Chapter 6
Baekhyun merundukkan tubuh menilik sekitar serambi belakang Kerajaan. Telinga dan sepasang mata tampak awas melihat serta mendengar pergerakan seseorang yang barangkali melewati serambi belakang Kerajaan secara tiba-tiba.
Tepakan langkah tergesa terdengar serentak mengukir paving Kerajaan, Baekhyun menyandarkan punggung melekatkan pada beton pagar saat segerombolan dayang hilir mudik menyibukkan diri dengan berbagai gulungan kain.
Baekhyun mengerutkan kening, mengingat pesan yang diberikan dayang Ahn kepadanya tadi malam bahwa pihak dari Kerajaan Gaya hendak bertandang kemari demi mendiskusikan sebuah benang merah yang sebentar lagi akan terjalin.
Benar, Putra mahkota Jongin kakak pertamanya akan segera menjalin hubungan dengan putri Kyungsoo dari Kerajaan Gaya demi menimang tahta yang sebentar lagi Kangin letakkan di pundak Jongin.
Tentu saja hari ini sejujurnya adalah hari yang cukup penting dan diharuskan untuk menghadirinya. Namun sekali lagi, Baekhyun berniat menyelinap kabur dari singgasana Kerajaan yang menanti sapuan tubuhnya demi menyambut janji yang telah terlontar dari bibir masing-masing.
Sejak peristiwa waktu lalu, kini mereka (Chanyeol dan Baekhyun) resmi menjalin hubungan meski masih secara sembunyi-sembunyi. Mereka kerap kali menyelinap dari Kerajaan dan berjumpa di suatu tempat tak terkira.
Pada malam hari pun tidak jarang Chanyeol mengetuk jendela kamarnya, dia sempat terpongo kejut memikirkan bagaimana cara pria tampan itu meloncati pagar Kerajaan Silla tanpa mengundang kecurigaan.
Dan dengan senyum yang melebar menawan, sebaris kalimat dia lontarkan. "Bukankah aku ahli dalam berperang dan ini salah satunya."
Baekhyun menggelengkan kepala sebersit semu merah terlukis di pipi. Tidak perlu melakukan tindakan berlebih, hanya sekadar sebuah kecupan manis pun telah mampu membuat lelapnya terombang-ambing resah.
"Seminggu."
Baekhyun menatap jari tangan yang tertekuk bergantian, rupanya di antara lamunannya dia tengah menghitung jarak hubungan mereka. Baekhyun tersenyum kemudian menegakkan tubuh kembali menilik keadaan sekitar lalu merayap ke sisi dinding dan bergerak menaiki pagar beton yang melindungi serambi belakang Kerajaan.
Cukup tinggi, namun sebab keahlian yang telah terpupuk sejak kecil pangeran cantik itu mampu melewatinya dengan mudah. Baekhyun menepuk tangan bangga.
Ketika hendak melangkah, lengan seseorang tiba-tiba membekuk tubuhnya dari samping. Baekhyun nyaris berteriak kaget bila si pria misterius tidak bergegas mengecup lembut pipinya. Kelopak matanya mengerjap, termangu menatap wajah yang tidak tersekat.
"Kau mengejutkanku, Chanyeol!" tuding Baekhyun kesal dalam bisikan.
Chanyeol terkekeh pelan sambil melekatkan kening mereka, sementara punggung Baekhyun menyapa dinding beton.
"Kerajaan Gaya sedang bertandang."
"Hn, perihal benang merah."
Chanyeol memaku wajah Baekhyun.
"Kangin sanggam berniat meletakkan tahtanya."
"Tentu saja, seharusnya Yunho sanggam pula melakukan hal serupa."
Chanyeol tersenyum, kecupan di pipi beralih ke kening. "Permaisuriku belum siap," ungkap Chanyeol ambigu.
Kening Baekhyun berkerut. "Apa maksudmu?"
Tangan Chanyeol terangkat menekan hidung Baekhyun, berseru gemas akan sikap kekasihnya.
"Ya, permaisuriku belum siap. Memang, kau sudah mempersiapkan diri, heun."
"Yakk..."
Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol hingga lengan kekar itu terlepas dari tubuhnya. Kekehan ringan terlontar dari celah bibir, sementara Baekhyun merengut kesal.
"Dasar gila."
Baekhyun mengentakkan langkah meninggalkan Chanyeol. Dedaunan kering terinjak ganas akibat dari tepakan langkah yang mengentak kasar.
Mencari masalah dengan Baekhyun dan membuat pria cantik itu merengut marah seolah telah menjadi kegiatan utama Chanyeol selain memanah dan bermain pedang saat ini, bahkan ia jadikan prioritas utama. Hatinya akan menghangat dan jantungnya mulai berdetak tak karuan bila mendapati Baekhyun dengan diri menggemaskan semacam itu.
Chanyeol meraih pinggang Baekhyun, mendaratkan kecupan kemudian menariknya mendekat. Menghiraukan berontakan Baekhyun yang rupanya masih menyimpan dendam padanya.
*Rose*
Sehun menghela napas panjang melihat kursi kosong tidak berpenghuni di sampingnya. Sekali lagi Baekhyun mengacuhkan acara Kerajaan. Pagi-pagi sekali dia sudah bertandang ke paviliun Baekhyun dan mendengar pernyataan permohonan maaf dari dayang Ahn yang menyatakan Baekhyun tengah tidak sehat.
