Chapter 9
"Maaf telah mengganggu waktu istirahat anda, Seja jeoha," kata Jongin setelah memasuki tenda bersama Sehun.
Chanyeol mengalihkan pandang, ia meletakkan gulungan kertas ke meja lalu berucap, "Tidak masalah, Jongin Wangseja. Senang bertemu dengan anda sekalian."
Chanyeol membungkuk memberi hormat begitupula dengan Jongin dan Sehun.
"Silakan duduk," tawar Chanyeol mempersilakan, sementara Jongin dan Sehun saling pandang sekilas sebelum tersenyum ramah. "Maaf Chanyeol Wangseja, kunjungan kami kemari hanya sebentar. Tidak perlu bersusah payah seperti itu."
"Hn. Baiklah," putus Chanyeol singkat tanpa merubah posisi berdiri di samping meja panjang yang terserak berbagai gulungan kertas serta peralatan perang.
Jongin berdeham, menarik fokus Chanyeol dari kegiatannya menata gulungan kertas. "Sesungguhnya kedatangan kami kemari hanya ingin menanyakan suatu hal kepada anda, Seja jeoha," ungkap Sehun yang dibalas dengan anggukan singkat dari Chanyeol.
"Iya, silakan."
Chanyeol beralih menatap penuh Jongin dan Sehun, menunggu untaian kalimat selanjutnya yang rupanya begitu mengganggu ketenangan jiwa mereka.
"Apakah anda mengenal adik kami? Maksud saya, Baekhyun Daegam?"
Chanyeol terdiam, menatap lurus ke arah Jongin dan Sehun. Sementara di balik dinding, Baekhyun tengah menekan dada menahan buncahan gelisah yang menaungi hati sebab kalimat tanya yang dilemparkan Jongin.
Desauan hela panjang kemudian terlontar dari celah bibir Chanyeol. "Ada apa gerangan? Mengapa tiba-tiba menanyakan hal tersebut kepada saya, Seja jeoha?"
Chanyeol memberikan pertanyaan, belum berniat mengulaskan jawabannya.
"Maaf bila merasa heran dengan pertanyaan saya, Wangseja. Hanya saja entah mengapa saya ingin menanyakan perihal ini kepada anda," jelas Jongin menguraikan keresahan hatinya dengan mimik wajah meragu sekaligus bingung.
Chanyeol menganggukkan kepala, pandangannya sejenak merunduk hendak merangkai kata yang tepat untuk membalas pertanyaan Jongin tanpa membuat sang kekasih yang saat ini tengah bersembunyi di belakang dinding jatuh tidak sadarkan diri sebab pengakuan mendadaknya. Chanyeol cukup paham atas perasaan yang mendera Baekhyun, oleh sebab itu dia berusaha menahan diri untuk tidak kehilangan kendali.
"Siapa yang tidak mengenal Gun daegam, Jeoha? Bahkan namanya sudah begitu tersohor di sepanjang Semenanjung Korea hingga pesisir lain. Tentu saja, saya pun mengenalnya. Ya, meski tidak terlalu dekat. Namun, saya cukup paham akan keindahan yang menaungi diri Pangeran bungsu Silla. Ada hal lain?" jawab Chanyeol tenang sembari menekan gemuruh dada yang memberontak tidak terima.
Merasa enggan menerima kenyataan yang mengharuskan dirinya menyembunyikan perasaannya terhadap Baekhyun begitu sebaliknya. Bahkan bila waktu mengizinkan, Chanyeol bersumpah malam ini juga dia akan melangkah keluar dan berteriak sekeras mungkin bila Pangeran bungsu Silla itu telah resmi menjadi miliknya dan tidak menghendaki seorangpun menyentuh kekasihnya sekalipun hanya sekilas desiran angin.
Jongin dan Sehun kembali saling menyorot dalam penuh arti, menghantarkan implus pembicaraan tanpa kata. "Baik, maaf sudah mengganggu waktu anda dengan pertanyaan kurang ajar kami, Seja jeoha," ujar Sehun sambil menundukkan kepala.
Chanyeol mengulas satu senyum ramah, mengingat dua sosok di hadapannya ini adalah sepasang kakak yang sungguh mencintai dan melindungi kekasihnya sedikitnya Chanyeol harus dapat bersikap hangat.
Sorot yang indah terpancar tulus dari sepasang mata dua putra Silla dan Chanyeol tidak pernah mengira bila Kerajaan Silla yang ditumbuhi oleh para generasi berbudi luhur dapat menjalin benang permusuhan dengan Kerajaan Goguryeo hingga saat ini .
"Tidak masalah. Saya sama sekali tidak berpikiran seperti itu," tutur Chanyeol sopan.
Jongin dan Sehun turut mengulas senyum. "Baiklah jika begitu, kami izin undur diri, Chanyeol Wangseja. Selamat malam," pamit Jongin. "Ya, selamat malam Wangseja, Gun daegam," balas Chanyeol sembari mengantar kepergian Jongin dan Sehun ke ambang pintu tenda.
Usai memastikan kepergian Jongin dan Sehun telah lenyap di kabut malam, Chanyeol kembali melangkah masuk dan mendapati Baekhyun tengah menumpu tangan di meja.
"Kenapa beranjak, sayang. Lebih baik kembali mengistirahatkan tubuh."
"Aku harus kembali."
Chanyeol menghela napas panjang, salah satu tangannya bergerak mencekal pergelangan tangan Baekhyun lalu menariknya mendekat; membawa tubuh Baekhyun ke dalam rengkuhan lengannya.
"Tubuhmu belum pulih, sayang," tutur Chanyeol dengan garis nada cemas yang terdengar jelas.
Baekhyun mengusap tangan Chanyeol yang melingkar di perutnya berusaha menenangkan sang kekasih.
