Chapter 2
Sesungguhnya masih terlalu dini untuk memulai perdebatan di pagi yang sedikit mendung. Terlebih riuhan angin di balik dinding bangunan berlomba mengarak, menghempas apapun yang menghalangi gelombang amuknya. Seakan badai tengah menerjang meski kenyataan bangunan tersebut tidak terletak di ambang bibir pantai.
Beberapa pengawal yang berjaga di sepanjang Kerajaan serta para dayang yang hilir mudik menunaikan tugasnya, acap kali merunduk. Bergidik ngeri dengan amukan angin. Berdoa dalam hati untuk tidak menyentuh diri mereka, terlebih menerbangkan tubuh mereka ke angkasa.
Tidak bermaksud berlebihan, tetapi bila melihat bagaimana gugusan angin menghempas serasah daun dan menghempas beberapa ranting pohon. Cukup ampuh untuk mengentak logika mereka, menginstruksi langkah kaki kemudian berlari ke dalam bangunan demi melindungi diri. Bila tugas tidak mengharuskan mereka tetap beraktivitas sebagaimana telah di titahkan.
Berbeda dengan kekalutan yang mereka hadapi di luar. Sementara di dalam, tepatnya di Balai istana, perdebatan sengit antara para petinggi berbalutkan dalryongpo merah, biru dan hijau tampak begitu bergairah. Saling menuding dan membentak, kerap kali tangan ikut andil dalam menggebrak meja.
Mereka seakan menciptakan dunia sendiri, menghiraukan kekacauan di luar serta mengacuhkan dua pasang penguasa Kerajaan Goguryeo. Sang Raja serta Putra Mahkota. Hanya terdiam membisu menatap malas perdebatan tersebut.
Jemari telunjuk Chanyeol menekan lengan singgasana, hela napas panjang berulang terlempar dari celah bibir. Dia mengalihkan pandang, menatap Yunho yang sedang menyibukkan diri dengan gulungan kertas di sepasang tangan.
"Jeonha," panggil Chanyeol mencoba meraih fokus ayahnya. Yunho menoleh, menilik wajah Chanyeol dengan alis saling bertaut, "izinkan saya untuk undur diri dari pertemuan ini, Jeonha."
Yunho menegakkan bahu, menghela napas sebelum menggelengkan kepala. "Tidak bisa Jeoha. Keputusanmu cukup berpengaruh di dalam rapat kali ini." Yunho beralih, kembali berfokus dengan gulungan kertasnya.
Chanyeol berdecak pelan, nyaris mengumpat bila tidak menyadari posisinya.
"Jeonha–"
"Cukup duduk dan berikan keputusanmu. Kau sama sekali tidak diperkenankan untuk meninggalkan ruangan sebelum rapat usai. Paham?" tegas Yunho sambil menatap Chanyeol tajam.
Chanyeol mengangguk satu kali, tentu saja dia akan mematuhi ultimatum Yunho jika tidak ingin beradu pedang dengan sang ayah. Ayahnya adalah sosok yang cukup diktator meski tidak sebengis dirinya. Cukup tangguh dalam memimpin perang, namun tidak dengan sisi kemanusiaannya.
Yunho masih dapat berpikir dua kali dalam mengambil keputusan membunuh atau membiarkannya lari. Berbeda dengan Chanyeol yang tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Tidak ingin membuang waktu untuk berpikir dua kali, begitu bertemu musuh. Pedang yang tergenggam ditangan terpaksa melukai tubuh tersebut. Mengambil paksa detak kehidupan dari si musuh.
Tidak heran bila mereka menyebut Chanyeol sebagai dewa kematian. Pembunuh berdarah dingin. Barisan lawan sontak bergidik ngeri ketika mendengar nama Chanyeol disuarakan sebagai pemimpin perang. Mimpi buruk untuk mereka serta awal kehancuran bagi Kerajaan mereka.
"Jeonha."
Salah seorang petinggi berbalutkan dalryongpo biru bangkit dari kursi, menatap tegas junjungannya. Yunho menatap Chanyeol sekilas kemudian beralih pada petinggi tersebut.
"Dalam sudut pandang kami Menteri Chang memang bersalah. Beliau harus segera di adili, Jeonha."
"Tidak Jeonha. Kami tidak sependapat. Bukti yang tertera tidaklah memadai. Sebaiknya kembali melakukan investigasi."
Petinggi berdalryongpo biru menoleh, menatap geram petinggi berdalryongpo merah yang menyergah lontaran kalimatnya. "Saya pikir anda sudah mengetahui bukti-bukti tersebut, Menteri Kwang. Lantas, mengapa masih membela Menteri Chang? Ataukah anda terlibat suatu hubungan kerjasama dengan beliau," tuding petinggi berdalryongpo biru sambil tersenyum sinis.
Menteri Kwang tersulut, sepasang tangan yang sejak tadi dia pergunakan untuk menggebrak meja. Kini kembali beralih ke fungsi semula, menggebrak meja dengan kuat.
"Omong kosong! Bagaimana anda bisa sekeji itu menuduh saya, Menteri Shin. Pernahkah anda mengoreksi diri anda sendiri sebelum menjerumuskan saya ke dalam permainan kata kotormu itu?! Seharusnya kalimat itu anda tujukan untuk diri anda."
"Bisakah kalian tenang sebentar?" suara Chanyeol membelah lemparan kalimat yang hendak mengacaukan suasana tenang di balai istana yang nyaris terkecap.
Orbs tajam Chanyeol menatap masing-masing petinggi yang mulai menyamankan tubuh di kursi.
Terdiam mendengarkan titah Putra mahkota mereka. Gulungan kertas terulur ke pangkuan, Chanyeol mengerling Yunho sekilas lalu meraih gulungan dari tangan Yunho. Membaca setiap bait hangul yang tertulis rapi sejenak, lantas mengangkat wajah.
Tangan kanan terangkat sambil mengibarkan gulungan kertas di sisi kepala. "Menurut bait kata yang tertera di gulungan kertas ini, maka saya putuskan bahwasanya Menteri Chang bersalah atas tuduhan menimbun bahan pangan warga Desa Bakjak selama kurun waktu tiga bulan. Hukuman sebagai tindakan tidak bermoral tersebut adalah potong tangan."
Chanyeol menutup kembali gulungan kertas tersebut lalu menyerahkannya pada sekretaris Kerajaan. Terdengar samar desauan ketidaksetujuan dari para petinggi berdalryongpo merah, gelagat tubuh mereka terkesan menentang keputusan Chanyeol.
Namun nyali mereka menyurutkan ketidakpuasan batin. Keputusan Chanyeol adalah mutlak, tidak bisa dibantah. Bila memang hendak beradu argumen dengan Putra mahkota persiapkan lontaran kalimat yang apik atau keahlian bertarung.
Sebab Chanyeol tidak akan segan menebas leher siapapun yang berani berargumen dengan dirinya menggunakan runtut kata yang tidak jelas dan menjauhi kenyataan atau fakta yang sudah dia ketahui. Mereka cukup paham, Chanyeol berbeda dengan Yunho.
Pria tampan itu sangatlah bengis dan arogan.
Belum sempat Yunho melontarkan kalimat penutup, Chanyeol telah lebih dulu mengentak langkah keluar dari Balai istana seusai meminta izin tanpa persetujuan dari sang ayah.
Tugasnya telah usai dan dirinya tak mampu menahan diri lebih lama lagi di dalam balutan para tetua pandai bicara itu.
*Rose*
Chanyeol melangkah tegas, menyusuri trotoar Kerajaan sambil mengedarkan pandang. Mendapati beberapa dayang hilir mudik membersihkan serasah daun kering yang terkoyak angin di sepanjang pelataran Kerajaan. Tepakan langkah terhenti saat satu tangkai bunga mawar menghalangi jalannya.
Pandangannya merunduk, menatap bunga tersebut lalu membungkuk mengambilnya. Beberapa ujung kelopak bunga mawar telah terkoyak, meski begitu aroma serta keindahannya tetap pekat menyelimuti. Chanyeol seketika teringat dengan seseorang.
Seorang Pangeran yang beberapa hari ini mampu menggelisahkan tidur nyenyaknya. Membebani hati serta pikirannya. Mengganggu hari-harinya dengan bayang keindahan yang sulit tuk dilupakan. Keinginan untuk berjumpa kembali, terus mengentak sanubari Chanyeol.
Dia mencoba menekan perasaan tersebut, namun entah mengapa. Perasaan itu seolah memberontak kepadanya. Semakin dia lesatkan ke dalam, semakin besar keinginannya tuk menyerobot keluar. Menghela napas kemudian menoleh, tatapannya terbentang menatap langit pagi yang sedikit mendung.