Dan semakin dongkol ketika sang adik tidak mempersilakan dirinya masuk meski hanya sejenak, tidak tahukah bila dirinya tengah dirundung perasaan cemas. Sehun mengedarkan pandang menatap calon Jongin. Seorang putri tunggal dari Kerajaan Gaya yang berparas cantik nan sempurna budi luhurnya.
Sehun berdecak kagum, rupanya sang kakak pandai dalam memilah calon Ibu dari rakyat Silla kelak. Pesona yang dia tawarkan memang tidak sebanding dengan pesona adiknya, namun mampu menjerat pandangan.
Sehun mengerutkan kening, Baekhyun memang pantas mendapat gelar Rose. Pesona yang menyelimuti bahkan mampu menaklukkan kecantikan para putri di Semenanjung Korea hingga seberang wilayah.
Senda gurau yang tercipta antara Kangin dan penguasa Kerajaan Gaya Sehun hiraukan, mengedarkan pandang menatap sang kakak yang sesekali mencuri pandang lebih menarik pandangannya. Sehun tersenyum, tidak mengira Jongin dapat bertingkah tolol bila tengah bersanding dengan seorang terkasih.
Jongin mengalihkan pandang, menatap Sehun dalam sorot tajam. Menginstruksi adiknya untuk tidak menertawakan dirinya kemudian pandangannya beralih menatap kursi kosong di samping Sehun.
"Dimana Baekhyun?" tanya Jongin.
Sehun menumpu dagu. "Baekhyun sedang tidak sehat, hyung."
"Apa?!"
Jongin seketika bangkit dari kursi. Dia kemudian menunduk hormat memohon undur diri dari ruangan bersama pergerakan jari telunjuk yang bergerak menginstruksi Sehun untuk turut mengikuti langkahnya.
Sampai di balik pintu Balai Istana, Jongin memberondong Sehun dengan berbagai macam pertanyaan cemas yang menggebu tanpa jeda.
"Bagaimana bisa? Sakit apa? Sejak kapan? Apakah tabib sudah memeriksa keadaannya? Apa penyebabnya? Tidak parah, bukan?"
Sehun mengusap tengkuk, merasa bingung ingin menjawab pertanyaan Jongin dari ujung mana. "Aku harus memulainya darimana, hyung?"
"Terserah. Lekas jawab pertanyaanku," tukas Jongin tidak sabaran membuat Sehun mendengus jengkel. "Tentang sakit dan penyebab aku tidak tahu. Dayang Baekhyun hanya mengatakan bila Baekhyun tengah tidak sehat. Parah tidaknya aku juga tidak tahu, sebab Baekhyun melarang diriku untuk mengunjungi dirinya. Masalah, tabib tentu saja sudah berkunjung."
"Mengapa tidak mempersilakan kunjunganmu?"
"Mungkin Baekhyun tengah beristirahat, hyung."
Jongin berdecak, dia kemudian berbalik hendak melangkah pergi tetapi dengan cepat pergelangan tangan tercekal oleh tangan Sehun.
"Ingin pergi kemana, hyung?"
"Aku mencemaskan, Baekhyun. Aku ingin bertandang ke paviliunnya."
Sehun menghela napas panjang. "Baekhyun sedang istirahat, hyung. Jangan mengusik ketenangan tidurnya atau kondisinya tidak akan kunjung membaik," cegah Sehun sambil menekankan sorot serius di balutan matanya.
Jongin menatap enggan Sehun, dia mengutuk lontaran Sehun yang memang benar adanya. Jongin kemudian terpaksa menghentikan langkahnya dan semakin membumbung rasa cemasnya sebab tidak dapat menemui sang adik.
"Nanti setelah keadaan Baekhyun membaik, kita akan bertandang kesana," kata Sehun menenangkan.
Jongin pada akhirnya mengangguk patuh meski masih enggan, dalam tepakan langkah berat ke pintu Balai Istana. Kembali melanjutkan perbincangan dengan hati resah, Sehun menatap sendu punggung Jongin yang terhapus pintu. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya, akan tetapi semua ini juga demi kebaikan Baekhyun.
Rasa sayang dan cinta Jongin memang tidak diragukan lagi, terlebih kepada Baekhyun adik bungsunya. Dia kerap kali lepas kendali dan mendadak muram bila sesuatu tengah melanda Baekhyun.
Seperti bulan lalu saat kunjungan Joseon ke Kerajaan mereka. Acap kali Jongin nyaris menghantam wajah Changmin ketika Raja tampan itu membawa nama sang adik ke dalam rencana piciknya.
Tidak jauh berbeda dengan Jongin, dirinya pun juga seperti itu. Hanya saja, dia tampak lebih tempramental ketimbang Jongin. Masih teringat di otak, dia sontak bangkit dan menggeram pada Changmin.
Memang seharusnya seperti itu, Baekhyun bagaikan mutiara di Kerajaan Silla. Lambang dari keluhuran serta kemurnian Silla. Patut dijaga dan tak seorangpun patut menodai dirinya dengan diri berlumuran jiwa cela sekalipun hanya seujung jari.
Sehun mengalihkan pandang, menatap atap paviliun Baekhyun yang menyapa pandangan. Tersenyum tulus kemudian melangkahkan kaki kembali memasuki Balai Istana.
*Rose*
Chanyeol terdiam, terpaku menatap balutan kuning memanjang melingkari mangkuk yang terendam kuah. Aroma yang tercium memang cukup menggugah selera, namun sebab makanan yang terlihat asing dimata, dirinya enggan untuk mencicipi. Matanya mengerling Baekhyun yang baru kembali dari menuntaskan gejolak hasrat alamnya.