"Aku baik-baik saja, Jeoha. Hanya sedikit perih. Sudahlah, bahkan aku sudah bisa berjalan dengan normal," kata Baekhyun keras kepala.
Chanyeol berdecak mengimbangi sifat keras kepala Baekhyun. "Sayang.."
"Kau sudah melihatnya bukan, hyungdeul mulai bertandang ke tempatmu dan bertanya macam-macam. Dan bila mereka tidak menemukan diriku di tenda malam ini ...- "
Baekhyun menatap wajah Chanyeol lekat-lekat, " -aku pikir kau dapat menyelesaikan perkataanku, Chanyeol. Sungguh, aku tidak ingin perang terjadi di malam hari. Bukankah itu tidak baik," lugasnya mengungkapkan segala macam keresahan hatinya sekaligus kembali membujuk Chanyeol dengan meluapkan segala macam ketidaknyamanannya malam ini.
Setelahnya segaris lekuk lembut terukir di bibir Baekhyun ketika melihat roman wajah Chanyeol meluluh meskipun dalam perasaan terpaksa. Baekhyun mencondongkan wajah, bergerak mengecup pipi kanan kekasihnya; masih berusaha menenangkan hati sang kekasih.
Pada akhirnya Chanyeol benar-benar luluh, apapun yang terjadi; tetap saja dia akan kalah bila berhadapan dengan Baekhyun. "Baiklah – baiklah, kau boleh pergi, tetapi aku akan mengantarmu," titah Chanyeol mutlak yang seketika membebani hati Baekhyun.
"Chan ..."
"Tidak ada penolakan."
Chanyeol berujar tegas sambil membenahi jangot biru yang membaluti punggung Baekhyun kemudian meraih tangannya; menenggelamkan jemari tangan lentik itu ke dalam genggaman tangannya dengan pergerakan hati-hati; meniti langkah di sisi tenda tanpa membuat kegaduhan dan menyelinap dari pengawasan para prajuritnya.
*Rose*
"Sebenarnya apa yang kau lakukan, hyungnim? Konyol sekali," desah Sehun tidak mengerti, tepat setelah memasuki tenda.
Tubuhnya terhentak ke kursi kayu dengan sepasang iris mata menatap jengah sang kakak yang senantiasa masih memasang wajah berpikir. Jongin mengusap kening dengan hela berat di bibir.
"Entah mengapa, akhir-akhir ini kalimat yang tertulis di buku merah itu membayangi pikiranku?"
Jongin menarik punggung kursi kemudian menyamankan tubuh di sana bersama pergerakan Sehun meraih cangkir lalu menuangkan air dalam teko ke cangkirnya. "Lantas, pertanyaan apa itu? Dan mengapa harus kau tanyakan pada Goryeo Seja?" tanya Sehun bingung usai meneguk air minumnya.
Hela panjang yang terdengar semakin berat kembali mengalun, dia menyilangkan lengan di meja lalu menyembunyikan wajah rupawannya ke dalam balutan lengan.
"Aku bingung ingin menanyakan soal apa di samping perasaan resah yang menggebu? Di dalam buku itu dituliskan dua Kerajaan hebat penakluk Semenanjung Korea. Perlukah aku menjelaskannya?"
Sehun menggelengkan kepala sambil menumpu dagu menatap puncak kepala Jongin. "Kau melupakan Kerajaan Baekje, hyungnim?" celetuk Sehun tiba-tiba.
Jongin menengadah menatap adiknya dengan sorot penuh tanya. "Ada apa dengan Kerajaan Baekje?"
"Bukankah Kerajaan itu cukup tersohor, walau tidak sebesar Kerajaan Silla dan Goguryeo," sahut Sehun menjelaskan runtutan kata tiba-tibanya.
Jongin berdecak keras sebelum bergerak memukul puncak kepala Sehun.
"Aduh! Kenapa tiba-tiba memukul kepalaku, hyungnim?!" pekik Sehun tidak terima.
Jongin memejamkan mata. "Aish! Apa telingamu sekarang bermasalah, Sehun Daegam! Dua Kerajaan hebat penakluk Semenanjung Korea. Tolong perhatikan kalimat Kerajaan hebat dan penakluk," tekan Jongin kesal di tiap bait kata.
Sehun mendumal, bibirnya bergerak cepat mencibir Jongin. "Aku rasa Kerajaan Baekje juga ...- "
"Sejak kapan Kerajaan Baekje menjadi Kerajaan hebat dan penakluk Semenanjung Korea, adikku sayang. Ayolah, mengapa sejak tadi kau berusaha mengaburkan pradugaku?"
"Sebab praduga hyungnim terlalu tidak mungkin untuk dilontarkan," sergah Sehun cepat sambil mengusap puncak kepala, rupanya denyut ngilu sebab usapan kasih sang kakak masih membekas.
Jongin mengerjap dua kali, sorot kebingungan menguar kembali dari iris kelam itu. "Apa kau bilang? Terlalu tidak mungkin? Bagaimana bisa?!"
Jongin mendadak terpongo seperti seorang kerbau, kehilangan kewibawaannya yang senantiasa bersinar pekat di setiap garis rupawannya.
"Oh Dewa. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi denganmu, hyungnim? Bagaimana bisa, kau bilang? Takdir mereka terlalu berat. Jika kau berpikir Silla dan Goguryeo bisa dipersatukan hanya karena perasaan cinta. Aku tidak yakin. Sungguh, ini terlalu berat. Kau tahu bagaimana tabiat Ayahanda," oceh Sehun diluar topik pembicaraan bahkan Jongin yang semula terpongo kini kian kehilangan kesadaran akibat perasaan bingung dari lantunan yang menjauhi definisinya akan untaian kata di buku merah itu.
"Kau sudah berpikir sejauh itu. Jujur, sesungguhnya pikiranku belum merangkai ke arah sana. Bagaimana mungkin kau sudah mendapatkan pemikiran seperti itu, Sehun?"
