Chapter 10

Baekhyun beranjak turun dari punggung kuda. Dia menguatkan diri, menghalau desau angin yang menusuk tulang hingga denyut ngilu dan perih di pergelangan kakipun tidak menghentikan niatnya. Tidak sebanding dengan penderitaan di tubuh, hatinya kian menyusut bila pikiran melayang ke pertemuan mereka tadi.

Dia mengedarkan pandang, menyorot binar mata yang seolah buta akan kegelapan yang mencekam. Baekhyun merangsek seresah daun, mengusapkan telapak tangan pada setiap tumbuhan yang terpandang. Membauinya lantas menarik daun tersebut saat dirasa benar.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang berlomba bersama lantunan doa di hati, berharap dapat menemukan sekelompok tanaman yang nantinya akan menjadi penawar racun Chanyeol. "Aku mohon, bantu aku Dewa. Aku mohon bantu aku," lirih Baekhyun di setiap tapak kaki menginjak tanah.

Baekhyun tersentak ketika kakinya tanpa sengaja menginjak tanah lumut yang menyebabkan dirinya terperosok jatuh ke bawah. Berguling beberapa kali dan nyaris membentur pohon bila tangannya tidak bergegas meraih seutas akar yang mencuat ke permukaan.

Sebab kegelapan serta pikiran yang meriuh kacau Baekhyun tidak dapat mengendalikan langkahnya. Ia terbatuk, beruntung jurang tersebut tidak terjal sehingga hanya rasa ngilu yang merajam tubuhnya.

Baekhyun menggelengkan kepala, lelaki cantik itu tiba-tiba bergerak panik saat genggaman tumbuhan yang dia dapatkan tidak lagi tergenggam di tangan.

"Di mana? Ramuan itu? Oh Dewa aku mohon jangan sampai hilang. Aku mohon."

Tangan Baekhyun bergerak acak meraba seresah daun di sekitar tempatnya terjatuh. "Akhirnya. Dewa, terima kasih." Baekhyun tersenyum, begitu getir ketika ramuan yang sempat terlempar dari tangan dia dapatkan kembali.

Pangeran bungsu itupun kembali beranjak, tubuh yang memberat dengan pening yang memukul kepala dia tanggalkan. Tidak menghiraukan kondisi tubuh yang kian melemah, Baekhyun memijakkan kaki ke jurang terjal, kemudian menyandarkan punggung; meraba dinding tebing lalu menengadah.

Bias rembulan yang tadi sempat meredup kini bersinar terang, membiaskan sinar kuningnya pada sekelompok bunga kosmos cokelat yang bergoyang pelan di atas tebing. Baekhyun menggigit bibir bawahnya sejenak melekuk sebuah senyum lega yang terlukis di bibir yang mulai membiru.

Tangannya bergerak melesakkan sebongkah ramuan yang telah dia dapatkan ke dalam durumagi abunya sebelum meraba dinding tebing mencari pijakan. Rasa takut yang biasa menggelayuti hatinya akan ketinggian dan jalan yang terjal kini Baekhyun ke sampingkan.

Demi Chanyeol apapun akan dia lakukan, perasaan pria itu sungguh tulus kepadanya dan Baekhyun bukanlah orang yang sepicik itu. Menodai ketulusan Chanyeol sebab ambisi keji.

Jikalau nantinya dia terperosok jatuh dan berakhir dengan tubuh yang menghantam bebatuan. Baekhyun tidak gentar, jemari yang mulai terkoyak akibat ukiran kasar gugusan tebing tidak mampu menyurutkan semangatnya. Bahkan dirinya tidak ingat kapan terakhir kali memanjat tebing setinggi ini dengan jurang curam di bawah.

Jerami yang membaluti jipsin perlahan terkelupas karena bergesekan dengan tebing serta perjalanan yang terlihat tidak lancar. Baekhyun mengacuhkan jipsinnya, bahkan bila kakinya telanjang dan tidak lagi mendapat perlindungan dari jipsinnya pria cantik itu tidak peduli.

Yang terpenting saat ini adalah dirinya mampu merangkak ke atas dan mengambil salah satu bunga kosmos tersebut; bahan utama untuk membuat penawar racun yang diteguk Chanyeol.

Gugusan batu yang mengembung di dinding ternyata tidak cukup kukuh untuk menjadi raihan tangan Baekhyun. Seketika gugusan tersebut melebur menghentikan detak jantung Baekhyun. Baekhyun mengeratkan cengkeraman tangannya dan meringis perih saat tangan kanan meluncur turun menggaruk dinding tebing.

Koyakan yang terlihat semu kini bertambah parah, rembasan darah menjadi tanda di setiap dinding tebing yang dia pijak. Jipsin yang kian merapuhpun turut mengoyak tubuh Baekhyun. Sementara luka yang terdapat di pergelangan kaki semakin melebar sebab terus terkoyak dinding terjal.

Baekhyun memejamkan matanya, tubuhnya terasa lumpuh di saat hujaman rasa ngilu dan perih bergerak menghancurkan tubuhnya secara bersamaan. Aroma karat menyelubungi indera penciuman, ia mengerat bibir bawahnya. Terus menapaki dinding hingga tidak sadar fajar mulai menyingsing, benang-benang kuning telur mulai menyerap di ufuk timur.

Baekhyun meraih ujung tebing, napasnya tersenggal dengan wajah yang mempias pucat. Bibirnya bergetar, sementara keringat membasahi kening dan sisi wajahnya. Lekuk senyum terulas, linang air mata bermuara di antara keringat saat mata dapat memandang sekelompok bunga kosmos cokelat tepat di depan mata.

Telapak tangan yang penuh akan linang darah terjulur, terlihat bergetar ketika hendak memetik bunga tersebut. Baekhyun menundukkan wajah, kembali menguatkan diri untuk kembali turun ke bawah dengan sepasang tangan dan kaki yang kian melemas kebas.

"Kuatkan aku," rintih Baekhyun sembari menuruni tebing dengan kepala yang kian berdenyut pening. Hampir saja kaki memijak tanah, tubuhnya lebih dulu limbung sebab tidak kuasa bertahan dengan perasaan ngilu yang merajam meski telah dia paksakan.

