Chapter 4

"Tak perlu cemas."

Desauan berat terembus mengentak kesadaran Baekhyun. Iris mereka bersiborok, perasaan itu kembali menaungi aliran darah. Tabib Choi mengerling, memaku wajah rupawan itu.

"Anda seorang Wangseja dari Kerajaan Goguryeo."

"Ya, dan kami sudah saling mengenal sebelumnya."

Chanyeol beralih menatap Baekhyun. Baekhyun mengalihkan pandang, rutukan halus terkecap lidah. Getaran hatinya tak mampu dia bendung, begitu risau seakan ingin melonjak keluar.

Tabib Choi masih berdiam diri di samping Baekhyun, rupanya dia masih belum dapat mempercayai lontaran Chanyeol.

"Anda bisa menggunakan pedang itu untuk memotong tangan saya bila seujung helai Baekhyun daegam patah karena saya, Tabib."

Tabib Choi terdiam, tepat ketika Chanyeol melempar pedangnya ke tanah; dia kemudian menganggukkan kepala.

"Baik, saya akan mencoba mempercayai anda, Wangseja."

Tabib Choi merunduk hormat lantas meninggalkan Baekhyun yang menatap kepergiannya dengan seribu sesal di rona wajah.

Jenderal Kim mengikuti langkah Tabib Choi, dua pasang abdi Kerajaan itu bersembunyi di balik tubuh pohon pinus. Kini hanya Chanyeol dan Baekhyun di lorong tersebut, desiran angin membawa aroma canggung yang mengikat pergerakan tubuh mereka.

Baekhyun berdeham, menetralkan serak di tenggorokan sebab kilatan sendu di mata Chanyeol yang tak berniat beralih barang sejenak dari dirinya.

"Wang...-"

Baekhyun terhenyak, aliran darah yang terus mengalir dari celah telapak tangan Chanyeol menyentak sisi kemanusiaan Pangeran elok itu.

Tanpa sadar raut wajah yang semula terlihat canggung berubah menjadi panik bercampur cemas. Mengesampingkan semua tata krama yang dia pelajari selama ini, jari telunjuk terulur ke arah Chanyeol dengan gerakan tak sopan.

"Darah!"

Baekhyun menahan napas, tatapannya bergelirya menyerukan perasaan cemas.

Chanyeol tersenyum simpul, sekilas menatap telapak tangan kemudian beralih mengerling Baekhyun.

"Hanya luka kecil..."

"Hanya luka kecil!"

Baekhyun nyaris terpekik ketika mengetahui linangan darah tak berniat berhenti di acuhkan oleh Chanyeol dengan melempar untaian kalimat yang menjengkelkan hati. Bergegas Baekhyun berderap menghampiri Chanyeol lalu meraih pergelangan tangan calon pewaris tahta Kerajaan Goryeo itu.

"Bagaimana bisa menyebutnya hanya luka kecil bila darah terus merembes keluar? Mengapa tidak mengobatinya, Chanyeol jeoha? Kau berniat memperparah kondisi lukamu," omel Baekhyun hilang kendali sambil menggiring Chanyeol menuju sisi bawah pohon pinus.

Mereka menyamankan duduk, lebih tepatnya Baekhyun memaksa Chanyeol duduk bersandar di batang pohon pinus, sementara dirinya menyibukkan diri dengan kantong kain yang berisi berbagai macam ramuan yang sebelumnya berhasil dia dapatkan bersama Tabib Choi beberapa menit lalu di sekitar hutan tersebut.

Chanyeol termangu, sikap Baekhyun secara tidak langsung mengirimkan sejuta implus debaran hangat yang terkadang menyesakkan ke dalam sanubari. Debaran yang sesungguhnya begitu ia hindari di saat Baekhyun berbalik menentang keinginannya. Akan tetapi, hari ini berbeda. Bolehkah dirinya sedikit berharap?

Baekhyun tampak membuka hati. Chanyeol tersenyum, kilatan kelam di sepasang iris melekat di puncak kepala Baekhyun, menilik setiap pergerakan tubuh Baekhyun. Mengindahkan empat pasang mata yang menyorot intens interaksi mereka dengan kilatan terkejut.

Anggukan kepala beriringan dengan satu ulasan lembut di wajah dingin Jenderal Kim. Gumaman lirih mengundang perhatian Tabib Choi.

"Selama menjadi abdi setianya. Belum pernah saya menemukan Wangseja menarik senyum seindah itu."

Tabib Choi terdiam, menatap sisi wajah Jenderal Kim kemudian berucap, "Kabar yang terembus mengatakan bila beliau adalah seorang Putera mahkota yang sangat dingin dan bengis."

Jenderal Kim menoleh, anggukan kepala merespon ungkapan Tabib Choi. "Kabar itu tidak berdusta." Tiba-tiba sorot mata Jenderal Kim berubah sendu. Ulasan pedih tertarik sekilas di ujung bibir. "Wangseja seperti terlahir kembali." Tabib Choi mengalihkan pandang, belati yang tergenggam di tangan perlahan kembali menyelusup di balik magojanya.

"Takdir mereka tidak mudah, Jenderal Kim," bisik Tabib Cho yang terinterupsi oleh teriakan Baekhyun yang merafalkan namanya, menarik Tabib Choi dari persembunyiannya. Pria baya itu bergegas berderap menghampiri Baekhyun yang terduduk di atas serasah dedaunan kering menanti kehadirannya.

"Ye, Gun Daegam."

Tabib Choi bersimpuh, menyamakan tinggi tubuhnya.

"Aku meminta air," pinta Baekhyun sopan.

Tabib Choi mengangguk lalu bergerak mengambil teko yang terbuat dari tanah liat berukuran sedang yang menggantung dipinggangnya.

"Dipersilakan, Gun Daegam."

Tangan Tabib Choi terulur dengan sopan ke arah Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kemudian meraih teko tersebut dari tangan Tabib Choi.

"Terima kasih, Tabib," ujarnya.

"Ye Gun Daegam, saya mohon undur diri."

Anggukan kepala menjadi pertanda Tabib Choi untuk beranjak pergi. Baekhyun kembali tenggelam ke dalam kesibukannya. Usai menuang air ke dalam ramuan yang telah dia racik, ia kemudian meraih tangan Chanyeol.

Mengusap rembesan darah secara hati-hati lalu jari telunjuk dengan telaten menyebar ramuan tersebut pada guratan merah sepanjang telapak tangan Chanyeol. Kening Baekhyun berkerut, mendesah perih setiap jemari menyentuh luka Chanyeol yang tergurat cukup dalam.

Baekhyun menengadah menatap Chanyeol, alisnya terangkat menyorot wajah tenang Chanyeol. "Kau sama sekali tidak merasa perih atau ngilu atau...-"

Baekhyun tiba-tiba tersadar, kepalanya sontak tersentak ke belakang, merutuki kebodohan diri akibat dari sesaat kehilangan kendali sebab luka tangan yang di derita Chanyeol.

"Maaf, saya tidak bermaksud bertindak kurang ajar. Saya..-"

"Lebih baik seperti itu," potong Chanyeol cepat.

Baekhyun memiringkan kepala, iris kelamnya berbinar, terpana oleh lekuk lembut di bibir Chanyeol.

"Terlihat akrab," tambah Chanyeol singkat yang seketika menebarkan aroma manis di hidung Baekhyun.

Embusan angin membelai wajah Baekhyun yang memanas. Debaran jantung yang bertalu tak karuan menghimpit suhu tubuh Baekhyun. Serentak tubuhnya memanas, menyebabkan keresahan di ujung jari yang bersentuhan dengan kulit hangat Chanyeol.

"Bukankah itu terdengar tidak sopan."

Baekhyun merundukkan kepala, memusatkan diri pada lilitan perban di telapak tangan Chanyeol. Ia belum cukup tangguh menatap mata Chanyeol usai mendapati senyuman menawan itu. Chanyeol menatap lekat puncak kepala Baekhyun.

"Bukankah aku sudah mengizinkannya. Aku tidak keberatan justru merasa senang jika kau menanggalkan aksen formal di antara kita."

Baekhyun menghela napas. Serasah daun terhempas tubuh begitu Baekhyun menyamankan duduk bersila di hadapan Chanyeol.

"Kau keras kepala sekali, Chanyeol jeoha."

Baekhyun menopang dagu, Chanyeol terkekeh, jemari tangannya bergerak menghamburkan daun-daun kering ke udara.

"Mengapa ingin sekali berteman denganku?" tanya Baekhyun penasaran.

Lelah dengan semua kelakan perasaan yang selalu mengganggu tidurnya. Kali ini Baekhyun mencoba mengalah, berupaya mengikuti alur takdir dengan sedikit membuka hatinya untuk Chanyeol.

