Chapter 8

Barisan prajurit yang hilir mudik dengan berbagai suara bising dari pedang yang saling bergesekan serta lesatan anak panah yang beradu dengan papan kayu seolah menjadi pemandangan abadi sejak tiga hari yang lalu.

Segerombol kusir kuda pun tak kalah menyibukkan diri dengan kegiatan mereka dalam menyiapkan kuda-kuda yang hendak turun tangan dalam perang.

Tepakan langkah kuda serta suara ringkikan yang terdengar menggelegar bersempoyongan di balik gerbang Kerajaan dan sepertinya situasi tersebut tidak akan berubah selama dua hari ke depan.

Jenderal Kim berdiri tegap di depan barisan prajurit yang sibuk mengadu pedang mereka. Menatap dengan teliti sambil menyilangkan tangan di belakang tubuh, menginstruksi kesiapan pasukannya.

Suara derap langkah tiba-tiba menggema di sepanjang lorong Kerajaan seketika menghentikan kegiatan sebaris prajurit di halaman samping Kerajaan.

Jenderal Kim membungkuk hormat begitu pula dengan barisan prajurit di sisi kanan mereka, Chanyeol menganggukkan kepala merespon titah penghormatan para ajudannya, sementara tangan kanannya terangkat memberi titah pada mereka untuk kembali berlatih.

"Berapa jumlah mereka?"

"Seratus prajurit, Seja jeoha," jawab Jenderal Kim sopan.

Chanyeol menganggukkan kepala, dia mengerling menatap kegiatan prajurit.

"Apa perlu menambah jumlah prajurit lagi. Jeoha?" tanya Jenderal Kim menawarkan, meleburkan keterdiaman Chanyeol.

"Tidak perlu."

Chanyeol meraih gulungan kertas yang terulur dari Kasimnya. "Aku sudah memerintahkan dua Jenderal lain untuk turut mempersiapkan prajurit mereka, kemungkinan berjumlah sama. Bila disatupadukan terhitung 300 prajurit. Sementara menurut informasi yang tertulis di laporan ini, Kerajaan Silla hanya mengeluarkan 100 prajurit dan Kerajaan Joseon mengeluarkan 250 prajurit," sambung Chanyeol sambil mengembalikan gulungan kertas tersebut pada Kasimnya.

"Maaf, Jeoha. Bukankah prajurit kami berbanding 50 dari prajurit Kerajaan Silla dan Joseon. Tidakkah sebaiknya menyelaraskan jumlah prajurit?"

Kening Chanyeol berkerut setelah mendengar desau kecemasan dari abdi setianya; kekehan ringan kemudian terdengar dari celah bibir sekilas membuat Jenderal Kim merunduk takut sebab pemilahan kata yang terkira kurang sopan.

"Bahkan aku tidak yakin dengan informasi tersebut, Jenderal Kim. Kemungkinan terbesar mereka akan terus menambah jumlah prajurit yang akan turun di medan perang bila mengingat ambisi mereka. Untuk daripada itu, aku memerintahkan kepada kalian untuk benar-benar memilah prajurit yang handal saja dalam perang nanti."

Jenderal Kim terbungkam sembari menahan gemuruh takjub dalam hati akan pemikiran cerdas junjungannya. Chanyeol seolah paham dengan sifat-sifat lawannya. Oleh sebab itu, berapapun jumlah prajurit yang turun di medan perang senantiasa sanggup membawa bendera kemenangan di tangan sekalipun berbalutkan darah pekat.

Jarang, nyaris tidak pernah pasukan yang dipimpin Chanyeol mundur dalam pergulatan meski hanya tersisa dua orang prajurit. Tidak hanya kekuatan, otak cerdas pula dia semaikan dalam pertarungan.

Strategi yang sulit untuk di definisikan selalu Chanyeol lontarkan dalam balutan strategi perang tanpa membuat para Jenderal dan prajurit mengerut kebingungan.

Jenderal Kim menunduk dalam, dia memiringkan tubuh memberi jalan ketika Chanyeol hendak mengangkat kaki berderap pergi. Kepalanya bergerak menengadah menatap balutan punggung kokoh yang tersapu barisan pengawal dan dayang tidak mampu menyurutkan kekuasaan Chanyeol.

Jenderal Kim mengangguk yakin, Chanyeol memang calon pengalih tahta yang tepat bagi Kerajaan Goguryeo.

Terlepas dari sikap arogan dan kebengisannya, balutan bijaksana serta adil dan bertanggung jawab akan kelangsungan hidup rakyat tidak mempias gelap dari tubuhnya.

Namun, satu hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Tentang cinta yang berlabuh, agaknya tampak tragis.

Akankah Putra mahkota mampu membawa cintanya ke dalam istana sementara getar peperangan tampaknya terus memercik pekat seolah sengaja mengaburkan setiap kesempatan yang mengintip ragu.

Jenderal Kim menghela napas berat, perbincangannya bersama tabib Choi waktu lalu sedikit menyentak fokusnya.

"Semoga Dewa senantiasa memudahkan langkah anda, Jeoha."

*Rose*

Chanyeol membuka lembaran kertas dengan sorot mata enggan, hanya selintas bait kalimat yang menyapa pandangan tanpa minat untuk mengartikan barisan berat tersebut.

"Bagaimana persiapan para prajurit?" Yunho menyandarkan punggung pada dinding jendela sambil menyilangkan lengan.

"Berjalan dengan lancar," jawab Chanyeol acuh usai menutup buku dan melemparkannya ke sisi kanan lengan yang bertumpu di meja.

Yunho menganggukkan kepala kemudian beralih menatap rintik hujan dari balik jendela ruangannya.

"Ibunda merindukanmu."

Chanyeol mengerling Yunho dengan kening berkerut tidak mengerti.

"Jaejoong mengeluh kepadaku, jika akhir-akhir ini putra kebanggaannya seolah melupakan keberadaannya. Apa persiapan perang begitu menyita waktu Putra mahkota? Begitu lontaran kalimatnya kepadaku?"

