Chapter 7

Tarian ujung tinta pada selembar kertas sejenak terhenti, geratan jemari yang menyelimuti tubuh tinta tampak menegang. Tatapan yang semula terpusat pada hamparan untaian kalimat yang belum sempat dia selesaikan beralih ke arah puncak kepala yang menunduk dalam.

"Ulangi perkataanmu."

Kepala yang tertunduk mengangguk patuh mendapat titah tegas tersebut.

"Kerajaan Joseon secara diam-diam menjalin hubungan kerjasama dengan Kerajaan Silla, Wang jeonha."

Tinta yang tergenggam tergeletak di sisi lengan. Dia memejamkan mata.

"Baik, pergilah."

"Ye, Yunho Wang geon. Saya mohon undur diri."

Pengawal itu melangkah mundur masih dalam posisi menunduk, kemudian melenyapkan diri dari balik pintu geser ruangannya. Selang beberapa menit, pintu geser ruangannya kembali terkuak menampakkan seorang pria baya berbalutkan dangui berwarna giok hijau tua.

"Apa yang harus saya lakukan untuk anda, Yunho Wang geon?" tanyanya sopan sambil bersimpuh di hadapan Yunho.

Yunho menggulung kertas yang belum usai dia rampungkan untaian kalimatnya lalu dia singkirkan ke sisi tubuhnya. "Beritahukan kepada seluruh petinggi Kerajaan. Hari ini aku akan mengadakan sidang."

"Baik, Wang jeonha. Saya pastikan informasi ini secepatnya tersebar di kalangan petinggi Kerajaan. Adakah hal lain, Wang jeonha?"

"Tidak. Pergilah."

"Ye, Yunho Wang geon. Saya mohon undur diri."

Hela napas panjang mengiringi kepergian sang Kasim. Yunho menyandarkan punggung pada balutan kayu yang menjadi sekat antara ruangan dengan kamar.

"Apa yang berada dalam pikiranmu, Changmin Sanggam? Tidak tahukah bila kau mengambil keputusan yang salah. Hendak melawan Goguryeo dengan berlindung di bawah kekuasaan Silla."

Kepalanya kemudian menggeleng beriringan dengan kekehan ringan yang mengandung beribu arti mengancam. Sorot baya yang terlihat mengabur tergilas usia terlintas berubah tajam, mengkelam dengan berbagai opsi di pikiran.

"Putra mahkota tidak selemah itu. Kau salah memilih lawan, Changmin sanggam." Kekehannya melagu terdengar tajam juga meremehkan.

*Rose*

Chanyeol mengerling, menatap Yunho dalam sorot datar tidak terbaca. Gulungan kertas yang bermula bernaung di tangan kanan Yunho terulur ke arahnya membuat pandangannya merunduk, menatap gulungan tersebut.

"Belum tertulis secara lengkap, kau berhak untuk melanjutkannya," titah Yunho yang di respon dengan anggukan singkat.

Chanyeol mengalihkan pandang, menatap hilir mudik para petinggi Kerajaan yang sibuk menyamankan tubuh di kursi masing-masing bersama kicauan berisik mereka.

Sorot datar yang menyorot lurus tanpa sengaja membungkam bisikan para petinggi Kerajaan yang tampaknya begitu menikmati kegiatan mereka hingga nyaris melupakan keberadaan pemimpin mereka.

Belum sempat Yunho berdeham guna menyurutkan kebiasaan yang sudah melekat dasar di tabiat masing-masing Menterinya, dirinya telah di kejutkan oleh hening sunyi yang mendadak mencekam.

Yunho menoleh kearah Chanyeol kemudian mengangguk paham begitu telah mengetahui penyebab aura mencekam tersebut.

Seorang sekretaris Kerajaan yang berdiam diri di samping singgasana Yunho, melangkah setapak ke depan setelah mendapat intruksi singkat dari jemari Yunho.

Gulungan kertas yang tersemat di lengan, kini tergenggam di sepasang tangan bergerak ke depan nyaris menghalangi pandangannya.

"Baik, karena semua telah berkumpul di ruangan ini. Maka, sidang hari ini dapat kita mulai. Saya selaku pembuka sidang kali ini akan menyampaikan beberapa topik pembahasan yang akan kita sidangkan, yaitu mengenai hubungan baru yang tengah Kerajaan Joseon dan Kerajaan Silla gemakan."

Gulungan kertas yang nyaris menghalangi wajah kembali tergulung dan tersemat di lengan. Pria paruh baya berbalutkan dalryongpo emas berlintaskan putih itu menunduk hormat kepada Yunho sebelum melangkah mundur menyamankan posisi seperti semula.

Bisikan samar kembali meraung menyekat keheningan yang sempat menyapa, roman-roman terkejut serta tidak percaya mengiringi gerak bibir mereka. Chanyeol menghela napas panjang, dia menyandarkan punggung ketika rasa pening tiba-tiba menyerang kepala.

Yunho berdeham keras bermaksud mengalihkan kesibukan mereka dari bisikan riuh. Para petinggi kerajaan itu pun sontak menegakkan tubuh, menatap Yunho dengan penuh minat usai mendengar isyarat tersebut.

"Seperti yang Sekretaris Tae sampaikan, hari ini kita akan membicarakan perihal tentang Kerajaan Joseon dan Silla. Adakah tanggapan?" tawar Yunho memulai perbincangan.

Seorang menteri berbalutkan dalryongpo merah mengangkat tangan.

"Ya, silakan Menteri Kang."

Menteri Kang menunduk mengucap terima kasih setelahnya bangkit dari kursi. "Rupanya kabar burung yang semula saya anggap hanya bualan semata terjadi dan cukup mengejutkan saya sebab Kerajaan aliansi dapat berkerja sama dengan Kerajaan musuh...-" Menteri Kang sedikit terkekeh kemudian menggelengkan kepala.

"...-namun, tidakkah hal ini cukup berbahaya, Yunho Wang geon. Secara tidak langsung Kerajaan Joseon hendak menyerang Kerajaan Goguryeo menggunakan kekuasaan Silla," lanjutnya sebelum kembali menyapa kursi.

Yunho mengangguk sekilas merespon ucapan Menteri Kang setelahnya mengedarkan pandang kearah menteri berpakaian biru yang rupanya hendak turut mengutarakan pendapatnya.

"Silakan Menteri Shin."

"Terima kasih, Yunho Wang geon."

Menteri Shin membungkuk hormat lalu beralih menegakkan tubuh bersiap melontarkan rajutan pendapatnya yang bernafsu ingin menyentak keluar sejak Menteri Kang usai melemparkan pendapatnya.

"Saya sependapat dengan Menteri Kang. Memang berbahaya bila hubungan kerjasama tersebut kita acuhkan. Mengingat peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu, tentunya Kerajaan Joseon ingin membalas dendam dengan membawa bala bantuan dari Silla..."

"Lantas?" tanya Chanyeol tiba-tiba memotong argumen Menteri Shin sekaligus sesaat mengaburkan keberanian Menteri Shin dalam ruaman niat untuk kembali melanjutkan untaian kalimatnya.