Perasaan akan kian tak menentu bila dirinya hanya berdiam diri tanpa berupaya mencari solusi. Hingga pada akhirnya dia putuskan untuk kembali berjumpa dengannya. Tidak mengindahkan penolakan, dia berharap Pangeran Baekhyun bersedia memenuhi permintaannya.
"Kasim Jung."
Pria setengah baya berbalutkan dangui berwarna hijau giok gelap itu mendekat lalu menundukkan kepala. "Ya, Jeoha."
Tangan Chanyeol menyusup di antara belah gonryongpo miliknya, menarik seutas kertas yang telah tergulung rapi. Rupanya Chanyeol sudah memantapkan niatnya sejak tadi malam. "Kirim surat ini ke Kerajaan Silla atas nama Baekhyun Agissi. Lakukan secara tersembunyi, jangan biarkan seorangpun mengetahuinya. Paham!"
"Ye, hamba mengerti Jeoha." Kasim Jung meraih kertas itu dari tangan Chanyeol berlanjut dia lesakkan ke dalam dangui hijau giok gelapnya. Mundur setapak meninggalkan barisan demi menjalankan perintah.
Chanyeol beralih menatap pria tampan bersurai panjang yang diikat satu. "Jenderal Kim." Jenderal Kim dengan sigap merundukkan kepala, "aku perintahkan kau untuk menjaga mulut para pengawal dan dayang atas kepergianku dari Kerajaan. Jangan biarkan seorangpun tahu bila pagi ini aku menyelinap keluar," titah Chanyeol tegas.
Jenderal Kim mengangkat wajah, memberanikan diri menatap junjungannya hendak melontarkan kalimat tetapi terpaksa tertelan kembali begitu mendapati sorot tajam di balik iris kelam itu.
"Cukup penuhi permintaanku dan jangan mencoba membantahku."
"Ye Jeoha. Hamba mohon maaf."
Chanyeol berbalik, melangkah sedikit tergesa menuju kandang kuda yang terletak jauh di belakang Kerajaan. Menyelinap dari arah dapur setelah mengganti pakaiannya dengan durumagi sederhana.
Seorang kusir kuda yang bertugas sebagai perawat dan penjaga kuda di kandang serentak bangkit dari rebahannya di kursi usang. Dia kemudian memakai topinya dengan tergesa lalu membungkukkan tubuh hormat ketika melihat tubuh sang junjungan meski kening berkerut mengherankan balutan durumagi yang tersaji di depan mata.
"Berikan aku satu kuda yang telah siap," kata Chanyeol dalam satu tarikan napas. Matanya menatap ke belakang, meneliti situasi.
"Ya, Jeoha."
Kusir kuda itu bergegas melucuti tali kekang yang terpaut dengan selaras kayu penghalang. Mengusap kepala kuda sekilas agar meluruh lalu membawa satu kuda jantan berwarna cokelat ke hadapan Chanyeol.
Chanyeol meraih tali kekang itu dari tangan si kusir. Tepat saat dirinya telah memposisikan tubuh di punggung kuda. Bibirnya berucap, "Tutup mulut dan mata tentang kejadian hari ini. Jika aku mengetahui sepatah katapun terlontar dari mulutmu. Kau tahu sendiri akibatnya, bukan. Kusir Zhang."
Kusir Zhang tergeragap kaku. Dengan tubuh bergetar dia menganggukkan kepala kacau. "Saya berjanji akan menutup mulut dan mata saya tentang kejadian hari ini, Jeoha. Saya berjanji."
"Hn."
Chanyeol lantas menarik tali kekang kuda, beringsut pergi membelah barisan pepohonan pinus dan jati serta mengacak serasah dedaunan kering yang tersebar di tanah.
Tubuh kurus Kusir Zhang melunglai di tanah, telapak tangan mengusap dada sambil menatap semu bayang Chanyeol di balik tingginya pohon pinus dan jati.
"Sungguh sosok rupawan yang sangat mengerikan," gumam Kusir Zhang sambil menarik topi lebarnya dari kepala.
Mengayunkan ke wajah, mencari hempasan angin demi mendinginkan suhu badan yang mendadak memanas sebab rasa takut yang mencekam sepersekian detik tadi.
*Rose*
Berfokus pada satu objek yang terletak jauh memang sedikit sulit terlebih di saat pikirannya tak bersedia bergulat bersama. Tangan yang menarik busur panah tampak bergetar, sorot matanya berbayang. Seolah objek terbelah menjadi dua, Baekhyun mendesah dalam hati. Dia benar-benar kacau hari ini.
Lesatan anak panah membelah cepat riuhan angin, bibir bergumam melontarkan secercah harapan. Semoga dapat menembus objek yang ditargetkan dengan pikiran melayang meski hanya bersinggungan.
Dan geratan gigi di bibir bawah menjawab harapan Baekhyun. Tidak terlalu menjauhi target, setidaknya ujung anak panah yang dilesatkan berada di antara garis kuning dan merah.
"Sedikit meleset, Agissi," kata pelatih pemanah Baekhyun.
"Ya, aku tahu."
Baekhyun menghela napas. Seorang dayang mendekat, membawa minum. Menuangkan air minum dalam cangkir kemudian menyerahkannya pada Baekhyun.
Tepat ketika bibir hendak mencecap segarnya air minum yang sebentar lagi akan mengaliri kerongkongan yang kering, seorang pengawal datang dengan langkah sedikit tergesa. Tentu saja Baekhyun menghentikan sejenak keinginannya tuk mencecap air minum itu lalu menatap penuh tanya si pengawal.
"Agissi, seseorang telah mengirimkan pesan untuk anda." Pengawal mengulurkan gulungan kertas ke hadapan Baekhyun.
Mata Baekhyun merunduk, sebuah kertas putih yang tergulung apik mengerutkan keningnya. Hatinya makin bertanya-tanya, tangan terulur dengan perasaan bimbang sekaligus berdebar aneh.
Debaran hangat yang pernah dia cecap ketika bersama sang putra mahkota Goguryeo. Baekhyun terkesiap, hampir saja dia menjatuhkan cangkir di tangan kiri bila kesadaran tidak ia pertahankan.
Seketika tubuh menegang cemas, bola mata bergulir kesana-kemari menilik situasi, seperti seorang pencuri di khalayak ramai. Tak bisa berdiri dengan tenang.
Baekhyun mengacuhkan cangkir minumnya, rasa dahaga yang membakar kerongkongan sontak lenyap tak tersisa.
Kini ia justru berbalik, melangkah menjauh usai mengucap satu kalimat tanya kepada si pengawal, "Siapa pengirimnya?"
"Seorang lelaki asing bercadar hitam, Agissi."
Genggaman tangan pada gulungan kertas mengerat. Sekali lagi dia mengedarkan pandangan, menilik situasi. Usai menatap sekeliling tempat pelatihan serta posisi dayang dan pengawal yang tidak berubah, Baekhyun berinisiatif membuka gulungan kertas tersebut.
Iris puppynya melebar, debaran itu makin pekat. Jantung bertalu tiada batas, menembus dada serta gendang telinga Baekhyun.
Seutas kalimat yang tertulis di sana cukup menghipnotis Baekhyun, mengambangkan pikirannya serta memupuk kebimbangan di hati.
'Sejak semalam hatiku tak menenang. Aku ingin kita berjumpa di tempat pertama kali kita berjumpa. Aku akan menunggumu.'
Baekhyun memejamkan mata, tanpa identitas si penulispun dia mampu mengidentifikasi siapa si penulis pesan tersebut. Jemari lentik bergerak, menggulung kembali kertas yang terbuka kemudian ia genggam di tangan kiri.
Perasaan dilema tersamarkan oleh alibi tak mendasarnya, secepat kilat dia meminta izin pada pelatih memanahnya untuk beristirahat di paviliun. Mengeluh mendadak pening, sang pelatih sontak menganggukkan kepala mempersilakan Baekhyun untuk kembali.
Tentu Baekhyun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka lebar, sedikit tergesa dia beringsut pergi memutar arah kembali ke paviliun. Tidak dipedulikannya pergerakan para dayang dan pengawal di belakang yang tergopoh mengikuti gerakan serantannya.
Pintu geser tertutup kasar begitu Baekhyun sampai di paviliun.
Menyandarkan tubuh di pintu sambil menekan dada. Napasnya tersenggal, bulir keringat terlihat mengalir di sepanjang rahang dan kening. "Oh Dewa, bagaimana ini?" keluhnya putus asa.
Tubuh Baekhyun bergerak turun, bersimpuh di lantai kayu paviliun. Tatapan menerawang jauh menembus langit mendung yang mengintip dari balik jendela. Detakan jantung yang menggebu tidak berniat melemah barang sedetik.