Yunho beralih menarik kursi singgasana setelahnya menyamankan tubuh sambil menumpu dagu.

Chanyeol menunduk, menatap tautan jemari yang bertumpu di paha. "Maaf, mungkin sore ini aku akan mengunjungi Ibunda."

Yunho tersenyum mendapati tingkah Chanyeol yang selalu berubah lembut bila menyangkut ibunya. "Baiklah, kunjungi Ibundamu," titah Yunho penuh kasih yang direspon dengan anggukan singkat Chanyeol.

Selang beberapa menit, Chanyeol beranjak dari kursinya lalu membungkukkan tubuh memohon izin undur diri, meninggalkan Yunho di antara hela panjangnya.

"Dasar," gumam Yunho di tengah niatan diri menenggelamkan alih pikiran ke dalam balutan gulungan kertas yang menumpuk di sudut meja.

*Rose*

"Baekhyun."

Baekhyun mengalihkan pandang ketika panggilan lembut merasuk ke dalam gendang telinga. Mendapati sang ibu yang tengah berderap mendekat, dia kemudian berbalik lalu membungkukkan tubuh memberi salam.

"Ibunda," sapa Baekhyun yang direspon dengan sapuan punggung tangan di kening.

"Oh syukurlah."

Leeteuk mendesah lega bersama pergerakan bibir mengecup kening Baekhyun. "Maafkan Ibunda, nak. Ibunda baru mengetahui kondisi tubuhmu hari ini," ucap Leeteuk penuh sesal.

Baekhyun tersenyum, sepasang tangannya terulur mengusap bahu sang ibu. "Ibunda, hanya sekadar demam biasa. Tidak perlu merasa bersalah."

Baekhyun tiba-tiba merentangkan sepasang lengannya lebar-lebar ke hadapan Leeteuk seolah hendak merengkuh tubuh ibunya. "Lihat, bahkan kondisiku sudah lebih dari baik," tambah Baekhyun.

Senyum lebar terulas sedikit kekanakan, Leeteuk sontak tertawa melihat tingkah menggemaskan putra bungsunya tersebut. Dia kemudian mengulurkan lengan membawa Baekhyun ke dalam dekapan hangatnya.

"Oh Dewa, Ibunda sangat merindukanmu, sayang," ujarnya gemas sebelum bergerak menjauhkan tubuh beralih mengusap sisi wajah Baekhyun. "Akhir-akhir ini begitu padat dengan persiapan perang, heum. Hingga rasanya nyaris mustahil menemuimu?" keluh Leeteuk tampak berat.

Baekhyun meraih tangan Leeteuk lalu mengusap punggung tangannya.

"Ibunda tengah merisaukan hal lain?" tebak Baekhyun tepat sasaran. Iris lembut Leeteuk menyendu, berbayang dengan balutan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

"Tidak bisakah kau tetap di sini, Baekhyun. Ini terlalu berat, nak. Ibunda tidak bisa membiarkanmu turut campur tangan dalam perang." Gelengan kacau mengentak hati Baekhyun, bergegas ia merengkuh tubuh baya yang mulai terguncang keras.

"Ibunda. Ibunda, aku mohon tenanglah." Suara Baekhyun tercekat, berlomba dengan kendali diri yang mengharuskan dirinya untuk tidak turut menjatuhkan bulir air mata di hadapan Leeteuk.

"Ibunda dengarkan aku." Tangan bergetar Baekhyun membingkai wajah Leeteuk, mengusap lembut linang air mata yang membasahi wajah baya sang ibu.

"Ibunda, memang seharusnya seorang ahli pengobatan turun dalam medan perang."

Leeteuk tetap menggelengkan kepala, masih kekeuh dengan pendiriannya. Baekhyun mencondongkan wajah, mengecup kening Leeteuk. "Aku berjanji akan kembali dengan selamat," tegas Baekhyun yang seketika menghentikan isakan Leeteuk.

Leeteuk terdiam, menatap lekat iris puppy Baekhyun yang berbinar penuh keyakinan. "Ya, aku akan kembali dengan selamat Ibunda. Aku akan kembali," ulang Baekhyun sekali lagi dengan seluruh tekad yang terkumpul di balutan mata yang kian menegas.

Leeteuk terisak, ia kembali merengkuh tubuh Baekhyun dengan erat, terlampau erat.

"Ibunda mohon untuk mewujudkan janji yang telah kau lontarkan, Baekhyun. Sebab Ibunda akan senantiasa menanti kedatanganmu serta dua kakakmu." Leeteuk meraih tengkuk Baekhyun, merundukkan kepala Baekhyun guna mengecup kepala sang putra bungsu. Baekhyun mengangguk yakin, sepasang tangannya meraih tangan Leeteuk lantas menggenggamnya.

"Ye, aku berjanji, Ibunda."

*Rose*

Hela panjang berulang kali terembus dari celah bibirnya. Perasaan rindu yang menggebu sungguh menyiksa hati, balutan bening yang tersembunyi di balik kelopak mata terlihat memanas. Dirinya memang terlalu lemah. Selalu tak kuasa hati bila kalimat perang terlantun di telinga, terlebih jika mengharuskan sang Putra mahkota turun serta.

"Chanyeol.."

Jaejoong mengerat bibir bawahnya, hela napas semakin memberat. Perasaannya terombak sementara pikirannya melanglangbuana ke beberapa tahun silam di saat jantungnya nyaris terhenti ketika mendapati sang putra terluka parah.

Terlalu membekas dan membuatnya trauma. Dimana saat melihat garis merah di dada Chanyeol. Dimana saat merasakan napas tersenggal Chanyeol, dan dimana saat menatap iris tajam yang tertutup hampir seminggu lamanya mampu membuat kesadarannya terhisap jauh hingga menciptakan suatu kenangan kelam tersendiri di sudut hati dan pikirannya.

Bahkan jika dirinya mampu, ingin rasanya berlari ke ruangan suaminya dan berteriak selantang mungkin menentang keputusan yang begitu ia benci keberadaannya.

Namun, apa daya? Dirinya hanya seorang Ratu yang tidak begitu berhak untuk menentang maupun menghancurkan keputusan yang telah terpatri tegas dari bibir seorang Raja.

