Chapter 5
Kilauan bilah besi memantul mengiritasi setiap mata yang memandang. Guratan tegas yang terpahat di setiap tubuh menampakkan kekuasaannya dalam menebas berbagai hal yang menurutnya mengganggu. Jemarinya bergerak, menyusuri bilah pedang tanpa kata.
Terdiam mematung dengan iris berbahaya menatap halusnya kilauan besi yang baru saja dia usap dengan kain sutera. Kabar yang tersalurkan dari seorang pria berbalutkan pakaian hitam dengan cadar hitam pula membuat emosinya melonjak meski tak tampak di wajah datarnya.
"Pergilah."
Suara berat itu melempar si pria hitam dari simpuhnya. Bergegas ia bangkit lantas melenyapkan diri dari pandangan junjungannya. Selang beberapa menit usai kepergian si pria hitam, pintu geser terbuka menampakkan seorang pria tampan berbalutkan pakaian militer dengan rambut hitam terkuncir tinggi.
"Ye, Wangseja."
"Apakah Kerajaan Joseon sudah mengirimkan jawabannya?"
Chanyeol menanggalkan bilah pedang di pangkuan, beralih menatap Jenderal Kim yang terdiam sekilas.
"Menurut pihak sekretariatan Kerajaan, mereka sama sekali tidak mendapati gulungan kertas dari Kerajaan Joseon, jeoha."
Chanyeol menganggukkan kepala. Jemarinya kembali ke peraduan, mengusap bilah besi yang berkilauan menantang emosinya. "Kau sudah mendapat kabar tentang aliansi yang bekerja sama dengan Kerajaan musuh?"
Jenderal Kim memberanikan diri mengangkat wajah, memperhatikan sang Putra mahkota yang terlihat enggan memindahkan jemari tangannya ke tempat lain, misal ke meja.
"Maaf, Seja jeoha. Saya sama sekali belum mendengar berita tersebut," jawab Jenderal Kim sopan.
Kekehan ringan meluncur dari belah bibir Chanyeol, menembus keheningan di antara mereka. Jemarinya kini berpindah ke meja, mengetuk-ngetuk pelan dengan gerakan tetap.
"Ya, aku tidak menyalahkanmu. Seharusnya berita ini memang tidak tersebar, terlebih mendarat ke peraduanku."
Chanyeol menyipitkan mata, seringai terulas di sudut bibir. "Kerajaan Joseon berniat bekerja sama dengan Kerajaan Silla." Kelopak mata terpejam begitu geraman tertahan mulai menampakkan kuasanya.
Jenderal Kim terkesiap, terkejut atas lontaran kalimat yang Chanyeol lemparkan ke udara hingga menyelusup masuk ke gendang telinganya.
"Kerajaan Silla." Jendral Kim menggelengkan kepala, rupanya Kerajaan Joseon hendak kembali menebar sifat asli mereka.
"Mereka sudah mengetahui hubunganku dengan Pangeran Bungsu Silla."
Chanyeol melesakkan bilah pedang ke sarangnya, sebuah kayu berukir menyembunyikan kilauan tegas pedang tajam yang sudah terbiasa menjilat darah musuh.
"Saya pikir Kerajaan Silla tidak akan semudah itu menerima kehadiran Kerajaan Joseon, jeoha. Bagaimanapun juga mereka adalah bekas aliansi Kerajaan Goryeo."
Chanyeol mengerutkan kening usai mendengar celotehan Jenderal Kim. Pendapat Jenderal Kim memang dapat dipastikan terealisasikan kebenarannya. Dia cukup paham bagaimana ketatnya Kerajaan Silla dalam memilah setiap Kerajaan yang datang berkunjung, mengingat Kerajaan aliansi milik Goguryeo cukup menyebar keberadaannya hampir di seluruh wilayah Semenanjung Korea dan Kerajaan seberang.
Ditakutkan kedatangan mereka sebab konspirasi terselubung dari pihak Goguryeo, maka dari itu Silla begitu ketat dalam menyeleksi tamu yang datang. Dan Tidak akan semudah itu bagi Kerajaan Joseon masuk ke dalam wilayah Silla meski dengan beribu macam iming-iming.
"Tidak akan semudah itu bila Changmin sanggam tidak turut membongkar hubunganku dengan Baekhyun," geram Chanyeol pelan.
Jenderal Kim menggigit ujung lidah, melupakan sebuah kenyataan besar yang fatal akibatnya bila terembus. Pria tampan itu seketika bersimpuh di hadapan Chanyeol dengan satu lutut menumpu lantai.
"Apa yang ingin jeoha perintahkan kepada saya. Akan segera saya laksanakan," tegas Jenderal Kim menanti titah Chanyeol demi menghentikan langkah picik pihak Joseon.
Chanyeol menatap Jenderal Kim, seutas gulungan kertas terpatri di meja. "Untuk saat ini kau hanya perlu mengirimkan gulungan kertas itu kepada Baekhyun daegam." Jenderal Kim mengangkat wajah, menatap gulungan kertas yang tergeletak di meja.
"Baik, jeoha. Saya mohon undur diri," izin Jenderal Kim kemudian bangkit dari posisi usai menyembunyikan gulungan kertas itu dalam balutan militernya.
Hela napas panjang yang terdengar penat nyaris frustasi terlontar dari bibir Chanyeol. Chanyeol sungguh tidak mengira bila Joseon akan memilih jalan sepicik itu ketimbang menghadapi dirinya secara langsung.
Memperdaya hubungannya dengan Baekhyun demi menumbangkan dirinya, Chanyeol mengusap wajah kemudian beralih mengacak surai kelamnya.
"Kau salah memilih teman bermain, Changmin jeonha." Iris kelam Chanyeol menilik sebilah pedang tajam di sisi kiri tubuhnya.
Emosi yang meledak tersapu raut datar, memupuk menjadi kilatan berbahaya di sepasang mata.
*Rose*
Alunan bait kata yang terkecap di bibir pengawal, memaku gerak tubuh tiga bersaudara yang tengah mengadu kekuatan di halaman pelatihan yang terletak di serambi kiri Kerajaan. Jongin mengerjap dua kali menilik roman wajah yang tergurat di segaris wajah dua adiknya. Mereka masih tampak termangu, sementara Jongin mulai beralih menatap lekat pengawalnya.
"Jangan berdusta! Bagaimana bisa Kerajaan Joseon dengan mudah menyambangi wilayah Silla, sementara dia adalah aliansi Kerajaan Goguryeo."
Pengawal itu merunduk takut ketika menerima geraman marah Jongin yang terdengar mengintimidasi.
"Mohon ampun, Wangseja. Kenyataan memang seperti itu, kini pihak dari Kerajaan Joseon tengah berada di Balai Istana."
Jongin mendengus jengah, ia kemudian melempar pedang kayu miliknya ke tanah lantas beranjak pergi meninggalkan Baekhyun dan Sehun yang masih termangu di posisi. Sehun mengusap bulir keringat yang tersemai di kening sambil melirik Baekhyun yang terdiam tunduk dengan pandangan kosong.
"Baekhyun."
Sehun menyenggol lengan Baekhyun, pria berwajah cantik itu tergagap terkejut menatap bingung kehadiran kakaknya.