Kini giliran Sehun yang terpongo kaget, tidak mengira bila pemikiran Jongin tidak sebanding dengan prasangkanya tadi. Kepalanya menggeleng kemudian dengan lancang menyentuh kening Jongin sambil bergumam tidak jelas.
"Kepalamu usai terbentur sesuatu, hyungnim. Apa perisai Jenderal Tao berhasil membentur kepalamu siang tadi?"
"Bodoh! Apa yang kau bicarakan? Jangan bercanda," tukas Jongin sambil menampik tangan Sehun.
Sehun menggeram pelan. "Kau yang jangan bercanda, hyungnim. Sejak tadi hanya kalimat bagaimana bisa yang kau lontarkan? Jadi siapa di sini yang bodoh, hah," sentak Sehun kesal turut tersulut emosi.
Jongin terdiam sekilas, jemari tangannya bergerak mengacak surai kelamnya. "Oh Dewa, mungkin kepalaku memang terbentur sesuatu," pekik Jongin frustasi.
Sehun menghela napas berat lantas menyandarkan punggung dengan kepala menengadah menatap langit-langit tenda. "Saat perang tadi, kau melihat sesuatu,hyungnim?"
Jongin mengalihkan pandang menatap Sehun dengan alis saling menyatu. "Apa maksudmu?"
Sehun meraih cangkir minumnya, menuang air dari teko ke dalam cangkir. "Aku rasa sesuatu telah mengganggumu hingga membuatmu se-aneh ini. Kembali memikirkan untaian kalimat asing itu serta mendefinisikan suatu hal yang terlampau jauh untuk di angan-angan."
Kepala Jongin menunduk menatap ukiran meja, sementara jemari tangan menelusuri ukiran tersebut. "Saat perang berlangsung, aku tanpa sengaja melihat Chanyeol Wangseja dan Baekhyun saling berpandangan. Aku tidak bisa melihat wajah Baekhyun karena terhalang barisan prajurit, akan tetapi sorot hangat itu cukup membuatku gusar. Sorot mata yang diberikan Chanyeol pada Baekhyun. Oh Dewa, aku tidak sanggup untuk mendeskripsikannya."
Jongin mengeluh, kembali meletakkan wajah lelah pada lengan yang terjulur lurus di meja. Sehun memainkan bibir cangkirnya, tatapannya menyorot jauh terlihat menerawang.
"Mengapa tiba-tiba aku teringat dengan perkataan Changmin Sanggam bulan lalu?"
Jongin menengadah, keningnya berkerut penasaran. "Perkataan?"
"Ya, saat pertama kali Changmin bertandang ke Kerajaan Silla. Dia berkata bila Chanyeol melenyapkan lima prajuritnya sebab melindungi seseorang?"
Sehun mengerling Jongin dengan pandangan menyorot jauh yang turut menenggelamkan sang lawan bicara ke dalam gemuruh kerisauan hatinya. Punggung Jongin menegak, memaku serius wajah adiknya.
"Tidakkah itu terlalu jauh. Maksudku? Mungkinkah sebelumnya Chanyeol dan Baekhyun pernah bertemu?" lirih Jongin ragu.
Sehun menggelengkan kepala tidak yakin. "Entahlah, hyungnim," desah Sehun letih.
"Kita lihat besok. Bila di antara mereka kembali terjadi pegerakan ..." Sehun meneguk ludah lamat, tidak kuasa melanjutkan kalimatnya.
Namun, rupanya Jongin telah mengetahui maksud dari untaian kata tidak utuh tersebut. Terbukti dari pergerakan anggukan kepala yang dia responkan, bahkan kini hatinya turut bergemuruh resah. Membayangkan jalan berduri di setiap tapak langkah yang akan mereka terjang bila apa yang di pandang mata menjadi kenyataan.
Sungguh, Jongin tidak mampu melihat kenyataan tersebut sebab dirinya akan terseok lemah bila melihat sang adik tercinta terluka.
"Ya, semua pasti akan baik-baik saja."
Jongin memejamkan mata, merasa tidak yakin dengan untaian miliknya. Sementara tenggorokan Sehun seketika terasa penuh. Air yang menggenang di cangkir membayangi sorot mata yang terkelam pedih. Untaian kalimat asing dari buku bersampul merah itu tiba-tiba terasa menyesakkan hati seolah terlukis jelas di pandangan mata.
*Rose*
Pagi menjelang dan kobaran perang pun kembali melagu di setiap sudut dataran Pyongyang. Kini perang terlihat berkobar lebih ganas dari sebelumnya, dendam yang membara di hati Changmin memekatkan pasukan yang ia pimpin. Chanyeol mendesah lelah, dia mengangkat tangan menginteruksi tiga Jenderalnya untuk melancarkan strategi perang yang mereka simpulkan tadi malam.
Ketiga Jenderal itu saling tatap sejenak, meneroboskan pesan tersirat secara cepat kemudian berpencar sesuai barisan prajurit yang mereka pimpin. "Formasi ular," bisik Jenderal Kim pada Jenderal Tao dan Lim, mereka serempak mengangguk paham.
Pasukan mereka kemudian menyebar, terbelah menjadi dua dengan pasukan Jenderal Kim di tengah. Pasukan Jenderal Tao bergerak ke sisi kiri, menyelinap dengan cepat membelah barisan pasukan Baekje tanpa melakukan perlawanan sontak membuat pasukan Baekje melongo heran.
Sementara pasukan Jenderal Lim berderap ke sisi kanan, menyelinap dan membelah barisan pasukan Joseon tanpa melakukan perlawanan pula dan hanya melakukan pergerakan menangkis perlawanan pasukan Joseon. Kemudian, pasukan Jenderal Kim, berputar arah kembali ke arah pasukan Silla, melakukan hal yang serupa.