Chanyeol menarik napas dalam kemudian ia lemparkan. "Aku tertarik denganmu," jawab Chanyeol singkat, menuai decakan malas di bibir Baekhyun.

"Pantaskah itu di sebut sebagai alasan," desah Baekhyun malas sambil mengembungkan pipi, sifat alami yang nyaris tak pernah tampak di permukaan- tidak terkira akan menyapa dirinya di perbincangannya bersama Chanyeol.

Chanyeol terkesima, satu lagi sikap Baekhyun yang semakin membuat dirinya terjatuh dan sulit untuk mengelak. Chanyeol menyerah, pada akhirnya ia turut berpasrah diri pada takdir. Menghiraukan embusan angin yang berkata 'ini sulit' selama dia berusaha semua pasti baik-baik saja.

"Memang tidak pantas. Tapi, aku berkata jujur."

"Hah~ adakah kalimat lain. Mereka yang berusaha mendekatiku juga beralasan seperti itu."

Baekhyun menumpuk daun kering, ujung jari telunjuknya mengitari tumpukan daun sebelum meratakan tumpukan tersebut ke tanah.

"Takdir."

Kepala Baekhyun menengadah, menatap wajah Chanyeol yang terlihat serius.

"Bagaimana dengan takdir? Apakah mereka juga mengatakan kalimat itu?"

Iris puppy Baekhyun berpendar jauh, tenggelam ke dalam balutan semu yang mengguncang hati.

Baekhyun menggeleng, kilatan indahnya terpesona dalam balutan kelam iris Chanyeol yang menyimpan beribu ketulusan hati. Rupanya Chanyeol memang sedang tidak membual.

"Dan harus aku akui, kau berbeda dari mereka," bisik Baekhyun pelan.

Chanyeolterdiam, menanti pergerakan bibir Baekhyun yang sepertinya masih berniat terbuka melemparkan seutas kalimat.

"Ketulusanmu, Chanyeol jeoha. Tidak pernah aku melihat sinar seindah itu dari mata mereka."

Desauan angin menerbangkan aroma hutan pinus. Semerbak segar membumbung perasaan Chanyeol yang sedang berbunga.

Bukan sebuah pujian, Baekhyun berucap fakta. Namun cukup ampuh bila hanya sekadar untuk melesakkan Chanyeol ke dalam jurang kenikmatan. Chanyeol mendesah pelan seolah merasakan kenikmatan di sekujur tubuh. Ia bahkan nyaris merengkuh tubuh Baekhyun erat-erat bila kendali tubuhnya ikut serta tenggelam ke dalam debaran semu.

Kantong kain yang teronggok di samping tubuh Baekhyun mengalihkan pandangan Baekhyun. Tiba-tiba tubuhnya tersentak seperti mengingat suatu hal. Chanyeol mengeryitkan kening.

"Ada apa, Baekhyun?" tanya Chanyeol bingung.

Baekhyun menatap Chanyeol, kelopak matanya mengerjap dua kali."Aku nyaris melupakan kayu manis," kata Baekhyun ambigu.

Kerutan di kening Chanyeol kian berlipat dalam ketika mendengar uraian kalimat Baekhyun yang tidak lengkap.

"Kayu manis?" ulang Chanyeol bertanya.

"Ya, Kayu manis. Pelengkap ramuan ini. Aku sedang mencarinya sejak tadi dan tidak mendapatkannya hingga saat ini," jelas Baekhyun sekaligus berkeluh kesah.

Baekhyun mendesah lelah. Roman wajah berubah muram, mengeluh letih sambil mengerat sudut bibir. Chanyeol bangkit dari posisinya, kemudian mengulurkan tangan ke arah Baekhyun.

Baekhyun menatap uluran tangan Chanyeol dengan pandangan penuh tanya.

"Aku bisa membantumu," jelas Chanyeol menjawab pertanyaan tersirat dari Baekhyun.

Sekali lagi Baekhyun menatap lekat uluran tangan Chanyeol. Hatinya bergerumuh ragu, tetapi pada akhirnya ia meraih uluran tangan di samping Chanyeol sambil mengedarkan pandangan ke sekitar barisan pohon pinus. "Aku tidak yakin, Chanyeol. Kau tahu, aku nyaris mengitari separuh hutan ini bersama Tabib Choi tadi."

"Dan kau belum mendapatkannya. Berarti, kau belum menyusuri sudut lain dari hutan pinus ini."

Baekhyun mengerutkan kening, ia menatap sisi wajah Chanyeol. Mereka mulai melangkah secara beriringan.

"Sudut lain?" tanya Baekhyun di sela langkah kakinya.

Chanyeol menggelengkan kepala sesaat kemudian bergerak mengusap kening Baekhyun. "Ya, cukup melangkah bersamaku dan kau akan menemukannya," jawab Chanyeol meyakinkan sambil menarik kembali jemari tangannya dari kening Baekhyun.

Baekhyun termangu menerima usapan lembut Chanyeol di keningnya. Semu samar tersebar di pipi, segera Baekhyun menolehkan kepala ke samping menghindari tatapan Chanyeol.

Tabib Choi bergerak menyusul langkah Baekhyun ketika mendapati kepergian sang Pangeran Bungsu sebelum terpaksa terhenti sebab tubuh kukuh Jenderal Kim yang tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya.

Tabib Choi mengetatkan sorot bayanya. "Apa maksud anda menghalangi jalan saya, Jenderal Kim?"

Jendral Kim mengalihkan pandang, menatap pedang Chanyeol yang tergeletak di atas serasah daun kering.

"Anda masih tidak mempercayai Wangseja setelah apa yang sudah kita dapati dari balik pohon pinus. Bahkan Wangseja telah meninggalkan pedangnya."

Tabib Choi meluruh, pikiran tergopoh kalut yang sekilas membayangi otak akibat dari pergerakan Baekhyun bersama Putera mahkota dari Kerajaan Goguryeo membutakan kenyataan yang baru saja ia kecap. Bagaimana bisa ia masih mencurigai Chanyeol bila senyuman dari calon penerus Kerajaan Goryeo tersebut mampu meluluhkan hatinya bahkan dapat menyentak semua kabar burung yang kerap kali dia dapatkan.

Chanyeol si Dewa kematian. Chanyeol si pembunuh berdarah dingin dan Chanyeol si Putera mahkota yang tersohor akan sikap arogannya dan kebengisannya. Silih berganti menyusup ke dalam telinga akibat mereka sering melantunkan bait kata yang sama setiap kakinya menapak tanah. Dimana pun dan kapan pun. Rakyat jelatapun urun membicarakan Chanyeol, di berbagai daerah dan desa.

Semua atribut tersebut melekat jelas di pundak Chanyeol. Akan tetapi, hari ini seakan lenyap semua kabar maupun identitas yang di sandang Chanyeol selama ini di mata khalayak umum ketika dia melihat seulas lekuk tulus di bibir meski hanya sekilas.

Tabib Choi mundur setapak. "Maafkan saya Jenderal Kim. Saya hanya terlampau cemas. Maaf," ucap Tabib Choi tulus, menyesali tindakannya.

Tabib Choi berbalik memandang lorong hutan yang baru saja melenyapkan sepasang pemuda yang rupanya tengah di mabuk asmara dengan tindakan hati yang terus berusaha untuk menyangkal perasaan tersebut.

Tabib Choi tersenyum, tanpa sadar sudut matanya berair. Entah mengapa tiba-tiba perasaan teramat sesak menyelusup menyapa sanubari? Kilasan samar tentang kelanjutan hubungan mereka sepertinya mengentak hati Tabib Choi. "Semoga kalian dapat merubah guratan takdir itu," gumam Tabib Choi penuh harap.

*Rose*

Ayunan angin menerbangkan satu daun kering ke udara, terus berputar dan melayang seolah tengah mencari seseorang dan tanpa di duga terjatuh di puncak kepala Chanyeol. Jemari Chanyeol bergerak, meraih satu daun kering yang menyapa puncak kepalanya. Menatap daun tersebut dalam diam.

"Kau baru saja bertandang ke Kerajaan Joseon, hn?"

Pertanyaan Baekhyun menyadarkan Chanyeol dari gemuruh aneh yang mengintip celah hati terdalamnya, hendak berbaur bersama perasaan hangat yang tengah menyelimutinya.

"Ya. Aku baru saja bertandang dari Kerajaan tersebut," jawab Chanyeol sambil merenggangkan jemarinya, menerbangkan daun tersebut ke udara. Kembali melayang menjauhi dirinya. Baekhyun menoleh, mengerling Chanyeol.