Kini Jaejoong hanya mampu terisak pedih dalam lantunan doa yang tak berhenti menggumam dari lidah yang bergetar kelu. Suara derak pintu yang bergeser sejenak menyembunyikan isakan lirihnya. Seorang dayang menampakkan diri dari balik pintu kemudian membungkuk dalam.

"Mama, Wangseja tengah bertandang kemari."

Jaejoong tersentak, balutan pekat yang berbinar sendu seketika menyeruak penuh kerinduan. Jemarinya bergerak mengusap bulir air mata dengan gerakan tergopoh.

"Persilakan dia masuk," kata Jaejoong terlampau semangat sambil menepuk pipi, berusaha melenyapkan kerutan-kerutan suram yang beberapa waktu lalu membayangi wajah bayanya.

"Ye, Mama. Saya mohon undur diri."

Dayang itu melangkah mundur, melenyapkan diri dibalik pintu geser. Tidak berselang lama pintu kembali bergeser menampilkan seorang pria tampan yang begitu dia rindukan kehadirannya.

Seulas senyum hangat Chanyeol dapatkan usai membungkukkan tubuh. Chanyeol berderap menyamankan tubuh di hadapan Jaejoong yang tidak lekat melepaskan pandangannya dari tubuh sang putra.

"Ibunda," sapa Chanyeol menyadarkan Jaejoong.

Jaejoong tergagap, binar mata yang menyorot lurus kini terlihat berbinar acak kemudian kembali menyendu. Kening Chanyeol berkerut, perasaan cemas menyelubungi hati begitu mendapati kondisi Jaejoong yang tampak resah dengan rona wajah silih berganti.

"Ibunda baik-baik saja?"

Jaejoong tersenyum, tangannya terulur mengusap sisi wajah Chanyeol. "Ibunda baik-baik saja, nak. Ibunda hanya terlalu merindukanmu," kata Jaejoong lemah.

Tangan Chanyeol terangkat menggenggam usapan tangan di sisi wajahnya. "Maafkan aku, Ibunda. Akhir-akhir ini..."

"Persiapan perang, heum," sergah Jaejoong cepat.

Chanyeol mengangguk ragu, ia tahu ibunya sesungguhnya begitu terganggu dengan bait kata itu. Mengingat kondisi tubuhnya beberapa waktu silam usai menginvasi Kerajaan Vietnam berhasil menciptakan kenangan kelam bagi ibunya.

Jaejoong menghela napas berat, ia memejamkan mata lalu menyandarkan punggung pada dipan yang menyekat kamar. "Ibunda," ujar Chanyeol spontan ketika mendapati bulir air mata melinang cepat dari balik kelopak mata yang tertutup.

"Apakah seorang Putra mahkota terlahir sebagai benteng Kerajaan, Chanyeol Jeoha?"

"Ibunda."

Jaejoong mengusap air matanya. Dia mengerling Chanyeol, tatapannya begitu sendu dengan sorot berat tak terartikan. "Mengapa kau selalu turun tangan di medan perang?"

Chanyeol menghela napas panjang, selalu seperti ini bila kabar perang terembus menyelubungi telinga Jaejoong, terlebih bila turut melibatkan dirinya.

Jaejoong pasti akan bergerak, terus berusaha menahan dirinya dengan berbagai upaya yang meski pada akhirnya tidak mampu menghentikan pergerakan Chanyeol tetapi cukup meresahkan hatinya. Tak heran memang bila mengingat kondisinya yang begitu mengenaskan waktu lalu.

Chanyeol meraih punggung tangan Jaejoong lalu mengusapnya pelan, berusaha meluluhkan hati sang ibu. "Ibunda, bagaimana bila aku mengucap janji?" bujuk Chanyeol.

Sudut bibir Jaejoong menarik senyum pedih. "Takdir siapa yang tahu, putraku. Bahkan doa Ibundapun akan turut terhempas bila takdir buruk tertulis di medan perang."

Chanyeol menggelengkan kepala, sorot tajam yang menghangat itu memaku bayang air mata yang memburamkan pandangan Jaejoong. "Kali ini aku benar-benar akan mewujudkan janjiku, Ibunda. Kali ini aku akan pulang dengan selamat tanpa berkurang satupun."

Jaejoong terdiam, memaku wajah Chanyeol yang bersinar penuh tekad. Kekehan ringan kemudian melagu dari celah bibir yang bergetar menahan isakan. "Rupanya Ibunda tak mampu menahanmu, ya," desau Jaejoong putus asa.

Chanyeol mendesah berat, ia bangkit dari posisinya lalu mengambil posisi di samping Jaejoong lantas merengkuh tubuh ibunya.

"Ssh. Ibunda, semua pasti baik-baik saja. Cukup percaya dan berdoa, aku pasti akan kembali. Aku berjanji Ibunda."

Chanyeol mengusap punggung Jaejoong, membiarkan sang ibu terisak di dadanya. Chanyeol sedikit terkekeh, ingatan tentang malam lalu saat dia kembali menyelinap ke paviliun Baekhyun seolah menyentak kegiatannya saat ini.

"Kalian sangat mirip," gumam Chanyeol dalam hati sambil mengecup sayang puncak kepala Jaejoong. Ia memejamkan mata, semakin yakin bila cintanya berlabuh pada orang yang tepat meski tertapak di garis takdir yang kian mengerucut rumit.

Dia menghiraukannya, selama genggaman tangan Baekhyun masih mampu ia raih. Ia akan terus melangkah, menerjang setiap duri yang mencuat tinggi menembus telapak kaki.

Darah yang merembes keluar dari telapak kakinya akan menjadi saksi besarnya perasaan Chanyeol terhadap Baekhyun.

*Rose*

Genap sudah hari penantian perang. Para prajurit yang telah dipersiapkan dengan matang kini sibuk membaluti tubuh serta kepala mereka dengan balutan besi yang sudah dirancang sedemikian rupa, tahan terhadap segala macam tebasan hingga koyakan anak panah tanpa mengurangi gerak lincah mereka.