Berhenti di satu sudut kemudian saling menganggukkan kepala. Prajurit Silla, Joseon dan Baekje mengerut bingung menatap pasukan Goguryeo yang terbagi menjadi tiga dengan barisan memanjang di belakang tubuh mereka. Satu gerak isyarat anggukan kepala dari Jenderal Kim menjadi awal teriakan pilu para prajurit Silla, Joseon dan Baekje yang terperangkap ke dalam formasi mereka.
Pasukan Goguryeo secara serempak melesatkan ujung pedang ke arah musuh dengan formasi ular tersebut. Posisi yang dihimpit dua prajurit sekaligus membuat sang musuh kelimpungan.
Chanyeol tersenyum dalam hati ketika ketiga Jenderalnya berhasil membekuk pergerakan para prajurit lawan. "Brengsek!" umpat Changmin begitu berhadapan dengan Chanyeol, pedang mereka saling bergesekan.
Chanyeol terdiam, menatap datar balutan emosi di sepanjang garis mata Changmin. "Strategi Changmin Sanggam. Hanya sebuah strategi dan anda sudah semarah ini."
Chanyeol mendorong tubuh Changmin menjauh, tanpa sadar iris tajamnya beralih kembali pada barisan prajurit dan tepat saat itu juga dia menghentak pedang Changmin dengan gerak terlampau kasar hingga terpental beberapa meter ke arah belakang sebelum berlari cepat ke tengah medan perang.
Suara pekikan tertahan menyadarkan Baekhyun dari kegiatannya melenyapkan salah satu prajurit Goguryeo, rupanya ia turut terjebak dalam formasi ular milik Jenderal Kim dan terhimpit dua prajurit Goguryeo. Perlahan Baekhyun mengalihkan pandang tanpa menurunkan intensitas kesiagaanya, namun sedetik kemudian matanya terbelalak terkejut ketika mendapati keberadaan Putra Mahkota Goryeo melenyapkan salah seorang prajuritnya.
"Chanyeol."
"Tetap awas, Baekhyun. Lihat kondisi sekitarmu! Kau terperangkap ke dalam formasi ular," bisik Chanyeol tersenggal kalut, raut panik tergurat jelas di wajah tampan itu.
Baekhyun menggelengkan kepala. "Kau membunuh prajuritmu..._"
"Aku tidak peduli!"
Chanyeol menatap onggokan tubuh prajuritnya yang menggelepar kacau sebab dirinya dengan pandangan meminta maaf, lalu beralih menatap mata Baekhyun lekat-lekat. "Siapapun itu akan aku lenyapkan bila keberadaannya membahayakan dirimu, Gun daegam," bisik Chanyeol tegas sembari menarik tubuh Baekhyun keluar dari formasi ular yang ia titahkan pada prajuritnya.
Usai membawa Baekhyun keluar, pria tampan calon penguasa Kerajaan Goguryeo itu secepat mungkin berderap pergi dari hadapannya demi menghalau kecurigaan.
Baekhyun termenung, genggaman tangan pada pangkal pedang mengerat dengan pendar binar mata yang menyendu resah. Namun, melebur dalam himpitan perasaan yang menggebu hangat. Ia mengulas satu lekuk indah tanpa mengetahui empat pasang mata yang menyorot tidak percaya ke arahnya.
Jongin dan Sehun terpaku di posisi usai melenyapkan prajurit Goguryeo di sekitar tubuhnya. Rona wajah mereka menegang dengan bulir keringat mengalir disepanjang garis wajah. "Hyungnim..."
Sehun menoleh menatap Jongin yang menggelengkan kepala ke arahnya. "Ini semua hanya mimpi, hyungnim. Malapetaka ini hanya mimpi," rafal Sehun gamang, sementara Jongin masih terperangah tidak mampu mendapatkan suaranya.
*Rose*
Kekehan ringan menggema di tiap sudut tenda, Changmin terbahak hingga bergerak menekan perut sebelum beralih meraih cangkir minumnya dan menyamankan tubuh di salah satu kursi kayu yang teronggok jemu; menghiraukan tatapan datar Jongin dan Sehun yang merasa jengah dengan tingkah berlebihan sang penguasa Joseon tersebut.
Changmin menghela napas panjang sambil menyandarkan punggung lantas meneguk pelan minumnya. "Kalian tampaknya begitu terkejut, heum?" remeh Changmin yang menuai gertakan gigi dari Jongin.
"Tidak perlu berbasa-basi, Changmin Sanggam! Sesungguhnya apa yang sedang terjadi?!" Suara Jongin menggeram rendah.
Changmin terdiam, menatap datar wajah Jongin dan Sehun secara bergantian sebelum melontarkan dua konsonan kata yang sekejap menghentikan aliram darah sepasang putra Silla tersebut.
"Mereka berhubungan."
"Tolong perjelas kalimat anda, Jeonha," tekan Jongin mencari peruntungan di sela getar suara yang terdengar samar.
Changmin mengangguk satu kali, cangkir minum yang tergenggam di tangan kanan kemudian beralih ke meja. "Chanyeol Wangseja dan Baekhyun Daegam. Mereka menjalin hubungan." Jari telunjuk kanan dan kiri Changmin terangkat di depan wajahnya lantas dia tautkan. "Benang merah," lanjutnya ringan.
Jongin dan Sehun terpaku, tubuh mereka bergetar dengan cicit suara yang terkecap lidah kelu. Tidak mampu mengucap sebait katapun seolah telah kehilangan pita suara.
Changmin mengetukkan jemari ke meja. "Dan seseorang yang Chanyeol Seja lindungi waktu lalu adalah Gun daegam. Adik anda sekalian Wangseja serta Gun daegam Silla."
Jongin terlihat kacau, kepalanya menggeleng cepat hingga tanpa sadar sepasang langkah kakinya menepak ke belakang. Gumaman samar yang terdengar acak terlontar dari celah bibirnya. "Tidak mungkin .. Ini tidak mungkin," bisik Jongin sumbang seperti orang frustasi.
