Chapter 3
Setibanya di paviliun, Baekhyun tampak kian resah. Debaran jantung yang mengentak keras, seolah ingin meloncat keluar menitahkan dirinya untuk kembali menjumpai Chanyeol; mengoreksi setiap bait kata yang terlontar. Baekhyun menghela napas panjang, beralih menatap api lilin yang bergoyang terhempas angin dari jendela yang terkuak.
Sisa hujan siang tadi senantiasa menyerebak terbawa angin, nuansa segar bau permukaan tanah basah menyelimuti kebimbangan Baekhyun. Ujung jeogori putih yang tersulam dari sutera, terlihat kusut sebab remasan tangan yang tidak berhenti barang sejenak.
"Maaf," Baekhyun berbisik, alunan nada penuh penyesalan terbungkam linang air mata yang tanpa sadar melintas di pipi, "maaf." Kelopak mata terpejam, menyembunyikan sinar penyesalan yang teramat dalam.
"Aku tahu, aku telah menyakiti hatimu. Maaf, seharusnya aku berterima kasih. Maaf, aku memang bodoh. Tidak pantas kau berteman denganku." Sorot mata Baekhyun merajam api lilin yang menjilat tubuh lilin, membuat batang putih yang semula terbentuk kukuh, mencair menjadi linangan air tak berarti.
Seulas senyum perih terpahat di sudut bibir, rupanya Baekhyun tengah menertawakan kebodohannya. "Bukankah hatiku seperti lilin. Kukuh diawal, namun beranjak mencair sebab segala tindakanmu yang mampu merobohkan segala prinsip yang aku pegang dengan teguh."
"Aku sungguh naif."
Baekhyun merebahkan tubuh ke permadani dengan posisi miring, masih menyibukkan diri menatap lilin. Seolah sebuah pemandangan terindah yang sangat disayangkan bila terlewat sedetikpun.
"Apa yang akan terjadi besok?" ulasan tentang peristiwa siang tadi menyapa warna gelap yang merajam penglihatan begitu kelopak mata tertutup.
"Aku mencemaskanmu, Chanyeol."
Malam ini Baekhyun terlelap dengan seribu perasaan gundah di hati. Seakan tidak mengizinkan dirinya untuk tenang barang seentak, meski dalam balutan mimpi ia terus saja bergerak gusar.
*Rose*
Jenderal Kim merundukkan kepala sekilas ketika mendapati punggung Yunho di balik keremangan sinar lampu tiang di pelataran taman Kerajaan Goguryeo. Dia menjaga jarak, berdiri tegap di belakang dengan jarak lima tapak dari posisi Yunho.
Yunho membuang napas, uap putih sebab rendahnya cuaca malam terlempar keluar dari celah bibir. "Aku tidak ingin berbasa-basi, Jenderal Kim." Yunho berbalik menatap Jenderal Kim dengan sorot tajam. "Aku dengar tadi pagi Putra Mahkota menyelinap keluar."
Jenderal Kim tersentak, genggaman pada tubuh pedang yang bersarang di dalam wadah menguat. Terdengar suara gertakan samar dari balutan kayu tersebut. Yunho melangkah mendekat, sepasang tangan saling tertaut dibalik punggung.
"Sesungguhnya aku tidak begitu peduli bila putra mahkota tidak berulah. Kau tahu Jenderal Kim, siang tadi dia sudah melenyapkan lima prajurit dari Kerajaan aliansi."
Iris kelam Jenderal Kim beralih ke sisi kanan, berupaya menenggelamkan sorot kerisauan yang membaluti bola mata serta menghindari tatapan intimidasi dari junjungannya.
Yunho menghentikan tapakan langkahnya, berdiri tepat di hadapan Jenderal Kim. "Meski kau dalam kuasa Putra mahkota. Namun, aku tetap Rajamu. Dan kau diharuskan mematuhi setiap petuah yang aku lontarkan. Katakan, siapa yang tengah bersama Putra mahkota siang tadi di hutan Jacheon, Jenderal Kim Jisoo?"
Jenderal Kim membisu, terus menahan diri untuk tidak gentar pada balutan emosi yang berusaha Yunho tekan. Lelaki tampan itu kemudian memberanikan diri mengangkat wajah, menatap Yunho tanpa unsur menentang sang junjungan.
"Maaf, Jeonha. Saya tidak bermaksud menentang anda, saya hanya tengah berusaha menjalankan petuah yang Jeoha berikan kepada saya." Jenderal Kim merunduk dalam, mencoba menekan amarah Yunho barangkali berhasil.
Dia hanya mencari peruntungan.
Yunho mengatupkan bibir, gertakan gigi saling berlomba dalam kendali dirinya. "Tak heran bila Chanyeol mengangkatmu sebagai Jenderal terpercayanya. Tetapi, maaf. Aku tidak menerima kelakan, Jenderal Kim."
"Jeonha."
Suara berat di balik punggung Jenderal Kim mengalihkan ketegangan yang terjadi di bawah sinar temaram cahaya lampu tiang. Yunho memiringkan kepala, menyelisik suara familiar yang terembus bersama ayunan angin.
Chanyeol melangkah tegas, balutan mantel biru muda di sepanjang bahu terkibar bersama tapak langkah menggilas paving. Dia berdiri tepat di samping Jenderal Kim. Mendapati kedatangan Putra mahkota, Jenderal Kim begegas melangkah mundur. Berdiri tepat di belakang tubuh Chanyeol.
