku bekerja sebagai Jiyuutori, aku tidak pernah merasa seputus asa ini."
"Oh?" Gakupo keheranan, "Kenapa? Sangat aneh mendengar hal seperti itu darimu."
"Karena," Kaito menatap Gakupo dengan senyuman putus asa, "Mungkin aku sadar aku tidak sehebat apa yang dikatakan oleh orang lain."
Mereka terdiam, suara keheningan malam itu menyelimuti ruangan tersebut. Gakupo hendak menghiburnya tetapi dia tidak terbiasa mencairkan suasana dan takut membuat suasana hati Kaito semakin keruh.
"Kau tahu," Akhirnya Gakupo pun berbicara, "Dalam seumur hidupku, aku tidak pernah melihat orang yang sangat serius dengan pekerjaannya hingga dia tidak peduli dengan sebuah kedudukan seseorang."
Kaito yang menunduk menatapi cangkir pun melirik ke arah Gakupo dengan wajah bingung.
"Malam itu," Lanjut Gakupo, "Saat kau mengejar anggota Kamitsumi di teater ini, jujur saja aku merasa kesal dan terganggu. Aku hampir membencimu karena itu. Saat itu banyak sekali orang penting di teaterku dan kau datang begitu saja membuat keramaian dengan menyebutkan Kamitsumi di tengah kerumunan."
"Aku tidak..." Kaito menghela nafasnya, merasa kecewa dengan dirinya sendiri, "Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku."
"Tapi," Gakupo sedikit tersenyum, "Kau berteriak tepat di depan wajahku dan menyebutkan siapa dirimu dan pangkatmu." Gakupo hendak meminum tehnya dan bergumam, "Seumur hidupku tidak ada yang berani berteriak di depan wajahku dan memakiku, bahkan mendiang ibuku sendiri."
Kaito semakin merasa bersalah, "Maafkan aku."
"Karena kau melakukan hal yang benar." Lanjut Gakupo yang kini menaruh cangkir tehnya dan menatap langsung ke mata Kaito, "Aku tidak peduli jika kau tidak merasa hebat dalam apa yang kau lakukan, karena seburuk apapun kau melakukannya, kau melakukan hal yang benar. Setidaknya itu yang membuatmu... dirimu sendiri."
"Aku..." Wajah Kaito merona dan dia membuang muka karena malu.
"Aku tahu kau menempuh hari yang melelahkan hari ini. Aku tidak akan bertanya jika kau tidak ingin menceritakannya." Gakupo berdiri dan berjalan menghampiri Kaito, lalu dia mengulurkan tangannya, "Mau berjalan-jalan?"
Kota Otobashi malam itu cukup ramai karena Kamitsumi sudah lama tidak terlihat dan pentas di teater Wageki membuat kota itu banyak dikunjungi turis dari kota-kota lain. Kaito dan Gakupo yang sedang berjalan menuju sebuah tempat minum di ujung jalan, melewati gang kecil dimana Kaito melihat Gakupo mencium seorang lelaki, Kaito pun merasa terganggu dan kini ekspresi wajahnya cukup tidak menyenangkan. Gakupo yang sempat menoleh ke arahnya pun sedikit tersenyum.
"Kau melihatku di saat-saat terpurukku malam itu." Ucap Gakupo dengan santai.
"Apa maksudmu?" Kaito menoleh dengan cepat, mengharapan sebuah jawaban.
"Teaterku diperiksa oleh Jiyuutori, lalu aku mengalami hari yang sangat melelahkan saat membantumu menyeberangi sungai Urukawa dan memeriksa hutan dengan keadaan basah kuyup, setelah aku kembali ke rumahku, beberapa anggota Jiyuutori masih keluar masuk sementara para pegawaiku panik, dan beberapa hal menjengkelkan yang terjadi pada sponsorku setelah mereka mendengar anggota Kamitsumi masuk ke teater Wageki." Gakupo tersenyum, "Aku hampir meledak, dan aku tidak pernah sejengkel itu sebelumnya. Kau tahu aku harus melampiaskannya dengan sesuatu yang membuatku merasa nyaman."