Baekhyun menyamankan tubuh di seberang kursi Chanyeol lalu mendongak, menatap Chanyeol dengan kening berkerut.
"Ada apa?" tanya Baekhyun yang direspon oleh uluran telunjuk menyapa mangkok. Baekhyun mengerjap kemudian berseru paham.
"Ramyeon. Nama makanan ini adalah ramyeon. Kau belum pernah mendapati makanan semacam ini?" tanya Baekhyun sambil meraih sumpit kayu mengaduk makanannya.
Chanyeol menggeleng sambil menumpu dagu menatap lekat wajah Baekhyun. "Selama aku mencoba menjadi rakyat jelata, aku sama sekali tidak mendapati makanan seperti ini begitupula di Kerajaan."
Baekhyun tertawa nyaris tersedak setelah usai mendengar kalimat polos Chanyeol. Tangannya kemudian bergerak menutup bibir, menghentikan sejenak suapannya. Wajah terbalutkan kulit putih itu perlahan memerah.
"Oh Dewa," desau Baekhyun usai menelan paksa ramen yang setengah terkunyah di mulut. Chanyeol hanya mampu memandangi wajah merah Baekhyun dalam roman kebingungan, sekilas ia turut tersenyum meski tak mengetahui apa yang sedang terjadi sebab tertular senyum sang kasih.
"Tentu saja kau tidak akan mendapati makanan semacam ini di Kerajaan, Chanyeol-ah. Mereka tidak akan memperbolehkan makanan ini terkecap di mulut Putra mahkota mereka walau hanya sesuap."
"Mengapa? Apakah makanan ini beracun?"
Baekhyun kini benar-benar tersedak. Chanyeol seketika bangkit dari duduknya, beralih ke sisi Baekhyun sambil mengusap punggung Baekhyun. Roman cemas melingkupi wajah rupawannya.
"Baekhyun, kau baik-baik saja. Sayang..." Chanyeol tanpa sadar melontarkan panggilan manis, sementara Baekhyun tampak mengacuhkan panggilan tersebut. Ia masih sibuk menenangkan detak jantungnya yang berderu sebab tersedak.
"Ya, aku baik-baik saja." Baekhyun menahan lengan Chanyeol ketika ia hendak berteriak memanggil pelayan.
"Kau butuh minum."
Chanyeol berdecak, lalu beralih mengambil air minumnya. Baekhyun kembali menahan tangan Chanyeol.
"Aku bisa melakukannya sendiri," kata Baekhyun tenang. Sorot mata Chanyeol mengkelam, terlihat meragu.
Baekhyun menghela napas kemudian meraih cangkir Chanyeol dan meminumnya dengan anggun. Tiba-tiba Chanyeol merundukkan tubuh, menarik bibir cangkir dari bibir Baekhyun dan menyapukan bibirnya di belahan tersebut yang seketika menyentak kesadaran prianya.
"Hebat sekali. Hanya tersedak, namun bisa membuatku sekalut ini," bisik Chanyeol usai melepaskan tautan bibirnya. Setelahnya kembali menyamankan tubuh di kursi seberang.
Baekhyun termangu, iris puppynya mengedar cepat ke sekeliling kedai.
"Bagaimana jika ada yang melihat?"
"Mengapa ramen dilarang dikonsumsi pihak Kerajaan?"
Chanyeol mengalihkan pembicaraan, Baekhyun menggerutu jengah.
"Chanyeol."
"Tidak ada yang melihat, sayang. Sudahlah jangan cemas."
Panggilan itu kembali terhembus, kini Baekhyun menghiraukannya. Rona merah di pipi Baekhyun makin terlihat pekat.
"Sayang-.." ulang Baekhyun gugup.
Chanyeol tersenyum mendengar getar gugup tersebut."Bukankah manis." Salah satu kelopak matanya mengedip jahil.
Baekhyun merutuk, menundukkan kepala guna menyamarkan wajah yang kian memanas, detakan jantung melagu memenuhi gendang telinganya.
Sementara, Chanyeol menyilangkan lengan di meja turut merundukkan kepala dan menumpukan dagu pada lengan hendak mengintip wajah Baekhyun melalui surai kelam yang membayangi wajah cantik kekasihnya.
"Mengapa mereka melarangku menikmati ramen, sayang? Jangan menundukkan kepala. Aku tidak bisa menatap wajahmu," goda Chanyeol kian menjadi membuat Baekhyun menggerutu kesal merutuki tingkah aneh Chanyeol.
"Karena berlemak!" jawab Baekhyun ketus.
Ledakan tawa kemudian melagu di sepanjang bibir yang tertarik lurus, Baekhyun mengindahkan rona wajah yang memerah memilih mengangkat wajah sambil menatap Chanyeol dalam sorot tajam.
"Aku tidak bersedia," kata Baekhyun tegas menghentikan tautan tangan Chanyeol pada makanannya.
Kening Chanyeol berkerut, sedang salah satu alisnya terangkat menandakan bila si pemilik wajah tampan tengah membingungkan kalimat yang tercelah di bibir kekasihnya. "Aku tidak mengerti." Chanyeol menggelengkan kepala menyembunyikan perasaan tergelitik di bibir.
Baekhyun menghela napas panjang, rupanya ia baru mengetahui sifat asli Chanyeol. Begitu menyebalkan dengan segala tingkah kurang ajarnya. Tidak pernah mengira bila seorang Putra mahkota akan berperilaku seliar itu, bahkan Baekhyun pun tidak pernah menduga bahwasana perilaku tersebut pantas disandangkan dengan julukan yang telah tersebar di tiap pasang telinga.