Chanyeol menatap lekat sorot tajam yang terbalut emosi di balik mata Yunho sebelum menitahkan Jenderal Kim untuk berbalik pergi. Jenderal Kim mematuhi titah Chanyeol, dia bergegas melangkah pergi meninggalkan sepasang Ayah dan Putra dalam balutan keheningan yang mencekam. Tak nampak sebutirpun kilatan hangat di sekitar mereka.
"Bukankah itu melanggar tata tertib yang sudah Ayahanda resmikan di Kerajaan ini," kata Chanyeol mengentak kebisuan Yunho.
Kepala Yunho mengangguk satu kali lalu mengulas satu senyum simpul. "Ayahanda hanya ingin mengetahui satu hal. Bukankah sesuatu yang wajar bila seorang Ayahanda mencemaskan putranya?"
"Dalam kasus ini, Ayahanda tidak sedang mencemaskan diriku. Tetapi, Ayahanda tengah mencemaskan jalinan persahabatan antar Kerajaan," Chanyeol berucap cepat menghancurkan alibi Yunho.
Sejenak Yunho terdiam, ia kehilangan untaian kalimat yang hendak terlontar.
Lontaran sang putra tepat menyentuh titik kerisauan hatinya. Memang benar, dia tengah mencemaskan jalinan persahabatan antar Kerajaan Goguryeo dan Kerajaan Joseon yang terancam menjadi jalinan musuh sebab tindakan Chanyeol siang tadi.
Namun, sepercik informasi yang lebih menyulut kerisauan hatinya adalah sebaris kalimat yang menyatakan bila penyebab tindakan gegabah putranya dikarenakan demi melindungi seseorang.
Tidakkah itu di luar sifat Chanyeol. Sebagai seorang Ayah, ia lebih dari tahu bagaimana tabiat putranya. Untuk apa membuang stamina demi melindungi seseorang yang bahkan tidak bersinggungan dengan hidupnya.
Lantas, apakah seseorang itu sangat berarti bagi Chanyeol? Tautan tangan di balik punggung terurai, beralih ke dalam balutan jeogori berwarna putih. "Benar. Hari ini kau sejenak membuatku tercengang dengan kehebatanmu melenyapkan lima prajurit dari Kerajaan aliansi."
Chanyeol menegakkan punggung, iris kelam yang tersorot tajam itu menghunus tegas. Mencoba meyakinkan Yunho akan ucapan yang terlontar selanjutnya. "Aku akan bertanggung jawab. Besok pagi, aku berniat bertandang ke Kerajaan Joseon."
Yunho menggelengkan kepala. Bibirnya tertarik membentuk garis lurus yang hanya bertahan sepersekian detik. "Ayahanda tahu, kau tidak akan lari. Kau pasti akan bertanggung jawab. Tapi, Ayahanda begitu penasaran dengan orang tersebut. Apakah dia sungguh berharga bagimu? Tidak seperti biasanya, kau tampak berbeda, Jeoha."
Chanyeol termenung, perkataan Yunho sekejap melumpuhkan setiap bait kata yang terangkai di otak. Chanyeol lumpuh begitu seulas peristiwa siang tadi membayangi penglihatannya, terlebih untaian kalimat yang terlontar dari bibir Baekhyun bagai gendang kematian yang melagu, meresahkan hidupnya setiap saat.
"Seorang teman."
Chanyeol menghela napas panjang, "hanya seorang teman, Ayahanda," tekan Chanyeol di tiap suku kata. Irisnya menatap Yunho dengan seribu semu arti terkabut perasaan gusar. Yunho tersenyum lembut, genggaman tangan di sisi tubuh yang tampak bergerak gusar mampu menghentikan Yunho.
"Baiklah. Ayahanda mengerti."
Yunho mengeratkan balutan mantel putih yang membaluti punggung lalu beringsut pergi meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol terdiam menatap punggung Yunho, genggaman tangannya menguat. Perasaan itu membumbung tinggi, berniat meledakkan emosi Chanyeol. Ia menengadah, menatap pekatnya malam yang hanya terhias segelintir bintang. Malam ini terlihat pekat, sepekat hatinya.
*Rose*
Setiap partikel debu yang terhambur di udara tak berniat menyentak kegiatan sepasang bersaudara yang sejak tadi menyibukkan diri dengan berbagai buku usang bertumpuk di setiap rak lemari perpustakaan Kerajaan Silla. Mereka sibuk memindah buku dari lemari ke meja, menumpuk menjadi tiga bagian lalu menyamankan tubuh di kursi yang melingkari pahatan meja.
Mengambil buku yang terletak paling atas, menghamburkan partikel debu yang bergelayut manja di buku dengan tiupan kuat hingga tanpa sadar embusan debu tersebut menyapa wajah saudaranya. Dia menggeram marah, terbatuk beberapa kali sambil menggebrak meja.
Sementara sang tersangka hanya menggaruk tengkuk, meringis penuh sesal. "Sial! Sepertinya pagi ini aku tidak sedang berulah padamu, hyung!" Sehun mengusap dada, dia bergegas meraih cangkir minum yang terdiam di samping tangan.
Jongin menangkupkan sepasang tangan di depan dada. Menggeseknya perlahan bersama sorot mata yang terbaluti untaian kata maaf. "Baiklah, aku bersalah. Aku minta maaf. Terlalu bersemangat hingga meniup serasah debu dengan kekuatan penuh."