Pria paruh baya itu terlihat meneguk ludah berat sambil berpikir panjang, menimang setiap bait kata yang hendak dia lemparkan.

"Saya khawatir, mereka akan memenangkan peperangan ini sebab bantuan dari Kerajaan Silla," sambung Menteri Shin ragu.

Sudut bibir Chanyeol tertarik miring merasa konyol dengan untaian tersebut. "Anda meyakini kecemasan anda, Menteri Shin?" kejar Chanyeol dalam intonasi mengintimidasi.

Menteri Shin tergeragap, nada suara itu terdengar mengancam dirinya. "Mohon maaf, Wangseja. Saya tidak bermaksud meragukan kekuatan Kerajaan Goguryeo. Saya hanya mengungkapkan pendapat saya. Saya mohon maaf."

Pada akhirnya Menteri Shin membungkuk dalam meminta maaf, tidak mampu menghadapi kemarahan Putra mahkota.

Chanyeol kemudian mengerling Yunho meminta persetujuan Ayahandanya secara tersirat dan rupanya Yunho memahami maksud tersirat yang terlontar dari mata putra sematawayangnya itu hingga akhirnya dia mempersilakan Chanyeol untuk angkat bicara.

"Aku rasa sejak awal Joseon memang berniat melepaskan diri dari kekuasaan Goguryeo. Oleh sebab itu, mari merealisasikan keinginan mereka. Aku menerima keputusan perang mereka."

Ultimatum Chanyeol seketika menegangkan setiap tubuh baya petinggi Kerajaan yang terpongo di kursi masing-masing.

Mereka saling menatap tanpa kata, seolah pita suara tercabut dengan paksa. Lontaran kalimat yang berputar di otak terasa tergagap di ujung lidah. "Ba-bagaimana bisa?" bisik salah seorang menteri dalam nada gamang yang tampaknya tidak luput dari pendengaran Chanyeol.

"Menteri Soo, ingin berpendapat?" sergah Chanyeol tiba-tiba mengejutkan gumaman absurd Menteri Soo.

Menteri Soo nyaris menggigit ujung lidahnya dikala sapuan kebingungan sontak terhisap kesadaran. Dia mengalihkan pandang menatap Chanyeol dengan sorot keraguan sebelum memutuskan diri untuk beranjak bangkit dari kursi.

"Maaf, Wangseja. Saya tidak bermaksud menentang keputusan anda. Namun, alangkah baiknya jika keputusan untuk berperang ini ditangguhkan terlebih dulu sebab kalah jumlah."

"Apa pengalaman bertarungku tidak cukup untuk meyakinkanmu, Menteri Soo?"

Menteri Soo merunduk kalut. "Maafkan saya, Chanyeol Wang. Saya tidak bermaksud seperti itu. Sungguh, saya meminta maaf." Menteri Soo semakin membungkuk dalam sambil menggigit bibir resah.

"Bahkan kemampuan mereka telah aku ketahui. Meski, kalah jumlah aku pastikan Goguryeo tetap akan mengibarkan bendera kemenangan di akhir peperangan nanti," tegas Chanyeol mutlak tidak terbantahkan.

Seluruh menteri bungkam, tidak kuasa kembali meragukan untaian kalimat junjungan mereka bila sudah melantunkan nada tegas seperti itu.

Yunho menggelengkan kepala maklum saat mendapati tabiat keras sang putra bila sudah menyangkut tentang perang yang melibatkan harga diri Kerajaan. Chanyeol memang akan berubah menjadi sosok yang begitu diktaktor tidak mempedulikan saran siapapun serta seberapa kuat musuh yang menyapu pandangannya.

Dia akan tetap berdiri pada pendiriannya mengangkat pedang setinggi mungkin menghiraukan segala kemungkinan yang akan menghancurkan dirinya.

"Membutuhkan bantuanku, heum?"

Chanyeol menoleh, ulasan yang terdengar akrab tanpa embel-embel untaian formal yang diharuskan selama sidang berlangsung mengerutkan kening Chanyeol.

"Ayahanda, sidang masih berlangsung," koreksi Chanyeol.

Yunho terkekeh, tangan kirinya bergerak mengusap puncak kepala Chanyeol. "Tidak masalah bukan bila sesekali menghilangkan balutan kaku di antara kita meski sidang masih berlangsung?"

Para petinggi Kerajaan yang semula terduduk kaku di kursi masing-masing sedikit mengulas senyum ketika mendapati kehangatan yang tercipta di sepasang penguasa Kerajaan Goguryeo tersebut. Mereka tanpa ragu menganggukkan kepala membenarkan lontaran Yunho.

Chanyeol menghela napas pasrah, satu ukir tidak kasat mata menggaris di bibir merahnya. "Ye, tidak perlu Ayahanda. Cukup diriku beserta pasukanku. Aku yakin, Raja Silla pun tidak ikut turun tangan dalam perang ini. Bagaimanapun juga ini bukanlah perang antar Goguryeo dan Silla. Mereka hanya membatu Kerajaan Joseon."

Yunho mengangguk paham menerima jawaban bijak sang putra. Dia kemudian kembali menatap lurus ke depan hendak melemparkan gugusan akhir dari persidangan hari ini.

"Sesuai keputusan Chanyeol Wang, bahwa Kerajaan kita akan menerima setiap undangan perang yang akan Kerajaan Joseon kirimkan. Oleh sebab itu, mulai hari ini aku perintahkan kepada seluruh Jenderal Kerajaan Goguryeo untuk bergegas mempersiapkan pasukan mereka sebaik mungkin. Sidang selesai."

Yunho dan Chanyeol serentak bangkit dari singgasananya bersama barisan para petinggi Kerajaan, mereka membungkuk hormat di tiap-tiap kursi ketika Yunho dan Chanyeol menapaki lantai Balai Istana hendak melangkah keluar.

Tepat di balik pintu luar Balai Istana Chanyeol menundukkan kepala memberi hormat perpisahan kepada sang Ayahanda. Yunho tersenyum, tangannya terulur menyapa kepala Chanyeol.

"Rasanya Ayahanda ingin segera meletakkan tahta Kerajaan ini kepadamu, Putra mahkota."

Chanyeol menatap Yunho, untaian yang terlontar tampaknya sedikit menyindir dirinya. "Ayahanda," keluh Chanyeol yang menuai gelak tawa sang Raja.

"Baiklah. Baiklah. Apakah masih lama? Aku rasa tidak lama lagi Tahun Matahari..."

"Masih lama. Kurang lebih 3 bulan lagi, Ayahanda," sergah Chanyeol cepat menghentikan kalimat Yunho yang dia yakini berujung pada kalimat desakan baginya untuk bergegas mencari pendamping.

Chanyeol mengumpat dalam hati, tidak tahukah bila saat ini dirinya tengah menjalin hubungan dengan seseorang.

Yunho terdiam, sorot matanya menyendu menatap Chanyeol lekat. "Bukankah lebih cepat lebih baik, Putraku. Aku dengar Kangin hendak meletakkan tahtanya. Seharusnya Ayahanda juga melakukan hal yang serupa. Bukankah umur kami nyaris sama?"