"Ada apa? Suatu hal tengah membebani pikiranmu?" Kening berkerut serta tatapan dalam Sehun menyentak Baekhyun ke alam sadarnya.
Kepala Baekhyun kemudian menggeleng cepat, mencoba membuat gestur tubuh tidak membenarkan pernyataan sang kakak.
"Tidak. Tidak ada. Aku baik-baik saja," ucap Baekhyun menenangkan, namun luput menyembunyikan getar suaranya. Terang saja, hal tersebut semakin membuat Sehun merasa tidak yakin. "Kau menyembunyikan sesuatu?"
"Tidak, hyung. Aku tidak menyembunyikan sesuatu. Aku hanya sedikit terkejut atas kedatangan Kerajaan Joseon," alibi Baekhyun memburamkan pekatnya tatapan Sehun terhadapnya. Sehun menegakkan tubuh, tangannya kemudian bergerak mengusap puncak kepala Baekhyun.
"Tenanglah, mereka tidak akan berbuat macam-macam. Jangan cemas," lontar Sehun bermaksud menenangkan, tetapi sama sekali tidak berpengaruh pada kilatan resah di sepasang mata Baekhyun. Sebab, bukan hal tersebut yang tengah dia resahkan saat ini namun lebih pada tujuan kedatangan mereka.
Keresahan itu makin kental ketika mengingat perseteruan antara Goguryeo dan Joseon akibat dari tindakan Chanyeol yang membunuh lima prajurit Joseon demi melindungi dirinya. Da takut bila kedatangan mereka bersangkutpaut dengan kejadian tersebut.
Usapan lembut di bahu sontak mengembalikan pikiran Baekhyun dari analisis rancunya. Kepalanya menoleh ke arah Sehun dan seulas ukiran tulus di bibir Sehun kemudian membayangi pandangan Baekhyun.
"Tenangkan dirimu terlebih dulu, Baekhyun. Setelah itu bertandanglah ke Balai Istana, kami akan menunggumu di sana," tutur Sehun lembut sambil mendorong wajahnya mendekat, mengecup kening Baekhyun lalu beranjak pergi meninggalkan Baekhyun yang menatap gundah punggung tegapnya.
"Gun daegam."
Baekhyun mengerling si dayang ketika suara panggilan itu mengambil alih titik fokusnya. Iris mata Baekhyun merunduk, menatap gulungan kertas yang terulur ke arahnya. Belum sempat dayang itu melontarkan kalimat lanjutan, Baekhyun dengan sigap meraih gulungan tersebut dari tangan si dayang.
Dayang itu merunduk memohon undur diri dari hadapan Baekhyun yang direspon dengan anggukan singkat. Baekhyun mengedarkan pandangan sekilas hendak menelisik keadaan di sekitarnya sebelum beralih menyibukkan tangan membuka gulungan kertas tersebut secara serantan.
Kau dikejutkan dengan kedatangan Kerajaan Joseon, bukan. Apa yang kau pikirkan saat ini, mungkin terpikir juga olehku. Sebab daripada itu, mari bertemu. Aku menunggumu, di hutan Iljei.
"Hutan Iljei," gumam Baekhyun pelan setelahnya beringsut cepat menjauhi tempat pelatihan. Tapakan langkahnya yang tampak tergesa secara langsung membuat bibi Ahn mengerutkan kening curiga. Gulungan kertas yang tergenggam di tangan kiri kemudian menjadi latar utama pemikirannya.
Tiba-tiba Baekhyun menghentikan kaisan langkahnya, dia menyentak bibi Ahn dari pikiran yang membuai otak bayanya dengan sebuah instruksi jari dari Baekhyun yang menitahkannya untuk mendekat.
Wajah Baekhyun merunduk ke telinga bibi Ahn; membisikkan seuntai kalimat rahasia, sementara bibi Ahn mendengarkan lontaran tersebut dengan saksama. Usai memastikan bibi Ahn menyanggupi perintahnya, Baekhyun kembali mengais langkah menuju paviliunnya.
Genggaman tangan pada gulungan kertas semakin menguat, ia sejenak berbalik memberikan sebuah anggukan kepala kepada bibi Ahn kemudian melenyapkan diri di balik pintu paviliun.
"Setibaku di paviliun, katakan kepada setiap orang yang tengah mencariku bila aku sedang istirahat dan tidak menerima kunjungan tamu sekalipun dalam keadaan genting dan meski tamu tersebut ialah kedua orang tuaku serta dua kakakku."
*Rose*
Suasana canggung serta merta memeriahkan keheningan di ruangan tersebut. Mereka terpaku, terduduk diam seolah kehilangan pita suara. Bahkan sederet petinggi Kerajaan yang biasa berkicau bagai burung di pagi hari terkunci senyap di kursi masing-masing. Changmin yang menjadi dalang dibalik keterdiaman mereka, mencoba berdiri tenang di hadapan sang penguasa dan Putra mahkota Kerajaan Silla.
Kangin berdeham kecil hendak memulai perbincangan. Sudah cukup kegiatannya menilik tubuh sang penguasa Kerajaan Joseon demi menemukan secuil tujuan dirinya bertandang kemari.
"Shim Changmin sanggam penguasa Kerajaan Joseon. Tak terkira Kerajaan kami akan mendapati kunjungan pribadi dari Kerajaan aliansi Goguryeo. Pertanda apakah ini?"
Kangin mengetukkan jemari tangannya di lengan kursi singgasana, untaian kalimatnya terdengar ramah. Namun setiap bait kalimat seolah tertindas dalam dan mengancam.
Changmin membungkukkan tubuh memberi hormat, seulas senyum ramah tertarik di bibir. "Saya cukup tersanjung dengan kebaikan anda, Kangin sanggam. Membiarkan kami melewati gerbang istana dengan mudah. Mematahkan kabar burung yang acap kali terembus di telinga akan ketelitian anda dalam memilah Kerajaan yang bertandang kemari."
Kangin tertawa hampar hanya dalam sepersekian detik kemudian menyandarkan punggung. "Memang seharusnya anda merasa tersanjung, Changmin sanggam. Tetapi, jangan berbesar kepala terlebih dulu. Hari ini hati saya memang cukup ringan, maka dari itu mencoba menerima semua tamu yang hendak datang berkunjung ke istana kami."
Kini kekehan ringan mengintip dari celah bibir Changmin. Ulasan penuh makna dari iris Changmin sekilas menaut kewaspadaan di diri Jongin. Ia beralih menatap Sehun yang sejak tadi pula tidak berniat mengalihkan pandang dari tubuh Changmin.
"Bukan sebab hati anda yang terasa ringan hari ini, sanggam. Melainkan karena tujuan saya bertandang kemarilah yang mengetuk gerbang Kerajaan anda dengan mudah."
Kangin menyipitkan mata begitupula dengan Jongin yang semakin memperkuat analisisnya.
"Tujuan?"
Changmin menganggukkan kepala. Langkah kakinya berderap mendekat. Sorot mata dia pertegas, berusaha meyakinkan sang penguasa Silla akan lontaran yang dapat mengubah identitasnya.