"Ck. Dasar! Pandai sekali menguntai kalimat alibi. Aish."
Rupanya Sehun belum berkeinginan untuk memaafkan Jongin dengan mudah. Tentu saja, partikel debu itu terhisap kemudian menyentak rongga pernapasannya. Terasa ngilu dan sesak, andai Jongin turut merasakan penderitaannya. Ia pasti akan mengamuk sepanjang hari.
Sehun lebih dari tahu tabiat sang Putra Mahkota.
Jongin mendesah pelan, tangannya terulur mengacak puncak kepala Sehun. Terkekeh pelan kemudian beralih menyibukkan diri pada buku-buku usang berdebu itu.
Sehun mengernyitkan kening, sorot mata bingung, kesal bercampur heran tergurat jelas di sepanjang gurat tegas yang terpahat sempurna.
"Kau seperti orang tak waras, hyung," lancang Sehun mengindahkan tata krama yang berlaku kepada dirinya sebagai seorang Pangeran.
Jongin menghendikkan bahu, kendati menatap Sehun dengan tatapan nyalang sebab ucapan adiknya. Jongin justru kian tenggelam dalam balutan untaian kalimat membosankan yang tertulis di setiap kertas-kertas lusuh yang senantiasa terbalik setiap jemari Jongin menarik ujung kertas.
"Sudahlah, lekas buka buku-buku di hadapanmu itu dan jalankan niat awal kita berkunjung kemari," kata Jongin membungkam balutan amarah di selayang bahu tegap Sehun.
Sehun mendengus, ia kemudian beringsut mengambil salah satu buku. Meniup serasah debu dengan kuat bermaksud membalas dendam.
Jongin tersentak, dengan sigap kibasan tangan melayang di wajah. Umpatan samar teredam tapakan langkah dibalik pintu perpustakaan. Mereka beralih, menanti bayang seseorang yang sebentar lagi menyapa keberadaan mereka.
Seorang pria muda dengan tumpukan buku di sepasang tangan tampak termangu di ambang pintu. Ia terkejut menerima kehadiran Putra mahkota dan Pangeran di tempatnya mengemban tugas. Serentak, tubuh membungkuk hormat tak mengindahkan tumpukan buku yang terbeban di depan.
"Jeoha, Agissi. Maaf telah lancang mengganggu waktu anda. Saya sungguh tidak memperhatikan kehadiran anda. Saya mohon maaf."
Pria muda itu kembali membungkuk hormat kemudian melangkah pergi ke rak lemari.
"Tunggu," suara Jongin menginterupsi langkah si pria muda. Dia bergegas berbalik sambil merundukkan kepala.
"Ye Jeoha."
"Letakkan semua buku-buku itu di meja."
Tangan Jongin terulur menunjuk selaras meja yang sebelumnya telah dipenuhi oleh berbagai buku usang.
Pria muda itu mematuhi titah Jongin, dengan sigap dia meletakkan buku-buku tersebut ke sisi kanan Sehun.
"Pergilah."
"Ye, Agissi, Jeoha. Saya mohon undur diri."
Seusai kepergian si pria muda yang bertugas sebagai penjaga sekaligus perawat perpustakaan Silla, mereka berdua terdiam saling berkelana ke dalam pikiran masing-masing.
Sebuah buku klasik berwarna merah bata dengan sulur-sulur bunga mawar yang menghiasi badan buku rupanya menarik rasa keingintahuan dua pasang kakak-beradik itu. Tangan Jongin bergerak meraih buku tersebut.
"Tampak menakjubkan."
Jari telunjuk Sehun menyusuri pahatan tubuh buku. Sorot mata yang sempat mengkelam sebab kejahilan Jongin berubah berbinar dengan ulasan kekaguman berlebih.
"Buku apa ini?"
Sehun mengerling Jongin.
Kepala Jongin menggeleng dua kali. "Entahlah." Kening Jongin berkerut, kelopak mata menyipit seolah tengah membayangkan suatu hal yang bersinggungan dengan buku tersebut. "Terkesan seperti buku ramalan." Jongin tersentak, begitu pula dengan Sehun. Mereka berpandangan dengan sepasang iris membulat penuh.
"Cenayang," lontar mereka hampir beriringan.
"Cenayang? Benarkah dahulu Kerajaan Silla memiliki seorang Cenayang?" pandangan Sehun merunduk, menatap lekat buku yang masih tertutup rapat di balik telapak tangan Jongin.
"Bukankah Kerajaan ini senang sekali menyimpan beribu misteri. Bahkan, kisah asal muasal permusuhan antar Kerajaan Goguryeo dan Silla pun tak pernah kita kecap meski hanya seulas angan."
Sehun menganggukkan kepala, ia menumpu dagu. Jari telunjuk kini beralih mengetuk meja.
"Lantas, buku apa itu? Naluriku berkata bila buku tersebut milik seorang Cenayang, hyung."
Jongin terdiam, termangu kehilangan kata-kata. Untaian kalimat yang membaluti otak seketika mengerjap hilang, sirna bersama ayunan angin yang tak sengaja menyapa ruang perpustakaan. Lidah Jongin kelu, tetap membisu sampai Sehun mendekat mencoba menyadarkannya.
"Hyung, kau baik-baik saja?" belum sempat Sehun melangkah jauh, kini dia turut mengikuti jejak sang kakak. Terdiam memaku bagaikan sebuah patung ketika mata melirik sebaris kata yang tak mampu dia realisasikan.