"Tidak bertanya aku tahu dari mana?"

Kerjapan polos Baekhyun sontak mengobrak-abrik pertahanan Chanyeol.

Hela panjang menyelusup dari celah bibirnya. "Aku sudah mengetahuinya. Hutan pinus ini adalah jalan pintas menuju Kerajaan Joseon."

Baekhyun melemparkan ranting yang tergenggam di tangan ke sungai kecil penuh dengan batu kerikil berwarna hitam dan abu.

"Huh, serius sekali. Kau tidak bisa berbasa-basi rupanya," cerca Baekhyun kesal yang menuai kekehan ringan, tangannya kemudian terulur mengacak puncak kepala Baekhyun.

Baekhyun mengeluh protes lalu menyentak tangan Chanyeol dari puncak kepalanya. "Mereka menentangmu, hingga kau mendapat luka seperti itu." Iris puppy Baekhyun bergulir ke luka Chanyeol.

"Wajar bukan. Hanya nyaris bersitegang."

Chanyeol tersenyum simpul sambil menilik wajah Baekhyun. Tiba-tiba kepala Baekhyun menunduk, roman wajahnya menyendu. Perasaan bersalah berbayang jelas di mata Baekhyun. "Maaf, sebab diriku kau akhirnya terlibat ke dalam persoalan rumit. Seandaianya waktu itu aku tidak datang...-"

"Sayang sekali. Seharusnya waktu itu kau datang, agar aku tak merasa terhina," sela Chanyeol cepat.

Baekhyun mengalihkan pandang menatap Chanyeol tidak percaya. Sementara itu, Chanyeol berhenti menatap lekat mata Baekhyun kemudian merundukkan kepala menyamakan posisi wajahnya.

"Sudahlah, sejak awal hubungan kami memang tidak begitu baik. Prinsip mereka berbanding terbalik dengan prinsip Kerajaan kami."

Wajah Chanyeol tiba-tiba terdorong ke depan, semakin mengikis jarak di antara mereka. "Tak perlu merasa bersalah. Aku membenci sikap itu."

Ujung hidung Chanyeol menyentuh ujung hidung Baekhyun. Untuk beberapa saat sang Pangeran bungsu dari Silla menahan napas, pening tiba-tiba mengetuk otak Baekhyun saat harum napas Chanyeol memenuhi indera penciumannya.

Baekhyun menghela napas lega begitu Chanyeol menegakkan tubuh kembali melangkah mendahului Baekhyun dengan seringai kecil di sudut bibir. Baekhyun menekan dada, meminimalisir detakan jantung yang bertalu hebat.

Tiba-tiba jantung Baekhyun berhenti berdetak sesaat ketika Chanyeol kembali bertindak kurang ajar dengan sebuah genggaman tangan di tangannya yang nyaris terhempas bila genggaman tangan Chanyeol tidak mengerat. "Kita akan menyusuri tebing, jadi jangan sekali-kali melepaskan genggaman tanganku," tutur Chanyeol menenangkan.

Baekhyun mendengus keras, merutuki ucapan Chanyeol yang secara tidak langsung menuding harga dirinya. "Kau pikir aku selemah itu. Aku bisa menjaga...-"

Tubuh Baekhyun mendadak terpaku bersama untaian kata yang belum usai, iris puppy-nya membulat terkejut saat merasakan sapuan lembut di pipi kanan. Embusan angin dan kicauan burung serta binatang hutan lainnya seolah terhenti, terdengar jauh di ujung hutan. Telinga Baekhyun berdenging sementara detak jantungnya kian meloncat penuh semangat.

Hanya sekilas, namun cukup membuat tubuh Baekhyun memanas. Semu merah yang biasa samar terulas di pipi, kini terlihat pekat menyelimuti kulit putihnya. Chanyeol perlahan menarik wajahnya kemudian menarik lekuk seringai di sudut bibir hendak menggoda rona merah di pipi Baekhyun.

"Cantik. Sungguh indah," bisik Chanyeol menggoda sebelum berbalik menapaki tebing. Baekhyun seketika tersadar dari keterkejutannya, tangan yang terbebas kemudian mengusap bekas bibir Chanyeol yang masih terasa hangat di pipinya.

"Apa yang kau lakukan?" lirih Baekhyun terhalangi angin.

Chanyeol tidak dapat mendengarnya. Pria tampan calon penguasa Kerajaan Goguryeo itu sibuk membimbing langkah di depan. Tanpa sadar tangan Baekhyun mengerat genggaman Chanyeol sambil berusaha menenangkan batinnya.

Suara pekikan kemudian melagu saat kesadaran ia dapatkan. Baekhyun menatap ngeri jurang batu di bawah kakinya. "Apa ini? Sebenarnya kau ingin membawaku kemana? Mengapa melewati jalan seterjal ini?"

Chanyeol menghentikan langkah lalu menarik tubuh Baekhyun mendekat."Tidakkah saat perang kau pernah melewati jalan seterjal ini?"

Baekhyun mendesis panjang saat lagi-lagi menerima pertanyaan Chanyeol yang terkesan meremehkan dirinya. "Maaf, Chanyeol jeoha. Saya cukup pandai memilah jalan yang aman untuk prajurit saya," ketus Baekhyun sambil menatap Chanyeol tajam.

Chanyeol tersenyum tipis, ia semakin menarik tubuh Baekhyun mendekat hingga nyaris membentur dadanya.

"Jadi ini pengalaman pertamamu, bukan. Maka dari itu, cukup diam dan genggam tanganku."

Baekhyun menyipitkan mata tidak terima. Nada berat itu terdengar semakin menindas kemampuannya. Baekhyun lalu mendorong tubuh Chanyeol menjauh.

"Saya mohon untuk tidak meremehkan saya, Jeoha. Meskipun kemampuan saya tidak sebanding dengan anda. Tapi, tetap saja saya seorang_Kyaaa!"

Baekhyun terpekik takut. Ia terus melangkah mundur menjauhi Chanyeol tanpa menyadari bila jalan tebing tidak selebar lorong hutan.

Salah satu kakinya menginjak gugusan batu yang melapuk, kaki Baekhyun terperosok. Nyaris terjengkal ke belakang dan terjun bebas ke jurang bebatuan bila Chanyeol tidak bergegas merengkuh pinggangnya lantas menarik tubuh mungil itu ke dalam rengkuhannya.

Punggung Chanyeol terhempas ke dinding tebing. Sementara Baekhyun memejamkan kelopak mata sambil mengerat gonryongpo Chanyeol pada bagian dada. Chanyeol menggelengkan kepala, aroma mawar bercampur sakura semerbak membutakan akal sehat Chanyeol.

Pria tampan itu berulangkali menarik napas berat berupaya mempertahankan kesadarannya. Lingkaran lengan kekar Chanyeol di pinggang sontak menyadarkan Baekhyun. Kelopak mata Baekhyun terbuka, berbinar kaku kemudian menengadah menatap Chanyeol yang tengah menatapnya lekat. Baekhyun merutuki kebodohannya, kini mereka semakin dekat. Tiada sekat yang membatasi.

"Keras kepala sekali, hn," bisik Chanyeol lembut.

Baekhyun termangu saat usai mendengar intonasi suara berat itu, dia kemudian bergegas melepaskan rengkuhan lengan Chanyeol dari tubuhnya, tetapi lain tindakan. Chanyeol justru semakin mengeratkan rengkuhanya di sela perjuangan Baekhyun.

"Aku rasa begini lebih baik."

"Tentu saja tidak," sergah Baekhyun cepat.

Semu merah di pipi perlahan membaluti wajah Baekhyun. Chanyeol menahan senyum kemudian merenggangkan lingkaran lengannya membebaskan Baekhyun dari jeratan eratnya. Chanyeol terkekeh kecil mengimbangi kekesalan Baekhyun, tanpa menghiraukan Baekhyun si putera mahkota lantas kembali melanjutkan langkah meninggalkan Baekhyun yang tergagap panik di belakang.

"H-hey...kau meninggalkanku. Chanyeol!"

Baekhyun menyudutkan tubuh di dinding tebing. Menyatukan punggung dengan dinding tebing berinisiatif melangkah menyamping. Kepala merunduk, menatap awas jurang bebatuan yang membayangi mata, membuat otaknya berputar pening.

Chanyeol menahan tawa saat melihat tingkah Baekhyun. Pangeran bungsu tersebut memang sungguh menggemaskan. Tak pernah mengira bahwa dirinya akan memiliki musuh seindah ini. Tentu saja tidak akan Chanyeol lepaskan meski badai terus mengadang langkah kakinya. Hela napas panjang mengiringi langkah kakinya, berderap menghampiri Baekhyun.