Yunho sengaja mencurahkan keluh kesah hatinya di hadapan Chanyeol masih berupaya mendesak putranya untuk bergegas merealisasikan keinginan hatinya yang begitu menggebu.

Chanyeol menarik napas berat, tengkuknya tiba-tiba terasa berat. Bersanding dengan Yunho dalam kurun waktu lama rupanya cukup berbahaya bagi dirinya sebab dia akan terus terdesak dengan segala macam alibi dari sang ayah untuk bergegas mencari seorang pendamping dan baru kali ini Chanyeol merasa jengah dengan Kerajaan yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya.

Andai saja di antara Kerajaan mereka tidak terukir selayang darah permusuhan yang tercipta sebab para leluhur terdahulu, pasti Chanyeol sudah memboyong Baekhyun ke hadapan Yunho dan secepatnya melangsungkan ikatan benang merah di antara mereka.

Tetapi, kenyataan dan harapan memang selalu berbanding jauh.

Chanyeol memaksakan seulas senyum hangat di garis bibirnya. "Suatu saat nanti, Ayahanda." Sorot matanya melembut, Yunho tampak terkesiap dengan sorot yang terlintas meski hanya seulas.

"Di saat kami mampu menyatukan dua Kerajaan yang tertakdir di atas genangan darah permusuhan. Aku akan membawanya ke hadapan, Ayahanda."

Lantunan bait kalimat yang terlempar ambigu seketika terhempas ayunan angin dari tubuh Chanyeol yang berlalu dari hadapan Yunho usai membungkukkan tubuh memberi salam undur diri.

Bibir Yunho terbungkam oleh kilasan kalimat Chanyeol yang entah kenapa sontak mengingatkan dirinya pada seutas jalinan permusuhan antara Silla dan Goguryeo.

Sorot mata Yunho berubah teduh, menatap bayang punggung Chanyeol yang telah lenyap tertelan kelokan bangunan Balai Istana dalam siratan penuh makna.

"Sesungguhnya siapa orang itu, Chanyeol? Semoga kau tidak melewati batasanmu, Putra mahkota."

Gemuruh kacau sekejap melanda sanubari Yunho. Mengikatkan perasaan bingung sebab rasa cemas dan takut yang silih berganti mendobrak hati tanpa sebab.

*Rose*

Baekhyun menundukkan kepala, menenggelamkan diri dalam balutan prosa-prosa berat penuh makna yang tertuang dari penulis-penulis leluhur terdahulu. Perlu pemahaman berlebih dan tidak hanya sekadar sekilas mengerjap, dia bahkan perlu mengulang dua hingga tiga kali perbait kata dalam pemahamannya.

Sekalipun tampak membuat kepala memberat, tetapi Baekhyun terlihat menikmati kegiatannya.

Memang sudah menjadi suatu kebiasaan paten, saat dirinya sedang tidak dirundung berbagai pelatihan atau tengah senggang. Dirinya pasti akan bergegas menghancurkan waktu senggang tersebut dengan menenggelamkan diri ke dalam hamburan buku-buku tebal di sekitar sudut pandang.

Seperti halnya saat ini, ketika dia akhirnya terpaksa kembali ke kursi singgasana demi menghadiri sebuah sidang yang mengharuskan kedatangannya. Baekhyun senantiasa memusatkan pikiran serta pandangan pada buku tebal pengkaji ilmu pengobatan tersebut.

Menghiraukan kebisingan sekitar sebab para petinggi Kerajaan yang sibuk berkicau indah, Baekhyun mencoba menulikan pendengarannya.

Dia bergeming, tetap pada posisi. Tidak berniat mengangkat wajah walau hanya sekadar mengerling para petinggi Kerajaan guna mengetahui isi obrolan yang terlihat menarik.

"Serius sekali."

Baekhyun tersentak, bisikan seseorang sontak mengetuk kesadarannya. Kepalanya kemudian menoleh ke asal suara dan mendapati Sehun yang tengah mengulaskan satu senyuman lebar.

Baekhyun turut tersenyum sambil mengedarkan pandang sejenak dan mendapati Jongin beserta Kangin yang baru saja menyapa singgasana mereka.

"Hem, seperti biasa," balas Baekhyun ringan sambil menutup sampul buku. Sehun terkekeh, kepalanya menggeleng dua kali.

"Bukankah sangat membosankan membaca buku setebal itu, oh Dewa. Aku menyerah." Sepasang tangan Sehun terangkat memberi simbol gestur menyerah menuai lekuk tawa dari Baekhyun.

"Ya, untuk hyung. Tetapi, tidak bagiku."

"Aih. Kau ini."

Sehun mengacak surai Baekhyun sebelum mendorong wajahnya mendekat meneliti wajah cantik adiknya. "Ada apa ini? mengapa tiba-tiba bersedia menghadiri sidang?" tegur Sehun setengah menyindir.

Baekhyun mengembungkan pipi kemudian menyipitkan kelopak mata bermaksud memberikan gestur keseriusan diri. "Beberapa hari ini aku dalam kondisi kurang sehat, hyung," alibi Baekhyun sambil mengerang jengah.

Sehun menegakkan tubuh begitu mendengar deham sang Raja serta Putra mahkota yang nyaris terlempar bersamaan. Sekilas dia menatap tajam Jongin kemudian beralih sejenak ke arah Baekhyun.

"Baiklah. Baiklah. Hyung, mengerti," ujar Sehun mengalah.

Mendapati hal tersebut, lekuk menawan kembali menghiasi bibir Baekhyun.

Pandangannya kemudian beralih, menatap lurus ke arah sekretaris Kerajaan yang mulai mengambil langkah ke sisi Kangin. Gulungan kertas tersemat di lengan hendak melantunkan barisan huruf hangul di balik gulungan namun tertahan oleh lontaran Kangin.

"Tahan Sekretaris Park. Kita masih harus menunggu kedatangan seorang lagi."

Sekretaris Park mengangguk patuh. Selang beberapa menit pintu Balai Istana terbuka menampakkan seorang pria tampan berbalutkan gonryongpo merah dengan simbol naga lima jari di sepasang bahu, dada dan punggung.

Melangkah tegas sedikit ponggah di selaras Balai Istana. Dia membungkuk hormat begitu berdiri tepat di hadapan Kangin.

"Maaf, saya terlambat Kangin Sanggam," katanya sopan.

"Silakan duduk Changmin Sanggam. Sidang akan segera dimulai," titah Kangin menghiraukan ungkapan bersalah Changmin karena keterlambatannya.

Changmin menganggukkan kepala, ia kemudian menyamankan duduk di sisi kiri Kangin berhadapan dengan barisan Sehun dan Baekhyun tanpa pula menghiraukan roman diri Kangin yang tampak dingin di hadapannya.

Changmin mengedarkan pandang tanpa sengaja mata mereka bersinggungan, Baekhyun lantas bergegas memutus kontak mata. Merasa tidak nyaman dengan sorot kelam yang mengandung beribu arti, sementara Changmin mengulas senyum takjub.