"Menyewa seseorang untuk melakukan hal intim denganmu di tempat umum?" Kaito berwajah malas.
Gakupo sempat terdiam dengan perasaan sedikit terkejut, "Jika kau mengatakannya seperti itu..."
Kini Kaito terlihat bingung dengan kerutan alisnya yang dalam, "Dan lagi bagaimana kau bisa menemukan orang untuk melakukannya? Aku bekerja sebagai Komandan Jiyuutori tetapi aku tidak pernah berurusan dengan masalah dunia malam untuk orang dewasa karena kami anggota khusus untuk masalah Kamitsumi dan itu sedikit membuatku kesal. Apakah para polisi mengetahuinya? Kenapa mereka tidak pernah melaporkan ini pada Jiyuutori? Bagaimana jika salah satu bordil memiliki tamu Kamitsumi?"
Gakupo tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Kaito sekarang, awalnya dia marah karena Gakupo dengan bebas melakukan hal seperti itu di tempat umum, dan kini dia marah kepada para polisi karena mereka tidak melaporkan kejadian-kejadian yang terjadi di Otobashi selain masalah Kamitsumi. Namun semakin lama Kaito membicarakannya, Gakupo bisa membaca pola Kaito.
"Apa kau mencoba mengalihkan pembicaraan?" Gakupo sedikit menarik jemari Kaito dan mulai menggenggam tangan Kaito.
"Apa?" Kaito tampak panik, seakan-akan Gakupo membaca pikirannya, "Aku tidak—" Kaito sadar jika tangannya digenggam oleh Gakupo. "Apa yang kau lakukan?" Wajahnya mulai memerah dan sedikit menarik tangannya dari genggaman Gakupo.
Gakupo masih menggenggam tangan Kaito dengan erat, berjalan berpegangan tangan seakan-akan tidak peduli dengan orang di sekitarnya, "Kesan pertamaku saat bertemu denganmu adalah menganggapmu sebagai orang paling kasar dan menjengkelkan, suka mencampuri urusan orang lain, dan mungkin aku berharap kau berhenti berteriak dan memaki di hadapanku. Tapi, aku sadar jika kau hanya melakukan semua hal itu agar orang lain tahu posisimu dan menghormatimu sebagai Komandan Jiyuutori."
"Ayolah." Kaito membuang muka dengan tangganya yang mencoba terlepas dari genggaman Gakupo. "Aku memang seperti itu sejak lahir."
"Setelah lama aku menghabiskan waktu denganmu dan jujur saja itu sudah lama sekali. Ternyata kau orang yang lembut, takut akan semua hal yang mencoba menjatuhkanmu—sepertinya yang itu wajar, sensitif, dan seperti yang aku katakan, kau bermuka dua untuk bisa berbaur dengan orang lain, tetapi kau bilang itu hanya kemampuanmu untuk menyesuaikan diri." Gakupo pun melirik Kaito, "Kau adalah orang yang... lucu?"
Wajah Kaito memerah dan kini menarik tangannya dengan sepenuh tenaga hingga Gakupo tidak sengaja melepaskannya, "Kau ini bicara apa?! Aku—Aku... Aku tidak lucu!"
"Baiklah, baiklah." Gakupo mengangkat bahunya dan merasa hatinya penuh dengan sikap Kaito yang malu-malu.
Di kedai minum, mereka membicarakan kasus-kasus Kamitsumi sebelumnya yang Kaito tangani. Sementara Kaito masih berbicara, Gakupo dengan fokus—dan cukup terhibur—mendengar semua ceritanya.
Hingga Kaito tidak sengaja bercerita tentang kasusnya yang dia tangani sekarang, "...dan si bisu dadakn itu menuliskan kanji Dewa. Aku tidak tahu apa maksudnya, jadi aku mencari semua kemungkinannya."
Gakupo berhenti tersenyum, "Apakah itu alasannya kau bertanya bagaimana aku menuliskan namaku?"