Chanyeol secepat kilat meraih tangan Baekhyun. "Kau ingin kita terjebak di sini sampai siang berganti malam, heum."

Baekhyun terdiam, hanya gelengan kepala yang merespon ucapan Chanyeol. Kepalanya bergerak ke kanan mencoba mengalihkan objek pandangan dari wajah Chanyeol serta hendak menetralkan detak jantung yang kembali mengganggu kinerja otaknya.

Tanpa sepengetahuan Baekhyun, Chanyeol kian mendekat. Melingkupi tubuh Baekhyun yang tersandar di dinding tebing. Baekhyun menggigit ujung lidahnya, menahan pekikan terkejut sebab tindakan Chanyeol yang di luar nalar. Pria itu semakin berani menyudutkan dirinya.

Chanyeol memaku wajah Baekhyun, iris tajamnya menggelap bersama tangan kanan bergerak menyusuri sisi wajah Baekhyun. "Memang tidak masalah bagiku bermalam di sini. Tetapi, suatu masalah bagimu. Karena, aku tidak bisa menjamin...-" Iris tajam Chanyeol mengedar menyusuri tubuh Baekhyun.

Wajahnya mendekat tepat di sisi wajah Baekhyun, kemudian memiringkan kepala berbisik lembut di telinga lelaki elok itu."-.. gejolak gairahku akan dirimu," sambung Chanyeol sambil mengedipkan salah satu kelopak matanya berniat menggoda Baekhyun.

Sontak tubuh Baekhyun melemas, rona merah yang semula di pipi kini tersebar ke seluruh permukaan wajahnya.

Mendapati sikap tersebut dia kemudian tergelak lalu bergerak menjauhkan diri dari Baekhyun, setelahnya menarik pelan tubuh Baekhyun untuk mengikuti langkahnya. Baekhyun mengembungkan pipi sambil menatap punggung Chanyeol dengan kesal. "Dasar liar," umpat Baekhyun yang semakin menambah gelak tawa Chanyeol.

"Hey, hey. Aku hanya bercanda," bujuk Chanyeol menenangkan usai mendapati gerakan berontak dari Baekhyun yang mengentak tangannya, melepaskan genggaman tangannya lalu melangkah cepat memasuki jejeran pohon kayu manis yang berjajar rapi di sepanjang lorong hutan.

Baekhyun menjaga kecepatan langkahnya, menghiraukan Chanyeol yang tengah menyibukkan diri membujuk dirinya. Baekhyun menghela napas panjang, makin lama Chanyeol makin menjengkelkan. Ia seharusnya menjaga jarak dari Chanyeol, lagipula detak jantungnya pun tidak bisa melambat bila terlalu dekat dengan Chanyeol. Hal tersebut begitu mengganggu dirinya.

Baekhyun terkesiap, seorang anak lelaki yang tengah menyandarkan punggung di batang kayu manis sambil merengkuh tubuh kurusnya menghentikan langkah Baekhyun. Isakan tersedu berembus lirih bersama batuk serak yang kerap mengiringi tangisnya.

Chanyeol mendekat, menilik sisi wajah Baekhyun saat melihat tubuh mematung Baekhyun. Chanyeol lalu mengalihkan pandang, mengikuti arah pandangan Baekhyun. Belum sempat Chanyeol melontarkan sepatah untaian kata, lambaian tubuh Baekhyun yang berderap menghampiri tubuh kurus anak lelaki itu menggetarkan hati Chanyeol.

Baekhyun merundukkan tubuh, menumpukan sepasang lutut di tanah dan menggeser serasah dedaunan kering. Jemarinya terulur ragu, menyentuh puncak kepala kumal si bocah asing. Merasa seseorang menyentuh kepalanya, perlahan wajah penuh guratan debu yang tersembunyi di lingkupan lengan mendongak menatap Baekhyun.

Bocah itu menegang, iris polosnya menghujam penuh ketakutan. Tubuhnya mulai tergoncang, bergerak resah menggesek batang pohon seakan ingin memasuki batang tersebut. Baekhyun menyendu, bibir yang bergetar pedih ia paksa untuk mengulas satu senyuman ramah.

"Aku tidak akan menyakitimu," bisik Baekhyun lembut. Jemarinya kembali terulur, mengusap puncak kepala si bocah asing. Sapuan lembut Baekhyun rupanya cukup ampuh menenangkan gejolak takut yang merajam hati.

Perlahan gerak tubuh yang serantan kacau mulai menenang, kini dia menatap penuh wajah Baekhyun. Usai mendapatkan ketenangan si bocah, iris puppynya menyebar ke sekitar tubuh kurus nan kumal itu. Segores luka di sepasang pergelangan tangan bocah asing itu mencubit hati Baekhyun.

Bocah itu menatap pergelangan tangannya, ia bergetar saat Baekhyun menarik sepasang pergelangan tangannya mendekat. "Bolehkah aku mengobatinya?" tanya Baekhyun pelan meminta persetujuan.

Dan sebuah anggukan samar Baekhyun terima, menuai lekuk hangat di garis bibir Baekhyun. Kemudian dia bergerak menyibukkan diri mengobati luka tersebut.

Bocah itu menundukkan kepala, mengintip wajah Baekhyun yang terhalang surai kelam. "Tae_Min. Taemin." Getar serak menembus telinga Baekhyun. Baekhyun mendongak, seulas senyum urun menarik bibir mungil itu. Si bocah mengangguk dua kali. "Namamu Taemin, heum. Nama yang indah." Baekhyun mengusap sisi wajah Taemin.

Membersihkan guratan debu serta lelehan air mata tanpa rasa enggan. Baekhyun justru menikmati kegiatannya. Tumbuh dan besar di lingkup Kerajaan rupanya tidak membuat Baekhyun angkuh dan senang menatap orang dengan identitas yang tersandang. Sikap dasarnya terus mengikuti ayunan langkah kaki di mana dia berpijak, tidak pernah sekalipun membusungkan dada dan selalu merunduk tanpa enggan kepada setiap orang yang membutuhkan pertolongannya tanpa pandang bulu.

Taemin memejamkan mata menikmati usapan hangat Baekhyun, ia bahkan menggerakkan kepalanya seperti seekor kucing. Baekhyun tertawa. "Hey, di mana orang tuamu?" Taemin tersentak, tubuhnya kembali bergetar bersama gelengan kepala yang terlampau cepat.

Bibirnya bergerak kacau, bergumam tidak jelas, sementara tatapan matanya tersorot kosong. Baekhyun seketika di rundung perasaan cemas. Tangannya kemudian bergerak, bergegas meraih bahu Taemin dan mengusapnya. "Tumbal_Sesembahan_Dewa matahari," gumam Taemin terputus-putus tidak jelas dan terdengar berantakan.

Taemin merundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya. Isakan samar melagu di antara getaran tubuh yang kian melonjak tegang. "Aku tidak. Aku tidak mau. Aku takut."

Taemin terisak hebat, napasnya terhela satu-satu begitu tersenggal.

"Taemin, sayang. Tenanglah. Taemin."

Baekhyun merengkuh tubuh ringkih Taemin ketika mendapati lonjakan tubuh yang kian mencemaskan dirinya. Bahkan Taemin tidak segan membenturkan kepala serta punggungnya ke batang pohon.

Suara tapak langkah mendekat menginterupsi kepanikan Baekhyun, kepala Baekhyun menoleh ke sumber suara. "Kau tahu sesuatu. Tumbal, sesembahan dan Dewa matahari?" tanya Baekhyun penuh harap.

Chanyeol menempatkan tubuh di samping Baekhyun. Terdiam beberapa saat sambil menatap getar tubuh Taemin di balik rengkuhan Baekhyun. "Persembahan jantung suci dari anak lelaki yang belum memiliki gejolak birahi saat titik balik matahari."

"Aku tidak mengerti," tekan Baekhyun mendesak Chanyeol. Chanyeol mengalihkan pandang, kini ia menatap wajah Baekhyun.

"Setiap titik balik matahari di mana matahari tersebut berada di ketinggian maksimum. Sebagian orang yang menganut kepercayaan akan persembahan tersebut mulai berbondong-bondong mempersiapkan perayaan mereka. Salah satunya dengan menumbalkan jantung seorang bocah lelaki yang masih bersih, belum memiliki ataupun mengerti akan gejolak birahi manusia."

Baekhyun terpaku, tubuhnya melemas dengan kendali emosi yang tarik-ulur. Berupaya menahan diri untuk tidak mengamuk usai menerima kenyataan mengerikan yang terlontar dari bibir Chanyeol. "Lebih tepatnya saat Tahun Matahari."