Berbagai kilas bayangan kelam yang mengombak silih berganti menyapa otak, turut menyemarakan kerisauan hatinya.
Sementara Jongin masih terpaku di tempat, pikirannya melayang. Menerawang jauh tidak tentu arah dengan pandangan tersorot ke lantai tenda. Changmin menggeleng pelan menatap pemandangan tersebut. Ia beranjak dari duduknya, melangkah ke lemari kayu yang terletak di sudut tenda. Sebuah lemari kecil sebatas pusar tubuhnya. Tempat penyimpanan gulungan kertas serta coretan-coretan penting tentang strategi perangnya.
"Kalian membutuhkan bukti yang lebih akurat?" tanya Changmin yang lebih terdengar ke arah pernyataan.
Sebuah bungkus kain terlempar ke meja, merosot jauh tepat di hadapan Jongin dan Sehun. Sepasang pria tampan itu mengalihkan pandang, kening mereka berkerut tidak mengerti.
"Gunakan ramuan itu untuk meracuni Chanyeol Wang. Ramuan yang sangat mematikan, akan tetapi lambat penyebarannya. Efek dari ramuan tersebut mungkin akan mulai terasa besok pagi dan belum tentu melumpuhkan syarafnya."
"Lantas, apa hubungannya dengan bukti yang kami pinta dengan ramuan racun ini? Dan dari mana anda mendapatkan ramuan keji tersebut?!" seru Sehun tidak terima. Terlebih terhadap strategi licik sang penguasa Joseon yang sangat bertentangan dengan prinsip mereka.
Changmin menyilangkan lengan sambil menyandarkan punggung pada dinding tenda. "Tabib Choi," balas Changmin acuh.
"Tabib Choi?!"
Jongin menggeleng tidak percaya, sedang Sehun menekan kening menahan emosi yang bergerumuh di hati. "Jangan bercanda, Changmin Sanggam! Tabib Choi tidak mungkin melakukan hal sekeji ini."
"Bila Kangin Wang geon memberikan titah, akankah Tabib Choi tetap berdiri pada pendiriannya."
"Dasar brengsek! Berani sekali anda menghasut Ayahanda kami dengan rencana picik semacam ini!"
Sehun hampir menerjang tubuh Changmin bila Jongin tidak bergegas mencekal pergelangan tangannya. Sehun berdecih murka kemudian meludah ke lantai tenda.
Jongin menatap tajam ke arah Changmin, dirinya pula tengah menahan diri untuk tidak bergerak memenggal kepala penguasa Joseon malam ini juga. "Katakan! Jelaskan kepada kami, apa yang telah anda janjikan kepada Kangin Wang geon serta hubungan ramuan ini dengan bukti yang kami pinta?!"
Jongin menahan geraman suaranya. Changmin tersenyum miring, tangannya bergerak ke belakang mengusap tengkuk yang sedikit berat.
"Mudah saja. Kangin Jeonha menginginkan tahta Goguryeo dan saya menjanjikan hal tersebut bila beliau menyetujui rencana saya untuk meracuni Chanyeol Wang sebelum perang ketiga besok. Sebab, bila kita terus melawan pasukan Goryeo tanpa membubuhi sedikit taktik di dalamnya. Kemenangan akan sulit kita raih. Dan mengenai siapa yang akan menjalankan rencana tersebut? Saya memilih Baekhyun Daegam. Dari situlah anda sekalian akan mendapatkan bukti yang sangat akurat tentang kebenaran hubungan mereka."
Sehun tersedak, ia mendadak terbatuk keras usai mendengar penjelasan Changmin yang begitu diluar angannya selama ini. Tidak terkira sungguh buruk tabiat sang penguasa Joseon, hanya demi sebuah ambisi yang mustahil memiliki batas maksimal. Mereka menghalalkan segala cara. Tidak heran bila Goguryeo sama sekali tidak merasa menyesal melepaskan Joseon dan berakhir dengan perang sebab ia pun yakin bila Goguryeo bukanlah Kerajaan yang berprinsip buruk macam Joseon.
Hanya saja dia cukup kecewa dengan keputusan ayahnya, mengapa begitu mudah terhasut oleh iming-iming Changmin? Tidakkah semua hal yang dilontarkan pria tampan itu bertentangan dengan prinsip Kerajaan Silla.
Jongin menggelengkan kepala, seperti Sehun rupanya calon penguasa Silla juga tidak menyetujui rencana picik semacam itu. "Perlu anda ketahui Changmin Jeonha. Bila Baekhyun juga ahli dalam pengobatan dan ramuan. Segala macam bentuk ramuan dari yang bersifat mengobati hingga menghancurkan dia mengetahuinya, bahkan hanya dengan sekali sesap. Saya tidak yakin adik bungsu kami akan bersedia mengemban rencana picik semacam ini," tolak Jongin tegas sebelum membalikkan tubuh, hendak beringsut pergi dari tenda tersebut.
Dirinya sudah terlampau muak dengan segala macam tabiat yang tampak di diri Changmin. Tidak peduli dengan keresahan hatinya akan hubungan adiknya dengan calon penguasa Goryeo itu. Jongin lebih memilih melangkah keluar dari genangan picik yang sontak menjatuhkan harga diri Kerajaan.
Belum sempat sepasang pria tampan penguasa Silla itu menguak pintu tenda, lontaran selanjutnya yang bermuara dari bibir Changmin menghentikan langkah mereka. "Rupanya anda menentang keputusan Wang geon Silla, Jongin Wang."
Jongin terdiam, kepalan tangan di sisi tubuhnya terlihat kian mengerat.
"Apakah hal tersebut pantas dilakukan? Terlebih anda seorang Putra mahkota, calon penguasa Silla selanjutnya."