"Panggilan itu. Aku tidak bersedia menerimanya. Lebih baik memanggil namaku saja."
"Bukankah panggilan itu terdengar romantis?" sela Chanyeol mengacuhkan asap yang mengepul dari mangkok ramen, mengundang dirinya untuk kembali mencicipi.
Baekhyun meletakkan sumpit kayu di samping mangkok kemudian meraih cangkir minum setelahnya bangkit berdiri hendak menyudahi acara makannya. Lebih tepatnya, menyudahi perbincangan konyolnya bersama Chanyeol.
"Bagaimana bila mereka mendengarnya?" Baekhyun berdecak, benar-benar akan melangkah pergi bila Chanyeol tidak bergegas menangkap pergelangan tangannya.
"Mengapa selalu memikirkan keberadaan orang lain, heum?" protes Chanyeol kurang nyaman. Mendapati sikap Baekhyun yang begitu menjaga perasaan orang di sekitar membuat Chanyeol mendesah jemu.
Sesungguhnya dia sangat membenci sifat tersebut, sebab apa yang kita lakukan belum tentu di terima dan mereka pun belum tentu melakukan apa yang telah kita lakukan. Oleh sebab itu, untuk apa bersusah payah memikirkan orang lain bila orang tersebut tidak pula memikirkan dirinya. Sungguh tindakan yang sia-sia sekaligus membuang stamina.
"Yeol..."
"Tidak. Aku menyukai panggilan itu. Kebahagiaanmu bukan dari mereka, maka dari itu untuk apa bersusah payah memikirkan mereka," putus Chanyeol mutlak sambil meletakkan beberapa keping uang di meja, kemudian menarik Baekhyun keluar dari kedai.
Baekhyun menarik napas berat, satu lagi sifat Chanyeol yang mulai terlihat di matanya. Chanyeol sangat pemaksa, apa yang dia inginkan harus selalu terealisasikan. Wajar memang bila mengingat di mana Chanyeol dilahirkan dan tumbuh berkembang. Tidak pelak hal tersebut turut andil dalam mengukir tabiat putra Goryeo itu.
*Rose*
Perdebatan ringan yang tercipta sebab bait panggilan yang menurut Baekhyun berdendang secara semena-mena, sekalipun kenyataannya mampu menggetarkan hati, namun dia masih cukup sadar untuk tidak terus menambah daya kecepatan jantung dalam berdetak sebab panggilan tersebut.
Baekhyun masih berusaha menyelamatkan kondisi jantungnya, tetapi rupanya Chanyeol tidak mengetahui kondisi kekasihnya.
Dia pun dengan kekeuh tetap mempertahankan panggilan yang menurutnya romantis terlafar di bibir untuk Baekhyun demi memberitahukan kepada alam semesta bila Baekhyun telah menjadi miliknya dan akan segera terikat bila waktu bersedia mengetuk pintu kebahagiaan mereka sedikit lebih cepat.
Disepanjang jalan setapak yang mulai gelap akibat sinar mentari yang condong ke arah barat hendak kembali ke peraduan. Dua anak adam tengah menyibukkan diri dengan kegiatan mereka, sementara Baekhyun berusaha menghancurkan keheningan yang menyelimuti sekitar dengan hembusan bising gertakan dan semu kesal setiap bibir yang melafalkan berbagai kalimat protes dan berbagai kalimat penyanggah.
Baekhyun mengentak kaki, sejak tadi pagi entah mengapa sekilas saja dirinya tidak mampu mengungguli Chanyeol. Dia selalu mengalah dan tertindas. Baekhyun mengoyak lengan dalryongpo dengan gerakan acak, jemari tangannya menggesturkan sebuah kekesalan hati melalui tindak tubuh.
Kedatangan seorang pria berbalutkan pakaian hitam serta cadar hitam di tengah-tengah pergolakan panas mereka sontak menarik Chanyeol dari sisi menyebabkan dirinya seorang diri bertahan di bawah atap salah satu hanok warga sembari menatap awan kelabu yang mengarak menutupi sinar rembulan yang mulai terlihat sebab desauan angin.
Kegelapan menyelimuti, kini sinar mentari benar-benar enggan menampakkan kekuasaannya. Berlindung di balik bulan sambil mengintip malu. Baekhyun mengedarkan pandang, begitu sepi hanya sapuan angin yang menemani.
Balutan gat yang semula menyembunyikan keindahan surai kelam yang terjatuh halus kini beralih pada genggaman tangan, mempersilakan koyakan angin untuk mengoyak helaian halusnya.
Seulas cahaya tajam dilangit tiba-tiba menyentak roman wajah Baekhyun. Iris puppy yang semula melembut dengan sorot menerawang berubah pekat terbalutan perasaan cemas.
Baekhyun menegakkan tubuh, menyapukan pandangan pada Chanyeol yang baru saja menampakkan batang hidungnya usai melarikan diri bersama sang pria bercadar hitam.
"Kita harus segera kembali," sergah Baekhyun cepat begitu Chanyeol mendekatkan diri.
Chanyeol seketika mengeryitkan kening, menilik balutan puppy yang mengedar cepat sembari mengalihkan pandang menatap sekitar tubuh Baekhyun. "Sesuatu telah terjadi?" sapuan berat yang sekilas bergetar cemas menyadarkan Baekhyun dari tingkah berlebihnya.
Jemari tangannya kemudian bergegas menunjuk ke langit, menginstruksikan pada Chanyeol bila dia tengah mencemaskan alam sekitar bukan sebab dirinya yang terluka.