Chanyeol mengangguk. "Ya, Tahun Matahari. Mereka mempercayai jika di Tahun tersebut Dewa Matahari tengah turun ke bumi dan mereka menyambut kedatangan sang Dewa Matahari dengan sesembahan tersebut." Kepala Baekhyun merunduk, menilik wajah damai Taemin yang ternyata telah terlelap dalam rengkuhannya usai memberontak hebat.

Wajah polos itu terlihat sangat kelelahan. "Tidak bisakah kepercayaan itu ditangguhkan. Maksudku, tidak bermaksud menentang kebiasaan mereka. Namun, hanya bermaksud menghilangkan ritual penyerahan jantung dari seorang anak lelaki." Suara Baekhyun melirih, kembali membuat Chanyeol terpana akan kebaikan hatinya.

"Pihak Kerajaan masih dalam tahap menimang keputusan. Tidak semudah itu merubah kebiasaan yang bahkan telah tersalur secara turun-temurun." Baekhyun menoleh menatap Chanyeol yang sejak tadi telah menatap lekat wajahnya.

"Pihak Kerajaan. Maksudmu, desa tersebut berada di bawah naungan Kerajaan Goguryeo." Chanyeol mengangguk. "Ya, Desa Geonan." Serentak Baekhyun menghadap Chanyeol, iris puppy yang semula melemah terbalut perasaan sesak kini menegas penuh tekad.

"Tepat sekali. Aku yakin, namamu cukup tersohor di seluruh Semenanjung Korea ini, Chanyeol. Terlebih pada daerah kepemilikan Kerajaan Goguryeo. Tidak bisakah kau membujuk mereka untuk menanggalkan ritual tersebut. Jika memang tidak bisa, setidaknya ganti jantung dari bocah lelaki ke jantung binatang." Untaian kalimat itu tersepuh penuh harap.

Sorot tajam Chanyeol melemah, tangannya terangkat mengusap sisi wajah Baekhyun. "Aku bukan seorang Raja, Baekhyun. Dan seharusnya lontaran kalimat itu kau peruntukkan untuk Yunho wang."

"Tapi, kau seorang Putera mahkota. Pewaris tahta Kerajaan. Mereka pasti akan mendengar ucapanmu," desak Baekhyun tidak berniat mengalah. Chanyeol menghela napas panjang.

"Baekhyun daegam...-" Chanyeol terbungkam ketika mendapati tubuh merunduk Baekhyun, tidak patut rasanya seseorang yang telah mampu menggetarkan hatinya melakukan penghormatan semacam itu kepada dirinya. "Untuk kali ini saja. Saya mohon realisasikan permintaan saya, Wangseja. Saya mohon."

Hela napas berat yang terembus di lubang hidung membawa satu lekuk garis lurus di bibir. Chanyeol meraih bahu Baekhyun, wajahnya mendekat menilik iris puppy yang berbinar jernih.

"Baiklah, aku akan mengutarakan perihal ini kepada Yunho wang. Secepatnya permintaanmu akan aku realisasikan."

Baekhyun tersenyum lebar, pertama dalam pertemuan mereka kini Baekhyun mampu tersenyum hangat tanpa beban. Chanyeol termangu, senyuman itu bagaikan sihir yang memangkas saraf tubuhnya. Chanyeol rupanya semakin terperosok jauh ke dalam balutan getar nyaman sekaligus hangat yang terus mengalir menghantarkan dirinya pada perasaan yang mereka sebut dengan cinta.

Meski tampak samar, namun sepertinya semakin mendekat.

Suara derap langkah tergesa memutus kontak mata mereka. Chanyeol dan Baekhyun bersiaga, mata memandang awas bayang-bayang manusia di balik barisan pohon kayu manis.

"Taemin! Lee Taemin! Di mana kau?!"

Rengkuhan Baekhyun pada tubuh Taemin sontak mengerat ketika lantunan teriakan dengan iringan geram menyelusup mengentak hati. Gurat cemas menaungi wajah Baekhyun. Tangan Chanyeol mengusap puncak kepala Baekhyun mencoba menenangkan Pangeran bungsu tersebut.

"Pergilah dan cari tempat persembunyian. Aku yang akan menangani mereka."

Baekhyun termangu hendak menolak keputusan Chanyeol, namun terhenti saat tepakan langkah mereka kian mendekat. Dengan berat hati, akhirnya Baekhyun bangkit. Berderap pergi meninggalkan Chanyeol.

"Lee Tae_."

Teriakan mereka tertelan di tenggorokan ketika balutan gonryongpo berwarna merah itu menumpas sepasang kaki mereka. Serentak lima gerombolan rakyat jelata itu bersimpuh di hadapan Chanyeol. "Mohon ampun, Wangseja. Kami telah lancang mengusik ketenangan, Seja jeoha dengan suara teriakan kami. Mohon maafkan kami, jeoha," sesal mereka dengan suara bergetar takut.

Chanyeol bangkit, berdiri kukuh di hadapan lima rakyatnya. "Siapa Taemin?" desau berat nan dingin itu mengentak kekalutan mereka. Saling menyenggol lengan kemudian meneguk ludah kasar.

"Pu_putra kami, jeoha. Dia mendadak melarikan diri dari desa_." Pria tua berbalutkan baji jeogori lusuh berwarna biru tua itu makin merunduk takut, sengaja menghentikan lemparan kalimatnya sebab ketakutan yang mencekam.

"Saat hendak kalian persiapkan untuk sesembahan," lanjut Chanyeol dingin yang seketika membekukan aliran darah mereka.

Chanyeol berderap menghampiri lima rakyatnya yang senantiasa bersimpuh di hadapannya. Chanyeol meraih salah satu pedang mereka, kemudian dengan gerakan terlampau cepat bahkan untuk satu kedipan mata. Ujung pedang itu tertancap tepat di leher rusa yang mengintip di balik pohon kayu manis.

Baekhyun membungkam bibir menatap kejadian tersebut, sementara Taemin yang telah tersadar dari tidurnya menyembunyikan wajah di dada Baekhyun. Keratan tangan pada dalryongpo Baekhyun menguat seiring dengan embusan angin membawa aroma karat pekat dari rembasan darah sang rusa.

Lima rakyat jelata yang bersimpuh di atas serasah daun kering hanya mampu terpaku kaget, keringat dingin meluncur bebas dari sisi wajah sementara perasaan takut menggerogoti ketenangan jiwa mereka. "Tidak bisakah kalian mengganti jantung para bocah tidak berdosa itu dengan jantung binatang."

Chanyeol menatap datar setiap puncak kepala yang menunduk takut, tidak satupun dari mereka berani mengangkat wajah. "Mohon ampun, Wangseja. Bukan bermaksud menentang titah, jeoha. Hanya saja, sesembahan tersebut tidak bisa di ganti dengan jantung lain. Sebab, bisa memicu kemarahan Dewa Matahari."

Chanyeol terdiam, menatap lekat puncak kepala si pria tanpa bergerak maupun mengucap sepatah kata. Serasah ranting saling bergeser ketika tubuh yang bersimpuh terlihat resah di bawah kerterbungkaman junjungan mereka.

"Berdiri!" titah Chanyeol tegas. Mereka serempak beranjak berdiri dari simpuh mereka sebelum suara Chanyeol menginterupsi. "Tidak dengan yang lain." Mereka pun memberanikan diri menatap Chanyeol, jari telunjuk yang terulur menilik salah satu di antara mereka membuat tubuh mereka kembali bersimpuh.

"Hanya kau. Berdiri."

Pria tua yang menjadi juru bicara lima rakyat jelata itu, perlahan beranjak bangkit dari posisinya. Belum sempat ia mengokohkan pijakan kakinya selayang hempasan kuat menyentak kepala ke samping, tubuhnya bergetar nyaris limbung akibat pening yang menjadi.

Chanyeol mengepalkan tangan, menghiraukan pekikan tertahan dari rakyatnya yang masih bersimpuh, Chanyeol kembali melayangkan pukulan ke wajah si pria tua. Darah segar kemudian mengalir pelan dari lubang hidung dan sudut bibir yang sobek.

"Kalian takut akan kemarahan Dewa Matahari hingga menghiraukan perintahku."

Tubuh pria tua itu terhempas ke tanah. Ia terbatuk hebat, aliran darah pekat tidak berniat menyurut dari celah bibirnya.

"Mengorbankan nyawa seorang anak hanya demi sesembahan yang bahkan tidak kami wajibkan." Suara Chanyeol semakin memberat, menandakan bila si Putera mahkota benar-benar tengah murka saat ini.