"Hmm?" Kaito sadar jika dia kelepasan bicara, "Apa maksudmu?"
"Malam itu, saat kita berada di kedai sepupumu dan kau bertanya bagaimana aku menuliskan namaku." Gakupo menatap Kaito dengan intens, "Dan dengan sikapmu setelah itu..."
"Apa yang kau katakan? Aku tidak bermaksud—" Kaito menghela nafasnya dengan perasaan tidak tenang.
Gakupo kini duduk dengan posisi tegak dan matanya yang dingin masih menatapi Kaito, "Apa aku berada di dalam daftar tersangkamu?"
"Aku..." Kaito terlihat bingung, "Aku tidak akan pernah melakukan hal itu!"
"Apa kau akan memberikan perlakuan khusus meskipun orang itu salah?" Gakupo menekan Kaito.
"Tidak, bukan begitu!" Kaito mulai panik.
Seluruh mata pengunjung kedai tertuju pada mereka berdua dan mereka mulai saling berbisik. Kaito membantah segala yang dikatakan Gakupo. Namun Gakupo sendiri terus menekan Kaito untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Aku hanya bertanya apakah aku ada di daftar tersangkamu." Ucap Gakupo.
Kaito menunduk dengan wajah kecewa, matanya terasa berat namun dia tidak bisa membiarkan air mata mengalir dari sana. "...iya." Ucap Kaito dengan suaranya yang pelan. Lalu dia bangkit dari kursinya dan tatapannya kini tampak berapi-api, "Tetapi aku akan membuktikan jika aku salah!" Tanpa berkata apa-apa lagi, Kaito pun berlari meninggalkan Gakupo yang masih duduk di kedai.
Kaito sampai di rumahnya, dia melepaskan semua pakaiannya dan kini dia mengenakan pakaian tidurnya. Dia mempersiapkan futon-nya, namun dia duduk di hadapan mejanya dan menaruh beberapa kertas dan buku tentang kasus yang dia tangani di meja tersebut.
Lilin ditaruh di samping meja dan dia mulai membuka buku yang dia dapat dari kota Miyabi. Ternyata, buku tersebut adalah sebuah catatan resmi dari sebuah rumah bersalin. Kaito membuka halaman per halaman dan berharap dia tidak menemukan apa yang dia cari. Setelah lama dia mencari, nama Kamui Gakupo tertera di sana. Kaito mulai membacanya dengan serius.
Beberapa hari kemudian, setelah mengumpulkan data yang dia butuhkan, Kaito mulai melakukan investigasi sendirian, bahkan tidak membawa anak buahnya. Hingga Yuuma, sadar akan apa yang hendak dilakukan oleh Komandannya.
Pagi itu, Kaito mempersiapkan sebuah kuda untuk perjalanan jauh. Yuuma menghampiri Komandannya dengan raut wajah yang khawatir.
"Komandan Shion. Anda belum melakukan laporan awal untuk perjalanan jauh." Ucap Yuuma, yang sengaja memancing Kaito untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia rencanakan.
Kaito sempat tidak menjawab dan hanya fokus ke kaitan tempat duduk di punggung kudanya, lalu dia menoleh ke arah Yuuma, "Aku hanya pergi untuk beberapa minggu. Aku akan kembali dan mungkin membawa beberapa bukti dan petunjuk yang lebih jelas untuk kasus ini."
"Bisakah setidaknya anda memberitahu kami apa yang akan anda lakukan? Aku tahu anda mencari bukti dan petunjuk, tetapi apa yang anda rencanakan?" Yuuma bersikeras.
Kaito pun naik ke atas kuda dan menghela nafasnya, "Jika kau bertemu dengan Kamui Gakupo, katakan, aku sangat menyesal." Tanpa berkata apa-apa lagi, dia pun meninggalkan tempat.
Yuuma menatap Komandannya pergi dan dia hanya bisa terdiam.