Kepala Chanyeol mendongak, menatap kilat tajam yang beberapa kali menebas langit dan ia pun mendesah lega.
"Aku pikir sesuatu telah terjadi kepadamu? Maaf, meninggalkanmu terlalu lama."
"Bukan waktu yang tepat untuk bersesal diri. Kita harus bergegas kembali sebelum hujan..."
Baekhyun meneguk ludah berat. Genggaman tangan di pergelangan tangan Chanyeol akibat hendak mengalihkan usapan tangan Chanyeol dari kepalanya terlihat mengerat.
Tanpa sadar dia mengutuki diri yang terlambat ketika melihat gugusan rintik hujan yang lebih dulu menderu ganas, terlihat bergairah dalam kegiatannya menggilas tanah yang mulai terendam air.
Bergerumuh makin deras berlomba dengan gemuruh halilintar serta koyakan angin yang mematahkan ranting, menerbangkan daun dan nyaris merobohkan setiap pohon yang membengkok tidak beraturan.
Baekhyun menyudutkan diri pada dinding hanok, menatap ngeri pemandangan alam sekitar yang sedang diterjang badai. Mendapati sang kekasih yang memaku ketakutan, Chanyeol berdeham sejenak.
"Masih berniat kembali?" Chanyeol mengalihkan pandang. "Sepertinya malam ini akan terjadi badai," sambung Chanyeol sambil mengusap dagu.
Kepala Baekhyun menunduk, kilat halilintar beriringan dengan suara guntur yang memekakkan telinga cukup membuat jantungnya berdetak kacau. Hela napas berat mencoba menetralisir kerjapan paru-paru yang kian memberat.
Dia mengerjap ketika mendapati lingkupan hangat diselingkar pinggang. Harum tubuh yang mulai menjadi candu bagi lubang hidungnya, menyeruak menenangkan gemuruh hati Baekhyun.
Chanyeol mengetukkan jari, tanpa sepengetahuan Baekhyun seorang pengawal menyelinap dari balik pintu membawa sehelai mantel sutera usai menguak pintu hanok yang telah terisolir dari sang pemilik.
Sepasang suami istri lansia, membungkuk hormat ke arah Chanyeol mempersilakan sang junjungan untuk menempati kediamannya sementara mereka digiring menuju kediaman lain yang telah dipersiapkan oleh Chanyeol.
Rupanya dirinya telah merencanakan semua halnya dengan matang dan ternyata sang Dewa pun mengizinkan niat si Putra mahkota untuk dapat menghabiskan malam bersama sang kekasih tanpa bayang-bayang Kerajaan.
Seulas senyum lembut terukir di bibir. Mantel yang bermuara di tangan kiri kini telah menyelimuti punggung Baekhyun.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam, hujan sepertinya makin menggilas alam," bisik Chanyeol tepat di telinga Baekhyun.
Ujung durumagi yang membaluti tubuh mereka mulai terkena hempasan rintik hujan, tersapu air nyaris kuyup. Baekhyun mendongak menatap Chanyeol.
"Kemana?" tanya Baekhyun bingung.
Chanyeol meniti tubuh Baekhyun ke pintu hanok kemudian mendorong pintu menjauh. Api temaram lilin yang menyinari ruangan hangat dan cukup besar itu menyapa indera penglihatan.
Baekhyun mencondongkan tubuh, meneliti setiap sudut bangunan yang terbuat dari bahan dasar alam seperti; kayu, tanah, batu, jerami dan kertas.
Baekhyun melangkah masuk lantas bergegas meraih lilin dan memangkunya. Menyembunyikan ujung api di balik tangannya. Terlalu lama terhempas badai di luar menyebabkan tubuhnya kebas, terlebih tangan yang mulai memucat biru.
"Bagaimana jika si pemilik pulang?"
Baekhyun menatap Chanyeol yang tengah bertindak menyandarkan tubuh pada dinding sambil memaku wajah Baekhyun yang terbiaskan cahaya lilin.
"Hanok ini tidak berpenghuni," jawab Chanyeol yang seketika menyorotkan sinar ketidakpercayaan di sepasang iris puppy Baekhyun. "Bagaimana bisa menyebutnya tidak berpenghuni bila sisa-sisa kehidupan masih terkecap di rumah ini?" lontar Baekhyun mengaburkan alibi Chanyeol.
Chanyeol sejenak terdiam, termenung dalam pikirannya. Tidak mungkin mengutarakan yang sebenarnya pada Baekhyun karena Baekhyun pasti akan langsung mengamuk akibat tindakan lancangnya yang dengan semena-mena memindah alihkan si pemilik hanok ke kediaman lain. Sekelebat bayangan tentang kemarahan Baekhyun sontak memenuhi pandangannya.
Tentu saja rencananya akan lenyap saat ini juga bila bayangan tersebut terealisasikan. Gelengan kepala kemudian teruntai dari Chanyeol menuai kerjapan polos dari Baekhyun dan tubuh yang perlahan menggeser mendekat ke arahnya entah mengapa sontak mendesirkan aliran darah.
Chanyeol bergerak makin dekat memusnahkan sekat yang berbayang, kian dekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
Baekhyun menahan napas, balutan tungku lilin yang tergenggam di telapak tangan menegang, seiring dengan geratan tangan yang mengerat.
"Adakah orang lain disini?"
Kepala Baekhyun menggeleng pelan. Chanyeol tersenyum, "Lantas mengapa masih meragukannya, heum?"
Kening mereka mulai bersentuhan.
"Mungkin mereka belum kembali," bisik Baekhyun sambil memejamkan mata saat ujung bibir mereka mulai saling mengecap.