Suara erangan perih terlontar, punggungnya menghantam tanah terjal dengan cukup keras, bahkan kepala bagian belakang turut terantuk batu. Desiran hangat seketika terasa melembabkan surai kelamnya.

Baekhyun bergegas menekan belakang kepalanya, menghalau linang aroma karat tersebut dengan gerak sempoyongan menuju kuda yang dia tambatkan di pohon.

Tubuh Baekhyun terhentak ke tubuh kuda, dia nyaris tidak sadarkan diri. Namun, tekad akan kondisi Chanyeol memaksakan kelopak matanya untuk tetap terjaga menampakkan binar semu yang kian menggelap. Baekhyun mendesis ngilu, tangan kanan meraih punggung kuda memaksakan diri menaiki kuda setelahnya beranjak pergi dari hutan.

*Rose*

Tabib Choi yang sejak tadi malam terjaga di pelataran hanok sontak bangkit dari simpuhnya ketika telinga mendengar deru langkah kuda dibalik gugusan pohon yang membiaskan sinar-sinar emas kekuningan. Iris bayanya terbelalak saat mendapati kondisi Baekhyun yang jauh dari kata baik.

Pria baya itu bergegas berderap menghampiri Baekhyun, tergopoh sempoyongan kala Baekhyun hendak turun dari punggung kuda. Sebab tubuh yang kian terajam ngilu, tubuhnya nyaris terjerembap jatuh bila Tabib Choi tidak sigap menahannya.

"Gun daegam!"

"Aku harus bergegas Tabib Choi. Aku harus bergegas membuat ramuan ini," rafal Baekhyun kacau sembari menyentakkan genggaman Tabib Choi dari tubuhnya.

Belum sempat melangkah pergi, Baekhyun tiba-tiba terperosok jatuh, bersimpuh di tanah.

"Baekhyun Daegam!" Tabib Choi terpekik cemas. "Sebaiknya anda beristirahat, serahkan ramuan itu pada saya, Daegam. Saya akan...-"

"Tidak!"

Baekhyun menggeleng kuat, binar puppy yang menyendu itu menatap Tabib Choi dengan sorot tajam. "Tidak! Aku yang akan membuat ramuan ini! Aku yang telah meminta Chanyeol Wang meminum ramuan keji itu. Tidak! Aku harus bergegas membuatnya," racau Baekhyun makin kalut usai menghentak rengkuhan Tabib Choi.

"Tidak Daegam! Kondisi anda. kondisi anda terlihat kian melemah, saya mohon Gun daegam."

"Aku tidak peduli! Lepaskan aku Tabib Choi!" bentak Baekhyun pada akhirnya sesaat menyentak rengkuhan Tabib Choi dengan sisa tenaga yang tersudut sebab perasaan kalutnya.

Tabib Choi termangu, tergugu menahan isakan akibat pemandangan yang tersaji didepannya. Sementara Baekhyun memaksakan diri menguak pintu hanok dan kembali menghempas setiap dayang yang menghampirinya hendak meperhambat tugasnya.

Baekhyun kini telah mencapai dapur pengobatan, dengan pening yang menjadi serta tubuh yang kian melemas. Pada akhirnya dia terpaksa merangkak di lantai, segerombol dayang yang melihat kondisi tragis sang junjungan serentak bersimpuh di hadapan Baekhyun sambil bergerak membantu kegiatannya.

Baekhyun terdiam, hanya linang air mata yang turut menyertai tindakannya. Dimulai dari menumbuk ramuan, mencampur ramuan hingga memasaknya. Ia lakukan seorang diri tanpa campur tangan dayang. Mereka hanya sebatas mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan Pangeran Bungsu itu.

Tak berani menentang titah Baekhyun terlebih dengan kondisi se-tragis itu. Mereka pun hanya menunduk diam penuh gurat sesal di wajah, terlebih Tabib Choi hanya mampu mematung diambang pintu dapur.

Usai mempersiapkan ramuannya, Baekhyun bergegas bangkit dari simpuhnya hendak berlalu ke tempat Chanyeol. Tabib Choi menghadang langkah Baekhyun, dia memerosotkan tubuh, bersujud di kaki Baekhyun.

"Saya mohon Gun daegam. Hari ini saja, kembalilah menganggap saya sebagai teman anda. Saya mohon untuk yang terakhir kalinya," pinta Tabib Choi dengan isak tangis yang tak mampu lagi dia tahan.

Tubuh pria baya itu bergetar hebat dan hati Baekhyun memanglah begitu lapuk, tidak mampu melihat orang lain bersedih terlebih sampai memohon kepadanya. Baekhyun memejamkan mata, mengesampingkan emosi akibat tindakan Tabib Choi yang menyalahi prinsipnya dengan turut merendahkan tubuh, menghadap Tabib Choi.

"Apa yang ingin kau katakan, Tabib?" suara lemah Baekhyun mengambil alih simpuh Tabib Choi, kepalanya menengadah perasan bersalah sontak menghimpit relung batinnya saat melihat lekuk tulus di bibir pucat itu.

"Izinkan saya mengobati tubuh anda, Baekhyun Daegam. Saya mohon, izinkan saya."

Iris puppy Baekhyun perlahan memanas, anggukan pelan kemudian menyertai keputusannya.

"Baiklah."

Tabib Choi mendesah lega, bibir yang melekuk indah itu berbayang dengan linang air mata di wajah bayanya.

*Rose*

Chanyeol mengeratkan genggaman pedangnya, sepanjang mata mengedar secercah keberadaan Baekhyun sama sekali tak ditemukan. Tentu saja, hati yang sejak semalam bergerumuh tidak tenang makin bergejolak resah.

Emosi yang meluap sebab ketegangan hati terlihat menguar di wajah tampannya. Suara gesekan pedang terdengar menyayat telinga akibat emosi yang merangsak pikiran, pagi ini Chanyeol terlihat berbahaya.

Bahkan ketiga Jenderal kepercayaannya tidak mampu melontarkan bait kalimat bantahan barang sekecap dan hanya terus mengangguk patuh menerima titah Chanyeol.