"Ya, saya bertandang kemari bukan karena perintah dari Kerajaan Goguryeo, konspirasi maupun segala macam tindakan mengancam lainnya. Namun, saya membawa segala kehormatan saya kehadapan anda siang ini untuk menjalin suatu ikatan benang merah dengan Kerajaan Silla."
Para petinggi Kerajaan yang semula kehilangan pita suara, kini kembali berkicau riuh usai mendengar tujuan tak terduga dari Raja Joseon. Jongin dan Sehun menegakkan tubuh saling menatap satu sama lain dengan sorot kelam tidak terima. Sementara Kangin termangu di kursi. Terdiam menilik sorot tegas yang tersalur ke arahnya.
"Apakah anda sadar sedang bertandang di mana anda saat ini, Changmin sanggam? Jangan mencoba menyulut amarah saya dengan ungkapan tolol anda. Kerajaan Silla hanya memiliki tiga orang putra, hanya putra. Kami tidak memiliki seorang putri."
"Bukankah Kerajaan Silla mempunyai Rose daegam?"
Serentak Sehun bangkit dari duduknya. Setiap pasang mata yang berfokus pada Changmin beralih menatap Sehun yang sibuk mengatur deru napasnya.
"Saya tidak setuju. Apa maksud anda dengan membawa nama Rose daegam di dalam ungkapan anda, Changmin sanggam?!"
Sehun menggertakkan gigi, berusaha sekuat tenaga menahan geramannya. Changmin berbalik menghadap Sehun.
"Maaf sebelumnya bila pernyataan saya mengejutkan anda, Gun daegam. Tetapi, apa yang saya lontarkan memang benar adanya?"
Sehun terkesiap, kilatan emosi di sepasang iris kelamnya tampak membara bersiap meledak saat ini juga. Genggaman telapak tangannya menguat, nyaris saja dia meloncat keluar demi meraih tubuh Changmin dan menghajar habis sang penguasa Joseon sebelum pertanyaan salah satu Petinggi Kerajaan menginterupsi amarahnya.
"Maaf, Changmin sanggam. Bukankah anda sudah menikahi seorang putri dari Kerajaan Baek Je. Mengapa tiba-tiba ingin menjalin hubungan dengan Pangeran bungsu kami?" tanya seorang pria baya berjenggot panjang berbalutkan dalryongpo hijau sambil menyipitkan mata. Mencurigai tindakan Changmin yang terkesan tergesa.
"Ya, Changmin sanggam. Lagipula kabar mengatakan bila anda tidak begitu dekat dengan hubungan tersebut, lantas mengapa mendadak berubah?" sambung pria baya lain berwajah seram berdalryongpo merah.
"Ini sebuah konspirasi. Tanpa sadar Changmin sanggam melontarkan tujuan yang sebenarnya," tegas pria cukup baya berdalryongpo biru di samping pria berjenggot panjang berbalutkan dalryongpo hijau.
Changmin terdiam menerima segala macam tudingan yang melayang ke arahnya, memang sebagian tudingan tersebut menyentak kebenaran di sudut hati yang tersembunyi. Tetapi, Changmin terlihat tidak gentar. Berdiri kukuh tanpa bergetar dengan sorot mata yang mengkelam tegas.
"Saya sudah menduga ini. Keterkejutan dan ketidakpercayaan atas apa yang saya lontarkan ini pasti akan tertunai juga. Wajar, bila mengingat saya sudah mempunyai seorang permaisuri dan berbagai kabar burung yang mengatakan bahwa saya tidak begitu suka dengan hubungan sejenispun telah menganak sungai."
Changmin menghela napas, kepalanya tiba-tiba tertunduk merefleksikan sebuah gerak tubuh yang terkesan merasa menyesal.
"Namun siapa sangka, perasaan saya berubah. Dewa menampar perasaan enggan saya dengan takdir yang tiba-tiba merubah segalanya. Beberapa hari ini bahkan saya nyaris tak dapat menutup mata sebab mimpi yang terus berulang. Saya tidak bisa menghindar sekalipun telah memaksakan kehendak. Maaf, tapi pada akhirnya saya menyerah dan memutuskan bertandang kemari."
Changmin mulai mengarang cerita indah, berbagai suku kata dusta terlempar dengan mudah. Seringai mengerikan terukir di hati menunjukkan kepada dunia betapa dia berhasil melawan kegugupannya. Kini dia sama sekali tidak gentar, melangkah pasti dalam rangkaian alibi yang tersusun elok.
"Alasan umum. Tetap saja tindakan anda menuai kecurigaan, sanggam. Saya semakin yakin bila anda tengah terlibat dalam suatu konspirasi bersama Goguryeo."
Jongin yang sejak tadi terdiam mengamati roman wajah Changmin yang mengulas beribu niat semu mencoba angkat bicara demi menemukan setitik niat yang barangkali mengintip di balik celah sikap tenangnya.
Changmin mengulas satu senyum simpul lalu mengangkat wajah memaku iris tajam Jongin. "Masih pantaskah seorang pengkhianat menjalin kerjasama dengan Kerajaan aliansinya, Wangseja?"
Kening Jongin berkerut bingung, sementara kicauan samar kemudian kembali mengentak selaras Balai Istana di sisi kanan dan kiri.
"Seja jeoha, putra mahkota Kerajaan Goguryeo dengan sengaja melenyapkan lima prajurit kami. Bukankah itu tindakan fatal. Rupanya mereka hendak menginvasi Kerajaan kami secara diam-diam."
Penuturan Changmin sekejap membungkam kicauan para menteri kerajaan. Keheningan yang nyaris lenyap kini kembali mengambil alih, sorot mata terkejut serta rona wajah tidak percaya terhampar di tiap-tiap telinga yang mendengar untaian kalimat tersebut. Sudut bibir Changmin tertarik samar.
"Sejak saat itu kami memutuskan untuk keluar dari lingkaran aliansi Kerajaan Goryeo," tambahnya lugas.
"Apakah anda memiliki bukti dari setiap kata yang anda lontarkan, Changmin sanggam?" tanya Sehun mengintimidasi usai menyamankan tubuhnya di kursi. Dia menegakkan punggung sambil menyilangkan tangan di meja, menatap lekat sang penguasa Joseon yang sekilas terdiam.
Changmin menganggukkan kepala, sepasang tangannya terangkat di udara kemudian bertepuk dua kali. Pintu Balai Istana sontak terbuka menampakkan seorang pria tampan berbalutkan pakaian militer, sang Jenderal setianya bersama seorang pengawal dari Kerajaan Goguryeo.
Sepasang mata penghuni ruangan Balai Istana yang menyapa dua penghuni baru di ambang pintu seketika terbelalak kejut serta tidak percaya. Jongin menggelengkan kepala, menatap tegas Changmin yang berbalik menatap iringan langkah Jenderalnya bersama pengawal Goguryeo.
"Seorang pengawal dari Goguryeo tidak sembarang merelakan dirinya tertangkap Kerajaan musuh, sanggam."
Jongin menggertakkan gigi, kepalsuan Changmin makin tampak di permukaan dan hal tersebut membuat emosinya melonjak naik sebab alibi yang sejak tadi berputar membuang waktu mereka.
Tangan kanan Changmin terangkat. Roman wajahnya kali ini menajam, tidak seperti beberapa saat yang lalu. Changmin mulai mengokohkan dirinya, dia tidak bisa terus bermain bila ingin mengambil kepercayaan Silla.