Masih meneliti wajah Baekhyun dibalik lambaian surai halus nan pekat itu. Tidak dipungkiri, Changmin terlihat terpesona.

"Baik. Sidang pada hari ini akan segera dimulai. Saya selaku pembuka sidang hendaknya diperkenankan untuk menyampaikan beberapa topik penting mengenai sidang yang akan segera kita langsungkan, yaitu tentang persiapan perang melawan Kerajaan Goguryeo."

Baekhyun terhentak, punggung yang menyandar di kursi tanpa sadar menegang. Rona wajahnya termangu menatap lekat sang sekretaris Kerajaan dalam kilatan terkejut.

"Apa?!" gumam Baekhyun tercekat. Iris puppynya beralih menatap Changmin yang rupanya senantiasa mencuri pandang ke arahnya. Sudut bibir mencemooh terlintas di pandangan.

"Ya, silakan Menteri Kim."

Baekhyun menunduk, untaian jemari saling bertaut acak di bawah meja ketika suara sang Ayahanda menyentak keheningan di ruangan tersebut, mempersilakan seorang pria paruh baya berjenggot panjang berbalutkan dalryongpo merah untuk bergegas melontarkan pendapatnya.

"Kangin Wang geon. Tidakkah ini terlalu terburu-buru. Maksud saya, mungkin persiapan para prajurit Silla belum cukup matang sementara kita akan melawan pasukan Goguryeo."

"Anda meragukan kekuatan pasukan kami, Menteri Kim?" sergah Changmin tangkas mengalihkan Menteri Kim. Menteri Kim membungkuk meminta maaf.

"Saya mohon maaf, Sanggam. Saya hanya hendak menyampaikan pendapat saya tidak bermaksud meragukan kekuatan pasukan Silla dan Joseon."

"Aku rasa perpaduan pasukan Silla dan Joseon sudah lebih dari cukup untuk memukul mundur perlawanan pasukan Goguryeo. Bagaimanapun juga mereka telah kalah jumlah," kata Changmin arogan dan penuh kepercayaan diri.

Baekhyun mengeryit tidak suka begitupula dengan Jongin dan Sehun yang hanya mampu membuang napas jengah akan tabiat buruk sang penguasa Joseon.

"Ya, silakan Menteri Jung."

"Ye, Terima kasih Kangin Wang geon." Menteri Jung membungkukkan badan lantas beralih memaku pandangan ke wajah Changmin. "Maaf Changmin Sanggam. Mengingat pengalaman bertarung pasukan Goguryeo dalam pimpinan Chanyeol Wangseja, patutnya kita tidak bertenang diri sekalipun mereka kalah jumlah."

"Bahkan waktu lalu kabar pernah mengatakan bila pasukan Chanyeol Wangseja berhasil menginvasi salah satu Kerajaan besar di dataran Cina meski hanya membawa sekumpulan pasukan yang dapat dihitung dengan jari," sahut Menteri lain dalam duduknya.

Baekhyun menyimak perbincangan dalam diam, jantungnya terus berdentum kacau setiap bibir melontarkan nama seseorang yang beberapa bulan ini bernanung di hati. Dia mengangkat wajah, menatap Changmin yang sejenak kehilangan suara.

"Kerajaan kami pernah menjalin kerjasama dengan Goguryeo dan rupanya kalian terlalu termakan dengan kicauan burung di alam liar."

"Maaf, Changmin Sanggam. Anda dapat menjahit bibir kami bila apa yang kami utarakan hanya bualan semata," tandas Menteri Kim sebelum menyamankan tubuh di kursi.

Changmin memejamkan mata, berupaya menenangkan emosi diri yang mulai bergerumuh di hati. Tubuhnya kemudian bangkit dari singgasananya menatap tajam barisan menteri yang tampak menentang titahnya.

"Bahkan kalian merangkai kata tanpa pernah sedikitpun mengecap medan perang!"

"Sekali lagi, saya mohon maaf bila telah bertindak lancang Changmin Sanggam. Sebelum menjadi seorang menteri, kami beberapa kali turut ikut andil dalam perang. Dan beruntung kami pernah mengecap pekatnya perang dengan Kerajaan Goguryeo sebab perebutan batas wilayah. Dan meskipun, saat itu Chanyeol Wangseja masih sangat muda berusia sekitar tiga belas tahun. Namun, kemampuan memanahnya tidak dapat dipandang remeh," ulas seorang menteri berbalutkan dalryongpo biru yang masih cukup muda.

Napas Changmin tersenggal, amarahnya semakin menyulut roman wajahnya. Nyaris meledak bila suara Kangin tidak menyela.

"Ya, aku akui. Kemampuan pasukan Chanyeol Wang memang tidak bisa dipandang remeh, terlebih kemampuan beliau sendiri. Namun, tidak berhak pula bagi kita untuk melangkah mundur sebab kita juga memiliki segudang pasukan handal tidak kalah menakjubkan dari pasukan Goguryeo. Ingatkah bila hanya Silla yang mampu bersaing dengan kerajaan Goguryeo."

Anggukan kepala para petinggi Kerajaan menyurutkan amarah Changmin, ia kemudian kembali menyamankan duduk. Menatap Jongin yang tengah berbisik lirih dengan sang penguasa Silla.

"Maaf, Kangin Wang geon."

Suara Baekhyun menyeru dibalik bisikan Jongin. Mereka serempak menatap Baekhyun. Si Pangeran bungsu yang begitu mahal tutur katanya bila di tengah meja sidang kini tampak hendak mengutarakan pendapatnya.

Sungguh menakjubkan.

"Ya, silakan Baekhyun daegam," titah Kangin lembut namun masih dalam getar nada yang menegas tajam.

Baekhyun bangkit dari singgasananya, membungkukkan tubuh sekilas lantas menatap wajah Kangin lekat-lekat.

"Mengapa tidak mencoba jalan perundingan terlebih dulu? Jalan perang tidaklah selalu menjadi pilihan yang terbaik," tutur Baekhyun memulai ketidaksetujuannya atas keputusan tersebut.

"Bila kami mampu mengecap jalan perundingan tentunya Kerajaan Goguryeo dan Silla sudah bersanding sejak lama, Baekhyun daegam," jawab Jongin sambil mengurai senyum hangat.

Baekhyun menarik napas berat lalu dia hembuskan. "Apakah Kangin Wang geon turut serta dalam perang ini? serta bagaimana dengan nasib rakyat? Apakah transmigrasi bergilir kembali dicanangkan?"

"Sesungguhnya perang kali ini tidak terlalu besar, karena Silla hanya membantu Joseon dalam pergulatan balas nyawa tersebut. Maka dari itu, Kangin Wang geon tidak perlu turun tangan sebab saya yakin bila penguasa Goguryeopun pula tidak akan turun tangan. Kemungkinan terbesar kita hanya akan menghadapi pasukan Goryeo Wangseja. Mengenai rakyat, tidak perlu anda risaukan Gun daegam. Kami akan memilih medan perang yang jauh dari pemukimam dan Kerajaan," jelas Jongin lembut masih bersama ukiran senyum di bibir.