"Selama ini pihak Kerajaan sudah cukup bersabar menghadapi perilaku kalian yang kerap kali menentang undang-undang Kerajaan. Dan kali ini aku tidak akan tinggal diam. Turuti perintahku atau desa kalian akan kami lenyapkan."

Mereka tersentak. Pria tua yang merintih kesakitan di belakang tubuh rekannya, perlahan merangkak mendekat kemudian bersujud di hadapan Chanyeol.

"Wangseja, mohon maafkan kami atas segala kelancangan yang telah kami perbuat. Kami berjanji akan menuruti perintah, jeoha. Mohon untuk tidak melenyapkan desa kami, Wangseja. Kami mohon maaf."

Kening berkerut si pria tua menyapa tanah, menekan dalam meminta belas kasih Chanyeol. Serempak rekan jelatanya mengikuti tindakannya, iringan penuh sesal sambil menggumam meminta maaf hilir berganti memenuhi telinga Chanyeol.

"Aku pegang janji kalian. Namun, bila sekali saja aku mendapati keingkaran kalian. Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua."

"Ya, kami berjanji Wangseja. Kami berjanji tidak akan ingkar. Terima kasih atas kebaikan, jeoha. Sekali lagi kami mengucap rasa terima kasih yang teramat dalam."

Binar lega bercampur rasa senang yang tidak terkira tiba-tiba melumpuhkan semua rasa sakit yang semula merajam tubuh rentanya. Chanyeol menggelengkan kepala, ia menghela napas panjang sebelum berucap menitahkan mereka untuk pergi dari hadapannya.

"Ye, jeoha. Terima kasih. Kami mohon undur diri."

Masih dalam posisi bersimpuh mereka mundur setapak melenyapkan tubuh di balik gugusan pohon kayu manis. Chanyeol mengalihkan pandang, menatap Baekhyun yang melangkah pelan menghampirinya sambil menggenggam tangan mungil Taemin.

"Tidak jadi membicarakannya bersama Yunho wang, jeoha?" sindir Baekhyun sambil tersenyum manis.

Chanyeol tersenyum sambil menggeleng pelan kemudian tatapannya beralih sejenak ke arah Taemin lalu kembali mengulas satu lekuk lembut di bibir. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."

Sorot mata Baekhyun melemah, rusa jantan yang teronggok tidak bernyawa di samping pohon kayu manis menenggelamkan Baekhyun ke dasar perasaan sesalnya. "Haruskah membunuh seekor binatang, hanya demi meyakinkan mereka, Chanyeol?" lirih Baekhyun sambil menundukkan kepala.

Genggaman pada tangan Taemin mengerat membuat bocah kecil itu mendongak menatap Baekhyun. Taemin terkesiap, ia menggoyangkan tangan Baekhyun lalu merengkuh perut Baekhyun. "Jangan bersedih," gumam Taemin teredam perut Baekhyun.

"Maafkan aku," desau Chanyeol penuh sesal. "Aku tidak bermaksud membunuhnya. Aku hanya ingin menunjukkan kepada mereka bila seharusnya mereka menggunakan jantung binatang, bukan jantung seorang bocah kecil tidak berdosa untuk sesembahan. Maafkan aku, emosi sedikit menguasaiku."

Chanyeol mengulum sudut bibirnya, iris tajamnya menatap awas keterdiaman Baekhyun. Perasaan kalut dan resah menggerogoti hati, berpikir bila Baekhyun akan membencinya dan tidak ingin bertemu dengannya lagi membuat Chanyeol kelimpungan. Ia tidak ingin semua pikiran itu menjadi kenyataan.

"Baekhyun daegam..."

Chanyeol hendak mendekat, meraih dagu Baekhyun.

"Baiklah. Aku mengerti." Uluran tangan Chanyeol terhenti di udara. Ia menoleh menatap punggung Baekhyun yang berjalan menjauh, menghampiri mayat rusa.

"Aku akan memberikannya kepada rakyat desa dengan begitu rusa itu tidak mati dalam keadaan terbuang percuma," kata Chanyeol cepat masih berusaha mencari peruntungan. Semoga apa yang ia lontarkan mampu meredakan kekalutan Baekhyun. Taemin mengangguk senang, kembali ia menggoyang tangan Baekhyun.

"Desa kami suka daging rusa," ucap Taemin semangat.

Baekhyun tersenyum, mendapati binar indah dari wajah yang sejak tadi bermuram durja itu cukup melegakan hatinya. Ia lalu menoleh ke belakang sambil menganggukkan kepala.

Chanyeol mendesah lega, bibirnya tertarik membentuk ulasan indah. Ia mengedarkan pandangan, seorang pria misterius dengan pakaian serba hitam serta cadar hitam mengangguk patuh menerima sorot kelam Chanyeol. Pria itu seketika meluncur dari dahan satu ke dahan lain.

Tak berselang lama, gerombolan rakyat jelata menyeruak masuk melalui barisan pohon kayu manis. Baekhyun mengerut bingung menatap kedatangan mereka. Ia beralih menatap Chanyeol penuh tanya.

"Bagaimana bisa?"

"Pengawal rahasiaku," ujar Chanyeol setelah berdiri tepat di samping Baekhyun. Baekhyun menyentakkan kepala ke segala arah, mencari sosok rahasia yang di sebutkan Chanyeol. Siluet pria berpakaian hitam di antara dahan pohon kayu manis membungkam bibir Baekhyun.

"Wangseja,adakah yang jeoha inginkan dari kami?" tanya salah seorang dari mereka dengan sopan.

"Hn. Bawa rusa ini ke desa. Aku memberikannya untuk bahan makan kalian."

Kepala yang saling menunduk serentak menoleh ke arah onggokan rusa jantan yang cukup besar di serasah daun kering. Mereka langsung menjatuhkan tubuh, bersimpuh mengucap terima kasih kepada Chanyeol.

"Terima kasih, jeoha. Terima kasih atas kebaikan, jeoha. Sungguhlah, jeoha adalah panutan kami yang begitu kami segani. Terima kasih, Wangseja."

Mereka merunduk berulang kali mengucap terima kasih tanpa lelah. Mendapat satu rusa jantan dengan ukuran cukup besar tanpa bersusah payah sungguhlah suatu keajaiban bagi mereka, terlebih rusa tersebut dari junjungan mereka.

Perasaan bahagia serta tersanjung tidak terkira meledakkan hati mereka. "Cepat bawa pergi sebelum rusa itu membusuk."

"Ye, Wangseja."

Mereka bangkit lalu serempak mengangkut tubuh rusa tersebut ke dalam gerobak kayu yang berderit nyaring. Membungkukkan tubuh serendah mungkin lalu meminta izin untuk undur diri. Genggaman Taemin terlepas, bocah lelaki itu menghadap Baekhyun lalu membungkukkan tubuh.

"Ada apa?"

Taemin menegakkan tubuh. Seulas senyum terpahat di bibir, begitu indah. "Aku harus pulang, daegam. Terima kasih atas pertolongan, daegam. Sepertinya orang tuaku sudah tidak jahat lagi. Aku sekarang tidak takut lagi."

Taemin mengulurkan ibu jarinya menuai kekehan ringan Baekhyun dan memburamkan mata Baekhyun sebab rasa panas yang tiba-tiba membaluti mata.

"Ya, kau harus pulang," kata Baekhyun bergetar, tegukan ludah terdengar payah. Ia memaksakan tersenyum saat Taemin merengkuh perutnya.

"Terima kasih, daegam. Semoga kita bisa bertemu lagi." Tangan Taemin terulur, mengisntruksi Baekhyun untuk merendahkan tubuhnya.

Kecupan lembut di pipi menghangatkan hati Baekhyun dan tepakan langkah menjauh mengomando satu bulir air mata yang tanpa sengaja menyentuh serasah daun kering. "Semoga kita bisa bertemu lagi." Baekhyun merunduk, entah mengapa ia merasa kehilangan.

Taemin anak yang manis, meski tidak banyak bicara namun Baekhyun tahu dia bocah yang cukup berisik. Hari-harinya pasti akan sangat menyenangkan bila di temani bocah polos dan ceria seperti Taemin. Di saat keresahan dan kesedihan menyapa hatinya, ia pasti akan tertawa hanya dengan menatap tingkah Taemin. Setidaknya bocah polos itu mampu menjadi tameng Baekhyun ketika kesedihan kembali menggores hidupnya.

Baekhyun terkesiap begitu usapan lembut meraih kesadarannya. Dia termangu saat wajah Chanyeol tepat di depan mata. "Jangan bersedih. Kalian pasti akan bertemu kembali. Lain waktu, aku akan membawamu mengunjungi desa tersebut."