Begitu pula dengan pedang, perisai, tombak dan anak panah. Sang pemahat besi begitu lihai dalam memilih bahan baku yang kemudian ditempa menjadi peralatan perang yang sangat tangguh juga mengerikan.

Warna cokelat yang biasa menjadi kebanggaan para kuda-kuda Kerajaan kini terpaksa mengintip malu dibalik balutan besi, seolah tak mengizinkan satupun goresan musuh membayangi lekuk tubuh kuda-kuda kebanggaan tersebut.

Pintu Balai Istana terbuka menampilkan seorang pria tampan dengan balutan besi yang tampak mempesona, berkilat kuning terbiaskan cahaya sementara jubah sutera bersulamkan emas berkibar terkoyak angin.

Chanyeol menyentuhkan ujung pedang yang masih terbungkus dalam balutan emas pada paving pelataran Balai Istana.

Serempak tiga ratus barisan prajurit di bawah mata bersimpuh ke arahnya dengan satu lutut menapak paving. Jenderal Kim bersama dua Jenderal lain berderap mendekat turut bersimpuh di hadapan Chanyeol.

"Saya Jenderal Lim hendak melapor bahwa pasukan satu siap menjalankan tugas."

"Saya Jenderal Tao hendak melapor bahwa pasukan dua siap menjalankan tugas."

"Dan saya Jenderal Kim hendak melapor bahwa pasukan tiga siap menjalankan tugas. Laporan selesai."

Chanyeol menganggukkan kepala. "Kembali ke pasukan masing-masing!" titah Chanyeol tegas yang serentak diangguki patuh oleh tiga Jenderal kawakan Kerajaan Goguryeo itu.

"Siap laksanakan, Wangseja."

Mereka membungkuk rendah, kemudian melangkah mundur kembali ke pasukan masing-masing. Kepala Chanyeol menoleh ke kiri, Kasim Jung lantas menghampiri junjungannya. "Sampaikan pesan ini kepada Jae Mama." Chanyeol menyerahkan gulungan kertas yang terutas tali emas ke arah Kasim Jung.

"Ye, Chanyeol Seja."

Chanyeol mengalihkan pandang menatap barisan prajurit yang kini telah menegakkan tubuh dan berdiri dengan kokoh usai menerima instruksi jemari tangan yang menindak untuk bangkit dari simpuhnya.

Chanyeol menghela napas panjang, menengadahkan wajah sambil memejamkan mata. Merasakan alunan angin yang turut semerbak menghamburkan aroma sakura meski samar.

"Tak terkira aroma tubuhmu tercium, sayang," gumamnya.

Seulas senyum hangat tergaris di bibir. "Bahkan dari jarak sejauh ini." Kelopak matanya terbuka menampakkan segaris kilat tajam penuh tekad. "Akan aku tunjukkan siapa sebenarnya lawanmu, Changmin Sanggam. Suatu kesalahan besar bila sebersit niat saja kau hendak memilikinya."

Chanyeol menyembunyikan pedang dibalik jubahnya, melangkah tegap menapaki anak tangga. Barisan yang semula memenuhi pelataran Kerajaan terbelah menjadi dua bagian memberikan jalan bagi junjungan mereka.

Chanyeol mengangkat tangan ketika barisan prajurit pemanggul tandu hendak memposisikan bagian mereka.

"Tidak perlu memakai tandu."

Tangan Chanyeol mengusap balutan besi yang menyelimuti tubuh kuda tersayangnya. "Aku lebih tertarik berkencan dengan si tangguh ini," gurau Chanyeol yang menuai lekuk senyum di bibir masing-masing kepala prajurit yang menunduk hormat.

Chanyeol kemudian meloncat ke punggung kuda, menyamankan tubuh sambil menarik tali kekang kuda. "Kita berangkat!" tegas Chanyeol yang sontak menuai gemuruh bising dari gelegar teriakan penuh semangat para prajurit serta alunan terompet yang mendentang dengan panjang.

Perlahan gerbang istana terbuka, menghamburkan ratusan prajurit yang berderap lantang seolah kemenangan sudah tergenggam di tangan.

*Rose*

Pyongyang adalah nama dari daerah perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara kepemilikan dari pada Kerajaan Silla. Singkatnya Pyongyang adalah letak perbatasan antara Goguryeo dan Silla.

Sebuah perbatasan yang sesungguhnya berpijak atas nama Goguryeo serta sebuah medan perang yang mereka pilih sebab jauh dari pemukimam warga dan wilayah Kerajaan.

Dataran yang cukup tandus dengan terik matahari yang membakar kulit serta alunan angin yang senantiasa terembus lebat. Berbanding terbalik dengan situasi di sisi kanan dataran Pyongnyang, beribu pohon berdiri kukuh menjulang tinggi seolah ingin menantang langit dengan gugusan daun yang melebat hijau. Sungguh asri dan menyejukkan pandangan.

Chanyeol mengalihkan pandang serentak menarik tali kekang kuda begitu melihat barisan sang musuh di depan mata tengah menanti kehadirannya. Ia mengangkat tangan, mengintruksi para prajuritnya untuk beristirahat sejenak sementara dirinya melangkah ke tengah dataran. Mencoba mendekatkan diri di saat sang musuh tampak tegang menanti kehadirannya.

"Tetap arogan seperti biasa, Chanyeol seja," sapa Changmin kala posisi Chanyeol cukup dekat dengan barisannya. Chanyeol bungkam, menatap datar si penguasa Kerajaan bekas aliansi Kerajaan Goguryeo.

"Dan anda terlihat bersemangat, Changmin sanggam. Saya cukup terkesan," balas Chanyeol dingin.

Changmin terkekeh, ia menyilangkan lengan dengan sisi tubuh bertumpu pada kuda. "Benar, hari ini saya memang sangat bersemangat Wang seja. Rasanya kembali mengenang peristiwa beberapa tahun silam."

"Dengan akhir cerita yang sama?"

Changmin tersenyum miring, kepalanya menggeleng dua kali. "Tentunya dengan akhir cerita yang berbeda, Seja."