"Ya, namun sepertinya nasib sedang tidak berpihak kepadanya dan sekarang dia menjadi tahanan kami."
"Meskipun begitu, mereka tidak sembarang melontarkan untaian kata yang menyentuh Kerajaan mereka. Mereka lebih memilih meminum racun ketimbang membiarkan bibir mengecap nama Goguryeo pada Kerajaan musuh."
Changmin berdecak dalam hati, sejak tadi Putra mahkota Silla terus menuntut kalimat yang dia lemparkan berniat membungkam dirinya. Hal tersebut membuatnya geram, Changmin menahan napas. Otaknya berputar cepat bergegas menggalih seutas bait kata yang cukup ampuh untuk menentang semua rajutan curiga di benak Jongin.
"Tidak semua manusia setia pada pendiriannya, Wangseja."
Changmin menyeringai tampak jelas di mata Jongin. "Mohon untuk tidak melupakan sifat dasar manusia yang terkadang begitu menakutkan bila situasi tengah mendesak dirinya."
Tangan Jongin yang terletak di lengan kursi perlahan terkepal hendak menggebrak lengan kursi mempertandai diri yang berniat bangkit dari kursi namun segera terinterupsi oleh suara Kangin.
"Jongin jeoha, tenangkan dirimu," kata Kangin tegas mencoba melumpuhkan amarah Jongin yang tergurat jelas di wajah.
Jongin berdecak keras lantas kembali menyamankan tubuh dengan kasar di kursi. Kangin beralih, mengerling Changmin melontarkan sebuah pertanyaan. "Mengapa anda membawa pengawal Goguryeo kemari? Apa yang hendak dia utarakan kepada kami?"
Changmin menatap Jenderal Jung mengirim titah melalui kilatan matanya. Jenderal Jung menganggukkan kepala, ia kemudian menginstruksi si pengawal Goguryeo untuk bersimpuh di hadapan Kangin.
"Katakan!" perintah Changmin.
Pengawal itu mengangguk ragu. Tubuhnya sedikit bergetar ketika bibir bergerak melontarkan segaris kalimat.
"Karena demi melindungi seorang yang asing, Wangseja Goryeo bergerak melenyapkan lima prajurit dari Kerajaan Joseon."
"Melindungi seseorang? Putra mahkota Goguryeo...-"
Pekikan tertahan dari barisan petinggi Kerajaan menyadarkan setiap raga yang terkesiap mendengar penuturan si Pengawal.
"Mengapa prajurit Joseon ingin melenyapkan orang tersebut dan mengapa Wangseja Goryeo melindunginya?" Pertanyaan beruntun dari bibir Kangin menuai seringai kemenangan di hati Changmin.
Selangkah lagi. Hanya tinggal selangkah lagi dia dapat menarik Silla ke dalam rencana piciknya. "Orang itu seorang musuh." Dan ungkapan selanjutnya berhasil meleburkan keheningan di Balai Istana dengan berbagai kicauan dan entakan ketidakpercayaan akan ucapan si pengawal. Pikiran bila si pengawal turut dalam permainan konspirasi bergejolak di otak mereka.
"Musuh bagi Joseon berarti musuh bagi Goguryeo pula. Bagaimana bisa Wangseja Goryeo melindungi seorang musuh?"
"Perasaan," sergah Changmin cepat membungkam gerutuan petinggi berdalryongpo merah yang telah bangkit dari kursinya. Pria baya itu menegang, menatap Changmin dengan berbagai sorot pandangan tidak mengerti.
"Perasaan?"
"Ya, rupanya orang asing itu memiliki tempat khusus di hati Chanyeol jeoha."
*Rose*
Serasah dedaunana kering yang terinjak tapakan langkah melagu kacau di sepanjang lorong hutan Iljei. Suara embusan angin serta gesekan ranting tak mampu mengimbangi alunan sang serasah daun dalam meramaikan hutan tersebut menandakan bila si tapakan langkah begitu tergopoh dalam iringan langkahnya.
Baekhyun tersenggal, sebelah tangan menumpu pohon oak saat iris puppynya mendapati seorang pria berbalutkan gonryongpo merah berdiri tepat di samping kuda jantan berwarna cokelat.
Dia yang sejak tadi menyibukkan diri dalam aktivitas mengusap punggung kuda mengalihkan pandang ke arah si tamu yang telah dia nanti kehadirannya sejak matahari berada tepat di atas kepala hingga kini posisi matahari sedikit berubah ke arah kanan. Bibirnya tertarik lurus, mematri seulas lekuk hangat di wajah tampannya, menyapa sang tamu.
Usai menetralkan napas yang berlomba dengan rembasan keringat di kening, Baekhyun kembali mengayunkan langkah, berderap menghampiri Chanyeol. Belum sempat bibir berucap, sekuntum mawar merah menyapa indera penglihatannya.
Baekhyun terpaku sejenak seolah tengah memuja keindahan sang mawar merah yang masih terlihat ranum. Aroma yang memabukkan semerbak memenuhi lubang hidung mendetakkan jantung yang sempat melambat. Kepalanya mendongak lantas merutuki kebodohannya ketika sorot mata yang menghangat bergerak melumpuhkan saraf tubuhnya, pening nyaris mengetuk otak bila dia tak bergegas memutus kontak mata dengan Chanyeol.
"Jeoha..."
Dari sekian banyak pertanyaan yang mengundang perasaan resah di hati akibat tingkah tiba-tiba Chanyeol, entah mengapa hanya panggilan yang mampu dia lantunkan. Lidah terasa kelu.
"Untukmu," kata Chanyeol mendayu.
Kening Baekhyun berkerut meminta penjelasan lebih, Chanyeol menganggukkan kepala menyanggupi instruksi tersebut. "Saat perjalanan kemari aku melihat selaras kebun mawar merah yang tumbuh liar di sepanjang lorong kanan hutan Iljei dan bunga ini mengingatkanku kepadamu. Maka dari itu aku memetiknya."
Baekhyun menatap uluran tangan Chanyeol yang enggan berpindah meski dirinya hanya terdiam, memandang ragu mawar merah yang sedikit bergoyang sebab ayunan angin. Getar tangan yang tertarik ragu pada akhirnya menyapa uluran tangan Chanyeol, mengambil alih kepemilikan si bunga mawar.
"Terima kasih," bisik Baekhyun.
Chanyeol tersenyum, semu merah yang terlukis samar berbayang di mata mendenyutkan debaran hangat yang entah sejak kapan dia rindukan getarannya.
"Indah sekali," gumam Baekhyun masih tekesima atas keindahan yang ditorehkan si bunga mawar.
"Kau jauh lebih indah."
Baekhyun mendongak, sementara Chanyeol bergegas mengalihkan pandang bertindak mencari kesibukan dengan mengusap punggung kuda berpura tidak melontarkan bait tersebut. Tanpa sadar Baekhyun tersenyum, dia menggelengkan kepala mendapati tingkah konyol Chanyeol.
"Mengenai kedatangan Changmin sanggam...-"
Kalimat Baekhyun terhenti, mengedarkan pandang ke sekitar hutan menghindari tatapan Chanyeol yang terpaku ke arahnya.