Jongin tetap berdiam diri, sementara Sehun sibuk mengatur deru napas yang mulai memburu. "Bagaimana bila Kangin Sanggam mendengar kabar ini? beliau pasti akan sangat marah."
Dan kalimat terakhir mampu menarik Jongin kembali. Sorot tajam yang terbaluti keterpaksaan itu melukiskan senyum menawan di bibir Changmin. Hatinya bersorak sorai saat mendapati keberhasilannya dalam menarik ulur kekuasaan Silla.
*Rose*
Baekhyun termenung, menatap dalam diam dua kakaknya yang sibuk mengalihkan pandang darinya. Roman wajah yang tergurat gelisah mampu Baekhyun kecap keberadaannya. "Aku percaya, hyungdeul tidak mungkin menyetujuinya. Hyungdeul tidak mungkin menjadi seorang pecundang. Tidak mungkin. Aku tidak percaya."
Baekhyun menggelengkan kepala, binar puppy yang menyorot tajam itu sedikit berbayang. Perasaan terkejut serta ngilu mengorek sanubari, menekannya dengan seribu sembiluh tajam. Jongin mengangkat wajah, menatap binar kerapuhan yang sekejap mampu meluluhlantahkan tekadnya.
"Baekhyun, maafkan hyungnim. Ini demi Kerajaan, sayang. Hyungnim, mohon hanya dengan cara ini kita bisa mengalahkan...- "
"Tidak! Aku tidak setuju!" teriak Baekhyun kalut.
Bulir air mata yang menggenang di pelupuk mata pada akhirnya terjatuh membayangi pipi yang perlahan bersemu merah. "Tidak hyungnim! Tidak! Aku mohon. Aku tidak bisa mengemban tugas ini. Aku tidak bisa. Aku mohon, ini terlalu picik hyungdeul. Sangat bertentangan dengan prinsipku."
Baekhyun tergugu pilu, telapak tangannya bergerak membungkam bibir. Gelengan kepala turut merefleksikan kekacauan hatinya serta turut mengiringi isak tangis yang kian mendentang perih.
Sehun memejamkan mata, merasa tidak sanggup menatap adik tersayangnya dalam kondisi tertekan seperti ini. Ia mendekat, hendak menyentuh bahu Baekhyun namun dengan cepat lengan lelaki mungil itu menahan tangan Sehun.
"Aku mohon jangan merayuku. Aku tidak bisa. Jangan memaksaku!"
Baekhyun nyaris membentak, terlalu kalut dengan berita yang terembus dari celah bibir Jongin yang sekejap menghancurkan relung hatinya.
Bagaimana bisa dirinya yang terpilih mengemban tugas sehina itu? Meracuni Chanyeol. Seorang yang begitu dia cintai di alam semesta ini, bagaimana mungkin dia setega itu, mengingat perasaan Chanyeol sungguh tulus kepadanya. Tentu saja, ia memberontak. Tidak terkira akan melakukan hal sejahat itu meski hanya di dalam mimpi.
"Baekhyun! Lakukan atau tidak sama sekali. Maaf, untuk saat ini hyungnim hanya ingin memastikan sesuatu?" Getar suara yang dipaksa menegas menyusup di antara isakan lirih Baekhyun.
Baekhyun mengalihkan pandang menatap Jongin. "Apa maksud hyungnim?"
"Kau menjalin hubungan dengan Chanyeol Wang."
Jongin menahan napas begitupula dengan Sehun ketika menangkap raut menegang dari wajah Baekhyun. Bulir air mata itu terjatuh menapak seresah daun kering yang bahkan sudah tidak nampak rona kuningnya sebab malam telah menyelimuti alam semesta.
Bibir Baekhyun bergetar, sorot mata yang mendadak kosong menatap Jongin dan Sehun secara bergantian. "Hyungnim..."
"Katakan tidak benar, Baekhyun. Hyungnim mohon, katakan tidak benar," lirih Sehun tercekat yang serentak menghentak kesadaran Baekhyun.
Baekhyun terdiam, entah apa yang tengah menaungi pikirannya saat ini. Bibirnya mendadak bungkam, isakan yang sempat melagu menghujam keheningan malam kini berubah senyap.
Tanpa di duga tangan Baekhyun terulur meraih cawan kayu yang tergenggam di tangan kanan Jongin. Sebuah cawan yang menyimpan ramuan pekat yang sempat merombak hatinya. Ia mengeratkan genggamannya, kemudian melangkah terseok melewati sepasang kakaknya yang termangu di posisi.
Menatap pedih kondisi Baekhyun yang begitu hebat menahan buncahan pergolakan batin. Langkahnya terseok, terasa berat hingga seolah tengah menggeret paksa sepasang kakinya yang tengah terpasung beton. Baekhyun mengangkat wajah, rupanya linang air mata terjatuh tanpa suara.
Binar yang biasa memukau alam semesta kini meredup dengan berbagai perasaan kelam di dalamnya. "Hyungdeul benar. Sepasang musuh tidak seharusnya saling mencintai. Takdir telah terukir jelas di atas pijakan darah, bila seharusnya sepasang musuh saling menghancurkan. Ya, memang seharusnya seperti itu," gumamnya dingin sebelum melangkah pergi, mengaburkan tubuh di balik gelapnya malam.
Menghiraukan Jongin dan Sehun yang nyaris terjerembap ke tanah, lontaran datar yang terdengar samar dari bibir bergetar Baekhyun sontak memukul telak hati mereka.
Tidak dapat di pungkiri, perasaan Baekhyun tengah kacau malam ini dan mereka sebagai kakak yang telah bersumpah untuk selalu menjaga binar indah itu dan tidak akan membiarkan sosok lembut itu terluka kini justru menjadi penyebab utama gelenyar kacau yang menikam hati Baekhyun.