Raut wajah yang tampak menegang kacau itu cukup membuat dirinya berhati-hati dalam memilah kata. Sejak dulu, Baekhyun memang kekeuh menentang adanya perang.

Ia mengetahui perasaan Baekhyun oleh karena itu Jongin mencoba mengalunkan bait kalimatnya dengan nada serendah mungkin.

"Baiklah. Saya mengerti. Terima kasih."

Baekhyun menundukkan kepala kemudian kembali menyamankan tubuh di kursi. Nada datar yang terhembus sontak mengaburkan aura senyap di sekitar Balai.

Jongin menghela napas panjang begitu dengan Kangin yang senantiasa memaku pandangan ke Baekhyun.

"Tidak adakah saran lain, Baekhyun daegam?" pancing Jongin berusaha mencairkan suasana.

Baekhyun tersenyum, begitu lembut meski balutan mata tersorot penuh rasa kecewa. "Pantaskah saya memberi saran bila apa yang saya lontarkan selalu bertolak belakang dengan prinsip Kerajaan, Wangseja?" tutur Baekhyun sopan, namun mengentak setiap insan yang bernyawa di ruang tersebut.

Jongin menganggukkan kepala, gestur tubuhnya memberi untaian kalimat meminta maaf. Sementara, Baekhyun mengalihkan pandang merutuki kobaran jiwanya yang nyaris tersulut.

Tidak seharusnya dia terbawa emosi, bagaimanapun juga Jongin hanya tengah menjalankan perannya. Sesungguhnya kakaknya pun tidak ingin mengambil jalan seperti ini, akan tetapi tradisi Kerajaan yang memang selalu mengunggulkan perang yang patut disalahkan dan dirubah.

Baekhyun memejamkan mata berupaya menenangkan gemuruh emosi yang menyelubungi hati yang nyaris saja membuncah keluar menenggelamkan tabiat santunnya.

"Baiklah. Sesuai dengan penjelasan Jongin Wang, maka saya perintahkan kepada pasukan Sehun daegam dan pasukan Jongin Wang untuk memimpin perang. Segera persiapkan pasukan kalian sematang mungkin," titah Kangin yang di balas serentak dengan anggukan Jongin dan Sehun.

"Sidang hari ini di tutup."

Kangin bangkit dari singgasananya diikuti dengan Jongin, Sehun, Baekhyun dan Changmin.

Melangkah beriringan bersama sambutan para petinggi yang bangkit dari kursi sambil membungkuk hormat. Tepat di balik pintu Balai Istana, Kangin terlebih dulu memisahkan diri dari rombongan menyisakan Baekhyun, Sehun, Jongin dan Changmin.

Baekhyun mengalihkan pandang, menatap bergilir tiga pria tampan yang serentak mengerling ke arahnya. Menghiraukan tatapan Changmin dia berusaha melugaskan lontaran kalimatnya.

"Adakah hal lain yang perlu dibicarakan?"

Sehun tertawa, tangannya terangkat mengusap puncak kepala Baekhyun.

"Hey, mengapa terburu-buru? Kau masih marah dengan kakak tertua kita?" gurau Sehun sembari menyenggol lengan Jongin. Jongin mengusap tengkuk, merasa tidak enak hati menerima tatapan Baekhyun.

"Tidak. Itu sudah menjadi tugas, Jongin hyung. Aku bisa memahaminya," ujar Baekhyun menenangkan pergulatan hati Jongin.

Seulas senyum lega terpatri di bibir Jongin bersama pergerakan tubuh yang mendekat, merengkuh tubuh Baekhyun.

"Maafkan hyung. Bukan bermaksud mengecewakan hatimu, Baekhyun-ah."

"Aku baik-baik saja, hyung. Tidak perlu merasa bersalah."

"Sungguh interaksi yang terasa hangat."

Alunan Changmin serentak mengalihkan kegiatan mereka. Tiga bersaudara itu kemudian menatap Changmin dengan sorot mata berbeda. Changmin beralih menatap Baekhyun menghiraukan tatapan menusuk dari Jongin dan Sehun.

"Bolehkah saya mencuri waktu anda sejenak, Gun daegam? Ada perihal penting yang ingin saya utarakan kepada anda, hanya berdua."

Sehun berkacak pinggang di hadapan Changmin mengabaikan tata kesopanan yang dia junjung tinggi. Seolah menguap bila berhadapan dengan penguasa Kerajaan Joseon tersebut.

"Changmin Wang geon. Perlu anda mengingat hal ini, bahwa Kerajaan kami belum sepenuhnya menyetujui ikatan benang merah yang anda lantunkan beberapa bulan silam. Maka dari itu, dimohon agar menjaga tingkah laku anda selama bersama Baekhyun daegam. Segores saja anda menyentuh dongsaeng kami. Saya tidak akan segan memperhitungkannya kepada anda."

Baekhyun mengulas senyum dalam hati mengetahui tabiat Sehun yang memang lebih tempramental ketimbang Jongin. Tidak mempedulikan situasi dan siapa lawan bicaranya, Sehun akan tetap menunjukkan taringnya bila mengenai sang adik tersayang.

Changmin menghela napas berat, mengurut kening sekilas kemudian mengangguk paham.

"Setidaknya saya seorang Raja, Sehun daegam. Dan seorang Raja tidak patut bertindak sembarangan. Kami masih memiliki etika."

"Hn. Terima kasih."

Sehun beranjak dari posisi menghadang tubuh Baekhyun. Baekhyun menghela napas malas, sesungguhnya dia merasa enggan mengadu argumen bersama Changmin sang penguasa Joseon yang kabarnya ingin mempersunting dirinya dan pula sang penyebab kobarnya perang antara Goguryeo dan Silla meski Silla hanya dalam posisi membantu.

Tetap saja Baekhyun merasa kesal, bayangan akan dirinya yang bertemu Chanyeol di medan perang menghantui pikiran Baekhyun.

"Baik, mari Baekhyun daegam," titah Changmin mengawali langkah mereka.

Jongin dan Sehun masih di posisi menatap lekat punggung Baekhyun dan Changmin hingga lenyap di kelokan taman Kerajaan. Mereka kemudian saling pandang.

"Kita kembali?" tanya Jongin.

Sehun menghela napas panjang, sekali lagi menatap kelokan yang melenyapkan tubuh adiknya.

"Baiklah. Kita kembali."

*Rose*

Baekhyun menjaga jarak, guratan jemari di sampul buku terlihat mengerat ketika sorot mata yang menghunus tajam terpaku ke arahnya tampak meneliti seluruh tubuhnya.

Changmin berdeham, sepasang lengan tertaut di balik punggung. "Sungguh, saya tidak mengira akan bertemu dengan seorang pria berparas seindah ini, Rose daegam."

Baekhyun mendongak pandang, menatap Changmin dalam sorot percikan penuh kewawasan diri.

"Tidak heran bila seorang Putra mahkota yang begitu tersohor akan sikap bengisnya jatuh hati kepada anda."

Kening Baekhyun berkerut tidak mengerti dengan alunan kalimat selanjutnya yang terlafal dari celah bibir Changmin.