"Tidak perlu merasa cemas," ujar Chanyeol menenangkan.
"Apa tujuannya? Adakah hubungannya dengan peristiwa waktu lalu?" tanya Baekhyun resah.
Jemari tangannya mengerat tangkai bunga mawar dengan kasar membuahkan segaris goresan duri mawar dikulit dan Baekhyun menghiraukannya, hatinya lebih kebas ketimbang rasa perih yang tercipta akibat sayatan duri.
Chanyeol memejamkan mata, hela panjang mengabur bersama gemerisik angin. "Jika memang peristiwa itu tujuannya bertandang ke Kerajaan Silla..-" Chanyeol memandang Baekhyun. "..apa yang akan kau lakukan?"
Serasah daun kering di tanah tiba-tiba mengudara berputar kacau terhempas riuhan angin yang semakin menggila. Menerbangkan beberapa ruas daun di udara, menyelubungi pandangan mata yang tenggelam dalam iris lawan bicara. Baekhyun termangu, kilatan tajam yang tersorot lekat sedikit banyak mengaburkan semu pelik akan perasaan janggal yang mendesak ingin keluar.
Baekhyun tidak mampu mendefinisikan perasaan tersebut, namun cukup kuat mendesirkan aliran darahnya. "Sebaiknya kita menjaga jarak." Suara Baekhyun tercekat, hatinya tercubit ketika bibir melontarkan kalimat yang menyudutkan perasaannya.
Ingatan atas perbincangannya malam lalu bersama dayang Ahn mengutuk kebodohan Baekhyun dalam mengolah kata. Chanyeol terdiam, menatap Baekhyun tanpa arti. Datar, tidak terbaca.
"Setelah hatiku semakin terperosok jatuh ke dalam pesonamu. Kau menginginkan kita untuk saling menjaga jarak." Getar suara yang tampak mendingin menyalurkan perasaan sesal di hati Baekhyun.
"Chan...-"
"Tidakkah kau merasakannya. Sepercik saja balutan hangat perasaanku terhadapmu. Tidakkah kau merasakannya? Sentuhanku, tatapan mataku, untaian kalimatku bahkan sentuhan bibirku waktu lalu. Sama sekali tidak merasakannya, Gun daegam."
Chanyeol meracau kacau. Runtuh sudah segala sikap bengis serta kejamnya, runtuh sudah kendali emosinya ketika desiran perasaannya kembali di hadapkan oleh penolakan Baekhyun yang terus berusaha menentang kehadirannya.
Dia seorang Putra mahkota, segala keinginan yang terlontar selalu mampu dia dapatkan dengan mudah. Dan di saat perasaan asing mengobrak-abrik dirinya, dia mendadak lemah, menjauhi jati diri yang terbentuk kokoh sedari kecil.
Tidak pernah terkira dalam hidupnya untuk tunduk kepada seseorang dan tidak pernah pula dia mengharap belas kasih seseorang di sepanjang hidupnya. Namun, apa yang terjadi saat ini dalam sekejap meruntuhkan keyakinan dirinya. Menciptakan sosok rapuh dan bodoh di waktu bersamaan.
"Maaf."
Jemari Baekhyun bergetar, balutan darah melinang dari sela jari yang saling bertaut erat. "Maaf Wangseja. Maaf." Baekhyun menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa. Maaf, ini terlalu berat. Tidak seharusnya kau mempunyai perasaan tersebut, terlebih pada seorang musuh. Hal ini sungguh tidak pantas." Baekhyun melangkah mendekat mengulurkan sekuntum bunga bawar yang sempat tersemat di sela jemarinya ke telapak tangan Chanyeol.
"Seharusnya sejak awal aku tidak menghadiri undanganmu," tutur Baekhyun bergetar sebelum berbalik menyembunyikan ambang kesedihan dari pandangan Chanyeol.
Baekhyun melangkah gamang, seolah melayang tidak menapak tanah. Terseok nyaris limbung sebab rasa sesak yang berlebih. Tentu saja, dia tahan. Tidak ingin mengundang kehadiran Chanyeol akibat dari tubuh yang tiba-tiba limbung yang ditakutkan serentak mengubah keputusannya. Baekhyun senantiasa menguatkan langkah menghindari Chanyeol yang terdiam bisu di balik punggungnya.
Chanyeol merundukkan kepala, menatap balutan darah di tangkai bunga mawar, seulas lekuk pedih menggambarkan kepekatan hatinya.
"Dan seharusnya sejak awal kau tidak menyembunyikan perasaanmu, Baekhyun daegam."
*Rose*
Hentakan cawan yang membentur lantai membungkam bibir Jongin dan Sehun yang selintas lalu bergerak menyampaikan pesan kepada Baekhyun. Pecahan cawan terhambur mengelilingi kaki sementara linang hijau dari ramuan yang baru saja dia pelajari membaluti punggung kakinya.
Baekhyun terkesiap dengan sepasang kelopak mata terbelalak. Terbuka lebar bersama bayang semu keterkejutan atas lontaran kalimat yang dengan lancang membekukan hatinya. "Hyung..-" Suara Baekhyun bergetar. Kepalanya menggeleng kacau. "Hyungnim bercanda." Tegukan ludah memberat, Baekhyun terpongo menatap tundukan kepala dua kakaknya.
"Hyungnim sedang bercanda, bukan," tekan Baekhyun hampir berteriak. Apa yang baru saja tertelan di indera pendengaran sontak mengambil alih kendali tubuhnya, emosi Baekhyun memuncak merasa tidak terima dengan keputusan sepihak ini.
"Maaf Baekhyun, kami tidak mempunyai pilihan lain. Iming-iming yang diberikan Kerajaan Joseon mampu mengambil alih keputusan Ayahanda," jelas Jongin penuh sesal.
Baekhyun menekan kening, punggungnya membentur jendela; melemas dengan kesadaran tidak utuh.
"Mengapa tidak membicarakannya terlebih dahulu kepadaku? Bagaimanapun juga, Changmin sanggam sudah memiliki permaisuri."
Baekhyun merunduk, menatap pecahan cawan yang tersebar di sekitar lantai kamarnya. Perasaannya masih berkabung gelisah akibat dari pertemuannya dengan Chanyeol dua hari lalu dan sekarang semakin bergejolak tidak tentu arah sebab segelintir perkataan sang kakak yang sontak memutar balikkan kesadaran Baekhyun. Sungguh, sebenarnya ada apa dengan garis takdirnya ini?
"Beliau bersedia menggeser tahta permaisurinya untukmu."
Baekhyun seketika mendongak, menatap Sehun dalam pancaran emosi di binar mata. "Tidakkah itu perbuatan tercela. Bagaimana bisa kehadiranku ditujukan untuk menggeser tahta permaisuri. Sadarkah apa yang sudah kalian perbuat?!"
Baekhyun terpekik sambil mengerat surai kelamnya. Hancur sudah semua benteng kesabarannya, kini dirinya benar-benar meledak tidak mampu menghadapi sebuah jalan hidup yang terlihat konyol.