Sorot tajam Changmin menyipit hendak meluluhkan tekad Chanyeol dalam getar meremehkan. Chanyeol mendengus, nyaris menarik sudut bibir dan menggantinya dengan anggukan pelan.

"Berdoalah Wang geon. Karena saya bukanlah orang baik yang akan mengabulkan permohonan seseorang dengan mudah."

Chanyeol mengedarkan pandang dan terhenti pada sang kekasih. Baekhyun menatap Chanyeol dengan binar mata penuh arti yang membaluti iris puppy polosnya cukup membuat gemuruh hatinya menenang.

Kepalanya mengangguk dengan seulas senyum samar di bibir. Chanyeol menghela napas, dia kemudian berbalik menghampiri pasukannya. Perasaan Chanyeol membuncah, kepalanya menoleh ke samping sedikit mengintip lelakinya sebelum memusatkan pandang pada tiga Jenderalnya yang mendekat menunggu intruksi.

"Apa kalian sudah menempatkan sebagian prajurit di sisi kanan dataran Pyongyang?"

"Telah terlaksana, Wang seja. Mereka telah mengambil tempat di setiap sudut hutan tersebut."

"Hn. Baiklah, persiapkan diri kalian."

Chanyeol berbalik dengan salah satu tangan memegang panah. Sorot tajam yang kian mengabut itu menyorot dingin ke arah Changmin. Sementara Jongin dan Sehun yang sejak tadi hanya mengamati pergerakannya mulai mengambil posisi.

Lesatan panah dari Chanyeol menjadi pertanda dimulainya perang, suara gong dan terompet bersahutan membuka ayunan pedang yang kembali saling berdenting dan menerbangkan aroma karat. Chanyeol mengangkat tangan, mengintruksikan sebagian prajuritnya untuk maju ke depan.

"Bentuk formasi melingkar!" teriak Chanyeol yang dengan sigap dipatuhi oleh para prajuritnya. Setiap kubu dengan sigap saling menyatukan punggung dan melingkar menghimpit perlawanan musuh. "Dengan begini mereka akan terkepung dan tidak memiliki celah untuk melawan," kata Chanyeol yang disetujui tiga Jenderalnya.

Chanyeol menyipitkan mata menatap pergerakan Changmin, Jongin dan Sehun. Mereka berpencar, melihat tersebut ia mengangguk mengerti. "Rupanya mereka ingin turut bertarung."

Chanyeol mengalihkan pandang menatap tiga Jenderalnya. "Aku serahkan dua pemimpin pasukan Silla pada kalian, sementara aku akan melawan Joseon."

"Siap laksanakan, Wang seja."

Mereka serempak berderap pergi menghadang langkah Jongin dan Sehun, sedang Chanyeol harus terpaksa mengeluarkan pedangnya dari balik jubah ketika Changmin dengan gerakan tidak sabarannya menghimpit posisinya.

Pedang mereka saling bergesekan. Chanyeol mendorong Changmin menjauh. "Jika dalam perang hanya mengandalkan kekuatan. Anda akan berakhir sama seperti beberapa tahun silam, Wang geon."

Chanyeol menangkis pedang Changmin, suara tawa yang terdengar mengolok kemudian terlontar dari celah pemimpin Joseon itu. "Aku tidak peduli. Setidaknya dengan jumlah prajurit yang terus bertambah pasukanmu akan menyusut karena kelelahan."

"Hn. Mari kita buktikan."

Pedang kembali bergesekan, menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga.

Di satu sisi Baekhyun mundur sejenak, meneliti situasi yang mulai terombak ganjil. Irisnya tiba-tiba terbelalak terkejut ketika situasi tidak benar itu menyulut pikirannya. "Bagaimana bisa pasukan Baekje turut serta?" gumam Baekhyun dibalik batu besar yang menyembunyikan tubuhnya dari perang sesaat.

Ketika pasukan Baekje hendak menghancurkan formasi pasukan Goguryeo, hilir mudik lesatan anak panah tak terkira menghalangi jalan mereka. Baekhyun memejamkan mata, hatinya berdenyut perih setiap mendengar teriakan ngilu sarat akan kesakitan itu.

"Satu banding tiga. Aku tidak pernah menyangka bila ternyata Joseon pula meminta bantuan Baekje. Oh Dewa." Baekhyun mengerat pedangnya, ia kemudian beranjak dari tempat persembunyiannya kembali mengangkat pedang dengan perasaan kacau.

Chanyeol mendengus jengah, sudah ia prediksi sebelumnya bila ketetapan jumlah pasukan tidak mungkin berguna bagi Changmin yang memang sangat berambisi untuk menggulingkan perlawanannya. Dia mendorong Changmin menjauh usai menempatkan satu guratan di lengan penguasa Joseon tersebut.

"Ubah formasi!"

Chanyeol mengedarkan pandang lantas mendapati pasukannya yang terhimpit musuh sontak membuat otaknya bergerak cepat.

"Bentuk lingkaran besar!"

Mereka serempak menjauhi musuh, berlari memutari musuh mencari titik sudut sang musuh.

Tanpa sadar pasukan musuhpun terjerat di dalam lingkaran mereka. Dan kondisi kembali aman, Chanyeol menatap Changmin yang mengumpat keras akibat rasa perih dan ngilu yang merajam lengan membuat perlawanannya terbatas.

"Brengsek!" Changmin terjerembap ke tanah. Chanyeol hanya menatap tubuhnya dengan sorot datar.

"Pulihkan kondisi anda terlebih dulu, Wang geon. Karena saya pantang melawan seorang yang tengah lemah," remeh Chanyeol sebelum beranjak pergi.

Changmin berdecak keras. "Brengsek!" dan perangpun terpaksa di hentikan sebab terlukanya sang penguasa Joseon.

Chanyeol menitah kelompok pengobatan untuk bergegas mengobati prajurit yang terluka sementara prajurit yang masih dalam keadaan aman ia tarik kembali ke tenda mereka.