"Mereka pasti tengah berlindung dan kemungkinan akan kembali esok."
Tangan Chanyeol terulur meraih lilin yang terpaut erat di telapak tangan Baekhyun lalu membawanya menjauh.
"Badai begitu ganas malam ini," sambung Chanyeol dengan suara berat yang mengacaukan pikiran Baekhyun.
Lengan Chanyeol menyusup di sisi tubuh Baekhyun, meraih pinggang Baekhyun dan mengeratnya dengan lembut. Suara guntur serta kilat halilintar menahan tubuh Baekhyun yang hendak beringsut mundur.
Dia kini terpaku, sorot kelam yang memabukkan jiwa kembali mengalirkan sejuta implus hipnotis yang mengendalikan kesadaran Baekhyun. Balutan emosi, gairah dan perasaan yang mendalam mengikat lidah Baekhyun di balik barisan gigi yang mengerat sama sekali tidak mengizinkan dirinya untuk menguntai kata barang sebaris.
"Aku mencintaimu."
Alunan hangat yang senantiasa memenuhi gendang telinga dan berulang di setiap kerjapan mata bergerak menghapus keraguan di hati Baekhyun. Benar, sebab tanpa di duga Baekhyun menyambut belaian bibir Chanyeol. Bermula dari kecupan lembut, membawa gelora panas di seluruh tubuh.
Chanyeol tidak dapat menghentikannya, dia pula tidak mengingat sejak kapan kecupan lembut berubah menjadi pagutan dalam yang begitu intim.
Chanyeol pula tengah terjerat, terlanjur masuk ke dalam rasa manis yang meluber di sekitar bibir. Bila keratan tangan Baekhyun dan deru napas tersenggal yang menyapa wajah tidak menarik kesadarannya, dapat dia pastikan dirinya akan bertindak makin jauh.
Sementara itu, rupanya sebuah kesalahan besar dia memandang wajah Baekhyun usai pergulatan bibir mereka. Getaran panas serta gelora yang memuncak hingga ubun-ubun sontak menggelapkan kesadarannya.
Ulas wajah yang tampak sayu dengan semu merah di sepasang pipi menarik Chanyeol ke dalam gairah terlarang yang memikat.
Baekhyun tersentak, irisnya melebar penuh saat tiba-tiba Chanyeol mengeratkan rengkuhannya. Menyudutkan punggungnya ke dinding. Sepasang tangan yang meremat kain dada Chanyeol bergegas menahan tubuh yang kian mendekat, sorot matanya berbayang resah dengan irisan gairah yang membuatnya dilema.
"Chan-..."
Baekhyun berbisik, merundukkan kepala menghindari tatapan Chanyeol. "..ini terlalu dekat," lanjutnya.
Chanyeol mengulaskan senyum, dia memiringkan kepala mengendus sisi wajah Baekhyun. "Aku ingin lebih dekat lagi," ujarnya parau.
Baekhyun meremang, hembusan napas Chanyeol menyelubungi telinganya.
"Bagaimana jika ada yang datang?" suaranya bergetar, mengalun sumbang sebab hembusan hangat yang mematri bahunya.
"Tidak akan ada yang datang, sayang."
Dan Baekhyun kini benar-benar terbungkam hanya karena sebuah bait panggilan romansa yang merasuki sanubari.
Baekhyun mulai terlena ketika sebuah balutan bibir kembali menawan bibirnya. Seolah kesadaran telah melayang jauh bersama koyakan angin di balik hanok, temaram lilin menjadi saksi bisu sepasang tubuh yang saling merengkuh menyalurkan kehangatan serta kenikmatan dunia yang begitu dipuja keberadaannya oleh setiap makhluk hidup di semesta alam.
Perlahan kelopak mata yang terpejam bergerak menampakkan balutan sayu yang berkobar ketika hentakan menikam di selat tubuh menjadi balutan kenikmatan yang tiada terkira dapat dia kecap dalam hidupnya.
Napasnya tersenggal, logika telah lenyap bersama kesadaran yang terenggut. Tak mampu menjelaskannya dengan untaian kalimat, hanya sebaris nama yang terlantun lirih.
Chanyeol mendekat, mengecup kening Baekhyun kemudian menyatukan kening mereka yang telah berkucuran akan keringat. Tubuh yang nyaris membeku sebab lambaian angin yang menggila kini tampak menyusut terhalangi gelora panas yang menyelimuti tubuh.
"Aanh- Chan!"
Baekhyun mengeratkan genggamannya pada balutan jari yang menaungi tangan. Kelopak mata merekat, tidak mampu bergerak menampakkan keindahannya.
Bibir yang semula mendarat di kening, beralih ke sisi wajah Baekhyun berbisik berat berseling dengan deru napas serta geraman berat.
"Hngm- aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Baekhyun."
Lengan Baekhyun merengkuh erat leher Chanyeol ketika lingkupan lengan membawa tubuh Baekhyun ke pangkuannya.
"Anghh.. Akhh pelanhh-!"
Baekhyun mengerat gigi bawahnya; napasnya tersenggal, geraman berat menyelubungi telinga memuat ingatan panas di otak. Tubuhnya terasa penuh, denyutan kenikmatan yang sempat terhenti kembali terkecap membawa dirinya pada alunan erotis yang tak terkira mampu terlafal begitu lancar dan berulang di bibir.
Terasa begitu panjang, mereka benar-benar menghabiskan malam dengan pautan kenikmatan yang enggan terlepas hingga fajar menyingsing. Tentu saja, seolah merasa ketagihan.