Usai merebut cinta seorang wanita, kini dirinya merebut posisi wanita itu pula. Bukankah itu menghancurkan hati si wanita. Meski bibir mengulas senyum dan mengangguk patuh, namun dia tahu jurang kepahitan tengah mengintai hidupnya dan Baekhyun tidaklah se-tega itu terhadap kehidupan seseorang yang bahkan tidak pernah sedikitpun mengusik hidupnya.
"Aku tidak bisa Hyungnim. Aku tidak bisa. Hatiku tidaklah sepicik itu. Maaf."
Tubuh Baekhyun perlahan merosot ke lantai. Sepasang tangannya bergerak menyembunyikan roman wajah yang tergurat penuh beban.
Jongin serta Sehun menghela napas panjang, mereka kemudian berderap menghampiri Baekhyun. Merundukkan tubuh menyamakan posisi lalu mengusap puncak kepala sang adik.
"Kami paham akan tabiatmu. Maka dari itu, masih dalam seulas rencana belum tentu terealisasikan, Baekhyun," kata Sehun menenangkan.
Jongin dan Sehun mengukir senyum lebar ketika Baekhyun menurunkan tangan beralih menatap mereka secara bergantian kemudian turut mengulas garis bibir.
"Terima kasih, Hyungnim. Terima kasih."
Sepasang saudara itu kemudian meleburkan kenyamanan hati mereka dalam lingkupan rengkuhan hangat.
Kekehan ringan turut terlontar dari celah bibir mereka; saling berbagi kehangatan dengan senda gurau akrab melunturkan secercah ketegangan yang sempat menyelimuti. Kini perasaan Baekhyun mulai menenang, hanya sedikit sebab beberapa bongkahan tajam yang mengintip di balik kehangatan yang tercipta perlahan mulai merobek gugusan hatinya.
*Rose*
Semenjak penolakan Baekhyun waktu lalu Chanyeol terlihat kerap kali meninggalkan wilayah Kerajaan, bahkan tugas-tugas Kerajaan yang kian menumpuk dia hiraukan dan lebih memilih menyibukkan diri dalam kegiatan baru yang tengah dia lakoni saat ini. Menyelinap sambil memburamkan identitas.
Jenderal Kim yang turut andil dalam penyamaran tersebut hanya mampu menggeleng heran mendapati ketekunan sang junjungan dalam mengais langkah menyusuri pemukiman rakyat jelata. Tidak hanya itu, bahkan Chanyeol pula berhasil membuat Jenderal Kim tercengang kaget sebab segala macam aktivitas yang dia lakoni di sepanjang pemukiman rakyat.
Berbalutkan durumagi sederhana serta lindungan gat di kepala Chanyeol tampak tidak segan berbaur dengan rakyatnya tanpa menanggung perasaan resah karena identitasnya. Tersenyum seadanya kemudian melatih kosakata yang biasa terlontar datar menjadi sedikit ramah lalu menjalankan aktivitas selayaknya rakyat jelata di pemukiman tersebut.
Jenderal Kim bergerak resah di balik punggung Chanyeol, iris kelamnya menatap enggan setiap pekerjaan yang mereka perintahkan untuk Chanyeol. Pada akhirnya Jenderal Kim mencoba memberanikan diri mengais langkah menghampiri Chanyeol guna menumpas segala perasaan resah akibat dari aktivitas kasar yang Chanyeol lakoni.
"Wang_."
Jenderal Kim terdiam, tatapan Chanyeol sontak melumpuhkan pita suaranya.
"Panggil namaku, hanya nama tanpa tahta," tegas Chanyeol bernada pelan.
Jenderal Kim mengangguk segan, merasa tidak enak hati menyapa sang junjungan tanpa tahtanya.
"Chanyeol." Sejenak dia terdiam.
"Tidakkah pekerjaan ini terlalu kasar untuk anda?" tanya Jenderal Kim hati-hati.
Chanyeol menatap Jenderal Kim datar. Tanpa berniat menjawab pertanyaan si Jenderal. Chanyeol beralih menyisingkan lengan durumaginya kemudian berjalan mendekati tungku api usai meraih sebilah besi murni; menyepuh besi ke dalam bara api.
Hawa panas serta percikan api yang sesekali mengenai tangan sama sekali tidak mampu mengusir Chanyeol dari posisinya. Jenderal Kim mengusap tengkuk, masih berdiam diri di ambang pintu rumah pengrajin besi sampai sorot tajam Chanyeol menarik tubuhnya untuk ikut serta.
Semenjak saat itu Jenderal Kim hanya bungkam, terus mengikuti langkah kaki Chanyeol kemana hendak berlabuh demi mencari pekerjaan secara bergilir dari desa satu ke desa lain. Terhitung selama sebulan Chanyeol melakoni kegiatan barunya. Menyelinap dari Kerajaan dan menjadi pekerja kasar di berbagai desa naungannya. Dan selama sebulan pula dia bertahan bersama penyamarannya tanpa mengetuk rasa curiga dari berbagai rakyat yang dia temui.
Perlakuan kasar serta bentakan marah acap kali menyinggung dirinya. Namun, Chanyeol berusaha menahan diri untuk tidak menghancurkan usahanya selama ini. Menunduk layaknya pekerja lain ketika sang atasan memarahi dirinya, Chanyeol mulai kebal dengan semua tindakan ini. Tetapi berbeda bagi Jenderal Kim, dia yang merasa tidak terima mendapati pemandangan tersebut mencoba menyela sang pria tambun berbalutkan durumagi lusuh yang sejak tadi berteriak marah di hadapan Chanyeol.
Chanyeol melirik Jenderal Kim, menginstruksi untuk tetap berdiam diri di belakang tubuhnya. Sekali lagi, Jenderal Kim hanya mampu mengangguk patuh membiarkan perasaan enggan mendominasi sanubari.
"Jika tidak becus bekerja sebaiknya kau angkat kaki dari sini!"
Selayang tangan terulur mendorong tubuh Chanyeol dengan kasar. Chanyeol memejamkan mata, tindakan orang itu sesungguhnya menyentak harga dirinya, namun apa daya Chanyeol telah kalah dengan tekadnya.
Tarikan kasar di ujung dada durumaginya mengobrak-abrik kendali tubuh Chanyeol. Pria tambun itu menyeret Chanyeol keluar kemudian menghentaknya secara kasar. Chanyeol nyaris terjerembap ke tanah bila Jenderal Kim tidak bergegas meraih bahunya.
"Dasar tidak berguna! Sudah tidak pandai bekerja, tuli pula! Pergi dari tempatku. Kau tidak akan mendapatkan sepeserpun uang dariku dan terima kasih telah mengacau di tempatku!"
Suara gebrakan pintu yang terbanting tertutup menuai hela panjang Chanyeol.
Jenderal Kim mengerling Chanyeol. Ia berbisik lirik, "Sebaiknya kita kembali, jeoha."
Jendral Kim menghiraukan tatapan tajam Chanyeol. Sudah cukup dirinya berlaku tidak sopan di hadapan Chanyeol dan membiarkan junjungannya tersebut menerima segala macam tindak kurang sopan dari rakyatnya sekalipun itu sebuah perintah. Jenderal Kim tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
Akan tetapi, Chanyeol justru berbalik mengais langkah menyusuri jalan setapak pemukiman rakyat menghiraukan barisan rakyat yang menatap prihatin dirinya atas peristiwa ironis yang dia alami beberapa saat lalu. Chanyeol berdecak dalam hati, dia bersumpah bahwa hanya akan terjadi sekali dalam hidupnya melakoni kegiatan seperti ini.