Baekhyun kian pening, alibi yang dia buat berdampak nyata pada dirinya. Lantas jemari mengurut kening, entakan sanubari bersahutan dengan logikanya.
"Dia seorang musuh. Tidak mungkin aku kembali menemui dirinya," sentak Baekhyun pada bisikan hatinya sambil menekan kening.
Tidak berniat menyerah, bisikan samar itu senantiasa berusaha mengacaukan logika Baekhyun .
"Dia juga merasakan hal yang sama denganku. Sejak semalam hatikupun tak sempat menenang." Bisik Baekhyun nyaris terdorong ke dalam bisikan hatinya.
"Tidak. Aku tidak akan pergi."
Baekhyun melempar gulungan kertas itu ke sisi tubuhnya begitu kembali mendapatkan pikiran rasionalnya.
Namun sepersekian detik matanya bergulir, menatap ragu gulungan kertas yang tergeletak di sisi kiri tubuhnya. Ia mengerat sudut bibirnya, kemudian merayap pelan ke sisi kiri meraih gulungan tersebut dan kembali membukanya, menatap perkata yang teruntai dalam tinta hitam.
"Mungkin saat ini dia sedang menungguku? Akan melukai harga dirinya bila aku tidak bertandang menemuinya."
Kepala Baekhyun menunduk dalam, dia meringis dalam hati mendapati dirinya yang begitu labil bak seorang remaja.
Tanpa memedulikan logikanya, pada akhirnya pilihan terakhir jatuh pada pertemuan kedua mereka. Baekhyun membuka lemari, meraih durumagi sederhana berwarna merah tua beserta jangot dengan warna serupa.
Menanggalkan segala atribut Kerajaan untuk kemudian mengenakan penyamaran. Tangan Baekhyun mendorong pintu jendela menguaknya lebih lebar.
Kepala terulur, menoleh ke kanan dan ke kiri merasa situasi telah aman. Kakinya bergerak menuruni jendela. Usai meloncat dari jendela, dia bergerak cepat menutup kembali pintu jendela tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Pagar bergugus batu yang melintang di sepanjang belakang paviliun menjadi alat alternatif utama dalam memperlancar aksinya. Baekhyun mencari pijakan, sebuah batu hitam berbentuk bulat besar menarik bibir Baekhyun untuk melukiskan satu senyum lega.
Bergegas menaiki batu, sepasang tangan menekan pangkal pagar. Mendorong tubuh ke atas dengan gerakan serempak dari sepasang kaki yang menjauhi pijakan. Pendaratan apik, meski suara serasah dedaunan kering yang terpijak kaki sempat menggetarkan perasaan Baekhyun.
Baekhyun menghela napas panjang sambil menyandarkan punggung di pagar batu begitu telinga tak mendengar langkah mendekat akibat kegaduhan kecil yang sempat meramaikan keheningan di hutan ini.
"Hah, menegangkan sekali."
Kepala menggeleng beriring dengan kekehan ringannya. Tepakan kaki meraih langkah sepelan mungkin, mata merunduk ke bawah, berfokus pada dedauan kering serta ranting yang bila terinjak akan mendentangkan suara riuh mencurigakan.
*Rose*
Begitu sampai, Baekhyun mengedarkan pandang ke segala penjuru hutan tak terlupa turut mengintip balik punggung pohon Oak dan Sakura yang berdiri kukuh disepanjang langkahnya menyusuri jalan setapak bergugus batu.
Suara gemercik air, samar terdengar saat langkah kaki mengayun semakin jauh. Baekhyun mengerutkan kening, ranting sakura membatasi pandangannya. Tangan terulur menguak ranting tersebut, sepasang iris sontak membulat takjub ketika sebuah pemandangan indah mengetuk mata.
Bergegas tangan kanan menahan ranting ke atas, dia merundukkan kepala. Melewati celah ranting. Lekuk bibir terulas indah begitu berhasil melewati ranting-ranting yang terjulur saling bergandengan mengadang jalan.
"Indah sekali. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bila di hutan ini tersembunyi sungai secantik ini."
Sebuah sungai dengan air jernih mengalir tenang membayangi gugusan batu serta kerikil kecil dibawah air. Tampak segerombol ikan Koi berenang mendekati bibir sungai seolah menyapa kedatangan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum, berjongkok kemudian menyentuhkan jari telunjuk ke air hendak mengusap ikan-ikan cantik berwarna oranye keemasan itu.
Ikan-ikan itu kembali, berenang menyebar dibalik bunga teratai yang tersebar acak disudut-sudut sungai. Bergoyang mengikuti pergerakan air. Rumput hijau yang tengah dia pijaki pun tampak terawat, rupanya tempat ini masih terlindungi.
Bibirnya kemudian berucap syukur pada ranting-ranting yang mengadang jalan, beranggapan bila ranting-ranting tersebut turut andil dalam melestarikan keindahan di sungai ini.
Mata Baekhyun menerawang jauh, diseberang sungai tumbuh himpunan bunga dengan gugusan berbeda berbaris rapi memenuhi lahan yang tersedia. Baekhyun memekik dalam hati makin mengagumi tempat tersebut.
"Tak kusangka kau dapat menemukan tempat ini, Agissi."
Baekhyun terentak, suara berat yang tak asing menembus di balik punggung, tubuhnya berancak; tanpa berbalik ia berucap, "Aku mendengar suara gemercik air dari balik ranting-ranting itu."
Suara tepakan langkah mendekat membuat Baekhyun bergerak menjauh, berupaya menjaga jarak sejauh mungkin. Bagaimanapun dia seorang musuh? Tidak baik berada terlalu dekat. Mengantisipasi pikiran negatif yang sempat terlintas, beranggapan jika ini sebuah jebakan. Baekhyun memposisikan dirinya sigap siaga.
Chanyeol menghentikan langkah kakinya saat menangkap pergerakan Baekhyun yang seolah menjauhi dirinya ketika dirinya melangkah mendekat. Seulas senyum simpul terlukis samar.
"Kau memenuhi undanganku?"
Kembali Chanyeol yang memulai percakapan.
Baekhyun menatap pergerakan ikan koi di sungai, sama sekali tak berniat menatap Chanyeol meski perasaan mengomando bahwasanya pria tampan itu sejak tadi menilik dirinya.
"Akan melukai harga dirimu bila aku mengacuhkan undanganmu."
"Rupanya kau kemari hanya demi melindungi harga diriku, hn."
Baekhyun mengintip wajah Chanyeol dari balik bulu matanya. "Kau bisa menganggapnya seperti itu, Jeoha."
Chanyeol menghela napas panjang. "Begitu sulit, ya."
Kening Baekhyun berkerut, mendadak linglung dengan perkataan Chanyeol. Tanpa sadar ia beralih menatap Chanyeol.
"Apa maksudmu?"
Chanyeol memaku wajah Baekhyun. Seulas senyum terpahat di wajah tampannya begitu mendapati Baekhyun telah bersedia menatap dirinya.
"Berteman denganku. Apa begitu sulit menjalin pertemanan denganku?" Chanyeol menatap jarak yang tersekat di antara mereka. "Kau terlihat sungguh menjaga jarak," sambungnya.
Baekhyun menyorot Chanyeol tegas. "Tentu saja. Kita sepasang musuh. Tidak baik bila terlalu dekat."
"Kau berpikir aku akan menikammu dari belakang bila kau terlalu dekat denganku?" tanya Chanyeol sambil menyipitkan mata, mengoreksi roman wajah Baekhyun yang terlukis samar dibalik sikap tegasnya.
"Bukankah itu pikiran yang wajar. Kau pun pasti akan berpikir seperti itu pada musuhmu bila secara tiba-tiba si musuh mengajakmu berteman."
Kepala Chanyeol mengangguk dua kali menerima untaian kalimat penjelas itu. Seperti dugaan, Baekhyun tidaklah semudah itu menerima dirinya, terlebih mempercayai dirinya; mengingat bagaimana pekatnya permusuhan antara Kerajaan Silla dan Goguryoe.
Chanyeol memaklumi hal tersebut. Benar, dia pun akan berpikir seperti apa yang Baekhyun katakan bila tiba-tiba musuh bebuyutannya mendekat serta mengajaknya berteman.
Tentu saja, pikiran itu akan menyerobot lebih dulu ketimbang opsi-opsi positif yang terkadang diharapkan kehadirannya. Seperti saat ini, sesungguhnya dia mengharapkan pikiran itu ada pada Baekhyun.
Namun hendaknya ia perlu memberi satu ulasan bukti untuk meyakinkan Baekhyun bila apa yang terkecap di bibir bukanlah hanya semata rencana piciknya ataupun sekadar bualan.