Kilat tajam itu menyorot Changmin, dia sedikit banyak mengetahui masalah Chnayeol sebab petang tadi wilayahnya pun telah digegerkan oleh kedatangan Jongin dan Sehun yang berniat menebas lehernya sebab kehilangan jejak Pangeran bungsu sejak semalam.

"Dimana Baekhyun?" bisik Chanyeol tajam ketika wajah mereka berhadapan.

Changmin menggeleng pelan. "Bukankah semalam Gun daegam menemui anda, Wang seja."

Chanyeol mendorong pedang Changmin menjauh. "Dia tampak resah."

Changmin mengusap tengkuk, sepasang alisnya tertaut. "Hem, mungkin karena Baekhyun Daegam mulai sadar dengan hubungan terlarang itu," tukas Changmin acuh yang kian membuat Chanyeol menggeram marah.

"Brengsek!"

Mata pedang yang mengkilat mengerikan bergegas melayang, namun denyut hebat kemudian menghantam kepala Chanyeol, membuat geraknya terhenti kaku dengan pandangan merunduk ke tanah yang terlihat buram.

Chanyeol terhuyung ke belakang, binar tajamnya mengedar bingung sementara napasnya mulai tersenggal, tubuhnya bahkan nyaris menyapa tanah. "Ada apa? Ada apa dengan diriku?" lirih Chanyeol bingung sambil menumpu pedang yang tertancap di tanah.

Changmin mengulas satu senyuman licik. "Rupanya sudah mulai bekerja."

Pandangannya menengadah menyipitkan mata memaku wajah Changmin. "Apa maksud anda, Changmin Sanggam?"

Jari telunjuk Changmin bergerak, menyentuh lubang hidungnya sendiri; menyerukan bahasa tubuh pada calon penguasa Goryeo itu. Chanyeol sekejap tercengang saat jari tangannya menyentuh linang darah yang merembes cukup deras dari celah lubang hidungnya. Tidak berselang lama, batuk dan darah turut keluar dari celah bibirnya.

"Itulah jawaban utama atas keresahan hati anda dan menghilangnya Baekhyun Daegam hari ini, Wang seja."

Chanyeol terpaku. "Ramuan itu?" Suaranya bergetar serak, napas tersenggal beriringan dengan denyut panas di dada mengaburkan pandangan Chanyeol. Changmin tertawa pelan. "Ya, tepat sekali. Ramuan itu."

Binar mata Chanyeol menggelap, dia memaksakan tubuh yang membungkuk untuk menegak. Sorot kelam yang sempat mengabur, menajam seiring dengan genggaman erat dipangkal pedang.

"Dasar brengsek! Tidakkah mempunyai taktik yang lebih bermoral selain meracuni seseorang, CHANGMIN SANGGAM!" geram Chanyeol naik pitam sembari mengayunkan pedangnya.

Dia memaksakan diri, emosinya mengambil alih kesakitannya sesaat mengetahui kenyataan bahwa kekasihnya telah diperalat demi menjalankan rencana rendah ini.

Ingatan tentang ucapan Baekhyun tadi malam sontak merajam benak Chanyeol.

"Satu teguk saja. Jangan dihabiskan."

"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Chanyeol."

Chanyeol memejamkan mata disaat rasa sesak menghimpit dirinya, Baekhyun masih sempat menyelamatkan hidupnya untuk tidak menghabiskan ramuan keji itu. Ia meyakini dalam hati, mustahil bila Baekhyun mampu melakukan hal tersebut tanpa unsur paksaan maupun kecaman.

Dirinya lebih dari tahu, bagaimana lembut dan lapuk benak kekasihnya meski kepada prajurit yang hendak membunuh dirinya sekalipun, Baekhyun masih sanggup memberi maaf.

"Kau sudah memaksa dan memperalatnya, Brengsek! Aku akan membunuhmu!" teriak Chanyeol di sisa ketahanan tubuhnya.

Tidak menghiraukan struktur tubuh yang kian mati rasa dengan rasa panas dan ngilu disekujur titik syaraf, serta tak ia pedulikan pula linang darah yang senantiasa mendesak keluar dari lubang hidung.

Kenyataan pahit yang menyelubungi hati cukup memberikan kekuatan bagi seorang Chanyeol untuk melenyapkan musuhnya. Changmin bergerak lincah menangkis pedang yang terus melayang ke arahnya, penguasa Joseon itu mengerut heran bagaimana bisa Putra mahkota Goryeo masih sekuat ini bila kenyataan ramuan tersebut mulai memberikan dampaknya.

Sebuah kesalahan fatal berpikir di tengah terjaman Chanyeol yang kian bengis, tanpa dia sadari pedang yang terkira menyapa dari arah kanan berbalik dengan cepat ke depan sontak menghunus perutnya. Changmin terpekik saat merasakan ujung pedang tersebut terus merangsak masuk mengoyak organ dalamnya.

Seolah kehilangan naluri kemanusiaannya, Chanyeol dengan beringas menarik ulur ujung pedang tersebut, menuai jeritan pilu yang sekejap menghentikan derai gesek pedang, anak panah serta tombak yang saling melayang melumpuhkan musuh. Mereka termangu menatap kemurkaan Chanyeol pada tubuh Changmin.

Sementara Jongin dan Sehun hanya mampu berdiam diri diposisi, tidak berniat membantu aliansi mereka yang tengah meregang nyawa dengan tragis.

Tentu saja, mereka pun sesungguhnya tengah memendam rasa dendam yang menggebu sebab hilangnya Baekhyun semenjak rencana kotor yang mereka amanahkan kepada Pangeran bungsu malam lalu.

Perasaan sesal sekaligus takut sontak menyeruam masuk menggerogoti hati mereka hingga nyaris menebas leher Changmin pagi tadi, jika Jenderal Changmin tidak menghadang mereka. Jongin mengedarkan pandang, menatap Jenderal Jung yang tengah berseteru pelik dengan Jenderal Kim.