'Bunga mawar yang telah kau petik, kelak akan menjadi pahatan takdir yang harus dia lewati.'
Jongin menggumam, menoleh menatap Sehun yang masih termangu. "Halaman berikutnya, hyung," bisik Sehun gamang.
Jemari Jongin terjulur lemas, menarik kertas usang yang bahkan telah menguning pekat.
'Dentang isak tangis senantiasa menemani di setiap pijakan kaki yang merekat tanah. Seulas senyum hanya dapat dia peroleh dari sang dambatan hati.'
Jongin meneguk ludah gugup, tak mengira untaian kalimat selanjutnya dari balik lembar kertas.
'Kesedihan bagaikan teman hidupnya. Langkah kaki tak seindah angan. Setiap duri dari tubuh mawar akan melukai telapak kakinya.'
Sehun mengambil alih gerakan jemari Jongin saat tubuh sang Putra Mahkota bergetar samar. Untaian kalimat perlembar yang menyapa penglihatan mampu melukiskan takdir yang teramat pedih.
'Sekuntum bunga mawar yang mengepakkan kelopak bunganya di bawah naungan sinar rembulan akan mengubah takdir dua Kerajaan hebat penakluk Semenanjung Korea'
Sehun terdiam usai merafalkan tiap bait yang tertulis samar di atas kertas usang yang telah memudar warnanya. Kalimat tersebut mencubit hati Jongin, meski tidak sepenuhnya memahami arti dari prosa tersebut, namun rangkaian kata yang menyebutkan 'Dua Kerajaan hebat penakluk Semenanjung Korea' mengundang Jongin untuk memikirkan Kerajaannya serta Goguryeo.
Sehun menghempas tubuh ke kursi, menyandarkan punggung sambil mendongak. Menatap langit-langit perpustakaan. "Siapa yang Cenayang itu maksudkan, hyung?"
Jongin mengusap wajah, jemari terhenti di kening. Tiba-tiba ia mendadak terserang pening. "Entahlah, yang jelas dia seseorang yang terpilih."
Sehun menghela napas panjang. "Takdirnya kelam, hyung," bisik Sehun menyerupai desisan angin yang kembali melagu di dalam ruangan.
Jongin terpana, bisikan Sehun merangsang desiran halus di dalam sanubari. Entah mengapa, dia merasa resah. Ingatan tentang adik bungsunya silih berganti mengubah arah pandangan Jongin.
Jongin bangkit dari kursi, Sehun yang melihat Jongin berniat pergi, beringsut mengikuti langkahnya.
Mengabaikan kehancuran yang terjadi di perpustakaan sebab ulah Jongin dan Sehun yang dengan tenangnya menyebar berbagai buku di meja. Dua pasang kakak-beradik pemilik wajah rupawan itu berbondong-bondong menyusuri lekuk kerajaan, mengacuhkan gerak serampangan dari dayang maupun pengawal mereka.
Sehun menyipitkan mata begitu mendapati bangunan paviliun yang tak asing baginya. Sedetik kemudian bibirnya membulat, memahami kemana arah langkah kaki Jongin.
Jongin berdiri tepat di tangga paviliun, seorang dayang tergopoh menuruni anak tangga sambil membungkukkan badan. "Jeoha."
"Beritahukan kepada Baekhyun Agissi, bila kami tengah datang berkunjung."
"Ye, Jeoha. Saya mohon undur diri."
Dayang itu segera berbalik, menaiki anak tangga lalu menghilang dibalik pintu paviliun.
Tak berselang lama, Dayang berbalutkan dangui hijau muda itu merunduk sopan menyampaikan pesan.
"Baekhyun Agissi mempersilakan anda masuk, Jongin Jeoha dan Sehun Agissi. Beliau tengah bersiap diri."
"Hn."
Jongin dan Sehun bergerak memasuki paviliun Baekhyun. Semerbak aroma mawar bercampur gugusan sakura sekilas menghentikan langkah kaki mereka demi menikmati sapuan wewangian yang memabukkan jiwa.
Setibanya di depan pintu ruangan Baekhyun, aroma tersebut makin tercium pekat menampar indera penciuman mereka. Pintu yang bergeser dengan lantai kayu menginterupsi kegiatan seorang pria berbalutkan dalryongpo merah keunguan di balik jendela ruangannya.
Baekhyun mengalihkan pandang, sepasang tangan menggenggam cawan. Bibir lembab nan merona tertarik lurus membentuk pahatan sempurna, dia menyapa dua kakaknya yang berada di ambang pintu dengan kilatan senyuman terindah.
"Selamat datang, hyungnim."
Seruan Baekhyun mengentak kesadaran Jongin dan Sehun atas kepekatan rembulan yang terpancar dari senyuman indah lelaki cantik itu. Mereka menggeleng pelan, kemudian melangkah cepat merengkuh tubuh mungil sang adik.
"Ya, kami pulang dongsaeng-ah."
Tangan Baekhyun terulur mengusap punggung Jongin dan Sehun.
"Bagaimana kabarmu, hem?" Getar kerinduan terselip di antara bait kalimatnya, membuat suara dalam itu sedikit meragu.