Tangan Chanyeol beralih di samping tubuh, menarik pedang tajam dari tempatnya. Iris puppy itu terbelalak, terkejut sekaligus cemas. Saat itu juga dia mengumpati dirinya, bagaimana bisa bertandang kemari berbekal tangan kosong. Setidaknya sebuah belati cukup menjadi pengaman hidupnya.
"Jeoha–" lontaran Baekhyun tercekat di tenggorokan, terpasung oleh lemparan pedang yang mendarat tepat di depan kakinya.
Kepala Baekhyun merunduk menatap penuh tanya pada pedang yang terhempas ke arahnya. Pandangannya mendongak, menghakimi wajah Chanyeol dengan seribu pertanyaan menggantung di rona wajah.
Chanyeol sekilas merentangkan sepasang lengan. Orbs tajamnya menatap lekat-lekat iris Baekhyun.
"Pergunakan pedang itu untuk melawanku."
Alis Baekhyun menyatu, bergantian menatap Chanyeol serta pedang tajam yang tergeletak di ujung kaki.
"Apa maksudmu?"
Dari sekian kalimat tanya, hanya kalimat itu yang mampu ia lempar keluar. Terlalu rumit, Baekhyun tak mampu mendefinisikan tindakan Chanyeol.
"Mari bertarung," titah Chanyeol tegas.
Baekhyun termangu menerima ultimatum tersebut. "Bertarung? Apa yang sebenarnya tengah kau pikirkan, Chanyeol Jeoha?" tanya Baekhyun tak mengerti. Tangannya bergerak meraih pedang dan mengangkatnya di hadapan Chanyeol.
"Bagaimana kau menyebutnya sebagai pertarungan bila salah seorang tidak memiliki senjata?"
"Aku tidak memerlukan senjata. Hanya dengan sedikit teknik aku bisa melumpuhkan lawanku."
Baekhyun terdiam, genggaman tangan pada ujung pedang mengerat. Seharusnya ia telah mengetahui siapa Chanyeol. Si dewa kematian, pembunuh berdarah dingin.
Begitu tersohor akan kemahirannya dalam bertarung. Berita mengenai kehebatannya acap kali dielu-elukan rakyat sepanjang semananjung Korea. Baekhyun tidaklah tuli, dia pula seringkali mendengar berita simpang siur itu.
Dan dengan berakhirnya pedang ini ditangannya adalah pilihan yang tepat mengingat kemampuannya dalam bertarung. Tidak bisa dianggap remeh, namun bila dibandingkan dengan Chanyeol.
Mungkin pria tampan itu dua tapak lebih tinggi darinya.
Pada akhirnya, sekali lagi Baekhyun memenuhi permintaan Chanyeol. Melihat hal tersebut, lekuk tulus tersemat di hati Chanyeol.
*Rose*
Baekhyun menghentikan pergerakan pedangnya ketika pedang tersebut menyapa telapak tangan Chanyeol. Segaris lintang merah di telapak tangan menyebarkan aroma karat dari riuhan angin yang berembus pelan. Napas Baekhyun tersenggal, sepasang iris kelam bersemu marah.
"Kenapa tidak melawanku, Jeoha?! Kau hanya menghindar sejak pertarungan di mulai! Sebenarnya apa keinginanmu! Kau mencoba merendahkan kemampuanku?!" teriak Baekhyun kalut sembari melempar pedang ke sisi kanan.
Ujung pedang menancap ke tanah, aliran darah Chanyeol yang tersisa di tubuh pedang mengalir ke tanah.
Chanyeol terdiam, sengaja bungkam. Membiarkan Baekhyun melontarkan segala kepenatan yang tersimpan dalam hati.
"Aku tahu, kemampuanku tidak lebih baik dari kemampuanmu. Dan aku tahu, mungkin aku akan terbunuh saat ini juga bila kau memang benar-benar melawanku. Tetapi, aku tidak peduli. Bilapun mati, aku akan meninggal dalam keadaan terhormat. Daripada menang sebagai seorang pecundang."
Baekhyun mengerat bibir bawah, aliran darah segar di balik telapak tangan kanan Chanyeol sesekali mengaburkan sisi lemahnya. Sorot cemas akan luka Chanyeol terkadang menyeruak keluar di antara semu emosi akan tindakan Chanyeol yang tidak mampu ia rasionalkan.
"Bukankah aku sudah pernah bersumpah di hadapanmu, Baekhyun Agissi."
Chanyeol tersenyum, kini benar-benar mengulaskan satu senyuman tulus yang seketika melenyapkan ledakan emosi yang menaungi sanubari. Mendebarkan dada Baekhyun, bahkan tanpa sadar semu merah tersebar di pipi Pangeran Silla itu.
"Jika memang kita diharuskan saling mengadu pedang di medan perang nanti. Aku bersumpah untuk tidak mengangkat pedangku di hadapanmu, Baekhyun Agissi."
Baekhyun merasa tertikam, rasa perih serta ngilu yang bertempat di telapak tangan Chanyeol seolah terserap ke dalam hatinya begitu kembali mendengar untaian kalimat penuh makna yang sejak tadi malam melagu di telinga mengganggu kenyamanan lelapnya.
Baekhyun menatap Chanyeol, sorot tajam itu meneduh.
"Aku seorang Putra Mahkota, Agissi. Dan setiap ucapan yang terlontar teranggap benar adanya, bukan semata bualan tak berarti. Dan hari ini aku mencoba membuktikannya kepadamu, oleh sebab itu aku tidak berniat melawan semua pergerakanmu."
Baekhyun melemas, sisi lemahnya kini seutuhnya menyerap semua prinsip serta pikiran negatifnya tentang Chanyeol. Tepakan langkah bergerak tergesa menghampiri calon penguasa Goguryeo itu. Tanpa kata dia meraih pergelangan tangan Chanyeol. Membawa tubuh mereka ke bibir sungai.
Baekhyun membasuh telapak tangan Chanyeol dengan lembut. Bibirnya masih bungkam, hanya pergerakan yang mewakili setiap untaian maaf yang belum sempat terkecap. Sementara, Chanyeol menatap lekat sisi wajah Baekhyun mengagumi setiap pahatan sempurna yang terbentuk apik di sana.
Usai membasuh lukanya, Baekhyun beringsut pergi dari posisinya. Menghiraukan alas kaki serta ujung durumagi yang tergilas air sungai, Baekhyun senantiasa memantapkan langkahnya dalam menyeberangi sungai tersebut. Chanyeol menggelengkan kepala menatap pergerakan Baekhyun yang tampak kacau.
Hanya luka kecil, bahkan dia kerap mendapat luka yang lebih serius dari ini. Tatapan Chanyeol melembut, desiran hangat itu memenuhi sanubari yang telah lama membeku. Terbentengi tanpa berniat terbuka pada setiap hati yang hendak menyapa. Namun rupanya berbeda pada Baekhyun, bahkan bila diselisik dari awal. Dirinya yang memulai cerita ini.
Pesona Baekhyun terlalu pekat untuk ditolak. Semakin dia mencoba menolak pesona tersebut dan memperkuat tameng yang sudah lama tertancap di hati, maka semakin beringas pesona itu membutakan akal pikirnya. Menggilas kenyamanan tidurnya serta membuatnya lepas kendali, seolah kehilangan jati dirinya bila memaksakan diri untuk tidak bertemu.
Rupanya rumor itu bukanlah semata kicauan burung tak berarti. Ia sudah membuktikannya dan tak mampu lagi meremehkan para Pangeran dari berbagai seberang Kerajaan yang terdengar berbondong meminang Baekhyun. Dia tidak mampu meremehkan mereka lagi bila kenyataannya ia pun telah terjatuh ke dalam pesona itu.
Sang Rose, ya. Rose, itu julukan yang mereka berikan untuk Baekhyun, begitupun dengan dirinya.
"Maaf."
Chanyeol tersentak dari lamunan saat suara lembut Baekhyun mengetuk telinga. Iris Chanyeol menatap puncak kelam Baekhyun yang merunduk di atas telapak tangan.
Jemari lentiknya masih menyibukkan diri dengan berbagai tanaman dari seberang sungai yang sudah dia hancurkan. "Maaf atas keegoisanku. Maafkan aku," rafal Baekhyun sambil menarik ujung durmagi miliknya kemudian ia lilitkan di telapak tangan Chanyeol.
"Maaf–"
"Hey..."
Jemari Chanyeol terulur meraih dagu Baekhyun, membawa wajah cantik itu untuk menatapnya. Sedikit terkesiap saat menemukan balutan air mata di sepasang iris indah itu.
Chanyeol tersenyum. "Hanya luka kecil, bahkan aku sering mendapatkan luka yang lebih serius daripada ini. Tak perlu merasa bersalah. Bukankah sekarang kita impas."
Tangan Chanyeol beralih mengusap lengan kanan Baekhyun.