*Rose*
Jemarinya mengusap cepat sisa air mata yang senantiasa mendesak keluar dari celah matanya. Baekhyun memaksakan mengulas satu lekuk indah kala Chanyeol berderap mendekat ke arahnya. Ia meneguk ludah berat, senyum tulus yang terulas untuknya sekejap menggerogoti batinnya, menyesakkan dada dengan getar suara yang memberat.
"Ramuan lagi?" tanya Chanyeol saat mata melihat cawan kayu di tangan Baekhyun. Baekhyun menganggukkan kepala. Pandangannya menengadah menatap Chanyeol. "Perlu aku cicipi terlebih dulu?" tanya Baekhyun menahan tangis sesaat Chanyeol tertawa ringan.
Lelaki tampan itu menggeleng pelan. "Tidak perlu, sayang. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu. Aku sangat mencintaimu dan begitu mempercayaimu sekalipun kau telah mengkhianatiku."
Chanyeol mencondongkan wajah mengecup penuh kasih kening Baekhyun. Hati Baekhyun sontak menjerit perih, dia mengerat bibir bawah menahan isakan yang berdesakan mendobrak keluar. Baekhyun tidak mampu ini terlalu menyakitkan, sungguh dia tidak bisa. Bahkan bila diperkenankan untuk memilih, akan lebih baik bila dirinya memilih mati ketimbang melihat Chanyeol menggelepar tidak berdaya sebab dirinya.
"Sesuatu telah terjadi?" tanya Chanyeol cemas saat tanpa sengaja ia menemukan kilat basah di pipi Baekhyun.
Jemari tangannya terulur bergerak mengusap lembut wajah indah sang terkasih. Baekhyun menggelengkan kepala, bibirnya tertarik lurus mengulaskan satu senyuman tulus.
"Minumlah," ujar Baekhyun usai membuka penutup cawan.
Chanyeol mengalihkan pandang, menatap cairan bening bagai air putih. "Satu teguk saja. Jangan dihabiskan," kata Baekhyun menahan getar suaranya.
Semula Chanyeol mengerut bingung, namun kemudian mengangguk patuh. Salah satu tangannya mengacak gemas surai kelam Baekhyun. Hanya satu teguk sesuai perintah Baekhyun.
Keningnya berlipat, mengeryit tidak suka; meski tidak beraroma dan tidak berwarna rasanya sangat pahit bahkan seolah mengerat di tenggorokan. "Pahit sekali, sayang."
Chanyeol membungkam bibir, Baekhyun terdiam dengan gerakan tangan yang bergegas meraih cawan tersebut dan membuang cairan yang tersisa ke tanah. Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan tanpa di duga ia mendorong wajahnya mendekat mengecup bibir Chanyeol dan memagutnya dengan lembut sambil memejamkan mata dengan erat, menahan lesakan air mata yang kian mendesak tidak tenang.
Chanyeol tersenyum dalam pagutan Baekhyun, ia melingkarkan lengan di pinggang kekasih mungilnya. Menyekat jarak lantas memperdalam pagutan bibir mereka.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu Chanyeol," rafal Baekhyun berulang kali.
Getaran suaranya terseduh kacau dengan satu bulir air mata terjatuh dari pelupuk mata. Baekhyun tidak mampu membendung perasaannya lebih lama lagi.
"Aku mencintaimu," lirih Baekhyun sekali lagi sebelum beringsut pergi menjauhi Chanyeol yang mematung tidak mengerti. "Baekhyun!"
Chanyeol nyaris beringsut mengejar Baekhyun ketika seorang prajurit menghampiri dirinya. "Mohon ampun Seja jeoha. Saya mendengar suara teriakan. Apakah telah terjadi sesuatu?" tanya prajurit itu sopan.
Chanyeol menggelengkan kepala, kemudian berdecak keras ketika tidak lagi mendapati tubuh Baekhyun di sekitar wilayahnya.
Gurat gusar membayangi wajah tampannya. "Apa yang telah terjadi? Mengapa kau mendadak kacau?"
Chanyeol memejamkan mata meresapi romansa pagutan lembut di bibir yang terasa bergetar, sejak awal sesungguhnya Chanyeol telah menemukan kejanggalan di diri Baekhyun. Alih-alih menginterogasi sang kekasih, ia lebih memilih berdiam diri.
Memberikan kesempatan bagi Baekhyun untuk mengutarakan keresahan hatinya tanpa tekanan darinya. Tetapi, usai mengecup bibirnya lontaran yang seharusnya menggetarkan hati kini berubah menjadi gemuruh gelisah dengan berbagai pikiran buruk di otak.
Chanyeol menghela napas panjang, tidak sengaja matanya memandang cawan yang tergeletak disamping pohon. Resapan pahit yang masih tersisa di tenggorokan sedikit banyaknya menggumamkan rasa curiga di hati.
*Rose*
Tepakan langkah tergesa berderak di sepanjang lorong hutan belantara yang terlihat gelap dan senyap. Suara binatang malam serta lolongan serigala sama sekali tidak mampu menyurutkan langkah kaki yang acap kali tersandung akar pohon yang mencuat ke permukaan. Derai air mata yang memburamkan pandangan juga tidak menyurutkan tepakan kakinya.
Akar-akar pohon yang mencuat ke permukaan hendak menghadang langkah kaki akhirnya terwujud tatkala tubuh Baekhyun terjerembap ke tanah, menggesek seresah daun kering. Telapak tangan Baekhyun mengerat seresah daun. Menumpu tubuh yang mendadak kaku sebab rasa nyeri yang menggerogoti pergelangan kakinya.
Baekhyun menghiraukan rasa tersebut, tetap memaksakan diri untuk berdiri dengan menarik paksa guratan duri di pergelangan kaki. Darah merembes dari celah lingkaran kakinya bersama semu legam di mata kaki. Napas Baekhyun tersenggal, sekilas menumpu pohon sebelum kembali melangkah tergopoh menyusuri hutan.