Baekhyun tersenyum, ia meletakkan cawan ke meja, lalu merentangkan sepasang lengan dengan lebar. "Lihat, aku masih dapat berdiri, tersenyum dan berjalan dengan baik. Aku baik-baik saja, hyungnim," desau Baekhyun ceria. Berusaha menenangkan gemuruh kakaknya barangkali berhasil.
Sehun terkekeh, jemari tangan menekan sudut mata. Mengusap air mata yang berkumpul. "Ya, memang itu yang kami harapkan. Teruslah begini, tersenyum." Sehun mengusap puncak kepala Baekhyun.
"Baiklah. Baiklah. Sudah, tak baik bermuram durja seperti itu. Kalian terlihat mengerikan." Bahu Baekhyun berguncang ngeri, memberi kesan meremang kepada dua kakaknya. Ia masih berusaha menenangkan sang hyungnim.
Jongin dan Sehun kembali tersenyum. Mereka lalu merengkuh tubuh Baekhyun, lebih erat daripada rengkuhan pertama. Gelak tawa serta senda gurau mengiringi rengkuhan mereka. Suasana hening yang menghayutkan fokus Baekhyun pada ramuan obat, kini terpecah menjadi gurauan ceria yang menghidupkan nuansa hangat di ruangan tersebut.
*Rose*
Dia tahu apa yang telah ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar. Tidak cukup hanya membutuhkan waktu satu hari untuk menimang keputusan. Maka dari itu, Chanyeol bertandang kemari. Hendak mempertanggungjawabkan keputusannya.
Namun, semua niatan itu lenyap bersama koyakan angin diranting ketika kedatangannya dipandang sebelah mata. Ketika kehadirannya hanya dipandang sebagai guyonan tak berarti.
Chanyeol adalah seorang Putra Mahkota dari Kerajaan Goguryeo yang sangat menjunjung tinggi harkat martabat dirinya serta Kerajaannya dan akan memusnahkan setiap pasang mata yang sengaja maupun tidak sengaja menyentuh setitik harga dirinya.
Dan keputusannya untuk bertandang ke Kerajaan Joseon, seharusnya mendapat penghargaan berlebih. Sebab, tidak semudah itu Chanyeol berkunjung ke Kerajaan aliansi meski ia telah berbuat salah.
Menurut pandangannya, apa yang dilakukan Kerajaan Goguryeo kepada Kerajaan aliansi cukup impas untuk sekadar menghapus segelintir kesalahan yang pernah dia perbuat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol termangu di pelataran Balai Istana Kerajaan Joseon dengan gemuruh hati yang terpendam dalam benak. Sepasang tangan di samping tubuh, samar terkepal. Ia tetap berdiam diri, meski pengawal Joseon mempersilakan dirinya untuk masuk ke dalam Balai Istana.
Chanyeol menggelap, sampai lenyap pun ia tidak akan sudi masuk ke dalam Balai Istana dan menerima kilatan pandangan merendahkan dari setiap pasang mata yang berada di dalam ruangan tersebut. Sejujurnya naluri Chanyeol sudah tergerak sejak berada di gerbang Kerajaan Joseon.
Gelagat aneh dari pengawal yang berpura menyapa sopan dirinya mampu Chanyeol definisikan. Beruntung Chanyeol masih dapat mengontrol kendali emosinya. Jika tidak, mungkin hari ini juga pelataran paving yang berwarna abu akan berubah menjadi merah, sebab genangan darah.
"Chanyeol Jeoha–"
Pengawal itu tersentak mundur ketika mendapat tatapan kelam dari sepasang iris Chanyeol. Tanpa ia sadari keringat dingin berkucur deras mengaliri tubuhnya.
"B-baik, Jeoha. Saya akan memberitahukan kedatangan anda kepada Changmin Jeonha." Pengawal itu tergeragap lantas lari sempoyongan menaiki tangga Balai Istana.
Chanyeol memejamkan mata. "Jenderal Kim."
Jenderal Kim mendekat, ia merundukkan kepala. "Ye, Jeoha."
"Persiapkan dirimu."
Kelopak mata Chanyeol terbuka, kilatan emosi kian pekat menyelimuti sorot dingin yang menembus tulang. "Jika mereka menginginkan perang. Hari ini juga aku akan melayani mereka."
Usai menghentak ultimatumnya, pintu Balai Istana terbuka menampakkan seorang pria tampan berbalutkan gonryongpo berwarna merah dengan lambang naga lima jari di sepasang bahu, dada dan punggung beserta para petinggi pandai bicara dan seorang Jenderal. Jendral Jung Il Woo, seorang abdi kepercayaan penguasa Kerajaan Joseon.
Shim Changmin melangkah tegas, menapak satu persatu anak tangga kemudian berdiri tepat di hadapan Chanyeol. Ia merundukkan kepala, menyapa Chanyeol. "Selamat datang di Kerajaan kami, Chanyeol Jeoha. Maaf bila penyambutan atas kedatanganmu sedikit mencubit perasaanmu."
Chanyeol menyeringai dalam hati, kepalanya merunduk, balik menyapa Changmin. "Terima kasih atas penyambutannya, Changmin Jeonha. Saya rasa penyambutan ini lebih dari cukup untuk membuat saya berkesan." Geratan gigi di dalam bibir Chanyeol terlihat di bayang iris mata Changmin.
Sepang tangan yang tertaut di balik punggung, terulur ke depan. Mempersilakan Chanyeol untuk memasuki Balai Istana. "Apakah anda berkenan untuk berbincang di dalam Balai Istana, Jeoha?"