Baekhyun tersadar, ia turut menatap balutan perban di balik durumagi merahnya kemudian terkekeh pelan. "Ya, impas," kekehan Baekhyun menulari Chanyeol. Mereka terkekeh bersama.
Baekhyun menyamankan tubuh di samping Chanyeol sambil menatap hamparan bunga di seberang sungai. Keheningan mendominasi, mereka saling menyibukkan diri dengan asa masing-masing. Chanyeol berdeham sekilas, menggeleng dua kali berupaya mengembalikan kesadarannya akan aroma Baekhyun yang semerbak di hidung terbawa angin.
"Kudengar banyak Pangeran maupun Raja Kerajaan seberang bertandang ke Kerajaan Silla untuk meminangmu."
Baekhyun menoleh, kekehan ringan mengiringi suara riak air yang terhempas batu kerikil. "Sampai sejauh itu beritanya."
"Kau tak mengira dirimu sangat tersohor di luar sana, Rose."
Baekhyun mengulum bibir bawah. Hela panjang menginvasi ruang paru-paru. "Hn. Kau benar. Apa yang mereka beritakan tentangku semua benar."
"Hanya Pangeran dan Raja. Tidak adakah seorang putri?"
Kelopak mata mengerjap dua kali begitu mendengar pertanyaan Chanyeol yang mendesak geilitikan di perut. Baekhyun tertawa, ia benar-benar tertawa hingga sudut matanya berair. "Oh Dewa, adakah seorang putri yang tertarik denganku."
Chanyeol menilik wajah Baekhyun, kemudian tersenyum tolol.
"Haha, bahkan kau lebih indah dari mereka. Bodoh."
Kepalan tangan menjitak kepala sendiri. Chanyeol tak menyangka mengapa melayangkan pertanyaan semacam itu.
Baekhyun memilah batu kerikil. "Tidak. Sesungguhnya pertanyaanmu benar. Bagaimanapun aku adalah seorang pria, seorang Pangeran yang memang seharusnya bersanding dengan seorang putri. Namun, aku terjatuh ke dalam ramalan yang tidak tepat."
"Ramalan?"
Baekhyun beralih menatap Chanyeol.
"Ya, ramalan. Ibunda pernah bercerita tentang ramalan itu usai upacara kedewasaan. Saat itu aku masih berumur tujuh belas tahun, dalam masa peralihan dari remaja ke dewasa. Ibunda membuka jati diriku. Tentang bagaimana takdirku yang sebagai pelengkap bukan pengutama. Sebagai pendamping bukan pemimpin."
"Meskipun aku seorang pria, aku tidak bisa lepas dari takdir itu. Sebab, memang aku yang terpilih. Entah, aku tidak mengerti maksud dari terpilih itu. Hanya saja, semenjak upacara kedewasaan waktu itu semua berubah. Banyak lelaki datang meminangku. Tentu saja aku terkejut, aku seorang pria bagaimana bisa dipinang seorang pria pula. Pemberontakan kecil mulai aku lakukan, tapi tetap saja aku tidak bisa merubah takdir tersebut. Memang, seharusnya aku terlahir sebagai perempuan."
Baekhyun menunduk, menumpu dagu di sepasang lutut yang tertekuk. Baru kali ini dia mampu mengungkapkan keresahan hatinya kepada orang asing yang baru bertemu dua kali. Akan tetapi, entah mengapa ia merasa nyaman mengutarakan semua keluh kesahnya di hadapan Chanyeol.
"Hanya sebatas itu?" tuntut Chanyeol merasa janggal atas cerita yang terdengar tidak lengkap.
Baekhyun mengangguk. "Ya, hanya sebatas itu. Ibunda tidak berniat menceritakan lebih tentang ramalan itu kepadaku. Beliau berkata, bila suatu saat nanti aku akan mendapatkannya dari seseorang yang lebih pantas mengupas ramalan tersebut untukku."
Chanyeol meraih bunga dandelion. Membawa di sepasang jari telunjuk dan ibu jari, membiarkan gugusan putihnya berterbangan di hadapan wajah ketika angin menghempas tubuhnya.
"Mengapa tidak memilih satu diantara mereka?"
"Siapa?"
"Peminangmu."
Baekhyun mengembungkan pipi, melempar tiga batu ke sungai sebelum melontarkan sebuah jawaban. "Hatiku masih tertutup," jawab Baekhyun tanpa menggalih kalimat yang lebih pantas.
Chanyeol tertawa kecil mendengar jawaban asal Baekhyun.
Chanyeol menoleh, menatap wajah Baekhyun dalam diam, merasa risih dengan tatapan Chanyeol; dia beralih menolehkan kepala, iris mereka bersiborok, tanpa sengaja mengirimkan implus tak kasat mata ke dalam dentuman hati.
"Bagiamana bila diriku yang meminangmu? Apakah kau akan menerimaku?"
*Rose*
Suara derap langkah kuda saling bersahutan di sepanjang lorong hutan terdengar membelah keheningan. Barisan pohon pinus dan jati memenuhi pandangan sepasang pria tampan berbalutkan pakaian perang. Serasah dedaunan kering berkibar ke atas ketika kaki kuda menggilas tanah terlampau tergesa.
Seulas senyum hangat terpahat di wajah manakala iris mereka mendapati sebuah bangunan Kerajaan yang keberadaannya sangat mereka rindukan, tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan serta tempat bernaungnya orang-orang tercinta.
"Sehun!" seru pria tampan yang berada di depan sambil menoleh ke belakang.
"Ya. hyung," jawab Sehun sembari mengurangi kecepatan kudanya ketika pria di depan bergerak menarik kekang kuda. Menahan laju tepakan kuda.
"Aku merindukannya, Hun."
Sehun tersenyum kemudian menarik tali kekang kuda, melambatkan langkah kuda demi menyamakan langkah kuda mereka. Pandangannya menerawang menatap lurus gerbang Kerajaan yang mulai menampakkan keagungannya.
"Akupun merasakan hal serupa, Jongin hyung."
Suara kuda meringkik di balik gerbang Kerajaan Silla menyentak para pengawal yang tengah berjaga di sekitar gerbang serta pelataran halaman depan Kerajaan.
Mereka bergegas membentuk barisan memanjang di setiap sisi pelataran Kerajaan menyambut kedatangan junjungan mereka. Sehun menatap Jongin ketika pintu gerbang perlahan terkuak.
Jongin menghela napas panjang, mengulas satu senyuman indah kemudian turut memaku wajah Sehun. "Kita pulang, Hun-ah. Kita kembali."
Sudut mata Jongin berair.
Sehun menahan diri, perasaan itu kian membuncah. Terkesan tak terbendung saat mata menemukan kedua orang tua mereka berdiri kukuh di ujung pelataran, menanti uluran tangan mereka.
Jongin dan Sehun beringsut menuruni kuda. Melangkah tegas menghampiri Kangin dan Leeteuk. Leeteuk membungkam bibir, menahan buncahan rindu serta riakan isakan tertahan. Bulir air mata menggenang di pelupuk mata bersiap jatuh menyapa pipi dan juga tanah.
Tangan Leeteuk bergetar, mengusap pelan sisi wajah Jongin dan Sehun secara bergantian. Bulir air mata yang menggenang pada akhirnya menyusuri pipi.
"Kalian pulang. Kalian pulang, nak," bisik Leeteuk sarat akan kerinduan yang menumpuk, memenuhi sanubari.
"Kalian pulang."
Leeteuk lantas merengkuh tubuh kedua putranya. Ia menangis dibalik punggung Jongin dan Sehun. Mendengar isakan ibunya, sepasang pria tampan itu mengusap punggung Leeteuk lembut menenangkan.
"Ya, kami pulang Ibunda. Tugas kami telah usai."
Tangan Leeteuk bergerak cepat menyusuri tubuh Jongin dan Sehun. "Kalian baik-baik saja? Tidak berkurang satupun?"
"Ibunda."
Jongin mengusap bahu Leeteuk. Sendu kelam yang terbalut di iris tajam membawa tatapan Leeteuk, "kami baik-baik saja. Hanya sebuah pelatihan, Ibunda. Bukan perang."
Telapak tangan Leeteuk menggenggam sisi wajah Jongin kemudian membawanya mendekat lalu mengecup kening putra sulungnya.
"Syukurlah. Ibunda terlalu merindukan kalian, nak."
Leeteuk beralih mengusap belakang kepala Sehun lalu turut melakukan hal serupa, mengecup kening Sehun.
Kangin terlihat mengusap sudut mata yang berair. Lekuk tulus terulas memandang kehangatan yang tercipta di balik tubuh Leeteuk. Tepakan langkah bergerak pelan, menghampiri Leeteuk. Keberadaan Kangin di samping Leeteuk menghentikan sejenak kegiatan mereka.