"Chanyeol seja, rupanya Kerajaan Baekje turut andil dalam medan perang ini," lapor Jenderal Kim tidak percaya dan terkesan cemas. "Hn. Aku sudah tahu." Chanyeol menghela napas panjang. "Kita akan membicarakannya nanti."

"Ye, Wang seja."

Jenderal Kim pamit undur diri, Chanyeol terdiam menatap Baekhyun yang tengah menyibukkan diri membantu kelompok pengobatan. Tanpa sengaja mata mereka saling mengikat dan Chanyeol bergegas mengirimkan surat tersiratnya.

Baekhyun menilik keadaan sekitar sebelum mengangguk mengerti merespon pesan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum sebelum beringsut menaiki kuda dan berbalik pergi dari medan perang.

*Rose*

Hilir mudik prajurit penjaga tenda acap kali menghentikan langkah Baekhyun dan mengharuskan dirinya untuk bersembunyi. Keratan tangan pada cawan kayu yang berisi cairan bening kekuningan mengerat saat posisi pangeran bungsu itu tersudut dengan kehadiran tiga prajurit di samping api unggun, menghalangi jalannya.

Baekhyun menghela napas, meski malam telah menjelang dan berhasil mengaburkan pandangan mata diterik rembulan yang meredup akibat awan mendung, tetap saja dirinya tidak mampu melangkah sesuka hati sebab bayang semu dirinya yang dapat mengecoh pandangan mereka.

Baekhyun pada akhirnya menyandarkan punggung ke tenda, menggumam bait doa dalam hati demi kelancarannya untuk menyambangi wilayah sebelah. Tepat saat tiga prajurit yang sempat berbincang di samping api unggun itu beringsut pergi, Baekhyun sontak bergegas menyusup dari celah tersebut dan menghela napas lega saat mengetahui dirinya berhasil keluar dari wilayahnya dan kini dirinya kembali terpaksa mengendap masuk ke wilayah kekasihnya.

Baekhyun nyaris mengumpat kala kembali mendapati ketatnya penjagaan prajurit Goguryeo melebihi penjagaan di sekitar wilayahnya. Tubuhnya tiba-tiba terlonjak dibalik persembunyiannya saat sebuah bunga mawar tidak bertuan terlempar ke arahnya. Baekhyun meraih tangkai bunga mawar tersebut dan mengedarkan pandang mencari si pelempar.

Seulas lekuk lembut bersama gelengan kepala dia responkan saat menemukan sang tuan pelempar yang tengah menyandarkan diri di tubuh pohon sambil menyilangkan lengan.

"Kemari," titah Chanyeol tanpa suara setelah mengedarkan pandang ke sisi kanan dan kiri. Baekhyun mengangguk, ia beranjak dari persembunyian dan melangkah cepat ke tempat Chanyeol.

Chanyeol tersenyum, nyaris meraih tubuh Baekhyun sebelum tertahan sebuah cawan yang membaluti tangan kanan Baekhyun, membentur dadanya. Chanyeol merunduk menatap isi cawan dengan kening berkerut penuh tanya.

"Apa itu?"

"Ramuan."

Lipatan di kening Chanyeol terlihat jelas terkesan mencurigai. Hela panjang terembus dari celah bibir tipis itu, sorot yang berbinar hangat secepat kilat berubah datar. "Bila kau pikir ini ramuan mematikan. Dalam sekejap aku akan menggelepar tak berdaya di hadapanmu," ujar Baekhyun sembari mendekatkan cawan ke bibirnya dan mulai meneguk isinya.

Chanyeol tersenyum miring, belum sempat tenggorokan menyapa cairan tersebut, Chanyeol lebih dulu meraih dagunya dan menyesap segala macam isinya dengan bibirnya. Tentu saja Baekhyun terpongo kaget menerima tindakan tiba-tiba Chanyeol yang terasa intim.

"Aku hanya bercanda, sayang. Aku sangat mencintaimu dan terus akan mempercayaimu sekalipun kau mengkhianatiku," tutur Chanyeol usai melepaskan tautan bibirnya.

Chanyeol meraih cawan kayu itu dari tangan Baekhyun dan meneguknya hingga tandas, menghiraukan lelaki mungilnya yang terdiam semu dengan rona merah di sekitar pipi.

"Ramuan apa ini?" tanya Chanyeol tanpa unsur mencurigai usai meneguk isinya. Baekhyun mengalihkan pandang, sedikit menyentakkan kepala ke belakang saat hidung mereka bersentuhan. "Bahan dasar dari alang-alang dan jahe yang direbus sejenak, kemudian menyeduh airnya tanpa menghiraukan isinya. Berkhasiat untuk menghangatkan tubuh sekaligus ...-Chanyeol!"

Baekhyun nyaris terpekik bila tidak mengingat situasi dan dimana kakinya berpijak saat ini ketika jangot biru yang semula membaluti tubuhnya berganti alih ke tangan Chanyeol. Sementara Chanyeol menyibukkan diri dengan mencondongkan wajah diceruk lehernya; mengendus dan mengecupnya secara bertahap sambil mengusap pinggang hingga pinggulnya.

"Kau berniat membuat tubuhku hangat dengan ramuan tersebut, bukan?" bisik Chanyeol sambil menyesap telinga Baekhyun. Baekhyun mengangguk ragu. "Maka aku belum mendapatkannya, sayang. Aku masih kedinginan," alibi Chanyeol yang membuat Baekhyun terperangah kaget.

Sepasang tangannya bergerak cepat menahan dada Chanyeol dan mengerat durumagi putih yang membaluti tubuh gagah sang kekasih. "Chan! Tunggu-!"

Perlawanan Baekhyun tertelan bibir yang kembali saling menaut. Chanyeol membawa Baekhyun menyusup ke dalam tendanya tanpa melepaskan pagutan bibir yang kian memanas.

Baekhyun mengerang saat punggung mengentak dinding tenda yang terbuat dari kulit binatang. Berbentuk lebar layaknya sebuah paviliun, namun dengan atap persegi tanpa atap melengkung seperti pada umumnya. Chanyeol masih menyibukkan diri dengan gerakan bibirnya, lembut namun dalam cukup membuat Baekhyun tersenggal dan mendesah dalam gumamnya.