"Sayang sekali, pemandangan di pelataran Kerajaan jauh memikat hati saya, Jeonha."
Changmin menurunkan tangannya, dia berbalik menghadap Chanyeol, roman wajah yang semula terlukis ramah kini berganti dengan kepekatan dingin yang menghempas serasah dedaunan kering di sekitar pelataran.
"Tidakkah anda merasa terganggu dengan kesalahan yang telah anda perbuat, Jeoha. Mengapa sifat arogan anda tetap membumbung tinggi?"
Chanyeol terkekeh pelan lalu mengecap bibir bawah. Perkataan Changmin menggelitik perutnya, membuat perasaan geli menyebar di seluruh tubuh.
Ia memiringkan kepala, salah satu alis terangkat. "Lantas, untuk apa saya bertandang kemari Changmin Jeonha. Bila saya tidak menyadari perbuatan saya. Seharusnya, anda memberikan saya penghargaan. Bukankah tindakan saya ini terlampau menyanjung anda."
Sudut bibir tertarik, membentuk seulas senyum miring sekilas yang secepat kilat mampu Changmin pandang.
Tangan kanan Changmin terkepal, riuh bisikan terdengar samar di belakang tubuh Changmin. Chanyeol menatap datar para petinggi pandai bicara itu, salah satu dari mereka mundur setapak begitu bertatapan dengan Chanyeol.
"Sadarkah anda bila apa yang sudah anda lakukan adalah sebuah kesalahan fatal. Tentu saja anda harus bertandang kemari demi mempertanggung jawabkan kesalahan tersebut. Suatu tindakan yang diharuskan, dan saya tidak tersanjung dengan tindakan tersebut."
Ungkapan Changmin bagai desauan halus yang menyentak sisi kelam Chanyeol. Tanpa Changmin sadari apa yang telah terlempar sedikit banyak menyentuh harga diri Chanyeol dan Chanyeol menyayangkan kendali emosi yang begitu rendah dari Raja Joseon tersebut.
"Satu lagi fakta kejayaan Kerajaan Joseon berada di tangan–" Chanyeol menghentikan kalimatnya. Iris kelam yang menghunus bagai mata pedang menggetarkan pertahanan Changmin, "mengirim lima prajurit bersenjata lengkap untuk melenyapkan satu musuh yang lengah. Sungguh, tindakan yang patut dipuji."
Changmin terpaku, begitu juga dengan para petinggi yang menyibukkan diri mereka dengan kicauan burung tak berarti. Kini termangu, terdiam seolah kehilangan pita suara akibat hempasan angin yang terlampau kencang.
Serasah dedaunan yang menyapa paving kembali terkoyak berputar di udara melintasi sepasang wajah yang teroman runyam sebab untaian kalimat Chanyeol.
"Apa yang saya lakukan memang sebuah kesalahan besar, dapat disebut sebagai tindakan sampah. Sebab telah melenyapkan lima pertahanan Kerajaan aliansi. Namun, apa yang Kerajaan kalian lakukan, lebih dari sampah. Sebab hendak melenyapkan seseorang yang bahkan tidak memiliki balutan pertahanan di sekitarnya."
"Chanyeol Jeoha. Bila anda mengecam tindakan kami. Lantas, bagaimana dengan tindakan anda yang melindungi seorang musuh. Apakah lebih terhormat daripada sebongkah sampah?"
Seorang petinggi paruh baya berbalutkan dalryongpo merah bergerak mengintimidasi Chanyeol setelah kehilangan suara beberapa menit lalu.
Chanyeol mengalihkan pandang, rahangnya mengeras. Gemeletuk gigi terdengar samar. Guratan emosi yang membakar sanubari nyaris melenyapkan kendali tubuhnya. Untaian terpaksa dia tahan begitu mendapati pergerakan mencurigakan dari salah satu pengawal di sisi kanan tubuhnya.
Tiba-tiba seorang pengawal yang menjadi titik fokusnya, beralih ke sisi belakang tanpa sepengetahuan. Chanyeol menyeringai dalam hati. Bayang semu yang tertangkap ekor mata, menjadi gerak sigap Chanyeol begitu ayunan pedang mengincar lengannya.
Telapak tangan yang terbalut perban tak gentar dalam menahan ayunan pedang tersebut meski rembesan darah memudarkan warna putihnya. Sang pengawal terkejut, begitu juga dengan setiap pasang tubuh yang berada di pelataran Balai Istana.
Jenderal Kim tergeragap, bersiap membantu Chanyeol namun satu titah terisyarat dari tangan kiri menghentikan langkahnya. Chanyeol mengeratkan genggamannya lalu memutar pedang tersebut hingga tangan si pengawal berputar berlainan arah.
Teriakan kesakitan menjadi pertanda beralihnya pedang tersebut ke tangan Chanyeol. Segera dia lemparkan pedang tersebut ke arah pengawal. Changmin termangu, detakan jantung berlomba tak karuan ketika melihat ujung pedang menembus jantung salah satu pengawalnya.
"Setidaknya aku bukan seorang pecundang. Selalu bertindak bila lawan tengah lengah."
Untaian perban terjatuh di paving bersama tetes darah di sepanjang telapak tangan Chanyeol. Iris tajamnya merunduk, menatap lonjakan tubuh gemetar dari si pengawal yang tengah sibuk meregang nyawa.