Abdi setia Changmin rupanya ingin membantu sang junjungan, namun naas ketika niatan hati harus terpaksa urung sebab perlawanan Jenderal Kim. Dan peristiwa selanjutnya mampu membuat para prajurit dari Baekje, Silla maupun Joseon melangkah mundur. Kepala yang terpisah dari tubuh cukup ampuh memudarkan semangat perang mereka.

Chanyeol kini benar-benar murka, perasaan cemas akan hilangnya Baekhyun menggelapkan seluruh rona alam semesta yang pernah dia kecap. Putra mahkota Goguryeo kemudian berderap pergi, memaksakan diri menyeret langkah menuju kuda. Tubuhnya tiba-tiba terjerembap ke tanah, beriringan dengan batuk keras yang memilukan telinga.

Chanyeol tersenggal, ia mengumpat dalam hati saat darah membasahi bibirnya. Jenderal Kim bergegas berlari ke tempat Chanyeol usai menyerahkan Jenderal Jung kepada Jenderal Tao dan Lim.

"CHANYEOL WANG!"

Iris tajam Jenderal Kim terbelalak panik ketika melihat darah segar terus berlinang dari lubang hidung dan mulut junjungannya.

Bergegas ia memanggil tabib dan keadaanpun makin riuh. Di antara kibaran kemenangan Goguryeo, hilir mudik pasukan serta dayang pengobatan menjadi pemandangan yang turut mencekam suasana duka atas kematian penguasa Kerajaan Joseon.

Jongin dan Sehun menghela napas panjang, mereka kemudian bergerak menarik pasukan Silla untuk bertandang kembali ke Kerajaan dengan hati yang dirundung perasaan sesal sekaligus cemas. Di satu sisi mereka mendapati keadaan Chanyeol yang menggelepar tragis, dan di lain sisi mereka belum juga mendapati kehadiran Baekhyun.

Bila akan seperti ini kenyataan yang tercipta, sampai matipun Jongin dan Sehun tidak akan pernah menyetujui rencana keji tersebut meski sang penguasa Silla sendiri yang menitahkan kepada mereka. Begitu telak membuang prinsip mereka dengan hasil yang tetap sama.

Tetap saja, Goguryeo yang memimpin di depan.

*Rose*

Serasa nyawa dicabut secara paksa, Jaejoong merasa kebas ketika peristiwa kelam beberapa tahun silam kembali menghantui pandangannya. Bagaimana jantungnya tidak berhenti berdetak saat mendengar lantunan penuh sesal dari Jenderal Kim yang mengabarkan kondisi Chanyeol tengah kritis.

Jaejoong menggigit bibir bawah, menahan isakan yang mulai berdentang setelah terdiam termangu dengan linang air mata tanpa isakan. Tangannya bergerak, meraih wajah pucat Chanyeol yang terlihat mengerut menahan sakit. Dadanya bergerak cepat, naik-turun secara acak sebab napas yang kian tersenggal berat.

"Chanyeol, bertahan sayang. Ibunda mohon bertahanlah."

Kelopak mata yang tertutup erat pelahan terbuka, menampakkan iris tajam yang berubah sayu. Memandang Jaejoong penuh sesal. "M-maaf, Ibunda. Aku tidak bisa-..." Chanyeol menarik napas berat saat pening kembali menghantam kepalanya. "-... aku tidak bisa menepati janjiku. Maaf," lirih Chanyeol yang makin membuat Jajejoong tergugu pilu.

Kepalanya menggeleng cepat, ia mencondongkan tubuh mengecup kening Chanyeol. "Tidak, sayang. Jangan meminta maaf, kau tidak bersalah. Semua terjadi bukan karena kehendakmu. Saat ini hanya satu pintaku. Bertahanlah, Ibunda mohon. Hanya sebentar, nak. Ibunda mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan Ibunda." Jaejoong mengecup punggung tangan Chanyeol.

Chanyeol memejamkan mata, tiba-tiba dia terbatuk hebat. Begitu keras dan memilukan hingga Jaejoong berteriak histeris memanggil tabib sebab linang darah yang sempat terhenti kembali mendesak keluar menodai wajah pucat Chanyeol.

"Tabib! Cepat panggil tabib! Aku mohon cepat panggil tabib kemari!" teriak Jaejoong kacau, tangannya mengerat genggaman tangan Chanyeol.

Seorang tabib dan beberapa dayang medis tergopoh menghambur ke dalam paviliun Chanyeol.

Mereka dengan sigap menangani kondisi Chanyeol yang tidak kunjung membaik justru terlihat kian menggelepar parah. Jaejoong terpaku di balik punggung tabib dan para dayang yang mengelilingi tubuh putranya.

Pikirannya kosong, isakannya kian menyayat hati hingga tidak menyadari kehadiran seseorang. Yunho mendekat, merengkuh tubuh Jaejoong berusaha menenangkan istrinya.

"Bagaimana?" tanya Yunho tercekat begitu mata memandapati kondisi putranya.

Dia baru saja pulang dari perjalanan politik di Kerajaan seberang dan sungguh terkejut saat salah satu pengawalnya mengabarkan kepulangan Chanyeol dengan kondisi yang tidak baik.

Tentu saja dirinya langsung bergegas menuju paviliun Chanyeol, alih-alih mengistirahatkan tubuh yang melemas letih karena perjalanan yang cukup jauh ia justru terlihat tergopoh dalam perjalanannya kemari dan serasa jantung berhenti berdetak ketika melihat kondisi memilukan di dalam paviliun tersebut.

Bagaimana tubuh Chanyeol menggeliat tidak berdaya di balik futon cukup membungkam bibirnya dan sementara disisi lain pendamping hidupnya menangis tergugu hingga terseggal turut mengacaukan pikiran Yunho.

Tabib Lee menunduk dalam, raut baya itu tergurat penuh sesal. "Racun itu mulai menyebar di tiap titik syaraf Wang seja, Wang geon. Dan seharusnya kami secepatnya memberikan penawar racun tersebut ..."

"Lantas mengapa tidak segera memberikannya?!" geram Yunho tidak sabar menyudutkan Tabib Lee serta beberapa dayang pengobatan yang terpaku dibelakang Tabib Lee.