Chanyeol selalu bergerak memulai usai mengistirahatkan tubuh yang melemas lelah. Terus beruntun sampai Baekhyun menahan dadanya, mengatakan bila dirinya benar-benar lelah.
*Rose*
Semenjak malam panas yang tidak terduga terkecap di balutan tubuh, hubungan Chanyeol dan Baekhyun kian hari terlihat makin rekat meski masih dalam lingkup mencuri-curi.
Intensitas pertemuan mereka pun terhitung sering. Tak pelak Chanyeol menghiraukan lambaian jemu dokumen yang kian menumpuk demi menyambung romansa bersama Baekhyun begitu sebaliknya, bahkan Baekhyun pula mulai mengacuhkan pelatihan rutinnya.
Keraguan yang seringkali menjegal langkah Baekhyun kini senantiasa merunduk malu di balik kepekatan perasaan Baekhyun yang mendominasi hati.
Cinta yang sempat meragu kini bersemi terang di antara pikiran rasional yang acap kali menakuti Baekhyun akan kenyataan yang mengadang jalan mereka suatu hari nanti.
Namun, untuk sekilas saja dia ingin merasakannya. Merasakan hangatnya cinta ketika merengkuh dirinya, ketulusan cinta ketika tersenyum kepadanya dan pengorbanan cinta saat dirinya terluka.
Baekhyun ingin merasakannya, walau tidak kekal dan akan berakhir tragis. Untuk sekali dalam hidupnya, biarlah ia merasakan romansa tersebut.
Serasah daun terkoyak, terkibar ke udara sebab tepakan langkah kuda yang melaju cukup kencang. Gugusan sakura yang menyelubungi udara terbelah turut menyemarakan desauan tubuh kuda yang merangsak rimbunan lorong hutan. Senda gurau mengiringi bisingnya serasah daun yang terinjak serta hilir angin yang menggerakkan ranting.
Chanyeol menumpu dagu mengeratkan lingkupan lengan di pinggang Baekhyun sementara salah satu tangan menggenggam kekang kuda. Tawa kian melingkupi saat Chanyeol melantunkan bait konyol sambil berbisik.
Baekhyun tertawa, mengantukkan sisi wajah pada Chanyeol. Ulas lembut turut menaungi wajah tampan Chanyeol.
"Yaa, di mana tanganmu berpijak, jeoha?" sentak Baekhyun sembari berusaha menyingkirkan belaian geli di pinggangnya.
Alih-alih menghentikan gurauannya, Chanyeol justru menghiraukan sentakan tersebut. Dia memejamkan mata sekilas, menyesap aroma menakjubkan yang menguar dari tubuh Baekhyun seiring hela angin melintasi tubuh mereka.
"Aku akan turun. Ini menggelikan, Chanyeol!"
Chanyeol menegakkan kepala kemudian mencondongkan kepala ke depan mengintip wajah Baekhyun.
"Kau ingin turun di saat kuda melaju dengan cepat, sayang. Hebat sekali," takjub Chanyeol sedikit menyindir.
Baekhyun menggerutu, salah satu tangannya tiba-tiba menggeplak wajah Chanyeol. "Kau menyebalkan." Baekhyun berdecih, hanya sepersekian detik sebelum kembali tertawa akibat belaian jemari Chanyeol di pinggang yang semakin menjadi.
"Chanyeol hentikan! Chanyeol, oh Dewa ini menggelikan sekali. Yaakk! Chanyeol!" Baekhyun terkekeh bersemu kesal.
Chanyeol menahan tawa di balik punggung Baekhyun, dia kembali menyekat batas. Menyatukan dada dengan punggung Baekhyun kemudian menautkan bibir di sepanjang pipi kanan Baekhyun.
"Ya, sangat menyebalkan dan sangat mencintaimu," bisiknya.
Baekhyun menoleh, seresah daun yang terdengar bising berlomba dengan gemuruh hatinya. Chanyeol mengulas senyum hangat sambil menyatukan kening mereka.
Baekhyun kemudian mengerjap turut tersenyum merespon siratan kasih prianya. "Ya, aku juga mencintaimu, jeoha." Lantunan tulus yang mendebarkan jantung sekilas membuat Chanyeol nyaris tidak sadarkan diri.
Di atas punggung kuda yang melaju kencang membelah keheningan hutan, dua bibir yang kerap melantunkan bait kata romansa yang menggetarkan jiwa tersapu gelora manis kembali saling terikat, mengecap rasa candu yang selalu berhasil membuatnya mabuk.
Chanyeol menarik tali kekang kuda, melambatkan laju kuda di balik kecupan bibirnya di bibir Baekhyun. Dia kemudian tersenyum dalam pagutannya.
*Rose*
Guratan benang yang menyatu di jemari membuat Baekhyun bersemangat untuk menggerakkan selembar kertas yang melayang di udara menari bersama dengan sang angin.
Kepalanya menengadah, menatap lembaran kertas dalam bentuk naga tersebut yang terhempas terkoyak angin. Baekhyun terkekeh, berusaha menahan koyakan angin yang hendak menarik layangannya menjauh dari genggaman tangan.
Sementara Baekhyun menyibukkan diri dengan permainan barunya, Chanyeol terdiam menatap Baekhyun sambil menyandarkan punggung di batang pohon oak.
Sesekali bibirnya tertarik lurus saat mendapati tingkah kekasihnya. Decakan Baekhyun mengundang kaki Chanyeol untuk melangkah mendekat.