"Apa maksud anda, Wang geon?"

Changmin terkekeh sembari mengalihkan pandang ke depan. Menatap bunga teratai yang bergoyang pelan sebab tarian ikan di bawah daun lebarnya. Sebuah kolam kecil berhiaskan air mancur dan berbagai ikan koi terletak di tengah taman. Turut menyemarakan keindahan taman buatan tersebut.

"Putra mahkota Goguryeo."

Baekhyun tersentak, salah satu kakinya tanpa sadar melangkah ke belakang.

"Sebuah hubungan terlarang, heum."

Sorot mata yang mengerucut intimidasi dari Changmin mengacaukan pikiran Baekhyun. Binar puppynya mengedar acak berupaya mencari pijakan untuk mengendalikan diri.

"Hubungan yang seharusnya dihancurkan."

"Anda menguntai bait kalimat seolah anda telah mengetahui segalanya," sergah Baekhyun datar.

Changmin menggeleng pelan, napas tersenggal serta rona wajah yang memucat pasi menggelitik hatinya.

"Tentu saja saya sudah mengetahuinya, daegam. Sejak terbunuhnya lima prajurit saya waktu lalu."

"Hanya sebatas mengetahui tetapi tidak memahami kenyataan yang terpapar. Bila anda sadar diri, seharusnya anda tidak sembarang melempar bait kata yang belum diketahui dengan benar kepastiannya sebab hal tersebut dapat menodai citra anda di khalayak umum."

"Lantas, haruskah saya membuka semua lembaran pertemuan anda bersama Chanyeol Wang, daegam. Oh, beserta tempat kunjungannya pula, mungkin."

"Changmin Wang Geon."

Rahang Baekhyun mengeras bersambut gemeletuk gigi yang berirama, rona merah yang semula terbalut samar kini terlihat pekat hanya sebatas pipi namun mampu mengulaskan secara gestur bila Baekhyun tengah menahan diri untuk tidak hilang kendali.

Changmin melangkah maju, menyekat jarak di antara mereka dan berdiri tepat di hadapan Baekhyun.

"Ada apa, daegam? Apa anda merasa takut?"

Changmin menyipitkan mata. "Ah, tidak. Anda merasa geram, sangat kesal dan membenci. Ingin membunuh saya. Benar begitu, daegam?" lontaran kata yang terlafal terdengar kian merendahkan Baekhyun sekaligus menyudutkannya.

Ingin rasanya dia mewujudkan pertanyaan terakhir. Tetapi, dirinya cukup bermartabat untuk tidak melakukan hal konyol yang justru akan membawa dirinya ke dalam bara api yang berkobar.

Jemari Changmin terulur, mengusap dagu Baekhyun yang sontak tertepis dengan kasar.

Kekehan ringan kembali melagu. Mengindahkan tatapan kelam Baekhyun, Changmin berusaha mendekat, meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya. Benar, Baekhyun memberontak bahkan nyaris menampar wajah Changmin bila si penguasa Joseon tidak bergegas membalik tubuh Baekhyun dengan salah satu tangan terbekuk di belakang.

Changmin mencondongkan tubuh, meletakkan dagu di bahu Baekhyun.

"Hubungan kalian tidak akan terbongkar selama anda bersikap baik kepada saya."

"Saya tidak peduli. Anda hanyalah seorang penguasa Joseon yang beruntung dapat berkerjasama dengan Silla. Tidak patut anda memerintah saya!" kata Baekhyun dingin dengan geraman yang tertahan di ujung lidah.

Changmin tertawa, ia semakin mengeratkan genggamannya pada lengan Baekhyun.

"Tidak dengan sekarang. Tetapi, iya untuk nanti."

"Aku tidak mengerti," kesal Baekhyun sambil menggoyangkan lengan, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Changmin.

"Bila aku berhasil memukul mundur perlawanan pasukan Goryeo Wangseja. Bisa dipastikan detik itu juga, kau akan menjadi milikku, daegam."

Baekhyun terpaku, binar mata yang memburam sebab balutan emosi yang kian memuncak, berubah kosong dengan sorot terkejut.

"Tidak mungkin. Ayahanda tidak mungkin mengizinkanku menjadi seorang selir," gumam Baekhyun kacau.

Changmin memiringkan kepala menilik sisi wajah Baekhyun. "Sayang sekali, Baekhyun daegam. Seorang Raja pantang menjilat ludah yang telah terbuang dan Kangin Sanggam telah menyetujui persyaratan tersebut secara pribadi."

"Pembohong! Aku mengetahui dengan jelas tabiat Ayahanda. Mustahil bila beliau menyetujui persyaratan rendah semacam itu!" teriak Baekhyun usai melepaskan diri dari jeratan Changmin.

Kilatan marah makin mengkelam dengan sinar mata yang berubah menjadi merah.

Changmin memejamkan mata, ayunan angin membelai tubuh yang menggelora panas. Surai kelam Baekhyun terurai menghalangi sebagaian sorot tajam bagai ujung pedang yang siap menebas kepala setiap musuh yang menyapa mata.

"Dapatkah kau menafsirkan hati seorang manusia, daegam? Menafsirkan hati manusia tidaklah semudah mencari cincin yang tenggelam di dalam genangan lumpur. Manusia ditakdirkan dengan getar hati yang mudah berubah, terlebih bila kekuasaan serta ambisi menyelimuti dirinya."

Kelopak mata Changmin terbuka menampilkan sepasang iris tajam yang menyipit pekat tepat di sepanjang garis puppy Baekhyun.

"Apapun akan mereka lakukan? Sekalipun harus rela merubah ketetapan hati. Tidak akan menjadi suatu masalah bila demi ambisi yang lebih mendominasi sisi kemanusiaannya."

"Jangan lupakan kenyataan tersebut, Gun daegam."

Baekhyun masih mematung tidak percaya. Ucapan yang terlempar keluar mampu menyentak kesadarannya akan sifat manusia yang hakiki dan tidak bisa lepas meski seribu kebaikan pernah menaungi. Kini dirinya dirundung perasaan kalut yang tiada berujung.

Changmin berbalik, punggung tegap yang tampak ponggah menghiasi pandangan Baekhyun.

"Sebaiknya menyegerakan diri beranjak dari hubungan yang salah. Takdir kalian terlalu berat. Lebih baik hidup bersamaku, aku akan berusaha bertindak adil walau kau hanya seorang selir, daegam," pesan Changmin sebelum melangkah pergi.

Baekhyun terhuyung ke belakang, nyaris menyapa tanah bila tangan tidak berpijak pada pohon sakura yang bergerak riuh menggugurkan gugusan kelopak sakuranya akibat koyakan angin yang mengganas.

Perkataan Changmin bagai mantra magis yang terus berulang di pikiran menggerogoti ketenangan jiwanya. Rasa pening mengetuk pikiran, berlomba dengan dengungan kalimat di sepasang telinga.

Baekhyun begitu kacau hingga dirinya tidak sadar telah merosot ke tanah. Suara tepakan langkah tergesa samar menyambangi telinga. Beberapa dayang dan pengawal tergopoh dengan kondisi junjungannya yang mendadak tidak sadarkan diri.