Baekhyun tersenyum. Kepalanya menggeleng menerima kebaikan Chanyeol yang sejak tadi merong-rong pesonanya. "Kau teramat baik untuk menyandang gelar Dewa kematian, Chanyeol jeoha," kekeh Baekhyun kemudian beranjak pergi mendekati salah satu pohon kayu manis.

Chanyeol menyilangkan lengan, menatap punggung Baekhyun. "Akan berbeda situasinya bila kau mendapatiku di medan perang."

"Berkepribadian ganda, heum." Jemari Baekhyun merayap di sekitar dalryongpo miliknya. Kening berkerut dengan roman serius. Ia bahkan tidak menyadari tepakan langkah Chanyeol yang mendekat ke arahnya. "Ah, aku tidak membawa belati," keluh Baekhyun kesal ketika tidak menemukan benda yang ia cari di sekitar dalryongpo miliknya.

Baekhyun tersentak ke samping, begitu terkejut akan kehadiran Chanyeol yang secara tiba-tiba. "Kau membawa belati?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol penuh harap. "Aku hanya membawa pedang dan pedang tersebut aku tinggalkan di lorong hutan pinus."

"Aish sial!"

Baekhyun mengacak surai kelamnya. Roman wajahnya kini berubah muram, jemari lentiknya mengerat kulit pohon kayu manis. Berharap bisa menguliti pohon tersebut walau tanpa belati. Chanyeol terkekeh dalam hati, tanpa sepengetahuan Baekhyun pria rupawan itu menyergap tubuh mungil Baekhyun dari belakang.

Tentu saja Baekhyun terkejut, jemarinya terhenti sementara detak jantungnya kembali melagu. Berdentum keras mengalihkan kesadaran Baekhyun. "Aku membawa belati." Chanyeol memiringkan kepala, berbisik lembut di telinga Baekhyun.

Embusan napas Chanyeol meremangkan bulu roma Baekhyun. Ingin sekali memberontak, tetapi tidak sanggup. Seolah tubuhnya terpaku di tanah dan melemas. Baekhyun pada akhirnya hanya bisa terdiam tegang sambil menatap gerakan belati Chanyeol yang mengerat kulit pohon kayu manis.

"Mereka benar menjulukimu sebagai Rose, daegam. Bahkan semerbak aroma tubuhmu lebih menakjubkan ketimbang bunga mawar segar di pagi hari."

Baekhyun memejamkan mata, guratan di pohon mengerat hingga jemarinya memerah.

"Chanyeol jeoha, anda sudah melewati batas," peringat Baekhyun bersama iringan napas terengahnya.

Sentuhan lembut di bahu belum pernah dia rasakan selama ini, hingga mampu membuatnya lemas dan bergetar di waktu bersamaan. Gugusan pohon kayu manis terjatuh di serasah daun kering tepat saat Chanyeol membalikkan keadaan. Membalik tubuh Baekhyun serta menyudutkan Pangeran cantik itu pada kelupasan pohon kayu manis.

Wajahnya mendekat, menyentuh hidung Baekhyun. "Ya, aku memang sudah melewati batas, daegam. Dan aku ingin melampaui batasan itu bersamamu."

Baekhyun terkesiap, iris puppy yang berbinar resah itu melemah akibat sorot tajam Chanyeol yang mengambil alih logikanya.

Napas tersenggal Baekhyun sontak berhenti ketika Chanyeol melenyapkan sekat di antara mereka. Baekhyun terpana, tatapan matanya kian kosong. Pergerakan lembut di bibir semakin mendidihkan aliran darah di tubuh. Baekhyun termangu sementara Chanyeol menenggelamkan diri pada kenikmatan bibir yang pernah ia mimpikan di setiap lelap malamnya.

Tangan Baekhyun bergetar, nyaris merosot jatuh bila lengan Chanyeol tidak menopang tubuhnya. Tautan tubuh mereka semakin erat seiring dengan kesadaran yang mengambang jauh. Pada akhirnya Baekhyun hanya mampu mengerat gonryongpo Chanyeol, turut terlarut dalam lumatan hangat yang Chanyeol ciptakan.

Membutakan akal pikiran dan menenggelamkan hatinya pada gemuruh hebat yang meluber ruah menggelapkan kesadaran Baekhyun.

*Rose*

Belaian kantuk yang merayu manja di sepasang kelopak mata tidak mampu mengindahkan dirinya untuk terus mengukir tinta di selaras kain putih yang terhampar di bawah sinar lilin temaram. Kegiatan panas yang menggairahkan dan menggelora tubuhnya beberapa saat yang lalu pun tidak mampu menarik tubuhnya dari lambaian bantal duduk.

Pria itu mengalihkan pandang, mendapati sang permaisuri telah lelap di permadani sutera menghiraukan dirinya yang tengah dirundung perasaan resah. Sesungguhnya dia merasa enggan untuk melakukan kegiatan menggairahkan itu beberapa saat lalu. Hanya demi menjalankan kewajiban sebagai seorang suami, dia terpaksa memenuhi permintaan permaisurinya.

Shim Changmin, penguasa Kerajaan Joseon tengah menatap kosong balutan tinta di sepanjang kain putih dengan durumagi putih dan selayang mantel di sepasang bahu. Buliran keringat sisa kegiatan panas lalu, tersemat di wajah tampannya, berkilau tertempa sinar lilin.

Terdengar hela napas panjang mengiringi sandaran punggung pada dipan yang menyekat ruang duduk dengan kamar tidur. Jemarinya terulur memijat kening, percakapan dengan para petinggi Kerajaan usai menghukum salah seorang petinggi yang mengisntruksi salah satu pengawalnya untuk melukai Putra mahkota Goguryeo berputar menyelubungi otaknya.

"Pangeran Bungsu dari Kerajaan Silla, Changmin wang. Titik terlemah Wangseja?"

"Kau mengarang cerita lagi, Menteri Seok."

"Saya berani mempersembahkan nyawa saya bila apa yang saya katakan ini hanya bualan semata, Changmin wang."

Changmin menangkup wajah lalu mengusapnya kasar. "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Changmin frustasi. Berpikir lebih baik memulai perang dengan Kerajaan Goguryeo, berarti ia telah siap mengirimkan Kerajaannya ke lembah neraka.

Changmin berani bertaruh, Kerajaan mereka tidak akan pernah bisa menaklukkan kekuatan prajurit Chanyeol. Tentu saja, bila mereka bisa menaklukkan Kerajaan Goguryeo. Mereka tidak akan berdiri di bawah Kerajaan Goguryeo dan menjadi aliansi mereka.

Namun bila berbalik mendekati Kerajaan Silla dan mengincar Pangeran bungsu mereka, Changmin lebih baik memenggal dirinya sendiri di pelataran Balai Istana malam ini juga. Bukan bermaksud menjadi Raja pengecut, hanya saja rumor yang kerap kali terembus di telinga mengenai Pangeran bungsu Silla itu membuat Changmin bergetar.

Banyak sekali yang menyatakan bila pesona sang Pangeran Bungsu Silla begitu berbahaya bagi Kerajaan musuh, sebab tak jarang Kerajaan musuh tunggang langgang begitu mendapati si Pangeran Bungsu karena terpaut dengan pesonanya dan Changmin tidak ingin terjerat meski ia meyakini dirinya begitu mencintai sang permaisuri dan tidak menyukai hubungan abnormal tersebut.

Maka dari itu, ia tidak pernah sekalipun berniat memelihara rasa penasarannya akan pesona Pangeran Bungsu Silla yang sangat tersohor di Semenanjung Korea hingga wilayah seberang.

"Tidak heran bila Wangseja pun melirik Pangeran Bungsu itu. Tapi, bukankah mereka sepasang musuh. Seharusnya ini menjadi kesempatan emas untuk menjatuhkan kekuasaan Chanyeol."

Changmin kini dirundung perasaan dilema yang berkepanjangan, butuh waktu tiga hari untuk memutuskan kebimbangannya. Usai berdebat hebat dengan para petinggi hingga dia melontarkan kata-kata kasar yang tidak sepantasnya terucap bila sedang sidang. Pada akhirnya Changmin menyerah.

Di dalam ruangan Balai Istana itu Changmin berucap tegas akan menimbang saran mereka dan bergegas merealisasikannya. Demi kejayaan Joseon, ia harus dapat menekan perasaan takut tersebut. Perasaan cintanya kepada sang permaisuri akan menjadi tameng hatinya.

*Rose*

Kelopak mata yang terhiasi bulu lentik itu berkedip pelan, menyorot penuh minat pada selaras kulit kayu manis. Tergeletak tidak berdaya di meja. Suara pintu geser mengalihkan pandang Baekhyun, seorang dayang paruh baya berbalutkan dangui hijau giok tua membungkukkan tubuh usai menutup kembali pintu kamar Baekhyun.