Baekhyun menepuk dada Chanyeol, keratan tangan dilengan Chanyeol menguat saat dirasa pasukan udara mulai menipis. Chanyeol menjauhkan wajah, memberikan kesempatan sang kekasih untuk menarik napas sebanyak mungkin.

Sekali lagi, lelaki cantik itu menahan tangan Chanyeol, binar puppynya tersorot resah. "Chanyeol! Jangan gila, bagaimana bila ada yang datang?!" racau Baekhyun takut.

Chanyeol meraih tangan Baekhyun, mengecupnya sejenak kemudian menariknya ke atas kepala Baekhyun. "Mereka tidak selancang itu memasuki tendaku, sayang."

"Ti-Tidak. Bagaimana bila ada yang mendengarnya? Chanyeollaa, aku mohon."

Baekhyun menggigit bibir bawah dengan kuat sesaat prianya mengangkat tubuhnya dalam sekali hentak, tak terasa belaian angin menyapa kulit tubuh bagian bawah yang telah hilang pertahanan.

Beruntung susana tenda terlihat temaram dengan penyinaran lilin di dinding kiri tenda, setidaknya mampu membayangi semu merah pipinya akibat tindakan cabul kekasihnya yang tampak semena-mena. "Selama kau mampu menahan suaramu, mereka tidak akan mendengarnya dan berujung mengernyit curiga dengan tindakan kita," bisik Chanyeol di depan bibir Baekhyun.

Chanyeol menggeram berat, tidak mampu menahan gairahnya lebih lama lagi. Perlahan dia mendekatkan tubuh, pekikan tertahan menembus gendang telinganya saat ujung kesejatianya perlahan menembus pertahanan Baekhyun. Denyut panas yang berdetak ketat di sepanjang batang kesejatian yang merasuk secara perlahan membuat giginya bergemeletuk frustasi, sungguh sebuah romansa yang sontak menghilangkan kesadaran dan kewarasannya. Tubuh Baekhyun seolah surga baginya, begitu ia puja dan menjanjikan kenikmatan surgawi yang tidak bosan dia kecap candunya.

Chanyeol kembali meraih bibir Baekhyun, mengulum lembut bibir atas dan bawah sang terkasih. Mengalihkan denyut sakit selat tubuhnya akan tikaman biologis dengan sesapan kuat di sepanjang bibir atas dan bawah Baekhyun.

Belitan lidah Chanyeol yang entah sejak kapan telah menginvasi rongga mulutnya bergerak liar, memelintir dan menusuknya kemudian membawanya ke dalam sesapan kuat. Mengeruk seluruh cairan saliva yang terkumpul di mulut yang mulai melinang ke sudut bibir.

"Ngmh.."

Baekhyun mengerang rendah bersela dengan desah lega dari Chanyeol ketika perjuangannya telah berhasil. Tubuhnya terasa penuh dan panas, kernyitan rasa perih terkadang menyentak kesadaran Baekhyun dan membuatnya acap kali menggigit lidah Chanyeol tanpa sadar di setiap gerakan pinggul pria kekar itu menggesek dinding selatnya.

Sementara sebuah gesekan nikmat yang melingkupi kesejatiannya dengan erat semakin membuat napas Chanyeol memburu berat dan terdengar jelas, menggelitik leher Baekhyun.

"Aah ... Aah ... Nghh~"

Baekhyun melingkarkan lengan di leher Chanyeol, menyembunyikan wajahnya ke bahu kekasihnya hendak meredam suaranya saat gerakan pinggul itu kian tidak beraturan.

"Chanh-! Bayangan kita?" lirih Baekhyun di balik desahan tertahannya. Chanyeol menyesap sisi wajah Baekhyun. "Tenda ini terbuat dari kulit binatang, sayang. Lagipula, cahaya begitu temaram."

Chanyeol mengumpat dalam hati, denyutan itu membuat dirinya menggila. Bila tidak mengingat akan jeritan Baekhyun mungkin saja dirinya sudah menghentak lebih keras lagi, mendobrak anal ketat itu. "Chanyeol!" Lingkaran di lengan kian menguat, Baekhyun menyembunyikan semu merah di bahu Chanyeol sekaligus membungkam desahannya yang terus mendesak ingin keluar.

Deru napas tersenggal serta balutan keringat di kening tidak begitu membuat dirinya mengerut resah bila saja suara erotis di bawah tubuh tidak tertangkap indera pendengar. Baekhyun memejamkan mata, tikaman di selat tubuhnya terasa mengaduk perut. Begitu dalam dan menikam kesadaran saat sesuatu yang tidak terkira tersentuh.

Tubuh Baekhyun bergetar, saat rasa mendesak di bawah perut terlepas mengaliri kaki. Mendapati sang kekasih telah menuntaskan hasratnya, Chanyeol beringsut menekan tubuh Baekhyun lebih dalam dengan gerakan yang kian melagu tidak beraturan. Jujur saja, merasakan hentakan Chanyeol ingin rasanya dia menjerit sekeras mungkin.

Ketika guratan otot itu menggesek kasar dindingnya dan menciptakan fraksi-fraksi panas yang bersela dengan rasa nyeri, membuat urat dindingnya secara otomatis mengerut ketat menghimpit kesejatian Chanyeol dan menderu napas tersenggal mereka. Chanyeol menggeram berat di saat kesadaran Baekhyun makin melayang ke udara.

"Sayang, kau rapat sekali," puji Chanyeol sambil menghisap dagu Baekhyun kemudian merambah ke dada sang kekasih. Memberikan jilatan dan pelintiran nakal yang serentak membuat Baekhyun ingin memukul kepala bersurai hitam itu.

Sungguh, menahan suara dengan desakan kenikmatan di bawah telah menyiksa dirinya, terlebih bila diselingi dengan pergerakan jemari serta lidah nakal Chanyeol. Terang saja jeritanya sejujurnya ingin sekali dia vokalkan secara lantang.

"Angh~ Mmh ... Chanhh pelan, suaraku."