Jongin dan Sehun sontak merundukkan kepala memberi hormat sebelum merengkuh tubuh baya Kangin. "Maafkan kami Ayahanda. Rupanya kami sekilas mengindahkan keberadaan Ayahanda," ucap Jongin penuh sesal usai melepaskan rengkuhannya dari tubuh Kangin.
Tangan Kangin terangkat, mengacak surai Jongin dan Sehun bergantian. "Tidak apa. Memang seharusnya Ibunda kalian yang menjadi fokus utama kalian." Kilatan bangga akan kedua putranya menyertai lekuk lebarnya.
"Ayahanda bangga kepada kalian. Kalian benar-benar pewaris Kerajaan." Kangin tertawa. Hatinya membuncah senang menerima kehadiran kedua putranya di siang hari ini.
Meninggalkan Kerajaan selama satu tahun dalam rangka pelatihan ternyata memang seharusnya menjadi agenda yang diwajibkan. Sebab apa yang mereka peroleh dari tempat pelatihan cukup membuatnya terperangah kagum.
Jongin dan Sehun saling mengerling, seulas senyum tulus terlukis di pahatan nyaris sempurna mereka. "Tidak hanya kami, Ayahanda. Tetapi sang Rose pula adalah pewaris Kerajaan. Sebuah lambang keindahan abadi yang menjadi simbol Kerajaan Silla sepanjang masa."
Kangin menatap Leeteuk lalu meraih tubuh permaisurinya ke dalam rengkuhan. "Ya, kalian adalah hadian terindah yang Dewa titipkan kepada kami. Terima kasih," kata Leeteuk tulus sambil mengulas senyum.
Jongin mengedarkan pandang, situasi mengharukan yang terjadi tampaknya terasa janggal. Ketidakhadiran seseorang mengentak kesadarannya dari roman kehangatan ketika sebuah nama terlontar dari celah bibir. Jongin termangu, ingatan akan seseorang yang begitu ia rindukan hadirnya terngiang di kepala.
"Mengapa Baekhyun Agissi tidak turut menyambut kehadiran kami, Ayahanda?"
Kangin dan Leeteuk terhenyak. Rupanya sepasang penguasa Silla pun tengah terlarut ke dalam debaran kerinduan yang merajam sanubari hingga melupakan permata bungsu mereka.
Leeteuk menolehkan kepala, bibir terkulum di mulut sekilas kemudian kembali menatap Jongin dan Sehun. "Maafkan kami nak. Sebab terlalu merindu kami tidak memberitahukan perihal kedatangan kalian kepada Baekhyun Agissi," desau Leeteuk penuh rasa sesal.
Sehun menggelengkan kepala. "Tidak perlu meminta maaf, Ibunda. Tidak apa. Memang ini yang sebenarnya kami inginkan," kata Sehun menenangkan Leeteuk. Berupaya merubah rona bersalah yang mencubit hati mereka.
"Kalian merencanakan sesuatu?"
"Heum. Kami ingin memberi kejutan."
Selanjutnya gelak tawa teralun dari balik tubuh Jongin dan Sehun, sementara Kangin dan Leeteuk hanya menggelengkan kepala menerima tingkah putranya sambil turut tersenyum.
*Rose*
Nyanyian angin melagu di sekitar tubuh yang menegang kaku. Derak ranting pepohonan saling bergesekan, serasah dedaunan kering berterbangan melewati sepasang mata yang terjalin, tenggelam ke dalam perasaan rancu yang telah mengombang-ambingkan dirinya sejak malam lalu.
Kalimat yang terkesan hanya sebagai bualan semata mampu menumbangkan kesadarannya. Ia terdiam, terpaku di dalam sepasang iris tajam yang tidak berniat berbelok meski hanya sedetik. Saling termangu menerobos pikiran ke lain pihak. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengapa bisa serumit ini bila memang hanya sebagai bualan semata?
Baekhyun terkesiap, kepala tersentak ke belakang ketika harum napas Chanyeol menyerebak ke dalam lubang hidung, bermuara bersama hembusan angin yang senantiasa melagu menggoyangkan aliran sungai. Dia mengalihkan pandang, menatap tarian ikan koi yang bergerak lincah di dalam air.
Jemari lentik yang sedari tadi memilin batu-batu kerikil terhenti dengan gerakan kusut meremas ujung durumagi. "Kau ternyata pandai bercanda, jeoha," kata Baekhyun gamang.
Tegukan ludah mengiringi semu merah di pipi yang ia sembunyikan di balik gerai surai kelam miliknya.
Kening Chanyeol berkerut, kemudian seulas senyum simpul tersirat kepedihan tak kasat mata mengimbangi kesadaran yang nyaris terhempas desauan angin. Menatap pergerakan ikan Koi di dalam sungai, ia berucap.
"Sesungguhnya aku tipe seorang pria yang tidak mahir dalam menguntai kalimat konyol."
Chanyeol terkekeh, mengangkat wajah menatap arakan awan kelabu yang bergulir ke kiri, "Namun, rupanya berbeda bila sedang bersamamu."
Bekhyun memejamkan mata, lesakan perasaan canggung membuat duduknya terasa tidak nyaman. Sontak saja, ia bergegas bangkit berdiri. Awan kelabu yang menyapa mata cukup membantu dirinya dalam melarikan diri dari kejanggalan yang acap kali merisaukan sanubari serta akal pikirnya.
"Tampaknya cuaca hari ini tidak terlalu bersahabat," Baekhyun berucap kacau nyaris tergagap bila embusan napas di lubang hidung tak berlomba mencari oksigen demi paru-paru yang kian sesak terhisap oleh kebimbangan yang menyesakkan hati.
"Sebaiknya aku lekas kembali. Kau pun juga begitu, jeoha. Tak baik seorang Putra Mahkota, calon daripada seorang Raja Goguryeo sering meninggalkan Kerajaan," nasehat Baekhyun tanpa sedikitpun menatap Chanyeol meski sepintas.
Chanyeol menatap Baekhyun. Bibir terkatup rapat, menyelisik setiap pergerakan kacau Baekhyun yang terhalang untaian alibi. Ia kemudian bangkit, menepuk sereaah daun kering yang terhambur dipangkuan. Gemeresak di balik ranting-ranting yang saling menjulur mengadang pemandangan hutan menghentikan pergerakan tangan Chanyeol.
Mata terbelalak kaget begitu menemukan bayang seseorang dibalik ranting. Mereka tengah diawasi, dan pergerakan selanjutnya ialah Chanyeol bergegas meraih pergelangan tangan Baekhyun. Menarik tubuh Baekhyun mendekat kemudian merengkuhnya dengan perlindungan ketat.
Tubuh Baekhyun terhempas ke rumput dengan Chanyeol yang menumpu di atas. Dia tercengut, mendapati pergerakan tiba-tiba Chanyeol tanpa permisi. Nyaris saja telapak tangan mendorong tubuh Chanyeol menjauh sebelum lesatan anak panah di sisi tubuh menggetarkan perasaannya.
Chanyeol berdecak, kepalan tangan di sisi tubuh Baekhyun mengerat. Sorot mata yang semula menyendu berganti dengan sorot dingin penuh ancaman. Perasaannya terombak saat menyadari objek dari anak panah tersebut. Baekhyun menoleh, menatap Chanyeol.
"Panah," bisik Baekhyun gamang.
Rona wajah tampak cemas, tanpa sadar dia menggenggam lengan Chanyeol. Meremas kain durumagi Chanyeol menciptakan kerutan bergetar. Tak menyangka dengan bahaya yang tengah mengintai, Baekhyun tidak sempat memikirkan persoalan tersebut.
"Tak apa."
Jemari Chanyeol mengusap keringat dingin di kening Baekhyun. "Aku akan melindungimu," tegas Chanyeol sembari bangkit dari tubuh Baekhyun.
Iris tajam Chanyeol menatap datar anak panah yang menancap di tanah menembus gerumunan rumput. Tangannya terulur meraih anak panah, seulas senyum heran terlukis di sudut bibir saat mendapati cairan kehijauan di ujung anak panah.
"Racun."
Chanyeol berbalik, Baekhyun menahan getaran tubuh dibalik simpuhnya. Ia terlihat meneguk ludah lamat, "sebuah racun yang sangat mematikan. Terbuat dari tumbuhan kacang racun yang diendapkan hingga dua hari lamanya." Baekhyun menggelengkan kepala, tidak dapat berucap lebih jauh lagi.
Dia sudah cukup termangu oleh gerakan tiba-tiba Chanyeol yang melindungi tubuhnya dari lesatan anak panah tersebut, tak mampu mengira apa yang akan terjadi selanjutnya bila anak panah tersebut menyapa tubuhnya.