"Mohon ampun, Wang geon. Anda dapat menghukum kami setelah ini sebab ketidakberhasilan kami dalam mengemban tugas kami. Namun, memang pada kenyataannya ramuan dari penawar tersebut sulit untuk ditemukan. Berada jauh di hutan belantara dan di ujung tebing. Kami mohon maaf."

"AKU TIDAK PEDULI!"

Yunho berdiri menghempas apapun yang terpandang mata. Ia rupanya benar-benar murka saat ini. "Seberapa sulitpun ramuan tersebut terjangkau tangan, kalian harus bergegas mendapatkanya! Kalian harus bisa menyembuhkan putraku!" Yunho meraung penuh emosi.

Tabib Lee serentak bersujud di kaki Yunho. Tubuhnya bergetar kacau mendapat kemurkaan sang junjungan.

"Mohon ampun, Wang geon. Kami tidak bisa membiarkan Wang seja menunggu hingga esok hari dan kami pun tidak mungkin mendapatkan ramuan tersebut sore ini. Kami ..."

"KELUAR! Keluar dan bergegas cari ramuan itu sekarang juga!" sergah Yunho geram membungkam alasan demi alasan yang terlontar dari bibir Tabib Lee yang kian menyulut api kemarahan ditubuhnya.

Bergegas Tabib Lee menundukkan kepala meminta izin keluar beriringan dengan tiga dayang pengobatan yang setia terpaku takut di belakang tubuh Tabib Lee.

Chanyeol mengalihkan pandang, menatap orang tuanya dengan sorot lemah yang begitu menyakiti hati Jaejoong. "Ayahanda ... Ibunda," lirih Chanyeol menyentak keheningan yang memilukan hati. Raut yang menekan perasaan Chanyeol itu memaksa seulas senyum hangat terpatri dibibir keringnya.

"Istirahatlah. Aku baik-baik saja," pinta Chanyeol yang hendak ditolak Jaejoong.

Chanyeol menggelengkan kepala. "Aku baik-baik saja. Aku akan bertahan, Ibunda. Hanya sebentar," bisik Chanyeol lembut yang kembali menuai derai air mata.

Jaejoong beringsut mendekat, mencondongkan tubuh mengecup kening putranya lama.

Yunho termangu melihat pemandangan yang terlihat mengiris hati. Ia bahkan sampai mengalihkan pandang disaat hati yang bergerumuh perih nyaris melimbungkan tubuh bayanya. Jaejoong tersenyum, sorot matanya melembut, jemari tangan mengusap bulir keringat yang menyapa sisi wajah putranya.

"Ibunda mencintaimu. Ibunda sangat mencintaimu, nak. Maka dari itu, bertahanlah."

Jaejoong menggenggam sejenak tautan tangan Chanyeol yang bertumpu di perut.

"Istirahatlah."

Jaejoong menahan napas, dia kemudian bangkit berdiri dengan telapak tangan yang membungkam bibir, berderap keluar dari paviliun Chanyeol menyisakan Yunho yang terdiam di ambang pintu.

Chanyeol memejamkan mata, sudut matanya tanpa sadar berair meratapi kondisi ibunya yang tampak memilukan sebab dirinya. Yunho mendekat, tubuhnya beringsut merendah kemudian bergerak mengusap puncak kepala Chanyeol.

"Kau seorang Putra mahkota dari Kerajaan Goguryeo. Yang begitu tersohor akan kebengisannya dalam perang. Sepertinya tidak patut tergolek lemah hanya karena sebuah taktik kotor," remeh Yunho bermaksud mengobarkan semangat putranya.

Chanyeol tertawa pelan, kepalanya menggeleng. "Sesekali aku perlu bertindak layaknya manusia biasa, Ayahanda. Lagipula hanya sebentar untuk apa dirisaukan?" lirih Chanyeol tersenggal, sesekali batuk menyertai untaian kalimatnya.

Yunho menggenggam tangan Chanyeol. "Aku tahu kau kuat. Bertahanlah. Ya, hanya sebentar."

"Aku mengerti."

Chanyeol terkesiap untuk pertama dalam hidupnya semenjak meninggalkan usia kanak-kanak kecupan hangat di kening tak terkira ia dapatkan kembali. Ia mengerling Yunho, menatap sang ayah yang tengah berusaha menyembunyikan sudut mata yang berair.

"Istirahatlah," bisik Yunho bergetar sembari bangkit dari simpuhnya. Melenyapkan diri dibalik pintu paviliun Chanyeol.

Chanyeol melihat semu bayang tubuh ayahnya yang menyandar di pintu, tangan kanan terangkat mengusap wajah. Bibir keringnya tersenyum, begitu tulus.

Rupanya kedua orang tuanya sangat mencintai dirinya selepas dari identitas yang menggantung dibahu masing-masing. Baru kali ini ia mendapat kehidupan normal dalam pautan kasih keluarga yaitu mendapat kasih sayang orang tua layaknya rakyat biasa tanpa terbayangi sikap formal yang sangat dijunjung tinggi di Kerajaan.

Chanyeol menghela napas panjang, denyut pening serta rasa panas yang melerburkan tiap titik syaraf tubuhnya kian menjadi. Namun, gemuruh hangat sebab perasaan kedua orang tuanya cukup ampuh meredakan rasa sakitnya meski hanya sekilas.

"Aku juga mencintai kalian. Ayahanda, Ibunda."

*Rose*

Baekhyun mengeratkan jubah tudung yang membaluti kepala hingga punggungnya. Dia mengedarkan pandang, gemuruh guntur serta angin badai yang menyapa tubuh tidak mampu menggerakkan posisi Baekhyun. Sebagian tubuh yang tampak basah akan hujaman air hujan yang kian mengguyur deras menenggelamkan tanah yang tengah ia pijak.

Telapak tangan terulur, mengusap pandangan yang memburam karena terpaan angin yang turut serta membawa rintik hujan. Merasa cukup aman, Baekhyun bergegas menyelinap masuk. Untuk pertama dalam hidupnya dia bertandang ke Kerajaan Goguryeo dengan cara yang sangat berbahaya.