"Gun daegam memanggil saya."

"Ya, duduklah dayang Ahn."

Dayang Ahn dengan patuh beralih menyamankan tubuh di hadapan Baekhyun. Lutut yang tertekuk menumpu dagu Baekhyun perlahan merunduk di bawah meja kecil.

Baekhyun menatap lekat wajah baya yang merunduk patuh di depannya. "Dayang Ahn. Untuk malam ini saja jadilah teman baikku." Mendengar penuturan Baekhyun Dayang Ahn sontak mengangkat wajah, menatap Baekhyun penuh tanya.

"Daegam..-"

Seulas senyum lembut menenangkan kerutan bingung di kening. Baekhyun menghela napas panjang. "Hatiku tengah gundah, bibi Ahn. Aku membutuhkan teman curahan," keluh Baekhyun sedikit frustasi. Dayang Ahn atau bibi Ahn tersenyum lembut menerima keluhan junjungannya.

Dia menganggukkan kepala. "Baiklah, daegam. Saya akan menjadi pendengar baik anda, malam ini."

Baekhyun terdiam. Bingung ingin memulai dongengnya dari celah mana. Berbagai perasaan resah, bingung, takut, berdebar tarik ulur meledakkan otak Baekhyun. Jemari Baekhyun bergerak, mengurut kening akibat denyut pening yang akhir-akhir ini seringkali menghantui dirinya. "Bibi Ahn, apa itu perasaan berdebar?"

Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan ketimbang menceritakan kronologis kisahnya yang ditakutkan dapat membuat wanita paruh baya di depannya itu jatuh pingsan karena perasaan terkejut yang berlebih.

Bibi Ahn terdiam cukup lama sambil menatap Baekhyun. "Daegam, ada dua keadaan yang membuat perasaan kita berdebar. Pertama, sebab terlalu gugup atau takut dan yang kedua, sebab kita tertarik dengan seseorang."

"Tertarik dengan seseorang?" sergah Baekhyun cepat hingga membuat bibi Ahn sedikit tersentak ke belakang.

Baekhyun tersedak, ia segera mengembalikan sikap abnormalnya ke posisi semula. "Coba jelaskan bibi Ahn. Apa itu tertarik dengan seseorang?" tanya Baekhyun lembut usai berdeham sejenak.

Bibi Ahn tersenyum, kepalanya mengangguk dua kali. "Tertarik dengan seseorang. Di mana saat itu hati kita tengah berdebar bila bersama seseorang tersebut dan merasakan gelisah berlebih bila tidak bertemu dengannya. Biasanya hal tersebut seringkali mengganggu lelap kita."

Penjelasan bibi Ahn menuding dirinya, mendepak Baekhyun pada kilasan-kilasan familiar yang selalu ia alami akhir-akhir ini. "Lalu, apa itu cinta, jatuh cinta?"

"Tidak berbeda jauh dengan kalimat tertarik dengan seseorang, daegam. Kalimat cinta atau jatuh cinta itu hanyalah sebuah kalimat penjelas bagi hati yang berdebar."

Baekhyun meneguk ludah berat. Hela napas terulas samar dari lubang hidung, napasnya memberat seiring dengan penjelasan bibi Ahn yang mengentak logika Baekhyun akan bahaya perasaannya.

"Bibi Ahn. Bolehkah kita berdebar pada seorang musuh?"

Bibi Ahn termangu, menatap wajah Baekhyun dengan pandangan seribu arti penuh makna. "Daegam..-" bisik bibi Ahn gamang. Baekhyun mengalihkan pandang, menatap sinar rembulan yang menyeruak masuk melalui celah jendela.

"Bolehkah, bibi Ahn?" desau halus yang menggumamkan bait kata sama menyadarkan bibi Ahn dari sikap terpananya sebab pertanyaan mengejutkan itu. Bibi Ahn menggelengkan kepala. "Mohon maaf, Gun daegam. Saya rasa itu tidak pantas, karena bukankah seorang musuh harusnya dibenci. Bukan dicintai."

"Lalu, apa yang akan bibi lakukan bila perasaan tersebut terlanjur terkecap?"

Bibi Ahn terhentak lontaran sarat akan hela putus asa itu yang serentak merombak ketenangan hati bibi Ahn. Sorot bayanya menyendu tampak menyesal atas lemparan kalimat yang telah terhisap.

Tangan Baekhyun terkepal kuat. "Haruskah meninggalkan Kerajaan."

"Gun Daegam!"

Suara bibi Ahn tanpa sadar meninggi ketika ucapan Baekhyun berhasil membuatnya panik. Bagaimana bisa junjungannya mengatakan kalimat fatal setegas itu. Apakah lontaran kalimatnya begitu menjauhi tata krama?

Bibi Ahn membungkuk dalam, meminta maaf. "Mohon maaf daegam. Saya tidak bermaksud mengatakan hal tersebut. Saya_."

"Aku mengalaminya bibi Ahn."

Bibi Ahn menengadah, sepasang kelopak mata membulat terkejut. Setiap bait kata yang teruntai di lidah tiba-tiba lenyap bersama embusan angin malam yang menyeruam masuk melalui celah jendela.

"Aku mengalaminya. Hatiku berdebar untuk seorang musuh."

Balutan puppy yang terbiasa berbinar indah kini menyendu, menampakkan sesal dan gundah yang tertebas identitas diri. Ia memejamkan mata, menahan linang air mata yang entah mengapa membuat hatinya semakin panas.

"Daegam...-"

Bibi Ahn mengulum bibir bawah. Meneguk sepercik kesedihan yang menyedak kerongkongan. "Apa yang harus aku lakukan, bibi?" Baekhyun menatap pedih bibi Ahn. "Bila pihak Kerajaan mengetahuinya...-" Baekhyun menghela napas berat, tidak mampu melanjutkan kalimat yang menyumbat paru-parunya.

Sesak, seolah semua perasaan sesak terkumpul menjadi satu di dada. Inilah yang sesungguhnya Baekhyun takutkan di setiap gerak resah lelapnya. Perasaan merajam hati seperti ini yang membuat Baekhyun terus menghindari pertemuannya dengan Chanyeol. Ia takut terjatuh, terperosok jauh ke dalam perasaan yang tidak seharusnya berkembang.

Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya dan menanggalkan tata krama yang terpahat di seluruh sudut Kerajaan Silla. Bibi Ahn meraih punggung tangan Baekhyun dan mengusapnya. Berupaya menenangkan sang Pangeran Rose.

"Semua pasti akan baik-baik saja, daegam. Tidak seorangpun yang dapat menentukan di mana cintanya akan berlabuh. Semua murni karena takdir. Selama cinta kalian suci, Dewa pasti akan melindungi kalian. Meski berat, yakinlah. Bahwa kebahagiaan akan kalian cecap juga."

Seulas senyum lemah terlindung di balik pekatnya buliran air mata yang jatuh dengan bisu. "Terima kasih, bibi Ahn. Terima kasih."

Bibi Ahn mengangguk kacau, guratan gigi di bibir bawah menahan isakan sang wanita baya. Ia merunduk dalam, menyembunyikan irisan pedih sebab mendapati wajah berduka Pangerannya. Sesungguhnya seorang dayang tidak diperkenankan menatap ulasan pedih sang Pangeran, namun sekali lagi ia menerjang tata peraturan Kerajaan. Demi menenangkan Baekhyun. Demi pengabdiannya terhadap Pangeran pemilik budi pekerti santun itu.

To be continue...

Haluuuu Leo back~

Pertama Leo mau mengucap maaf yang sebesar besarnya atas kelalaian Leo di chap 1-3 mengenai kesalahan gelar neee.. sekali lagi Leo mohon maaf Leo kurang teliti hiks dan memang di cerita versi KyuMinnya pun begitu makanya nda Leo rombak lagi.. Aigooo~

Kedua Leo mau mengucap terima kasih sama salah satu Rippyudeul yang telah ingetin Leo ma kasih saran ma Leo tentang kesalahan gelar itu ndee sekali lagi Leo mengucap terima kasih dan Leo senang dikasih saran, dengan begitu cerita Leo bisa berkembang jadi lebih baik kaan Kalau di chap ini ada kesalahan lagi mohon untuk tidak segan kasih saran maupun ingetin Leo ndeee muaach :*

Ketiga Leo sayang kalian semuaaaa~ terima kasih sudah kasih Leo support dan Rippyuuu neeee ^-^ Leo tunggu support dan rippyu kalian lagi neeee ^-^ Gomawo ^-^

Saranghae all

Muach :*