Malam itu Yuuma berpatroli, lalu dia bertemu dengan Gakupo di sekitar teater. Gakupo baru saja selesai berbicara dengan seorang warga lalu dia menyadari kedatangan Yuuma yang menghampirinya. Gakupo memasukkan tangannya ke kedua lengan haori-nya dan tersenyum.
"Selamat malam." Sapa Gakupo.
Yuuma mengangguk, "Aku sungguh terkejut ketika anda mengatakan jika pertunjukkan ketiga dibatalkan." Dia tersenyum, "Aku tidak menyalahkan anda, jujur saja, mengingat kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, sepertinya kita memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri."
"Aku mendapat celaan yang luar biasa dari rekan kerjaku, tetapi aku juga tidak bisa melawan mereka." Ucap Gakupo, "Mungkin aku juga ingin beristirahat. Kembali ke panggung adalah keputusan terburuk yang pernah aku lakukan."
"Kau sangat menawan di pertunjukkan itu, tuan Kamui." Ucap Yuuma.
Gakupo hanya tersenyum, hingga dia menoleh ke sekelilingnya, "Kau tidak bersama Komandanmu?"
"Komandan Shion pergi untuk beberapa minggu. Dia tidak memberitahu siapapun kemana dia pergi atau apa yang akan dia lakukan untuk mendapatkan bukti dan informasi." Yuuma tampak khawatir, "Aku tidak pernah melihatnya seperti itu."
"Seperti apa?" Tanya Gakupo.
"Putus asa." Balas Yuuma. "Oh iya..." Yuuma teringat sesuatu, "Komandan Shion berkata, dia sangat menyesal."
"Untuk apa?" Gakupo mengernyit.
"Dia menitipkan pesan itu jika aku bertemu denganmu." Ucap Yuuma. "Baiklah, aku masih harus berpatroli. Selamat malam, tuan Kamui." Yuuma menunduk dan meninggalkan tempat.
Jauh di sisi kota lain, Kaito turun dari kudanya dan menghampiri beberapa orang yang sedang berkumpul di sebuah kedai minum.
"Maaf mengganggu." Ucap Kaito.
"Seragam Jiyuutori?" Salah satu dari lelaki di sana menatapi Kaito dengan wajah yang cukup terkejut, "Aku tidak pernah melihat Jiyuutori di sekitar sini."
"Kami tidak memiliki pos di kota ini." Jawab Kaito dengan nada ramah. "Aku hanya ingin bertanya."
"Silakan." Jawab lelaki tersebut.
Kaito masih tersenyum, "Bisakah kau memberitahuku di mana kediaman klan Agasa dan klan Kagamishou?"
Para tamu kedai sempat terdiam dengan wajah yang sedikit pucat. Seakan-akan bertanya kenapa Kaito ingin tahu tentang kedua klan tersebut. Mereka saling curi pandang dan mereka tampak tidak ingin menjawabnya, namun lelaki yang menyapa Kaito sedikit memberanikan diri.
"Anda... bisa menemukan kediaman klan Kagamishou setelah menyeberangi sungai Enoki." Lelaki itu tersenyum namun dengan wajah pucat, "Anda bisa melihat benteng bata hitam di sepanjang jalan. Jika anda mengikutinya ke arah barat, anda bisa menemukan gerbang utama mereka."
"Terima kasih." Kaito masih belum mendapatkan jawaban untuk kediaman klan Agasa, "Bagaimana dengan kediaman klan Agasa? Mereka ada di kota ini, 'kan?" Dari buku yang dia baca, klan Agasa pernah berada di kota ini namun tidak pernah disebutkan lokasi tetapnya, berbeda dengan kediaman klan Kagamishou yang sering berpindah, Kaito hanya butuh alamat terbarunya.
Orang-orang di sana kembali saling curi pandang, lalu lelaki tadi kembali menoleh ke arah Kaito dengan wajah bingung, "Tidak ada yang tahu di mana kediaman klan Agasa."
Kaito mengernyit, "Apa...?"
to be continued...