Sementara Baekhyun hanya mampu memejamkan mata, kesadaran masih dia dapatkan namun tubuhnya terasa lemas bersama pening yang berdenyut-denyut nyeri. Hela panjang, mengiringi kesadaran Baekhyun yang kian melambung jauh. Kini dirinya benar-benar terlelap. Menghiraukan keadaan sekitar yang tiba-tiba berubah kacau.

*Rose*

Malam menjelang dan Baekhyun masih menyibukkan diri menatap untaian huruf hangul di selayang gulungan kertas kecil. Bibirnya mendesah penuh sesal, mengingat kondisi tubuhnya yang tiba-tiba menurun mengharuskan Baekhyun untuk istirahat total dan terus berbaring di futon sutera dengan kain putih yang menghiasi kening.

Hingga dirinya terpaksa mengacuhkan surat Chanyeol yang kembali mengajak dirinya untuk berjumpa. Baekhyun memejamkan mata, lengan tertumpu di wajah. Bagaimana dirinya melangkah ke tempat yang telah di tuliskan bila untuk duduk saja alam semesta terasa berputar.

Suara jendela yang mengentak dinding seketika meramaikan keheningan di sekitar Baekhyun. Sinar rembulan yang sejak tadi mengintip dari balik jendela sontak lenyap menyisakan kegelapan di sekitar ruangan.

Baekhyun berdecak, ia benci dengan kegelapan dan kini dirinya di haruskan beranjak bangun demi menyalakan lilin sementara denyut pening masih menjadi.

Malas bersuara keras sebab tenggorokan yang turut terisolir rasa sakit dan membuatnya serak, Baekhyun pada akhirnya memaksakan diri untuk bangun. Jemari tangan bergerak memijat kening yang berdenyut-denyut.

Sibuk dengan pijatan di kening, pria cantik bersurai kelam itu tidak menghiraukan bayang semu seseorang yang selintas memasuki kamar.

Tidak berselang lama, suara pekikan keras seketika meriuhkan suasana senyap di paviliunnya ketika seseorang merengkuh tubuhnya dari belakang. Baekhyun kemudian memberontak hebat hingga nyaris mengeluarkan jurus bela dirinya bila seseorang di balik tubuh tidak secepat kilat mengecup pipinya.

Baekhyun menolehkan wajah, bayang wajah tampan di balik kegelapan sontak membuatnya tenang.

"Dasar penyusup kurang ajar," gerutu Baekhyun sambil menyamankan kepala ke dada si penyusup. Kekehan ringan terdengar dari balik tubuhnya.

"Mengapa tidak menghadiri undanganku, heum?" bisik Chanyeol sambil mengeratkan rengkuhannya.

"Kau tidak merasakannya?" Baekhyun balik bertanya.

Ia menatap Chanyeol, kening Chanyeol berkerut kemudian mendekatkan wajah menyapukan bibir di kening Baekhyun.

Seketika sepasang iris tajam Chanyeol membulat kaget. "Sayang, kau terserang demam. Sejak kapan?" Chanyeol menyatukan kening merasakan suhu badan Baekhyun yang memanas meski tidak terlampau panas.

Tetapi, mampu membuat Chanyeol tercekat cemas. Beruntung pikirannya mengomando langkah kaki untuk kembali menyelinap masuk ke dalam paviliun kekasihnya, bila tidak begitu mungkin malam ini dia tidak akan bisa terlelap dengan tenang.

"Tadi siang," jawab Baekhyun pelan.

Suaranya bergetar serak. Chanyeol menatap lekat wajah Baekhyun, meneiliti kekasihnya. Baekhyun berdecak, tangan kanan terangkat berniat menghalangi pandangan Chanyeol.

"Berhenti memandangiku seperti itu. Aku baik-baik saja. Dan ah, tolong nyalakan lilinnya. Ini gelap sekali."

Chanyeol tersenyum, mengecup bibir Baekhyun sekilas kemudian beranjak mencari tungku lilin.

Usai menyalakan lilin dan meletakkannya di sudut kamar dia kembali ke tempat Baekhyun kemudian merengkuh tubuh kekasihnya.

"Apa tabib sudah memeriksa keadaanmu?"

"Tentu saja. Semua proses penyembuhan sudah aku jalani, maka dari itu jangan cemas. Sekarang aku hanya butuh istirahat."

Baekhyun menyamankan kepala di dada Chanyeol, kelopak matanya bergerak menutup. Chanyeol merunduk menyesap puncak kepala Baekhyun yang turut memanas.

"Sepertinya aku menyelinap di waktu yang tidak tepat?" gumam Chanyeol terdengar bersalah.

"Tidak juga." Baekhyun menggeleng.

"Sejujurnya aku tengah membutuhkanmu saat ini," lanjutnya menuai kerutan pertanyaan di sepasang alis Chanyeol.

"Sesuatu telah terjadi?"

Chanyeol merasakannya, sekilas tubuh Baekhyun menegang.

"Tidak. Tidak ada."

Chanyeol memahami, Baekhyun tengah beralibi.

"Sayang.."

"Tidak ada, Chanyeol. Semua baik-baik saja."

Chanyeol makin yakin bila Baekhyun tengah berbohong kepadanya. Dia kemudian merubah posisi Baekhyun, menyamankan tubuh Baekhyun ke pangkuannya.

"Chan-.."

Baekhyun tersentak, sesungguhnya dia cukup malu dengan posisi seperti ini, begitu intim dan tanpa sekat.

"Katakan," tegas Chanyeol sambil menatap lurus wajah Baekhyun.

Baekhyun memelas, sementara Chanyeol menggelengkan kepala.

"Katakan, sayang..." titah Chanyeol mendesak Baekhyun.

Baekhyun mendesah berat, ia kemudian menundukkan kepala. "Perang..." Baekhyun mengerjap bingung, selang beberapa menit tiba-tiba terpekik frustasi.

"Aih! Bagaimana cara memulainya?" desau Baekhyun putus asa sambil menyembunyikan wajah di ceruk leher Chanyeol.

Chanyeol terkekeh pelan, tangannya terangkat mengusap punggung Baekhyun. "Perang antara Goguryeo dan Silla. Tidak, tetapi Perang antara Goguryeo dan Joseon."

Baekhyun mengangguk, hela panjang terseduh dari celah bibirnya. "Tidak bisakah ditangguhkan? Mengapa selalu memilih jalan perang?" tanya Baekhyun melanjutkan ucapan Chanyeol.

"Kami hanya mengikuti keinginan Joseon, sayang. Mereka berpikir bahwa nyawa haruslah terbayar dengan nyawa pula."

Baekhyun makin menyusupkan celah wajah yang mengintip ke leher Chanyeol. Jantungnya berdetak cepat mendapati gemuruh resah yang kembali menaungi sanubarinya.

"Aku hanya tidak bisa mendapatimu di medan perang," gumam Baekhyun teredam leher Chanyeol tetapi masih mampu menyapa telinga.

Chanyeol menarik napas berat, kepalanya bergerak miring bermaksud menyatukan sisi wajah pada kepala Baekhyun.