Chanyeol beralih menatap Changmin. Rona wajah yang tampak kacau tersentak ketika menatap Chanyeol. Tanpa sadar dia melangkah mundur, menjaga jarak dari Chanyeol. Kepalanya menggeleng cepat.
"Saya, tidak! Pengawal itu. Bukan saya. Saya tidak menitahkan pengawal itu untuk menyerang anda. Bukan saya, Chanyeol Jeoha."
Changmin tergeragap kacau. Hembusan angin yang menebar aroma karat menenggelamkan Changmin ke berbagai pikiran pedih.
Tak mampu merealisasikan bayangan kelamnya bila Chanyeol memutuskan untuk menyerang Kerajaan Joseon. Kicauan kabar yang kerap mengalir di telinga, cukup menyentak dirinya akan kehebatan Chanyeol dalam melenyapkan musuhnya, terlebih pemandangan salah satu pengawalnya yang tewas; yang entah mengapa bergerak ingin melukai Chanyeol cukup impas mempertebal kebenaran kabar tersebut.
Changmin kini merutuki kelalaiannya.
Chanyeol berdecih. "Sejujurnya kehilangan aliansi semacam Kerajaan Joseon bukan hal yang merugikan bagi Kerajaan Goguryeo. Prinsip Kerajaan ini sungguh berbanding terbalik dengan Kerajaan Goguryeo." Chanyeol menapak genangan darahnya.
Tatapan mata yang kian tak terkendali, mengaburkan sisi kemanusiaan Chanyeol. "Anda hanya terlalu lemah terhadap para petinggi pandai bicara yang kerap kali berganti roman wajah demi mengaburkan sikap bijaksana anda, Changmin Jeonha."
Chanyeol meraih pedang Jenderal Kim kemudian ia lemparkan tepat di bawah kaki Changmin, sontak menghentikan aliran napas Changmin saat itu juga.
"Beruntung kali ini saya masih dapat mengendalikan diri saya. Jika tidak, saat ini juga saya akan merubah warna paving ini menjadi merah."
Changmin mengangkat wajah saat tapakan langkah menyusup ke indera pendengaran.
Chanyeol berbalik, melangkah tegas menjauhi pelataran Kerajaan Joseon usai melontarkan setitik perasaan geramnya. Jenderal Kim masih berdiam diri, ia kemudian merunduk hormat. Aura mencekam terpahat jelas di wajah tampannya sebab terlukanya sang junjungan.
"Keputusan anda akan menentukan berlangsungnya hubungan antara Kerajaan Goguryeo dan Kerajaan Joseon, Changmin Jeonha," tegas Jenderal Kim lantas berbalik meninggalkan pelataran, menghiraukan Changmin yang nyaris limbung bila sang Jenderal kepercayaan tak menopang tubuhnya.
Changmin memejamkan mata, berupaya menguatkan diri sambil berucap tegas. "Persiapkan algojo Kerajaan." Changmin berbalik menatap para petinggi yang terpaku tegang di anak tangga. "Aku akan segera menindak orang yang telah memberi perintah kepada pengawal tersebut untuk melukai Chanyeol Jeoha," tegas Changmin sambil melangkah pergi.
Seraut wajah tegang serta getar ketakutan menyusup di antara kicauan gemuruh yang kembali menaungi gerumunan para petinggi Kerajaan Joseon. Mereka yang tidak bertindak merasa rancu dengan perkataan Changmin, sementara bagi salah seorang yang bertindak. Begitu riuh di posisinya. Kerap kali berpikir cara melarikan diri dari Kerajaan.
*Rose*
Jenderal Kim acap kali mengangkat wajah, memberanikan diri menatap punggung lebar Chanyeol yang bergoyang pelan mengikuti ayunan kaki kuda. Iris kelam itu menyusuri tangan yang menggenggam tali kekang kuda. Tali yang semula berwarna hitam, kian pekat akibat darah yang terus menyeruak keluar dari telapak tangan.
Desisan ngilu maupun perih tak terdengar sejak kepergian mereka dari Kerajaan Joseon. Jenderal Kim telah lebih dari tahu, Chanyeol memang Putra mahkota yang sungguh tangguh. Bahkan dulu saat mereka berperang dengan Kerajaan negeri seberang, tepatnya Kerajaan Vietnam.
Chanyeol tetap kukuh berdiri mengayunkan pedangnya, meski rembesan darah akibat guratan pedang yang melintang di dada membasahi pakaian militernya. Jenderal Kim menggelengkan kepala. Bukan tidak merasakan sakit, Chanyeol hanya terlalu menjunjung tinggi harga dirinya. Ia tidak ingin dipandang lemah, bahkan ketika ia sudah tidak dapat berdiri pun ia akan berpura kuat.
Chanyeol selalu menyimpan kepedihannya seorang diri. Itulah salah satu pembentuk kepribadiannya yang begitu dingin dan bengis.
"Chanyeol Jeoha."
Chanyeol tidak merespon.
Jenderal Kim menganggukkan kepala. Seolah dia sudah terbiasa dengan sikap acuh junjungannya.
"Mohon ampun, Jeoha. Bagaimana jika kita berhenti sejenak? Saya harus bergegas mengobati luka anda. Akan semakin–"
"Tidak perlu."
Jenderal Kim terdiam, untaian kalimat itu terdengar dingin. Rupanya Chanyeol masih dalam kondisi mengendalikan emosinya yang senantiasa menyelimuti sanubari sebab peristiwa di Kerajaan Joseon tadi.