Menyelinap masuk melalui serambi belakang Kerajaan tanpa mempedulikan penjagaan ketat di sekitar sudut petang tersebut. Baekhyun kehilangan tujuan, mengingat dirinya tidak pernah sekalipun menyelinap kemari membuatnya tersesat. Tidak terkira bila niat beraninya akan menghantarkan diri ke dalam kebingungan mencari paviliun Chanyeol.

Tentu saja tidak akan berjalan dengan mudah. Terlebih hari mulai gelap dan dirinya juga tidak begitu mengenal tiap-tiap sudut Kerajaan. Telinganya terkesan awas, setiap mendengar tepakan langkah Baekhyun bergegas menyudutkan diri di salah satu sudut petang yang tidak terbiaskan sinar rembulan.

Tetapi rupanya nasib sedang tidak berpihak padanya, tanpa sadar pergelangan kakinya kembali berdenyut ngilu hingga membuat dirinya sedikit terhuyung ke belakang dan tanpa sengaja menjatuhkan guci berukuran sedang yang terbuat dari tanah liat.

Sontak tiga prajurit yang baru saja melewati lorong tempat persembunyian Baekhyun, beringsut memutar arah berderap cepat menghampiri asal suara. Baekhyun panik, ia mengedarkan pandang kemudian berlari ke sisi kiri Kerajaan.

"Siapa disana?!"

"Ada penyusup! Cepat kejar penyusup itu! Jangan biarkan dia meloloskan diri!"

"Cepat! Cepat! Ada penyusup!"

Baekhyun merutuki kecerobohannya, suasana mendadak hiruk pikuk. Bermula dari tiga prajurit kini berubah menjadi sepuluh prajurit yang berbondong-bondong mengejar dirinya.

Pikirannya kacau sementara hatinya bergerak risau tentang kondisi Chanyeol, terlebih saat dirinya tanpa sengaja mendengar ocehan dua prajurit yang tengah berkicau pandai tentang kondisi Chanyeol yang mendadak berubah tragis usai membunuh Changmin.

Mendengar hal tersebut Baekhyun kemudian bergegas menunggangi kuda bertandang ke Kerajaan Goguryeo, tidak dia pedulikan tubuh yang usai terobati. Pikirannya saat itu terus berpusat pada kekasih hatinya. Dan saat dirinya sudah berhasil menyelinap masuk, tidak mungkin akan kembali melompat keluar sebelum dirinya melihat Chanyeol dan memastikan kondisi pria tampan itu.

Baekhyun kelimpungan saat mata menangkap jalan buntu, dengan pikiran yang terombak kacau ia memilih acak bangunan paviliun yang bersampingan di sisi kanan dan kiri. Baekhyun kemudian bergegas memilih paviliun yang berada disisi kanan, terlihat mencolok dan megah nyaris seperti paviliun milik Raja.

Baekhyun bergerak menapaki dinding beton yang menjadi pembatas antar dua paviliun tersebut, kemudian meraih jendela dan masuk ke dalam. Tidak peduli dengan paviliun siapa yang ia masuki dan tidak peduli bila ternyata paviliun tersebut milik Raja hingga pada akhirnya dia akan tertangkap dan di eksekusi.

Baekhyun menghiraukannya, namun dengan satu syarat sebelum dirinya di eksekusi maupun di tahan dipenjara bawah tanah izinkan dirinya untuk memberikan ramuan penawar di genggaman tangan ini kepada Chanyeol. Hanya itu permintaan terakhirnya.

Baekhyun menghela napas panjang, ia menekan dada yang tersenggal panik. Kini dirinya benar-benar basah kuyup sebab diharuskan menerjang hujan bersama para prajurit itu.

Baekhyun mengedarkan pandang, meneliti setiap sudut paviliun yang terlihat temaram. Iris puppynya mengerjap dua kali saat aroma yang tidak asing dan berubah menjadi candu baginya sejak menjalin kasih dengan Chanyeol silih berganti terembus di lubang hidung.

Baekhyun terkesiap, ia tersentak bangkit dari duduknya. Menelusuri lantai kayu dengan gerakan perlahan menghampiri ruang kamar yang tersekat dipan berukirkan naga biru dengan ukiran batu zamrud disekelilingnya. Baekhyun terentak, corak yang terdapat di dipan tersebut sedikit banyak mengingatkan dirinya akan corak gelang yang diberikan Chanyeol kala itu.

Hati Baekhyun makin bergerumuh kacau gerakan ragu yang semula menyelimuti kaki Baekhyun kini tampak berubah kacau dan suara batuk berseling dengan erangan berat menghentikan sejenak detak jantungnya.

Baekhyun menghambur masuk, irisnya terbelalak kaget. Tubuhnya terpaku ketika melihat Chanyeol tengah berusaha menumpu badan hendak meraih cangkir minum.

"C-Chan ..." lirih Baekhyun yang sontak menghentikan gerakan Chanyeol.

Chanyeol terdiam, uluran tangannya terhenti di udara. Denyutan panas yang menggerogoti tenggorokan sekilas dia hiraukan. Ia mengalihkan pandang, menyipitkan mata hendak memperjelas pandangan yang berbayang sebab denyut pening yang seolah ingin menghancurkan kepala.

Belum sempat Chanyeol melontarkan bait kalimat, batuk yang memilukan telinga kembali menaungi bibir Chanyeol. Baekhyun tersadar, suara batuk yang kian memilu menyakitkan mendorong tubuh Baekhyun untuk mendekat. Dia kemudian bersimpuh di hadapan Chanyeol.

"Chanyeol! Oh Dewa!"

Baekhyun membekap bibir, linang darah serta wajah pucat Chanyeol menikam hati Baekhyun. Binar matanya meredup, balutan air mata lantas menyeruak keluar membayangi pandangan Baekhyun.

Chanyeol menarik napas panjang, ia menatap Baekhyun dalam diam. Tidak mampu berucap meski dirinya begitu ingin.

Baekhyun menggelengkan kepala dengan gerakan cepat dan terlihat panik. Tentu saja, saat ini dirinya memang begitu panik. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar hebat. "Tidak. Aku mohon bertahanlah, Chan. Aku mohon! Maaf ... maaf aku terlambat. Maaf," racau Baekhyun sambil terisak pelan.