Chanyeol menggeram dalam hati, memang begitu mematikan. Aroma pekat yang dihasilkan racun itu cukup menggelapkan kesadaran Chanyeol akan intesitas racun tersebut ke dalam tubuh bila terhisap dan mengalir di sepanjang denyut nadi.
Urat tangan Chanyeol menegang, bergerak mematahkan tubuh panah. Ia kemudian beringsut menghampiri pedang tajam yang menancap usai pertarungan mereka. Lesatan anak panah kembali melintas dari balik ranting.
Chanyeol dengan sigap menampik anak panah itu, mematahkannya mejadi dua bagian. "Keluar!" ucap Chanyeol dingin penuh ancaman.
Tangan Chanyeol mengerat genggaman pedang.
Pergerakan ranting terlihat semakin rancu sebelum terkuak menampakkan lima orang berpakaian hitam dengan cadar hitam pula. Mata Chanyeol menyipit, sorot mata meneliti balutan pakaian mereka. Sebuah lambang burung rajawali emas terpahat di dada kiri.
Chanyeol menegakkan tubuh, menatap dingin setiap kepala yang tampak tertunduk hormat di depan mata. "Apa yang kalian inginkan?"
"Mohon ampun, Jeoha. Kami hanya merasa terancam dengan kehadiran musuh."
Chanyeol melirik Baekhyun yang terdiam di balik punggungnya. "Dia bukan musuh."
Baekhyun menengadah, menatap Chanyeol dalam sorot bingung. Begitu pula dengan lima orang di depan.
Salah seorang dari lima pria bercadar hitam melangkah satu tapak ke depan. "Maaf, Jeoha. Bukankah dia Pangeran bungsu dari Kerajaan Silla?"
Chanyeol mengalihkan pandang, menatap lurus si pria yang menguntai pertanyaan. "Benar. Tetapi selama dia tidak membahayakan keselamatanku. Kalian tidak berhak melukainya."
"Ampun Jeoha. Kami hanya menjalankan perintah. Melenyapkan setiap musuh yang terpandang mata," tegasnya menguak kesabaran Chanyeol.
Hela napas menyertai genggaman tangan yang mengerat tubuh pedang.
Chanyeol menghalangi kehadiran Baekhyun setiap gerakan mata di balik cadar tampak mengintai keberadaan Baekhyun. Satu lesatan anak panah tak terduga menyentuh lengan Chanyeol. Tubuh mereka terlihat menegang meski hanya sekilas, merutuki kebodohan akan tindakan tak terdefinisi.
Seulas senyum penuh makna melenyapkan nyali mereka. Tangan Chanyeol mengusap aliran darah yang merembes keluar dari balik durumagi. "Keputusan yang salah," kata Chanyeol sambil melangkah mendekat.
Lima pria bercadar hitam perlahan melangkah mundur dengan tubuh bergetar semu. Sorot tajam itu bagaikan simbol kematian. "J-Jeoha, bukankah kami ada dipihak anda. Akab terjadi perpecahan aliansi bila anda melukai kami."
Chanyeol menggelengkan kepala, pedang yang semula terkulai lemas di permukaan tanah perlahan terangkat di depan mata. Berkilau tertempa cahaya.
"Aku tidak peduli."
Kemudian suara teriakan menggema di sepanjang aliran sungai. Baekhyun yang sejak tadi terdiam mengutuki keberadaannya, tercengut kosong sambil membungkam bibir.
Kejadian yang terulas di mata seketika melumpuhkan saraf-saraf tubuhnya, begitu mengerikan. Mengembalikan putaran otak pada setiap kabar burung yang membicarakan sang putra mahkota Goguryeo.
Telah terbukti kebenarannya. Memang begitu mengerikan dan berbeda dari sosok yang sempat bersanding dengannya serta membuat jantungnya berdebar tak menentu.
Kali ini Baekhyun bahkan tidak mampu mengenali sosok di depan sana. Terbalutkan percikan darah dengan ayunan pedang ringan tanpa perasaan. Seolah hati nurani telah tercabut dari sanubari. Chanyeol menghentikan detak jantung mereka dengan sekali tebas di area leher.
Aroma karat terembus pekat melalui riuhan angin yang menampar kesadaran Baekhyun. Himpitan gemuruh rasa takut menyelimuti batin, terasa sesak seperti kehilangan oksigen meski nyatanya embusan angin terus merajam tubuhnya.
Tubuh mereka terpotong kasar, guratan merah pekat mewarnai hijaunya rerumputan di sekitar. Keindahan asri yang terkecap, sekejap menjadi serpihan abu tak berguna ketika mendapati lima onggokan tubuh tak bernyawa berurai acak berlinangkan darah.
Baekhyun menggelengkan kepala, keratan pada rumput membuat telapak tangan memerah. Semakin beku saat Chanyeol berbalik, usai melempar pedangnya di samping tubuh sang korban. Baekhyun tergeragap, sontak bangkit kemudian berjalan menghindar.
Dia mengangkat tangan mengisntruksi Chanyeol untuk berhenti. "Tetap disana," tegas Baekhyun terengah.
Bulir keringat dingin terus membasahi wajah. Sorot puppy itu memburam kecewa sekaligus takut.
Dia kecewa, tentu saja. Sebab, telah membunuh seorang manusia tanpa belas kasih. Apakah memang tabiat seorang putra mahkota Kerajaan Goguryeo seperti itu? Lantas, dapatkah pertemanan terjalin, bila salah seorang tak memiliki hati nurani?
Takut, hal yang wajar mengingat bagaimana cara Chanyeol menghabisi lawannya. Tidak menutup kemungkinan jika Chanyeol akan berlaku sama kepada dirinya terlebih mereka sepasang musuh. Untuk daripada itu sebaiknya Baekhyun lebih menjaga jarak.
Bagaimanapun mereka adalah sepasang musuh, tetap saja tidak bisa menjalin pertemanan bila menginginkan keselamatan di antara kedua belah pihak.
Baekhyun bangkit, mengarahkan sekelumit keberanian yang tersimpan di sudut terdalam sanubarinya. "Tidak seharusnya kau menghabisi mereka sekeji itu, Chanyeol jeoha."
Baekhyun mengatupkan bibir, mata senantiasa mengerling di balik punggung Chanyeol.
Sengatan kepedihan akan pemandangan di balik punggung Chanyeol menyeruam masuk, merasionalkan prinsip awalnya.
"Akankah aku hanya berdiam diri membiarkan mereka melukaimu, Baekhyun agissi," ucap Chanyeol cepat mengambil alih keraguan Baekhyun.
Kepala Baekhyun menggeleng dua kali. "Mereka dari Kerajaan Joseon, aliansi Kerajaan Goguryeo. Bukankah tindakanmu ini bisa menyebabkan perang antar aliansi, Jeoha. Tidak perlu berlaku sejauh ini bila hanya sekadar melindungi seorang musuh."
Sinar mentari lenyap terhalang arakan awan mendung, embusan angin menguat membelenggu kebisuan yang terjadi usai seutas kalimat terlontar dari celah bibir Baekhyun. Lilitan durumagi yang melingkari telapak tangan Chanyeol terurai jatuh ke tanah.
Chanyeol memiringkan kepala, sorot mata yang menajam melembut. "Kau terganggu?" Chanyeol mengambil napas. "Aku hanya ingin melindungimu."
"Seharusnya memang tidak seperti ini."
Sejenak pandangan Baekhyun tertuju di antara barisan rumput yang bergoyang, "Seharusnya sejak awal kita tidak bertemu lagi." Tepakan langkah menggilas rerumputan, menghentikan tarian mereka.
Baekhyun mendekat, sorot mata yang terulas rumit memaku wajah Chanyeol. "Keberadaanku hanya akan mengancam identitasmu sebagai Putra Mahkota, jeoha."
Terdiam, ia berupaya menekan perasaan sesak yang melilit paru-paru.
"Lebih baik kita tidak bertemu lagi," sambung Baekhyun tepat di samping tubuh Chanyeol.
Bisikan lirih bersama embusan angin yang mengoyak surai, menampar telak batin Chanyeol. Ia termangu, tetap membisu ketika Baekhyun mengucap maaf dan tetap berdiam diri di tempat saat tepakan langkah Baekhyun terdengar menjauh. Rintik hujan kemudian menyapa bumi bersama gemuruh guntur di langit.
Kilatan cahaya bertarung dibalik awan mendung. Chanyeol tetap mematung, membiarkan hujaman rintik hujan membasahi tubuh. Barangkali aliran air hujan di sepanjang tubuh mampu mengalirkan denyut perih yang tak pernah ia ketahui sejak kapan bersarang di benak.