"Kau masih mengingat janjiku, bukan. Tidak perlu cemas, sayang. Semua pasti baik-baik saja."

Baekhyun mengangkat wajah menatap Chanyeol dengan sorot kelam terbiaskan temaram cahaya lilin.

"Terlalu berat Chan." Baekhyun menggeleng pelan.

"Di dalam perang hal yang tidak pernah terbayangkan bahkan bisa menjadi kenyataan. Aku menakutkan hal tersebut," lirih Baekhyun mengecil sambil menggigit bibir bawah.

Kelopak matanya terpejam, meresapi segala asa yang mengombak badai di selubung hati yang kian menyesakkan. Chanyeol menggelengkan kepala, sepasang tangannya terulur membingkai wajah Baekhyun.

"Hey, mengapa mendadak suram, hn? Aku akan melindungimu, sayang. Aku berjanji segala hal yang tengah kau risaukan saat ini tidak akan pernah terjadi di medan perang nanti. Lagipula, kami sedang tidak berperang dengan Silla. Silla hanya membantu, jadi jangan cemas. Semua pasti baik-baik saja."

"Jangan cemas. Kau bilang jangan cemas. Sekalipun Silla hanya membantu, tetap saja ini begitu membahayakan pasukanmu. Sejak awal kalian kalah jumlah. Silla pasti akan menyusup dibalik ambisi Joseon. Tidakkah ini begitu menakutkan. Bagaimana bila nanti kau terluka? Bagaimana bila nanti pasukanmu tertolak mundur? Bisakah kau bilang jangan cemas sekarang. Bisakah-..."

Sentuhan lembut di bibir meneruskan perjuangan bulir air mata yang sempat tertahan di pelupuk mata. Baekhyun menangis dalam balutan bibir Chanyeol, bulir air mata sesekali menyusup di celah bibir yang saling tertaut.

Chanyeol menekan kening Baekhyun, hembusan hangat hilir mudik menerpa wajah mereka. "Dengar, kau sudah melihatnya bukan. Garis melintang di dadaku, sayang. Atas kuasa Dewa aku masih mampu berdiri meski luka tersebut menganga lebar. Jika masalah luka, aku mampu menahannya. Seharusnya tidak terlalu mencemaskan hal tersebut. Asal kau dalam keadaan baik, aku pun akan baik-baik saja. Tapi, sepertinya ada hal lain yang tengah kau risaukan selain kekalahanku. Apa itu? Katakan sayang. Hal apa yang masih kau sembunyikan?"

Chanyeol berbisik lembut, sapuan tangan di wajah bergerak lembut menahan isakan Baekhyun untuk sejenak. Baekhyun menggigit ujung lidah, suaranya kian serak melagu dengan desau berat yang mengganjal hati.

"Tadi siang, aku sempat berbincang sejenak dengan penguasa Joseon usai sidang." Baekhyun menarik napas berat.

"Dia sudah mengetahuinya, tentang hubungan ini. Dia sudah mengetahuinya."

"Lantas?"

Chanyeol memiringkan kepala mengecup sisi wajah Baekhyun, berupaya menenangkan getar tubuh Baekhyun.

"Aku cukup terkejut mendengar kenyataan tersebut. Bahkan dia sedikit menggunakan pengetahuannya itu demi mengancamku, namun aku tidak begitu peduli. Akan tetapi, ketika dia melontarkan persyaratan pribadi yang terjalin antara dirinya dengan Ayahanda. Aku tidak mampu berpikir lagi. Aku mendadak takut."

Chanyeol menjauhkan diri, jemarinya bergerak meraih dagu Baekhyun. Menyelami binar mata yang berbayang terbalutkan air mata serta sorot yang mengabur resah.

"Persyaratan apa?" tanya Chanyeol lembut tanpa getar mendesak.

Baekhyun meraih tangan Chanyeol lalu menggenggamnya dengan erat. "Bila Kerajaan Joseon sanggup memukul mundur pasukan Goguryeo. Kerajaan Silla dan Joseon akan segara menjalin hubungan benang merah dengan pengalihan identitasku menjadi seorang selir Kerajaan Joseon."

Chanyeol tersentak, sorot mata yang menghangat sontak berubah kelam mengerikan.

Genggaman tangannya pun tanpa sadar mengerat, untaian kalimat Baekhyun mampu membakar ketenangan jiwanya. Chanyeol menahan diri, gelora panas yang membumbung tinggi menuai kilatan dendam di balutan iris datarnya.

"Bagaimana mungkin, Kangin Sanggam menjadikan Pangeran bungsunya seorang selir? Apa itu pantas, mengingat besarnya kekuasaan Kerajaan Silla."

Suara Chanyeol mengalun datar, tanpa geraman maupun decak tajam. Namun, hal tersebut lebih mengerikan ketimbang geraman seorang Putra mahkota Goguryeo.

Sebab bila Chanyeol lebih memilih untuk menahan emosi, dia justru akan berubah menjadi diktaktor yang tidak kenal ampun terlebih pada seseorang yang membuatnya menggeram dalam hati. Sebuah malapetaka bagi mereka yang sengaja maupun tidak sengaja membuatnya menahan emosi hingga berkilat dendam.

Baekhyun menggeleng pasrah, dia kemudian beranjak dari tubuh Chanyeol. Menyandarkan punggung di selaras dipan yang menyekat kamar dan ruangan pribadinya sambil merengkuh lutut.

"Ambisi, Chanyeol. Ambisi. Aku tidak pernah menyangka bila sebuah ambisi akan semengerikan ini," bisik Baekhyun gamang sambil menatap kosong api lilin yang bergoyang pelan menjilat tubuh lilin.

Chanyeol mengerling Baekhyun, bergerak mendekat kemudian mengecup mesra puncak kepala prianya. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tidak akan aku biarkan seorangpun merebutmu dariku. Tidak akan."

Baekhyun beralih menatap lekat sepasang sorot tajam yang berkilat penuh tekad di gemelut pekatnya malam. Satu bulir air mata tanpa sadar kembali menghiasi pipi beriringan dengan satu ulas senyum tulus.

"Aku juga mencintaimu, Wangseja. Hanya satu pesanku. Jaga dirimu, jangan sampai terluka."

Chanyeol tertawa, tubuhnya semakin mendekat merengkuh tubuh Baekhyun. "Itu lebih dari satu pesan, sayang."

"Jangan mengelak," ketus Baekhyun di balik dada Chanyeol.

Chanyeol menganggukkan kepala, mengeratkan rengkuhan sembari mengecupi puncak kepala kekasihnya berulang-ulang. Sorot tajam yang sempat merunduk sebab kilatan hangat akan perasaannya kepada Baekhyun, kini tersorot jauh lebih pekat.

Bahkan seulas senyum miring terukir di sudut bibir. Menandakan bila dirinya tidak hanya sekadar membual ataupun menguntai kalimat manis. Chanyeol benar-benar akan bertindak di luar kendali.

"Kau menghantarkan nyawa kepada orang yang tepat, Changmin Sanggam."

To be continue...