Tangannya bergegas meraih cawan kayu dari balik durumaginya. Menarik penutup cawan dengan gerakan terlampau kacau kemudian bergegas meraih teko air dan menuangkan air dalam teko ke dalam cawan tersebut. Chanyeol menatap kegiatan Baekhyun dalam diam, perasaan hangat menyebar di dalam sanubari kala melihat gurat cemas di wajah cantik itu.

Jemari Chanyeol terjulur mengusap linang air mata yang terus berlomba membasahi pipi Baekhyun. Baekhyun menengadah menatap Chanyeol.

"Jangan menangis," bisik Chanyeol sambil menggelengkan kepala.

Menerima hal tersebut Baekhyun makin tergugu, perasaan bersalah seketika meresapi sanubari. Sesal yang mendalam menggerogoti dada yang melebur sesak.

Baekhyun meraih tangan Chanyeol, lantas terkesiap begitu merasakan suhu rendah di telapak tangan besar itu. Baekhyun menggertakkan gigi, menahan isakan yang menyenggal dada. "Ini minumlah." Baekhyun mengulurkan cawan kayu itu ke tangan Chanyeol.

Chanyeol terdiam, menatap penuh arti cairan kecokelatan yang terbiasakan sinar lilin. Kepalanya tanpa sadar menggeleng, bukan bermaksud mencurigai kekasihnya. Chanyeol hanya mengikuti gerak tubuhnya.

Baekhyun termangu, satu bulir air mata tertangkap jelas di indera penglihatan Chanyeol. Jujur, sorot itu menyakiti hatinya. Chanyeol mengumpat dalam hati, mengutuki sudut hatinya yang tanpa sengaja mencurigai Baekhyun.

Baekhyun menarik kembali cawan yang terulur ke tangan Chanyeol. Ia memiringkan kepala menatap kekasihnya dengan sorot sendu bersalah. "Aku mohon minumlah, Chanyeol."

Baekhyun nyaris terisak saat melihat iris tajam Chanyeol menjauhinya.

"Chan ..."

-"Aku melihatnya. Penyusup itu masuk ke dalam paviliun Wang seja!"-

Baekhyun menundukkan kepala, suara sama-samar dibalik jendela paviliun mengukuhkan posisinya. Alih-alih berubah panik ataupun beringsut pergi, Baekhyun justru mengeratkan genggamannya pada cawan kayu tersebut.

Chanyeol menatap Baekhyun. "Pergi," titah Chanyeol tegas sambil menekan perasaan sesak di dada akibat tindakanya yang tampak kasar.

Kepala Baekhyun menggeleng pelan. Suara derap langkah yang terdengar makin dekat mengerutkan kening Chanyeol akan posisi Baekhyun yang terkesan teguh di hadapannya.

"Baekhyun."

"Aku tidak peduli."

Baekhyun mengangkat wajah, binar puppy itu merajam hati Chanyeol. "Aku tidak peduli bila pada akhirnya aku menjadi tahanan Goguryeo. Aku pun tidak peduli bila akhirnya mati di tangan Goguryeo. Aku tidak peduli. Hanya satu pintaku, Chan. Minumlah ramuan ini. Maka setelah itu aku akan pergi dari hidupmu, Wang seja. Setelahnya, kau akan hidup dengan bahagia tanpa bayang-bayang derita karenaku. Sejak awal aku hanyalah sebuah benalu untukmu. Aku akan pergi, setelah memastikan kau meminum ramuan ini."

Baekhyun menunduk dalam. Isakannya kembali melagu tanpa sadar menggertakkan balutan bening di sudut mata Chanyeol. "Saya mohon, Wang seja. Saya mohon turuti permintaan terakhir saya. Minumlah ramuan ini." Isakan Baekhyun berlomba dengan derap langkah yang sudah terdengar di ambang pintu.

-"Benar, penyusup itu masuk ke dalam paviliun Wang seja!"-

Suara yang terembus tegas memaksa Chanyeol untuk menggerakkan tubuhnya. Dia lantas meraih tubuh mungil itu mendekat, menyembunyikannya di balik punggungnya usai meraih cawan kayu yang tergenggam di tangan kanan Baekhyun.

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dengan erat, lontaran kalimat yang terucap bagai dentang kematian bagi Chanyeol. Sampai matipun ia tidak akan membiarkan Baekhyun lenyap dari hadapannya meskipun pria cantik ini berulang kali mengkhianatinya. Hatinya sudah terlanjur jatuh dan dirinya pun telah bergantung pada Baekhyun.

"Bodoh," bisik Chanyeol. "Sampai matipun aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Usai menyelesaikan kalimatnya pintu paviliunnya bergeser menampakkan lima prajurit yang menghambur masuk dengan pedang dimasing-masing tangan.

"Mohon maaf atas kelancangan kami, Wang seja ..." Mereka terdiam ketika melihat sebagian tubuh Baekhyun yang menyembul keluar. Chanyeol mengalihkan pandang.

"Pergi!" tegas Chanyeol. Mereka tergagap. "T-tetapi, penyusup itu ..."

"Aku bilang pergi!"

Sebuah cangkir tiba-tiba melayang ke arah mereka bersama geraman tertahan yang bergetar lemah. Sorot tajam itu merundukkan nyali kelima prajuritnya. Mereka membungkuk rendah kemudian melangkah mundur melenyapkan diri di balik pintu geser.

Baekhyun menahan tubuh Chanyeol yang nyaris limbung. Gurat cemas tergurat di wajah rupawannya. "Chanyeol, aku mohon minumlah ramuan itu. Tubuhmu makin melemah. Aku mohon, Chanyeol," racau Baekhyun frustasi yang justru menuai lekuk lemah di bibir.

"Aku tidak bisa meminumnya," bisik Chanyeol berat.

Baekhyun mendesah putus asa, ia bergegas meraih cawan kayu itu dari tangan Chanyeol dan meneguk isinya demi meraih kepercayaan lelaki tampan itu. Belum sempat ia menelan cairan yang tergenang di mulut, Chanyeol meraih dagu Baekhyun menyapa bibir ranum sang kekasih kemudian memagutnya dengan gerak lemah.