Baekhyun menggebrak pintu hanok dan menghambur ke dalam bangunan tersebut secara serantan, menyentak seorang Tabib dan beberapa dayang pengobatan yang tengah menyibukkan diri dengan berbagai ramuan di depan mata. Baekhyun tiba-tiba bersimpuh, merangkak mendekat ke arah pria paruh baya yang tercengang di posisinya.
"G-Gun daegam.."
Tabib Choi tergeragap. Ia sontak bangkit dari duduknya, bergegas meraih tubuh Baekhyun akan tetapi pria cantik itu segera menghempas tangannya. "Katakan! Katakan padaku di mana penawarnya! Cepat katakan padaku di mana penawar racun itu Tabib Choi!"
Baekhyun berteriak kalut, menyentak kesadaran para dayang dari keterkejutan mereka.
Tabib Choi bergetar, ia turut bersimpuh di hadapan Baekhyun. "Daegam...saya. Mohon maaf...- "
"Aku tidak membutuhkan permintaan maafmu, Tabib Choi. Yang aku butuhkan saat ini adalah penawarnya. Cepat berikan aku penawar racun itu! Aku mohon Tabib Choi."
Mendengar permohonan sang junjungan dengan isak tangis yang memilukan cukup membuat Tabib Choi meringis pilu sambil mengutuki kebodohannya.
Pria paruh baya itu kemudian bersujud, menangis dalam diam menyesali perbuatannya ketika mendapati kondisi Baekhyun yang begitu menghentak sisi kemanusiaannya serta posisinya di hadapan Pangeran bungsu tersebut.
"Maafkan saya, Gun daegam. Mohon ampun. Anda berhak melenyapkan saya setelah ini sebab tindakan keji saya. Saya mohon ampun, Baekhyun Daegam."
Baekhyun menggelengkan kepala, bukan perkataan itu yang dia harapkan sekarang, melainkan penawar racun dari cairan yang melesat masuk ke dalam tubuh Chanyeol. Sungguh, rasanya ia ingin bergegas menancapkan belati ke jantungnya bila dirinya sampai terlambat menangani racun tersebut.
Tabib Choi terdiam, gurat wajahnya tampak mengkerut gusar. DIa menunduk dalam dengan tautan jemari di sepasang tangan. "Daegam ... maaf. Kami ..." Tabib Choi meneguk ludah lamat. Kepalan tangan Baekhyun menghantam lantai hanok merasa tidak sabar dengan runtutan kalimat yang terputus-putus.
"Kalian tidak memiliki penawarnya?!"
Tubuh Tabib Choi kian bergetar kacau, anggukan kaku membayangi binar mata Baekhyun yang mendadak kosong. Tubuhnya melemas, terperosok jatuh nyaris limbung dalam posisi simpuhnya.
Beberapa dayang mengkerut takut, hanya mampu menunduk dalam sembari meringis dalam hati mendengar isak serta teriakan pilu junjungan mereka. Baekhyun mengedarkan pandang tampak kacau dan kosong di saat bersamaan. Hatinya seketika meruam hancur sementara denyut jantung terus berdetak mengalirkan darah ke seluruh tubuh memburamkan pikiran Baekhyun akan kondisi Chanyeol.
Meski dia tahu cara kerja ramuan tersebut cukup lambat dan kemungkinan akan menampakkan diri esok hari, namun hasil dari kerja tersebut begitu mematikan dan hal tersebut cukup membuat Baekhyun hilang kendali.
Baekhyun bergegas bangkit dari simpuhnya, kembali memaksakan pergelangan kaki yang berdenyut ngilu. Menyeret langkah menuju pintu hanok menghiraukan seruan Tabib Choi serta desauan para dayang yang mencemaskan dirinya.
Baekhyun terlihat kosong hanya cairan penawar dan kondisi Chanyeol yang memenuhi pikirannya saat ini. Ia mengedarkan pandang, berderap ke arah seekor kuda yang terikat di pohon.
Menghiraukan pekat yang memburamkan pandangan, Baekhyun dengan tekad penuh serta rasa penyesalan yang menggebu menyentak kekang kuda berderap pergi dari hanok sederhana tempat bagian kelompok pengobatan berteduh.
"Baekhyun Daegam ..."
Tabib Choi melirih menggumamkan berbagai kata maaf sekaligus untaian penyesalan yang sangat mendalam sebab kesalahan fatalnya, terlebih saat melihat Baekhyun beringsut pergi menunggangi kuda di tengah malam yang kian larut dalam kondisi tidak stabil.
Bila terjadi sesuatu terhadap diri Pangeran bungsu sontak saja Tabib Choi akan segera menyerahkan dirinya kepada algojo Kerajaan. Tidak kuasa menahan desau kekhawatiran yang mengombak kacau, pada akhirnya Tabib Choi memutuskan diri untuk berdiam diri di pelataran hanok.
Menghiraukan ayunan angin bersuhu rendah yang menggertakkan tulang. Tabib Choi bersimpuh di lantai pelataran hanok.
"Maafkan saya, Gun daegam. Maaf telah menentang titah anda. Maaf, anda patut menghukum saya. Maaf," gumam Tabib Choi sepanjang malam menghiasi kepenatan sang Tabib akan tindakan fatal yang tidak terampuni.
To be continue...
Tidak mampu berkata-kata...
Chapter ini sukses menguras emosi Leo..
Intinya terimakasih atas segala dukungan dari readerdeul setia cerita ini ndee..
Semoga chap ini tidak mengecewakan kalian~
Lope you all
Dan untuk apa yg sedang terjadi.. Tetap dukung EXO yaaa.. Cintai mereka dan support apapun yang menjadi pilihan mereka demi kebahagiaan mereka, tidak terkecuali untuk Chen!
Leo tau kalian kuat, so mari bersama-sama saling menggandeng tangan untuk saling menguatkan satu sama lain okee!
WE ARE ONE!