Bibir tertarik tipis, mengulas satu kekehan sinis terbalut pedih. Ia kemudian menoleh, menatap bayang tubuh Baekhyun di balik ranting. "Kau belum memahaminya, Baekhyun. Kau hanya belum mengetahuinya. Bagaimana denyut jantung ini berdetak kacau bila tengah bersamamu? Bagaimana emosi ini meluap rancu bila mendapati dirimu terluka?"
"Kau hanya belum mengetahuinya."
Chanyeol mengengadah, rintik hujan selanjutnya menyapa kulit wajah. Memburamkan penglihatan Chanyeol akan kepekatan di langit. "Kau hanya terus berpegang pada kenyataan. Kenyataan bila kita sepasang musuh. Dan sepasang musuh tidak akan pernah bisa bersatu. Hanya itu yang kau ketahui."
Chanyeol merunduk, kekehan sinisnya semakin melagu di antara gemuruh guntur yang hendak menulikan telinga. "Sesulit itukah?" bisik Chanyeol gamang. Hela napas panjang mengiringi gerak tangan yang menekan dada.
Dia terperosok ke dalam perasaan yang tak seharusnya ia bina. Ini sungguh menyakitkan dan mengganggu, sementara seumur hidup ia tak pernah merasakan guratan pedih semacam ini.
"Jika itu keputusanmu, seharusnya sejak awal kita tidak pernah bertemu. Aku sudah terjatuh, Baekhyun. Maaf, aku tidak bisa."
Pada akhirnya Chanyeol kembali tenggelam ke dalam perasaan yang sungguh dia kutuk sejak mengganggu lelapnya malam itu. Pada akhirnya ia memutuskan untuk mencoba, berupaya meraih hati Baekhyun dan menerjang setiap kenyataan sulit yang mengadang langkah.
Chanyeol tidak peduli, sekali lagi ia tidak peduli. Perasaan itu telah lancang mengobrak-abrik pertahanannya dan Chanyeol tidak semudah itu menyerah kepada kenyataan yang telah tergaris, meski akan menghancurkan dirinya. Chanyeol akan tetap melangkah.
*Rose*
Tepakan langkah tergesa bergerumuh di sepanjang lorong Kerajaan. Seorang pria berbalutkan pakaian serba hitam dengan cadar hitam pula, bergerak serantan di sisi Kerajaan. Dia berhenti tepat di depan dua pengawal yang berjaga di pintu paviliun.
Terlihat saling berbincang sejenak, kemudian salah satu dari dua pengawal itu melangkah masuk ke dalam paviliun.
Suara pintu yang bergeser pelan menghentikan guratan tinta di kertas. Yunho mengalihkan pandang ketika salah satu pengawalnya merunduk hormat di depan mata.
"Jeonha. Pengawal dari agen mata-mata berniat menemui anda."
Kening Yunho berkerut samar. Terdiam beberapa saat lalu berucap. "Hm, persilakan dia masuk."
"Baik jeonha. Hamba mohon undur diri."
Yunho menganggukkan kepala, ia kembali melanjutkan guratan tintanya. Menyingsingkan lengan gonryongpo begitu meraih tinta.
Suara pintu bergeser kembali menyentak pandangan Yunho. Seorang pria berbalutkan pakaian hitam sontak bersimpuh di hadapan Yunho begitu menampakkan diri. Yunho hanya membisu sambil menatap penuh tanya tindakan sang pria berpakaian hitam.
"Mohon ampun Jeonha, saya tidak bermaksud menistakan identitas Yang Mulia Putra Mahkota di hadapan anda. Bila memang apa yang saya lontarkan ini hanya bualan semata, saya siap menanggung segala akibat dari perbuatan saya, jeonha."
Rangkaian kalimat yang terlempar kacau tersamar kegugupan yang mendalam semakin membuat Yunho dirundung perasaan bingung. Ia meletakkan tinta di samping kertas, kemudian menilik getaran semu di sepanjang tubuh yang bersimpuh di lantai.
"Apa maksud ucapanmu, Pengawal Han?"
Pegawal Han lantas menegakkan tubuh, kepala tetap merunduk dengan posisi bersimpuh. Sepasang tangan saling tergenggam di depan tubuh.
Bulir keringat sebesar biji jangung terus berlinang membasahi sisi wajah yang tertutup cadar. Melembabkan cadar dan membuatnya tampak basah. "Apa yang akan saya utarakan nanti, mungkin akan membuat anda emosi, jeonha. Sebab, berita yang telah saya bawa menyangkut Chanyeol jeonha."
"Hn. Katakan," titah Yunho tegas, membungkam alibi Pengawal Han untuk mengulur waktu.
Sejujurnya ia tidak berniat melontarkan apa yang terpandang mata, hanya saja ia terdesak pekerjaan. Bila bukan karena pekerjaan maupun titah sang Raja, ia tidak akan sampai hati melontarkan semua kejanggalan ini kepada sang penguasa Kerajaan Goguryeo.
"Sesuai titah anda, tadi siang saya beranjak dari istana demi mengikuti Chanyeol jeoha dan beliau berhenti di hutan Jacheon. Tiba di sana saya mendapati kebersamaan Chanyeol jeoha dengan seorang pria berdurumagi merah tua."
Pengawal Han menghentikan sejenak ulasan dongengnya, ia sesekali melirik roman wajah Yunho dari balik cadar. "Selang beberapa saat, lima pria berbalutkan pakaian hitam dengan cadar hitam, rupanya pula mengintai keberadaan Chanyeol jeoha serta pria berdurumagi merah tua dari balik ranting."
"Kemudian lesatan anak panah menyapa Chanyeol jeoha serta pria tersebut."
"Lesatan anak panah?" Yunho menyerobot perkataan Pengawal Han. Raja Goguryeo itu tampak terkejut, bahunya sontak menegang kaku.
Bergegas Pengawal Han melanjutkan untaian dongengnya. "Tidak bermaksud melukai Putra Mahkota, jeonha. Akan tetapi, lima pria berpakaian hitam itu hendak menyerang si pria berdurumagi merah tua. Namun, rupanya Putra Mahkota berusaha melindungi si pria berdurumagi merah."
"Pada akhirnya pertarungan pun terjadi, sebab mereka kekeuh ingin menyerang si pria berdurumagi merah, tetapi Putra mahkota tidak mengizinkan tindakan mereka."
"Siapa lima pria berpakaian hitam itu?"
Yunho menyilangkan tangan di meja. Sorot tajamnya menilik serius gurat wajah yang tersembunyi di balik cadar. Pengawal Han meneguk ludah lamat, terkesan berat seolah memikul beban berton-ton di punggung.
"Prajurit dari Kerajaan Joseon, jeonha."
Sepasang iris kelam Yunho melebar kaget. Nyaris bibir terbuka mendengar kabar yang seketika mengentak ketenangan jiwanya.
"Kerajaan Joseon."
Yunho melemas, mengalihkan pandang sambil mengatur napas. Ia mendadak tersenggal, tidak mampu berpikir jauh, melanjutkan untaian kalimat yang silih berganti terpahat di otak.
"Putra Mahkota melenyapkan kelima prajurit itu." Pernyataan terkecap, Yunho sedikit berharap akan ketidakbenaran dari sekelumit diagnosis yang silih berganti bersarang di otak. Tak mampu membayangkan dampak dari tindakan sang putra.
Namun rupanya, apa yang telah ia definisikan tergaris nyata. Kepala Pengawal Han mengangguk, membenarkan pernyataan dirinya. "Siapa pria berdurumagi merah itu?" tanya Yunho putus asa, tiba-tiba denyut pening menghantam kepala.
"Maafkan saya, jeonha. Hamba telah kehilangan identitas si pria berdurumagi merah tersebut."
"Baik. Pergilah."
"Ye, jeonha. Hamba mohon undur diri."
Yunho memejamkan mata, sinar rembulan dari balik jendela menerpa wajah yang terbalutkan sinar kecemasan di sepanjang garis bayanya. Jemarinya bergerak mengurut kening. Suara hewan malam merangsek masuk, menghancurkan kesunyian yang tercipta.
"Jenderal Kim Jisoo."
To be Continue...
Ahoy~ akhirnya chap 2 update yeaaay ^-^
Okee sudah-sudah, terima kasih atas Ripyunyaa ndee... Leo jadi bersemangat buat lanjutin edit cerita ini hehe~
Ah yaa.. sebelumnya cerita ini Leo bikin dengan cast KyuMin dan sekarang Leo ubah jadi cast ChanBaek hehe...
Jadi, untuk pembaca setia ROSE cast KyuMin tenang yaa.. gomawo udah beli fanbooknya juga muach~
Dan tolong baca bio dulu yaa sayang...
Leo ini author GuiMin137...
Udah gitu ajaa cuap cuap nyaa...
Mohon supportnya lagi ndee... muach :*
LEO SAYANG KALIAN ^-^