Chanyeol menjauhkan wajah mereka, jemari tangannya terangkat mengusap sisi wajah Baekhyun yang mendingin sebab tubuh yang terguyur rintik hujan. "Aku sangat mencintaimu dan terus akan mempercayaimu sekalipun kau mengkhianatiku."

Baekhyun mengerutkan kening. Tubuhnya bergetar pelan, rupanya ia mulai menggigil sebab pakaian basah yang senantiasa membaluti tubuhnya.

"Lantas, mengapa tidak bergegas meminumnya?"

Chanyeol terdiam, ia meraih cawan kayu itu lalu meneguknya hingga tandas. "Hem, aku merindukanmu."

Baekhyun berdecak pelan, jawaban yang tidak sesuai. Entah karena Chanyeol tidak berniat merusak romansa hangat yang kembali terkecap di antara mereka dengan balutan kacau beberapa saat yang lalu atau ia mulai lelah dengan kondisi tubuh yang belum pulih hingga menyebabkan otaknya berputar kacau.

"Baik, tidurlah ini sudah sangat larut. Tidak baik bagi kondisi tubuhmu yang belum pulih sepenuhnya," pesan Baekhyun sambil membenahi futon Chanyeol.

Chanyeol bergeming, tiba-tiba dia teringat sesuatu. "Sayang, ramuan itu. Aku dengar sangat sulit untuk mendapatkannya?" tanya Chanyeol sambil bergegas meraih tubuh Baekhyun hendak memastikan kondisi kekasihnya dan terhenti di sepasang telapak tangan yang memerah. Koyakan kasar sekilas menyapa pandangan Chanyeol.

Baekhyun segera menarik diri dari Chanyeol, ia menyembunyikan sepasang telapak tangannya. "Tidak. Maksudku ... kami memilikinya. Penawar racun itu, dapur pengobatan masih menyediakan ramuannya," alibi Baekhyun dengan iris yang mengedar ke segala arah, menghindari tatapan intimidasi Chanyeol yang menyorot lemah.

"Sayang ..."

"Sudahlah. Lebih baik beristirahat," sergah Baekhyun cepat dengan sorot memohon, Chanyeol menghela napas panjang.

Baiklah, untuk saat ini dirinya akan berdiam diri dan menuruti titah Baekhyun. Akan tetapi tidak dengan esok hari ketika tubuhnya mulai membaik. Dengan segala rencana yang teruntai indah di otak, ia akan menawan kekasihnya sepanjang waktu yang telah dia perhitungkan di otak.

Ketika Baekhyun hendak beringsut pergi, Chanyeol tiba-tiba meraih tudung Baekhyun dan melepasnya. "Ganti pakaianmu, sayang. Oh Dewa, bagaimana bisa kau membiarkan tubuhmu menggigil kedinginan seperti ini," rutuk Chanyeol tidak percaya sembari melucuti pakaian Baekhyun.

"Chan-Chanyeol!" sentak Baekhyun panik.

Kelopak matanya mengerjap dua kali. "Aku bisa melakukannya sendiri," omel Baekhyun dengan semu merah di pipi.

Chanyeol tersenyum samar, cairan yang baru saja mengaliri tubuh rupanya mulai bekerja. Rasa kantuk yang begitu hebat mendadak menyerang mata. Chanyeol meraih baji jeogori putih yang tergeletak di samping tubuhnya.

"Menginaplah, hujan masih deras merajam bumi," titah Chanyeol sambil mengulurkan pakaiannya ke arah Baekhyun.

Baekhyun menunduk meraih balutan sutera itu dari tangan Chanyeol. "Sangat berbahaya, Wang seja. Kau masih dalam keadaan genting kemungkinan besar mereka akan hilir mudik memasuki paviliunmu demi mengontrol kondisimu."

Chanyeol menggelengkan kepala, ia sesekali memejamkan mata. Sungguh, begitu berat namun ia masih memaksakan diri untuk terjaga demi meraih kehadiran Baekhyun disisinya.

"Aku membutuhkanmu. Dan aku pastikan tidak akan ada yang melihat kehadiranmu disini. Aku berjanji," mohon Chanyeol dengan segala identitas dirinya.

Baekhyun menatap Chanyeol, hela panjang kemudian mengiringi anggukan kepalanya. "Baiklah."

Bibirnya tertarik tulus. Ia kemudian memejamkan mata. "Lekas ganti pakaianmu, sayang."

Baekhyun mengangguk patuh. Tubuhnya merayap ke balik dipan, mengganti pakaiannya dengan cepat setelahnya mengerjap sejenak menatap tubuhnya yang seolah terkubur di dalam balutan pakaian Chanyeol kemudian berbalik menghampiri tempat tidur Putra mahkota.

Chanyeol menggeser tubuhnya lalu meraih tubuh Baekhyun ke dalam dekapannya. "Tampak lenggang, heum," gumam Chanyeol melemah.

Baekhyun menggelengkan kepala. "Tidak masalah. Sudahlah, lekas tidur jangan memaksakan diri seperti itu," omel Baekhyun yang direspon dengan tawa pelan Chanyeol.

Wajah Chanyeol merunduk menyesap puncak kepala Baekhyun sembari mengeratkan dekapannya.

"Ye Baekhyun Mama," goda Chanyeol yang spontan membuat jantung Baekhyun berdebar hangat.

Baekhyun menengadah menatap wajah rupawan Chanyeol yangctergurat tenang, hembusan napas yang berangsur-angsur normal melepaskan ikatan gelisah di sanubari.

Jemarinya meraih tangan Chanyeol, merasakan suhu tubuh yang juga mulai terasa hangat. Wajah yang sungguh pucat dengan gurat derita sakit tidak ia dapatkan lagi.

Baekhyun tersenyum, setidaknya perjuangannya tidak berbuah sia-sia dan juga balutan penyesalan yang seolah mencekik pernapasan kini teruntai satu per satu.

"Terima kasih, Dewa," bisik Baekhyun sebelum turut melesatkan kesadaran diri ke alam bawah sadar di dalam balutan hangat orang terkasih.

To be continue...