Baekhyun mengulum kasar bibir bawahnya. Rasanya ingin mengumpati si kekasih yang terus menghujani dirinya dengan kenikmatan tiada tara tanpa mempedulikan kondisinya yang terlihat kacau, tidak bisa mengimbangi gairah cabul lelakinya itu.

Tidak berselang lama tubuhnya terasa hangat dengan perut yang terisi penuh. Chanyeol mengecup pipi Baekhyun. Menyusuri sisi wajah indah kekasihnya dengan kecupan kecil dan sesapan singkat memulai romansa hangat usai penyatuan tubuh.

"Terima kasih. Aku mencintaimu," bisik Chanyeol lembut bagaikan nyanyian tidur untuk Baekhyun. Baekhyun mengangguk lemas. Napasnya masih tersenggal dengan bulir keringat di sepanjang wajah. "Aku juga mencintaimu," balasnya yang menuai kecupan bertubi di bibir. Seulas senyum tulus terpatri indah di wajah rupawan mereka.

*Rose*

Jenderal Kim menganggukkan kepala usai menerima bisikan dari salah seorang prajuritnya. Dia kemudian melangkah pergi beringsut mendekati tenda Chanyeol tanpa memeriksa keadaan di dalam terlebih dulu. Dan sebuah kesalahan fatal ia masuk ke dalam tenda sang junjungan tanpa pemberitahuan terlebih dulu saat sebuah lesatan belati nyaris melenyapkan detak hidupnya.

Jenderal Kim termangu, segores luka menghiasi pipi. Bila gerakan tubuhnya tidak terlatih, mungkin ujung belati telah sampai di jantung yang berdetak cepat akibat rasa terkejut yang berlebih.

Chanyeol menatap tajam abdi setianya setelah membaluti tubuh Baekhyun dengan mantel bulu miliknya dan membayangi tubuh kekasihnya tersebut di balik tubuhnya. "Kau sudah kehilangan tata sopanmu, Jenderal Kim Jisoo!"

Chanyeol menahan geramannya. Bahkan perasaan menyesal tidak sedikitpun terbesit di relung hatinya bila ujung belati tersebut menancap di jantung Jenderal Kim.

Jenderal Kim serentak bersujud meminta ampun atas kelancangannya, keningnya menekan lantai tenda. "Mohon ampun, Wangseja. Maafkan saya sebab telah lancang memasuki tenda Seja tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Anda berhak menghukum saya setelah ini. Tetapi kiranya izinkan saya untuk menyampaikan pesan ini kepada anda." Getar suara yang dipaksakan terlempar gamang.

Dirinya merasakan aura mencekam dari diri Chanyeol, meski gurat wajah tampak tenang sebab sentuhan halus di lengan tangannya. Tetap saja sorot mematikan itu mampu melenyapkan setiap persendian tubuhnya. Baekhyun mengusap lengan Chanyeol mencoba meredamkan gurat keras di wajah sang Putra mahkota yang turut membuat nyalinya menciut.

"Lekas katakan!" geram Chanyeol nyaris membentak.

Kening Jenderal Kim makin menekan lantai, tidak lagi mempedulikam rasa ngilu yang merajam kening, emosi Chanyeol lebih dari cukup untuk melenyapkan semua keahlian perangnya.

"Jongin seja serta Sehun daegam tengah dalam perjalanan bertandang kemari, Wangseja."

Baekhyun menegang pergerakan tangannya di lengan Chanyeol seketika terhenti, irisnya yang mengintip di balik punggung Chanyeol berbinar panik. Seolah merasakan keresahan hati sang kekasih Chanyeol kemudian berujar dingin pada sang abdi setia.

"Pergilah."

"Ye, Chanyeol wang. Saya mohon undur diri."

Jenderal Kim merangkak mundur, melenyapkan diri di balik pintu tenda. Desauan berat terlempar dari bibir Chanyeol sebelum bertindak menenangkan sang kekasih.

"Hey."

Baekhyun terkesiap di antara perasaan panik serta bingung yang menggelayuti dirinya. Panik dengan berita yang terlontar dari Jenderal Chanyeol sekaligus bingung atas perubahan sikap lelakinya yang terkesan mendadak.

"Sayang.." panggil Chanyeol sekali lagi, menghantarkan implus kesadaran di balik binar yang menyorot kosong.

Baekhyun menggelengkan kepala. "Hyungnim ..."

"Ssh. Tidak perlu cemas, lekas benahi penampilanmu setelahnya bersembunyilah di balik dinding ini."

Baekhyun mengalihkan pandang, keningnya berkerut pertanda tidak mengerti. "Dibalik dinding ini?" tanya Baekhyun memastikan dan direspon dengan anggukan kepala Chanyeol.

"Ya, itu kamarku," jelas Chanyeol sambil meraih pinggang Baekhyun, meniti langkah sang kekasih yang sesekali mendesis perih. "Maaf. Aku akan memanggilkan tabib setelah ini," kata Chanyeol cemas.

Baekhyun tersenyum, ia mengusap sisi wajah Chanyeol.

"Tidak apa. Aku baik-baik saja. Tidak perlu merasa cemas," ucap Baekhyun menenangkan sembari menyamankan tubuh pada futon yang tergelar rapi di lantai tenda.

"Istirahatlah, jangan cemas. Semua pasti akan baik-baik saja," pesan Chanyeol seraya mengecup kening Baekhyun sedikit lama kemudian beringsut pergi meninggalkan tatapan sendu yang tersorot semu di balik sipit indah kekasihnya.

"Ya, semua pasti akan baik-baik saja, Wangseja ..."

To be continue...

Alohaaa... ada yg kangen sama Leo ^-^

Reader : /siapin bensin, bensol, mercon

Oke okee sudah, tadi malam merconannya yaa.. okee kita berdamai muaach :*

Mianee, belum bisa cuap2 banyak yaa.. Leo lagi sibuk menata idup hiks

Dah dulu yaaaa...

BIG THANK FOR YOU READERDEUL AND RIPYUUDEUL

LOPEE YOUUU 3