"Kita cari pekerjaan lain," tukas Chanyeol tegas menuai hela panjang dari Jenderalnya.
Genap dua bulan mereka terdampar di berbagai pemukiman rakyat dan usai sudah balutan rasa penasarannya akan tingkah Chanyeol yang tiba-tiba bertindak di luar prediksi. Menyelinap keluar, menyamar dan menjadi pekerja kasar. Sungguh berbanding terbalik dengan tabiat sang junjungan yang dia kenal selama ini.
Rasa penasarannya terjawab oleh kehadiran si berbagai barang yang Chanyeol titahkan kepada dirinya untuk mengirimkannya ke Silla, tepatnya kepada si Pangeran Bungsu. Rupanya di balik semua sikap aneh si Putra mahkota selama dua bulan ini bertujuan untuk menggait hati si Pangeran bungsu.
Mengirimkan segala macam barang dari hasil jerih payahnya sendiri. Jenderal Kim tersenyum maklum, memang terkadang cinta dapat mengendalikan tabiat seseorang meski sekeras apapun tabiat tersebut bila cinta sudah bertuah, mereka akan tumbang.
Jenderal Kim menundukkan kepala kemudian bersimpuh dengan satu lutut menapak lantai di hadapan Chanyeol. Gerakan tangan yang menjadi petuah si tinta untuk bergerak di goresan lembar putih terhenti, Chanyeol mengalihkan pandang. "Bagaimana?" tanya Cahnyeol.
"Rose daegam mengirimkan surat untuk anda, Seja jeoha."
Chanyeol melempar tintanya ke sisi kanan, fokus tubuhnya kini sepenuhnya menghadap ke Jenderal Kim. "Berikan!" titah Chanyeol terlampau semangat.
Jenderal Kim tersenyum simpul, tangan yang tersembunyi di balik pakaian militer terulur sembari mengapit gulungan kertas ke arah Chanyeol.
"Pergilah."
"Saya mohon undur diri, jeoha."
Jenderal Kim melangkah mundur meninggalkan ruangan Chanyeol. Tautan tali kuning yang mengikat tubuh kertas secepat kilat terurai bersama hempasan tangan yang bergerak membuka gulungan kertas.
Chanyeol membaca teliti setiap bait kata yang tersambung di kertas. Bibirnya lantas mengukir satu lekuk hangat.
*Rose*
Baekhyun menumpu dagu, sejak siang tadi hingga menjelang sore iris puppynya tak berniat lepas dari gugusan hadiah di sudut ruangan yang bertumpuk hingga tiga bagian. Sisi kanan dan kiri tampak menghuyung ke sisi lain nyaris roboh bila tidak membuat bagian lagi di tengah.
Baekhyun menghela napas panjang, terbilang sudah satu bulan dia dibanjiri hadiah tidak terduga dari Cahnyeol usai penolakannya waktu lalu. Dimulai dari pakaian (dari gugusan sutera hingga rajutan benang biasa), sebuah perhiasan (dari batu giok, zamrud hingga emas) dan terakhir beribu ikat bunga mawar merah silih berganti terlempar ke paviliunnya.
Jemarinya terangkat mengurut kening, mengherankan sikap Chanyeol yang di luar analisis. Seharusnya pria tampan itu berderap menjauh sebab penolakannya yang secara langsung meruntuhkan perasaan Cahnyeol sekaligus harga diri sang Putra Mahkota.
Menurut kabar yang beredar, Putra mahkota adalah seorang bangsawan yang begitu menjaga harga dirinya dan akan mengecam siapapun yang berani menyentuh harga diri tersebut walau hanya seujung rambut.
Mengetahui fakta tersebut seharusnya Chanyeol menjauh dan berbalik membenci dirinya. Namun, apa ini? berondongan hadiah terus mengalir layaknya hilir sungai. Membungkam bibir Baekhyun serta menggebrak rasa penasarannya.
Suara pintu geser menyentak kesadaran Baekhyun. Baekhyun menegakkan tubuh, menatap dayang yang berdiri resah di ambang pintu. "Ada apa?" tergur Baekhyun menyadarkan sang dayang dari tingkah absurdnya. "Wangseja Goryeo kembali mengirimkan hadiah untuk anda, daegam."
Baekhyun terkesiap. "Lagi," gumam Baekhyun gamang. Hela napas kembali menyelubungi bibir. Ia melirik enggan bayang dua pengawal di balik pintu. "Sertakan dengan yang lain," titah Baekhyun malas. Dua pengawal itu menunduk hormat, meinta izin untuk memasuki ruangan Baekhyun lalu meletakkan dua hadiah tersebut pada tumpukan hadiah sebelumnya.
"Baik, pergilah."
"Ye, kami mohon undur diri daegam."
Baekhyun menghiraukan kepergian dayang serta pengawalnya. Iris puppynya menyipit, menatap dua bungkus hadiah yang tertumpuk di tengah. Baekhyun bangkit dari duduknya, merasa penasaran dengan kotak kayu berukirkan naga itu.
Perlahan jemari tangannya bergerak, mengusap ukiran yang terasa kasar di tangan. Meraihnya kemudian membuka penutup kotak. Baekhyun termangu, bayang sebuah gelang biru berukirkan naga di sepanjang tubuh serta butiran batu giok hijau dan zamrud biru di setiap sisi membuat Baekhyun terpesona.
Benang emas tidak luput menyemarakan lingkaran tubuh naga seolah mengagungkan kemewahan ukiran gelang tersebut. Baekhyun mengerjap ketika melihat sebuah lambang Goguryeo terpahat di kepala naga. Perasaan magis tak kasat mata menghentak lamunan Baekhyun. Ia berpikir bila gelang tersebut bukanlah sembarang gelang.
Perasaan rancu akan sifat Chanyeol kini menggugah tangan Baekhyun untuk bergegas mengoreskan tinta di kertas. Tidak bisa dibiarkan, kelakuan Chanyeol akan semakin mengobrak-abrik perasaannya bila dia tidak segera menemui pria tampan itu dan membicarakan masalah ini hingga tuntas.
"Pengawal."
"Ye, daegam."
Baekhyun mengulurkan gulungan kertas ke arah pengawalnya. "Berikan surat ini kepada Wangseja Goryeo tanpa mengundang kecurigaan, mengerti."
"Ye, daegam."
"Baik, pergilah."
"Saya mohon undur diri, daegam."
Baekhyun bergumam merespon ucapan sopan pengawalnya. Usai kepergian sang pengawal, dia kembali menilik gelang tersebut. perasaan berdebar sekaligus terpaut akan keindahan yang di tawarkan membuat hati Baekhyun dilema.
"Apa yang sebenarnya kau harapkan dariku, Chanyeol jeoha?"
*Rose*
Baekhyun mengutuki diri, mengapa setiap mereka bertemu dirinya harus lebih dulu mendapati Chanyeol telah sigap di tempat. Tidak pernah sekalipun dirinya yang mengais langkah terlebih dulu dengan begitu dirinya sejenak dapat mempersiapkan diri guna menekan detakan jantungnya.