"Maaf, Jeoha–"
"Aku bilang tidak perlu!" Chanyeol menggeram.
Jenderal Kim sontak menarik tali kekang kudanya, menginstruksi langkah kuda untuk melambat. Kepalanya merunduk dalam. "Baik, Chanyeol Jeoha. Saya mohon maaf."
Chanyeol menghela napas panjang. Ia memejamkan mata, guratan perih dan ngilu sesungguhnya membuat tangannya kebas. Terlebih ketika ayunan angin membelai guratan panjang itu.
Tetapi, sekali lagi. Chanyeol membenci nada itu. Nada cemas, takut dan simpatik. Dia sangat membenci nada tersebut saat berdentang untuknya. Ia tidak ingin dipandang lemah. Sekalipun dari kedua orang tuanya ataupun abdi setianya, Chanyeol menentang hal tersebut.
Chanyeol menyipitkan mata ketika melihat siluet tubuh yang tampak familiar di balik pohon pinus. Melangkah pelan dengan seorang pria paruh baya berbalutkan magoja putih dengan lambang Kerajaan Silla di sisi kiri. Seorang Tabib Kerajaan Silla.
Chanyeol menarik tali kekang kuda, menghentikan langkah kudanya lalu beringsut turun. Jenderal Kim mengerutkan kening, ia mengangkat wajah. Menyusuri hutan dengan menyipitkan mata. Kepalanya kemudian mengangguk paham, dia pun turut beranjak turun dari punggung kuda.
"Anda berniat menambatkan kuda disini, Jeoha?"
Chanyeol menoleh. Isyarat anggukan kepala menjadi awal langkah Jenderal Kim meraih kuda Chanyeol lalu mengikatnya dengan cepat di tubuh pohon pinus beserta miliknya.
Usai menunggu kegiatan Jenderal Kim, Chanyeol lantas melangkah tegas menyusuri serasah daun kering yang menumpuk di sepanjang lorong hutan. Iris tajamnya tak berniat beralih sedikitpun dari tubuh yang bersandar di pohon pinus sambil tertawa.
*Rose*
"Hahh..."
Hela napas panjang mengiringi hempasan punggung di pohon pinus. Dia menyandarkan punggung sambil mengusap keringat di kening. Kepalanya menoleh, menyusuri batang pohon pinus yang tampak berdiri kukuh. "Bagaimana kalau kita mengganti kayu manis dengan kayu pinus, Tabib Choi?" gurau Baekhyun sambil mengetuk batang pohon.
Tabib Choi tersenyum, ia menggelengkan kepala. "Anda hendak bercanda, Agissi. Bahkan kegunaan mereka bersimpang jauh."
Baekhyun tergelak. Tubuhnya perlahan merosot jauh sebab gelitikan perut yang tak mampu ia imbangi. Jemarinya meraih serasah dedaunan kering yang menjadi alas duduknya.
Sebuah ramuan yang tersemat di kantung putih teronggok di pangkuan. Iris puppynya menyusuri hutan dengan kening berkerut. "Aku heran. Bagaimana bisa tidak menemukan selaras kayu manis di hutan selebat dan seluas ini."
Baekhyun menengadah, menatap langit-langit yang tertutup rindangnya ranting pohon yang saling bertaut. "Bahkan sinar matahari enggan menyelusuk masuk."
Tabib Choi mengikuti arah pandangan Baekhyun usai meneguk air minum. "Mungkin di sudut lain, Agissi."
Baekhyun menumpu dagu, hela berat terlontar dari celah bibir. Dia termangu, kerjapan mata mengedip cepat saat suara tapakan langkah mengoyak serasah dedaunan kering mengiringi hela beratnya. Ia menoleh, sontak bangkit dari duduknya.
Tabib Choi menatap Baekhyun. "Sesuatu telah terjadi, Agissi?"
Baekhyun mengangguk. Ia bergerak keluar dari balik pohon pinus, mengintip lorong hutan. "Aku mendengar suara langkah seseorang. Ah, tidak dua orang." Baekhyun termangu, ia nyaris menggigit ujung lidahnya begitu mendapati dua orang yang berjalan mendekat ke arahnya.
Tabib Choi menghampiri Baekhyun, turut mengalihkan pandang menatap lorong hutan. Wajah baya itu menegang, tangannya tanpa sadar bergetar. Perlahan menyusup di balik magoja, meraih belati. "Agissi," bisik Tabib Choi cemas saat dua orang itu semakin dekat dengan posisi mereka.
To be continue...
Ho ho Leo balik ^-^
Ada yang kangen?
Reader : TIDAAAAKKK/ Lemparin sayur kol
Okee okeee sudaaah~ jangan sebut2 sayur kol lagi, cukup bapak tercinta kita aja yang kobam.. Leo udah tobat #plak
Oke lupakan IG Live bapak yg bikin Leo ngakak, hahaha~ kalo tau artinya makan daging anjing dengan sayur kol gimana yaaa? Waks~
Okee sudah bacotan tak guna ituuu..
Terima kasih yaa udah mampir di lapak aneh Leo, baca cerita dan meninggalkan RIPPYUUU~ Maaf nda bisa balas RIPPYUNYAA, tapi jujur Leo jadi semangat up loh baca RIPPYUan kalian~
Jadi, RIPPYUU JUSEEYOO NEE MUACH :*
SARANGHAE ALL