Merengkuh pinggang Baekhyun kemudian turut urun tangan menjalankan layangan tersebut. Mengimbangi gerak angin yang mengkoyak ganas. Baekhyun melirik Chanyeol dari balik bulu mata lentiknya, secepat kilat mengalihkan pandang ketika iris tajam itu mengerling ke arahnya.
Chanyeol menggelengkan kepala kemudian mencuri cium di sudut bibir lantas kembali berfokus pada layangan. Baekhyun mengutuk, entah mengapa setiap Chanyeol mendekat dan menyentuh wajahnya jantungnya selalu berdetak melampaui batas normal.
Itu sungguh menyiksa, meski begitu mengagumkan desiran hangatnya.
Tiba-tiba jemari yang hampir terpaut dengan tangan Chanyeol tersayat benang, warna darah yang terlihat kontras dengan kulit putihnya mengentak kecemasan Chanyeol.
Tak ia hiraukan layangan yang tertarik ke udara, kini dirinya menyibukkan diri dengan jemari Baekhyun. Menyesap ujung yang berdarah dengan getar tangan yang tarik ulur mengacaukan kendali tubuhnya.
"Hanya luka kecil, jeoha," bisik Baekhyun menenangkan.
Chanyeol menatap Baekhyun, sorot kelam terpancar kecemasan yang mendalam itu sontak menjatuhkan hati Baekhyun.
Dan semenjak saat itu Baekhyun menyadarinya. Menyadari betapa tulus dan besarnya perasaan Chanyeol untuknya, tidak terkira dalam angan dan untaian kalimat. Perasaan Chanyeol tidak dapat di definisikan.
*Rose*
"Di antara hadiah yang kau kirimkan waktu lalu. Jujur, hadiah ini yang mampu membungkam bibirku."
Baekhyun menyerahkan kotak kayu yang terukir unik ke telapak tangan Chanyeol usai membuka penutup kotak tersebut. Chanyeol menatap Baekhyun, jemari tangannya menyusup ke dalam kota guna meraih gelang biru naga yang terpahat sempurna.
"Gelang apa itu? Mengapa begitu indah, sepertinya memiliki arti yang sangat dalam?"
"Gelang mendiang Ibu Suri."
Baekhyun tercekat, sepasang iris puppynya berbinar terpesona sebab balutan perasaan menggebu tampak tidak sabar menanti ungkapan Chanyeol selanjutnya.
"Sebelum hembusan napas terakhir, beliau berpesan kepadaku. Kelak di saat kau telah mendapatkan belahan jiwamu. Menemukan seseorang yang mampu mengajarkanmu cara mencintai, menghargai dan mengasihi, lingkarkan gelang ini ke pergelangan tangannya."
Chanyeol meraih tangan Baekhyun, kemudian melingkarkan gelang biru tersebut ke lingkar tangannya. Begitu indah, seolah serasi dengan balutan putih halus yang mempesona. Baekhyun merunduk, menatap gelang biru yang terpasang di pergelangan tangan kanannya.
"Mengapa..."
Baekhyun meneguk ludah berat. "Mengapa kau melingkarkannya di tanganku, Chanyeol? Pantaskah?"
"Karena aku memilihmu."
Baekhyun menggelengkan kepala.
"Aku bukan orang yang tepat, jeoha. Aku bukan seseorang yang mampu mengemban amanah terakhir Ibu Suri. Aku hanya sebuah duri yang selalu mengoyak hatimu."
Kepala Baekhyun menunduk menggesturkan perasaan sesal dan bersalah yang teramat dalam atas semua tindakan yang dia lakukan selama ini terhadap Chanyeol.
Hela panjang terlontar dari celah bibir Chanyeol bersama gerak kepala yang merunduk, mengintip wajah sesal Baekhyun.
"Apa yang kau katakan, daegam? Tidak sadarkah bila kau yang mengajarkan semua perasaan itu kepadaku. Tidak sadarkah akan perubahan diriku setelah bertemu denganmu," kata Chanyeol sambil menarik dagu Baekhyun ke arahnya.
"Bukankah kala itu aku sempat menolakmu dan menyakiti hatimu, Chanyeol," ujar Baekhyun hendak menepis lontaran menenangkan dari Chanyeol yang secara langsung menjelaskan bila dirinya tidak bersalah.
Chanyeol menggelengkan kepala, menolak ucapan kekasihnya. Dia kemudian mengecup kening Baekhyun dengan mesra. "Itu bukan dirimu, sayang. Tetapi rasa takutmu yang menuntun dirimu untuk menjauhiku. Hal yang wajar ketika mengingat identitas kita. Oleh sebab itu, jangan suka menyalahkan dirimu sendiri seperti ini. Aku tidak menyukainya."
Iris kembar mereka saling bersiggungan, menyalurkan berbagai juta implus perasaan yang tidak mampu terlontar melalui celah bibir.
"Aku mencintaimu dan mulai saat ini mari bersama menghadapi rintangan yang berusaha menjegal langkah kita di kemudian hari."
Keputusan Chanyeol bertitah tegas di telinga Baekhyun, mengundang kepala untuk mengangguk menerima keputusan tersebut. Jemari tangan mereka saling bertaut; bergerak saling menguatkan hati manakala bayang-bayang kepedihan menyentak keraguan benak mereka.
Baekhyun memejamkan mata menikmati hembusan angin bersama napas Chanyeol yang mendesau menenangkan menuai gelenyar keteguhan hati yang membuahkan sebuah keputusan mutlak bila dia benar-benar akan berjuang bersama prianya mengarungi terjalan takdir yang mereka kata begitu pahit dan pedih untuk dilalui.
To be continue...