Baekhyun mengalihkan pandang, hal yang paling dia hindari dari diri Chanyeol adalah sorot kelam itu. Mengapa Chanyeol harus memilikinya? Serasa lumpuh seluruh saraf tubuhnya bila Baekhyun memandang sedikit lama sepasang iris tajam itu. Namun sangat disayangkan, Chanyeol senang sekali menatap lekat dirinya tanpa berniat mengalihkan pandang barang sekejap, membuatnya resah.
"Kau sungguh sulit untuk di tebak, Wangseja."
Merasa resah berdiam diri berhadapan tanpa kata, Baekhyun berinisatif membuka bibir. Ingin segera mengakhiri perjumpaan mereka.
Chanyeol terdiam, menunggu kalimat selanjutnya yang rupanya siap terlempar lagi dari belah bibir Baekhyun.
"Mengapa selama satu bulan ini tiba-tiba mengirimkan banyak hadiah? Tidakkah itu membuang-buang uang rakyat. Seharusnya kau pergunakan uang rakyat untuk kepentingan rakyat pula. Bukan untuk mengoperasikan tindakan yang tidak berguna semacam ini."
"Aku tidak menggunakan uang rakyat dan tindakan tersebut berguna untukku."
Baekhyun terpaku, kalimat Chanyeol mendorong perasaannya menjauh. Mencubit bibir yang telah lancang melontarkan bait kalimat tanpa rasa terima kasih.
"Aku tidak mengerti. Maksudmu, uang...-"
Chanyeol tersenyum, sepasang bahu terangkat sejenak sebelum hela napas beriringan bersama deru angin sore.
"Rupanya menjadi rakyat jelata tidak buruk juga," kata Chanyeol acuh mengindahkan tatapan Baekhyun yang membulat terkejut.
"Jeoha..."
Sorot mata Chanyeol melembut, terlihat semakin kelam. Sudut bibirnya tertarik menyimpulkan satu garis menawan yang seketika mengalihkan pikiran Baekhyun.
"Aku tahu tabiatmu, daegam. Kau pasti akan mengembalikan seluruh hadiah yang telah aku kirimkan untukmu bila itu hasil dari rakyat dan aku bukanlah orang yang sepicik itu. Aku ingin mendapatkanmu dari hasil jerih payahku sendiri."
Untaian tulus Chanyeol tanpa sadar memburamkan iris puppy Baekhyun. Bulir air mata yang menggenang, tertahan di pelupuk mata. Baekhyun menggigit bibir bawah merasa tersanjung sekaligus bersalah.
"Tidakkah kau membenciku. Hatimu pasti sakit saat aku menguntai kata tajam waktu lalu," getar Baekhyun penuh rasa bersalah.
Kepala Chanyeol menggeleng, jemarinya terulur meraih dagu Baekhyun. "Sakit, tentu saja. Tetapi, aku mencoba memahami kondisimu. Aku menekan rasa ini dan mulai merangkai rencana lain. Memang, aku tidak bisa melepaskanmu. Namun, aku tidak bisa memaksakan kehendakmu."
"Tapi, aku rasa ini sudah melampaui batas. Bagaimana bisa kau merendahkan harga dirimu hanya demi memberiku seluruh hadiah ini? Oh Dewa sebenarnya apa yang telah aku berikan untukmu, Chanyeol jeoha?" Baekhyun nyaris terpekik frustasi ketika merasa dirinya acap kali melukai Chanyeol.
Namun seolah terhempas angin dan menghilang tanpa jejak, Chanyeol mengimbangi sikap tercelanya dengan perasaan tulusnya. Bukankah dirinya begitu kejam?
Chanyeol menegakkan tubuh, menoleh ke samping menatap gugusan sakura yang melayang di udara dalam pandangan menerawang.
"Kau memberiku perasaan aneh ini, daegam. Meski begitu menyesakkan terlebih dikala kau tampak menghindariku. Getaran hangatnya tak mampu aku lupakan, semakin menarik diriku untuk terus tenggelam ke dalamnya. Pertama dalam hidupku aku merasakannya dan aku tidak ingin kehilangan sekalipun terasa sangat berat dalam pencapaiannya."
Penjelasan Chanyeol menggetarkan hati Baekhyun. Sesungguhnya apa yang Chanyeol lontarkan menyinggung dirinya. Ia pun merasakan hal yang sama, hanya saja Baekhyun terus berusaha menghindar meski pada akhirnya terlapuk lelah akan kejaran perasaan tersebut.
"Kita sepasang musuh."
Baekhyun menggigit ujung lidahnya. Serasa ingin menampar pipi saat kalimat menyebalkan itu kembali terlantun. Chanyeol mengalihkan pandang, menatap Baekhyun dengan sorot tajam. Tiba-tiba tangannya terulur, menarik tangan kanan Baekhyun ke arahnya dan meletakkannya di puncak kepalanya.
Baekhyun terkejut, tindakan tiba-tiba Chanyeol menghentak detak jantungnya. Kilatan kesungguhan di mata Chanyeol senantiasa membungkam bibir Baekhyun.
"Aku Wangseja Chanyeol dari Kerajaan Goguryeo. Bersumpah atas nama Dewa serta nyawaku bahwa akan selalu melindungi, mencintai dan menjaga Pangeran bungsu dari Kerajaan Silla, Baekhyun daegam. Meskipun terjalan batu tajam melukai telapak kakiku dan lesatan anak panah menghancurkan tubuh. Aku akan tetap menggenggam tangan ini dan merengkuh tubuh ini."
Baekhyun terpana, bulir air mata yang semula menggenang di pelupuk mata perlahan mengalir menyapa pipi.
Chanyeol mengerling Baekhyun. "Tidakkah kau merasakannya. Perasaan itu?"
Entah siapa yang mendorong tubuh Baekhyun, sekejap mata lengan Baekhyun melingkar merengkuh tubuh Chanyeol. Ia terisak pelan di dada Chanyeol. Menghiraukan jenis kelaminnya serta identitas yang terpanggul di bahu, Baekhyun mengeluarkan segala gemuruh hati yang menggelapi sanubarinya yang terus ia lalaikan keberadaannya dengan isakan yang kian melagu.
Chanyeol mendesah lega, aroma semerbak bunga mawar berhiaskan sakura kini terengkuh erat di tubuh. Menandakan bila semua penantianya berujung juga, kerja keras serta rintihan keluh akibat harga diri yang terasa terkoyak kini mendapat balasan yang setimpal.
Chanyeol mengusap punggung Baekhyun, mengeratkan tubuh itu ke dalam balutan hangatnya.
"Kau sungguh keras kepala. Aku membencimu. Tahukah kau bila begitu menyakitkan terus berusaha lari dari perasaan aneh itu, Chanyeol jeoha," gumaman kesal Baekhyun teredam dada Chanyeol.
Chanyeol menumpu dagu di puncak kepala Baekhyun, sesekali mengecup helai halus di kepala Baekhyun. "Ya, seharusnya sejak awal kau menyadari perasaanmu, Rose daegam."
"Tidak semudah itu. Takdir kita."
"Sst. Kita akan melewatinya bersama."
To be continue...
